Kamis, 12 Mei 2016

Apa sih CCC (Christ Centered Curriculum)?


Banyak yang bertanya kepada saya, kalau mau homeschooling saat TK baiknya pakai kurikulum apa ya. Saya selalu jawab tergantung budget dan preference masing-masing keluarga. Tetapi saya memilih Christ Center Curriculum atau CCC. Saya sudah jatuh cinta dengan CCC saat saya masih kuliah, saat melihat teman yang menggunakan bahan tersebut. Sehingga saat ditawari untuk membeli bahan CCC oleh teman yang saat itu baru mau homeschooling, ada yang mau bawain dari Singapore, maka saya pun mengiyakannya. Dengan pertimbangan, andaikan anak-anak tidak homeschooling, bahan tersebut dapat dipakai sebagai tambahan bahan yang mempunya pola pandang biblikal. 

Apakah CCC itu? 
CCC merupakan kurikulum dari Amerika, yang lebih mengedepankan pembelajaran materi berdasarkan Alkitab. Jadi semua pembahasan dilandasi dengan firman Tuhan. CCC awalnya dikenal sebagai program untuk early childhood dan digunakan pada tahun 1970-an di Rocky Bayou Christian School (RBCS).

Pada akhir tahun 1980-an Doreen Claggett, sebagai pendiri CCC, tergerak dengan kerinduan untuk membantu keluarga homeschool memberikan pendidikan kepada anak-anaknya di dalam kebenaran Tuhan, secara spiritual, moral, dan akademis.  
Hal-hal mendasar yang saya sukai dari CCC adalah:
1. Never too Early (tidak pernah terlalu cepat) untuk mengestafetkan iman kepada anak-anak. Bagaimana caranya? Ya melalui hidup orang tuanya. Anak-anak adalah pembaca ulung bahkan sebelum mereka dapat membaca. Nah, tentu saja mereka membaca kehidupan orang tuanya, karena setiap kita adalah suratan berjalan. Itulah sebabnya parenting merupakan hal yang berharga tetapi juga hak istimewa yang sangat serius.
2.Pendidikan kristen seharusnya merupakan proses pekerjaan Tuhan melalui guru-guru yang berkomitmen untuk menggunakan metode biblikal dan materi kurikulum yang benar untuk membawa setiap murid yang mempunyai biblical world view dan memiliki karakter ilahi dan kemampuan akademis yang cukup untuk memenuhi panggilan Tuhan dan hidup untuk kemuliaanNya. 
3. Bukan pengetahuan yang harus dikuasai dahulu, tetapi urutannya adalah iman, kebajikan, pengetahuan. Untuk anak-anak sajakah? Tentu tidak, pertama untuk mamanya, lalu untuk anak. Sehingga saat mengajar anak-anak, bukan saja anak-anak yang diperlengkapi, tetapi mamanya juga diingatkan dan dikuatkan kembali. Indah bukan?
Iman, kebajikan, pengetahuan
Umur berapa sajakah yang dapat menggunakan CCC? 
Di bahan yang diberikan ditulis dapat digunakan dari umur 3 tahun. Tetapi bukan berarti saat 3 tahun anaknya suruh belajar yang berat. Saya menggunakan kisah karakter dari CCC saat anak-anak 3 tahun. Saat kakak berumur 4 tahun, dan adik yang sebentar lagi 4 tahun, saya baru mulai menggunakan semua materi CCC yang ada sesuai dengan umurnya ditambah kreativitas yang saya cari sendiri.

Kalau menggunakan CCC-nya tidak dari awal, andaikan anak saya mulai homeschool saat dia umur 5 tahun, bisa atau tidak ya? 
Bisa saja. Enaknya pakai CCC, worksheet disesuaikan dengan umur si anak. Phonics 1 misalnya. Bagi anak yang umur 4 tahun, worksheet yang dikerjakan dimulai dari worksheet A1. Sedangkan bagi anak yang mulai di usia 5 tahun, dengan pelajaran yang sama, si anak mengerjakan worksheet B1. Materi sama, tetapi waktu tatap muka untuk menyelesaikan materi bagi si anak umur 5 tahun lebih pendek daripada si anak umur 4 tahun.

Terdiri dari apakah CCC itu? 
Buku-buku CCC terdiri dari Math dan Phonics, tetapi di dalam Math dimasukkan pelajaran mengenai karakter.

Character
Mau tidak mau, kita harus mengakui keadaan sekarang makin edan. Banyak kejadian mengerikan terjadi di lingkungan pendidikan, dan dilakukan oleh orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan. Dan saat ini anak-anak seakan dididik tetapi bukan dididik untuk mengenal Tuhan. Oleh sebab itu, tantangan yang akan dihadapi oleh anak-anak baik sekarang maupun di masa yang akan datang adalah sesuatu yang nyata. Mereka memerlukan biblical world view, karakter ilahi, dan pengetahuan untuk memenuhi panggilan Tuhan dalam hidup mereka. 
CCC memasukkan pelajaran karakter dalam pelajaran Math. Ada 10 cerita karakter (yang diadaptasi dari cerita Character Sketches karya Bill Gothard) dalam pelajaran Math dan juga tips untuk orang yang membantu orang tua mendorong anak-anak untuk mengaplikasikannya.  Jadi mendarat untuk anak-anak. Jika dijelaskan secara panjang, wah rasanya tidak cukup. Tetapi mungkin dapat saya ringkas sebagai berikut. Dalam menggunakan CCC, dan dengan anugerahNya, keluarga homeschool haruslah menunjukkan orderliness dengan melakukan segala sesuatu dengan sopan dan teratur. Akan sangat baik jika anak-anak belajar dalam suatu keadaan yang teratur (in order) yang dipenuhi dengan sukacita (joyfulness). Kemudian anak-anak belajar untuk taat, dan menunjukkan loyalty dengan mengikuti setiap instruksi seperti yang disampaikan oleh orang-orang yang mempunyai otoritas atasnya. Tujuannya adalah jika mereka tidak dapat taat kepada orang yang dapat dilihat, bagaimana mereka dapat taat kepada Tuhan yang tidak dapat mereka lihat secara langsung. Dan masih banyak karakter-karakter lain yang dipelajari oleh saya sebagai orang tuanya (dengan tips untuk orang tua) dan anak-anak, seperti generosity (berbagi dan berkorban), flexibility (mampu membedakan dan beradaptasi), courage (berani), decisiveness (Melakukan sesuai dengan caranya Tuhan), responsibility (setia terhadap perkara kecil), endurance (dapat bertahan), dan determination (menuju pada tujuan).

Cerita Karakter yang ada
Dan jujur saya merasa bahwa homeschooling lebih seperti pelatihan untuk orang tua daripada pelatihan untuk anak-anak. Sebagai orang tua, kita akan mempelajari dan anak-anak akan mempelajari melalui aktivitas kita sehari-hari.

Math
Math dalam CCC berbeda dengan pelajaran matematika biasa. Dalam CCC, setiap hal dilandasi dengan dasar firman yang kuat. Sehingga anak-anak mengerti bahwa firman Tuhan juga merupakan dasar dari ilmu pengetahuan (itu yang saya tangkap ya). Math dalam CCC dibagi dalam 2 bagian, yaitu Math Workbook A (konsep mengenai angka dan penjumlahan pengurangan sederhana) dan Math Workbook B (penjumlahan-pengurangan sampai 20, place value (nilai angka satuan, puluhan, ratusan), uang, waktu, dan pecahan sederhana). Yang saya suka adalah dengan CCC saya bisa mengajarkan matematika dalam bentuk cerita. Misal tentang angka 2. Anak-anak belajar bahwa di rumah Mrs.Deer (angka 2) ada 2 kamar untuk anaknya 2 + 0, dan 1 + 1. Jadi belajar matematika pun menjadi menyenangkan, apalagi ada Flashcard yang colorful.

Anak-anak dari Mrs. Two Deer

Dimulai dengan hand-on-activity lalu diikuti dengan mengerjakan soal dari workbook. Sehingga bagi anak-anak kecil, materi tidak terlalu berbau akademis tetapi lebih berorientasikan kepada aktivitas. Kemudian untuk mengajarkan suatu konsep, lebih sering menggunakan snap cube (base ten blocks), value stickvalue pocket chartnumber line, dan number line neighboorhood. Jadi bervariasi dan anak tidak terpacu untuk menghitung dengan jarinya. Belum lagi sistem pengulangan tentang suatu konsep (yang disajikan dalam cara bermacam-macam). Materi yang diberikan juga mencakup materi grade 1. 
Atas: addition family house, Bawah: Number line neighboorhood
Atas: Number Chart, Bawah: Place Value Mat
Phonics 
Phonics merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini saya belajar bahasa Inggris langsung ke katanya. Misal satu itu one, dua two, apel apple, dan sebagainya. Ternyata saat mendapatkan buku Phonics CCC saya terkaget-kaget. Sama seperti kucing bunyinya meong, anjing bunyinya guk-guk, huruf dalam bahasa Inggris pun punya bunyinya. Satu huruf bisa punya satu, dua, atau tiga bunyi (tidak kalah kan dengan nyanyi ada empat suara). 
Dengan CCC, pengenalan phonics dikolaborasikan dengan Firman Tuhan, cerita Alkitab, dan pengembangan karakter Kristen. CCC Phonics dapat mulai digunakan saat anak berumur 4 tahun. Bagi kita sebagai orang tua, disediakan juga lesson guide. Oya, ada Phonics Lesson Flashcard dan A to Z wall card juga loh. Wall card ini, yang saya lihat saat kuliah, yang membuat saya jatuh cinta pada CCC. Yang ini membantu kita sebagai orang tua saat mengajarkan phonics. 
Phonics Wall Card

Ada tiga level dalam CCC Phonics dan penggunaannya dapat disesuaikan dengan umur anak yang menggunakannya. Level A biasa digunakan oleh anak berusia 4 tahun dan lima tahun awal. Biasanya jika si anak pertama kali menggunakan CCC saat ia berusia 5 tahun (dan belum punya dasar phonics apapun), ia dapat menggunakan level B1 tanpa menggunakan level A sama sekali. Sedangkan jika si anak telah menyelesaikan level A, anak tersebut dapat langsung menggunakan level B2. Bagi anak yang telah menyelesaikan level B2 dapat  lanjut menggunakan level C. Materi pada level C ini setara materi untuk kelas 1 SD. Secara keseluruhan, dalam CCC Phonics anak-anak akan belajar aturan pengucapan dalam bahasa Inggris, grammar sederhana, pengembangan vocabulary, kemampuan mengenai kamus, dan latihan menulis. Cukup seru, karena bukan hanya anak yang belajar, tetapi juga kita mamanya yang belajar.
Bahan Phonics CCC, workbook A1 untuk anak 4th, workbook B1 untuk anak 5th
Apakah materi CCC ada juga untuk SD?
Seperti dijelaskan di atas, CCC merupakan pendidikan untuk early childhood. Yang berarti materi CCC hanya untuk anak TK dan kelas 1 SD. Jadi untuk SD nanti, kita berburu kurikulum lagi. Hehehe

Kalau di Indonesia, bagaimanakah mendapatkan CCC?
Menurut teman-teman homeschooling yang membeli bahan CCC di Indonesia, mereka membeli dari Vickery Christian Academy. VCA merupakan lembaga resmi yang ditunjuk oleh CCC untuk menggandakan bahan-bahan CCC di Indonesia dan kadang mereka mengadakan pelatihan bagi keluarga-keluarga yang menggunakan CCC. Keterangan lebih lanjut dapat dibuka di sini.

Kalau saya tidak jago bahasa Inggris, apakah saya dapat menggunakan CCC? 
Menurut saya: bisa banget, asal kita mau belajar juga. Anggap saja kita sama-sama baru belajar dengan anak-anak. Hanya saja kita belajar sehari lebih awal dari mereka. Seringkali kan salah kaprahnya adalah kita merasa bahasa Inggris kita pas-pasan, sehingga kita menyampaikan dengan bahasa Indonesia. Dengan pertimbangan nanti mereka bisa sendiri, yang penting nilai moralnya didapatkan. Tetapi yang saya amati proses pembelajaran menjadi lebih sulit bagi pengajar dan anak. Dan jangan meng-underestimate anak-anak loh. Mereka ternyata lebih cepat memahami bahasa Inggris dibanding kita (bahkan kadang si kakak yang membetulkan pronounciation saya). 
Sedikit pengalaman dari saya, saat anak-anak berumur 3 tahun, saya menceritakan kisah-kisah karakter dalam bahasa Inggris yang sederhana. Tetapi saat mereka berumur 4 tahun, saya membacakan sesuai dengan apa yang ditulis di situ. Karena mereka sudah pernah mendengar kisah tersebut sebelumnya, mereka jadi mengerti saat saya sampaikan kisah dalam bahasa yang lebih resmi.
Ada beberapa yang membuat proses belajar menjadi lebih susah (menurut Doreen Clagget pendiri CCC), antara lain:
1. ketidakkonsistenan selama proses mengajar, 
2. pelajaran tidak diajarkan seperti seharusnya, 
3. menganggap suatu bagian tidak penting sehingga mencoba memilih sendiri bagian yang lain, yang akibatnya malah membuat kita melewatkan bagian yang penting,
4. memilih level yang terlalu tinggi, atau bahkan terlalu rendah, dari yang seharusnya,
5. si pengajar sedang mengalami tekanan dalam keluarga, yang mungkin dirasa oleh anak, 
6.mungkin memang si anak memerlukan waktu lebih untuk memahaminya (kalau kata dosen saya dulu nanti ada waktunya kamu mengerti materi ini, sekarang pakai saja dulu rumusnya, dan ternyata betul di semester berikutnya saya jadi lebih mengerti)

Kalau ditanya susah atau tidak saat menggunakan CCC pasti jawabannya relatif. Tetapi satu hal yang harus diingat sebelum mengajar, berdoalah agar anak-anak diberikan kemampuan untuk memahami setiap hal yang disampaikan dan koreksilah hal yang harus dikoreksi. Jangan berpikir kan masih kecil, nanti juga mengerti sendiri. Hal-hal yang dasar tetap harus diperjelas dari awal. Dan kita sebagai pengajar, jadilah pengajar yang meng-encourage anak-anak dengan mengestafetkan perasaan sukacita kita saat proses pembelajaran. Memang praktek lebih susah daripada ngomong, saya pun terkadang mau gigit Duo Lynns kalau lagi berulah saat belajar, tetapi tetap harus semangat. Saya berusaha memandang kepada goal yang ingin saya capai saat saya dan suami memilih homeschool dan CCC: iman dan karakter yang melandasi pengetahuan. Sehingga saat rintangan menghadang, saya dikuatkan kembali untuk melalui setiap rintangan (bahasanya kok jadi puitis begini ya)

2 komentar:

  1. infonya super banget..
    boleh minta info, maksudnya beli kurikulum itu bgmn ya?
    si kecil masih tk b dan sekolah di slh satu sekolah kristen di semarang yg menggunakan CCC sbg kurikulumnya.
    kebetulan ada bbrapa catatan dari miss pengajar di sekolah, dan sarannya agar ikut les..
    kalo seandainya bisa diajarkan sendiri di rumah dg mengetahui bahan yg diajarkan di sekolah bisa kan
    mgkin bunda bisa share pengalaman,info kurikulum CCC yg dibeli tsb.
    trimakasih
    GBU

    BalasHapus
  2. Hi :)
    Beli kurikulum maksudnya adalah kita membeli bahan pelajaran sesuai jenjang pendidikan anak kita. Kalau homeschooling, biasanya bilangnya beli kurikulum. Kayak CCC, berarti kami pakai kurikulum yang Christian based.
    Wah, saya baru tahu ada sekolah di Semarang yang menggunakan kurikulum CCC.
    Berdasarkan pengalaman saya dengan CCC, memang saat TK B materi CCC jauh lebih dalam. Sejujurnya kalau ikut les, si pengajar harus tahu cara ngajarnya CCC. Karena pendekatan CCC berbeda dengan cara yang lazim digunakan di Indo. Tetapi itu menurut saya ya.
    Nah, kalau orang tua bisa mengajarkan sendiri, akan jauh lebih baik,karena dapat menjalin hubungan dengan anak dan dapat menyampaikan sisi yang rohaninya ke si anak.
    Soal beli bahan, CCC dapat dibeli di VCA.
    Semoga balasan ini tidak membuat bingung. Monggo kalau masih ada yang mengganjal di hati. God bless :)

    BalasHapus