Sabtu, 12 September 2020

Virtual Trip to China

Sumber foto: Chinahighlights.com
Jalan-jalan di masa covid ini sepertinya hal yang sangat tidak memungkinkan. Bagaimana tidak, untuk pergi ke suatu tempat kita harus diperiksa dulu (baik rapid test ataupun PCR). Setelah itupun, jika kita pergi keluar negeri, kita harus dikarantina selama 2 minggu (dengan biaya pribadi pula). Setelah itu baru bisa kelayapan.

Namun, bulan Juli kemarin, kami jalan-jalan ke China. Kok bisa? Secara virtual dong. Hehehe. Bersama dengan teman-teman dalam komunitas kami, kami ramai-ramai ke negeri yang sering disebut Negeri Tirai Bambu.

Diawali dengan menginfokan kepada anak-anak bahwa di monthly meeting kita akan ada virtual trip ke China. Jadi mereka boleh menyiapkan apapun, seakan-akan mereka memang sedang akan bepergian. Duo Lynns, yang memang setiap saat selalu halu mau jalan-jalan, dengan semangat menyiapkan ’koper’ dan perlengkapan untuk jalan-jalan.
Salah satu bentuk kehaluan anak-anak. 
Di hari H, auntie-auntie kreatif yang menjadi PIC ini sudah menyiapkan beberapa keterangan mengenai China. Setelah menunjukkan passport dan boarding pass, anak-anak siap untuk berpetualang. Petualangan anak-anak dimulai dengan mengunjungi Forbidden City secara virtual.
Are you ready, kids? 
Forbidden City atau Kota Terlarang merupakan kompleks istana kekaisaran dan kediaman kaisar dari mulai zaman dinasti Ming hingga dinasti Qing. Forbidden City ini terletak di pusat kota Beijing. Kompleks ini disebut Forbidden City karena memang pada zaman dahulu tidak mudah untuk masuk ke kawasan ini, kecuali memang diundang oleh kaisar sendiri. Ingat kan betapa susahnya Xiao Yan Zi untuk mengantar Xia Zi Wei menemui kaisar (huang a ma) di film Putri Huan Zhu? =D
Welcome to The Forbidden City 
Tian an men, gerbang kedamaian surgawi, di malam hari. Sumber foto: wikipedia.
Melihat bangunannya yang kokoh dan tahan gempa, tidak heran bangunan ini dinobatkan sebagai salah satu cagar budaya oleh UNESCO. Saat melihat gambarnya, anak-anak pun mengira bahwa istana ini adalah Gyeongbokgung di Seoul. Ya, agak mirip. Hanya saja yang ini jauh lebiiiiih luas.
Taman yang cantik. Sumber foto: mywowo.net.
Destinasi berikutnya adalah Xi’an, yang terletak di propinsi Shaanxi. Sebelum Beijing menjadi ibukota China, Xi’an merupakan ibukota pertama dari negara China. Tercatat ada 13 dinasti kekaisaran yang pernah memerintah dari Xi’an, salah satunya dinasti Qin.

Di Xi’an sendiri sekarang terkenal dengan situs bersejarah, yang diresmikan oleh UNESCO di tahun 1987, yang sering disebut Tentara Terracotta atau Terracotta Army. Apa sih Tentara Terracotta? Seperti arti dari kata terracota itu sendiri, yaitu tanah liat atau tembikar, Tentara Terracota merupakan adalah kumpulan koleksi dari 8.099 tanah liat berbentuk prajurit dan kuda dalam ukuran asli. Tentara Terracotta ini dibuat pada zaman pemerintahan Kaisar Qin Shi di tahun 210 – 209 SM di kompleks pemakaman kaisar dan keluarganya. Tujuannya adalah agar untuk melindungi Kaisar Qin Shi setelah ia meninggal.
Terracotta Army. Sumber foto: wikipedia. 
Berbicara tentang China, pastilah tidak lepas dari yang namanya The Great Wall atau Wanli ChangCheng yang menjadi salah satu tujuh keajaiban dunia. Tembok besar yang panjangnya 21.196 km ini memiliki penampakan seperti naga awalnya dibangun oleh dinasti sebelum dinasti Qin dengan tujuan untuk menahan serangan musuh dan suku-suku dari utara negara Tiong Kok (kalau kata anak-anak: jadi terbayang film Mulan). Hal ini terus berlanjut ke dinasti Qin, yang diprakarsai oleh Kaisar Qin Shi hingga ke dinasti Ming.
The Great Wall. Sumber foto: wikipedia. 
Kami pernah melihat film dokumenter di Discovery Channel tentang pembuatan tembok di salah satu daerah orang Hakka. Untuk membuat tembok tersebut kokoh, setiap lapisan tanah digemburkan dan dipadatkan. Untuk beberapa bagian pun terkadang menggunakan batu. Saat itu naratornya pun berkata pembuatan The Great Wall pun seperti pembuatan tembok ini. Wow, luar biasa sekali. Hanya dengan memadatkan, temboknya tetap kokoh hingga sekarang.
Salah satu gerbang Great Wall di malam hari. Sumber foto: detik.com 
Setelah puas ’berkeliling’, anak-anak diberikan beberapa fakta tentang China. China merupakan negara terbesar di Asia. Berbicara tentang China, maka tidak akan jauh-jauh dari Panda, hewan khas yang suka makan bambu. Selain itu, China juga terkenal dengan bunga teratai. Oya, jangan lupakan juga kegemaran orang China dengan yang namanya teh (dengan temannya dimsum tentunya).
Kungfu Panda =D
Nah, apa saja karakter yang dapat dipelajari selama mereka berkeliling? Mereka belajar tentang kerajinan dan kreativitas selama mereka virtual trip. Seperti saat mereka melihat The Great Wall, Terracotta Army, dan juga Forbidden City.
Lotus atau Teratai. Sumber foto: wikipedia. 
Sekarang waktunya anak-anak berkreasi dengan membuat aktivitas bersama, yaitu kipas dari kertas. Walaupun pembuatannya seperti lagu jadoel ”kau di sana, aku di sini’, namun acara pembuatan kipas ini cukup seru sehingga papa pun ikutan melihat pembuatan kipas ini.
Kipas buatan anak-anak.
Setelah selesai, saya pun bertanya kepada anak-anak apakah mereka senang dengan virtual trip ke China? Dengan muka agak sedih mereka menjawab pengennya pergi betulan, melihat apakah Disneyland Shanghai lebih bagus dari Disneyland HK, dan melihat setiap tempat wisata secara langsung. Well, bersabar ya nak. Berdoa dan menabung dulu. Tunggu sampai covid selesai, baru kita bisa tamasya kembali.
Panda yang imut dan lucu =). Sumber foto: Chinahighlights.com 

Jumat, 04 September 2020

Strong in the Lord Online Conference


Sampai bulan ini, pandemi nampaknya masih enggan pergi dari dunia ini. Malah di beberapa negara terjadi lonjakan kasus. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, karena banyak hal yang jadi tidak dapat dilakukan.

Hal ini pun berimbas bagi keluarga kami. Kami tidak bisa kemana-mana karena ada bayi, anak-anak, dan lansia. Bahkan sudah setengah tahun kami tidak dapat bertemu oma. Sedih deh rasanya.

Namun dibalik segala yang tidak baik, pandemi ini membawa ’berkat’ tersendiri. Salah satunya adalah dapat mengikuti konferensi online Strong in the Lord Conference. Konferensi ini diadakan oleh Bright (Being Radiant in Godliness, Holiness, and Testimony) Lights Ministry. Konferensi yang ditujukan untuk anak-anak perempuan yang berusia 8 – 14 tahun ini biasanya diadakan di Amerika. Namun karena covid, maka tahun ini konferensi diadakan secara online. 

Dan karena online, maka kami pun dapat mengikutinya (dengan diskon pula karena salah satu senior kami menghubungi ke pihak Bright Lights dan mereka memberikan diskon bagi para peserta dari Indonesia). Sungguh kami bersyukur untuk insiatif dari senior kami. Kami pun bersyukur dengan komunitas yang ada dan menopang satu dengan yang lainnya. 
Sertifikat untuk anak-anak dari komunitas Homeschool kami.
Konferensi ini dibawakan dalam bentuk video. Jadi kami diberikan link yang dapat kami akses selama tiga hari. Pembicara dalam video tersebut adalah Sarah Mally. Sarah Mally merupakan founder dari Bright Lights Ministry, yaitu pelayanan pemuridan untuk memperlengkapi perempuan-perempuan muda untuk hidup sepenuhnya bagi Tuhan.

Awalnya Sarah bersekolah, namun pada tahun 1990, saat usianya 11 tahun, orang tuanya memutuskan untuk memulai homeschooling. Dan pada bulan Mei 1996, ia memulai pelayanan Bright Lights. Saat ini ada lebih dari 700 kelompok Bright Lights secara internasional.

Keluarga The Mally juga memiliki pelayanan yang disebut Tomorrow’s Forefathers, yang bertujuan untuk mendukung dan memperlengkapi keluarga-keluarga untuk menjadi kuat di dalam Tuhan. The Mally sering mengisi konferensi homeschool. Bahkan dulunya mereka pernah beberapa kali mengisi FamilyConference.

Strong in the Lord Conference ini dibawakan oleh terbagi dalam 6 sesi. Keenam sesi ini berisi tema-tema yang sangat relevan bagi anak-anak praremaja dan remaja. Setiap sesi berisikan sharing yang disampaikan Sarah beserta ilustrasi untuk mempermudah yang dikemas dalam durasi sekitar 50 sampai 60 menit.

Sesi yang pertama adalah Being Strong for the Lord in Your Youth. Sesi ini memamparkan bahwa masa remaja tidak dapat diulang. Karena tidak dapat diulang, maka masa muda harus digunakan dengan baik. Masa muda adalah masa untuk memperlengkapi diri kita, seperti goal yang ingin kami capai, yaitu melihat anak-anak menjadi kuat di dalam Roh dan mempunyai karakter Ilahi.
Sarah Mally membawakan sesi demi sesi.
Sesi yang kedua adalah Trusting God’s Faithfulness and Power. Di sesi yang terpendek dari 6 sesi yang ada ini ada beberapa anak perempuan yang membagikan kesaksian hidup mereka atau keluarga mereka. Mereka menyaksikan kesetiaan Tuhan dan kekuasaan Tuhan dalam hidup mereka di saat mereka berada dalam masa yang paling sukar.

Uniknya di sesi ini adalah sepanjang kesaksian diceritakan, Sarah menggambar dengan menggunakan kapur. Sepanjang Sarah menggambar, semuanya tidak terlihat jelas. Namun di akhir gambaran, muncul gambar yang begitu indah. Hal ini menguatkan kami dan seakan memberikan gambaran bahwa walaupun sepertinya keadaan tidak jelas, namun tetap percaya kepada kesetiaan dan kekuasaan Tuhan. Ia lebih dari mampu untuk menyelesaikan segalanya.
Chalk drawing by Sarah Mally.
Sesi ketiga bertemakan Honoring Your Parents. Di sesi ini diingatkan bahwa anak-anak berada di bawah payung otoritas orang tua. Saat kita berusaha untuk keluar dari otoritas orang tua kita, maka sebetulnya kita sedang membuat masalah dalam hidup kita.
Skit di tengah sesi membuat konferensi ini menarik untuk anak-anak.
Menghormati orang tua kita bukan karena kita takut, tetapi karena kita mengasihi orang tua kita. Kami sering mengingatkan anak-anak bahwa jika mereka melakukan hal yang salah, kami lebih suka mendengar hal itu dari mereka. Kami lebih suka mereka mengakui dengan rendah hati (clear conscience) daripada mereka menutupinya. Dan mereka pun kami ingatkan bahwa lebih baik mereka mendapatkan pendisiplinan daripada mereka menutupi tetapi membuat dosa yang lain.

Setelah anak-anak diingatkan mengenai menghormati orang tua, anak-anak pun diingarkan mengenai menjadikan saudara kita sahabat kita. Di sesi keempat yang bertemakan Making Brothers and Sisters Best Friends ini tidak hanya dibawakan oleh Sarah saja. The Mallys (Sarah, Stephen, dan Grace) bersama-sama membawakan sesi ini. Memang mereka bertiga membuat buku yang berjudul Making Brothers and Sisters Best Friends.
Making Brothers and Sisters Best Friends 
Sesi ini mengingatkan anak-anak bahwa walaupun terkadang ada beda pendapat di antara saudara, tetap mereka adalah saudara kita. Kita harus bersyukur dan selalu melakukan yang terbaik bagi saudara kita. Walaupun kadang saudara kita ‘annoying’, tapi tetap mereka adalah saudara kita.

Di Sesi kelima, Delighting in the Lord and His Words, anak-anak diingatkan bahwa sama seperti tubuh jasmani mereka memerlukan makanan, roh dan jiwa mereka juga memerlukan makanan rohani. Mereka diingatkan pentingnya merenungkan firman Tuhan, mempunyai jurnal bacaan firman mereka. Memang selama ini anak-anak selalu membuat 2 jurnal untuk pembacaan firman mereka, yaitu jurnal dari Sekolah Minggu dan juga jurnal yang mereka tulis setiap hari. Sesi ini seakan mengingatkan mereka untuk tetap bertekun dalam membuat jurnal tersebut.
Jurnal yang dibuat kakak.
Di sesi terakhir, sesi keenam, anak-anak diingatkan untuk menghindari pengaruh-pengaruh buruk (Avoiding Wrong Influences). Ada banyak hal yang dapat memberikan pengaruh ke dalam diri mereka, seperti teman, TV, buku bacaan, media sosial, internet, dan lain-lain. Mereka harus berani berkata tidak untuk setiap pengaruh negative. Mereka harus berani tampil beda dan menunjukkan bahwa mereka tidak akan mengikuti setiap pengaruh yang buruk.
Seperti lilin yang menyala, hendaknya kita berani menerangi sekeliling kita.
Yang menjadi kejutan buat kami adalah pada saat kami menyampaikan kepada anak-anak bahwa mereka akan mengikuti konferensi online yang dibawakan oleh Sarah Mally, mereka dengan semangat berkata bahwa mereka tahu The Mallys. Ternyata mereka mengetahui The Mallys dari buku yang dikarang Sarah, Stephen, dan Grace. Saya baru teringat bahwa salah satu teman homeschool kami memberikan anak-anak buku tersebut.
Sarah, Stephen, and Grace. Sumber foto: homeschoolingteen.com
Konferensi ini sungguh bagus. Mereka menyampaikan materi dengan baik dan diselingi dengan skit untuk membuat ilustrasi ini dapat diingat dengan baik oleh anak-anak. Selain itu pihak Bright Lights sangat komunikatif. Mereka rajin mengirimkan email sebelum konferensi dimulai. Bukan hanya sekedar informasi tentang konferensi, tetapi juga ajakan untuk kami para ibu mendoakan anak-anak kami sebelum konferensi ini dimulai, agar anak-anak betul-betul dapat menangkap setiap pesan yang disampaikan.

Mereka juga memberikan saran mengenai jadwal. Mereka menyarankan agar konferensi ini diselesaikan dalam 2 hari. Diharapkan juga disisipkan sesi diskusi antara ibu dan anak-anak perempuannya.
Snack dan teh untuk Tea Time
Kami awalnya sempat kuatir karena adik tiba-tiba masuk angin dan saat sebelum sesi kedua, kakak pun mulai bilang badannya tidak enak. Tetapi tidak disangka walaupun badan anak-anak kurang enak, tetapi keesokan harinya anak-anak sudah sehat kembali dan dapat mengikuti sesi ketiga hingga keenam dengan baik dan antusias. Kami pun sangat bersyukur anak-anak dapat mengikuti konferensi ini.

Di akhir sesi keenam, anak-anak bertanya kapankah Bright Light ada di Indonesia. Hmm...nobody knows. Tetapi akan seru rasanya jika ada anak-anak yang berani untuk berdiri dan menyuarakan untuk menjaga kekudusan di tengah dunia yang semakin tidak menentu ini. Harapan kami, ada atau tidak adanya Bright Light, anak-anak tetap menerangi sekeliling mereka dengan keberadaan mereka, dan dalam menjalani panggilan Tuhan atas mereka. 
Peserta termuda di Online Conference=D

Rabu, 19 Agustus 2020

Online Meeting: Berkreasi dengan Telur


Siapa yang tidak suka telur? Hampir semua orang menyukai telur. Umumnya, telur dibuat menjadi telur dadar, telur mata sapi, telur balado, dan sebagainya. Kali ini, karena masih belum bisa kumpul-kumpul, kami diberikan project untuk membuat video tentang berkreasi dengan telur.

Dan seperti biasa, kalau ada project video, anak-anak semangat mau buat ini itu, sementara orang tuanya pusing. Hehehe. Mereka mulai mendata apa saja yang biasa kami buat dengan telur. Mulai dari fluffy pancake, cawan mushi, telur gulung, tim telur, omelet, eggnest, egg and cheese sandwich, dan sebagainya. Supaya mamanya gak pusing, akhirnya mereka memilih eggnest, makanan yang sering mereka buat untuk sarapan.

Memang kalau sarapan, anak-anak terbiasa menyiapkan sendiri. Awalnya saat kakak masih berumur 3 tahun, kami mencoba mengajari mereka mengisi roti sendiri dan memotongnya dengan pisau plastik. Lama kelamaan, mereka jadi terbiasa membuat sarapan sendiri. Dari yang tidak memerlukan kompor seperti cereal, peanut butter and jam sandwich (PB & J Sandwich), hingga makan yang harus dibuat di atas kompor, seperti nasi telur, mie (sekarang mereka boleh sarapan mie instan seminggu sekali tanpa menggunakan bumbunya), eggnest dan roti panggang.

Ini tentunya sangat membantu, apalagi sejak si bayi ini masuk masa mpasi. Bahkan tidak jarang mereka membuatkan sarapan untuk mamanya. Jadi pilihan membuat eggnest menjadi project mereka merupakan pilihan yang baik, karena mereka dapat membuat tanpa harus didampingi. Yah, walaupun tidak wah untuk dibuat video, tapi setidaknya tidak membuat kami repot. 

Untuk membuat eggnest, hanya diperlukan satu lembar roti (yang agak tebal lebih baik) dan telur. Bagaimana cara pembuatannya?
1. Lubangi roti di bagian tengah. Lubang ini dapat dibuat dengan cookies cutter yang bentuknya lucu-lucu ataupun dengan sesuatu yang bulat.
2. Pecahkan telur dan tuang ke dalam sebuah mangkok. Idealnya sih telurnya tidak diacak, supaya bentuknya cantik. Tetapi kalau suka telur dadar, boleh dikocok.
2. Di atas penggorengan teflon, beri sedikit mentega dan tunggu hingga cair (tentunya kompornya dinyalakan ya teman-teman).
3. setelah mentega lumer, letakkan roti di atas penggorengan tersebut.
4. Tuang telur ke dalam lubang yang ada. Tunggu sampai bagian bawah sudah nge-set, setelah itu balikkan rotinya.
5. Tunggu sampai telur matang dan angkat.
Ini penampakan eggnest yang dibuat kakak.
Pertemuan online hari itu dimulai dengan bermain tebak-tebakan untuk anak-anak umur 12 tahun ke bawah. Setelah puas bermain tebak-tebakan, Uncle T mulai menceritakan ilustrasi dengan menggunakan telur. Uncle T mengeluarkan telur dan spidol berwarna hitam. Anak-anak diminta untuk menyebutkan tindakan-tindakan yang tidak baik yang dapat dilakukan oleh semua orang. Anak-anak pun dengan semangat menyebutkan, seperti tidak taat, marah, bohong, menyontek, berantem sama saudara, dan sebagainya. Uncle T menuliskan semuanya itu di atas telur tersebut.

Uncle T menjelaskan kenapa kegiatan hari ini bertema telur. Telur biasanya menetas menjadi ayam, bebek, ataupun burung, sesuai dengan jenis telurnya. Telur ini melambangkan suatu kehidupan. Namun terkadang tindakan-tindakan kita membuat kita menjadi keras. Dan satu-satunya cara adalah dengan merelakan diri kita diubah. Dengan membuang semua sikap kita yang tidak baik, kita menjadi dilembutkan kembali, sama seperti telur rebus yang telah dikupas kulitnya.

Setelah Uncle T selesai, anak-anak diajak untuk melihat kreasi salah satu teen di komunitas ini, yang dulunya peserta Master Chef Junior, yatiu Curt. Curt mengajarkan anak-anak untuk membuat Japanese Souffle Pancake. Duo Lynns langsung heboh karena papa pernah mengajak mereka untuk membuat ini, bahkan menjadi kue ulang tahun adik. 
Japanese Souffle Pancake jadi birthday cake adik.
Chef: papa tercinta tentunya :)
Pertemuan online untuk anak-anak berakhir dengan doa bersama dan setelah itu para remaja melanjutkan pertemuan online dengan membahas financial planning.
Foto dulu sebelum selesai.
Note: berhubung eggnest tidak sempat difoto, maka jika ingin melihat videonya, bisa dibuka di link berikut ini 

Sabtu, 08 Agustus 2020

Cheesecake di Pertemuan Online Alert MD

Cheesecake by DJ
Biasanya dalam sebulan sekali, komunitas yang kami ikuti mengadakan pertemuan Father and Sons dan Mom and Daughters yang biasanya kami sebut Alert MD. Namun pandemi yang melanda Indonesia membuat pemerintah memberlakukan PSBB. Hal ini membuat kami susah bertemu. Tetapi bersyukur dengan adanya kemajuan teknologi, kami tetap dapat mengadakan pertemuan secara online.

Berhubung ini adalah pertemuan perdana secara online, maka kali ini Alert MD digabung terlebih dahulu. Kalau dahulu kami bersama-sama belajar menghias kue, maka sekarang mumpung semua ada di rumah masing-masing, maka kegiatan yang dipilih adalah baking atau membuat kue. Dengan di rumah, otomatis baking tidak repot karena tinggal buka oven untuk memanggang.

Pertemuan kami kali ini dimulai dengan doa bersama dan setelah itu salah satu kakak kesayangan Duo Lynns (karena si bayi belum pernah ketemu kakak ini) yang sedang kuliah di US membagikan kisahnya saat pulang kemarin. Kami bersyukur melihat campur tangan Tuhan sehingga si kakak ini dapat kembali ke Indonesia tanpa kekurangan suatu apapun, walaupun harus karantina sementara saat tiba di Indonesia.

Setelah renungan singkat, kegiatan membuat kue pun dimulai. Kali ini yang akan memimpin kami adalah keluarga Bumies. Mereka memilih membuat cheesecake. Bahan-bahan yang diperlukan adalah:
- 50 gram graham cracker (dapat diganti dengan regal)
- 60 gram gula
- 1 ¼ sdm unsalted butter
- 250 gram cream cheese, letakkan diluar agar mencapai suhu ruangan
- 60 gram sour cream
-  1 ¼ sdm tepung terigu serbaguna
- Garam (1 pinch saja)
- ¼ sdt vanilla extract
- 1 butir telur ukuran besar.
Kakak membuat adonan untuk crust. 
Untuk memudahkan dan menghemat waktu, maka kami diminta untuk membuat crust atau base-nya sebelum acara Alert MD dilakukan. Cara untuk membuat crust-nya adalah sebagai berikut.
1. Hancurkan cracker atau biskuit yang akan digunakan.
2. Cairkan unsalted butter, kemudian tunggu sampai suhunya tidak panas.
3. Tuangkan butter yang sudah cair tersebut ke biskuit yang sudah dihancurkan, aduk hingga semuanya rata.
4. Diatas loyang yang akan dipakai, olesi loyang tersebut dengan minyak atau lapisi dengan kertas kue. Kemudian campuran yang sudah ada ditaro diatasnya hingga rata.
5. Panggang crust ini dengan suhu 180 celcius selama kurang lebih 8 – 10 menit. Setelah itu keluarkan dan dinginkan.
Crust dalam loyang muffin. 
Saat pertemuan, kami tinggal melanjutkan dengan membuat isiannya. Untuk isinya, langkah-langkahnya sebagai berikut.
1. Dalam wadah yang agak besar, masukkan cream cheese, gula, dan garam. Mix hingga semua bahan tersebut tercampur dan cream cheese menjadi lembut.
2. Masukkan sour cream, terigu, dan vanilla extract ke dalam adonan cream cheese yang sudah lembut. Karena di rumah tidak ada sour cream, maka kami menggantinya dengan yoghurt yang anak-anak buat. Mix lagi hingga rata.
3. Masukkan telur ke dalamnya, mix kembali hingga semuanya tercampur sempurna.
4. Tuang adonan ini ke dalam crust yang sudah dipanggang.
5. Panggang kembali crust yang sudah diisi adonan dengan suhu 180 celcius. Panggang kurang lebih 30 – 45 menit. Setelah itu didinginkan.
Menunggu giliran untuk mengisi crust.
Akhirnya giliran si adik menuang. 
Untuk yang suka topping, setelah cheesecake ini dingin, bisa diberi topping selai strawberry diatasnya. Kami pribadi lebih suka jika tidak menggunakan topping. Jangan lupa masukkan ke kulkas, karena cheesecake lebih enak kalau dingin.
Cheesecake yang baru selesai dipanggang.
Kegiatan Alert MD kali ini memang lebih lama dari biasanya, karena membuat kue dan di rumah masing-masing. Walaupun anak-anak sudah sering membuat cheesecake bersama saya atau papanya (resep si papa sudah terbukti enak sekali soalnya), tetapi tetap saja anak-anak senang karena dapat melihat teman-temannya saat membuat kue.
Mini Cheesecake
Oya, untuk resep asli dari cheesecake ini, dapat dilihat di sini ya.

Senin, 03 Agustus 2020

Parents Meeting: Peran Ayah dan Ibu Dalam Homeschool (Part 2)


Masih lanjutan dari artikel sebelumnya, kalau tadi yang dibahas adalah peran ayah, maka sekarang akan dibahas peran ibu.

PERAN IBU
Jika Ayah mempunyai peran penting dalam meletakkan fondasi dalam keluarga, maka Ibu mempunyai 5 fungsi dasar dalam keluarga.

1. The mother is the heart of the home
Jika ayah diibaratkan sebagai kepala dalam suatu rumah, maka ibu dapat diibaratkan sebagai jantung dalam suatu rumah. Seperti denyut jantung menentukan suatu kehidupan, maka ibu sebagai denyut jantung keluarga sangat menentukan suasana di rumah. Tetapi saat mengurus rumah, terkadang si ‘jantung’ ini bermasalah karena ‘satu dan lain hal’.

’Satu dan lain hal’ ini bisa jadi rasa kesal kepada suami karena suami tidak dapat memahami perasaan kita sebagai seorang istri ataupun pikiran kita (ada amin, para istri?) Untuk menghindari hal ini, maka istri perlu mengkomunikasikan pengamatan dan perasaannya kepada suami. Ingat, suami bukan cenayang atau ahli nujum yang dapat membaca pikiran dan perasaan wanita.

Bagaimana caranya untuk mengkomunikasikannya? Suami istri harus mempunyai waktu khusus untuk berdua dengan suami. Istri harus menjadwalkan pertemuan rutin dan berkala dengan suami guna mendiskusikan banyak hal penting, termasuk soal homelearning.

2. The mother is the light of learning
Saat suatu keluarga memutuskan untuk homeschool, ibu akan berada dengan anak dan berperan sebagai guru untuk anak. Guru ini mengajar untuk mempersiapkan anak saat harus terjun ke dunia nyata. Seorang ibu juga harus membekali anak bukan hanya dengan hal-hal yang berbau akademis, tetapi juga membekali anak dari sisi keterampilan (basic skill setidaknya), dan karakter juga.  Dengan melatih ‘hati yang mendengar’, ibu akan tahu tentang hal-hal yang dibutuhkan oleh anak, menyangkut karakter, sisi akademis, dan keterampilan yang perlu dikembangkan.

3. The mother is a learner-teacher
Banyak ibu kuatir tentang kemampuan mereka dalam menguasai suatu mata pelajaran dan kemampuan dalam mengajar. Ibu takut tidak dapat memberikan yang terbaik karena ibu tidak mengerti materi yang diajarkan. Alih-alih menguasai bahan secara menyeluruh, yang lebih diperlukan ibu adalah antusiasme sebagai pembelajar yang akan berkembang sama-sama dengan sang anak. Ibu dan anak, terutama saat anak masih usia TK dan SD, dapat belajar bersama.

Kerelaan ibu untuk sinau atau belajar bersama ini tentunya membuat anak semangat belajar. Apalagi saat anak-anak masih TK atau SD. Tidak ada alasan materi tersebut susah sehingga tidak mampu mengajar materi tersebut dan memanggil guru les untuk mengajar anak membaca ataupun berhitung.

4. The mother is a ‘creative recorder’
Sebagai seorang ibu yang setiap hari mengajar anaknya, tentunya ada banyak hal yang ingin didokumentasikan. Sebagai ‘creative recorder’, ibu harus mencari cara yang cocok dan memudahkan untuk mendokumentasikan hasil pembelajaran anak. Misalkan dengan menggunakan lapbook, atau menyimpan dalam media sosial (bukan dengan tujuan untuk show off tentunya).

5. The mother is a ‘coordinator’ of responsibilities
Anak-anak harus diperkenalkan dengan yang namanya tugas di rumah. Tugas ini bukan merupakan ajang ‘pemberdayaan’ anak, tetapi lebih untuk melatih kemandirian anak sedini mungkin. Jangan berikan tugas yang lebih berat dari umurnya ataupun pekerjaan yang berlebihan.
Mom and things to do =D
Kami pun mencoba untuk merefleksikan peran kami berdua dalam pendidikan di rumah kami. Untuk hal yang berbau akademis, si papa menyerahkan kepada saya sebagai guru anak-anak. Tetapi bukan berarti si papa lepas tangan. Ada saat-saat dimana saya pusing dan si papa pun ikut membantu.

Lalu, apa dong peran si papa? Papa lebih banyak memfokuskan kepada hal yang berbau kerohanian anak-anak. Dari sejak anak-anak masih dalam kandungan, setiap hari papa membacakan Alkitab. Saat anak-anak masih bayi pun papa senang membacakan Alkitab. Bahkan saat anak-anak masih belum bisa membaca, acara membaca Alkitab saat malam hari bisa panjang karena ada story telling dan play pretend.

Pembelajaran mengenai karakter pun kami lakukan bersama-sama. Bukan hanya anak-anak yang diingatkan, tetapi kami sebagai orang tua pun diingatkan dan dibentuk hari lepas hari. Seperti pedang bermata dua, kebenaran-kebenaran itu menemplak kami dan juga anak-anak.

Bagaimana dengan house chores? Anak-anak terbiasa mengerjakan house chores atau tugas rumah tangga dari kecil. Bukan karena kami menyuruh, tetapi mereka melihat kami melakukannya dan mereka ingin mengikutinya.

Proses kami sebagai homeschooler masih panjang. Tetapi dengan adanya Parents Meeting ini, kami diingatkan bahwa untuk mempunyai awal yang benar dalam homeschool adalah ayah dan ibu terlibat dalam pendidikan. Dan agar keterlibatan ayah dan ibu menjadi lebih smooth, maka hubungan ayah dan ibu harus dalam tahap yang benar juga.

Bu Rina pun berkata bahwa ibu yang bijak sadar bahwa ada musim berbeda-beda dalam kehidupan, dan investasi waktu dalam homeschooling akan memperoleh ganjaran yang sangat layak. Memang tidak mudah untuk mendidik anak-anak sendiri, ada banyak waktu yang harus diinvestasikan bagi mereka. Namun memang benar bahwa akan ada ganjaran yang sangat layak untuk itu.

Parents Meeting ini tentunya semakin memperlengkapi kami semua. Dan kami bersyukur karena Parents Meeting ini juga dapat diikuti oleh teman-teman kami yang berada di luar pulau. Blessing in disguise di saat covid ini tentunya. 






Parents Meeting: Peran Ayah dan Ibu Dalam Home Education (Part 1)


Berbicara tentang homeschool atau homelearning, tentunya tidak jauh-jauh dari orang tua. Mengapa? Lah wong namanya saja sekolah di rumah, berarti pengajar utamanya adalah orang tua. Dengan kata lain, ayah dan ibu berperan penting dalam pendidikan anak, bukan tetangga ataupun teman (kan gak mungkin tetangga yang berperan penting di dalam rumah kita).

Masalahnya, sering kali saat sudah terjun, para ibu merasa sendirian dalam mengarungi lautan pembelajaran yang lama-lama membuat para ibu merasa hanyut dan hampir tenggelam (beuh, bahasanya berat euy). Nah, supaya tidak jadi betul-betul tenggelam, mau tidak mau, kedua orang tua harus sama-sama berperan dalam dalam home learning. Kan namanya juga homeschool, ayah sebagai kepsek dan ibu sebagai guru.

Dan yang namanya orang tua, pasti tidak lepas dari yang namanya parenting skill. Parenting skill ini yang membantu orang tua menghadapi tingkah anak yang terkadang membuat kita mengelus dada. Apalagi yang namanya homeschool, orangtua, khususnya ibu, bertemu 24/7 dengan anak-anak.

Untuk itu, kami mengambil topik Parenting untuk pertemuan Parents Meeting kami di tahun ini. Topik parenting yang paling ditunggu-tunggu adalah tentang disiplin dan menghadapi tingkah si anak. Tetapiiiii....untuk sampai ke situ ada banyak tahap, dan tahap pertama adalah memulai awal yang benar, yaitu melihat peran kedua orang tua, Ayah dan Ibu, dalam homelearning.

Berhubung covid, maka Parents Meeting kali ini dilakukan secara online, melalui ZOOM dengan mentor kami, keluarga Badudu. Ada 5 hal yang dibagikan oleh beliau untuk para ayah dan para ibu.
Peran Ayah dan Ibu 
PERAN AYAH
Suatu negara lemah jika negara tersebut terdiri dari keluarga-keluarga yang lemah. Suatu keluarga lemah jika keluarga tersebut mempunyai ayah yang lemah. Seorang ayah dikatakan lemah jika dia gagal untuk memahami dan memenuhi tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan kata lain, ayah sangat penting untuk masa depan suatu bangsa.

Oleh sebab itu, peran ayah bukanlah sekedar mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan keluarga. Tetapi lebih dari itu. Ayah mempunyai peran penting dalam menentukan objektif dalam suatu keluarga. Pak Rizal pun membagikan lima peran ayah dalam keluarga.

1. To build perspective of eternity
Semua hal yang ada di dunia ini hanyalah sementara saja. tidak ada yang kekal di dunia ini. Karena itu, semua yang kita lakukan harus mengarah kepada kekekalan. Sebagai seorang imam, penting bagi seorang ayah untuk membimbing anak-anak dan menjelaskan kepada anak-anak apakah tujuan mereka ada di dunia itu. Selain itu penting bagi anak untuk mempunyai pola pandang yang Alkitabiah.

Berbicara tentang kekekalan, maka tidak akan lepas dari waktu. Ada tiga macam term yang sering digunakan untuk menjelaskan waktu, yaitu kronos, kairos, dan aion. Kronos berarti siklus waktu yang biasa, yang biasanya dinyatakan dalam jam. Kairos adalah waktu yang tidak dapat diulang. Sedangkan kata aion dipakai untuk menunjukkan tentang waktu yang lama sekali atau tidak ada batasnya atau kekekalan.
Kronos, Kairos, dan Aion
2. To grow in faith and in the power of prayer
Karena semua hal tidak ada yang kekal, maka setelah ayah membangun perspektif mengenai kekekalan, peran penting ayah yang berikutnya adalah membawa anggota keluarganya untuk bertumbuh dalam iman dan kuasa doa. Hal ini tidak lepas dengan kerohanian si ayah. Ayah haruslah setia dalam pembacaan dan penggalian Alkitab secara pribadi. Jika si ayah sudah terbangun kerohaniannya, maka ayah dapat dengan dominan memimpin pembacaan Alkitab dan doa bersama keluarga.

Jika ayah sudah konsisten dalam memimpin pembacaan Alkitab dan doa bersama keluarga, maka ayah akan lebih mudah untuk memengaruhi anak dengan terus mengalami kuasa doa dalam kehidupan. Contoh yang mudah adalah dengan melakukan doa bersama keluarga, pembacaan Alkitab sebelum tidur saat anak-anak masih kecil, story telling mengenai tokoh-tokoh yang dapat dijadikan panutan, dan sebagainya.

3. To seek wisdom and act with genuine love
Selain membawa anak untuk bertumbuh dalam imannya, ayah juga berperan untuk membawa anak-anak mencari hikmat dan bertindak dalam ketulusan. Tidak mudah memang, karena kita tidak mungkin mengawasi semua keputusan yang diambil oleh anak. Namun kita dapat memperlengkapi mereka dengan kemampuan untuk memilih dan memutuskan dengan baik. Untuk mencapai ini, ayahlah yang harus dibentuk terlebih dahulu. Ayah harus bijaksana dalam mengambil banyak keputusan dan pilihan.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengajarkan karakter-karakter yang dapat membangun anak-anak. Dan lebih dari sekedar mengajar, ayah harus menjadi teladan dalam menunjukkan karakter-karakter tersebut.

4. To find a life calling and fulfill it
Walaupun kita harus melihat kepada kekekalan, tetapi pasti ada alasan mengapa kita ada di dunia ini. Adalah tugas ayah untuk mengajarkan anak-anak untuk menemukan panggilan hidupnya dan memenuhi panggilan tersebut. Ayah harus mengajarkan bahwa profesi dan pekerjaan bukanlah tujuan utama dalam kehidupan yang akan menentukan kepuasan, identitas diri, dan pengakuan.

Ayah harus menekankan kepada anak bahwa tujuan kita adalah untuk memuliakan Tuhan dan melakukan Amanat Agung melalui apapun yang mereka pilih untuk lakukan.Mereka memuliakan Tuhan dengan melakukan apa yang Tuhan berikan dalam hidup mereka.

5. To develop skills and the character that supports
Tugas ayah yang kelima adalah untuk mengembangkan keterampilan dan karakter yang mendukung keterampilan tersebut. Anak-anak muda perlu dilatih dalam berbagai keterampilan. Dan tidak berhenti di situ. Saat keterampilan tidak didukung dengan karakter, maka akan timbul yang namanya kesombongan. Oleh sebab itu, selain mengembangkan keterampilan, maka ayah harus mendorong anak untuk mengembangkan karakter-karakter yang mendukungnya hal-hal itu.

lanjut ke Part 2
Husband as head and wife as heart of the home


Jumat, 26 Juni 2020

Mom's Talk: The Art of Homemaking

Sumber foto: stonegableblog.com
Sebagai ibu-ibu yang mengajar anak-anaknya di rumah, kami terkadang merindukan saat-saat kami berkumpul dan membahas topik-topik sesuai kebutuhan kami. Seperti di pertemuan Mom’s Talk kami bulan Februari kemarin. Topik yang dipilih oleh mama-mama adalah homemaking.

Istilah homemaking ini mungkin terasa tidak begitu familiar di telinga kita, atau mungkin hanya di telinga saya saja =D. Saat pertama kali saya mendengar istilah ini, sahabat saya sering sekali menggunakan istilah ini, saya mengira bahwa homemaking berarti bagaimana cara membuat rumah menjadi nyaman. Namun ternyata saat saya mencoba mencari tahu arti dari istilah ini, homemaking lebih dari sekedar membuat rumah menjadi nyaman.

Homemaking adalah kreasi dan pengelolaan rumah sehingga rumah menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Sedangkan homemaker adalah orang yang mengelola rumah sehingga nyaman untuk ditinggali. Istilah yang banyak digunakan di Amerika ini lebih dari sekedar rumah yang nyaman atau home sweet home, tetapi juga berdampak bagi orang-orang yang tinggal di rumah tersebut.

Narasumber kami kali ini adalah keluarga Badudu dan Pasaribu, yaitu dua keluarga senior yang anak-anaknya sudah kuliah atau lulus. Mereka membagikan beberapa hal mengenai homemaking yang sangat memberkati kami.
Our Mom's Talk  
Dari segi spiritualitas, rumah kita hendaknya menjadi pusat penyembahan atau worship center. Dalam keluarga, ayah merupakan imam dalam keluarga tersebut. Kita, para ibu merupakan faslitator supaya rumah kita menjadi pusat penyembahan. Kita dapat mengingatkan si ayah untuk melakukan ibadah dalam keluarga. Tidak usah menempatkan ekspektasi yang terlalu tinggi, tetapi yang penting kita konsisten dalam melakukan ibadah dalam keluarga. Tujuan utama yang ingin kita capai adalah anak-anak kita mempunyai worship spirit.

Dari segi pendidikan, rumah kita hendaknya menjadi pusat pembelajaran atau learning center. Kita, para ibu, adalah sumber informasi pertama yang ditemukan oleh anak-anak. Walau sebetulnya yang kita tahu sedikit, bagi anak-anak, mamanya tahu semua hal (makanya mereka banyak nanya). Mau kita bilang salah pun, saat anak-anak masih kecil, mereka tetap akan percaya. Oleh sebab itu, kita perlu membangun roh yang rendah hati atau humble spirit dalam diri kita dan juga anak-anak. Kita mau untuk belajar dan juga rela menerima koreksi. Dengan demikian, anak-anak pun melihat teladan dalam diri kita.

Selain pusat pembelajaran dalam hal akademis, rumah juga hendaknya menjadi pusat pembelajaran karakter. Anak-anak belajar untuk membangun habit yang baik, yang nantinya akan menjadi karakter mereka. Seperti salah satu tujuan homeschool bukan, agar kita dapat menanamkan nilai moral dengan lebih sering kepada anak-anak.

Dari segi pelayanan, rumah kita berfungsi sebagai pusat keramahan atau hospitality center. Pusat keramahan di sini maksudnya adalah anak-anak belajar untuk menjadi generous atau murah hati dan menjadi berkat bagi orang lain. Setelah mereka mempelajari banyak hal, waktunya mereka mempraktekkan. Hal ini bisa dilakukan dengan membuka rumah untuk kegiatan komunitas, atau menyiapkan makanan untuk dibagikan, dan lainnya. Tujuannya adalah agar anak-anak membangun generous spirit atau roh yang murah hati.

Dari segi kesehatan, rumah kita berfungsi sebagai pusat kesehatan atau health center. Dari rumahlah anak-anak belajar mengenai hal yang bersih dan tidak bersih, yang sehat dan yang tidak sehat. Kita, sebagai ibu, dapat mengajarkan kepada mereka mengenai kebersihan, makanan yang sehat, dan juga menjaga kesehatan. Anak-anak harus memahami bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati.

Kita dapat melibatkan anak-anak dalam menyiapkan makanan yang sehat untuk keluarga. Dengan ikut terlibat, mereka akan dengan rela hati untuk makan makanan yang sehat. Dan kita pun tidak usah susah-susah menyuruh mereka untuk makan sayur dan buah.

Dari segi kreativitas, rumah kita berfungsi sebagai pusat kerajinan atau craft center. Craft center bukan berarti si ibu harus mempunyai skill yang mumpuni dalam hal kerajinan. Tetapi kita dapat mengajak anak untuk membuat sesuatu untuk membantu orang lain. Misalkan mengajak anak untuk membuat kartu saat salah satu teman kita ada yang sakit. Percaya deh, anak-anak hanya butuh sedikit pancingan, dan seterusnya tanpa disadari, mereka sudah membangun creative spirit.

Dari sharing yang diberikan di atas, maka fungsi kita sebagai ibu bukan hanya sebagai housewife atau ibu rumah tangga yang kerjaannya beberes rumah dan mengurus rumah (eh, itu mah saya ya). Tetapi lebih dari itu. Ibu merupakan housemaker, yang mengelola rumah menjadi nyaman untuk ditinggali dan membuat yang tinggal di dalamnya pun menjadi berkat bagi orang lain.

Yang perlu diingat juga, Ibu merupakan barometer dalam keluarga. Artinya, untuk melihat apakah kondisi keluarga tersebut sedang damai atau tidak, lihatlah si ibu. Emosi ibu sangat mempengaruhi keadaan di rumah. Oleh sebab itu, kita sebagai ibu harus menjaga ‘kewarasan’ dan ‘tekanan’ yang ada agar suasana di rumah kondusif. Bagaimana cara menjaganya?

Pastinya kita harus mengisi hati dan pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Semakin banyak Firman Tuhan yang masuk, maka akan semakin waras kita tentunya. Dan hal yang tidak kalah penting adalah mempunyai contentment spirit atau roh yang merasa cukup dan grateful spirit atau roh yang bersyukur.

Kecenderungan ibu-ibu adalah melihat keluarga lain, dan setelahnya membandingkan keluarga kita dengan keluarga lain. Hal ini akan membuat kita menjadi tidak puas dan tidak bersyukur. Kita boleh melihat untuk memperbaiki, tetapi jangan sampai kita lupa bahwa tiap keluarga berbeda keadaannya. Jadi tidak ada hal yang mutlak yang bisa dibuat serupa.

Kami diingatkan bahwa para ibu adalah domba-domba dari Gembala Agung. Namanya domba tentu harus mendengarkan suara gembalanya. Demikian juga kita. Kita hendaknya mendengarkan suara Gembala kita, bukan domba-domba yang lain. Saat kita mendengarkan Gembala kita, maka kita akan bergerak sesuai dengan rencanaNya.

Yang perlu diperhatikan dalam perjalanan di rumah adalah kita harus mengenali time stealer kita dan juga hot button kita. Time stealer adalah kegiatan yang membuat kita bisa lupa dengan apa yang harus dikerjakan. Misalkan kalau bagi saya, time stealer adalah kesibukan membersihkan rumah. Terkadang kalau sudah sibuk beberes rumah, yang diluar planning, saya bisa lupa dengan yang harusnya dikerjakan. Ada juga yang time stealer-nya adalah gadget. Jika sudah buka gadget, bisa lupa waktu dan fokus.

Bagaimana cara menyiasatinya? Yang paling mudah adalah dengan membuat list apa saja yang harus dikerjakan dan jadwal harian, mingguan, atau bulanan. Dengan membuat list dan dengan adanya jadwal, kita bisa lebih tahu kapan dan apa yang harus dikerjakan. Jadi, semuanya menjadi lebih teratur. Kalau saya, bukan hanya jadwal kegiatan, tetapi juga jadwal materi pelajaran anak-anak.

Sedangkan hot button adalah hal yang dapat membuat kita 'meledak' jika tersentuh. Ada yang hot button-nya adalah tangisan. Kalau dengar anak menangis, rasanya mau meledak. Ada juga yang hot button-nya adalah rumah berantakan. Setiap orang berbeda. Tetapi kita harus mencari tahu apa hot button kita dan apa yang harus kita lakukan supaya saat hot button kita tersentuh, kita tidak meledak seperti sebelumnya.

Sharing kami di bulan Februari kemarin ternyata sharing terakhir kami sebelum memasuki masa PSBB dan new normal karena corona. Belum tahu kapan kami akan bertemu kembali secara langsung, tetapi tentunya kami masih dapat bertemu secara online.

Stay healthy, stay safe, and stay happy, moms =)