Selasa, 17 Oktober 2017

Craft: DIY Thoroughness Puzzle


Bulan lalu, kami membahas karakter thoroughnessThoroughness, atau cermat, didefinisikan sebagai mengetahui faktor yang jika diabaikan akan mengurangi efektifitas dari pekerjaan atau perkataan saya. Dengan kata lain, jika kita cermat maka kita akan memperhatikan setiap hal detil yang diperlukan. Topik ini pas dengan anak-anak karena mereka, dan bukan hanya mereka tetapi kita juga, terkadang suka tidak cermat dalam mengerjakan sesuatu. Bahkan kakak pun yang suka mengurusi hal-hal detil pun mengalami penurunan dalam hal yang namanya cermat.

Mengerjakan sesuatu dengan cermat berarti juga kita mengerjakan secara menyeluruh dan menyelesaikan pekerjaan kita dengan baik. Untuk memelajari karakter ini, kami melakukan beberapa aktifitas yang berhubungan dengan kecermatan dan menyelesaikan sesuatu dengan menyeluruh.

Salah satunya adalah bermain puzzle. Puzzle merupakan mainan yang menarik bagi semua orang. Namun memang puzzle belum tentu digemari semua orang, apalagi kalau kepingannya banyak. Kami mengeluarkan kembali puzzle 50 dan 100 keping dan meminta mereka untuk menyusun. Hal ini merupakan suatu perjuangan bagi adik, namun saya cukup terkejut bahwa sekarang adik sudah bisa lebih melihat setiap detil dengan baik.
Kecermatan diperlukan dalam menyusun puzzle yang warnanya mirip semua
Selanjutnya kami bermain puzzle kembali tetapi dengan cara yang berbeda. Kali ini yang kami lakukan adalah puzzle DIY atau Do It Yourself. Tema pembuatan puzzle kali ini adalah Setiap Bagian Berharga. Apa saja yang dibutuhkan?

Bahan-bahannya adalah sebagai berikut:
1. Gambar pemandangan, bisa print sendiri, bisa juga dari kalender.
2. Gunting.
3. Kertas sebagai alas.
4. Lem.
Gambar pemandangan dari kalender
Langkah-langkahnya:
1. Berikan gambar pemandangan kepada anak. Berikanlah instruksi untuk menggunting gambar tersebut menjadi beberapa bagian, sebaiknya paling sedikit 8.
2. Setelah digunting, mintalah anak-anak untuk menyusun kembali gambar yang mereka gunting. Tanpa diketahui mereka, ambillah satu bagian dari masing-masing puzzle dan sembunyikan.
3. Saat anak-anak hampir selesai, mereka akan menyadari satu bagian terhilang. Saat itu barulah kita menjelaskan bahwa satu bagian puzzle yang terhilang membuat gambar ini tidak menjadi utuh atau gambar ini tidak lengkap dan tugas kita membuat puzzle menjadi tidak selesai. Tidak lengkap atau tidak utuh atau tidak selesai merupakan lawan dari cermat.
Biasanya anak-anak akan merasa aneh dan mulai protes karena gambarnya tidak sempurna. Apalagi bagi anak-anak yang perfeksionis. Hal ini dapat kita gunakan untuk menjelaskan perasaan kecewa atau frustasi karena gambar yang tidak lengkap memang tidak menyenangkan. Oleh sebab itu cermat dibutuhkan di dalam setiap hal dan kecermatan akan memimpin kita kepada perasaan puas dan merasa lengkap, dan tentunya kita akan senang dengan hal tersebut.
4. Setelah itu berikan bagian yang hilang, dan biarkan mereka letakkan di puzzle mereka.
5. Berikan kertas dan lem, lalu minta mereka untuk memindahkan puzzle mereka ke atas kertas dan minta mereka untuk membuat puzzle tersebut menempel pada kertas. Jangan lupa memuji kerapian mereka saat menempelkannya menjadi satu gambar yang utuh.
Atas: DIY puzzle kakak. Bawah: DIY puzzle adik.
Pada saat kami melakukan aktifitas tersebut, saya membuat juga gambar yang dipotong menjadi beberapa bagian, jaga-jaga saja. Namun akhirnya gambar saya terpakai oleh adik karena adik kebingungan dengan potongan gambarnya sendiri (ada yang melengkung, ada yang kecil sekali). 

Sepanjang menyusun puzzle, kami sibuk bernyanyi tentang buaya, hewan yang hidupnya penuh dengan detil. Dan bukan hanya buaya, hidup kita pun penuh dengan hal-hal yang detil, dan setiap hal tersebut pastilah penting. Karakter cermat memastikan setiap detil, bahkan yang terkecil sekalipun, tidak boleh dilupakan. Walau terkadang mudah untuk stress dengan setiap detil, atau bahkan kita jadi ingin mengambil jalan pintas untuk melupakan setiap hal detil, namun kecermatan membuat kita memastikan tugas kita itu bukan hanya selesai tetapi selesai dengan baik.

Selesaikan semua detil-detil =)
Puzzle adik (dengan 23 potongan berbagai bentuk) yang akhirnya dikerjakan oleh mamanya.

Rabu, 11 Oktober 2017

Papercraft di Galeri Indonesia Kaya

Tidak banyak yang tahu bahwa di Grand Indonesia ada suatu ruangan yang disebut Galeri Indonesia Kaya (GIK). Selama ini kami hanya mengetahui alun-alun Indonesia, tempat menjual pernak-pernik kerajinan anak bangsa. Salah satu teman sempat menghubungi pihak GIK dan pihak GIK mengatakan jika yang berkunjung minimal 15 anak, maka mereka akan mengadakan workshop bagi anak-anak. Dengan semangat kami pun mengumpulkan keluarga-keluarga homeschool yang berminat untuk mengikuti kegiatan ini. Singkat kata, acara pengumpulan pun berhasil. Kali ini bersama dengan teman-teman homeschool lainnya, dari berbagai pelosok di Jakarta, kami beramai-rama mengunjungi GIK. 

Galeri Indonesia Kaya berada di West Mall lantai 8, satu lantai dengan CGV. GIK merupakan ruang edutainment budaya persembahan Bakti Budaya Djarum Foundation. Saat datang, kami mengira akan melihat banyak benda-benda yang menunjukkan budaya Indonesia. Namun ternyata sebagian besar display, seperti alat musik tradisional, mainan tradisional, baju adat, dan semua informasi lainnya, dikemas secara digital dan interaktif.

Kami disambut oleh putra-putri Indonesia dalam pakaian daerah dari tiap-tiap daerah, namun secara digital. Kakak sibuk mencari yang mana Jawa Tengah. Sedangkan adik, karena sempat manortor di pentas baletnya, sibuk menunggu sampai Ucok dan Butet muncul di layar. Setelah itu kami melangkah menuju area video mapping. Area ini berisi bentuk wayang kulit dengan tokoh-tokoh dalam Mahabarata, baik Pandawa maupun Kurawa. Siapa yang seru kali ini? Bukan anaknya, tetapi mamanya (mamanya penggemar cerita Mahabarata).
Putra-putri Indonesia dengan baju adat daerah yang menyambut kami
Video Mapping mengenai Pandawa dan Kurawa
Masuk lebih dalam lagi, kami dihadapkan dengan banyaknya monitor touch screen. Yang pertama adalah Melodi Alunan Daerah. Monitor ini menampilkan gambar alat musik tradisional Indonesia. Anak-anak pun seru dengan acara menyentuh, membuat aransemen sendiri dan mendengarkan bunyinya. Di sebelah Melodi Alunan Daerah, terdapat monitor touch screen yang berjudul Kaca Pintar Indonesia. Di sini terdapat kumpulan objek budaya di seluruh nusantara, mulai dari pariwisata, kuliner, kesenian, dan tradisi. Saat disentuh, muncullah papeda, makanan khas orang Maluku yang terbuat dari sagu. Di sebelah Kaca Pintar Indonesia terdapat Jelajah Indonesia. Jika tadi kita mengenal Indonesia dari segi budaya, maka monitor yang satu ini membahas seluk beluk budaya Indonesia dari banyak sisi, seperti dari sisi geografis, kebiasaan, dan asal usul. 
Searah jarum jam dari kiri atas: Pakaian adat interaktif, Jelajah Indonesia,
Melodi Alunan Daerah dan Kaca Pintar Indonesia.
Setelah puas melihat segala hal yang berhubungan dengan kekayaan Indonesia melalui monitor, anak-anak diperkenalkan dengan tokoh-tokoh perwayangan. Cara memperkenalkannya pun cukup menarik, melalui media interaktif mengenai pakaian yang dipakai mereka. Anak-anak bergerak maju dan mundur untuk menyesuaikan kostum dengan badan mereka. Agak susah memang karena badan mereka kecil, namun mereka tetap berusaha agar pas di badan mereka. 

Sementara sebagian anak mengantri, sebagian anak lagi menikmati virtual reality di Selasar Santai. Di sini terdapat beberapa tablet yang bebas dipakai, dan juga sofa, lumayan mama-mamanya dapat mengamati anak-anak sambil duduk manis. Beberapa anak-anak yang sudah besar mencoba permainan interaktif di Jelajah Indonesia. 

Akhirnya kegiatan yang dinanti anak-anak tiba juga. Kami diajak memasuki auditorium untuk memulai acara papercraft. Auditorium ini memang tidak begitu luas, tapi dapat menampung 150 orang. Auditorium ini sering digunakan untuk tontonan budaya, mulai dari senin panggung, musik, pemutaran film, diskusi budaya, seminar dan workshop. Itu semuanya gratis. Kali ini pihak GIK memberikan workshop tentang pembuatan ondel-ondel dari kertas.
Papercraft Ondel-Ondel Betawi
Ondel-ondel merupakan boneka besar yang tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah +80 cm. Boneka ini biasanya dibuat dari anyaman bambu yang ditutupi baju yang besar. Biasanya ondel-ondel laki-laki mempunyai muka berwarna merah sedangkan ondel-ondel perempuan mukanya warna putih. Ondel-ondel merupakan ciri khas Jakarta, yang biasanya ada pada peresmian-peresmian. Kendati demikian, kita dapat menjumpai ondel-ondel di pinggir jalan, yang sedang ngamen.
Kakak dan adik dengan ondel-ondel perempuan 
Acara workshop ini dipimpin oleh tim dari paper-replika.com. Tim dari paper replika menjelaskan sedikit bahwa kali ini anak-anak akan diajak membuat replika dari kertas. Kalau biasanya anak-anak mengenal origami, yaitu seni melipat kertas, kali ini anak-anak akan diajak melakukan kirigami. Kirigami (kiru artinya memotong, gami artinya kertas) merupakan kegiatan menggunting dan membuat benda, baik 2D maupun 3D. Apa manfaat membuat kirigami? Membuat kirigami dapat melatih motorik anak dan juga kesabaran anak. Kesabaran orang tua juga dilatih loh. Orang tua dilatih untuk sabar menunggu si anak menyelesaikan pekerjaannya dan tidak menyelesaikan pekerjaan anaknya =D.
Sebagian anak-anak yang mau difoto =D
Setelah selesai workshop, anak-anak mendapatkan goodie bag dari pihak GIK. Anak-anak keluar dari auditorium dengan wajah bahagia karena dapat tentengan. Di bagian akhir di GIK terapat kerajinan-kerajinan yang dapat dibeli. Tetapi yang menarik perhatian kami adalah buku besar dengan tulisan honocoroko dan artinya dalam bahasa Jawa. Tulisannya adalah seperti ini.
ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara. 
Ini merupakan bahasa Jawa yang halus. Saya bertanya ke teman-teman yang lumayan jago bahasa Jawa. Ada dua arti yang dapat menggambarkan kalimat diatas. Jika diterjemahkan, artinya kurang lebih seperti ini: "Ilmu itu hanya dapat dicapai dengan laku, dimulai dengan niat yang teguh, arti kas menjadikan sentosa. Iman yang teguh untuk dapat mengatasi segala godaan rintangan kejahatan". Terjemahan berikutnya yang saya dapatkan adalah: "Untuk dapat memahami ilmu harus dengan cara, cara penyampaiannya dengan cara yang khas, artinya khas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara".
Buku besar dengan tulisan Jawa
Bagi kami, kalimat yang penuh dengan hikmat tersebut berarti tanpa adanya iman dan karakter, maka ilmu yang didapat bisa disalahgunakan. Itulah sebabnya iman dan karakter harus mendahului pengetahuan bukan?
Kerajinan-kerajinan yang dapat dibeli 
Kami pun berpisah dengan setiap homeschooler lainnya. Apa saja yang kami dapat? Selain workshop, kami mendapatkan pengalaman berkumpul dengan para homeschooler lainnya.
Isi goodie bag yang didapatkan anak-anak.
Galeri Indonesia Kaya
http://www.indonesiakaya.com
Grand Indonesia, West Mall lantai 8
Telepon: 021-23580701
Jam buka: 10.00 - 22.00

Ondel-Ondel yang kami buat.

Selasa, 03 Oktober 2017

Ayo Ke Kantor Pos :)


Pernah mengalami masa-masanya sahabat pena? Jika ya, berarti kita masih berada di angkatan yang sama =D Zaman saya kecil, kami diminta mengirim surat kepada orang-orang yang belum kami kenal melalui program sahabat pena. Masa itu, yang namanya kantor pos ada dimana-mana. Namanya ke kantor pos merupakan hal yang lumrah dan mengirimkan surat pun sudah menjadi kebiasaan anak-anak zaman itu. Menunggu surat balasan dari sahabat pena pun terasa begitu seru, karena bisa jadi balasannya seminggu, sebulan, bahkan dua bulan.

Namun di zaman yang sudah maju ini, orang sudah jarang mengirim surat. Sekarang sudah jamannya email, whatsapp, video call, dan segudang kecanggihan zaman ini. Bahkan Duo Lynns juga tahu kalau mau bertanya ke temannya bisa whatsapp ke mamanya teman mereka. Berhubung salah satu bagian dari pelajaran kakak adalah membuat surat, bahkan sampai cara melipat surat, maka kakak pun penasaran mengenai cara mengirim surat zaman dulu. Akhirnya kami berencana untuk mengunjungi kantor pos. 

Berdasarkan website posindonesia.co.id, ternyata keberadaan Pos Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu. Kantor pos pertama didirikan di Batavia (sekarang Jakarta) oleh Gubernur Jenderal G.W Baron van Imhoff pada tanggal 26 Agustus 1746 dengan tujuan untuk lebih menjamin keamanan surat-surat penduduk, terutama bagi mereka yang berdagang dari kantor-kantor di luar Jawa dan bagi mereka yang datang dari dan pergi ke Negeri Belanda. Sejak itulah pelayanan pos telah lahir mengemban peran dan fungsi pelayanan kepada publik. Dalam perkembangannya, Pos Indonesia sudah mengalami perubahan sebanyak enam kali. Pada tanggal 20 Juni 1995, Pos Indonesia berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).
Kantor Pos masa dulu. Sumber foto posindonesia.co.id
Karena banyaknya pilihan kantor pos yang dapat kami kunjungi, papa mengusulkan untuk mengunjungi kantor pos yang di Pasar Baru. Kantor pos ini merupakan kantor pos tertua di Jakarta. Walaupun gedung yang digunakan sudah diperbaharui, namun secara fisik bentuk bangunan gedung yang dirancang oleh arsitek JF Hoytema dengan gaya arsitektur Art Deco (dipengaruhi oleh aliran Art and Craft pada detail interiornya) masih menunjukkan ciri khas gedung dengan gaya Belanda. Gedung ini terlihat megah. Di salah satu bagian terdapat club filateli yang senang mengkoleksi perangko.
Kantor Pos masa sekarang. Sumber foto: wikipedia.org 
Saat kami datang, kami mengira akan kantor pos ini akan sepi, namun ternyata tidak sesepi yang kami bayangkan. Masih banyak orang yang menggunakan jasa kantor pos dalam pengiriman surat dan juga barang. Masuk akal sih, karena untuk menjangkau daerah-daerah terpencil, rasanya banyak orang yang masih mengandalkan pak pos. Kali ini kakak membawa dua surat yang akan dikirim kepada teman-temannya dan adik membawa satu surat yang ingin dikirimkan kepada dirinya sendiri.

Kami sengaja membiarkan Duo Lynns bertanya dan membeli perangko sendiri. Awalnya mereka merasa susah untuk bertanya karena meja petugasnya lumayan tinggi. Namun mbak yang bertugas di situ ramah terhadap anak-anak. Kepada anak-anak disarankan untuk membeli perangko Rp 3.000,00. Kata si mbak, kalau surat biasa, perangko Rp 3.000,00 sudah cukup. Setelah mengucapkan terima kasih, anak-anak segera menempel perangko yang ada. Berhubung kami tidak membawa lem, karena mamanya berasumsi pasti ada lem di kantor pos, maka kami meminjam lem dari satpam yang ada. Setelah menempelkan perangko, mereka memberikan suratnya kepada mbak di bagian pengecapan perangko. Alat untuk mengecapnya cukup besar sehingga membuat anak-anak norak. Setelah dicap, mbak yang bertugas menunjukkan surat dengan perangko yang sudah dicap dan setelah itu memasukkan surat tersebut ke kotak yang memang khusus untuk surat yang telah dicap.
Surat yang sudah ditempel perangko
Kami beranjak keluar dari kantor pos. Saat kami turun, kami melihat banyak kotak-kotak surat di bagian bawah kantor pos. Papa menjelaskan kepada anak-anak itu adalah PO BOX. Apakah PO BOX? PO BOX adalah singkatan dari Post Office Box. Ini merupakan salah satu fasilitas yang diberikan oleh kantor Pos Indonesia kepada instansi-instansi atau yayasan-yayasan tertentu yang menyewa kotak surat ini. Seperti saat saya kecil, setiap surat yang dikirim untuk undian berhadiah selalu menggunakan PO BOX. Biasanya perusahan-perusahaan memberikan PO BOX kepada orang-orang yang mau melamar pekerjaan di sana. Tujuannya apa sih? Tujuannya adalah untuk menyembunyikan alamat penerima seperti ketika mengirim surat lamaran kerja. Kalau diberi tahu alamatnya, bisa jadi banyak pelamar yang datang mengantar sendiri ke kantor tersebut. Untuk efisiensi, biasanya perusahaan yang menyewanya tidak mengambil setiap saat. Ada hari-hari atau jam-jam tertentu dimana pihak penyewa dapat datang untuk mengambil.

Setelah melihat PO BOX dari kejauhan, karena petugas di dekat PO BOX sedang merokok, kami pun menunjukkan Bis Surat. Bis Surat merupakan kotak surat untuk umum ini berfungsi untuk mempermudah pengirim surat untuk mengirimkan surat. Daripada repot memasukkan ke kantor pos, pengirim surat dapat memasukkan ke dalam bis surat ini. Nantinya pak pos akan mengambil surat pada jam-jam tertentu.
Bis Surat
Setelah puas melihat setiap hal di kantor Pos ini, kami melanjutkan acara kami untuk menaiki Mpok Siti, CityTour Bus Jakarta.
Menunggu Mpok Siti di halte Kantor Pos
PS: surat yang kami kirim tiba kembali di rumah kami dalam waktu 3 hari dan surat yang dikirimkan ke Tangerang tiba 2 minggu setelah pengiriman. Sedangkan yang ke Jawa Barat, sampai saat ini belum sampai. =P 

Jumat, 29 September 2017

Lap Book dan Homeschooler

Layering book
Bingung membaca judulnya? Jangan kuatir, anda tidak sendirian kok. Hehehehe. Pertama kali saya mendengar nama ini, saya juga bingung. Waktu itu mama-mama di komunitas kami berkumpul dan salah satu senior memperkenalkan istilah Lap Book. Lalu kepada kami direferensikan nama senior lainnya, keluarga Pasaribu, yang sangat sering menggunakan lap Book dalam proses pembelajarannya. Akhirnya kami mengundang keluarga Pasaribu untuk membagikan mengenai Lap Book dan kegunaannya bagi kami sebagai homeschooler. Auntie M, demikian Duo Lynns biasa memanggilnya, menjadi bintang tamu kami awal bulan ini. Nah, apakah Lap Book ini?

Lap Book, yang juga disebut sebagai Lap Pack, adalah buku yang dibuat oleh murid atau pengajar yang berisi suatu materi tertentu sesuai topik yang sedang dibahas, yang bertujuan agar materi yang disampaikan menjadi lebih menyerap. Biasanya lap book terdiri dari folder atau map yang ditempelkan dengan kertas-kertas yang dilipat. Didalam kertas-kertas ini ada informasi yang berhubungan dengan suatu materi baik dalam bentuk tulisan, diagram, ilustrasi, gambar, dan sebagainya. Kalau kata Auntie M, Lap Pack ini merupakan salah satu cara untuk mendokumentasikan hasil pembelajaran dengan cara yang kreatif. Jadi setelah lelah mengajar, yang terkadang membuat kita jadi lepek, Lap Pack atau Lap Book ini menjadi salah satu bentuk dokumentasi kita akan suatu materi. 

Salah satu buku yang direkomendasikan untuk membuat Lap Book ini adalah buku The Big Book of Books. Buku karangan Dinah Zike ini berisi kumpulan craft dengan kertas yang bertujuan untuk membuat buku dan memaksimalkan kegunaan buku tersebut. Isi didalamnya bukan hanya prakarya untuk membuat buku, tetapi juga ada prakarya dengan kertas, matchbook yang dapat digunakan untuk men-drilling suatu materi, menjelaskan suatu materi, dan lain sebagainya. Buku ini sudah susah dicari, kebanyakan menjual second-nya. Tetapi dengan kemajuan zaman, cukup bertanya pada mbah Google pun akan keluar banyak pilihan Lap Book.
Hasil googling lewat Pinterest.
Dari buku tersebut, ada beberapa hal pernah kami buat, diantaranya mini book, layering book, matchbook, dan pop up card. Apakah membuatnya harus sendiri? Tentu tergantung tingkat kesulitannya dan apa tujuannya. Akan lebih baik jika melibatkan anak-anak, sehingga mereka pun akan lebih mengerti. Yang paling sering kami gunakan adalah layering book dan yang paling sering dibuat oleh anak-anak dan dibagikan dengan teman-temannya adalah mini book
Minibook karya Duo Lynns
Word collection
Berprakarya seperti ini, tentu sangat menyenangkan. Namun ada beberapa hal yang penting, yang dibagikan Auntie M, yang harus diingat bagi kita para homeschooler, diantaranya:
1. Lap Book dapat digunakan sebagai salah satu alat peraga untuk menjelaskan konsep. Terkadang konsep merupakan hal yang abstrak bagi anak-anak. Dengan adanya lap book, penjelasan yang rasanya ribet dapat menjadi sederhana. Penggunaannya pun dapat disesuaikan dengan gaya belajar si anak. Bahkan anak yang gaya belajarnya auditori pun dapat menikmati penggunaan lap book
Layering book untuk penjelasan waktu.
2. Dengan Lap Book, kita dapat mendokumentasikan apa yang sudah dipelajari selama ini. Di akhir pembahasan suatu materi, kita dapat membuat rangkuman bersama anak. Secara tidak langsung kita bersama dengan anak mengulang bersama. Dan akan lebih seru jika si anak dapat ikut serta dalam pembuatan lap book. Tentunya keterlibatan si anak disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan umur si anak.
Mini Matchbook tentang waktu
3. Lap Book dapat digunakan sebagai alat atau bahan presentasi. Setelah si ayah pulang, anak-anak dapat menggunakannya sebagai bahan presentasi kepada si ayah mengenai apa yang mereka pelajari. Selain kepada si ayah, anak-anak dapat menggunakannya lap book sebagai alat presentasi saat ada pertemuan dengan anggota dalam komunitas. 

4. It takes time to make it, but as long as they understand, it's okay (with reasonable expectation). Dalam suatu kegiatan belajar mengajar (KBM), terkadang ada masanya KBM belajar sedikit melambat, atau lumayan melambat, dan ada masanya KBM berjalan cepat. Saat sedang melambat, rasanya pasti senewen karena semuanya tidak berjalan sesuai rencana kita. Tetapi sebetulnya bagi homeschooler hal ini seharusnya tidak membuat pusing kita karena waktu kita lebih fleksibel. Tidak masalah jika sedang melambat, selama mereka mampu mengikutinya. Daripada dikejar untuk maju namun si anak tidak kuat difondasinya, bukankah akan membuat kita mengulang materi ini dikemudian hari. 

5. Walau kita tidak kreatif, tapi banyak sumber-sumber yang dapat digunakan. Sekarang sudah banyak sumber informasi yang dapat digunakan bagi kita untuk berkreasi. Dari yang sederhana sampai yang rumit, dari yang low budget sampai yang wah. Jadi tidak kreatif bukanlah lagi alasan bagi kita untuk terpaku dengan textbook saja. Yang diperlukan adalah kerelaan kita untuk meluangkan waktu untuk membuat ini. 

6. Don't expect something that is higher than capacity. Yang artinya jangan membuat diri sendiri susah. Kalau kita mulai senewen dengan pelajaran yang ada, bisa jadi kita menaruh standar diatas kapasitas anak dan kita mengejar  yang Tuhan tidak ingin kita kejar. 

7. Pembelajaran yang ada hendaknya selaras dengan apa yang Tuhan inginkan dan jangan dipatok. Bagi anak-anak tertentu, pembelajaran apapun rasanya mudah. Tetapi ada anak-anak yang memang membutuhkan waktu untuk menyerap suatu materi. Bukan berarti anak yang terlalu aktif, seperti kata orang-orang zaman dulu, tetapi memang keahlian mereka bukan dalam bidang akademis. Jika kita mematok anak seperti ini harus bisa materi ini dalam waktu sekian, yang jelas-jelas tidak rasional, maka kita berusaha menjalankan maunya kita, bukan maunya Tuhan.

8. You can't nurture others unless you are nurtured. Ini point yang menurut saya penting. Jika kita tidak mendapatkan nutrisi yang baik, maka kita tidak akan mampu memberikan nutrisi kepada si anak. Seringkali kita berpikir yang penting anak-anak bisa secara akademis. Namun dibanding hal akademis, ada hal yang lain yang lebih penting. Dalam homeschool, kita mengisi hati dan bukan hanya mengisi pikiran mereka. Bagaimana kita dapat mengisi hati mereka jika kita tidak ternutrisi dulu secara spiritual. Oleh sebab itu, penting bagi homeschooler untuk ternutrisi dengan baik secara rohani. 

9. Bagi si ibu, Lap Book merupakan bukti dari suatu pembelajaran. Setelah seharian sibuk ngurus rumah dan anak, dari kejar-kejaran dengan waktu dan rutinitas sampai membuat lepek, seringkali mama-mama homeschooler, setidaknya saya, merasa kok hari berlalu dan kerjaan tidak ada habis-habisnya. Setelah lepek seharian, lap pack atau lap book menjadi bukti bahwa ada hasilnya setelah kita lepek seharian. 

Di akhir pertemuan, anak dari auntie M membagikan pengalaman dia selama ini dengan lap book. Menurut J, lap book itu berarti suatu buku yang dapat ditaruh di pangkuan si anak (book on the lap) dan saat dibuka si anak dapat memahami suatu pelajaran dengan lebih gamblang. Bagi J, setiap usaha yang dilakukan mamanya untuk membuat dia memahami materi melalui lap book sungguh berharga. Sekarang terserah kepada kita sebagai orang tua, apakah mau banyak sedikit berkorban untuk anak dengan meluangkan waktu untuk menyiapkan perlengkapan yang ada. 

Setelah pertemuan kami selesai, kami diberi kesempatan untuk melihat-lihat beberapa lap book yang mereka bawa. Ada yang sederhana dan ada yang rumit, tetapi bermakna dan penuh dengan kenangan tentunya. Selain keluarga Pasaribu, ada juga senior lain yaitu keluarga Hartono. Acara dilanjutkan dengan fellowship sambil makan siang. Acara ngobrol bersama senior-senior mengenai suka duka homeschool dan tips lainnya mengenai homeschool life ini semakin seru karena anak-anak mereka juga hadir dan menjadi saksi hidup dari segala kerumitan proses belajar mengajar dan merasakan hasilnya dalam hidup mereka. 

Selasa, 19 September 2017

Percobaan Toleransi: Floating Irritations

Floating Irritations
Bulan lalu, bertepatan dengan dirgahayu RI, kami membahas karakter tenggang rasa atau toleransi. Karakter ini merupakan hal yang penting bagi kita yang tinggal dalam masyarakat yang sangat majemuk. Bukan hanya untuk anak, untuk orang dewasa pun hal ini terkadang susah dilakukan. Namun hal ini merupakan hal yang penting, apalagi dalam suatu kelompok. Dibutuhkan adanya kerjasama dan penerimaan antara satu dengan yang lainnya.

Apakah definisi toleransi? Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, tenggang rasa adalah sikap atau sifat membolehkan pendirian orang lain yang berbeda dengan kita. Toleransi juga didefinisikan sebagai batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Dengan kata lain, asal masih berada dalam batasan kita, akan mudah bagi kita bersikap toleransi.

Berdasarkan karakter yang kami bahas toleransi adalah penerimaan terhadap orang lain sebagai ekspresi unik atas kualitas karakter tertentu dalam derajat kedewasaan yang bebeda. Dalam bahasa yang mudah dimengerti anak-anak, saya mengatakan dapat menerima orang lain yang berbeda dengan kita. Tentunya terkadang susah untuk menerima orang lain yang berbeda, apalagi jika yang berbedanya ini memaksakan kehendak kepada kita. Tetapi seperti Tuhan menerima kita apa adanya, maka dengan kasihNya yang ada pada kita, kita pun dapat menerima orang lain yang berbeda dengan kita. Saat kita bersedia untuk membagi kasih Tuhan kepada orang lain, maka Tuhan sendiri yang menumbuhkan sikap toleransi dalam hidup kita.

Untuk membuat pembahasan ini lebih mengena, maka kami melakukan suatu ilustrasi. Ilustrasi ini diberikan dengan tujuan agar kita mampu memahami bagaimana kita menjadi saluran kasih Tuhan saat kita menunjukkan sikap toleransi. Kalau biasanya kami memahami suatu karakter dengan membuat craft, kali ini kami melakukan eksperimen. 

Alat-alat yang diperlukan:
1. Botol atau gelas yang cukup tinggi dan transparan.
2. Uang logam, kami menggunakan Rp 1.000,00.
3. Es batu (agak banyak).
4. Gelas yang berisi air.

Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Masukkan uang logam ke dalam botol atau gelas. Katakan kepada anak-anak bahwa uang logam ini adalah kita.
2. Setelah itu masukkanlah es batu ke dalam botol tersebut. Katakan kepada anak-anak bahwa es batu ini adalah perasaan kesal kita akan sikap orang-orang disekeliling kita yang berbeda dengan kita dan lumayan menyebalkan. Saat memasukkan es batu, kita mengajak anak-anak untuk menyebutkan kita tidak suka jika teman kita berbuat ini atau itu. Misalkan kita tidak suka jika teman meminjam dan merusak barang kita, saudara yang suka nangis, teman tidak tepat waktu, teman tidak dapat dipercaya, teman senang menyuruh kita melakukan ini itu, teman berkata-kata tetapi tidak dapat melaksanakan kata-katanya, dan sebagainya.
3. Ajak anak mengamati apakah ada jarak antara uang logam dan es batu tersebut. (jawabannya tidak). Mengapa? Karena yang ada di dalam botol tersebut hanya kita dan pandangan kita akan sikap mereka yang berbeda dan terkadang menyebalkan. Otomatis gesekan yang ada semakin terasa.
Uang logam dan es batu yang saling bersinggungan.
4. Setelah itu kita ambil gelas yang berisi air. Air itu melambangkan kasih Tuhan yang kita nyatakan kepada orang-orang tersebut, misalkan dengan memaafkan, menolong mereka, tersenyum, mengajak mereka bermain, memberikan hadiah, mendoakan mereka, dan sebagainya. Kita tuangkan 1/4 air dari gelas tersebut. Untuk memudahkan, saya menggunakan measuring cup. Tanyakan kepada mereka apakah ada jarak antara es batu dan uang logam. Pasti mereka akan menjawab belum ada.
5. Tuangkan lagi 1/4 isi gelas tadi. Setelah itu saya mengatakan kepada mereka kita lebih lagi melakukan setiap hal yang baik diatas. Apa yang terjadi dengan uang logam dan es batu? Sekarang ada jarak antara uang logam dan es batu.
Dengan adanya air, jarak antara es batu dan uang logam semakin menjauh.
6. Tuangkan kembali 1/4 isi gelas, kemudian amati apa yang terjadi. Setelah itu tuangkan sisanya, dan lihat perbedaan yang ada.
Semakin banyak air, semakin jauh jarak antara uang logam dengan es batu.
Semakin banyak air yang ada di dalam gelas, semakin jauh jarak antara uang logam dan es batu. Dan saat seluruh air sudah dituang kedalam gelas atau botol, es batu sudah mengapung dipermukaan air tersebut. Saya mengatakan kepada anak-anak bahwa semakin banyak kasih yang kita berikan, semakin jauh jarak gesekan antara satu dengan yang lain. Bahkan kasih tersebut dapat membuat perasaan kesal kita menghilang.

Kita tidak menunjukkan kasih dengan tujuan untuk menghilangkan kekesalan kita, tetapi saat kita belajar mengasihi orang yang berbeda dengan kita, kasih akan orang ini membuat kita tidak mudah terganggu oleh ketidakdewasaannya. Point ini bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk kita sebagai orang tua. Sama seperti uang logam tersebut, sebanyak apapun air akan tetap tenggelam, maka saat kita dipenuhi oleh kasih Tuhan kita akan semakin dalam lagi mengenal Dia. Dan sama seperti es batu yang akan mengapung dan mencair jika bertemu dengan air, maka semua perasaan kesal kita pun akan lenyap saat kita tinggal didalam kasihNya =)

Di akhir percobaan, setelah urusan dengan toleransi selesai, saya iseng bertanya mengapa es batu tersebut bisa naik keatas atau mengapung sedangkan uang logam tetap tenggelam. Jawaban anak-anak begitu sederhana, karena es batu kalah berat dengan air, jadi dia mengapung. Wajar sih, karena mereka belum belajar berat jenis. Tetapi cara ini juga dapat digunakan saat kita akan mengajari anak-anak tentang konsep mengapung dan tenggelam. 

Jumat, 15 September 2017

Apakah Gaya Belajarmu?


Setiap orang diciptakan istimewa,dengan keunikan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Saudaran kandung juga memiliki perbedaan. Walau lahir dari rahim yang sama, pasti ada beberapa hal yang berbeda. Bahkan anak kembar identik saja pasti punya perbedaan. Mungkin bukan hanya fisik yang berbeda, bisa juga makanan kesukaan, hobi, gaya berpakaian, dan gaya belajar yang berbeda. 

Saat kami memulai homeschool, proses pembelajaran berjalan dengan baik pada kakak. Kakak tipe anak yang manis, yang dapat menangkap apa yang saya jelaskan dengan alat bantu yang sederhana dan bahkan tanpa alat bantu sekalipun. Mamanya tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra. Bahkan saat sekarang pun kalau kakak lagi 'error' atau saya yang lagi 'error' (maafkan mama, ya nak) dan nadanya mulai naik satu oktaf, kakak akan segera menyelesaikan pekerjaannya. 

Saat adik mulai belajar, proses pembelajaran berjalan dengan cara yang berbeda. Metode yang sama terkadang berhasil, terkadang tidak berhasil. Saya harus segila sekreatif mungkin supaya pembelajaran lebih cepat ditangkap oleh adik. Banyak alat bantu mengajar yang saya buat saat saya mengajar adik. Tidak terbayangkan jika saya keukeuh menggunakan cara yang sama dengan cara saya mengajar kakak, maka saya akan menjadi sangat frustasi dan adik pun bisa emosi jiwa karena tidak mengerti apa yang mamanya ajarkan.

Gaya belajar kakak dan adik memang berbeda. Dan bukan hanya kakak dan adik, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda. Kita tidak dapat berkata karena saya gaya belajarnya ini dan suami gaya belajarnya itu, maka anak saya akan memiliki gaya belajar ini atau itu. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mengetahui apakah gaya belajar anak kita. Berdasarkan pengalaman saya saat mengajar anak-anak, dan juga anak sendiri, ada tiga macam gaya belajar. Sekarang mungkin sudah meluas, tetapi menurut saya itu hanya kembangan dari yang tiga ini. Dan beruntungnya kami, kurikulum CCC yang kami pakai menjelaskan hal yang sama juga. Oya, tulisan ini pasti jauh dari sempurna, apalagi sesempurna para pakar pendidikan, tetapi mungkin saja dapat membantu para mama (seperti saya) yang terkadang sakit kepala saat mengajar anak.

Visual

Tipe yang pertama adalah visual. Tipe ini merupakan tipe yang paling banyak dimiliki orang. Anak tipe ini belajar dengan melihat. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut. 
1. Mudah memvisualisasikan sesuatu di pikiran mereka.
2. Menyukai diagram, tabel, flash card, video, buku, dan segala hal yang detil.
3. Menyukai list atau daftar, bahkan sebelum mampu membaca.
4. Mudah terganggu dengan hal-hal yang berbau visual.
5. Suka tidak fokus saat bercakap-cakap karena matanya melirik sana sini.
6. Senang saat guru menjelaskan dengan menulis atau menggambar, intinya yang menggunakan alat tulis. 
7. Senang kepada penghargaan yang bersifat visual, seperti gambar bintang, sticker, dan sebagainya.

Auditori

Tipe yang kedua adalah auditori. Anak yang mempunyai tipe belajar seperti ini belajar melalui pendengaran. Karena melalui pendengaran, mereka cenderung senang berbicara saat belajar. Saat mereka berbicara dan mereka mendengar apa yang mereka ucapkan, otak mereka memrosesnya. Ciri-ciri tipe auditori adalah sebagai berikut:
1. Menyukai instruksi yang sangat jelas dan mengulangi kembali instruksi tersebut dalam bahasa mereka.
2. Senang membuat suara saat mengerjakan sesuatu.
3. Biasanya mempunyai kemampuan verbal yang baik.
4. Menyukai puisi, cerita, ilustrasi mengenai orang dan pengulangan secara oral.
5. Biasanya cenderung tidak suka membaca, tetapi saat mereka harus membaca, mereka akan membaca dengan bersuara.
6. Menyukai musik dan biasanya suka bernyanyi.
7. Menyukai pengulangan terhadap segala hal.
8. Lebih menyukai test secara oral daripada test tertulis.
9. Senang kepada penghargaan yang bersifat pujian, seperti kata-kata.

Kinestetik

Tipe yang ketiga adalah kinestetik. Anak yang mempunyai tipe belajar seperti ini belajar melalui tindakan. Karena melalui tindakan, anak yang kinestetik cenderung tidak bisa diam atau pecicilan. Ciri-ciri tipe kinestetik:
1. Senang dengan yang namanya alat bantu.
2. Tidak bisa diam dan hobi menyentuh segala hal. Senang bergerak, dan beberapa diantaranya dapat dikategorikan hiperaktif.
3, Sangat bagus dengan hal-hal yang berbau motorik, khususnya motorik kasar.
4. Susah untuk mendengarkan susah untuk diminta duduk manis, seakan ada paku di kursinya.
5. Menyukai project, eksperimen, dan juga bunyi-bunyian.
6. Suka untuk menyentuh suatu gambar dan memegang buku sendiri (melihat dengan tangan).
7. Tidak suka tugas menulis.
8. Senang kepada penghargaan yang bersifat sentuhan fisik, seperti dipeluk, ditepuk pundaknya, dan sebagainya.

Cara sederhana untuk mengetahui anak kita gaya belajarnya seperti apa adalah saat ia melihat barang yang dia suka. Anak yang visual akan cenderung mengamati benda tersebut baru menyentuh atau bertanya (melihat dengang mata). Anak yang auditori akan ngoceh dulu, bertanya mengenai barang tersebut dan berusaha menemukan suara atau bunyi-bunyian dari barang tersebut (melihat dengan telinga). Sedangkan anak kinestetik akan menyentuh barang tersebut sebelum betul-betul melihat dan mengetahui benda tersebut (melihat dengan tangan). Adik adalah tipe yang ketiga, sehingga kami harus senantiasa mengingatkan bahayanya jika langsung memegang barang sebelum mengamati.

Apakah setiap orang pasti hanya punya satu tipe gaya belajar? Sama seperti temperamen, ada satu tipe yang dominan, dan tipe yang lainnya mendukung. Misal si A adalah anak yang dominan kinestetik. Bisa jadi gaya pendukungnya adalah auditori atau visual. Kebanyakan orang kuat di satu tipe belajar, tetapi itu tidak berarti bahwa mereka tidak dapat belajar dengan dua cara yang lain. Saya sendiri memiliki gaya belajar yang dominan di visual, dan didukung oleh kinestetik dan auditori. Tetapi saya mudah menghapalkan sesuatu melalui lagu juga. Dengan kata lain, ketiga cara belajar ini bisa saling melengkapi asalkan digunakan pada tempatnya.

Setelah kita mengetahui gaya belajar anak kita, apakah ini dapat menjadi excuse saat anak kita berbuat sesuatu? Apakah kita harus pasrah jika misalkan si anak kinestetik tidak bisa diam dan kita membiarkannya semaunya saja? Kan memang anak kinestetik begitu. Atau memang nih si anak auditori senang berisik dan berkata-kata dengan suara yang besar. Menurut saya tidak. Anak yang kinestetik bukan berarti tidak dapat dilatih untuk duduk manis juga pada keadaan tertentu. Atau anak yang auditori bukan berarti bebas teriak-teriak dimana saja. Gaya belajar bukanlah alasan seorang anak tidak tahu sopan santun bukan? Sebagai orang tua, salah satu tugas kita adalah membiasakan anak bersikap pada tempatnya. Jika kita menganggap ya karena tipe belajarnya begitu, wajar kalau dia lari-larian atau teriak-teriak atau menonton seharian (walaupun tontonan edukasi), maka endingnya adalah kita mengabaikan si anak. Menurut saya loh ya = D

Apa sih manfaatnya jika kita tahu gaya belajar masing-masing anak? Sebagai orang tua, salah satu tugas kita adalah mengajar mereka. Menaruh anak ke sekolah bukan berarti tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk mendidik anaknya hilang. Di rumah pun kita dapat membantu si anak untuk memahami materi yang disampaikan di sekolah. Dengan mengetahui gaya belajar si anak, kita lebih mudah untuk menjelaskan sesuatu. Selain itu, kita tidak akan dengan gampang melabeli anak kita saat kita membandingkan dengan saudaranya. 

Tentang pelabelan, seringkali di sekolah terjadi pelabelan terhadap anak. Si A nakal ya tidak bisa diam. Si B anaknya tidak pintar, dijelaskan tetapi tidak mengerti juga. Jika guru tidak mengetahui tentang gaya belajar si anak, seringkali mereka akan melabeli si anak. Buntutnya, kita mengiyakan kata-kata mereka atau kita marah-marah sama guru tersebut karena meng-underestimate anak kita. Jika kita mengetahui tipe belajarnya, kita dapat memberikan 'pembukaan' kepada si guru mengenai gaya belajar anak kita dan berharap bahwa dengan proses penyampaian yang sesuai, bisa jadi proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Dengan demikian tidak ada lagi pelabelan terhadap anak.

Bagi homeschooler, dengan mengetahui gaya belajar si anak, kita tidak akan menaruh ekspektasi berlebih jika si anak belum mengerti materi yang kita ajarkan. Kita dapat mengajarkan dengan cara yang memang lebih mudah dimengerti oleh si anak. Dan untuk mamanya, hal ini membantu untuk mengurangi stres dan membuat kita berpikir kita memang tidak dapat mengajar.

Dengan mengetahui gaya belajar si anak, kita lebih bisa 'menikmati' proses belajar mengajar yang ada. Jika mereka tidak mengerti suatu pelajaran, saya berhenti di pelajaran tersebut dan berusaha menyesuaikan dengan gaya belajar mereka (atau bahkan dengan gaya belajar sekunder mereka). Seringkali, perubahan tersebut, walau sedikit, membantu mereka memahami pelajaran yang disampaikan. Dan percaya deh, rasanya senang (pakai banget) saat anak kita memahami suatu materi yang awalnya mereka bingung hanya karena kita mengubah cara penyampaian kita. Itu suatu kebahagiaan dan berkat yang luar biasa ;)

Sumber foto: tatasky.com dan traveldirectors.com

Kamis, 31 Agustus 2017

Monthly Meeting Dirgahayu RI ke 72


Bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak hanya bangsa Indonesia sih, ada beberapa bangsa yang merayakan hari kemerdekaannya di bulan ini, antara lain negara tetangga kita Singapore yang tanggal 9 Agustus merayakan ulang tahun ke 62 dan negeri ginseng Korea Selatan yang tanggal 15 Agustus merayakan ulang tahun ke 69. Dibandingkan mereka, negara tercinta kita ini lebih dulu merdeka. Tahun ini Indonesia merayakan hari ulang tahun yang ke 72.

Tidak mau ketinggalan untuk memeriahkan ulang tahun Indonesia, tema monthly meeting komunitas homeschool kami bulan ini juga mengenai hari kemerdekaan. Dengan bernuansakan merah putih, termasuk mama-mamanya juga, anak-anak ini diajak untuk mengenal beberapa hal yang menjadi ciri bangsa Indonesia. Kali ini yang datang lumayan banyak, kurang lebih ada 18 anak. Terbayang kan ramainya :)

Diawali dengan bernyanyi bersama dan bermain bersama yang dipimpin oleh om C. Selesai bernyanyi dan bermain bersama, pengenalan mengenai Indonesia pun dimulai. PIC hari ini, auntie L, mengenalkan Pancasila beserta dengan lambang-lambang setiap sila. Setelah itu, anak-anak diminta menempelkan lambang setiap sila ke kotak yang disediakan. 
Bermain dan bernyanyi bersama
Kegiatan kedua adalah memperkenalkan rumah adat di Indonesia. Negara Indonesia terkenal keanekaragamannya, salah satunya adalah rumah adat. Agar lebih menarik, acara mengenal rumah adat dilakukan dengan bermain puzzle. Setiap gambar rumah adat digunting menjadi 6 bagian, dan setelah itu anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta untuk merangkai puzzle tersebut menjadi satu gambar yang sama. Ada rumah tongkonan dari Toraja, rumah panggung dari Kalimantan, dan rumah adat lainnya. Adik dan kakak mendapatkan rumah panggung. Kalau kata adik, berarti di rumah itu tempatnya menari dan menyanyi =))
Atas: mengenal lambang setiap sila.
Bawah: Menyusun puzzle rumah adat
Kegiatan ketiga adalah mengenalkan makanan-makanan tradisional atau jajanan pasar kepada anak-anak ini. Setiap orang tua diminta untuk membawa satu jenis jajanan pasar. Berhubung pasar dekat rumah kami tidak menjual jajanan pasar, maka kami pun membuat sendiri bubur sumsum. Bubur sumsum adalah makanan khas dari pulau Jawa. Bubur dari tepung beras ini enak sekali jika dimakan dengan saos gula aren. Mama-mama yang lain ada yang membawa nagasari, putu mayang, klepon, wajik, ketan, kue lapis, centik manis, kue mangkok, dan sebagainya. Siapa yang paling senang saat kegiatan ini? Tentu saja mama-mamanya, karena setelah anak-anak memilih satu jenis jajanan pasar yang mereka ingin makan, mama-mamanya yang menikmati sisanya =D
Jajanan Pasar yang dinanti-nanti oleh mama-mama anak-anak
Acara kali ini diakhiri dengan mendoakan bangsa Indonesia. Saat ditanya siapa yang mau mendoakan bangsa ini, mereka bersemangat untuk mendoakan bangsa ini. Mereka mendoakan agar bangsa ini menjadi semakin lebih baik dan setiap anak di Indonesia dapat bertumbuh dengan baik. Apa yang dapat dipelajari anak-anak melalui monthly meeting kali ini? Melalui pertemuan kali ini, anak-anak menyadari bahwa Indonesia kaya akan segala hal baik budaya, makanan, dan adat. Dengan melihat ini semua, mereka memahami bahwa perbedaan yang ada merupakan suatu nilai tambah bagi bangsa ini. Keanekaragaman tersebut akan menjadi indah jika semua bisa saling menerima. Seperti karakter yang dipelajari oleh mereka bulan ini, perbedaan yang ada harus disikapi dengan toleransi