Selasa, 15 Agustus 2017

Monthly Meeting: Senam Bersama Ayah di Monas


Jika mendengar kata Jakarta, pasti di benak kita terbayang tugu Monas yang menjulang tinggi. Monas atau Monumen Nasional berada di pusat kota Jakarta. Posisi Monas berada di arah selatan dari Istana Negara. Tugu Peringatan Nasional ini merupakan salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah. Monumen yang dibangun dari tahun 1959 hingga 1960 ini dirancang oleh Friederich Silaban (arsitek Masjid Istiqlal) dan R.M. Soedarsono.

Kali ini Monthly Meeting kami diadakan di sini. Tema monthly meeting bulan lalu ada senam bersama ayah. Setelah sebelumnya selalu mama-mama yang bergantian untuk memimpin, kali ini giliran ayah yang memimpin. Mengapa? Rehat bagi mama-mama, dan dalam homeschool, peran mendidik anak bukan hanya tanggung jawab si ibu, tetapi juga si ayah. Sayangnya karena diadakan di hari kerja tidak semua ayah dapat ikut hadir, termasuk papa. Untungnya Duo Lynns tidak menjadi kecil hati walaupun papa tidak dapat ikut, karena papa termasuk ayah yang senang untuk terlibat dalam setiap kegiatan anak-anak. Lagipula mereka sering menggerakkan badan senam di rumah dengan papa.

Yang menjadi PR buat saya adalah bagaimana caranya masuk Monas. Jujur waktu saya kecil, Monas belum ditutup seperti sekarang ini. Setelah bertanya pada mbah Google, didapatkanlah info yang baru saya ketahui. Biasanya jika orang mau ke Monas, ada dua tempat yang dapat digunakan untuk parkir kendaraan. Yang pertama adalah stasiun Gambir. Yang kedua adalah IRTI, tempat parkir khusus untuk pengunjung Monas yang berada di depan balaikota. Sedangkan untuk masuk ke area Monas hanya ada dua pintu yang dapat digunakan. Yang pertama pintu Barat, yang berada di dekat istana. Yang kedua adalah pintu Selatan, yang dekat dengan patung kuda di depan gedung Indosat.

Manakah yang lebih enak? Banyak yang bilang, lebih adem masuk lewat pintu selatan. Tetapi kalau saya berpikir apa tujuan ke Monas. Kalau tujuannya mau naik ke tugu Monas, mungkin lewat pintu Barat lebih enak. Karena lebih dekat dengan Monas. Tetapi jika untuk berjalan-jalan dan senam seperti kami, lewat pintu Selatan akan lebih enak. Berdasarkan bekal informasi tersebut, kami pun pergi ke Monas dengan Grab.

Kami turun di IRTI dan iseng bertanya kepada petugas di pintu masuk IRTI apakah ada cara mudah untuk masuk ke area Monas. Petugas yang ada memberi tahu kami untuk masuk melalui Lenggang, food court di Monas, dan berjalan sampai ujung. Saat bertemu masjid, kami tinggal belok ke kanan dan mengikuti jalan yang ada untuk masuk ke area Monas. Kami pun mengikuti petunjuk petugas tersebut. Dan akhirnya masuk juga ke area Monas. Di dalam area Monas disediakan kendaraan yang dapat membawa kita menuju tugu Monas. Karena sudah tahu bahwa kendaraan ini hanya dapat berhenti di depan pintu tugu Monas dan untuk naik kembali dari depan pintu tugu Monas harus menunjukkan tiket masuk tugu Monas, dengan kata lain fasilitas ini hanya untuk yang naik ke tugu Monas, maka kami pun berjalan menuju meeting point kami.

Acara kami diawali dengan menghapal ayat hapalan mengenai karakter contentment. Kali ini dengan cara yang cukup unik. Anak-anak diminta mengikuti kata demi kota sambil mengoper bola. Ada yang dioper bola malah tutup muka, ada juga yang semangat melempar bola sejauh mungkin. Cukup seru untuk melemparkan bola sambil panas-panasan. Karena sinar matahari yang semakin panas, maka kami mencari tempat yang sedikit teduh untuk melakukan senam bersama.
Auntie M memimpin anak-anak saat ayat hapalan
Berpindah ke tempat yang lebih adem
Senam kali ini dipimpin oleh Uncle G. Apakah uncle G adalah instruktur senam? Tentu bukan, tetapi itu tidak menjadi hambatan. When there is a will, there is a way. Dengan dibantu bluetooth speaker dan handphone yang ada video tentang senam, maka uncle G menyontohkan setiap gerakan kepada anak-anak.
Saat ayah-ayah mencoba mengikuti gerakan senam
Saat ayah-ayah sudah menyerah  =))
Di akhir kegiatan, kami berdoa dan berfoto bersama. Kegiatan kali ini tidak lama, tetapi bagi anak-anak acara outing dan beraktivitas di bawah matahari cukup mengasyikan. Apalagi melihat ayah-ayah bergerak mengikuti anak-anaknya, dari yang awalnya bergerak dan diakhiri dengan sibuk mendokumentasikan anak-anaknya. Setidaknya mereka sudah berusaha ;)
Sudah pasti acara foto tidak boleh ketinggalan
Lenggang Jakarta, food court di area Monas

Selasa, 08 Agustus 2017

Mempelajari Teknologi di Habibie Festival 2017

Masih ingat kisah kami belajar di Habibie Festival tahun lalu? Kami sampai datang selama 3 hari, dari 4 hari pelaksanaan festival, ke Museum Nasional demi melihat science show dan mengikuti workshop-nya. Kali ini kami mendapatkan info bahwa Habibie Festival akan diadakan kembali. Tentu saja kami semangat sekali untuk melihatnya. 

Berbeda dengan Habibie Festival yang lalu, Habibie Festival 2017 ini diadakan selama 1 minggu dari tanggal 7 - 13 Agustus 2017 di Jiexpo tanpa biaya apapun alias gratis. Mungkin karena antusias yang besar dari masyarakat pada tahun lalu, maka diadakan selama seminggu. Tema festival kali ini adalah "Technology and Innovation for People". Katanya sih lebih dari 100 perusahaan akan berpartisipasi dalam seminar, workshop, forum diskusi, kompetisi dan pameran yang akan membuat masyarakat dapat merasakan pengalaman menggunakan dan bahkan menciptakan teknologi serta inovasi baru. It's sure sounds like fun, isn't it

Saya membuka website dan melihat jadwal setiap harinya. Ternyata Da Vinci Learning juga ada di festival kali ini. Tetapi jadwal Science Show dan workshop science untuk anak-anak hanya ada di Jumat, Sabtu, dan Minggu. Saya mencoba menghubungi pihak Cool Science dan mereka berkata bahwa memang science show dan workshop science untuk anak-anak hanya ada dari Jumat sampai Minggu. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Jiexpo hari Senin saat pembukaan untuk melihat-lihat pameran dulu. Apalagi salah satu partnernya adalah Batik Keris, Duo Lynns sangat suka membatik. Ekspektasi kami adalah kami dapat menikmati pameran teknologi dan inovasinya, termasuk inovasi membatik.

Senin kemarin, kelas di rumah berjalan setengah sesi saja, mamanya tidak rela kalau kemarin day off. Lalu kami pergi segera menuju Jiexpo. Saat kami sampai, kami langsung bermain di area Outdoor Exhibition. Di sini ada bagian depan pesawat N250 dan mobil tank, dan drone racing zone. Kali ini kami bertemu Li'l D yang juga homeschooler. Petualangan kami di Habibie Festival hari ini dilakukan bersama li'l D dan maminya. 
Atas: kokpit N250. Bawah: berpose di depan tank
Setelah puas duduk di kokpit dan berpose di depan tank, kami pun masuk ke indoor exhibition. Indoor Exhibition dilakukan di hall B1, B2 dan C1. Di hall B terdapat area konektivitas, mobile life, inovasi, dan maker land. Sedang di hall C1 lebih ke arah workshop yang berhubungan dengan teknologi dan STEAM. Di hall C1 ini juga terdapat mobile planetarium dan Da Vinci Learning. 

Peta Habibie Festival 2017.
Kami mengelilingi hall B1 dan mengenalkan pesawat, kapal selam, kapal tempur, robotik, yang semuanya karya anak bangsa. Setelah itu kami berjalan menuju C1 karena anak-anak mau melihat Da Vinci Learning dan mau masuk ke planetarium. Sayangnya saat kami sampai di depan planetarium, planetarium sedang penuh. Akhirnya kami mencoba bertanya kepada petugas Da Vinci mengenai jadwal workshop. Petugasnya langsung berkata sepertinya sering melihat saya. Maklum, tahun lalu kami setia menonton setiap science show dan mengikuti workshop mereka. Mereka mengizinkan kami untuk mendaftar workshop lebih awal. Jadwal workshop hanya ada di Jumat, Sabtu, Minggu pada pukul 11.00 dan 14.00. Setelah melihat sepertinya tidak ada harapan untuk masuk ke planetarium sekarang, kami kembali berkeliling mencari Batik Keris. 
Jadi astronot dulu karena tidak masuk ke planetarium
Ternyata Batik Keris ada di hall B1 dan kali ini tidak ada kegiatan membatik. Kali ini mereka hanya menyediakan photo booth dan jika fotonya terpilih, kami akan mendapatkan hadiah. Untuk mengobati kekecewaan Duo Lynns, maka kami pun berfoto di sana dan melihat sejarah Batik Keris. Setelah itu kami melihat sejarah Bank Mandiri beserta buku besar (akuntansi) zaman baheula yang masih ditulis dengan tulis sambung dan bahasa yang digunakan masih bahasa Belanda. Dan memang bukunya besar sekali. Di samping pameran ini juga ada pameran teknologi dalam pembuatan sepatu sports. Ada mesin pencetak bentuk kaki, mesin jahit untuk menjahit sepatu, dan jenis-jenis sol sepatu. Di sampingnya lagi merupakan pameran teknologi dari BPPT. Anak-anak baru mengetahui bahwa selain dengan uji beban, setiap jembatan diuji coba dengan terowongan angin. Tujuannya untuk mengetahui kekuatan jembatan terhadap angin. Jika rubuh saat terkena angin berarti jembatan belum siap untuk digunakan. Kakak mendengarkan dengan penuh perhatian. Dan bukan hanya jembatan yang diuji dalam terowongan angin, ada juga stasiun MRT, pesawat, dan payung masjid.

Kami melanjutkan kunjungan kami ke area mobile life. Ini pertama kalinya Duo Lynns melihat orang menggunakan alat di kepala dan bergerak-gerak sendiri. Tentu saja kami tidak menyuruh mereka untuk mencoba, karena belum umurnya. Tetapi nampaknya teknologi virtual reality dan augmented reality yang dipamerkan kali ini mempunyai daya tarik yang luar biasa. Virtual reality (VR) atau realitas maya adalah teknologi yang memungkinkan pengguna untuk dapat berinterkasi dengan suatu lingkungan berdimensi 3 yang disimulasikan oleh komputer terhadap suatu objek nyata atau imajinasi, sehingga membuat kita seakan-akan terlibat secara fisik pada lingkungan tersebut. Augmented reality (AR) atau realitas tertambah adalah teknologi yang menggabungkan benda-benda maya (baik 2D atau 3D) dan benda-benda nyata ke dalam sebuah lingkungan nyata berdimensi 3, lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata agar terintegrasi dan berjalan secara interaktif dalam dunia nyata. Jika gadget yang digunakan mempunyai aplikasinya, maka saat kamera di gadget tersebut diarahkan ke gambar, gambar tersebut menjadi nyata dalam bentuk 3D dan berinteraksi dengan perintah yang diberikan. Bahkan jika digunakan dengan tepat, dapat membantu proses pembelajaran seperti human body. Ada juga neuro car race yang menggunakan gelombang otak. Asalkan kita fokus, maka mobil tersebut dapat jalan dengan sendirinya menggunakan gelombang otak kita. Ada satu pameran yang bertema outer space, dengan menggunakan VR. sayangnya barangnya belum lengkap dan sedang dalam perjalanan dari Bandung, pakai nyasar pula. Anak-anak kepingin sekali melihat tetapi tidak mungkin hari ini. Next time deh. 
Cara sederhana belajar animasi 2D
Berhubung waktu sudah siang, maka kami mencari tempat untuk makan. Apakah di sana menjual makanan? Dibandingkan tahun lalu, pilihan makanan yang ada jauh lebih banyak. Ada kuliner Indonesia, ada fast food, dan lainnya. Bakmi GM pun ada. Karena kami sudah membawa makanan, maka kami piknik di bagian luar untuk makan bekal kami terlebih dahulu, walau nasi bakar di sana spertinya menggoda hati. Di luar sini juga banyak rombongan sekolah yang duduk dan makan siang.

Setelah kami makan, kami kembali masuk untuk berputar sekali, siapa tahu alat untuk outer space sudah jalan. Sayangnya alatnya masih dalam perjalanan. Kami pun mampir ke bagian sepatu. Staf yang ada di sana memberi tahu jika anak-anak ingin mewarnai sepatu, bisa datang 30 menit lagi. Kakak semangat, dia kira akan mewarnai sepatu betulan. Saya pun memastikan dan ternyata gambar sepatu yang nanti akan diwarnai. Namun rasanya tiga anak ini tidak keberatan dengan gambar sepatu. Maka kami pun berkeliling sebentar sambil menunggu waktu dan bertemu dengan homeschooler lainnya. Mereka habis dari planetarium dan katanya planetarium kosong. Kami pun segera menuju ke sana dan memang tidak ada antrian di sana. 

Di dalam mobile planetarium ini, sama seperti tahun lalu, ada penjelasan tentang aurora, nebula, bintang, stardust dan milkyway. Proyeksi 360 derajat membantu kami menikmati setiap alur cerita di sini. Saya cukup kaget juga saat anak-anak ini mengingat dengan jelas urutan-urutan dari cerita di sini. Saat selesai, kami mampir ke area coding game dan tempat perakitan laptop. Kami hampir saja mengikuti cara perakitan laptop, tapi karena pesertanya besar semua, betul-betul besar, maka anak-anak ini jadi membatalkannya.
Melihat bagian-bagian sepatu dan cara pembuatannya. Insert: mewarnai gambar sepatu
Sebelum kami pulang, kami melalui area senjata yang mulai sepi. Tadinya adik mau foto dengan senapan laras panjang. Namun karena terlalu berat untuk mereka, maka mereka pun berfoto dengan menggunakan pistol pendek. Dengan pose yang super cute tentunya. 
Pose di depan pohon harapan. Sekarang giliran kamu ya yang ke sini....
Apa saja sih yang dapat dilakukan setelah pameran? Duo Lynns dengan semangat tingkat tinggi mempersiapkan presentasi untuk menjelaskan apa yang dia dapat pada Papa. Tentunya diiringi dengan sedikit adegan ulang sat mereka di sana. Dan pastinya diiringi dengan kata-kata bahwa lain kali mau ke sana untuk melihat science show
Oleh-oleh dan bahan presentasi di rumah
Update Habibie Festival di hari Jumat, 11 Agustus 2017
Kami sengaja datang saat tanggal 11 Agustus karena Cool Science mengisi acara Science Show dan Workshop. Dibanding tahun lalu, peserta workshop tidak sebanyak tahun lalu. Mungkin karena pelaksanaan workshop dilakukan di tempat yang terbuka, sehingga pengunjung tidak begitu fokus. Walaupun demikian, Duo Lynns dan beberapa teman homeschool lainnya duduk manis mendengarkan, walau materi yang dibagikan bukan topik yang asing bagi mereka.

Selain workshop, pameran berbau seni sudah mulai banyak. Kali ini kami sempat mencoba merakit dan membongkar laptop di Axioo. Walau jadi anak bawang, peserta yang lainnya besar-besar, namun kakak-kakak di dalam sana dengan senang hati mengajari 4 anak kecil ini.

Bagaimana dengan Planetarium? Ternyata sejak hari Rabu kemarin, untuk memasuki mobile planetarium ini harus bayar Rp 15.000,00 =D  

HABIBIE FESTIVAL 2017
www.habibiefestival.com
Tanggal Pelaksanaan: 7 - 13 Agustus 2017, dari pukul 10.00 - 17.00
Biaya Masuk: gratis
Tempat:
JIExpo Kemayoran hall B1, B2, dan C1
Jl. Benyamin Suaeb no.1 Jakarta Pusat 14410

Kamis, 27 Juli 2017

Review Climbing to Good English

Jika sebelumnya saya sudah me-review Pathway Readers, kali ini saya akan me-review partnernya Pathway Readers, Climbing to Good English. Sama seperti Pathway Readers yang awalnya ditulis bagi komunitas Amish, Climbing to Good English (C2GE) juga awalnya ditulis untuk komunitas Amish. Tetapi isi dari C2GE ini dapat digunakan bagi sekolah Kristen dan juga keluarga yang melakukan homeschool. Materi dalam C2GE mencakup grammar, phonics, kemampuan membuka kamus, kemampuan mendeskripsikan sesuatu, dan kemampuan menulis.

Mengapa kami memilih menggunakan C2GE? Selain karena kami sudah menggunakan Pathway Readers, ada beberapa hal yang menurut kami menjadi kelebihan dari C2GE dan membuat kami memutuskan memilih C2GE. Kelebihan-kelebihan tersebut antara lain:
1. Climbing to Good English sangat ekonomis, dalam artian harganya tidak mahal jika dibandingkan dengan kurikulum lainnya.
2. Instruksi dari setiap pelajaran sangat jelas. Bahkan hal yang penting pasti diberi kotak untuk memastikan kita mengerti kunci dari pelajaran tersebut.
3. Pelajaran menulisnya dirancang sesederhana mungkin saat di level awal. Jadi tanpa disadari anak-anak dilatih untuk membuat tulisan dengan benar dan menarik.
4. Climbing to Good English dapat digunakan secara independen atau mandiri. Karena berbentuk seperti worksheet atau lembar kerja yang dirancang sesuai dengan kemampuan anak, jadinya anak-anak dapat mengerjakan dengan hanya membaca instruksi saja. Memang terkadang akan ada kesalahan saat mereka mengerjakan, tetapi hal ini melatih anak-anak untuk berpikir dan memahami letak kesalahan mereka saat menjawab.
5. Ada buku pegangan buku yang berisi jawaban, yang membantu saya jika saya tidak tahu jawabannya.

Tetapi tentu saja ada beberapa kekurangan dari buku ini, walaupun mungkin bukan hal yang sangat penting. Kekurangan dari C2GE adalah:
1. Sama seperti Pathway Readers, font tulisan di C2GE sangat klasik dan hitam putih. Sedikit membosankan bagi beberapa orang.
2. Ada beberapa gambar yang tidak begitu jelas. Terkadang kakak dan saya harus sedikit 'berdebat' karena kami menafsirkan benda tersebut secara berbeda.
3. Tampilan dari buku pegangan untuk guru kurang meyakinkan dan membuat bingung. Yang menjadi pembeda antara buku ini adalah di sampul depan ada huruf T yang berarti teacher's. Tetapi hal ini bukan yang esensi kalau menurut saya.
Panduan guru dengan huruf T di sampul depan
Dalam penggunaan C2GE, disarankan grade 1 - 3 mengerjakan 5 pelajaran setiap minggunya. Grade 4 - 8 disarankan mengerjakan 3 pelajaran setiap minggunya. 1 pelajaran di buku sama dengan 1 halaman dari buku tersebut. Dengan kata lain, si anak diminta untuk mengerjakan 1 halaman per hari saat grade-nya masih kecil. Karena kakak langsung menggunakan Grade 2, maka kami hanya mengerjakan 4 halaman setiap minggunya. Dengan pertimbangan supaya tidak terlalu cepat majunya.

Di grade 2 ini anak-anak dikenalkan dengam kamus dan cara mengurutkannya. Dalam belajar Bahasa Inggris, tahu phonics berarti si anak tahu 85% mengenai bahasa dan cara membacanya. Untuk yang 15% lagi dapat diketahui saat mereka membuka kamus. Saat ini anak-anak terbiasa menggunakan kamus online. Dengan menggunakan C2GE, mereka belajar untuk mengenal penggunaan kamus secara langsung. Untuk kakak, bagian mengurutkan kata dalam alphabetical order merupakan hal yang paling menyenangkan.

Hal berikutnya yang menjadi kebingungan kami adalah kunci jawaban dual grade untuk grade 5/6 dan 7/8. Ternyata penerbit berusaha membantu orang tua yang mengajar dua grade yang berbeda dalam satu kelas. Dengan mengkombinasikan panduan guru untuk dua grade menjadi satu jilid, si guru menghemat waktu belajar yang ada. Kedua grade (5 dan 6 serta 7 dan 8) sama-sama mengajarkan konsep yang sama pada waktu yang bersamaan. Tetapi grade 6 dan 8 secara umum lebih susah daripada grade 5 dan 7. Hal ini sama seperti sistem spiral, makin tinggi tingkatannya, semakin dalam yang dipelajarinya. 

Bagaimana dengan mama-mama yang kurang jago dalam hal grammar, phonics, dan menulis? Jangan kuatir. Selama kita mau membuka pikiran kita dan selama kita mau belajar, kita pasti dapat memahami materi-materi tersebut. Bahkan bisa jadi kita juga jadi belajar bersama anak. Percaya deh, selesai mengajarkan hal-hal uni kepada anak, kita jadi piawai dalam materi ini :)

Buku ini dapat dicari secara online di http://www.joycenter.on.ca/cge1.htm

Selasa, 18 Juli 2017

Craft: Marshmallow Mouth


Bulan lalu kami membahas tema karakter self control atau pengendalian diri. Pengendalian diri didefinisikan sebagai ketaatan seketika terhadap tanda awal yang diberikan oleh Roh Kudus. Bahkan di Alkitab dikatakan orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya seperti kota yang rubuh dan tanpa tembok. Dapat dibayangkan jika suatu kota tidak mempunyai tembok, berarti kota tersebut mudah diserang musuh dan dikuasai oleh musuh (itulah alasannya China membangun Great Wall, untuk melindungi negara dari serangan musuh).

Bahasa isyarat mengenai pengendalian diri pun mengggambarkan bahwa sesuatu yang mau dikeluarkan, tetapi ditarik kembali. Saya mencoba menjelaskan bahwa saat kita hendak marah, tetapi karena kita mau taat kepada Tuhan, maka kita tarik kembali marahnya. Tentunya menerangkan mengenai pengendalian diri akan lebih mudah daripada mengaplikasikannya. Dan saat menerangkan kepada anak-anak, kami sebagai orang tua yang terlebih dahulu dikoreksi oleh Tuhan. Maklum, kadang sebagai orang tua, kami suka khilaf.

Salah satu aktivitas yang diberikan dari tema karakter tersebut adalah membuat Marshmallow Mouth atau Mulut Marshmallow. Kebetulan kami masih mempunyai marshmallow. Bahan-bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut.
1. Piring untuk alas, kami menggunakan piring plastik
2. Mini marshmallow warna putih
3. Kertas warna merah muda
Bahan-bahan yang dipakai
Adapun langkah-langkahnya adalah:
1. Buatlah bentuk hati dan lidah di atas kertas merah muda dan guntinglah bentuk tersebut.
2. Diatas hati, tuliskanlah a heart for Jesus. Diatas lidah, tuliskanlah a tongue for Jesus.
3. Letakkan hari dan lidah di tengah-tengah piring.
4. Susunlah mini marshmallow putih mengelilingi hati dan lidah tersebut, seperti gigi yang ada dalam mulut kita. 

Apa sih maknanya? Salah satu cara kita mengendalikan diri adalah dengan mengendalikan mulut kita dan juga perkataan kita. Dari hati yang baik akan keluar perbendaharaan yang baik. Oleh sebab itu, kita menuliskan kata-kata tersebut diatas hati dan lidah. Marshmallow tersebut akan disusun seperti gigi kita. 

Kenapa menggunakan marshmallow? Alasan gampangnya karena sumber aktivitasnya dari luar negeri dan marshmallow gampang dicari di luar negeri. Hehehe. Tetapi memang mini marshmallow putih ini akan berbentuk seperti gigi saat disusun. Dan pemilihan marshmallow memang ada tujuannya. Marshmallow yang empuk dan manis ini begitu mudah masuk ke dalam mulut anak kecil. Sambil meletakkan marshmallow tersebut, anak-anak dilatih untuk mengendalikan diri mereka untuk tidak memakan marshmallow tersebut. Bagi anak kecil, mengendalikan diri mereka untuk tidak makan sesuatu yang mereka suka adalah hal yang cukup menantang. Bagi Duo Lynns, marshmallow adalah makanan yang wah, karena jarang sekali mereka makan. Jadi mereka belajar mengendalikan diri mereka untuk tidak makan saat membuat.

Selesai menyusun ini semua, saya menjelaskan bahwa mulut ini merupakan pengingat bahwa kita tidak dapat mengendalikan lidah dan pikiran kita. Tetapi jika kita memberikan hati dan pikiran kita kepada Yesus dan mengizinkan Ia mengubah pikiran dan motivasi hati kita, maka kita akan mengatakan kata-kata yang benar dan kita akan mengasihi sesama kita. 

Di akhir kegiatan, saya memuji pengendalian diri anak-anak untuk tidak memakan marshmallow tersebut saat aktivitas berlangsung. Dan mereka boleh memakan marshmallow tersebut di akhir minggu nanti, dan boleh berbagi dengan saudara-saudara mereka. 
He that hath no rule over his own spirit is a like a city that is broken down, and without walls~ Proverbs 25:28

Jumat, 14 Juli 2017

Review Pathway Readers


Memahami suatu cerita dalam bahasa Inggris dapat menjadi hal yang susah bagi beberapa orang. Mengapa? Alih-alih dalam bahasa Inggris, menjawab pertanyaan mengenai bacaan dalam bahasa Indonesia saja sudah membuat kita pusing. Apalagi menjawab dalam bahasa orang lain. Itu sebabnya saat kami harus memilih kurikulum untuk pelajaran bahasa Inggris, kami cukup berpikir panjang dan lebar, berbeda jika dibandingkan saat kami mengambil kurikulum untuk matematika ataupun science. Setelah berkunjung ke keluarga homeschool lainnya dan melihat beberapa buku pelajaran bahasa Inggirs, dari yang children friendly dan colorful sampai ke yang hitam putih, serta membaca review dari penerbit, maka kami memilih untuk menggunakan Pathway Readers

Pathway readers merupakan buku yang ditulis untuk anak-anak Amish di sekolah Amish. Amish sendiri merupakan salah satu komunitas di Amerika yang menarik diri dari dunia luar. Mereka berpenampilan tertutup dan sebagian dari mereka masih menggunakan kereta kuda. Di Pennsylvania komunitas ini lumayan banyak dan kelompok ini terkenal memegang teguh nilai-nilai mereka. Program Pathway Readers menggunakan pendekatan tradisional untuk mengajarkan phonics dengan menggunakan workbook dan bacaan. Walaupun ditulis untuk anak-anak Amish, Pathway Readers tidak mempromosikan doktrin Amish. Bacaan mereka juga bagus untuk dibaca oleh kita, yang bukan kaum Amish, yang mencari literatur berbasis nilai-nilai yang biblikal.

Secara garis besar, Pathway Readers dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian:
1. Pre-School/Grade 1: menggunakan workbook "Learning Through Sounds" yang mengajarkan phonics, warna, kemampuan mencocokkan, dan kemampuan kesiapan membaca.
Learning through Sounds Grade 2
2. Grade 1 - 3: di bagian ini anak-anak diperkenalkan dengan bacaan dan kemampuan mereka untuk memahami bacaan mulai dibangun. Cerita yang ada menceritakan tentang kehidupan keluarga petani di komunitas Amish. Cerita yang disampaikan cukup menarik dan mudah dipahami. Di grade-grade ini anak juga diperlengkapi dengan phonics, vocabulary, dan reading comprehension melalui workbook mereka. Awalnya mungkin anak harus sering didampingi, tetapi seiring dengan kemampuan membaca mereka yang meningkat, disarankan anak-anak untuk belajar secara mandiri. Tentu saja sebagai pengajar kita harus memastikan bahwa anak menangkap inti-inti yang penting dari cerita tersebut. 
3. Grade 4 - 8: di bagian ini anak-anak diperkenalkan dengan puisi dan literatur klasik. Workbook pun tetap ada dan anak-anak diminta untuk memahami puisi yang ada.

Judul buku-buku bacaan dalam Pathway Readers adalah sebagai berikut.
Grade 1 (2 buku): Days Go By dan More Days Go By
Grade 2 (3 buku): Busy Times, More Busy Times, dan Climbing Higher
Grade 3 (2 buku): New Friends dan More New Friends
Grade 4: Building Our Lives
Grade 5: Living Together
Grade 6: Step by Step
Grade 7: Seeking True Values
Grade 8: Our Heritage

Jika dilihat, buku yang ada hanya sampai grade 8 dan memang Pathway Readers menyediakan buku-buku untuk 8 tingkat pendidikan. Mengapa hanya sampai grade 8? Karena kaum Amish hanya sekolah sampai grade 8, setelah itu mereka dipersiapkan untuk berkarya di dunia nyata. Walaupun demikian, materi yang disampaikan sama dengan materi SMA di kurikulum lainnya. Dan karena kami menggunakan CCC, maka kami dapat langsung lompat menggunakan grade 2. Namun kami tetap menggunakan Learning Through Sounds sebagai masa transisi dari CCC ke Pathway Readers. Sedangkan untuk mendapatkan satu paket pembelajaran Language Art, penggunaan Pathway Readers dapat diperlengkapi dengan Climbing to Good English (review-nya akan segera ada) sebagai kurikulum untuk grammar-nya. 

Kenapa kami memilih Pathway Readers? Ada beberapa alasan yang menurut saya merupakan kelebihan dari Pathway Readers ini.
- Setiap cerita, puisi, dan pilihan bacaan mendorong anak-anak untuk memiliki karakter Ilahi dan nilai-nilai moral yang baik dengan penyampaian yang sederhana melalui kegiatan-kegiatan sehari-hari di rumah.
- Pendekatan yang kuat terhadap phonics pada saat tingkat awal. 
Pathway Readers memperkenalkan banyak kosa kata baru kepada anak-anak dan pelajaran vocabulary building
- Setiap pertanyaan yang ada di setiap bacaan membantu anak membangun kemampuan reading comprehension mereka.
- Ada kunci jawaban yang membantu orang tua memahami materi ini dan juga inti value yang harus ditangkap oleh anak-anak saat mereka selesai membaca cerita yang ada.
- Harga buku yang relatif murah dan lembar kerja yang hitam putih sehingga dapat difotokopi.

Di antara semua kelebihan tersebut, buku ini juga mempunyai kekurangan, yang menurut saya bukan faktor utama. Buku ini sangat klasik. Bukan hanya ceritanya, tetapi buku ini menggunakan font yang cukup membosankan bagi beberapa orang, walaupun font-nya tidak membuat mata lelah saat membaca. Belum lagi tidak seperti buku anak-anak yang penuh gambar dan berwarna, gambar hanya diberikan sebagai ilustrasi. Jadi dalam satu cerita, paling hanya ada satu atau dua gambar hitam putih. Kebayang dong kenapa buku ini sangat klasik :D

Walaupun demikian, saat kakak melihat buku ini, kakak langsung duduk manis saat melihat buku ini. Saat itu usia kakak sekitar 4 tahun, yang biasanya anak usia segitu kan mencari buku bergambar. Kakak dengan tenang membalik setiap halaman dan hal ini membuat kami berpikir jika anaknya suka, saya sebagai ibunya akan mencoba menyukai buku ini juga. Dan ternyata saya semakin hari semakin menyukai buku ini. Penyampaian cerita karakter dalam kisah yang mudah dimengerti oleh anak-anak ini dan hal ini membantu saya untuk menunjukkan kepada anak-anak bagaimana membangun karakter mereka.

Buku ini dapat dicari secara online atau juga langsung ke website www.pathwayreaders.com

Rabu, 05 Juli 2017

Cooking: Pizza Time with Chef Papa :)


Pizza adalah salah satu makanan favorit kami sekeluarga. Bahkan karena kami suka sekali makan pizza, saat kami berkunjung ke tempat tantenya Duo Lynns, kami selalu diajak mengunjungi all you can eat pizza sehingga kami dapat makan pizza sepuasnya. Menarik bukan? Andai di sini juga ada, pasti akan banyak penggemarnya. 

Saat di rumah pun, biasanya kami membeli pizza base lalu menaruh topping yang kami inginkan dan memanggangnya. Lama-lama si papa penasaran untuk membuat adonan sendiri. Rencananya adalah membuat pizza bersama-sama anak-anak. Tapi apa daya karena kesibukan papa, maka berbulan-bulan rencana ini batal. Akhirnya rencana ini berhasil dieksekusi pada liburan ini.

Membuat adonan pizza ternyata tidak begitu susah, tetapi membutuhkan kesabaran untuk menunggu adonannya mengembang. Duo Lynns tidak sabar karena mereka pengen segera me-roll adonan tersebut seperti mainan mereka. Tetapi ini menjadi kesempatan kami untuk mengajarkan mereka tentang sabar. Kalau kita tidak sabar, maka adonannya tidak akan mengembang dengan sempurna. Dan jika tidak mengembang dengan sempurna, hasilnya belum tentu bagus.
Adonan yang mulai mengembang.
Sambil menunggu, papa menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, sesuai dengan isi kulkas. Untuk anak-anak, isinya hanya tomato paste, keju mozarela, sosis, dan zaitun. Sedangkan untuk kami, saya memilih memberikan gojujang sebagai pengganti tomato paste dan menggunakan kimchi dan keju mozzarella sebagai topping. Dan untuk memudahkan proses pembersihan, kami melapisi bagian meja yang akan digunakan dengan plastik tipis atau cling wrap.
Bahan-bahan yang akan digunakan sebagai topping.
Adonan yang sudah dibagi 3. 
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pertama anak-anak diminta untuk me-roll adonannya dengan rolling pin atau penggiling adonan. Me-rolling ini pun ada seninya. Setelah adonan menjadi lebih lebar dan tipis, adonan tersebut dipindahkan ke atas baking paper supaya mudah diangkat. Langkah berikutnya adalah memberikan tomato paste ke atasnya hingga rata. Setelah itu anak-anak boleh memberikan topping ke atasnya.
Roll on the dough....
Pizza yang sudah siap untuk dipanggang
Urusan berikutnya adalah memanggang. Untuk memanggang, hanya papa yang mengerjakannya sementara kami membereskan meja. Lamanya pemanggangan kurang lebih 15 menit. Sambil menunggu, kami membereskan meja dan setelah itu Duo Lynns mandi. Saat mereka turun, pizza mereka sudah siap untuk dimakan. Cepat sekali bukan?

Pada aktivitas kali ini saya hanya menjadi juru foto. Mengapa? Karena judulnya adalah cooking time with Chef Papa. Bagi kami ini merupakan salah satu cara anak mempunyai quality time bersama ayah mereka. Tentu saja namanya bapak-bapak terkadang kurang sabar, tetapi anak-anak tetap tahu bahwa quality time bersama ayahnya adalah sesuatu yang berharga dan akan selalu diingat oleh anak-anak.
Pizza kakak
Apakah pizzanya enak? Bagi kami tentu saja enak karena dibuat dengan cinta. Lain kali topping-nya dapat ditambah nih :)
Kimchi Pizza yummy....

Kamis, 15 Juni 2017

Craft: Punctuality Clock

Punctuality clock
Bulan lalu kami kembali membahas salah satu karakter, yaitu punctuality. Punctuality berarti tepat waktu. Awalnya kami berpikir tepat waktu bukan karakter, tetapi masalah kebiasaan. Kami terbiasa untuk tepat waktu. Tetapi kami baru tahu bahwa tepat waktu adalah salah satu karakter. Mungkin karena orang yang tepat waktu adalah orang yang menepati janjinya. Dan tentu saja orang yang seperti ini dapat diandalkan. Bagi kami ini adalah hal yang penting, karena kami termasuk tipe orang yang tidak suka dengan yang namanya jam karet. Jadi kami terbiasa untuk pergi lebih awal supaya tidak terlambat. Duo Lynns pun dibiasakan untuk jadi orang yang tepat waktu. Mereka bisa panik jika sudah dekat jam untuk ketemu tetapi kami masih di jalan karena kami terjebak macet. 

Anyway, salah satu kegiatan yang ada saat membahas karakter ini adalah membuat punctuality clock. Dasar berpikirnya adalah bagaimana mungkin seseorang dapat tepat waktu jika orang tersebut tidak tahu jadwal dirinya setiap hari. Dengan membuat jam ini, anak-anak dapat belajar menyusun jadwal mereka dan jadi tepat waktu dengan setiap jadwal yang ada. 

Bahan-bahannya adalah sebagai berikut. 
1. Piring plastik atau piring kertas
2. Paku pin
3. Kertas kecil sebanyak 12 buah
4. Bantalan dari styrofoam atau apapun
5. Double tape
6. Kertas berbentuk anak panah panjang dan pendek sebagai jarum jam
Bahan-bahan yang diperlukan
Langkah-langkahnya adalah:
1. Lipatlah kertas kecil yang ada menjadi 2 bagian. Dibagian yang luar, tulislah angka pada jam (1, 2, 3,..., 12). Sedang untuk bagian dalam kertas dapat diisi dengan aktivitas yang akan dilakukan pada jam itu. Misal jam 12 siang adalah makan siang. 
3. Tempelkan kertas - kertas tersebut ke piring kertas dengan menggunakan double tape
4. Lubangi piring tersebut di bagian tengah dengan menggunakan paku pin. 
5. Untuk jarum jamnya, tancapkan paku pin pada bagian yang tidak ada bentuk arah panahnya kemudian tancapkan ke lubang yang ada di piring. 
6. Untuk mencegah paku pin ini mudah copot, dibagian belakang paku ditusukkan styrofoam sebagai bantalan. 
Jam hasil karya anak-anak
Aktivitas pada setiap jam dapat diisi dengan kata-kata ataupun dengan gambar. Apa manfaat dari jam ini? Selain anak-anak belajar tentang waktu, mereka pun terbiasa membuat jadwal kegiatan mereka dan melatih mereka untuk menjadi anak-anak yang tepat waktu, yang berarti mereka menghargai waktu dan memanfaatkan setiap waktu dengan baik :)
To everything there is a season, A time for every purpose under heaven (Ecclesiastes 3 1)