Selasa, 17 Juli 2018

Enthusiasm Activities: Popping Up Your Spirit

Beberapa bulan lalu komunitas homeschool yang kami ikuti membahas karakter Enthusiasm atau antusias . Antusias didefinisikan sebagai mengekspresikan jiwa saya dengan sukacita atau dengan riang melakukan usaha yang terbaik dalam setiap tugas. Kata antusias berasal dari kata En yang artinya dalam dan Theos yang artinya Tuhan. Yang artinya Tuhan di dalam kita. Dengan kata lain, kita akan merasa antusias saat Tuhan ada di dalam kita.

Untuk memelajari karakter ini, kami melakukan beberapa aktivitas. Dan setelah itu, PIC kegiatan kali ini juga memberikan kegiatan yang dapat dilakukan di rumah sebelum nantinya kami membahas karakter ini di monthly meeting. Apa saja kegiatannya?
The Big Picture
1. The Big Picture
Salah satu aktivitas yang kami lakukan adalah dengan bermain The Big Picture. Di permainan ini, kami membuat puzzle sendiri, setelah itu meminta anak-anak untuk menyusunnya. Tentu saja acara menyusun puzzle ini berjalan dengan cepat. Setelah selesai, kami menjelaskan dua poin berikut.
- Jika salah satu bagian puzzle hilang, maka puzzle ini menjadi tidak lengkap. Ini menunjukkan bahwa setiap orang itu penting dan setiap orang dapat membuat perbedaan.
- Saat menghadapi permasalahan, terkadang kita tidak tahu apa yang akan terjadi di ujung dari permasalahan tersebut. Oleh karena itu, sangat penting untuk mempunyai sikap yang baik dan melakukan yang terbaik, bahkan saat kita tidak dapat melihat 'the big picture' . 

Antusias akan seperti hal yang kedua. Saat kita menghadapi suatu permasalahan, penting bagi kita untuk tetap memiliki karakter antusias dan melakukan yang terbaik. Bahasa sederhananya adalah: tidak patah semangat.
Popping up the popcorn
2. Membuat popcorn
Aktivitas ini bertujuan untuk membuat anak melihat proses pembuatan popcorn dan menarik korelasinya dengan karakter antusias. Di aktivitas ini, mama dan anak-anak akan membuat popcorn bersama. Saat membuat, anak-anak diminta mengamati proses dari jagung menjadi popcorn. Saat proses pembuatan, pastinya akan terjadi bunyi-bunyian. Antusias itu seperti biji jagung yang dipanaskan. Saat ‘dipanaskan’, antusias itu akan melonjak. Saat sukacita sedang ada dalam roh kita, sukacita tersebut begitu besar sehingga rasanya tidak dapat terbendung. Dan output dari rasa itu adalah kita menjadi orang yang antusias. Orang yang antusias pasti akan memberkati orang-orang di sekelilingnya.
Surat rahasia dari papa
3. Surat dari ayah 
Aktivitas berikutnya adalah surat dari ayah. Setiap ayah diminta untuk membuat surat yang berisi kata-kata yang mengingatkan anak-anak bahwa Tuhan mau kita jadi anak-anak yg antusias, karena Tuhan ada dalam kita. Surat ini menjadi seru karena papa membuat surat yang panjang, ditulis tangan pula. Saat anak-anak mendapatkan surat ini, mereka tersenyum senang. 
Enthusiasm Hi5
4. Enthusiasm Hi5
Aktivitas ini kami lakukan saat kami bertemu di monthly meeting.  Setiap anak membuat cetakan tangan mereka diatas sebuah kertas dan mengguntingnya. Kemudian diatas cetakan tangan mereka, mereka menuliskan kata-kata yang membuat mereka menjadi bersemangat, seperti brave girl, joy, atau smile

Dari aktivitas-aktivitas diatas, anak-anak diingatkan bahwa antusias juga berarti memberikan hati saya seutuhnya kepada pekerjaan yang saya lakukan. Mereka diingatkan bahwa dengan melakukan suatu pekerjaan dengan sepenuh hati, mereka tidak akan menggerutu ataupun rewel. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menunjukkan karakter antusias ini?
Enthusiasm Hi5 is in progress.

Selasa, 10 Juli 2018

Field Trip: Rainbow Warrior Ship Tour Greenpeace


Ada yang pernah mendengar Greenpeace? Greenpeace adalah salah satu organisasi yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup. Lembaga yang didirikan oleh pada tahun 1971 di Kanada ini awalnya bertujuan untuk menghentikan percobaan nuklir yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat. Namun setelah itu, lembaga swadaya ini mempunyai lebih dari 40 cabang di seluruh dunia. Pusat dari organisasi ini ada di Amsterdam, Belanda. Fokus dari kegiatan mereka adalah mengkampanyekan tindakan yang dapat menyelamatkan bumi ini dari kerusakan alam. Untuk kegiatan ini, mereka menggunakan tiga kapal yang berkeliling, yaitu Arctic Sunrise, Ezperanza, dan Rainbow Warrior
Clean energy and clean air
Lonceng penghias Rainbow Warrior generasi ketiga. 
Nah, bulan April kemarin, salah satu kapal mereka yang bernama Rainbow Warrior 'mangkal' di Tanjung Priok selama 6 hari. Mereka mengizinkan orang-orang untuk tour di dalam kapal mereka. Dalam satu hari mereka membuka dua sesi tour. Kami pun berencana untuk bermain ke sana. 

Walaupun untuk masuk ke kapal ini tidak dikenakan biaya, namun kita harus mendaftar secara online dan kita akan mendapatkan email bukti pendaftaran. Untuk mendaftar, prosesnya harus dilakukan satu persatu. Nampaknya animo masyarakat akan ship tour ini luar biasa besar. Hampir semua sesi sudah penuh. Akhirnya kami pun mendapatkan sesi hari Kamis pagi. Kali ini kelompok kami secara tidak sengaja mendapatkan sesi yang sama dengan ATII Homeschool. 
Hari Kamis pun tiba. Saat kami tiba di terminal penumpang Nusantara, antrian di pintu masuk sudah lumayan. Kami pun menyiapkan email bukti pendaftaran. Setelah petugas yang ada melihat bukti tersebut, mereka akan memberikan cap di tangan kita dan juga sticker sebagai cendera mata. Setelah itu kami melewati screening area. Setiap botol kemasan sekali pakai harus ditinggalkan, sebagai salah satu komitmen mereka akan ramah lingkungan.
Sticker Greenpeace 
Setelah memasuki screening area, kami berpikir kami tinggal masuk ke dalam kapal. Ternyata untuk masuk ke dalam kapal ini tidak bisa langsung sekaligus. Maka kami kembali mengantri. Walau ruangan yang kami masuki adalah ruangan ber-AC, tetapi karena banyaknya orang yang ada, maka udara di situ terasa panas sekali. Untungnya disekitar tempat mengantri disediakan kids corner. Anak-anak bisa duduk, menggambar, ataupun bermain dance floor.
Foto dulu sambil menunggu antrian 
Akhirnya tiba juga giliran kami untuk masuk ke dalam kapal. Kapal Rainbow Warrior memang bukan kapal besar, namun cukup kuat untuk menjelajah di lautan. Kami diajak untuk menuju bagian anjungan kapal. Di bagian ini ada satu awak kapal yang bersiap-siap untuk menjelaskan tentang isi di anjungan ini. Awak kapal ini berasal dari Kanada.
Penjelasan dari uncle  
Dimulai dari sejarah mengenai si kapal. Ternyata kapal yang kami miliki adalah kapal Rainbow Warrior yang ketiga. Kapal Rainbow Warrior yang pertama berlayar dari Inggris pada tahun 1978. Sayangnya, kapal ini hancur pada 1985 karena dibom oleh seorang agen rahasia Perancis. Saat itu, para aktivitas Greenpeace mendapat teror besar-besaran karena menentang percobaan nuklir Perancis yang dilakukan di Pulau Murora. Kapal itu digantikan dengan generasi kedua. Pada tahun 2011, Rainbow Warrior generasi kedua pensiun dan diganti dengan yang sekarang bertugas. Kapal generasi ketiga ini mulai beroperasi pada 14 Oktober 2011. Kapal generasi ketiga ini dibuat di Eropa dari donasi jutaan pendukung Greenpeace di seluruh dunia. Kapal ini berlayar menggunakan tenaga angin dengan memanfaatkan sistem tiang A-frame. Teknologi ini mampu menangkap angin lebih banyak ketimbang kapal konvensional berukuran sama dan tentunya lebih ramah lingkungan.
Kompas yang sudah tidak digunakan lagi 
Di anjungan ini juga ada patung kayu berbentuk lumba-lumba. Patung yang terbuak dari kayu oak ini merupakan sumbangan salah satu pendukung lingkungan di Jerman. Menurut si om, didalam rongga patung ini terdapat botol yang berisi pesan masa depan alias time capsule.
Patung lumba-lumba yang terbuat dari kayu oak. 
Di sini juga ada jangkar tua berwarna hitam dan kemudi kayu yang merupakan bagian dari kapal Rainbow Warrior yang pertama.
Liferaft Launching.
Ruang kemudi 
Setelah selesai, tepatnya dipaksa untuk selesai oleh panitia lokal, maka kami pun berpindah masuk ke ruang kemudi. Di ruang kemudi ini seorang awak kapal yang memang biasa bertugas di ruangan ini kembali menjelaskan isi dari ruangan ini. Isi ruangan ini cukup canggih sehingga membuat kami mengingatkan anak-anak jangan sampai menyentuh supaya tidak membuat hal yang tidak diinginkan.
Sambil mendengar penjelasan sambil mengamati peralatan di ruang kemudi 
Selanjutnya kami diajak oleh panitia lokal untuk berpindah ke bagian kabin. Bagian kabinnya tidak begitu besar tetapi dapat memuat penumpang hingga 30 orang. Biasanya di ruangan ini para aktivis Greenpeace menggunakan ruang ini sebagai ruang workshop. Di tempat ini mereka dapat melakukan rapat. Para panitia lokal memutarkan video tentang kegiatan Greenpeace dan mulai melakukan presentasi yang menjelaskan apa tujuan dari kapal ini berkeliling dunia. Mereka menjelaskan bahwa setiap kita dapat berpartisipasi dalam menjaga lingkungan hidup dengan cara menjaga lingkungan di sekitar mereka ataupun mendukung kegiatan Greenpeace.
Presentasi dari tim Greenpeace Indonesia. 
Selesai dari presentasi, kami menuju bagian buritan kapal. Di bagian ini, para aktivis Greenpeace Indonesia membuka tempat untuk donasi. Bagi yang ingin mendukung Greenpeace, karena mereka adalah lembaga swadaya, bisa langsung datang ke stand ini.
Pembuatan pin gratis bagi yang datang. 
Nah, Rainbow warrior biasanya berkunjung tiap tahun ke Indonesia. Berbekal dari pengalaman kami, berikut Tips berkunjung ke Rainbow Warrior.
1. Pendaftaran untuk dapat masuk ke dalam kapal ini harus dilakukan secara online. Jika ingin pergi berempat, maka kita harus mendaftar sebanyak empat kali (boleh dengan alamat email yang sama). Dan setelah itu, kita harus menunjukkan email yang menjadi bukti tanda masuk kita. Oleh sebab itu, setelah mendaftar, jangan lupa men-download bukti pendaftaran tersebut. 
2. Botol kemasan tidak diizinkan untuk dibawa masuk. Jadi sebaiknya bawalah botol minum biasa. Di dalam sana disediakan air galon untuk refill
3. Karena antri untuk masuk ke dalam kapal lumayan lama, sebaiknya sediakan cemilan untuk jaga-jaga kalau anak-anak kelaparan. 
4. Melihat hari biasa saja sudah ramai, disarankan sih untuk pergi di hari biasa dan bukan akhir pekan, kecuali sudah siap mental untuk ramai-ramai.
Apa yang dapat dipelajari anak-anak dari kunjungan ke kapal ini? Selain mereka dapat melihat bagian-bagian kapal, yang tentunya menarik karena anak-anak dapat melihat isi ruang kemudi dan setiap bagian di kapal, anak-anak belajar bahwa menjaga lingkungan hidup merupakan hal yang penting. Banyak kekacauan yang terjadi saat kita semaunya terhadap lingkungan di sekeliling kita.
Stampel kami...

Sekilas Informasi 
Rainbow Warrior Ship Tour Greenpeace 
Tanggal acara: 24 - 29 April 2018
Waktu: sesi 1: 09.00 - 12.00, sesi 2: 13.00 - 16.00
Tempat: Terminal Penumpang Nusantara, Pelabuhan Tanjung Priok




Sabtu, 30 Juni 2018

Sekali Lagi, Tentang Kurikulum ....


Kurikulum merupakan topik yang tidak pernah akan habis saat dibahas. Di dunia pendidikan di negara kita pun kurikulum dapat berganti dengan cepat. Saya sering sekali mendengar orang tua yang mengeluh karena kurikulum yang di sekolah membingungkan mereka selaku orang tua.

Bagaimana dengan homeschool? Dengan homeschool kita diberikan kebebasan untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kita. Namun ternyata dengan adanya kebebasan untuk memilih kurikulum ini tidak berarti tidak membingungkan homeschooler. Demikian juga dengan mama-mama yang ada di group kami. Walau anak-anaknya masih kecil, tetapi nampaknya mama-mama ini mulai berpikir jauh ke depan.

Setelah berbulan-bulan kebingungan akan kurikulum yang tepat, walaupun terkadang sudah dibahas baik japri ataupun di group whatsapp, kali ini kami kembali mengadakan playdate di Kidzooona. Tujuannya supaya mama-mamanya bisa ngobrol cantik tenang sementara anak-anaknya bisa main dengan tenang dan bahagia. Walaupun saya bukan expert, namun pastinya ada hal basic yang dapat digunakan saat membahas kurikulum.

Apa kesimpulan dari pembicaraan kami kali ini? 
1. Kurikulum diperlukan agar kegiatan belajar mengajar berjalan dengan baik.
Karena kami masih berada dalam topik pendidikan, tentu ada kurikulum yang akan kami pakai. Kurikulum yang tepat akan membantu si pengguna dalam mencapai tujuannya. Namun perlu diingat kurikulum bukan segala-galanya. Perpaduan yang tepat antara kurikulum dengan keunikan keluarga akan membuat kegiatan belajar mengajar berjalan lebih baik.

2. Kurikulum adalah alat dan bukan tuan.
Karena kurikulum adalah alat, maka harusnya kurikulum tersebut digunakan sebaik mungkin oleh kita, dan bukan kebalikannya. Jangan karena mengejar kurikulum, kita jadi lupa tujuan dan alasan mengapa kita memilih kurikulum. Oleh sebab itu jangan sampai kita 'diperbudak' dengan kurikulum. Lakukan sesuai dengan petunjuk tetapi lakukan juga beberapa penyesuaian sehingga kita tidak 'diperbudak' oleh kurikulum.

3. Pemilihan kurikulum disesuaikan dengan karakteristik setiap keluarga, yang berarti disesuaikan dengan si anak, gaya belajar, kemampuan si pengajar, dan budget yang ada.
Kebahagiaan kita sebagai homeschooler adalah dapat memilih kurikulum Seringkali kita melihat kurikulum yang dipakai si 'A' bagus, lalu kita mengikuti semua kurikulum yang dipakai oleh si 'A' tanpa mempelajarinya terlebih dahulu. Sebelum memilih, sebaiknya kita melihat keadaan keluarga kita terlebih dahulu.
Waktu saya memilih kurikulum, saya mencari data-data yang berhubungan dengan kurikulum-kurikulum yang ada, kemudian saya mempresentasikan kepada papanya anak-anak selaku pak kepala sekolah. Setelah itu baru kami memutuskan kurikulum mana yang akan kami pakai.

4. Jangan memindahkan sekolah ke rumah.
Homeschool atau home education atau home learning bukan berarti sekolah pindah ke rumah. Sekolah dibentuk dan dikerjakan oleh banyak orang yang mempunyai kemampuan berbeda-beda. Sedangkan dalam homeschool yang kita lakukan, orang tualah yang berperan banyak dalam pendidikan anaknya. Pastinya kita jadi lelah kalau kita berusaha memindahkan sekolah ke rumah karena memang itu bukan kapasitas kita.

5. Tentukan mana pelajaran yang utama dan mana pelajaran yang tambahan.
Sama seperti kita makan, tentunya kita mengajarkan anak-anak bahwa makanan yang utama harus didahulukan daripada cemilan. Memilih pelajaran pun kurang lebih seperti itu. Saat anak-anak masih kecil, saya dan papanya anak-anak berpikir bahwa anak-anak hanya perlu tahu tiga hal dasar, yaitu pengenalan akan Tuhan, melatih motorik, basic skill dan kreativitas. Oleh sebab itu sampai mereka umur empat, mereka belum kami ajarkan membaca ataupun berhitung secara langsung. Setelah anak-anak masuk usia TK, kami mulai menambahkan matematika dan bahasa, sesuai dengan kurikulumnya. Dan saat kakak masuk kelas 1, kami memutuskan untuk menambahkan science ke dalam pelajaran mereka. Padahal pelajaran kelas 1 pada umumnya pasti ada sejarah, geografi, dan pelajaran IPS lainnya. Menurut kami itu semua dapat dibaca. Namun hal mendasar seperti matematika dan science akan lebih baik diajarkan secara langsung sehingga mereka menangkap konsep. Jangan takut anak kita tidak bisa apa-apa. Semua ada waktunya. Intinya adalah jangan mengejar semua hal menjadi satu. Pilih sesuai umur. Toh kita homeschool kan?

6. Penyampaian bahasa sesuai dengan kurikulum yang disampaikan
Banyak yang bertanya apakah saat belajar harus menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Kalau menurut saya, sesuai dengan kurikulum yang digunakan. Jika kita menggunakan kurikulum berbahasa Inggris, ya saat jam belajar pun harus menggunakan bahasa Inggris. Kalau kita menggunakan kurikulum lokal, ya sampaikan dalam bahasa Indonesia. Kalau dicampur, tentu akan membuat lama proses belajar dan akhirnya anaknya tidak mencapai hasil yang maksimal. Jangan takut anak tidak akan mengerti. Anak mudah menangkap bahasa selama kita konsisten. Logikanya kan jika anak bisa menonton film bahasa Inggris dan mengerti ceritanya, maka tidak akan percuma kalau kita menyampaikan kebenaran dalam bahasa Inggris. Hal ini juga berlaku untuk sebaliknya.

7. Jangan mengganti kurikulum di tengah-tengah.
Biasanya rumput tetangga lebih hijau dari rumput kita. Artinya, kurikulum yang dipakai teman akan terlihat menarik saat kita mengalami kendala dengan kurikulum kita. Saat menggunakannya, jangan langsung berganti kurikulum lainnya. Cobalah untuk tetap menggunakannya.
Selain itu, saya lebih menyarankan untuk setia kepada satu kurikulum untuk satu mata pelajaran dalam satu tingkatan. Misal, untuk Science SD kelas 1 kita menggunakan kurikulum A. Lalu kita merasa kok anak si anu sudah bisa ini padahal kelasnya sama. Maka kita langsung mengganti buku pelajaran anak kita dengan kurikulum B. Akibatnya akan ada materi yang hilang. Saya lebih menyarankan mengambil kurikulum A untuk Science SD dan menggantinya saat berpindah ke SMP. Kalau ternyata banyak yang tidak cocok bagaimana? Oleh sebab itu, pemilihan berdasarkan poin tiga diatas sangatlah penting. Kalau yang poin 3 sudah dijalankan, penggantian kurikulum di tengah-tengah akan kecil kemungkinannya.

8. Harus ada tarik ulur antara belajar mandiri dengan mengajarkan materi.
Dalam pemilihan kurikulum homeschool, banyak yang memilih kurikulum yang lebih membuat anak belajar mandiri sehingga tidak menyusahkan si pengajar. Hal ini tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Kita harus dapat memilah materi mana yang memang bisa dilepaskan untuk si anak belajar mandiri (baik secara langsung atau melalui soal-soal) dan materi mana yang harus diajarkan supaya konsep suatu materi tidak salah. Ingatlah bahwa jawaban yang benar atas suatu soal bukan berarti si anak menangkap konsep dengan benar. Yang kita inginkan adalah proses yang benar, bukan hanya hasilnya.

9. Rajin-rajinlah melakukan research atau berkunjung ke keluarga yang sudah menggunakan kurikulum yang ingin kita lihat.
Supaya kita tidak terlalu kelimpungan saat menggunakan kurikulum, dan supaya kita jangan memilih kucing dalam karung, korbankanlah waktu kita untuk searching dan melakukan research. Ada banyak contoh isi materi pelajaran yang dapat kita temukan saat bertanya pada mbah Google. Atau jika kita ingin yakin dan melihat langsung, kita dapat berkunjung ke keluarga yang memiliki kurikulum yang ingin kita lihat.

10. Penyertaan Tuhan yang menjadi kekuatan saat penggunaan kurikulum terasa berat.
Ujung-ujungnya ya memang selalu ini. Karena memang kita sebagai manusia pasti ada masanya lelah alias hayati lelah. Oleh sebab itu, ingat selalu bahwa penyertaan Tuhan dan perkenananNya saja yang memampukan kita.

Acara curhat tentang kurikulum ini diakhiri dengan main bersama. Saya sungguh bersyukur untuk mama-mama yang walau bingung tetap bersemangat untuk mendidik anak mereka sendiri. Mereka mengambil tanggung jawab ini dengan serius, walau dalam perjalanannya terkadang ada kendala. Semangat moms. Mari kita berjalan bersama :)

Untuk bahasan lain mengenai kurikulum dan homeschool, silakan klik link berikut ini.
Eksis dulu sebelum pulang...

Jumat, 15 Juni 2018

Craft: DIY Foldable Doll House


Siapa yang suka main rumah-rumahan untuk boneka? Saya juga suka. Rasanya setiap anak suka bermain rumah-rumahan. Apalagi kalau rumah-rumahannya dapat dibuat sendiri. Sudah berkali-kali anak-anak bilang mau buat rumah-rumahan untuk bonekanya. Dengan dungeon door pun boleh, kata mereka. Sayangnya mamanya belum bersedia karena bingung mau disimpan dimana rumah-rumahan itu.

Nah, bulan April kemarin, saat pertemuan per wilayah, auntie C yang sangat kreatif mengajak anak-anak untuk membuat rumah-rumahan untuk boneka. Anak-anak belum tahu bahwa auntie C akan mengajak mereka membuat rumah boneka. Jika mereka mengetahuinya dari awal, kebayang dong senangnya dan rusuhnya mereka.
Rumah Boneka karya auntie C 
Pertemuan dimulai dengan memperkenalkan tentang Earth Day. Anak-anak diajari bahwa kita dapat menjaga bumi ini dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan barang-barang secukupnya, menggunakan air dan listrik secukupnya, dan daur ulang dari barang yang ada. Karena masih dalam rangka Earth Day, anak-anak diajak untuk membuat rumah dengan menggunakan kertas-kertas bekas yang masih dapat dipakai.
Auntie C dikermunan anak-anak.
Setiap anak mendapatkan 4 kertas bekas yang dapat dilipat dan dibuat menjadi rumah yang terbagi menjadi empat bagian. Ada juga kertas warna-warni, kain perca, dan alat-alat lainnya yang dapat digunakan untuk melapisi ’dinding’ ataupun sebagai karpet. Anak-anak dibebaskan berkreasi dan berimajinasi.
4 kertas bekas yang siap diubah menjadi doll house :) 
Lipat melipat sudah dimulai
Yang membuat saya terkagum, rumah boneka yang diajarkan auntie C ini dapat dilipat dan tidak makan tempat. Jadinya lebih hemat tempat. Anak-anak pun mewarnai perabotan yang mereka ingin letakkan di dalam rumah. Sedangkan untuk anak laki-laki disediakan template untuk membuat stasiun kereta api. She is soooo creative, isn't she?
The boys with their train station.
Jadilah doll house kakak.
Memang acara membuat rumah boneka ini lumayan lama, namun anak-anak dengan senang hati menunggu yang lainnya selesai. Mereka belajar bahwa saat melakukan kegiatan bersama terkadang mereka harus rela menunggu teman mereka.
Tangga hasil imajinasi kakak.
Rumah untuk tsum-tsum, lengkap dengan tangga untuk menuju lantai 2.  
Pertemuan kami kali ini diakhiri dengan berenang bersama. Thank you auntie C untuk rumah boneka dan waktunya :)

Sabtu, 09 Juni 2018

Security: My Worry Hat


Apakah ada dari mama-mama semua yang anaknya terkadang gloomy saat bangun tidur? Saya ada, yaitu adik. Kadang-kadang adik bangun dengan cranky dan ada aja yang dia rewelin. Entah ini karena sindrom anak kedua atau entah karena salah bantal, tetapi hal ini kadang membuat pagi hari kami jadi agak panas.

Kami merasa hal ini karena terlalu banyak hal yang dia kuatirkan. Maklum, sebagian orang (bukan orang tuanya) kadang suka membandingkan dia dengan kakaknya. Jadi ada banyak hal yang membuat dia merasa kuatir dan juga tidak secure. Dan pas di bulan April kemarin, kami membahas karakter security atau aman.

Security atau aman didefinisikan sebagai dengan membangun hidup dengan hal-hal yang tidak dapat dihancurkan atau direnggut. Maksudnya adalah jika kita membangun hidup kita dengan hal-hal yang tidak tergoyahkan, niscaya kita akan merasa aman. Hal-hal yang tidak tergoyahkan ini tentunya bukan bersumber pada hal-hal yang dapat habis atau benda yang terlihat di depan mata, tetapi bersumber pada sesuatu yang bersifat kekal. Saat kita tahu Tuhan yang berdaulat atas hidup kita, maka kita akan merasa aman di dalamNya.

Untuk menyampaikan hal ini kepada anak-anak, pastilah tidak semudah yang kita bayangkan. Akan ada rasa kuatir atau cemas yang akan muncul walaupun mereka sudah tahu Tuhan mengasihi mereka dan mereka aman di dalam lindunganNya. Hal ini wajar, karena bukan hanya anak-anak, tetapi kita sebagai orang dewasa sering merasa tidak aman, baik karena masa lalu kita, ketakutan-ketakutan kita, dan juga kekuatiran-kekuatiran kita. Bahkan segala hal itu akan muncul saat kita hendak tidur. Dan akibatnya bangun pagi pun dimulai dengan rewel.

Untuk membuat anak-anak melepaskan kekuatiran mereka, kami pun mengadakan aktivitas 'worry hat' setiap malam sebelum kami tidur. Worry hat merupakan kegiatan menggunakan topi sebelum tidur dengan tujuan agar anak melepaskan segala rasa kuatir mereka, dengan harapan saat mereka bangun, mereka bangun dengan tenang dan tidak cranky. Tentunya bukan topi ini yang melepaskan ketakutan mereka, tetapi kegiatan ini menjadi simbol mereka melepaskan kekuatiran mereka sebelum mereka tidur.

Jadi biasanya setelah kami melakukan saat teduh keluarga dan doa sebelum tidur, saya membuatkan topi dari kain. Kemudian topi ini diletakkan diatas kepala anak-anak. Lalu biasanya saya mengatakan 'letakkan semua hal yang membuat kalian kuatir, kalian takut ke topi ini.' Lalu saya menghitung sampai sepuluh, sesudah itu saya kebaskan topi dari kain tersebut sambil bernyanyi
'Tuhan angkat worry-ku (cranky-ku) dan buang ke laut, byur
Buang ke laut, byur
Buang ke laut'
Dan ajaibnya, aktivitas ini cukup berhasil membuat anak-anak, terutama adik, bangun dengan senyum. Ya setidaknya, cranky-nya diundur agak siangan. Bahkan saat dia mau memulai rewel di pagi hari, saat diingatkan bahwa semua kuatir kan dibuang ke laut, adik pun tidak jadi rewel.

Adik sempat bertanya jika worry dibuang ke laut, bagaimana Nanti kalau laut penuh dengan worry kita. Hmm... Kan lautan kasih Tuhan. Kasih Tuhan mengalahkan segala kekuatiran yang ada dan mengubahnya menjadi sukacita :)

Rabu, 30 Mei 2018

Percobaan Keberanian: Menghancurkan Ketakutan


Karakter boldness menjadi bahasan kami di bulan Maret kemarin. Namun aktivitas mengenai karakter ini baru sempat dituangkan dalam tulisan. Boldness atau keberanian didefinisikan sebagai suatu keyakinan bahwa apapun yang saya katakan atau lakukan itu benar, tepat, dan adil di mata Tuhan. Kita berani karena kita tahu apa yang kita lakukan memang benar. Jadi boldness bukan hanya berani saja, tetapi berani yang berdasarkan pada kebenaranNya.

Saat memelajari karakter ini, kami pun membahas juga lawan dari berani, yaitu takut. Dalam hidup ini banyak hal yang terkadang membuat kita takut. Kali ini, aktivitas yang dilakukan berhubungan dengan bagaimana membuang rasa takut. Percobaan kali ini harus didampingi orang dewasa karena menggunakan larutan aseton.

Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Styrofoam 
2. Spidol
3. Wadah keramik atau kaca (jangan menggunakan wadah plastik, kertas, ataupun wadah styrofoam).
4. Aseton (dapat menggunakan penghilang kutex).
Perlengkapan yang diperlukan
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. 
1. Gunting styrofoam tersebut menjadi beberapa bagian.
2. Diatas styrofoam yang sudah digunting tadi, tulislah hal-hal yang menjadi ketakutan kita. Bisa saja takut kalau gelap, atau takut kalau sendirian, atau ketakutan apapun. Styrofoam ini melambangkan setiap hal yang menjadi ketakutan kita.
Ketakutan anak-anak.
3. Isilah wadah dengan sedikit cairan aseton. Aseton ini melambangkan Firman Tuhan yang diisi ke dalam hati kita. 
4. Larutkan Styrofoam yang sudah ditulis tadi. Styrofoam tersebut akan langsung larut ke dalam aseton tersebut.
Aseton melarutkan styrofoam.
Secara science, styrofoam mengandung banyak molekul kecil yang disebut monostyrene yang bergabung menjadi satu. Sedangkan aseton mengandung unsur yang dapat mematahkan ikatan di dalam styrofoam. Tidak heran saat styrofoam dimasukkan ke dalam larutan aseton, styrofoam tersebut langsung larut.

Refleksi dari eksperimen kali ini adalah jika hati kita diisi firman Tuhan, maka saat ketakutan itu datang, kebenaran firman Tuhan yang mematahkan rasa takut tersebut. Nah permasalahannya, bagaimana kita dapat mematahkan rasa takut jika hati kita tidak diisi firman Tuhan? Itulah sebabnya penting sekali sejak dini untuk mengisi anak-anak ini dengan kebenaran firman Tuhan, karena kebenaranNya tidak akan membawa orang dalam kehancuran. Dan itu tentu saja membutuhkan peran orang tua.

Aktivitas ini pun mengingatkan saya untuk tidak memegang rasa takut. Namanya orang tua, banyak hal yang menjadi ketakutan. Dari urusan rumah, pekerjaan, pelajaran anak, masa depan anak, dan sebagainya. Apalagi melihat hal-hal yang belakangan terjadi. Kita hanya perlu tenang dan tahu ada Tuhan yang memegang kendali atas hidup kita.
Be still and know that I am God (Psalm 46 : 10)

Kamis, 24 Mei 2018

Experiment: How to make storm?

Atas: Tornado. Bawah: Hurricane. Foto dari berbagai sumber.
Salah satu materi yang dipelajari kakak dipelajaran Science adalah tentang badai atau storm. Badai bukan sekedar perputaran angin yang kencang, tetapi badai dapat dianggap sebagai suatu keadaan cuaca yang ekstrim. Jadi yang termasuk badai bukan hanya angin puting beliung atau tornado saja, tetapi bisa juga badai salju, hujan es, hingga badai pasir. Dampaknya pun bisa bermacam-macam, dari benda-benda beterbangan, pohon tumbang, bahkan hingga rumah yang hancur. 

Kenapa dapat terjadi badai? Badai terjadi karena udara yang panas bertemu dengan udara yang dingin. Jadi perbedaan antara dua suhu yang terlalu jauh. Lokasi terjadinya pertemuan mereka pun mengakibatkan badai yang berbeda. Seperti hurricane atau angin topan adalah badai angin yang terjadi diatas samudra. Sedangkan tornado atau angin puting beliung adalah badai angin yang terjadi di atas dataran yang panas. Bentuk tornado seperti udara yang berputar. 

Untuk memperjelas pelajaran ini bagi anak-anak, kami melakukan percobaan. Bahan-bahan yang diperlukan: 
- mangkok yang berisi air panas yang mendidih
- Freezer
Mangkok yang berisi air mendidih
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
- Masukkan mangkok yang berisi air panas tersebut ke dalam freezer.
- Amati perubahan yang terjadi. Udara diatas mangkok yang berisi air panas tersebut akan berputar dan membentuk badai.

Karena permukaannya yang tidak besar, udara berputar yang dihasilkan dari percobaan ini tidak berputar seperti tornado. Namun anak-anak dapat melihat adanya udara yang berputar. 
Storm dalam lingkup kecil.
Bagaimana jika ada badai? Sebisa mungkin menjauhi badai tersebut. Namun jika tidak dapat, carilah tempat perlindungan yang kokoh, sehingga kita tetap aman. Tetapi tetap doanya semoga kita terluputkan dari badai apapun :)