Jumat, 15 Juni 2018

Craft: DIY Foldable Doll House


Siapa yang suka main rumah-rumahan untuk boneka? Saya juga suka. Rasanya setiap anak suka bermain rumah-rumahan. Apalagi kalau rumah-rumahannya dapat dibuat sendiri. Sudah berkali-kali anak-anak bilang mau buat rumah-rumahan untuk bonekanya. Dengan dungeon door pun boleh, kata mereka. Sayangnya mamanya belum bersedia karena bingung mau disimpan dimana rumah-rumahan itu.

Nah, bulan April kemarin, saat pertemuan per wilayah, auntie C yang sangat kreatif mengajak anak-anak untuk membuat rumah-rumahan untuk boneka. Anak-anak belum tahu bahwa auntie C akan mengajak mereka membuat rumah boneka. Jika mereka mengetahuinya dari awal, kebayang dong senangnya dan rusuhnya mereka.
Rumah Boneka karya auntie C 
Pertemuan dimulai dengan memperkenalkan tentang Earth Day. Anak-anak diajari bahwa kita dapat menjaga bumi ini dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan barang-barang secukupnya, menggunakan air dan listrik secukupnya, dan daur ulang dari barang yang ada. Karena masih dalam rangka Earth Day, anak-anak diajak untuk membuat rumah dengan menggunakan kertas-kertas bekas yang masih dapat dipakai.
Auntie C dikermunan anak-anak.
Setiap anak mendapatkan 4 kertas bekas yang dapat dilipat dan dibuat menjadi rumah yang terbagi menjadi empat bagian. Ada juga kertas warna-warni, kain perca, dan alat-alat lainnya yang dapat digunakan untuk melapisi ’dinding’ ataupun sebagai karpet. Anak-anak dibebaskan berkreasi dan berimajinasi.
4 kertas bekas yang siap diubah menjadi doll house :) 
Lipat melipat sudah dimulai
Yang membuat saya terkagum, rumah boneka yang diajarkan auntie C ini dapat dilipat dan tidak makan tempat. Jadinya lebih hemat tempat. Anak-anak pun mewarnai perabotan yang mereka ingin letakkan di dalam rumah. Sedangkan untuk anak laki-laki disediakan template untuk membuat stasiun kereta api. She is soooo creative, isn't she?
The boys with their train station.
Jadilah doll house kakak.
Memang acara membuat rumah boneka ini lumayan lama, namun anak-anak dengan senang hati menunggu yang lainnya selesai. Mereka belajar bahwa saat melakukan kegiatan bersama terkadang mereka harus rela menunggu teman mereka.
Tangga hasil imajinasi kakak.
Rumah untuk tsum-tsum, lengkap dengan tangga untuk menuju lantai 2.  
Pertemuan kami kali ini diakhiri dengan berenang bersama. Thank you auntie C untuk rumah boneka dan waktunya :)

Sabtu, 09 Juni 2018

Security: My Worry Hat


Apakah ada dari mama-mama semua yang anaknya terkadang gloomy saat bangun tidur? Saya ada, yaitu adik. Kadang-kadang adik bangun dengan cranky dan ada aja yang dia rewelin. Entah ini karena sindrom anak kedua atau entah karena salah bantal, tetapi hal ini kadang membuat pagi hari kami jadi agak panas.

Kami merasa hal ini karena terlalu banyak hal yang dia kuatirkan. Maklum, sebagian orang (bukan orang tuanya) kadang suka membandingkan dia dengan kakaknya. Jadi ada banyak hal yang membuat dia merasa kuatir dan juga tidak secure. Dan pas di bulan April kemarin, kami membahas karakter security atau aman.

Security atau aman didefinisikan sebagai dengan membangun hidup dengan hal-hal yang tidak dapat dihancurkan atau direnggut. Maksudnya adalah jika kita membangun hidup kita dengan hal-hal yang tidak tergoyahkan, niscaya kita akan merasa aman. Hal-hal yang tidak tergoyahkan ini tentunya bukan bersumber pada hal-hal yang dapat habis atau benda yang terlihat di depan mata, tetapi bersumber pada sesuatu yang bersifat kekal. Saat kita tahu Tuhan yang berdaulat atas hidup kita, maka kita akan merasa aman di dalamNya.

Untuk menyampaikan hal ini kepada anak-anak, pastilah tidak semudah yang kita bayangkan. Akan ada rasa kuatir atau cemas yang akan muncul walaupun mereka sudah tahu Tuhan mengasihi mereka dan mereka aman di dalam lindunganNya. Hal ini wajar, karena bukan hanya anak-anak, tetapi kita sebagai orang dewasa sering merasa tidak aman, baik karena masa lalu kita, ketakutan-ketakutan kita, dan juga kekuatiran-kekuatiran kita. Bahkan segala hal itu akan muncul saat kita hendak tidur. Dan akibatnya bangun pagi pun dimulai dengan rewel.

Untuk membuat anak-anak melepaskan kekuatiran mereka, kami pun mengadakan aktivitas 'worry hat' setiap malam sebelum kami tidur. Worry hat merupakan kegiatan menggunakan topi sebelum tidur dengan tujuan agar anak melepaskan segala rasa kuatir mereka, dengan harapan saat mereka bangun, mereka bangun dengan tenang dan tidak cranky. Tentunya bukan topi ini yang melepaskan ketakutan mereka, tetapi kegiatan ini menjadi simbol mereka melepaskan kekuatiran mereka sebelum mereka tidur.

Jadi biasanya setelah kami melakukan saat teduh keluarga dan doa sebelum tidur, saya membuatkan topi dari kain. Kemudian topi ini diletakkan diatas kepala anak-anak. Lalu biasanya saya mengatakan 'letakkan semua hal yang membuat kalian kuatir, kalian takut ke topi ini.' Lalu saya menghitung sampai sepuluh, sesudah itu saya kebaskan topi dari kain tersebut sambil bernyanyi
'Tuhan angkat worry-ku (cranky-ku) dan buang ke laut, byur
Buang ke laut, byur
Buang ke laut'
Dan ajaibnya, aktivitas ini cukup berhasil membuat anak-anak, terutama adik, bangun dengan senyum. Ya setidaknya, cranky-nya diundur agak siangan. Bahkan saat dia mau memulai rewel di pagi hari, saat diingatkan bahwa semua kuatir kan dibuang ke laut, adik pun tidak jadi rewel.

Adik sempat bertanya jika worry dibuang ke laut, bagaimana Nanti kalau laut penuh dengan worry kita. Hmm... Kan lautan kasih Tuhan. Kasih Tuhan mengalahkan segala kekuatiran yang ada dan mengubahnya menjadi sukacita :)

Rabu, 30 Mei 2018

Percobaan Keberanian: Menghancurkan Ketakutan


Karakter boldness menjadi bahasan kami di bulan Maret kemarin. Namun aktivitas mengenai karakter ini baru sempat dituangkan dalam tulisan. Boldness atau keberanian didefinisikan sebagai suatu keyakinan bahwa apapun yang saya katakan atau lakukan itu benar, tepat, dan adil di mata Tuhan. Kita berani karena kita tahu apa yang kita lakukan memang benar. Jadi boldness bukan hanya berani saja, tetapi berani yang berdasarkan pada kebenaranNya.

Saat memelajari karakter ini, kami pun membahas juga lawan dari berani, yaitu takut. Dalam hidup ini banyak hal yang terkadang membuat kita takut. Kali ini, aktivitas yang dilakukan berhubungan dengan bagaimana membuang rasa takut. Percobaan kali ini harus didampingi orang dewasa karena menggunakan larutan aseton.

Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Styrofoam 
2. Spidol
3. Wadah keramik atau kaca (jangan menggunakan wadah plastik, kertas, ataupun wadah styrofoam).
4. Aseton (dapat menggunakan penghilang kutex).
Perlengkapan yang diperlukan
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. 
1. Gunting styrofoam tersebut menjadi beberapa bagian.
2. Diatas styrofoam yang sudah digunting tadi, tulislah hal-hal yang menjadi ketakutan kita. Bisa saja takut kalau gelap, atau takut kalau sendirian, atau ketakutan apapun. Styrofoam ini melambangkan setiap hal yang menjadi ketakutan kita.
Ketakutan anak-anak.
3. Isilah wadah dengan sedikit cairan aseton. Aseton ini melambangkan Firman Tuhan yang diisi ke dalam hati kita. 
4. Larutkan Styrofoam yang sudah ditulis tadi. Styrofoam tersebut akan langsung larut ke dalam aseton tersebut.
Aseton melarutkan styrofoam.
Secara science, styrofoam mengandung banyak molekul kecil yang disebut monostyrene yang bergabung menjadi satu. Sedangkan aseton mengandung unsur yang dapat mematahkan ikatan di dalam styrofoam. Tidak heran saat styrofoam dimasukkan ke dalam larutan aseton, styrofoam tersebut langsung larut.

Refleksi dari eksperimen kali ini adalah jika hati kita diisi firman Tuhan, maka saat ketakutan itu datang, kebenaran firman Tuhan yang mematahkan rasa takut tersebut. Nah permasalahannya, bagaimana kita dapat mematahkan rasa takut jika hati kita tidak diisi firman Tuhan? Itulah sebabnya penting sekali sejak dini untuk mengisi anak-anak ini dengan kebenaran firman Tuhan, karena kebenaranNya tidak akan membawa orang dalam kehancuran. Dan itu tentu saja membutuhkan peran orang tua.

Aktivitas ini pun mengingatkan saya untuk tidak memegang rasa takut. Namanya orang tua, banyak hal yang menjadi ketakutan. Dari urusan rumah, pekerjaan, pelajaran anak, masa depan anak, dan sebagainya. Apalagi melihat hal-hal yang belakangan terjadi. Kita hanya perlu tenang dan tahu ada Tuhan yang memegang kendali atas hidup kita.
Be still and know that I am God (Psalm 46 : 10)

Kamis, 24 Mei 2018

Experiment: How to make storm?

Atas: Tornado. Bawah: Hurricane. Foto dari berbagai sumber.
Salah satu materi yang dipelajari kakak dipelajaran Science adalah tentang badai atau storm. Badai bukan sekedar perputaran angin yang kencang, tetapi badai dapat dianggap sebagai suatu keadaan cuaca yang ekstrim. Jadi yang termasuk badai bukan hanya angin puting beliung atau tornado saja, tetapi bisa juga badai salju, hujan es, hingga badai pasir. Dampaknya pun bisa bermacam-macam, dari benda-benda beterbangan, pohon tumbang, bahkan hingga rumah yang hancur. 

Kenapa dapat terjadi badai? Badai terjadi karena udara yang panas bertemu dengan udara yang dingin. Jadi perbedaan antara dua suhu yang terlalu jauh. Lokasi terjadinya pertemuan mereka pun mengakibatkan badai yang berbeda. Seperti hurricane atau angin topan adalah badai angin yang terjadi diatas samudra. Sedangkan tornado atau angin puting beliung adalah badai angin yang terjadi di atas dataran yang panas. Bentuk tornado seperti udara yang berputar. 

Untuk memperjelas pelajaran ini bagi anak-anak, kami melakukan percobaan. Bahan-bahan yang diperlukan: 
- mangkok yang berisi air panas yang mendidih
- Freezer
Mangkok yang berisi air mendidih
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
- Masukkan mangkok yang berisi air panas tersebut ke dalam freezer.
- Amati perubahan yang terjadi. Udara diatas mangkok yang berisi air panas tersebut akan berputar dan membentuk badai.

Karena permukaannya yang tidak besar, udara berputar yang dihasilkan dari percobaan ini tidak berputar seperti tornado. Namun anak-anak dapat melihat adanya udara yang berputar. 
Storm dalam lingkup kecil.
Bagaimana jika ada badai? Sebisa mungkin menjauhi badai tersebut. Namun jika tidak dapat, carilah tempat perlindungan yang kokoh, sehingga kita tetap aman. Tetapi tetap doanya semoga kita terluputkan dari badai apapun :)

Selasa, 08 Mei 2018

Petulangan Krucils di Daerah Pasar Baru


Apa sih enaknya tinggal di Jakarta? Enaknya tinggal di Jakarta adalah banyak bangunan-bangunan dan kawasan-kawasan bersejarah yang dapat dikunjungi. Nah, kali ini kami homeschooler yang ada di daerah Jakarta dan Bekasi berencana mengunjungi daerah Pasar Baru.
Kartu pos Jakarta dengan tempat-tempat yang iconic.
Sebagian kita pasti mengenal Pasar Baru dikenal sebagai tempat belanja. Namun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, Pasar Baru merupakan salah satu pusat administratif. Tidak heran di kawasan ini terdapat banyak gedung-gedung bersejarah. Salah satunya adalah Kantor Pos. Setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk mengunjungi kantor pos, kantor filateli, bakmi Aboen Pasar Baru, dan menaiki Mpok Siti.

Tempat kunjungan pertama kami adalah Kantor Pos. Sebetulnya rencana untuk mengunjungi kantor pos sudah tercetus sejak lama. Awalnya dimulai dari kunjungan kami secara pribadi ke Kantor Pos bersama papa dan diakhiri dengan naik Mpok Siti. Tidak berapa lama kemudian, teman yang sudah pindah kota pun ternyata mengunjungi kantor pos. Maka komunitas kami pun berencana mengunjungi kantor pos tertua di Jakarta. Namun karena waktu yang susah, maka baru dieksekusi dikunjungan kami ini.
Prangko edisi Palang Merah Internasional.
Apa saja yang dikerjakan anak-anak di sana? Masih mirip seperti sebelumnya, anak-anak akan mengirim surat kepada keluarga atau teman-teman mereka. Surat yang sudah mereka buat di rumah, beserta menulis alamatnya, akan dibawa ke kantor pos. Sampai di kantor pos, mereka akan membeli prangko, menempelnya, dan memberikan sendiri surat mereka kepada petugas yang ada. 
Antri dulu ya :)
Karena waktu masih banyak, kami pun berpikir untuk membuat prangko dengan wajah sendiri alias prangko prisma. Walau beralamat yang sama dengan kantor Pos, ternyata gedungnya agak terpisah. Petugas yang ada menyarankan kami untuk menuju kantor filateli yang ada di sebelah Starbuck. Kami pun berjalan menuju Kantor Filateli Jakarta. Pas dengan tujuan kami berikutnya.

Mendengar kata filateli akan membuat kita berpikir bahwa ini adalah hobi mengoleksi prangko dan benda-benda pos lainnya dan orang yang melakukan ini disebut filatelis. Namun filateli sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu philos yang berarti teman dan ateleia yang berarti bebas bea. Filateli dapat diartikan secara bebas sebagai membebaskan teman dari bea pos. Kok bisa? Tentu bisa. Saat kita mengirimkan surat, prangko yang ada cap di sampul surat merupakan bukti bahwa kita telah membayarkan biaya pengiriman surat.

Saat kami masuk ke Kantor Filateli Jakarta, kami sedikit bingung. Gedung ini terlihat sepi dan sedang dalam tahap renovasi. Pekerja di sana memberi tahu agar kami menuju lantai dua. Saat kami memasuki lantai dua ada beberapa orang yang sedang melakukan jual beli prangko-prangko lama. Kata prangko sendiri berasal dari kata franco. Kata franco ini diambil dari nama seorang Italia bernama Franceso de Tassis. Jika kita berpikir bahwa Franceso ini adalah orang yang membuat prangko, maka kita salah. Franceso merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan pengantaran melalui pos di Eropa pada tanggal 18 Januari 1505. Hanya saja saat itu yang biasa berkirim surat adalah golongan bangsawan.
Prangko jadul.
Kami menemui petugas yang ada dan menyampaikan bahwa kami akan membuat prangko prisma. Saya sebetulnya kurang berminat membuat prangko dengan muka sendiri lalu menggunakannya untuk mengirim surat. Tetapi karena teman-teman berkata untuk koleksi pribadi saja, boleh juga deh. Selesai berfoto, kami pun mengajak anak-anak untuk melihat koleksi prangko dan uang yang ada dibagian depan.
Si kecil yang beraksi :)
Keberadaan filateli di Indonesia ini memang sudah ada dari tahun 1922 dan sejak 29 Maret 2006, tanggal 29 Maret diperingati sebagai hari filateli. Setiap ada peristiwa penting, Kantor Pos Indonesia membuat prangko yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Dan terkadang ada tema-tema yang menarik dalam pembuatannya, seperti flora, fauna, tempat wisata Indonesia, sea games, pekan olahraga nasional, dan sebagainya. Prangko-prangko inilah yang biasanya dikumpulkan dan mempunyai nilai jual lumayan tinggi. Penjual-penjual yang ada di sini kebanyakan mengoleksi prangko-prangko dan sekarang menjual koleksi mereka tersebut dengan harga yang cukup baik.
Uang tempo dulu... Ada Rp 500,00 gambar orang utan.
Prangko Prisma isi 8
Setelah prangko prisma kami selesai, kami pun berjalan menuju Bakmi Aboen Pasar Baru. Sebetulnya di daerah Pasar Baru ini banyak bakmi-bakmi legendaris yang wajib dicoba. Karena jadwal yang padat, kami memilih bakmi Aboen. Cukup seru membawa anak-anak berjalan dari Kantor Filateli Jakarta menuju Bakmi Aboen Pasar Baru. Untuk mengajarkan mereka agar mematuhi peraturan, kami mengajak mereka untuk menyeberang melalui jembatan penyeberangan dan berjalan di trotoar. Memang lebih memutar, namun peraturan harus dipatuhi, bukan?
Semangat 45 walau matahari begitu terik.
Bagi anak-anak, ini adalah pertama kalinya mereka bermain ke Pasar Baru. Jadi mereka memang agak norak. Namanya juga pasar, pasti banyak mainan dan barang-barang lucu yang menarik perhatian mereka. Mereka bisa tiba-tiba berhenti dan memperhatikan mainan. Kendaraan yang masih dapat memasuki area perbelanjaan ini membuat kami sebentar-sebentar mengingatkan anak-anak agar tidak berjalan ke tengah jalan. Kalau kata kakak, sama seperti di Myeongdong, banyak mainan dan kendaraan bisa lewat di tengah jalan. Uhm.... Korea rasa Jakarta ya nak.
Sesaat sebelum jalanan ini dipenuhi orang dan kendaraan.
Toko ini masih ada loh....
Bakmie Aboen terletak di gang Kelinci. Ini pertama kalinya kami, selain mami D, makan ke sini. Lokasinya cukup mudah dikenali, yaitu berada di gang kecil disamping bakmi Gang Kelinci. Menu yang menjadi andalan di sini adalah mie jamur (halal dan non halal) dan bakso gorengnya. Dan karena yang dimakan adalah mie, maka acara makan ini menjadi lebih cepat. Untuk rasa, memang bakmi yang mendapatkan predikat bintang lima oleh Tirta Lie ini sangat enak.
Dunia anak, dunia bermain, termasuk saat menunggu makanan.
Bakso goreng.
Bakmi non halal
Selesai makan, kami pun berpindah menuju depan Istiqlal. Tujuan kami adalah mengajak anak-anak ini keliling kota naik bus tingkat. Berbeda dengan kunjungan kami sebelumnya, kali ini acara menunggu bus lumayan menyita waktu. Akhirnya Mpok Siti pun tiba dan anak-anak dengan semangat menuju ke atas. Rute yang kami ambil adalah Jakarta Modern. Kali ini banyak sekali anak-anak TK yang ikut naik. Dan karena banyaknya penumpang di dalam bus ini, ditambah matahari sedang terik, AC yang tidak dingin pun tidak berasa dan kami semua kepanasan. Memang lebih enak naik Mpok Siti di pagi hari, saat matahari belum panas sekali.
Tetap berpose walau kepanasan.
Cepat-cepat ke atas untuk duduk di depan.
Sepanjang perjalanan, anak-anak ini senang melihat pemandangan dari bus tingkat. Tetapi namanya juga anak-anak, begitu bus terkena macet, mereka sudah mulai gelisah. Untungnya macet ini tidak begitu lama. Akhirnya kami pun tiba kembali di Istiqlal dengan hasil dua anak sudah tertidur =))

Petualangan krucils hari ini pun berakhir. Selain menikmati kebersamaan yang ada, mereka pun secara tidak langsung belajar untuk beradaptasi dalam keadaan dan masyarakat yang ada. Mereka belajar untuk tidak mengeluh walaupun harus mengantri dan menunggu bus sambil panas-panasan. Mereka pun belajar mengenai tenggang rasa dalam keberagaman yang ada. Well, the world is our classroom, isn't it? :)

Sekilas Informasi 
Kantor Pos Pasar Baru
Alamat: Jl. Pos no.2. Pasar Baru, Jakarta Pusat 10110
Jam operasional: 08.00 - 16.00

Kantor Filateli Jakarta
Alamat: Jl. Pos no. 2, Pasar Baru, Jakarta Pusat 10110
Jam operasional: 08.00 - 16.00 (hari Minggu tutup)

Bakmi Aboen
Gang Kelinci, Pasar Baru (di belakang Bakmi Gang Kelinci)
Jam operasional: 07.00 - 19.00

Sabtu, 21 April 2018

Penerapan Karakter dalam Keluarga


Artikel ini masih lanjutan artikel sebelumnya. Walaupun pertemuan yang dijadwalkan hanya dua kali, namun karena banyak yang belum sempat ikut di pertemuan pertama dan kedua, maka di bulan Maret kemarin diadakan kembali pertemuan tambahan. Dan ajaibnya, pertemuan yang sebetulnya tidak direncanakan ini malah dihadiri oleh orang yang jauh lebih banyak dari sebelumnya =D

Di pertemuan kali, selain membahas secara singkat isi pertemuan-pertemuan sebelumnya karena banyak yang belum mengikuti pertemuan sebelumnya, keluarga Hartono membagikan cara mengaplikasikan karakter di dalam keluarga. Karena karakter bukan sekedar pengetahuan, maka dalam pelaksanaannya pun jangan sampai menjadi ajang untuk menghakimi anak ataupun orang lain. 

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam mengaplikasikan karakter, salah satunya sebagai kurikulum dalam kegiatan pembelajaran. Baik sekolah di sekolah umum maupun home edukasi, hal ini dapat dijalankan oleh keluarga.

1. Selalu dimulai dari orang tua
Orangtua adalah guru pertama yang dimiliki oleh si anak. Dari mulai si anak di dalam kandungan, sosok yang mereka kenal pertama kali adalah orang tuanya. Saat mereka lahir, setiap hari mereka bertemu orang tuanya. Guru berarti digugu dan ditiru. Dengan kata lain, mereka akan meniru apapun yang kita lakukan. Dengan demikian, jika ingin mengajarkan tentang karakter, hal itu harus dimulai dari kita. Kita adalah contoh nyata yang dapat selalu dilihat anak.

2. Menghafal definisi
Salah satu point dalam pengembangan karakter pada anak adalah menekankan karakter, yang dilakukan dengan pendefinisian suatu karakter. Definisi ini penting. Bagaimana kita dapat mengaplikasikan jika kita tidak memahami arti dari karakter tersebut. Definisi yang diberikan tidak hanya memberi pengertian, tetapi juga arti sebenarnya dalam situasi tersebut. Dan saat menjelaskan definisi,  ingatkan anak ada hal-hal yang perlu diseimbangkan. Misalkan saat membahas tentang ketaatan, ingatkan anak untuk taat kepada orang-orang yang memang mempunyai otoritas terhadap dia.

3. Bagikan penerapan praktis
Misal kita berbicara tentang penuh perhatian atau attentiveness. Definisinya adalah berkonsentrasi pada orang atau tugas yang dikerjakan. Mungkin anak sudah mengetahui definisi penuh perhatian. Namun mereka masih bingung bagaimana melakukannya. Penerapan praktis merupakan salah satu hal yang dapat membuat anak melakukan dan bersikap sesuai kualitas karakter yang ingin dicapai. "Saya akan" merupakan komitmen yang akan membantu anak-anak melakukan kualitas karakter tersebut. "Saya akan" merupakan obyektif lain dari tingkah laku yang membantu mengukur karakter seorang anak.

Seperti contoh karakter penuh perhatian. Penerapan praktis dari karakter ini adalah:
- saya akan melihat kepada orang yang berbicara dengan saya.
- saya akan bertanya jika saya tidak mengerti.
- saya akan duduk atau berdiri dengan tegak.
- saya akan fokus pada tugas yang ada.
dan sebagainya

Penerapan praktis diatas membantu anak untuk melakukan hal-hal yang dapat dikerjakan oleh mereka. Dan fokuslah pada satu kualitas karakter yang ingin dicapai. Akan susah bagi si anak untuk mencapai semuanya secara bersamaan. Dan tentunya akan berat bagi kita sebagai orang tua untuk tidak menjadi emosi pusing jika menginginkan semua berjalan bersama. Kalau kata kakak saya, pick your own battle.

4. Gunakan ilustrasi hidup
Ilustrasi hidup membantu anak memahami karakter yang mereka pelajari. Ilustrasi hidup ini dapat dilakukan melalui tokoh, alam, ataupun binatang. Dan bagi anak-anak, kisah yang berhubungan akan mudah menolong mereka untuk memahami karakter tersebut. 

5. Transfer melalui aktifitas
Hampir semua anak kecil menyukai aktifitas. Dengan karakter menjadi tulang punggung setiap aktifitas, maka anak pun dapat melakukannya dengan sukacita. Aktifitas yang ada dapat disesuaikan dengan usia mereka. Aktifitas pun dapat berbentuk craft ataupun science

6. Mendorong dengan pujian
Setelah mengajar para murid apa yang harus dilakukan, pujilah mereka saat mereka melakukannya. Pujian yang diberikan kepada anak akan membuat anak melakukan hal yang baik. Mengapa? Karena apa yang kita fokuskan itu yang kita dapatkan.

Seringkali orang berkata kalau anak suka dipuji nanti jadi besar kepala. Nah, yang menjadi kunci adalah pujilah karakter dan bukan keberhasilan. Kita memuji motivasi dibalik pekerjaannya. Kita melihat proses yang mereka lakukan, bukan hanya hasil yang dicapai. Misalkan si anak mengerjakan suatu pekerjaan. Pujilah anak karena kerajinan yang mereka lakukan, bukan karena mereka pintar.
Pujilah karakter dan latihlah keterampilan.
Gambar diatas adalah hasil pekerjaan berhitung yang dilakukan adik. Bagi adik, untuk duduk manis dan mengerjakan lembar pekerjaannya merupakan suatu usaha berat. Untuk menjaga kertas tetap rapi, tanpa ada gambar-gambar tambahan (mamanya dan kakaknya pun juga suka menggambar di kertas) pun juga merupakan suatu usaha berat. Walau adik membuat angka yang begitu artistik, padahal adik tidak begitu suka dengan hal yang artisitik, namun saat kami melihat kertas ini, kami tetap berkata "Terima kasih untuk membuat worksheet dengan rapi. Terima kasih karena adik mengerjakan dengan rajin dan penuh perhatian. Terima kasih karena sudah mengendalikan diri untuk tidak mencoret-coret kertas ini." Hal ini membuat ia tersenyum dan berbunga-bunga. Perkara kerjaannya ada yang salah atau tidak, itu nomor dua. Karena kami berusaha untuk memuji karakter mereka. Setelah itu baru melatih keterampilan.

Seringkali kita mencampuradukkan antara keterampilan dengan karakter. Point pentingnya adalah pujilah karakter dan latih keterampilan. Hargailah kualitas karakter yang ingin dicapai mereka walaupun jika kita melihat secara kognitif, keterampilan mereka belum tercapai. Ingatlah bahwa setiap anak istimewa, sehingga saat si anak tidak dapat melakukan sesuatu, jangan membuat anak merasa tertuduh.


Monthly Meeting: Character 101


Memasuki tahun 2018, komunitas kami mengambil tema karakter sebagai tema bulanan. Untuk mempersiapkan kami memahami tentang karakter, maka pertemuan gabungan di bulan Januari dan Februari dikhususkan untuk membahas mengenai karakter dan serba-serbi mengenai karakter. Adapun pembicaranya adalah salah satu keluarga homeschooling yang memang berkecimpung dengan Character First Indonesia, keluarga Hartono.

Artikel ini dibuat sebagai ringkasan apa yang kami dapatkan saat seminar karakter dan isi pikiran kami yang ternyata masih berhubungan dengan seminar karakter tersebut. Dan karena banyak teman-teman yang tidak mengikuti seminar ini, namun datang di pertemuan selanjutnya, maka supaya ada sedikit gambaran. Tentunya akan jauh lebih enak mendengarkan langsung dari dan bertanya langsung kepada sumbernya.  

Dalam kehidupan sehari-hari, karakter seringkali disamakan dengan watak atau sifat ataupun kepribadian. Namun karakter sebetulnya lebih dari sekedar hal-hal tersebut. Karakter merupakan sesuatu yang penting, karena karakter menunjukkan siapa kita sebenarnya. Seringkali kita menjumpai orang-orang yang mempunyai banyak teori namun tindakan mereka berlawanan dengan teori mereka. Karakterlah yang menentukan sikap, perkataan, dan tindakan seseorang. Yang berarti setiap keputusan yang diambil ditentukan oleh karakter mereka. Hampir setiap masalah dan kesuksesan yang dicapai berakar pada karakter.

Bagaimana cara mengembangkan karakter pada anak-anak? Ada tiga hal yang berhubungan dengan pengembangan karakter, yaitu menekankan karakter, menuntut karakter, dan menghargai karakter. Menekankan karakter berarti membuat karakter tersebut dimengerti oleh si anak. Cara untuk membuat anak mengerti adalah dengan mendefinisikan setiap kualitas karakter sehingga dimengerti oleh anak tersebut. Dalam membuat anak mengerti, diperlukan adanya ilustrasi dan penerapan praktis.

Hal yang kedua adalah menuntut karakter. Menuntut di sini bukan berarti kita menuntut anak untuk bersikap baik, tetapi lebih kepada mengaplikasikan dari pengertian yang didapat. Kita, yang artinya anak dan orang tua, diharapkan menjadi teladan karakter dalam setiap tingkatan. Tentunya saat mengaplikasikannya, bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saat terjadi hal yang tidak sesuai, kita hendaknya mengkoreksi sikap yang salah. 

Hal yang ketiga adalah menghargai karakter. Setiap kualitas karakter yang ditunjukkan oleh si anak patut untuk mendapatkan pujian walau mungkin hasil dari pekerjaannya belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Saat kita menghargai karakter anak, kita memuji karakter lebih dari keberhasilan. Dan ada kalanya karakter yang baik dipuji secara publik, sebagai bentuk apresiasi kita kepada si anak. 

Saya jadi teringat saat kakak mendapat misi dari kelas Sunday School untuk membuat satu kebaikan setiap hari. Saat malam hari, kakak berkata, "Ma, hari ini kakak kan tadi cuci piring. Berarti kakak sudah melakukan satu kebaikan." Mungkin kakak di kelasnya memberikan contoh ini kepada mereka. Mencuci piring memang hal yang biasa dilakukan Duo Lynns, bahkan biasanya mereka rebutan untuk mencuci piring orang lain juga. Jadi memang mencuci piring bukanlah suatu hal yang luar biasa di rumah kami. Oleh karena itu, ayah yang mendengar dari ruang tamu langsung menjawab bahwa itu memang hal yang sudah biasa dia lakukan dan memang wajar dilakukan oleh kita semua. Padahal hal ini dapat dianggap sebagai suatu kebaikan yang dapat dilakukan oleh anak-anak.

Seringkali kita, termasuk saya, lebih mudah menangkap hal yang salah dibanding hal yang baik yang dilakukan anak. Kita lebih cepat bereaksi terhadap suatu kesalahan yang mereka lakukan. Dan jika mereka melakukan yang baik, kita merasa itu adalah suatu keharusan. Oleh sebab itu, memuji perbuatan baik yang dilakukan anak juga merupakan hal yang penting dalam mengembangkan karakter. Anak merasa usahanya dihargai. Jangan sampai kita bereaksi terhadap kesalahan, tetapi tidak memuji kebaikan yang mereka lakukan.

Selain mengenai pujian, kami juga mendapatkan beberapa hal mengenai koreksi. Karena pada dasarnya manusia lebih mudah menemukan kesalahan, apalagi kalau kerjaannya berhubungan dengan mencari bug atau kutu, maka jika anak berulah kita akan lebih mudah bereaksi. Sebetulnya sih wajar agar anak tidak mengulangi kesalahan yang ada. Yang menjadi tidak wajar adalah cara kita bereaksi terhadi kesalahan mereka dan juga cara kita mengkoreksi kesalahan mereka. Oleh sebab itu, cara kita mengkoreksi suatu karakter pun harus dilakukan dengan cara yang berkarakter.

Saat kita mengkoreksi, kata-kata yang negatif haruslah dieliminasi. Kita harus bersikap tegas. Tegas tidak sama dengan kasar dan tegas tidak sama dengan berteriak (walau kalau emosi biasanya nada akan naik satu oktaf dengan sendirinya). Kita harus mampu mengendalikan diri supaya tidak menjadi marah. Saat kita bertindak dengan kemarahan, anak akan bereaksi dan hal ini akan memperlama proses koreksi.

Sebelum melakukan pengkoreksian, kita sebagai orang tua wajib menggali informasi atas apa yang si anak lakukan. Karena bisa saja pelanggaran dilakukan secara tidak sengaja. Jika memang tidak disengaja, maka kita dapat mengingatkan si anak agar tidak mengulanginya lagi. Cara bertanya pun tidak sekedar bertanya. Lebih dari sekedar menanyakan apa yang terjadi, tanyakan kepada si anak apa yang ia lakukan dan mengapa ia melakukan hal tersebut. Dengan demikian si anak akan menyadari dan menilai sendiri apakah tindakan yang dilakukannya pantas atau tidak. Harapannya adalah si anak bukan hanya menyesal setelah melakukan pelanggaran tetapi melakukan perubahan hati.  

Salah satu tugas kita sebagai orang tua adalah memberi tahu si anak bahwa ada akibat untuk setiap perbuatan yang mereka lakukan, termasuk atas setiap pelanggaran yang mereka lakukan. Sehingga setelah si anak menyadari kesalahan, baik disengaja atau tidak disengaja, ajaklah si anak untuk meminta maaf. Bukan sekedar berkata "Maaf ya", tetapi ajaklah anak meminta maaf atas kesalahan mereka seperti berkata "Maafkan saya karena merusak mainan kamu". Dengan demikian, si anak menyadari bahwa tindakan yang mereka lakukan salah, bukan sekedar dipaksa meminta maaf. Saat mereka meminta maaf, mereka belajar untuk bertanggung jawab, merendahkan diri mereka dan memulihkan hubungan dengan orang lain. 

Selain itu, pengkoreksian hendaknya dilakukan pada hari kita mendengarnya dan dilakukan secara pribadi. Jika pelanggaran mereka tidak segera dikoreksi, apalagi sampai berhari-hari, anak akan menganggap pelanggarannya adalah hal yang wajar. Segeralah menangani pelanggaran tersebut, tetapi jangan melakukannya di depan umum. Jika sedang di tempat umum, sebaiknya ajak anak ke pojokan dan ajaklah anak berbicara. Walaupun mungkin kita belum tahu tindakan apa yang akan kita ambil, namun jangan menunda untuk mulai melakukan pengkoreksian.

Apakah tugas kita selesai di situ? Tidak. Sebagai orang tua kita harus memahami perilaku anak kita dan mengobservasi akar sikapnya mereka. Dengan mengobservasi, kita dapat menemukan kualitas karakter apa yang kurang dan membantu anak untuk memperbaiki kekurangan mereka. Dan terkadang kita pun harus melakukan pendisiplinan. Saat melakukan pendisiplinan, pastikan yang kita lakukan bertujuan untuk memperbaiki dan bukan untuk sekedar membuat anak merasa bersalah ataupun sekedar menyatakan kesalahan. 

Bagi kami, sebagai orang tua, apa yang kami lakukan terhadap anak-anak kami bukan bertujuan untuk mengendalikan mereka dan membuat mereka menjadi teratur. Tujuan kami adalah untuk menanamkan prinsip-prinsip kebenaran ke dalam hati mereka. Prinsip-prinsip tersebut yang nantinya akan memimpin seluruh hidup mereka, untuk membentuk karakter mereka menjadi serupa denganNya, dan menjadi wanita dan pria yang mempunyai prinsip, kuat dan cakap untuk menghadapi setiap permasalahan dan tugas yang ada dalam hidup mereka. Kami melatih mereka, bukan mengendalikan. Anak-anak pun memahami saat mereka berbuat baik, bukan untuk nama mereka, tetapi agar orang melihat perbuatan mereka dan memuliakan namaNya. Bukankah pertumbuhan karakter, bukan sekedar sikap baik, merupakan tujuan dari setiap pengajaran di rumah?

Next: Penerapan Karakter dalam Keluarga

Artikel yang berhubungan: