Jumat, 26 Juni 2020

The Art of Homemaking

Sumber foto: stonegableblog.com
Sebagai ibu-ibu yang mengajar anak-anaknya di rumah, kami terkadang merindukan saat-saat kami berkumpul dan membahas topik-topik sesuai kebutuhan kami. Seperti di pertemuan Mom’s Talk kami bulan Februari kemarin. Topik yang dipilih oleh mama-mama adalah homemaking.

Istilah homemaking ini mungkin terasa tidak begitu familiar di telinga kita, atau mungkin hanya di telinga saya saja =D. Saat pertama kali saya mendengar istilah ini, sahabat saya sering sekali menggunakan istilah ini, saya mengira bahwa homemaking berarti bagaimana cara membuat rumah menjadi nyaman. Namun ternyata saat saya mencoba mencari tahu arti dari istilah ini, homemaking lebih dari sekedar membuat rumah menjadi nyaman.

Homemaking adalah kreasi dan pengelolaan rumah sehingga rumah menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Sedangkan homemaker adalah orang yang mengelola rumah sehingga nyaman untuk ditinggali. Istilah yang banyak digunakan di Amerika ini lebih dari sekedar rumah yang nyaman atau home sweet home, tetapi juga berdampak bagi orang-orang yang tinggal di rumah tersebut.

Narasumber kami kali ini adalah keluarga Badudu dan Pasaribu, yaitu dua keluarga senior yang anak-anaknya sudah kuliah atau lulus. Mereka membagikan beberapa hal mengenai homemaking yang sangat memberkati kami.
Our Mom's Talk  
Dari segi spiritualitas, rumah kita hendaknya menjadi pusat penyembahan atau worship center. Dalam keluarga, ayah merupakan imam dalam keluarga tersebut. Kita, para ibu merupakan faslitator supaya rumah kita menjadi pusat penyembahan. Kita dapat mengingatkan si ayah untuk melakukan ibadah dalam keluarga. Tidak usah menempatkan ekspektasi yang terlalu tinggi, tetapi yang penting kita konsisten dalam melakukan ibadah dalam keluarga. Tujuan utama yang ingin kita capai adalah anak-anak kita mempunyai worship spirit.

Dari segi pendidikan, rumah kita hendaknya menjadi pusat pembelajaran atau learning center. Kita, para ibu, adalah sumber informasi pertama yang ditemukan oleh anak-anak. Walau sebetulnya yang kita tahu sedikit, bagi anak-anak, mamanya tahu semua hal (makanya mereka banyak nanya). Mau kita bilang salah pun, saat anak-anak masih kecil, mereka tetap akan percaya. Oleh sebab itu, kita perlu membangun roh yang rendah hati atau humble spirit dalam diri kita dan juga anak-anak. Kita mau untuk belajar dan juga rela menerima koreksi. Dengan demikian, anak-anak pun melihat teladan dalam diri kita.

Selain pusat pembelajaran dalam hal akademis, rumah juga hendaknya menjadi pusat pembelajaran karakter. Anak-anak belajar untuk membangun habit yang baik, yang nantinya akan menjadi karakter mereka. Seperti salah satu tujuan homeschool bukan, agar kita dapat menanamkan nilai moral dengan lebih sering kepada anak-anak.

Dari segi pelayanan, rumah kita berfungsi sebagai pusat keramahan atau hospitality center. Pusat keramahan di sini maksudnya adalah anak-anak belajar untuk menjadi generous atau murah hati dan menjadi berkat bagi orang lain. Setelah mereka mempelajari banyak hal, waktunya mereka mempraktekkan. Hal ini bisa dilakukan dengan membuka rumah untuk kegiatan komunitas, atau menyiapkan makanan untuk dibagikan, dan lainnya. Tujuannya adalah agar anak-anak membangun generous spirit atau roh yang murah hati.

Dari segi kesehatan, rumah kita berfungsi sebagai pusat kesehatan atau health center. Dari rumahlah anak-anak belajar mengenai hal yang bersih dan tidak bersih, yang sehat dan yang tidak sehat. Kita, sebagai ibu, dapat mengajarkan kepada mereka mengenai kebersihan, makanan yang sehat, dan juga menjaga kesehatan. Anak-anak harus memahami bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati.

Kita dapat melibatkan anak-anak dalam menyiapkan makanan yang sehat untuk keluarga. Dengan ikut terlibat, mereka akan dengan rela hati untuk makan makanan yang sehat. Dan kita pun tidak usah susah-susah menyuruh mereka untuk makan sayur dan buah.

Dari segi kreativitas, rumah kita berfungsi sebagai pusat kerajinan atau craft center. Craft center bukan berarti si ibu harus mempunyai skill yang mumpuni dalam hal kerajinan. Tetapi kita dapat mengajak anak untuk membuat sesuatu untuk membantu orang lain. Misalkan mengajak anak untuk membuat kartu saat salah satu teman kita ada yang sakit. Percaya deh, anak-anak hanya butuh sedikit pancingan, dan seterusnya tanpa disadari, mereka sudah membangun creative spirit.

Dari sharing yang diberikan di atas, maka fungsi kita sebagai ibu bukan hanya sebagai housewife atau ibu rumah tangga yang kerjaannya beberes rumah dan mengurus rumah (eh, itu mah saya ya). Tetapi lebih dari itu. Ibu merupakan housemaker, yang mengelola rumah menjadi nyaman untuk ditinggali dan membuat yang tinggal di dalamnya pun menjadi berkat bagi orang lain.

Yang perlu diingat juga, Ibu merupakan barometer dalam keluarga. Artinya, untuk melihat apakah kondisi keluarga tersebut sedang damai atau tidak, lihatlah si ibu. Emosi ibu sangat mempengaruhi keadaan di rumah. Oleh sebab itu, kita sebagai ibu harus menjaga ‘kewarasan’ dan ‘tekanan’ yang ada agar suasana di rumah kondusif. Bagaimana cara menjaganya?

Pastinya kita harus mengisi hati dan pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Semakin banyak Firman Tuhan yang masuk, maka akan semakin waras kita tentunya. Dan hal yang tidak kalah penting adalah mempunyai contentment spirit atau roh yang merasa cukup dan grateful spirit atau roh yang bersyukur.

Kecenderungan ibu-ibu adalah melihat keluarga lain, dan setelahnya membandingkan keluarga kita dengan keluarga lain. Hal ini akan membuat kita menjadi tidak puas dan tidak bersyukur. Kita boleh melihat untuk memperbaiki, tetapi jangan sampai kita lupa bahwa tiap keluarga berbeda keadaannya. Jadi tidak ada hal yang mutlak yang bisa dibuat serupa.

Kami diingatkan bahwa para ibu adalah domba-domba dari Gembala Agung. Namanya domba tentu harus mendengarkan suara gembalanya. Demikian juga kita. Kita hendaknya mendengarkan suara Gembala kita, bukan domba-domba yang lain. Saat kita mendengarkan Gembala kita, maka kita akan bergerak sesuai dengan rencanaNya.

Sharing kami di bulan Februari kemarin ternyata sharing terakhir kami sebelum memasuki masa PSBB dan new normal karena corona. Belum tahu kapan kami akan bertemu kembali secara langsung, tetapi tentunya kami masih dapat bertemu secara online.

Stay healthy, stay safe, and stay happy, moms =)






Jumat, 29 Mei 2020

Mengajarkan Tanggung Jawab Pada Anak


Bagi kami, melatih anak-anak dengan urusan di rumah merupakan hal yang harus diperkenalkan sedini mungkin. Mengapa? Karena hal ini adalah keterampilan dasar yang harus mereka miliki. Anak-anak bukan hanya dapat mengerjakan urusan di rumah (sesuai dengan batasan umur dan kemampuan tentunya), tetapi mereka juga belajar untuk bertanggung jawab. Kata tanggung jawab bukanlah kata yang mudah untuk dimengerti oleh anak-anak. Jadi dengan tindakan dan membantu urusan di rumah dapat menjadi media bagi mereka mempelajari arti tanggung jawab.

Suatu hari, saat kakak masih berusia 1 tahun (saya pun sedang hamil anak kedua), kami bermain ke rumah senior kami. Memang biasanya kami mempunyai jadwal rutin main ke rumah mereka saat libur Lebaran, kecuali Lebaran kali ini tentunya. Si kakak diajak main oleh anak-anak di sana. Saat mereka akan main yang lain, kakak sibuk merapihkan mainan yang sebelumnya mereka mainkan. Mereka pun cukup kaget karena anak yang umurnya baru 1 tahun mengerti tentang merapikan barang.
Kakak saat ngotot mau ngepel walau gagang pel lebih tinggi dari dia.
Memang sejak anak-anak masih bayi, kami selalu mengajak mereka untuk merapihkan mainannya setiap kami selesai bermain. Kami pun membiasakan mereka untuk merapikan mainan yang mereka mainkan sebelum berganti mainan yang baru. Mungkin awalnya mereka belum mengerti, tetapi karena kami selalu melakukannya, kemudian kami bersama dengan mereka merapikannya, maka mereka pun lama kelamaan mengerti. Sampai akhirnya mereka dapat merapikan mainan mereka sendiri tanpa harus dibantu. Mereka tahu bahwa mainan harus dirapikan sebelum mereka berganti mainan yang lain.

Tanggung jawab mereka pun bertambah seiring dengan perkembangan umur mereka. Di usia kakak tiga tahun dan adik 1 tahun lebih, tanpa kami minta, mereka mau membantu kami untuk mencuci piring dan memasak nasi. Wah, kami pun kaget. Walau awalnya lebih banyak mainan air, lama kelamaan mereka pun bisa mengerjakannya.

Nah, bagaimana sih cara mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anak? Ada dua kunci yang harus diingat. Yang pertama adalah konsistensi. Ingat peribahasa Allah bisa karena biasa, bukan? Demikian juga habit atau kebiasaan. Jika kita selalu melakukannya dengan konsisten, maka anak-anak pun akan dapat melakukannya. Apalagi saat berurusan dengan anak kecil, baik dalam mengajar ataupun dalam hal mendisiplin, konsistensi merupakan kunci utama.
Saat mereka masih kecil dan ingin membantu menyerut labu.
Kunci kedua adalah teladan. Rumah adalah tempat pertama anak belajar. Kita orang tua adalah orang-orang pertama yang akan mereka tiru. Jadi kalau kita tidak pernah menunjukkan bahwa kita bertanggung jawab, bagaimana mereka akan belajar mengenai tanggung jawab? Bagaimana anak mau ambil minum sendiri jika kita selalu meminta tolong ART kita untuk mengambilkannya?

Anak-anak selalu melihat kami mengerjakan segala sesuatu sendiri. Mereka pun berusaha untuk mengikutinya. Sampai sekarang pun mereka terbiasa mengerjakan urusan rumah tangga lainnya seperti menyapu, mencuci piring, memasak, melipat baju, dan sebagainya. Dari yang awalnya mereka berusaha meniru kami saat melakukan semua itu, sekarang mereka sudah dapat melakukannya sesuai dengan kapasitas mereka. Memang action speaks louder than words.

Walau mereka senang membantu, tetapi terkadang hal ini menjadi tantangan bagi kami. Mereka bisa rebutan untuk mengerjakan urusan-urusan tersebut. Tak jarang diakhiri oleh tangisan dan rengekan yang membuat kami pusing. Untuk menyiasatinya, kami pernah membuat kotak tugas. Kotak tugas ini berisi kartu-kartu kecil dari tugas yang akan mereka kerjakan. Tugas-tugas itupun dirotasi supaya semua kedapatan.

Selain cara diatas, kami biasanya menulis di papan tulis tanggung jawab yang tidak boleh mereka lupakan. Ini bukan saja tanggung jawab dalam hal kerjaan, tetapi juga hal lain. Misal, untuk adik, salah satu tanggung jawab dia adalah minum air (karena dia suka lupa minum air).
Memasak untuk makan siang.
Beberapa waktu lalu, di salah satu buku Wisdom Booklet diperkenalkan yang namanya Responsibility Chart. Jadi dalam satu halaman dibagi tujuh kolom yang merepresentasikan tujuh hari dalam seminggu. Kertas tersebut dilaminating dan dapat ditulis tanggung jawab yang dapat mereka lakukan. Hal ini cukup efisien, karena hanya cukup menggunakan satu kertas saja.
Responsibility Chart
Nah, yang harus diingat oleh kita adalah mereka adalah anak-anak, yang masih punya tugas untuk belajar dan waktu untuk bermain dan mengembangkan diri. Oleh sebab itu, tugas-tugas yang diberikan harus disesuaikan dengan kemampuan dan umur mereka. Jangan sampai kita mempekerjakan anak di bawah umur dan kita jadi asyik-asyik menikmati 'me time' kita. Ingat, walau mereka bisa, bukan berarti mereka harus mengerjakannya. Kita melatih anak untuk bertanggung jawab, bukan melimpahkan semua tugas ke mereka.

Sebagai kesimpulan, mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab juga dapat melalui hal-hal sederhana seperti urusan rumah tangga. Tanggung jawab mereka bukan hanya belajar saja, tetapi juga pekerjaan rumah yang sederhana. Bukan berarti mereka diperdaya, tetapi mereka diperlengkapi dengan kemampuan dasar. Selamat mengajarkan tanggung jawab kepada anak. 

Selasa, 26 Mei 2020

5 Tips Learning at Home


Tidak terasa kita hampir memasuki bulan Juni. Ini berarti bahwa PSBB di Jakarta sudah berlangsung dua bulan lebih. Mungkin dari yang kaget karena semua harus dilakukan dari rumah menjadi terbiasa. Atau mungkin juga kebalikannya. Kegiatan kita dan anak-anak sudah mulai menghitung hari kapan PSBB ini berakhir.

Beberapa teman yang biasanya menitipkan anaknya di sekolah pun mulai merasa kewalahan. Mereka merasa pusing dengan kurikulum dan juga pelajaran anak-anak. Apalagi diawal-awal pembelajaran di rumah, orang tua merasa 'dikerjain' oleh guru dengan tugas-tugas yang rasanya membuat pusing. Dan mereka pun bertanya bagaimana kami dapat bertahan menghadapi anak-anak yang belajar di rumah.

Ada 5 tips yang mungkin dapat membantu teman-teman semua saat melakukan pembelajran di rumah. 
1. Tetapkan jadwal.
Saya adalah tipe orang yang senang membuat jadwal dan perencanaan. Dengan adanya jadwal, segala hal menjadi lebih terarah. Demikian juga dengan urusan belajar anak-anak. Untuk anak yang masih kecil, rutin atau jadwal merupakan hal yang penting. Anak-anak pun menjadi lebih tenang jika mereka sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh mereka. Oleh sebab itu, kita harus siapkan jadwal agar mereka pun merasa nyaman dan tetap disiplin.

Untuk anak yang sudah mulai besar, akan lebih mudah jika mereka dilibatkan untuk membuat jadwal. Selain melatih mereka menggunakan waktu mereka dengan bijak, mereka pun belajar untuk bertanggung jawab. Dan ini tentu akan memudahkan mereka untuk mengerjakan jadwal mereka. 

2. Persiapkan keperluan mengajar atau belajar di malam sebelumnya.
Saat anak-anak masih kecil, saya terbiasa menyiapkan perlengkapan-perlengkapan untuk belajar semala sebelumnya. Hal ini membantu akan sangat membantu kita di pagi hari. Apalagi untuk mama-mama yang work from home. Jadi kita tidak terlalu sibuk di pagi hari dan dapat mengerjakan urusan yang lainnya.

3. Sesuaikan ekspektasi dengan keadaan di rumah.
Mendidik anak memang melelahkan. Apalagi kalau biasanya kita tahu beres karena mereka belajar di sekolah, lalu sekarang semua harus dikerjakan di rumah. Tetapi, sadarkah kita bahwa kadang rasa lelah yang kita rasakan lebih sering karena ekspektasi kita terlalu tinggi?

Misalkan kita sedang mengajar membaca anak TK (ya, walaupun berdasarkan kurnas anak TK tidak harus bisa membaca, tetapi kenyataannya mereka harus bisa membaca saat masuk SD). Ekspektasi kita dalam waktu 30 menit si anak harus dapat merangkai kata yang terdiri dari 5 suku kata. Tentu hal ini berlawanan dengan kenyataan bukan? Akibatnya kita mulai stres dan senewen karena target kita tidak terpenuhi. Oleh sebab itu kita harus menyesuaikan ekspektasi dengan kenyataan.

4. Jangan berusaha memindahkan sekolah ke rumah
Namanya juga sekolah, pasti banyak fasilitas. Lalu saat anak-anak mulai belajar di rumah, kita berusaha memindahkan semuanya ke rumah. Usaha duplikasi ini pastilah akan susah. Jadi, daripada menduplikat sekolah, lakukan yang kita bisa, sesuai dengan keadaan rumah.

Misalkan saat anak belajar online dengan gurunya, sediakan satu area untuk mereka belajar. Area ini yang penting bersih dan mudah dapat sinyal untuk koneksi. That's it. Kita tidak perlu menyulap satu kamar menjadi satu ruang belajar macam ruang kelas di sekolah. 

5. Beri reward baik untuk kita maupun anak-anak. 
Seperti yang saya utarakan di artikel sebelumnya, setelah sibuk seharian dengan urusan di rumah, adalah hal yang wajar bagi kita untuk mendapatkan reward. Jadi hal yang lumrah untuk kita meluangkan waktu dan menikmati waktu kita.

Untuk anak-anak, mereka juga pasti bosan di rumah terus. kita sebagai orang tua dapat mengadakan kegiatan bersama untuk membuat anak merasa senang ada di rumah. Tidak harus yang wah. Kita dapat membuat kue bersama, nonton bersama sambil makan popcorn, membuat project bersama, dan sebagainya.

Nampaknya perjalanan untuk belajar di rumah masih akan panjang, mengingat corona tidak melihat umur. Bahkan bisa saja belajar di rumah berlangsung sampai akhir tahun ini. Semoga lima tips diatas dapat membantu teman-teman semua untuk tetap tenang saat melakukan pembelajaran di rumah.

Untuk hal-hal lain yang berbau homeschooling dan atau parenting, silakan klik link ini dan ini.

Minggu, 03 Mei 2020

Cooking: Bolu Kukus Tanpa Soda


Seperti di artikel sebelumnya, saat segalanya harus dilakukan dari rumah, anak-anak tentunya membutuhkan aktivitas yang dapat dilakukan bersama dengan orang tua sebagai reward atau pengganti dari acara jalan-jalan. Hal ini bisa saja nonton bersama, piknik (pilih saja bagian rumah yang kosong), ataupun membuat kue bersama. Kali ini untuk ke sekian kalinya, kami membuat aktivitas membuat kue.

Kenapa membuat makanan? Karena setiap sore, semua orang mulai mencari cemilan sore. Apalagi kalau Duo Lynns habis les balet online. Mereka bawaannya ingin nyemil. Dari membuat roti tawar, martabak pandan, dan semua olahan pisang (roti pisang bolen, pancake pisang, pisang bakar, banana muffingluten free banana cake), hampir semuanya pisang karena si opa beli pisang banyak sekali, semua dilakoni. Dan akhirnya mereka pun mulai bosan dengan pisang =D

Saya pun berpikir buat apa ya yang gampang dan tidak pakai banyak telur. Tiba-tiba terbayang bolu kukus. Mama saya sangat jago membuat bolu kukus. Tetapi biasanya bolu kukus yang enak itu harus pakai soda atau Sprite. Tiba-tiba saya pun iseng mencari tahu bisa tidak ya jika tidak ada sprite. Dan dari hasil googling dan modifikasi, kami pun membuat bolu kukus tanpa menggunakan sprite. 

Bahan yang diperlukan:
- 2 buah telur
- 250 gram tepung
- 200 gram gula pasir
- 150 ml susu UHT putih
- 1 sendok teh pengemulsi (TBM atau SP). Jika tidak mau menggunakan pengemulsi, dapat diganti dengan 4 kuning telur.
- Pasta pandan atau pewarna makanan.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Masukkan semua bahan-bahan diatas ke dalam wadah.
2. Buatlah adonan dengan menggunakan mixer kecepatan rendah hingga semua bahan tercampur rata.
3. Naikkan kecepatan secara bertahap hingga kecepatan yang paling tinggi dan mix hingga kurang lebih 15 menit atau hingga adonan mengembang dan kental.
4. Pisahkan adonan menjadi beberapa bagian untuk diberi pewarna. Kami membagi menjadi 3 bagian, adonan utama, adonan dengan pewarna kuning, dan adonan dengan pasta pandan.
5. Sambil menunggu memasukkan adonan ke dalam cetakan, panaskan kukusan yang sudah diisi air hingga mendidih.
6. Siapkan cetakan bolu kukus, lalu lapisi dengan cup kertas yang ukurannya sama atau sesuai. Masukkan adonan dengan kombinasi warna yang diinginkan kedalam cup kertas tersebut. Usahakan isi adonan sejajar dengan cetakan agar hasilnya lebih mekar.
7. Jika air di dalam kukusan sudah mendidih, maka masukkan cetakan ke dalam kukusan yang sudah panas. Untuk hasil yang baik sih sebaiknya diberi jarak. Karena kami tidak ingin mengukus dua kali, jadi kami kurang memberi jarak.
8. Kukus kurang lebih 10 menit. Dan seperti saat membuat kue dengan cara mengukus lainnya, bungkus tutup kukusan dengan menggunakan kain. 
Penampakan sebelum dikukus. Hasil karya anak-anak.
Seperti beberapa aktivitas membuat makanan yang lain, anak-anak yang membuat sendiri bolu kukus ini. Saya hanya membantu saat mereka minta pertolongan dan juga mengawasi. Dan tentunya menahan diri untuk tidak berkomentar. Namanya juga memberi reward kepada mereka, tengah-tengah bisa ada adegan minum dulu, cerita dulu. Ya, dinikmati saja. Toh jadi juga kan makanannya.

Setelah bolu ini jadi, saya seakan diajak untuk flashback disaat saya masih kecil. Ingat kan, diawal artikel ini saya tulis bahwa mama saya sangat jago untuk membuat bolu kukus? Saat saya kecil, mama sempat mencoba berjualan ini itu untuk memenuhi kebutuhan kami. 

Mama saya memang tidak bakat jualan. Dia tipe orang yang generous, yang suka memberi orang lain. Jadi saat mama berjualan bolu kukus, seringkali bolu kukusnya diberikan kepada orang-orang daerah kampung depan yang tidak punya makanan. Ataupun ditipu oleh orang lain sehingga jualannya rugi. Tetapi kami bersyukur bahwa penyertaan Tuhan adalah ya dan amin. Saya bisa sekolah, makan, dan bertumbuh dengan baik sampai besar, bahkan bisa bekerja mandiri saat SMA.

Di masa pandemi ini, ada banyak orang yang jadi resah menghadapi keadaan yang tidak menentu. Masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ini membuat banyak orang yang dirumahkan, tidak ada pekerjaan, anak-anak yang bosan di rumah, anak-anak yang takut tidak dapat kemana-mana, dan tidak tahu harus berbuat apa. Ada 1001 macam ketakutan yang dapat muncul. Kami pun demikian. 

Tetapi saya seperti diingatkan bahwa Tuhan itu tetap sama: dulu, sekarang, dan sampai selamanya. Kalau zaman dulu Tuhan bisa buat mujizat, kalau zaman saya kecil saya bisa bertumbuh tanpa kekurangan apapun, maka saat ini pun Tuhan mampu dan sanggup menjaga kita semua. Jadi tidak usah kuatir dan takut karena Tuhan berdaulat atas apapun.

Hmmm, artikel ini tentang resep bolu kukus atau renungan singkat? Dua-duanya. Karena Tuhan dapat berbicara dengan cara apapun. Luar biasa, bukan? Hehehe...

Kembali ke bolu kukus yang sudah jadi, kami pun segera memakannya. Kakak dan adik makan dengan senang, sementara si bayi hanya melihat dulu sambil merenung kapan dia boleh makan bolu kukus ini. Oya, pesan kakak, bolu kukus ini paling enak dimakan saat masih hangat.







Minggu, 26 April 2020

When Everything Must from Home


Sudah hampir dua bulan ini masyarakat di Jakarta dipaksa menikmati yang namanya ‘Home Sweet Home’. Ya, dengan adanya pandemi covid-19, hampir semua kegiatan dilakukan di rumah, termasuk juga yang namanya belajar di rumah. Anak-anak yang biasanya pagi-pagi sudah diantar ke sekolah dan baru pulang hampir sore, atau bahkan malam karena banyak kegiatan setelah sekolah, sekarang dari pagi sampai malam ada di rumah.

Sebagian teman berkata kepada kami tentu kami sudah biasa saja dengan situasi semua ada di rumah. Memang karena anak-anak homeschooling, lalu papa bekerja di rumah, kami terbiasa semua ada di rumah. Tetapi tentu saja kondisi seperti ini sangat tidak nyaman bagi kami. Kami pun memaklumi uneg-uneg teman-teman yang ada.

Beberapa teman pun bercerita bahwa mereka sudah mau meledak setiap hari karena dipusingkan dengan tugas-tugas yang diberikan guru kepada anaknya. Istilahnya dipaksa homeschooling dengan tuntutan yang banyak. Belum lagi harus online untuk meet up dengan guru dan teman-temannya. Bukan hanya kuota, tetapi orang tua harus jago untuk set up dengan berbagai macam platform meeting. Tentunya hal ini bukan hal yang mudah.

Bagaimana dengan mama papa yang biasanya kerja, lalu sekarang harus kerja di rumah? Mereka pun pusing untuk membagi waktu karena ada di rumah dan juga harus rapat secara online dengan klien. Belum lagi kalau anaknya masih kecil-kecil, yang menyangka hari ini papa libur sehingga bisa bermain dengan si kecil.

Memang waktu-waktu ini bukanlah waktu yang mudah bagi siapapun. Dari segi finansial, banyak hal yang harus diketatkan. Dari segi hubungan dalam keluarga, karena setiap hari 4L (lu lagi lu lagi), malah gesekan jadi lebih sering dan akibatnya gesekan dan tuntutan setiap orang terhadap anggota keluarga yang lain menjadi meningkat. Tidak heran miskomunikasi lebih sering terjadi saat pandemi ini.

Kalau boleh dimisalkan, situasi yang tidak menentu ini dapat diibaratkan seperti kita sedang berlari marathon. Kita butuh persiapan dan stamina yang lebih karena kita belum tahu kapan akan selesai, apalagi jika melihat sebagian masyarakat seakan menyepelekan peraturan-peraturan yang diberikan pemerintah. Jadi kalau diawal saja bawaannya sudah stress, lelah, dan senewen, bisa-bisa kita sakit bukan karena covid, tetapi karena berada di dalam rumah terus.

Bagaimana cara menyiasati situasi yang mengharuskan semua di rumah dan semua dari rumah ini? Bagaimana caranya agar rumah betul-betul terasa sweet saat kita manis-manis di dalam rumah? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan supaya kita tidak burn out dengan situasi yang ada.

1. Komunikasikan segala hal dengan semua anggota keluarga.
Komunikasi adalah kunci dari segala hal. Seringkali kita, terutama mamak-mamak, merasa pasangan kita harusnya tahu maunya kita. Tapi kita lupa, kita menikah dengan pria, yang lebih sering menggunakan logika daripada perasaan. Oleh sebab itu, komunikasikan dengan pasangan mengenai kesulitan-kesulitan yang ada. Buat kesepakatan bersama dan setelah itu komunikasikan dengan anak-anak dan anggota keluarga lainnya.

2. Libatkan anak-anak, termasuk urusan rumah tangga.
Sebagai orang tua, terkadang kita merasa anak-anak tidak perlu tahu banyak hal. Akibatnya kita dapat merasa burn out dengan keadaan yang ada. Apalagi kalau yang tidak ada asisten rumah tangga, si mama akan merasa lelah dengan semua kerjaan rumah tangga. Ada baiknya anak-anak pun diberikan tanggung jawab dan juga dilibatkan dalam urusan rumah tangga. Dan jika orang tua bekerja, maka anak-anak pun dapat diberi pengertian bahwa sama seperti mereka punya worksheet atau pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, papa atau mama juga mempunyai worksheet yang harus diselesaikan.

3. Sesuaikan ekspektasi dengan kenyataan.
Rasa lelah yang dirasakan kita lebih sering karena poin ketiga ini. Sama seperti yang sering saya katakan mengenai ekspektasi saat homeschool, saat semua orang di rumah pun kita harus menyesuaikan ekspektasi dengan kenyataan. Hal ini memang berat bagi orang-orang yang perfeksionis, seperti saya misalnya. Tetapi kalau kita tidak melakukannya, maka kita akan lelah duluan. Jadi, alih-alih membuat ekspektasi yang agak gak menapak, lebih baik membuat target sesuai dengan kenyataan yang ada.

4. Berikan ruang untuk menerima hal yang tidak sesuai dengan rencana yang ada.
Bagi si pemikir dan si perencana, hal yang tidak sesuai dengan perencanaan adalah hal yang tidak menyenangkan. Bahkan saat kita sudah menyesuaikan ekspektasi dengan kenyataan, seringkali ada hal yang tidak sesuai dengan rencana yang sudah ada. Saat-saat seperti inilah dibutuhkan kebesaran hati untuk menerima keadaan yang ada dan belajar fleksibel dengan hal tersebut. Bagi kami, hal ini penting. Apalagi dengan adanya bayi. Walaupun kami terbiasa menerapkan rutin dalam pengasuhan anak sejak bayi, namun karena satu dan lain hal, rencana yang sudah disiapkan bisa berubah karena si bayi. Saya sendiri butuh waktu untuk menerima dan belajar fleksibel dan segera menyesuaikan dengan keadaan yang ada.

5. Selesaikan konflik atau sengketa yang ada sesegera mungkin.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya semua orang di rumah, gesekan akan lebih sering terjadi, baik antara ayah dengan ibu, ayah dengan anak, ibu dengan anak, ataupun anak dengan anak. Kami memilih untuk segera menyelesaikan konflik yang ada sesegera mungkin agar suasana menjadi lebih kondusif. Mengapa? Karena akan canggung jika ada perang dingin dalam satu rumah, terutama dalam jangka waktu yang lama. Bagaimana jika konfliknya karena si anak yang berulah atau kalau dalam bahasa Jawa dibilang ngerengkel? Kami biasanya mencoba memberikan pengertian. Untuk ini pun kadang harus gantian dengan pasangan, supaya kita tidak keburu meledak karena emosi dengan anak.
Well, sometimes it's true 
6. Sediakan waktu untuk memberi reward pada diri sendiri dan keluarga.
Setelah sibuk seharian dengan urusan rumah, sekolah, pekerjaan, dan teman-temannya, adalah hal yang wajar bagi kita untuk mendapatkan reward. Karena ibu merupakan barometer dalam rumah tangga, maka kewarasan itu sangat penting. Jadi boleh kok mencolong-colong waktu untuk menikmati kopi (dalgona juga boleh), makan mie instan (mie instan mentah dikremes juga boleh), chatting sebentar, baca berita, dan apapun juga yang membuat kita merasa relaks. Tapi jangan kebanyakan memberi reward pada diri sendiri ya, nanti kerjaan tidak selesai-selesai.

Selain itu, karena pandemi ini membuat kita tidak dapat keluar rumah, mungkin kita sebagai orang tua dapat mengadakan kegiatan bersama untuk membuat anak merasa senang ada di rumah. Tidak harus yang wah, misalkan membuat kue bersama, nonton bersama sambil makan popcorn, tidur bersama di hari-hari tertentu, dan sebagainya.
Aktivitas anak-anak 
7. Berdoa dan mengucap syukur untuk keadaan yang ada.
Walaupun berada di urutan ketujuh, tetapi ini yang harus dan wajib ada. Dalam menghadapi keadaan yang tidak menentu ini, hanya Tuhan yang dapat menjadi jawaban atas setiap persoalan kita. Doa dan ucapan syukur yang dinaikkan bersama-sama akan membuat kita sebagai keluarga dikuatkan kembali. Ingat bahwa Ia yang tidak terbatas mampu melakukan hal-hal yang terbatas bagi manusia.

Bagaimana dengan kami? Untuk urusan rumah tangga, kami tidak begitu pusing, karena kami terbiasa membagi tugas. Hanya saja, kami seringkali dikejar-kejar oleh Duo Lynns karena mereka mau mengepel lantai, masak, membuat kue, dan urusan rumah lainnya. Satu hal kami bersyukur mereka cukup senang membantu, tetapi terkadang pusing juga karena sudah seperti radio rusak yang ngoceh terus.

Dengan adanya bayi dan senior, kami jadi lebih ‘clean freak’. Apalagi karena kebanyakan beli online, maka dalam sehari si papa bisa mandi tiga kali. Belum lagi tiba-tiba banyak barang di rumah yang mendadak rusak. Kalau sedang tidak ada pandemi ini, kami pasti sudah memanggil teknisi untuk membetulkannya. Namun karena ada pandemi ini, urusan memanggil teknisi menjadi tidak semudah dulu.

Jadi, sambil menunggu masa-masa ini berlalu, mari kita manis-manis di rumah sambil bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dan diri kita. Dan supaya jiwa kita tetap sehat, kita juga harus menjaga kewarasan dan keharmonisan dalam rumah kita.

This too shall pass....

Sabtu, 28 Maret 2020

Character: Cautiousness Snake n Ladder


Bulan Maret ini Indonesia dikejutkan dengan berita adanya beberapa orang yang terkena virus corona. Dampak dari virus ini, pemerintah pun meminta kita untuk melakukan social distancing, yang artinya sebisa mungkin kita tetap berada di rumah tanpa harus keluar-keluar. Akibat dari kebijakan ini, maka monthly meeting yang harusnya diadakan di bulan ini diundur.

Walaupun demikian, setiap keluarga yang ada di komunitas kami diharapkan tetap melakukan pembahasan mengenai karakter bulan ini. Bulan ini kami membahas cautiousness. Cautiousness atau berhati-hati adalah mengetahui seberapa pentingnya waktu yang tepat dalam mencapai tindakan yang tepat. Atau dalam bahasa sederhananya adalah memberikan waktu untuk berpikir agar setiap keputusan atau setiap tindakan yang diambil adalah tepat. Lawan kata cautiousness adalah rashness. Rashness atau terburu-buru didefinisikan sebagai melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa dan kurang pertimbangan.

Karakter ini sangat penting, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk kita orang dewasa. Seringkali kita melihat orang melakukan sesuatu dengan tidak tepat, lalu orang lain akan berkata “kan maksud dan niatnya baik”. Memang segala sesuatu yang niatnya baik itu baik, namun jika dilakukan pada waktu yang tepat, maka hasilnya juga akan lebih baik.

Sebagai contoh, misalkan kakak kita sedang bermain  bola, lalu tiba-tiba bola tersebut jatuh. Membantu kakak mengambil bola merupakan tindakan yang baik, bukan? Namun jika kita mengambil bola tersebut tanpa melihat kiri kanan dan kita lari menabrak anak kecil, apakah itu baik? Oleh sebab itu, sebelum mengambil bola, kita harus melihat ke kiri dan ke kanan agar tidak membahayakan orang lain dan juga kita.

Saat membahas cautiousness, kami memperkecil pembahasan kepada lima hal yang dapat dilakukan anak-anak sebagai langkah nyata saat membahas cautiousness. Lima hal tersebut adalah:
1. Saya akan berpikir sebelum saya bertindak
2. Saya akan mempertimbangkan kata-kata saya sebelum saya berkata-kata.
3. Saya akan mengikuti peraturan yang ada (safety rules).
4. Saya akan meminta izin terlebih dahulu.
5. Saya akan waspada terhadap bahaya.

Agar kelima hal ini lebih mudah dipahami oleh anak-anak, maka kami pun menggunakan permainan Cautiousness Snake and Ladder. Tujuan dari permainan ini adalah membuat anak-anak menyadari keuntungan dari bersikap hati-hati dan konsekuensi dari bersikap terburu-buru. Sama seperti bermain ular tangga, jika bertemu tangga maka naik dan jika bertemu ular maka turun, maka saat anak-anak mendarat di tindakan yang menunjukkan sikap kehati-hatian, maka mereka akan naik tangga. Namun jika mereka mendarat di tindakan yang diambil dengan terburu-buru, maka mereka akan turun.

Dalam pembuatannya, kami menyediakan lima ’kasus’ yang berhati-hati dan lima ’kasus’ yang menunjukkan tindakan rashness atau terburu-buru. Kasus-kasus tersebut dapat dibuat sendiri, berdasarkan keadaan yang kita ingin anak-anak berhati-hati. Kami membuatnya sebagai berikut.

5 keadaan berhati-hati:
- A stranger offered to give you some food, you quickly went away. 
- You asked permission before you played with your friends. 
- You obeyed your parents to stay at home
- You used seatbelt when you were in the car. 
- You washed your hand before and after eating. 

5 keadaan tidak berhati-hati:
- You ran down the hallway with a sharp pencil. 
- You didn't asked permission from your parents before you went to your neighbors.
- You ran across the road without looking both ways. 
- You didn't wash your hands after going outside the house. 
- You didn't clean the floor after you spilled the water. 
                                                
Walaupun permainan ular tangga ini sepertinya jadul, ternyata bagi anak-anak akan lebih menarik. Apalagi dimainkan bersama-sama. Lumayan, menambah permainan yang dapat dimainkan selama harus di rumah saja.




Rabu, 18 Maret 2020

Cooking: Menghias Kue dengan Fondant

 
Beberapa bulan yang lalu, kami membahas tentang pertemuan menghias kue dengan menggunakan fondant di pertemuan bulanan Mom and Daughter. Tentunya topik ini sangat disukai oleh kami sekeluarga. Selama ini kami selalu membuat kue saat salah satu dari kami ulang tahun. Tetapi kami tidak pernah menghias dengan menggunakan fondant.

Kegiatan Mom and Daughter kali ini dimulai dengan sedikit cerita singkat tentang karakter kerajinan dan juga tokoh wanita yang menunjukkan karakter ini. Setelah cerita selesai, auntie L dan kedua anak perempuannya mencontohkan cara menghias kue dengan menggunakan fondant. Kue dengan menggunakan fondant ini memang biasanya mahal. Apabila kita dapat membuatnya sendiri, maka kita dapat menghemat biaya kue.
Drama singkat oleh kelompok yang bertugas.
Our teacher and their cake. 
Untuk menghias dengan menggunakan fondant, ada beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan, seperti:
1. kue bertekstur padat seperti bownies atau buttercake.
2. Fondant putih, dapat dibeli di toko bahan kue
3. Pewarna makanan sesuai yang diinginkan.
4. Buttercream
5. Rolling pin
6. Lazy susan atau cake tray
7. Pizza cutter
8. Pisau kue atau spatula
9. Fondant smoother alias setrikaan kue.
10. Alas plastik untuk mengolah fondant (jika tidak ada dapat menggunakan plastik)
Atas: spatula dan scrapper. Tengah: rolling pin, pizza cutter, fondant smoother.
Bawah: Lazy susan, alas plastik 
Mengapa kue yang digunakan haruslah kue bertekstur padat? Mengapa tidak bisa menggunakan kue seperti sponge cake? Karena fondant itu berat (bukan hanya menahan rindu saja yang berat), jadi kue yang dipilih harus yang cukup padat supaya dapat menahan beban hidup fondant. Jadi bukan hanya Dilan saja yang sanggup menahan yang berat-berat, tetapi juga brownies ataupun buttercake =D
Under The Sea  
Fondant yang digunakan biasanya dapat dibeli di toko kue. Untuk menghemat biaya, lebih baik pilih warna putih, kemudian diberi pewarna dan dimix sendiri. Cara mencampurnya tidak susah, tetapi harus dengan sepenuh hati agar warna tercampur dengan baik.

Langkah-langkah pembuatan adalah sebagai berikut:
1. Kue yang ada dapat dibagi dua mendatar. Atau jika ingin lebih mudah, kami lebih suka memanggang dua kue lalu digabungkan menjadi satu.
2. Oleskan buttercream (atau chocolate ganache) diantara kedua kue tersebut. Selain untuk menempelkan kedua kue, lapisan ini dapat menambah tinggi kue yang akan dibuat.
3. Lapisi bagian atas kue dan bagian sampingnya dengan buttercream. Gunakan pisau kue atau spatula atau scrapper untuk meratakannya.
4. setelah semuanya rata, ditempat berbeda, bentangkan plastik atau alas untuk mengolah fondant. Fondant yang ada digulung dengan menggunakan rolling pin hingga melebar sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
5. Setelah semuanya rata, maka angkat fondant tersebut dengan cara menggulung dengan menggunakan rolling pin, lalu buka gulungannya secara perlahan di bagian tepi kue hingga ke bagian atas kue. Ratakan seluruh bagian dan juga sampingnya dengan tangan kemudian dihaluskan dengan menggunakan fondant smoother alias setrikaan kue.
6. Potong bagian bawah fondant yang tidak terpakai dengan menggunakan pizza cutter.
7. Hias fondant sesuai dengan tema yang diinginkan.
Kue yang sedang dihias.
Setelah melihat demo cara menghias kue dengan menggunakan fondant, kami pun dibagi menjadi empat kelompok untuk moms dan teens, dan satu kelompok besar untuk anak-anak yang masih kecil. Kami para moms membantu teens yang berkreasi dengan kue dan fondant.
Our creation 
Sedangkan untuk anak-anak yang kecil, mereka akan diberikan aktifitas untuk membuat hiasan dengan menggunakan fondant. Mereka boleh menggunakan imajinasi mereka untuk membuat apa saja yang mereka inginkan. Tentunya hal ini menyenangkan bagi mereka karena seakan bermain dengan playdough.
Anak-anak yang sibuk membuat hiasan.
Sooo cute
Hasil karya Duo Lynns 
Kegiatan kali ini tentunya sangat berkesan bagi Duo Lynns. Dan bukan hanya untuk Duo Lynns, tetapi juga mama-mama yang lain. Di akhir kegiatan, kami pun membagi kue yang sudah dibuat dan mengadakan fellowship bersama dengan Fathers and Sons yang baru saja selesai bermain kasti. 
Mama-mama yang mau eksis juga :)