Selasa, 18 Juli 2017

Craft: Marshmallow Mouth


Bulan lalu kami membahas tema karakter self control atau pengendalian diri. Pengendalian diri didefinisikan sebagai ketaatan seketika terhadap tanda awal yang diberikan oleh Roh Kudus. Bahkan di Alkitab dikatakan orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya seperti kota yang rubuh dan tanpa tembok. Dapat dibayangkan jika suatu kota tidak mempunyai tembok, berarti kota tersebut mudah diserang musuh dan dikuasai oleh musuh (itulah alasannya China membangun Great Wall, untuk melindungi negara dari serangan musuh).

Bahasa isyarat mengenai pengendalian diri pun mengggambarkan bahwa sesuatu yang mau dikeluarkan, tetapi ditarik kembali. Saya mencoba menjelaskan bahwa saat kita hendak marah, tetapi karena kita mau taat kepada Tuhan, maka kita tarik kembali marahnya. Tentunya menerangkan mengenai pengendalian diri akan lebih mudah daripada mengaplikasikannya. Dan saat menerangkan kepada anak-anak, kami sebagai orang tua yang terlebih dahulu dikoreksi oleh Tuhan. Maklum, kadang sebagai orang tua, kami suka khilaf.

Salah satu aktivitas yang diberikan dari tema karakter tersebut adalah membuat Marshmallow Mouth atau Mulut Marshmallow. Kebetulan kami masih mempunyai marshmallow. Bahan-bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut.
1. Piring untuk alas, kami menggunakan piring plastik
2. Mini marshmallow warna putih
3. Kertas warna merah muda
Bahan-bahan yang dipakai
Adapun langkah-langkahnya adalah:
1. Buatlah bentuk hati dan lidah di atas kertas merah muda dan guntinglah bentuk tersebut.
2. Diatas hati, tuliskanlah a heart for Jesus. Diatas lidah, tuliskanlah a tongue for Jesus.
3. Letakkan hari dan lidah di tengah-tengah piring.
4. Susunlah mini marshmallow putih mengelilingi hati dan lidah tersebut, seperti gigi yang ada dalam mulut kita. 

Apa sih maknanya? Salah satu cara kita mengendalikan diri adalah dengan mengendalikan mulut kita dan juga perkataan kita. Dari hati yang baik akan keluar perbendaharaan yang baik. Oleh sebab itu, kita menuliskan kata-kata tersebut diatas hati dan lidah. Marshmallow tersebut akan disusun seperti gigi kita. 

Kenapa menggunakan marshmallow? Alasan gampangnya karena sumber aktivitasnya dari luar negeri dan marshmallow gampang dicari di luar negeri. Hehehe. Tetapi memang mini marshmallow putih ini akan berbentuk seperti gigi saat disusun. Dan pemilihan marshmallow memang ada tujuannya. Marshmallow yang empuk dan manis ini begitu mudah masuk ke dalam mulut anak kecil. Sambil meletakkan marshmallow tersebut, anak-anak dilatih untuk mengendalikan diri mereka untuk tidak memakan marshmallow tersebut. Bagi anak kecil, mengendalikan diri mereka untuk tidak makan sesuatu yang mereka suka adalah hal yang cukup menantang. Bagi Duo Lynns, marshmallow adalah makanan yang wah, karena jarang sekali mereka makan. Jadi mereka belajar mengendalikan diri mereka untuk tidak makan saat membuat.

Selesai menyusun ini semua, saya menjelaskan bahwa mulut ini merupakan pengingat bahwa kita tidak dapat mengendalikan lidah dan pikiran kita. Tetapi jika kita memberikan hati dan pikiran kita kepada Yesus dan mengizinkan Ia mengubah pikiran dan motivasi hati kita, maka kita akan mengatakan kata-kata yang benar dan kita akan mengasihi sesama kita. 

Di akhir kegiatan, saya memuji pengendalian diri anak-anak untuk tidak memakan marshmallow tersebut saat aktivitas berlangsung. Dan mereka boleh memakan marshmallow tersebut di akhir minggu nanti, dan boleh berbagi dengan saudara-saudara mereka. 
He that hath no rule over his own spirit is a like a city that is broken down, and without walls~ Proverbs 25:28

Jumat, 14 Juli 2017

Review Pathway Readers


Memahami suatu cerita dalam bahasa Inggris dapat menjadi hal yang susah bagi beberapa orang. Mengapa? Alih-alih dalam bahasa Inggris, menjawab pertanyaan mengenai bacaan dalam bahasa Indonesia saja sudah membuat kita pusing. Apalagi menjawab dalam bahasa orang lain. Itu sebabnya saat kami harus memilih kurikulum untuk pelajaran bahasa Inggris, kami cukup berpikir panjang dan lebar, berbeda jika dibandingkan saat kami mengambil kurikulum untuk matematika ataupun science. Setelah berkunjung ke keluarga homeschool lainnya dan melihat beberapa buku pelajaran bahasa Inggirs, dari yang children friendly dan colorful sampai ke yang hitam putih, serta membaca review dari penerbit, maka kami memilih untuk menggunakan Pathway Readers

Pathway readers merupakan buku yang ditulis untuk anak-anak Amish di sekolah Amish. Amish sendiri merupakan salah satu komunitas di Amerika yang menarik diri dari dunia luar. Mereka berpenampilan tertutup dan sebagian dari mereka masih menggunakan kereta kuda. Di Pennsylvania komunitas ini lumayan banyak dan kelompok ini terkenal memegang teguh nilai-nilai mereka. Program Pathway Readers menggunakan pendekatan tradisional untuk mengajarkan phonics dengan menggunakan workbook dan bacaan. Walaupun ditulis untuk anak-anak Amish, Pathway Readers tidak mempromosikan doktrin Amish. Bacaan mereka juga bagus untuk dibaca oleh kita, yang bukan kaum Amish, yang mencari literatur berbasis nilai-nilai yang biblikal.

Secara garis besar, Pathway Readers dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian:
1. Pre-School/Grade 1: menggunakan workbook "Learning Through Sounds" yang mengajarkan phonics, warna, kemampuan mencocokkan, dan kemampuan kesiapan membaca.
2. Grade 1 - 3: di bagian ini anak-anak diperkenalkan dengan bacaan dan kemampuan mereka untuk memahami bacaan mulai dibangun. Cerita yang ada menceritakan tentang kehidupan keluarga petani di komunitas Amish. Cerita yang disampaikan cukup menarik dan mudah dipahami. Di grade-grade ini anak juga diperlengkapi dengan phonics, vocabulary, dan reading comprehension melalui workbook mereka. Awalnya mungkin anak harus sering didampingi, tetapi seiring dengan kemampuan membaca mereka yang meningkat, disarankan anak-anak untuk belajar secara mandiri. Tentu saja sebagai pengajar kita harus memastikan bahwa anak menangkap inti-inti yang penting dari cerita tersebut. 
3. Grade 4 - 8: di bagian ini anak-anak diperkenalkan dengan puisi dan literatur klasik. Workbook pun tetap ada dan anak-anak diminta untuk memahami puisi yang ada.

Judul buku-buku bacaan dalam Pathway Readers adalah sebagai berikut.
Grade 1 (2 buku): Days Go By dan More Days Go By
Grade 2 (3 buku): Busy Times, More Busy Times, dan Climbing Higher
Grade 3 (2 buku): New Friends dan More New Friends
Grade 4: Building Our Lives
Grade 5: Living Together
Grade 6: Step by Step
Grade 7: Seeking True Values
Grade 8: Our Heritage

Jika dilihat, buku yang ada hanya sampai grade 8 dan memang Pathway Readers menyediakan buku-buku untuk 8 tingkat pendidikan. Mengapa hanya sampai grade 8? Karena kaum Amish hanya sekolah sampai grade 8, setelah itu mereka dipersiapkan untuk berkarya di dunia nyata. Walaupun demikian, materi yang disampaikan sama dengan materi SMA di kurikulum lainnya. Dan karena kami menggunakan CCC, maka kami dapat langsung lompat menggunakan grade 2. Namun kami tetap menggunakan Learning Through Sounds sebagai masa transisi dari CCC ke Pathway Readers. Sedangkan untuk mendapatkan satu paket pembelajaran Language Art, penggunaan Pathway Readers dapat diperlengkapi dengan Climbing to Good English (review-nya akan segera ada) sebagai kurikulum untuk grammar-nya. 

Kenapa kami memilih Pathway Readers? Ada beberapa alasan yang menurut saya merupakan kelebihan dari Pathway Readers ini.
- Setiap cerita, puisi, dan pilihan bacaan mendorong anak-anak untuk memiliki karakter Ilahi dan nilai-nilai moral yang baik dengan penyampaian yang sederhana melalui kegiatan-kegiatan sehari-hari di rumah.
- Pendekatan yang kuat terhadap phonics pada saat tingkat awal. 
Pathway Readers memperkenalkan banyak kosa kata baru kepada anak-anak dan pelajaran vocabulary building
- Setiap pertanyaan yang ada di setiap bacaan membantu anak membangun kemampuan reading comprehension mereka.
- Ada kunci jawaban yang membantu orang tua memahami materi ini dan juga inti value yang harus ditangkap oleh anak-anak saat mereka selesai membaca cerita yang ada.
- Harga buku yang relatif murah dan lembar kerja yang hitam putih sehingga dapat difotokopi.

Di antara semua kelebihan tersebut, buku ini juga mempunyai kekurangan, yang menurut saya bukan faktor utama. Buku ini sangat klasik. Bukan hanya ceritanya, tetapi buku ini menggunakan font yang cukup membosankan bagi beberapa orang, walaupun font-nya tidak membuat mata lelah saat membaca. Belum lagi tidak seperti buku anak-anak yang penuh gambar dan berwarna, gambar hanya diberikan sebagai ilustrasi. Jadi dalam satu cerita, paling hanya ada satu atau dua gambar hitam putih. Kebayang dong kenapa buku ini sangat klasik :D

Walaupun demikian, saat kakak melihat buku ini, kakak langsung duduk manis saat melihat buku ini. Saat itu usia kakak sekitar 4 tahun, yang biasanya anak usia segitu kan mencari buku bergambar. Kakak dengan tenang membalik setiap halaman dan hal ini membuat kami berpikir jika anaknya suka, saya sebagai ibunya akan mencoba menyukai buku ini juga. Dan ternyata saya semakin hari semakin menyukai buku ini. Penyampaian cerita karakter dalam kisah yang mudah dimengerti oleh anak-anak ini dan hal ini membantu saya untuk menunjukkan kepada anak-anak bagaimana membangun karakter mereka.

Buku ini dapat dicari secara online atau juga langsung ke website www.pathwayreaders.com

Rabu, 05 Juli 2017

Cooking: Pizza Time with Chef Papa :)


Pizza adalah salah satu makanan favorit kami sekeluarga. Bahkan karena kami suka sekali makan pizza, saat kami berkunjung ke tempat tantenya Duo Lynns, kami selalu diajak mengunjungi all you can eat pizza sehingga kami dapat makan pizza sepuasnya. Menarik bukan? Andai di sini juga ada, pasti akan banyak penggemarnya. 

Saat di rumah pun, biasanya kami membeli pizza base lalu menaruh topping yang kami inginkan dan memanggangnya. Lama-lama si papa penasaran untuk membuat adonan sendiri. Rencananya adalah membuat pizza bersama-sama anak-anak. Tapi apa daya karena kesibukan papa, maka berbulan-bulan rencana ini batal. Akhirnya rencana ini berhasil dieksekusi pada liburan ini.

Membuat adonan pizza ternyata tidak begitu susah, tetapi membutuhkan kesabaran untuk menunggu adonannya mengembang. Duo Lynns tidak sabar karena mereka pengen segera me-roll adonan tersebut seperti mainan mereka. Tetapi ini menjadi kesempatan kami untuk mengajarkan mereka tentang sabar. Kalau kita tidak sabar, maka adonannya tidak akan mengembang dengan sempurna. Dan jika tidak mengembang dengan sempurna, hasilnya belum tentu bagus.
Adonan yang mulai mengembang.
Sambil menunggu, papa menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, sesuai dengan isi kulkas. Untuk anak-anak, isinya hanya tomato paste, keju mozarela, sosis, dan zaitun. Sedangkan untuk kami, saya memilih memberikan gojujang sebagai pengganti tomato paste dan menggunakan kimchi dan keju mozzarella sebagai topping. Dan untuk memudahkan proses pembersihan, kami melapisi bagian meja yang akan digunakan dengan plastik tipis atau cling wrap.
Bahan-bahan yang akan digunakan sebagai topping.
Adonan yang sudah dibagi 3. 
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pertama anak-anak diminta untuk me-roll adonannya dengan rolling pin atau penggiling adonan. Me-rolling ini pun ada seninya. Setelah adonan menjadi lebih lebar dan tipis, adonan tersebut dipindahkan ke atas baking paper supaya mudah diangkat. Langkah berikutnya adalah memberikan tomato paste ke atasnya hingga rata. Setelah itu anak-anak boleh memberikan topping ke atasnya.
Roll on the dough....
Pizza yang sudah siap untuk dipanggang
Urusan berikutnya adalah memanggang. Untuk memanggang, hanya papa yang mengerjakannya sementara kami membereskan meja. Lamanya pemanggangan kurang lebih 15 menit. Sambil menunggu, kami membereskan meja dan setelah itu Duo Lynns mandi. Saat mereka turun, pizza mereka sudah siap untuk dimakan. Cepat sekali bukan?

Pada aktivitas kali ini saya hanya menjadi juru foto. Mengapa? Karena judulnya adalah cooking time with Chef Papa. Bagi kami ini merupakan salah satu cara anak mempunyai quality time bersama ayah mereka. Tentu saja namanya bapak-bapak terkadang kurang sabar, tetapi anak-anak tetap tahu bahwa quality time bersama ayahnya adalah sesuatu yang berharga dan akan selalu diingat oleh anak-anak.
Pizza kakak
Apakah pizzanya enak? Bagi kami tentu saja enak karena dibuat dengan cinta. Lain kali topping-nya dapat ditambah nih :)
Kimchi Pizza yummy....

Kamis, 15 Juni 2017

Craft: Punctuality Clock

Punctuality clock
Bulan lalu kami kembali membahas salah satu karakter, yaitu punctuality. Punctuality berarti tepat waktu. Awalnya kami berpikir tepat waktu bukan karakter, tetapi masalah kebiasaan. Kami terbiasa untuk tepat waktu. Tetapi kami baru tahu bahwa tepat waktu adalah salah satu karakter. Mungkin karena orang yang tepat waktu adalah orang yang menepati janjinya. Dan tentu saja orang yang seperti ini dapat diandalkan. Bagi kami ini adalah hal yang penting, karena kami termasuk tipe orang yang tidak suka dengan yang namanya jam karet. Jadi kami terbiasa untuk pergi lebih awal supaya tidak terlambat. Duo Lynns pun dibiasakan untuk jadi orang yang tepat waktu. Mereka bisa panik jika sudah dekat jam untuk ketemu tetapi kami masih di jalan karena kami terjebak macet. 

Anyway, salah satu kegiatan yang ada saat membahas karakter ini adalah membuat punctuality clock. Dasar berpikirnya adalah bagaimana mungkin seseorang dapat tepat waktu jika orang tersebut tidak tahu jadwal dirinya setiap hari. Dengan membuat jam ini, anak-anak dapat belajar menyusun jadwal mereka dan jadi tepat waktu dengan setiap jadwal yang ada. 

Bahan-bahannya adalah sebagai berikut. 
1. Piring plastik atau piring kertas
2. Paku pin
3. Kertas kecil sebanyak 12 buah
4. Bantalan dari styrofoam atau apapun
5. Double tape
6. Kertas berbentuk anak panah panjang dan pendek sebagai jarum jam
Bahan-bahan yang diperlukan
Langkah-langkahnya adalah:
1. Lipatlah kertas kecil yang ada menjadi 2 bagian. Dibagian yang luar, tulislah angka pada jam (1, 2, 3,..., 12). Sedang untuk bagian dalam kertas dapat diisi dengan aktivitas yang akan dilakukan pada jam itu. Misal jam 12 siang adalah makan siang. 
3. Tempelkan kertas - kertas tersebut ke piring kertas dengan menggunakan double tape
4. Lubangi piring tersebut di bagian tengah dengan menggunakan paku pin. 
5. Untuk jarum jamnya, tancapkan paku pin pada bagian yang tidak ada bentuk arah panahnya kemudian tancapkan ke lubang yang ada di piring. 
6. Untuk mencegah paku pin ini mudah copot, dibagian belakang paku ditusukkan styrofoam sebagai bantalan. 
Jam hasil karya anak-anak
Aktivitas pada setiap jam dapat diisi dengan kata-kata ataupun dengan gambar. Apa manfaat dari jam ini? Selain anak-anak belajar tentang waktu, mereka pun terbiasa membuat jadwal kegiatan mereka dan melatih mereka untuk menjadi anak-anak yang tepat waktu, yang berarti mereka menghargai waktu dan memanfaatkan setiap waktu dengan baik :)
To everything there is a season, A time for every purpose under heaven (Ecclesiastes 3 1)

Jumat, 09 Juni 2017

Your Legacy matters

Bulan lalu kami mengadakan homeschool meeting per 3 bulan atau triwulan. Berbeda dengan Mom n Kids Meeting yang diadakan setiap bulan, di pertemuan triwulan ini diharapkan ayah-ayah dapat datang dan orang tua diperlengkapi. Pada pertemuan triwulan kemarin, kami diperlengkapi oleh keluarga Badudu. Kami bersyukur untuk waktu yang disediakan bagi kami, di tengah kesibukan beliau-beliau ini. Tema yang diangkat kali ini adalah mengenai Father’s Legacy atau jika diterjemahkan menjadi Warisan Ayah. Berikut adalah sedikit ringkasan dari pertemuan kami saat itu. Tentu saja mendengar langsung dari yang bersangkutan akan lebih enak dan lengkap. Artikel ini dibuat supaya kami mudah untuk menyimpan catatan kami, dan juga gagasan yang muncul saat mendengarkan beliau, dalam bentuk elektronik dan dalam bahasa kami. 

Topik warisan memang selalu hangat dan sedang hangat-hangatnya dibicarakan dalam masyarakat kita. Di kamus bahasa Indonesia (kbbi.co.id), kata warisan berasal dari kata waris yang berarti orang yang berhak menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal. Warisan didefinisikan sebagai sesuatu yang diwariskan. Apa saja sih yang dapat diwariskan? 

Ada tiga bentuk warisan yang dapat diberikan pada generasi berikutnya, yaitu Inheritance, heritage, dan legacy. Inheritance disini berarti harta kekayaan, nama baik, bakat, sifat, keterampilan, dan sebagainya yang bersifat nampak. Sedangkan heritage lebih kepada tradisi keluarga, kebudayaan, dan nilai-nilai keluarga. Dua hal ini lebih cenderung kepada meninggalkan sesuatu untuk generasi selanjutnya. 

Sedangkan legacy lebih cenderung kepada meninggalkan sesuatu di dalam seseorang, seperti hidup dalam kebenaran, mengasihi firman Tuhan, mempunyai iman yang kuat, dan sebagainya. Sebagai orang tua, yang paling ingin dilihat saat anak-anak dewasa adalah mereka hidup dalam kebenaran, seperti dalam 3  Yoh 1:4. Sebab jika mereka hidup dalam kebenaran, maka akan ada hal-hal yang luar biasa yang Tuhan sediakan anak-anak kita. Untuk melihat mereka berhasil dan hidup dalam kebenaran, maka apakah yang harus dilakukan orang tua? Peran kita sebagai orang tua, khususnya Ayah, adalah menyampaikan kebenaran tersebut setiap saat dan dalam segala keadaan sehingga anak-anak kita mencintai Firman Tuhan (Ulangan 6:4-9, Mazmur 1:1-3). Jika kita sebagai keluarga hidup dalam kebenaran, maka segala hal, termasuk keberhasilan, akan diukur dengan prinsip Firman Tuhan.

Satu point penting yang beliau sampaikan adalah saat kita menarik anak dari sekolah dan memilih homeschooling bukan karena kita ingin menjadi pesaing bagi sekolah yang ada. Homeschooling pasti lebih melelahkan bagi orang tua, tetapi ada sukacita tersendiri saat kita melakukan panggilan kita dan kita dapat mewariskan kebenaran dalam hidup mereka. Melalui homeschooling kesempatan kita untuk menanamkan kebenaran akan lebih besar. Tentu kesempatan yang sangat berharga bukan. Jadi bagi setiap kita yang mendapatkan panggilan itu, jalankan saja panggilan tersebut dan setialah dengan panggilan itu, maka Tuhan akan memperlengkapi kita. Kami seakan deja vu, karena biasanya kami sering berkata seperti ini kepada siapapun yang bertanya kepada kami. Dengan kata lain, kata-kata beliau seakan memperteguh pemikiran-pemikiran kami. It's a calling and we don't need human's approval.

Apakah yang menjadi prioritas warisan Ayah kepada anak? Yang pertama adalah hubungan Ayah yang bersifat pribadi dengan Allah. Semakin dalam hubungan Ayah dengan Allah, semakin besar hal yang dapat diwariskan pada anak. Bukan berarti sang ayah sangat sempurna. Namanya juga manusia, terkadang dapat 'khilaf', tetapi anak dapat melihat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik pada Ayah. Apakah dampaknya pada anak? Anak lebih mudah bertumbuh di dalam iman, anak lebih mudah terlibat dalam pelayanan, dan anak lebih besar kemungkinannya untuk berhasil sesuai dengan kriteria di Mazmur 1 diatas. 

Yang kedua adalah hubungan Ayah yang dekat dan saling mengasihi dengan Ibu. Jika anak melihat kasih antara Ayah dan Ibu begitu besar, maka anak lebih terbentuk menjadi pria atau wanita atau sesuai dengan kodratnya. Selain itu anak lebih fasih dalam pergaulan sosial dan lebih mudah memperlakukan lawan jenis sebagaimana mestinya. Jika ibu lebih dominan, biasanya si anak perempuan akan lebih dominan. Apapun temperamen yang dimiliki oleh sang Ibu, tetap seorang Ibu harus tunduk pada otoritas Ayah. 

Seringkali Ayah menyerahkan urusan pendidikan kepada sang Ibu, dengan asumsi yang penting Ayah menyediakan dananya. Peran Ayah tentu saja bukan hanya sebagai sumber ATM keluarga, tetapi Ayah juga harus mempunyai hubungan dengan anak. Beliau berkata seringkali beliau menjumpai keluarga yang Ayah dan Ibunya dari muda sibuk melayani bahkan sampai menikah pun masih melayani. Tetapi mereka sibuk melayani dan ayahnya menyerahkan urusan anak-anak hanya kepada Ibu. Dan akibatnya anak-anaknya berantakan. Bahkan saat anak-anaknya berkeluarga, keluarganya pun berantakan. Kami pun sering melihat hal seperti itu. Orang tua yang sibuk melayani dan anak-anak yang tidak terurus atau bahkan menyuruh orang untuk mengurus anak mereka. Menurut kami, kata kuncinya adalah walaupun kita melayani bukan berarti kita sibuk melayani dan membiarkan anak kita atau meminta anak kita diurus orang lain. Oleh sebab itu orang tua boleh melayani, hal ini dapat mendorong anak agar ingin melayani saat mereka besar, tetapi tetap tanggung jawab ada di Ayah dan Ibu. Peran orang tua harus jelas. 

Yang ketiga adalah hubungan Ayah yang dilandasi saling percaya dan saling membangun dengan anak. Semakin besar hubungan ayah dengan anak, maka anak akan berkembang maksimal sesuai dengan potensinya. Selain itu dengan adanya peran Ayah yang tepat, maka anak lebih mudah terbentuk menjadi percaya diri dan anak mudah percaya dan taat kepada Allah. 

Untuk dapat menyampaikan kebenaran dan legacy itu terhadap anak-anak, antara Ayah, Ibu dan anak-anak harus ada hubungan yang kuat dan dekat. Hubungan yang dekat ini mempermudah proses legacy kepada anak-anak kita. Dan ayah sangat berperan penting dalam hal ini. Salah seorang senior saya di pelayanan anak (yang juga berkecimpung dengan dunia pendidikan anak) pernah mengatakan akan mudah bagi seorang anak menyayangi ibunya, karena sudah ada koneksi yang dibangun sejak anak masih dalam kandungan. Jadi kalau ibu marah ke anak, anak tidak akan menyimpan lama. Tetapi akan berat bagi seorang ayah. Anak lebih mudah mengingat 'dosa' ayah. Itulah sebabnya penting bagi seorang ayah untuk membangun hubungan dengan anak. Dan saat kemarin, hal ini juga disampaikan lagi. 

Bapak Rizal dan Ibu Rina juga memberikan beberapa alternatif metode untuk membangun hubungan antara ayah dengan anak yang pernah mereka terapkan. Diantaranya:
1. Buku komunikasi dengan anak
Kecenderungan seorang ayah untuk ngomel saat anak berulah biasanya besar. Daripada meledak dan marah, dan membuat hubungan tambah kurang baik, maka alternatif buku komunikasi ini dapat menjadi solusi. Contoh yang beliau berikan, saat anaknya berulah, beliau memberikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan ulah anak tersebut dan anak tersebut menjawab. Secara tidak langsung si anak jadi cool down dan berpikir dengan tenang. Sedangkan si ayah tidak perlu emosi sekali dengan anak. 

2. Surat cinta untuk anak
Surat cinta disini tidaklah panjang seperti yang dibayangkan bapak-bapak. Cukup cari gambar, print dan berikan tulisan di dalamnya. Seperti encouragement, pujian, tanda sayang dan sebagainya. Jadi bagi bapak-bapak yang bahasa kasihnya bukan kata-kata atau yang tidak punya bakat menggombal, seperti si papa, tidak usah takut untuk membuatnya. 

3. Materi bacaan bersama 
Acara membaca bersama yang dilakukan secara rutin dapat membangun ikatan yang kuat. Kami pun melihat manfaat dari kegiatan membaca bersama dari saat mereka masih di dalam kandungan, dengan intonasi yang seru, sangat diminati Duo Lynns. 

4. Aktivitas one-on-one secara rutin
Bagi keluarga yang memiliki anak laki-laki, aktivitas ini dapat dilakukan dalam bentuk olahraga. Sedang bagi keluarga dengan anak perempuan, acara hang out bersama ayah dapat menjadi contoh aktivitas ini. Saat ayah dan anak perempuan melakukan acara hang out, yang sederhana seperti makan ice cream berdua, ayah dan anak dapat menggunakan waktu untuk mengobrol ini itu tanpa adanya omelan. Aktivitas one-on-one juga dapat dilakukan oleh kedua orang tua. Tentu saja setiap keluarga punya keunikan masing-masing. Kalau bagi kami, tidak harus keluar rumah, tetapi dapat dilakukan dengan meluangkan waktu bersama saat anak-anak sudah tidur. Kami dapat ngobrol sambil nyemil atau minum teh. 

5. Bermain bersama
Acara bermain bersama dewasa ini mulai agak langka. Bahkan ayah sibuk bermain gadget dan anak bermain gadget. Acara ini harus diset waktunya, karena jika tidak diset kecenderungannya akan tidak berjalan dan akhirnya kembali sibuk dengan gadget-nya. Selain yang diset waktunya, yang spontanitas juga boleh dilakukan. Dengan adanya permainan yang dapat dimainkan bersama, ikatan perasaan antara ayah dan anak terjalin dengan baik.

6. Banyak mengobrol dan bergaul dengan teman anak-anak
Seringkali orang tua tidak mengenal sahabat dari anak-anaknya. Tetapi jika orang tua mengenal teman-teman anak-anak mereka, anak-anak akan merasa bahwa orang tua mengenal mereka dan teman-temannya dan merasa  bahwa teman mereka juga penting bagi orang tua mereka.

Kami sendiri punya kecenderungan bercakap-cakap dengan setiap teman anak-anak, baik di gereja maupun di tempat les. Bagi kami, saat kami mengantar anak ke tempat les atau kelas di Sekolah Minggu, kami tidak langsung meninggalkan anak atau langsung menyuruh mereka masuk sendiri sementara kami menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan orang-orang dewasa lainnya. Kami menyediakan waktu 5 sampai 10 menit untuk berbincang-bincang dengan teman-teman mereka (baru setelah itu berbincang-bincang dengan orang dewasa lainnya), bahkan mereka dengan senang hati bercerita dari A sampai Z kepada kami. Jika mereka melihat kita menjadi temannya teman mereka, otomatis bahan pembicaran antara kita dengan anak-anak lebih banyak lagi. Bahkan kami dapat mendoakan teman-teman mereka, karena naturnya anak kecil senang mendoakan siapapun yang mereka temui. Kami dapat mengetahui karakter teman-teman mereka. Dan saat mereka ABG, masa dimana penuh rahasia dengan orang dewasa, teman-teman mereka pun nyaman bercakap-cakap dengan kita. 

7. Cari dan usahakan untuk lakukan hobi yang sama
Untuk yang satu ini sering kali ada unsur rekayasa. Usahakan ada minimal satu hobi yang sama atau kesukaan yang sama. Selain mempermudah urusan les, tentu saja ada bahan pembicaraan yang sama.

8. Bekerja bersama
Urusan rumah tangga dapat menjadi alat pengikat antara Ayah dengan anak. Adanya pembantu bukan berarti anak tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumah. Biasakan anak melakukan bersama, seperti memasang pohon natal atau membersihkan rumah. Dan biasanya saat anak melihat kita melakukan pekerjaan rumah, tanpa disuruh pun mereka ingin untuk terlibat dalam pekerjaan tersebut.

9. Melatih anak dalam beberapa keterampilan 
Keterampilan di sini bukanlah keterampilan yang rumit. Cukup sederhana saja tetapi dapat membuat ayah dan anak menghabiskan waktu bersama. 

10. Usahakan sebanyak mungkin hadir dalam aktivitas anak, terutama dalam acara yang spesial
Kehadiran Ayah dalam acara yang istimewa mempunyai arti penting bagi anak. Dengan adanya perencanaan dan jadwal yang ada, maka Ayah yang sibuk pun dapat hadir dalam acara yang spesial. 

11. Membaca Alkitab bersama 
Membaca Alkitab bersama akan menjadi ritual jika hubungan antara Ayah dan anak tidak pernah terbentuk. Dengan kata lain, untuk dapat melakukan ini, hal-hal diatas sudah harus terjalin sehingga hubungan antara Ayah dan anak sudah terbentuk. Acara membaca Alkitab bersama pun dapat dilakukan sejak anak-anak masih dalam kandungan. Saat mereka masih kecil pun acara membaca Alkitab dapat disesuaikan dengan kemampuan mereka membaca.

Di keluarga kami, kakak mempunyai renungan di pagi hari dengan menggunakan Kiddy, sementara adik menggunakan Alkitab bergambar. Dan di malam hari, kami bersama-sama membaca lagi yang dipimpin oleh papa. Dan biasanya saat membaca Alkitab secara bersama-sama, akan muncul pertanyaan-pertanyaan tidak terduga =D

12. Bertumbuh dan melayani bersama
Anak-anak tahu bahwa orang tua mereka bukanlah orang tua yang sempurna. Tetapi anak akan melihat bahwa ada perubahan-perubahan yang dapat dilihat dari orang tua. Ini berarti baik orang tua maupun anak bertumbuh bersama. Acara melayani bersama juga merupakan suatu kebahagiaan bagi anak-anak. Pemahaman bahwa kita melayani karena Tuhan baik bagi kita bukan karena kita mampu harus ditanamkan kepada anak-anak sehingga ke depannya anak-anak sadar melayani karena kasih pada Tuhan.

Kedua belas hal diatas tidak harus dilakukan sekaligus, tetapi bisa dipilih yang mana yang harus dilakukan terlebih dahulu. Kalau bagi kami, buku komunikasi dan surat cinta menjadi sesuatu yang baru bagi kami. Biasanya sih hanya mama yang suka membuat surat cinta bagi anak-anak. Tetapi ternyata jika Ayah yang membuat terasa berbeda sekali.

Semakin banyak hal yang dapat dilakukan bersama dengan anak, maka akan semakin mudah Ayah memberikan 'warisan' atau legacy tersebut. Lalu, apakah Ibu tidak berperan apa-apa? Tentu saja ada. Kita sebagai Ibu dapat menopang para Ayah dalam melaksanakan tugasnya :)  


sumber foto: focus on the family


Jumat, 02 Juni 2017

Tulang Tangan 101

Bulan lalu kegiatan science kami berhubungan dengan tulang. Kami tiba-tiba jadi belajar mengenai tulang karena kakak mengalami accident saat sedang berolahraga sehingga tulang di tangan kanannya retak dan bergeser. Akibatnya kakak harus dioperasi (tanpa pembedahan) dan menggunakan gips selama 15 hari. Bersyukurnya selama kakak di gips kakak termasuk anak yang tidak rewel. Makan pun ok, dan kakak cepat beradaptasi dengan gipsnya. Walaupun demikian, selama 3 minggu kegiatan belajar pun dimodifikasi menjadi kegiatan yang tidak menulis dan banyak membaca. Aktivitas pun dibuat yang mudah, yang dapat dikerjakan satu tangan, seperti bermain hydrogel ataupun membuat microphone.

Kami pun baru tahu bahwa jika gips dibuka bukan berarti tangan langsung dapat digunakan seperti biasa. Namanya juga otot yang kaku setelah diposisikan dalam posisi tertentu. Karena sakit dan traumanya itu, kakak sampai minta supaya pakai gips lagi. Dan sejujurnya masa-masa melatih tangan setelah gips dibuka lebih melelahkan dibanding saat tangan masih digips. Trauma akan rasa sakit dan sakitnya menggerakkan tangan yang sudah tidak digerakkan selama 2 minggu lebih mengiringi masa-masa ini. Untuk mengalihkan perhatian kakak akan sakitnya, saya mengeluarkan buku tentang tulang dan kakak pun membaca buku ini dengan rasa penasaran, apalagi berhubungan dengan keadaannya. 
Tulang tangan. Sumber foto: ilmusehatnya.blogspot.com
Dari buku tersebut kami mengetahui bahwa terdapat 27 tulang si setiap tangan manusia. Ibu jari kita memiliki 3 tulang dan jari-jari yang lain memiliki 4 tulang. Dengan kata lain, dari 27 tulang yang ada, 19 tulang adalah tulang jari-jari dan 8 yang lainnya adalah tulang pergelangan tangan. 

Dibagian lengan atas terdapat humerus yang menghubungkan bahu kita dengan siku. Dari siku hingga pergelangan tangan ada dua tulang yang menghubungkannya, yaitu radius atau tulang hasta dan ulna atau tulang pengumpil. Radius lebih tebal dari ulna. Radius mengarah pada ibu jari sedangkan ulna mengarah pada jari kelingking.

Rasa penasaran kami tidaklah berhenti sampai di situ. Kami sibuk menebak bagian mana yang retak. Maka saat kontrol lagi ke dokter, kakak bertanya kepada dokter tulang bagian manakah yang kemarin retak dan bergeser. Kebetulan saat itu kami membawa buku tentang tulang ini. Dokter dan suster cukup terkejut melihat anak umur enam bertanya tentang tulang. Akhirnya dokternya menunjukkan bagian yang retak adalah bagian tulang yang tipis di dekat funny bone.
Funny bone yang tidak lucu jika cedera.
Apakah funny bone? Funny bone atau tulang lucu merupakan titik sensitif di siku kita yang berisi syaraf-syaraf yang berujung pada ulna. Jadi sebetulnya funny bone bukanlah tulang. Ini adalah bagian yang menonjol di siku kita. Jika funny bone ini terkena benturan, terkadang kita merasakan perasaan yang agak geli dan sakit seperti ada rasa kesetrum. Kami baru saja tahu (pelajaran biologi yang saya dapatkan waktu SMA sudah ada yang terlupakan) setelah kami mengalami insiden ini. 

Di dekat funny bone terdapat tulang yang pipih yang berbentuk agak melengkung yang rawan terkena benturan. Jika terkena benturan yang cukup keras, tulang ini dapat retak seperti pada kasus kakak. Dari buku yang kakak baca, kakak menemukan bahwa tulang yang kuat dan bahkan sehat dapat patah atau retak jika jatuh atau terjadi kecelakaan. Apalagi saat jatuh terkena pada bagian tulang yang pipih dan mungkin hentakannya cukup keras. Jika terjadi keretakan berarti tetap ada yang patah tetapi hanya bagian luar tulang yang patah. Walaupun tidak sampai ke bagian dalam, tetapi serpihan-serpihan yang ada dapat berbahaya bagi syaraf dan aliran darah disekitarnya. Itulah sebabnya saat anak terjatuh atau mengalami kecelakaan jangan langsung dipijat dan sebaiknya di rontgen terlebih dahulu. 
Contoh mesin x-ray
Saat dirontgen atau di x-ray pun timbul lagi pertanyaan Duo Lynns. Kenapa tulang dapat terlihat saat di x-ray.  Lalu kenapa adik tidak boleh masuk untuk melihat. Maklum, Duo Lynns tidak takut dengan namanya dokter. Jadi saat dilarang masuk, adik malah galau. Dari buku ini juga kami menemukan jawaban dari pertanyaan kakak. Bagaimana cara kerja mesin x-ray? Mesin x-ray menembakkan elektron-elektronnya melalui tubuh kita. X-ray bergerak melalui daging tetapi sinar tersebut terhenti saat bertemu dengan tulang. Bagian tulang akan terlihat dengan warna putih dan bagian yang lain dengan warna hitam. Pada bagian yang retak, pada hasil rontgen akan muncul warna hitam yang membentuk garis tipis di tengah-tengah tulang yang putih. Karena radiasi dari elektron-elektron yang ada, maka adik tidak diizinkan masuk. Jawaban ini lumayan mendiamkan adik dan membuat adik mempunyai konklusi lain untuk meminta papa mencari film tentang mesin x-ray
Contoh foto x-ray dengan pen di dalam. 
Pertanyaan berikutnya muncul saat kakak digips. Tujuan dari gips adalah untuk menyusun kembali tulang yang retak atau patah sehingga tulang ini dapat bertumbuh kembali. Gips yang digunakan pun tergantung kadar patahnya. Terkadang dokter memberikan hard cast yang terbuat dari semen (plester of paris) dan terkadang soft cast yang terbuat dari fiber. Jika hard cast, tentu saja gips-nya dapat didekorasi. Sedangkan pada kasus kakak yang diberikan adalah yang soft cast. Mungkin karena retak dan tidak sampai patah yang parah.

Berapa lamakah gips dipasang? Rata-rata gips dipasang selama 2 - 8 minggu, tergantung dari jenis patahnya dan tergantung timbulnya tulang baru yang disebut callus. Callus ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kedua bagian tulang  yang patah dan diasumsikan sebagai lem tulang. Callus ini mulai timbul pada anak-anak dalam waktu 10 hingga 14 hari. Timbulnya callus merupakan penanda bahwa bagian yang retak atau patah sudah mulai mau sembuh.

Selain mengenal tulang tangan, kami juga seakan mendapatkan suatu ilustrasi. Penggunaan gips memang akan lebih nyaman bagi kakak, karena hanya sebentar dibanding orang lain yang harus menggunakan gips hingga 1 bulan. Apalagi saat digips memang pasti berkurang rasa sakitnya. Tetapi tidak mungkin selamanya tangan akan digips. Selain tangan tidak berfungsi sebagaimana harusnya, akan timbul masalah lain yaitu iritasi kulit, gatal-gatal, bengkak pada jari dan sebagainya. Memang saat pertama kali gips dibuka akan ada rasa sakit pada tangan. Tetapi jika kita mau untuk melatih sedikit demi sedikit dan bertahan melawan rasa sakitnya, maka tangan yang tadinya sakit akan pulih seperti semula. Begitu juga dengan kita. Saat kita dibelenggu oleh kebiasaan buruk kita, pastinya susah untuk melepaskan diri dari kebiasaan tersebut. Bisa jadi ada rasa sakit dan tidak nyaman. Tetapi jika kita tetap bertahan dan meminta bantuanNya untuk menghadapi segalanya, maka kita akan keluar sebagai pemenang. Puitis sekali bukan?

Hasil observasi kami mengenai tulang tangan dan tulang retak selesai saat tangan kakak dapat digerakkan seperti biasa. Tidak mudah memang melatih kakak untuk menggerakkan tangannya hingga lurus kembali. Tetapi kami mengingatkan kakak bahwa jika tidak dilatih maka tangannya tidak akan berfungsi dengan baik, sama seperti biasanya. Tepat saat kami memulai liburan kami, yang sudah disiapkan setahun sebelumnya, tangan kakak sudah lurus kembali. Praise the Lord

Sabtu, 27 Mei 2017

Jangan Pilih Homeschool Jika.....


Beberapa waktu lalu saya membaca suatu postingan di salah satu media sosial. Di awal postingan, penulis merasa kecewa dengan sekolah yang ada dan mulai menyebutkan kejelekan-kejelekan dari sekolah-sekolah reguler yang ada. Setelah menjelekkan sekolah-sekolah reguler yang ada, si penulis seakan mulai melirik ke homeschool, tetapi ujung-ujungnya kurang lebih menyatakan bahwa homeschool memiliki banyak kekurangan juga. Dan mendekati akhir postingannya, dia mulai memuji-muji sekolah alam yang dia dirikan dan mengajak para orang tua untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah alam yang didirikan si penulis. Dengan kata lain, ujung-ujungnya adalah ingin menaikkan nilai 'jual' sekolahnya. Salahkah? Ya tidak salah-salah amat sih, namanya juga strategi marketing

Jujur saya tergelitik saat membaca postingan tersebut. Apalagi banyak orang tua yang menghubungi saya dan berbincang-bincang mengenai homeschool. Ada banyak alasan kenapa mereka sempat berpikir untuk homeschool. Saya dan suami tidaklah termasuk kelompok yang menganggap homeschool adalah jawaban dari setiap permasalahan keluarga. Setiap keluarga unik dan setiap anak istimewa. Dan kami berdua selalu mengingatkan bahwa homeschool adalah panggilan, jadi bukan karena trend yang ada saja. Dengan memiliki alasan yang jelas untuk memulai homeschool, maka setiap permasalahan yang akan ada di depan nanti tidak membuat kita jadi bimbang dengan panggilan kita.

Menurut saya, jangan pilih homeschool jika:
1. Alasan untuk homeschool hanya karena rasa takut
Banyak orang tua yang sedang berpikir untuk memilih homeschool untuk anaknya hanya karena alasan takut anaknya salah pergaulan, takut anaknya jadi nakal, takut anaknya nanti di-bully di sekolah, dan seribu satu macam ketakutan lainnya. Hal ini wajar, namanya juga orang tua, kita pasti ingin anak kita bertumbuh menjadi pribadi yang baik. Namun jika kita memilih homeschool hanya karena rasa takut, maka yang menjadi landasan kita melaksanakan pendidikan di rumah adalah rasa takut. Dan segala sesuatu yang dilandasi rasa takut tidak akan berbuah yang baik bukan? 

Jika kita berpikir dengan menaruh anak di rumah maka pergaulannya jadi lebih baik, kita akan menemukan fakta bahwa hal ini tidak sepenuhnya benar. Anak-anak yang homeschool pastinya punya komunitas dan tempat-tempat dimana mereka dapat bergaul, seperti tempat les dan lingkungan tempat ibadah. Pastinya mereka akan menjumpai anak-anak lain yang berbeda value dengan keluarganya. Jadi amsih ada kemungkinan mereka akan belajar hal-hal yang 'tidak baik' dari teman-teman mereka di lingkungan ini. 

2. Alasan untuk memilih homeschool hanya karena biaya semata.
Kami adalah salah satu yang berpikir tentang homeschool karena melihat biaya pendidikan yang semakin meningkat tetapi kualitas karakter anak berbanding terbalik dengan biaya tersebut. Tetapi kami sadar bahwa alasan biaya bukanlah satu-satunya faktor. Lebih dari biaya, ada visi dan misi dalam mendidik anak-anak kami. Jika faktor biaya hanya menjadi alasan tunggal dari homeschool, maka saat kita bertemu sekolah dengan biaya yang terjangkau, kita jadi bingung dan mulai nyinyir gak jelas karena merasa salah pilih dan sebagainya. Kami pribadi seringkali berdiskusi dan berpikir andaikan biaya sekolah dapat dijangkau oleh kami, kami tetap memilih homeschool karena ini adalah panggilan (walau kadang ada air mata di tengah-tengahnya).  

3. Alasan untuk memilih homeschool hanya karena kita kepahitan atau tidak puas dengan sekolah.
Seperti iklan dari sekolah alam yang saya baca, jika alasan kita memilih homeschool hanya karena kepahitan dan merasa tidak ada sekolah yang tepat bagi anak-anak kita, maka buntutnya kita seakan melakukan pembuktian kepada sekeliling kita bahwa kita lebih baik dari sekolah-sekolah yang ada. Kalau ini yang terjadi, maka kita akan lelah sendiri dalam proses homeschool karena pembuktian terhadap satu hal akan mendorong pembuktian kepada hal lain. Tentunya ini menjadi tidak sehat.

4. Salah satu dari pasangan tidak sepakat.
Saat kita memilih homeschool, berarti kita membuat 'sekolah' dimana ibu adalah gurunya dan ayah adalah kepala sekolah. Dapatkah sekolah berjalan dengan baik jika guru dan kepala sekolah tidak sepakat? Oleh sebab itu, saat memilih homeschool, ayah dan Ibu harus sepakat. Jangan pilih homeschool jika hanya ibu yang ingin tetapi ayah tidak mau. Karena jika ada masalah dan si 'guru' ingin melapor ke 'kepala sekolah' tetapi kepala sekolah acuh tak acuh dan menganggap itu urusan kita, maka si 'guru' bisa jadi emosi. Atau sebaliknya, jika hanya ayah yang ingin tetapi Ibu tidak mau, maka saat ada masalah dalam proses yang ada, si Ibu akan menyalahkan ayah dan menganggap ayah yang membuat Ibu jadi susah. Oleh sebab itu, kesepaktan merupakan hal yang penting dalam menjalankan homeschool. Jika ayah dan ibu sudah sepakat, maka kedua belah pihak dapat saling menopang seiring berjalannya homeschool.

5. Kita tidak mau mengorbankan waktu.
Memilih homeschool berarti ada hal-hal baru yang harus dipelajari oleh kita. Ini berarti kita sebagai pengajar harus membuka buku dan mencari tahu hal-hal yang belum tentu kita tahu. Jika kita tidak mau mengorbankan waktu kita untuk mencari tahu dan menganggap suatu hari nanti dia pasti tahu sendiri, maka kita berarti mengabaikan hak anak untuk mendapatkan pengetahuan yang seharusnya. Memang tujuan homeschool adalah untuk menanamkan value dan karakter yang baik kepada anak, tetapi ini bukan berarti si anak tidak dibekali dengan pengetahuan yang seharusnya. Jangan sampai anak yang seharusnya kelas empat tetapi hanya mendapatkan pengetahuan yang setara kelas satu saja, kecuali memang anak tersebut berkebutuhan khusus.

Faktor apapun dapat menjadi trigger kita memilih sesuatu, salah satunya saat kita memilih homeschool. Dengan kata lain faktor-faktor diatas dapat menjadi pemicu kita berpikir tentang homeschool. Tetapi jika hanya faktor-faktor diatas yang menjadi landasan kita memilih homeschool sebagai salah satu cara anak mendapatkan pendidikan, maka saat ada masalah kita akan segera goyah. Landasan yang terpenting bagi kami dan para homeschooler adalah homeschool adalah panggilan. Jika dibandingkan dengan sekolah yang penuh dengan fasilitas, ya tentu saja berbeda. Dan tentu saja karena ini panggilan, maka kami tidak mencari approval dari orang-orang disekeliling kami. Yang kami lakukan hanyalah menjalankan apa yang menjadi panggilan kami, dan menyadari bahwa semua dapat berjalan hanya karena kasih karuniaNya.


Sumber foto: thebesthomeschoolguide.com