Selasa, 20 Februari 2018

Bersantai di Perpustakaan Nasional

Salah satu kegiatan yang paling saya sukai dari kecil adalah membaca. Bagi saya, saat membaca, bukan hanya saya mengetahui banyak informasi, tetapi saya juga bisa santai sejenak. Dan sejujurnya saat saya sekolah dari SD sampai dengan kuliah, saya hanya datang ke perpustakaan sesekali saja walaupun saya suka membaca. Mengapa? Karena saya tidak tahan dengan bau buku tua dan bau apek di dalam perpustakaan (no offense ya). Bagi saya, berbeda dengan perpustakaan diluar yang wangi dan terang, perpustakaan saat saya sekolah terkesan gelap dan apek.

Namun pandangan itu berubah saat kami dan teman-teman mengunjungi perpustakaan nasional yang baru saja diresmikan pada 14 September 2017 yang lalu. Pertama kali Duo Lynns menginjakkan kaki di tempat ini, Duo Lynns cukup norak melihat gedung perpustakaan yang besar. Pengalaman mereka hanyalah mengunjungi perpustakaan di Cikini. Desain gedung yang seperti buku terbuka ini membuat gedung baru ini terlihat begitu megah. Dan bukan saja gedungnya yang megah, parkirannya pun banyak. Dengan adanya parkiran basement para pembawa kendaraan bermotor menjadi lebih tenang saat berkunjung ke sini.
Perpustakaan Nasional
Kami membuat kartu anggota dan langsung menuju lantai 7 yang memang dikhususkan untuk anak-anak. Saat masuk ke situ, hilanglah semua bayangan akan perpustakaan yang membosankan. Sayangnya kunjungan kami yang pertama hanya sebentar, dan anak-anak lebih banyak bermain di playground yang berada di dalam ruangan. Hmm, adanya playground memang membuat anak tergoda untuk bermain.

Belum merasa puas, kami pun mengunjungi kembali perpustakaan ini bersama-bersama teman-teman yang berbeda. Karena papa sibuk, maka om Grab yang mengantar kami. Dari depan gedung, kami diarahkan satpam untuk masuk ke bangunan tua. Kami pun manut dengan pak Satpam. Dan memang ketaatan akan menghasilkan buah yang baik bukan?

Bangunan tua ini menyimpan pameran benda-benda yang berhubungan dengan sejarah perpustakaan dan juga sejarah atau bagaimana cara orang menulis. Dan yang cukup mengejutkan kami, mereka memadukan lukisan di dinding dengan gambar interaktif dari proyektor.
Diantara dua pilihan....
Quote dari R.A. Kartini
Dari pameran yang ada, kami mendapatkan beberapa informasi. Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, karya rekam termasuk digital, secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Dengan kata lain, perpustakaan bukan hanya mengenai pengumpulan buku, namun juga menjaga buku-buku tersebut dan mengorganisir buku-buku tersebut sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan apapun.
Perpustakaan keliling yang akan mendatangi daerah-daerah terpencil agar semua anak dapat membaca. 
Peta Indonesia secara interaktif.
Gambar interaktif yang dipadukan dengan lukisan di dinding.
Berbagai saran untuk menulis, dari bambu, daun lontar, kayu ulin, hingga kertas.
Setelah puas berfoto melihat-lihat, kami pun berpindah ke gedung baru, Gedung baru ini terdiri dari 24 lantai. Setiap lantai mempunyai berbeda isinya. Lantai 1 merupakan lobby hall dan display. Di lantai ini ada beberapa cafe yang dapat dikunjungi oleh pengunjung perpustakaan yang sedang kelaparan atau mencari cemilan. Lantai kedua adalah tempat layanan keanggotaan. Apa sih keuntungannya menjadi anggota perpustakaan? Ya pasti dapat meminjam buku yang kita mau. Pembuatan kartu ini tidak lama, tetapi yang membuat lama adalah banyaknya orang yang ingin mendaftar. Disarankan mendaftar dulu secara online di website mereka. Jadi sampai sana tinggal mengantri untuk foto dan mengambil kartu.
Direktori Gedung Perpusnas.
Seperti waktu yang lalu, lantai yang kami tuju adalah lantai 7, tempat yang menjadi surga buku bagi anak-anak. Berbeda dengan saat pertama kali kami datang, sekarang sudah tidak ada tempat mainnya. Suatu hal yang baik, jadi anak-anak dapat lebih semangat membaca buku. Buku-buku di sini lumayan lengkap loh. Ada buku-buku cerita, buku terbitan Grolier, buku-buku berbahasa Inggris, ensiklopedi, dan buku-buku lainnya. Yang menarik adalah pilar-pilar di lantai ini dihiasi wall paper yang berisi cerita-cerita rakyat, seperti kisah Raja Ampat, sungai Landak, dan Tadulako Bulili.
Salah satu rak yang berisi buku-buku.
Dinding bercerita
Karena banyaknya buku yang menarik, kami pun bertanya kepada petugas perpustakaan apakah kami dapat meminjam buku. Ternyata kami hanya dapat membaca, bukan meminjam. Alasannya karena buku-buku di perpustakaan nasional Salemba belum semuanya dipindahkan ke sini. Jadi untuk sementara pengunjung belum dapat meminjam buku. 
Asyiknya membaca...
Buat yang membawa tas, kita dapat menitipkan di loker yang disediakan. Jadi acara membacanya akan lebih enak dan kita pun tidak akan dicurigai membawa buku tersebut pulang (eh...). Untuk yang membawa bayi, di sini juga ada nursery room. Dan dibagian luar terdapat bagian outdoor yang dapat digunakan untuk aktivitas anak. Menarik bukan? Rasanya saya betah di dalam sini seharian.
Sudut membaca yang nyaman
Oya, di sini juga ada panggung. Mungkin untuk acara-acara istimewa. Dan begitu melihat panggung, anak-anak ini langsung lupa daratan dan sibuk berpose diatas panggung. Untungnya hari itu perpustakaan sepi, kalau tidak kami bisa dipelototi oleh staff yang ada.
Lupa daratan jika melihat panggung.
Setelah puas berfoto, dan sudah jam makan siang, kami pun memutuskan untuk pulang. Tentu saja acara bermain dan membaca di sini tidak cukup sekali saja. Akan ada kesempatan lain dimana kami bisa membaca kembali di sini. Dan seperti kata R.A. Kartini, untuk memajukan masyarakat dibutuhkan peran serta keluarga. Salah satunya dengan cara menjadikan membaca di dalam keluarga.
Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal  ~ R.A. Kartini

Perpustakaan Nasional
www.pnri.go.id
Jl. Medan Merdeka Selatan no.11 Senen, Gambir, Jakarta Pusat
Jam operasional: 07.30 - 18.00 (hingga 16.00 untuk Sabtu dan Minggu)

Kamis, 15 Februari 2018

Craft: DIY Castle from Recycle Paper

Terkadang saya merasa isi rumah saya ini penuh dengan barang-barang bekas. Setiap ada kardus, atau kotak, atau core tisyu, anak-anak dengan semangat menyimpannya dan ingin menggunakannya untuk membuat aktivitas. Setiap kali anak-anak mempunyai waktu bebas, ada saja yang dikutak-katik oleh mereka. Terkadang hasilnya membuat kami geleng-geleng kepala dan terkadang menarik.

Seperti saat liburan kemarin, saat mamanya sibuk membereskan barang-barang, adik dan kakak mengeluarkan barang-barang yang mereka inginkan. Tujuan mereka adalah membuat kastil. Saat mereka membuatnya, saya pun masih sibuk menjadi inem di rumah. Dan saat selesai, wah ternyata kali ini hasilnya menarik.

Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Core tisyu bekas dalam berbagai ukuran.
2. Kardus bekas, gunting menjadi dua.
3. Alas yang lumayan kuat, kami menggunakan triplek bekas alas kue.
4. Majalah atau koran dengan gambar yang menarik.
5. Kertas origami warna-warni.
6. Lem dan spidol.
Bahan-bahan yang diperlukan
Cara membuatnya:
1. Bungkuslah setiap core tisyu roll dan kardus bekas dengan menggunakan majalah atau koran yang menarik.
2. Lapisi kertas keras atau triplek untuk alas dengan kertas origami. Kakak memilih warna hijau sebagai alasnya, seperti warna rumput. 
3. Buatlah gambar jendela dan pintu pada kertas origami. Kemudian gunting gambar tersebut.
4. Susunlah core tisyu dan kardus diatas alas yang sudah dilapisi tadi. Untuk membuat tinggi menara yang beraneka ragam, Duo Lynns menempelkan dua atau tiga core tisyu secara vertikal. 
5. Untuk menambah efek benteng, guntinglah kertas origami dalam bentuk persegi panjang dan tempelkan dibagian atas menara tersebut.
Castle 
Lumayan juga bukan hasilnya? Apa bagian mamanya dalam pembuatan craft kali ini? Mamanya hanya diminta untuk memfoto dan menyediakan majalah untuk membungkus. Lumayan untuk membuat anak sibuk dan mama pun dapat menyelesaikan urusan-urusan di rumah ;)

Rabu, 07 Februari 2018

Science Activity: Akar dan Daun Bawang

Masih membahas tentang tumbuh-tumbuhan, setelah membahas tentang daun, kami kembali membahas tentang akar dari suatu tanaman. Akar biasanya berada di bawah tanah. Semakin kuat akarnya, semakin susah tanaman tersebut dicabut dari atas. 

Di tengah pembahasan, saya iseng bertanya kepada anak-anak, kalau akar tidak ditanam di tanah tetapi dengan media air saja, apakah bisa tanaman itu bertumbuh. Jawaban berubah dari bisa menjadi tidak bisa, dan dari tidak bisa menjadi bisa. Akhirnya kami melakukan suatu percobaan dengan bawang. 

Bahan-bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Botol aqua pendek yang tidak terpakai.
2. Bawang merah yang sudah ada sedikit daun dan bawang merah yang belum ada daunnya. Saya sengaja memilih yang agak kering.
3. Air.

Langkah-langkah yang dilakukan:
1. Botol aqua yang ada dipotong menjadi dua bagian. Bagian yang bawah diberi air, sedangkan bagian atas dari botol tersebut diletakkan secara terbalik. Air yang ada sebaiknya hanya sampai batas mulut botol aqua.
2. Letakkan bawang-bawang tersebut di atas botol aqua yang diletakkan terbalik. 
3. Amati pertumbuhan daun dan akarnya setiap hari.
Eksperimen bawang Day 0.
Kami melakukan pengamatan selama 4 x 24 jam. Apakah yang terjadi?

Akar Bawang
Setelah 1 x 24 jam, air yang ada berubah warna menjadi merah. Akar yang tadinya belum keluar mulai keluar sedikit. Karena airnya berwarna merah, maka kami pun mengganti dengan air yang baru. Hari demi hari akar yang ada semakin panjang dan semakin lebat.
Akar bawang day 1.
Akar bawang day 2
Akar bawang day 3.
Akar bawang day 4. 
Daun Bawang
Bagaimana dengan daunnya? Di bawang yang sudah ada sedikit daun, daunnya bertambah panjang. Sedangkan yang tadinya tidak ada daun, daunnya mulai keluar sedikit. Di hari kedua, daunnya pun semakin panjang dan semakin banyak. Di hari keempat, panjang daun tersebut sudah cukup panjang, dapat digunakan untuk membuat masakan =D
Daun bawang day 1.
Daun bawang day 2.
Daun bawang day 3.
Daun bawang day 4.
Apakah kesimpulan yang didapatkan anak-anak?
1. Media untuk menanam bukan hanya tanah, tetapi dapat juga digunakan media lain asalkan ada airnya.
2. Akar semakin bertumbuh ke bawah untuk mencari makanan atau air. Jadi tidak heran jika akar yang kuat di dalam tanah akan membuat pohon tersebut susah dicabut.
3. Walaupun bawangnya kering dan tidak punya daun, namun jika diberikan air dan perawatan yang tepat maka akan terus bertumbuh dan bisa bertumbuh dengan lebat.

Sama seperti percobaan kami di tahun lalu, kesimpulan yang kami dapatkan adalah bahwa tanaman yang sudah seakan kering pun akan bertumbuh dengan baik saat bertemu dengan air. Demikian juga jiwa kita, perlu 'air kehidupan' untuk dapat bertumbuh dengan baik.

Di akhir percobaan, kami pun menggunakan daun bawang yang ada untuk membuat omelet. Daun bawangnya ternyata wangi juga, walau tidak sewangi daun bawang yang besar yang dijual di pasar. Hmm....boleh juga nih kalau kepepet.

Selasa, 16 Januari 2018

Science activity: Apakah Daun Bertulang?


November kemarin pelajaran Science kami masuk ke dalam pembahasan tumbuhan. Tidak jauh berbeda dengan pembahasan Science saat kakak kelas satu, science kelas dua kembali membahas tumbuhan. Salah satu materinya adalah mengenal fungsi dan struktur daun. 

Dari buku Abeka, dijelaskan bahwa daun berfungsi untuk membuat makanan untuk tanaman. Dan bukan hanya untuk tanaman, daun membuat makanan untuk kita juga. Sebagai contoh, dibutuhkan 30 daun untuk memproduksi satu buah apel dan dibutuhkan 12 daun pisang yang besar untuk membuat satu tandan pisang. 

Daun juga mempunyai berbagai macam bentuk. Ada yang biasa, ada yang seperti jari. Dan setiap daun mempunyai tulang daun yang berbeda juga. Tulang daun ini dalam bahasa Inggris disebut leaf's vein. Jika diterjemahkan, vein berarti pembuluh darah. Dan memang seperti pembuluh darah yang berfungsi mengangkut darah ke seluruh tubuh, tulang daun ini berfungsi mengangkut air ke setiap bagian daun. 

Untuk membantu anak-anak mengamati bentuk tulang daun, maka kami melakukan aktivitas berikut ini. Apa saja yang diperlukan?
1. Daun beraneka bentuk, minimal 2.
2. Kertas putih.
3. Pensil warna atau crayon.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Letakkan daun di bawah kertas. Pastikan daun tersebut terbuka dengan rapih.
2. Dengan menggunakan crayon atau pensil warna, arsirlah seluruh bagian kertas yang berada di atas daun tersebut. 
3. Lakukan pada beberapa jenis daun.

Apa yang akan didapatkan? Anak-anak akan lebih mudah untuk melihat bentuk tulang daun. Tulang daun mempunyai bentuk seperti jari, ataupun seperti tulang ikan. Aktivitas ini akan menyenangkan jika mereka boleh menggunakan berbagai macam warna saat mengarsir kertas yang ada.
Tulang Daun Pepaya.
Selamat mengamati tulang daun yang ada :)
Cap daun yang dilakukan adik.

Rabu, 10 Januari 2018

Craft about Love: Helpful Hands

Bulan yang lalu kami membahas karakter love atau kasih. Kasih didefinisikan sebagai memberi kebutuhan mendasar orang lain tanpa menambahkan motivasi atau kepentingan pribadi ataupun reward dari apa yang kita lakukan. Dengan kata lain,saat kita menunjukkan kasih kepada sesama, kita tidak mengharapkan balas budi atau balas jasa. Seperti lagu Kasih Ibu: ‘hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia’.

Membahas karakter ini memang menyenangkan, karena banyak lagu-lagu tentang kasih. Dan aktivitas yang berhubungan dengan love juga banyak. Setelah sebelumnya kami membuat Christmas Project, kali ini kami membuat craft yang berhubungan dengan karakter kasih. Craft yang disarankan adalah membuat Giving Hand Placemat. Berhubung anak-anak sudah pernah membuat placemat dari craft lainnya, mamanya males kalau jadi kebanyakan placemat. Akhirnya craft yang ada dimodifikasi. Kami menamainya Helpful Hands.

Tujuan pembuatan ini adalah untuk membuat kami mengingat bahwa salah satu bentuk kasih adalah kita dapat menggunakan tangan kita untuk menunjukkan kasih Tuhan kepada sesama. Sebab Tuhan adalah kasih, dan saat kita berserah kepadaNya, maka kasihNya akan mengalir melalui hidup kita (untuk sesama kita) setiap hari.

Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Kertas warna-warni ukuran folio.
2. Alat tulis seperti pensil dan spidol.
3. Gunting.
4. Lem.

Langkah-langkahnya:
1. Tekuklah kertas yang ada menjadi dua bagian.
2. Cetaklah tangan sebelah kiri di kertas yang sudah ditekuk. Pastikan bahwa ujung ibu jari berada dibagian kertas yang ditekuk, sehingga saat digunting nanti ujung kedua ibu jari menyatu. .
3. Gunting gambar tersebut.
4. Tuliskan ”God gave me hands to show His love to others” di bagian telapak tangan gambar tersebut.
5. Di bagian jari-jarinya, tuliskanlah apa yang dapat mereka lakukan dengan tangan mereka untuk dapat menunjukkan kasih mereka kepada orang disekitar mereka.
6. Tempelkan tangan tersebut pada kertas putih. Bentuklah sehingga saat jari telunjuk ditempelkan, tangan kita membentuk hati.
Helpful hands adik yang terbalik penulisannya.
Untuk membuatnya menjadi placemat yang cantik, anak-anak dapat menghias kertas tersebut sesuka hati mereka. Setelah itu tinggal dilaminating supaya awet. Nantinya, setiap mereka menggunakan placemat ini, mereka akan ingat bahwa tangan yang Tuhan berikan dapat digunakan untuk menunjukkan kasih kepada orang-orang disekitarnya.
Helpful hands kakak yang berisi hal-hal yang dapat dia lakukan untuk menunjukkan kasih.

Rabu, 03 Januari 2018

Christmas Project: Choco Corn Flakes

Choco Corn Flakes with Marshmallow.
Berasal dari keluarga yang 'unik' membuat saya tidak mempunyai banyak tradisi natal di masa saya kecil. Seingat saya, saat kecil saya selalu mengikuti kegiatan natal di gereja. Hadiah natal pun saya dapatkan saat di gereja. Apakah ada Christmas dinner? Hmm.... Kalau definisi Christmas dinner adalah makan sebelum hari natal, tentu ada. Kan saya dan si oma perlu makan. Namun kalau definisi christmas dinner itu makan yang wah sebelum hari natal, kami tidak ada. Tetapi yang selalu saya ingat, saat natal si oma akan membagi-bagikan makanan atau pakaian kepada orang-orang yang membutuhkan (dan saya tidak termasuk orang-orang yang membutuhkan =D). Si oma termasuk orang yang jiwa sosialnya tinggi sekali. My mom is very generous.

Namun saat saya berkeluarga, tentunya akan lebih baik jika ada hal-hal yang dapat dijadikan tradisi keluarga untuk dapat menjadi memori bagi anak-anak. Tentu saja selain hadiah, kami sebagai orang tua ingin memberikan anak-anak sesuatu yang jauh lebih penting dari sekedar hadiah. Kami menyebutnya Christmas Project.

Christmas project yang selalu kami adakan adalah membuat sesuatu yang dapat kami bagikan kepada sebagian orang di sekeliling kami dan orang-orang yang dapat melihat kasih Tuhan melalui apa yang kami berikan. Jadi pemberian ini tentu saja tanpa pamrih dan tidak ada kepentingan pribadi didalamnya. Biasanya project yang mudah dilakukan oleh anak-anak adalah membuat christmas card dan membuat kue kering seperti kastengel, oat cookies, dan sejenisnya. Tahun ini, selain membuat yang seperti tahun sebelumnya, christmas project kami pun bertambah dengan membuat Choco Corn Flakes with  Marshmallow. Alasannya sederhana, karena membuatnya tidak repot dan kali ini 100% mereka yang melakukannya (kecuali bagian menyalakan kompor, mama masih parno dengan yang namanya kompor gas).

Bahan-bahan yang diperlukan:
1. 250 gram coklat blok, saya lebih suka yang dark chocolate
2. 1 box corn flakes
3. Kertas cupcake kecil
4. Mini marshmallow.
5. Sprinkle warna-warni

Kenapa pakai marshmallow? Karena sisa marshmallow masih banyak (walaupun sudah dipakai untuk membuat marshmallow mouth) dan anak-anak tidak kami izinkan keseringan makan marshmallow, bisa sugar rush =D

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Lumerkan coklat blok tersebut. 
2. Di wadah terpisah, tuangkan corn flakes ke dalam wadah tersebut.
3. Masukkan coklat blok yang sudah lumer ke dalam wadah yang berisi corn flakes lalu aduk hingga rata.
4. Ambil satu sendok corn flakes yang sudah tercampur coklat dan letakkan ke dalam kertas cupcake. 
5. Taburkan sprinkle dan marshmallow ke atasnya. 
6. Tunggu hingga dingin.
Coklat dan cornfllakes yang sudah tercampur.
Resepnya sederhana sekali bukan? Namun Duo Lynns senang sekali membuatnya dan oma pun suka sekali memakannya. Berhubung ada kegiatan bersama teman-teman homeschool, maka Duo Lynns memasukkan ini ke dalam isi goodie bags yang akan dibagikan saat Christmas Event tersebut. Memang sangat sederhana jika dibandingkan isi lainnya, namun ada kebahagiaan tersendiri bagi mereka karena mereka dapat memberi sesuatu yang mereka buat sendiri bagi teman-teman yang mereka kasihi. Dan, sekarang mereka menerima 'repeat order' dari si oma yang kepengen makan ini lagi. Ada yang mau pesan lagi? =D
Christmas Project untuk CCHC Christmas Event.





Rabu, 27 Desember 2017

Christmas Event: The Greatest Story Ever Told

The Greatest Story Ever Told
Tanggal 15 Desember 2017 kemarin, komunitas kami mengadakan Christmas Event di Mall Artha Gading. Awalnya kami hanya berpikir untuk mengadakan drama natal saja, kurang lebih 30 menit. Namun saat technical meeting dengan pihak mall, ternyata slot waktu yang diberi ada 3 jam. Akhirnya kami pun menambahkan kegiatan-kegiatan di menit-menit terakhir supaya acaranya kurang lebih jadi 1 jam. Om C didaulat untuk menjadi MC. Bersyukurnya kami om C dapat meluangkan waktu ditengah kesibukannya.

Rasanya hati ini deg-degan, karena saat latihan drama sebelumnya pun semua belum berjalan dengan baik. Apalagi ditambah adanya acara dadakan yang belum pernah dilatih bersama. Belum lagi di tengah mempersiapkan ini terjadi banyak drama. Dari anak-anak kecil yang tidak mau dilepas mamanya, anak-anak kecil yang tidak mau pakai topi domba, adik yang sempat meminta untuk nari solo dan bernyanyi bersama papa (namun mamanya tidak mengizinkan karena di tanggal yang sama itupun adik mendadak gladi bersih untuk menari bersama teman baletnya di acara natal. Takut terburu-buru)  dan masih banyak lagi.
MC piawai, om C.
Bagaimana acaranya? Diawali dengan pembukaan oleh om C, anak-anak pun menari lagu Deep Deep Deep. Untungnya anak kecil, mereka naik ke atas panggung saja sudah terlihat cute. Apalagi anak-anak yang masih 3 tahun, goyang saja sudah lucu. 
Let's dive deep in God's love
Dilanjutkan dengan lagu L O V E. Kalau tadi banyakan anak yang kecil-kecil, untuk gerak dan lagu yang satu ini paling kecil ya adik. Tujuannya supaya yang kecil-kecil pun dapat berganti kostum. 
It's about L O V E love from the Father up above.
Papa jadi soundman dadakan.
Setelah selesai, K dan papinya duet bermain biola. Anak-anak yang lain bersiap-siap berganti kostum untuk drama. 
When dad and daughter playing instrument together. 
Keriuhan kami di belakang panggung.
Apakah cerita drama yang akan ditampilkan? Cerita ini dimulai dengan acara malam natal dimana sebuah keluarga besar berkumpul. Cucu-cucu berkumpul mengerubungi si kakek untuk menunjukkan hadiah yang mereka dapatkan. Lalu si kakek diminta untuk bercerita. Kakek pun bercerita tentang kisah Mary saat didatangi malaikat. 
Dua dari Triple J menjadi MC untuk membuka drama.
Grandpa yang bercerita untuk cucu-cucunya
Saat Mary didatangi oleh malaikat. 
Mary dan Joseph yang mencari penginapan.
Tembok rumah yang terbuat dari kardus, hasil karya auntie C. Awesome....
Gembala dan domba yang cute :)
Malaikat yang datang memberitakan kabar baik kepada para gembala.
Cerita si kakek diakhiri dengan gembala yang berkumpul dan mengunjungi bayi Yesus.
Bayi Yesus dalam palungan.
Di akhir semuanya, anak-anak diminta untuk naik kembali ke atas panggung, dan om B naik juga untuk menyampaikan pesan natal dan doa penutup. 
Om B menutup dengan doa.
Setelah selesai, anak-anak mendapatkan Goodie bag yang berisi banyak (betul-betul banyak) isi didalamnya. Thanks to auntie MK yang sudah rela hati mengkoordinir urusan goodie bag :) 
Curtain call with all moms.
Domba-domba tanpa topi yang mendapatkan goodie bag :)
Isi Goodie Bag. Sumber foto: Auntie I
Di tengah segala kelelahan dan hal mendadak yang kami alami, kami bersyukur semua boleh berjalan dengan baik. Makna natal bukan kepada hiruk pikuk persiapan dan  hadiah, bukan kepada berapa banyak gembala dan orang Majus yang datang saat itu. Kunci dari natal terletak kepada kenapa mereka datang dan siapa yang mereka sembah saat itu. In Jesus, God became 'flesh' and 'made his dwelling among us'. Christmas is about Jesus. Merry Christmas everyone :) 
When parents are fully involved.
Anak-anak yang masih mau eksis.
Our homeschool community.