Tampilkan postingan dengan label kurikulum untuk 3th. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kurikulum untuk 3th. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2018

Phonics CCC 101: Cara Menggunakan Phonics CCC

Masih melanjutkan kurikulum CCC, setelah membahas tentang penggunaan CCC, bahasan selanjutnya adalah mengenai cara penggunaan Phonics CCC. Pertama kali saya mendengar phonics, saya bertanya-tanya apa sih phonics? Hasil dari bertanya pada wikipedia, Phonics (dibaca foniks, bukan finiks) didefinisikan sebagai metode untuk mengajarkan membaca dan menulis bahasa Inggris dengan cara mengenali bunyinya. Cara kerja metode phonics adalah memecah kata-kata menjadi beberapa bagian kecil dan mengajarkan anak-anak bunyi dari setiap huruf atau campuran huruf tersebut.
Phonic CCC 
Dalam bahasa sederhana yang biasa saya gunakan saat ditanya orang, saya menjelaskan phonics itu adalah bunyi. Sama seperti kucing bunyinya meong, anjing bunyinya guk-guk, dan sebagainya, huruf pun mempunyai bunyi. Tentunya hal ini akan membingungkan saat diawal kita mengajar. Karena saat kita belajar bahasa Indonesia saja kita belajar b-u bu d-i di, budi. Dan saat belajar bahasa Inggris kita pastinya langsung belajar apel bahasa Inggrisnya adalah apple. Nah, saat kita mulai menggunakan kurikulum CCC, kita diminta mengenalkan bahasa melalui bunyinya.

Apa keuntungannya mengajarkan bunyi si huruf pada anak-anak? Keuntungannya adalah anak akan lebih cepat untuk merangkai huruf dan belajar membaca tanpa disadari. Setelah mereka memahami suara dari setiap huruf, mereka akan dengan cepat mengenali suara dari si huruf saat suata kata diucapkan. Dan efek timbal baliknya, anak dapat menulis berdasarkan suara yang mereka dengar. Namun hal ini akan lebih susah saat anak belajar vowel digraph dan vowel diphtong.

Kata kunci untuk menggunakan Phonic CCC adalah ikutilah instruksi yang diberikan. Kurikulum CCC cukup mempermudah proses pembelajaran dengan yang namanya drilling. Asalkan kita mengikuti setiap tahap yang diberikan, lama-lama anak-anak akan memahami dan mengerti bunyi-bunyian ajaib tersebut.

Huruf dalam bahasa Inggris sama dengan huruf dalam bahasa Indonesia, yaitu ada 26 huruf. Huruf konsonan dalam bahasa Inggris pun sama dengan dalam bahasa Indonesia. Yang unik adalah huruf vokal. Vokal atau vowel masih sama, yaitu a, e, i, o, dan u. Umumnya vokal mempunyai 2 bunyi, yaitu short vowel (yang sering digunakan seperti cat, hen, pig, dog, dan duck) dan long vowel (yang bunyinya seperti nama huruf itu sendiri). Sebelum mengajar, ada baiknya kita memahami bunyi-bunyi yang ada ini.

Dalam CCC, pembelajaran phonics dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1. Phonics Lesson for Card 1 – 31: mengenal consonant, long vowel, dan short vowel.
2. Phonics Lesson for Card 32 – 66: mengenal consonant digraph, consonant blend.
3. Phonics Lesson for Card 67 – 93: mengenal vowel digraph, vowel diphthong, dan modified vowel.
4. Phonics Lesson for Card 94 – 118: mengenal pengecualian-pengecualian dari ketentuan yang ada.

Pertanyaan yang sering diberikan kepada saya adalah mengenai workbook yang akan digunakan. Sama seperti artikel sebelumnya, berdasarkan chart yang diberikan, kita dapat mempermudah penggunaannya.
Chart penggunaan CCC 
Penggunaan Phonics CCC dari umur 3 Tahun
Saat anak-anak berumur 3 tahun, biasanya mereka hanya diajar untuk mengenal phonics card dari A sampai Z. Mereka tahu short vowel terlebih dahulu, baru mereka belajar long vowel dan konsonan. Untuk memudahkan pembelajaran, biasanya saya menggunakan lagu yang diberikan.
Pembelajaran short vowel melalui lagu Noah's Ark. 
Selain mengenal vowel dan consonants, pada umur tiga ini anak-anak mulai diperkenalkan dengan tracing huruf. Saran saya, saat anak melakukan tracing, pastikan mereka mengikuti arahan yang benar. Hal ini dapat mengurangi kesalahan saat mereka menulis huruf yang mirip seperti b dan d ataupun p dan q.

Penggunaan Phonics CCC dari umur 4 Tahun
Saat anak menginjak usia 4 tahun, kita dapat menggunakan Phonics Lesson for Card 1-31 bersamaan dengan workbook A1. Idealnya materi ini akan selesai dalam waktu 6 bulan. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook A2 selama 6 bulan. Bagaimana kalau belum selesai? Ya enaknya homeschool, kita tinggal ulang sesuai kebutuhan dan kemampuan si anak, dengan catatan kita harus konsisten.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 4 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook A1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook A2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 5 Tahun
Jika si anak baru mulai menggunakan CCC saat usianya lima tahun, maka kita harus memulai dengan materi Phonics Lesson for Card 1 – 31. Hanya saja workbook yang digunakan adalah workbook B1. Setelah anak menyelesaikan workbook B1, pelajaran dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook B2. Setelah selesai dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 67 – 93 dan workbook B3.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 5 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook B2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 6 Tahun
Jika si anak mulai menggunakan Phonics CCC saat anak berusia enam tahun dan belum mengetahui apapun tentang phonics, maka disarankan untuk mengajarkan dari awal dan dari workbook B. Secara singkat, perjalanan penggunaan Phonics CCC bagi anak yang memulai saat usia 6 tahun adalah seperti berikut:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook C1
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook C2
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Alphabetical Wall Card
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, alasan kami melakukan homeschool adalah agar anak-anak mempunyai dasar karakter dan kebenaran firman Tuhan sebelum mereka mendapatkan dasar pengetahuan. Salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan kurikulum ini adalah Alphabetical Wall Card. Wall card yang memperkenalkan huruf A hingga Z dengan menggunakan kata-kata yang ada di Alkitab ini membantu anak untuk memahami bunyi dari si huruf dan juga rima atau rhyme yang menjelaskan kebenaran firman Tuhan. Saya menempelkan Alphabetical Wall Card di dinding kamar anak-anak. Sehingga saat belajar pun anak-anak dapat langsung melihat dan saat tidak belajar pun mereka dapat membaca tentang tulisan-tulisan yang ada di atasnya.
Alphabetical wall card.

Daily Drill
Dalam pembelajaran Phonics, CCC cukup memudahkan saya sebagai pengajar awam dengan memberikan daily drill. Namanya juga daily, jadi saya mengulang setiap saat kami belajar Phonics. Berhubung ini bukan bahasa ibu saya, otomatis saya tidak begitu hapal aturan dari setiap phonics (bahkan yang bahasa ibunya Inggris pun belum tentu hapal). Dengan menggunakan daily drill dan melakukan pengulangan setiap harinya, harapannya adalah anak dapat memahami dan lama-lama mengingat dengan sendirinya aturan-aturan yang ada dalam phonics.

Selain vowel drill, ada juga yang namanya sight word atau kata-kata yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Sight words akan lebih mudah diingat anak-anak karena biasanya sederhana. 
Folder yang berisi vowel drill dan sight word. 
Rutin dalam Pembelajaran
Bagaimana dengan rutinnya? Biasanya saat belajar Phonics, saya memulai dengan renungan singkat tentang kata yang melambangkan huruf tersebut dan rhyme yang dapat mengingatkan anak akan bunyi huruf tersebut. Setelah selesai renungan singkat, maka saya akan masuk ke bagian daily drill. Daily drill idealnya tidak terlalu lama, maksimal 20 menit. Setelah itu masuk ke materi sesuai dengan petunjuk yang ada di buku.
Salah satu card mengenai aw
Penggunaan 1 Paket Phonics CCC
Pertanyaan yang sering muncul berikutnya adalah bagaimana jika saat membeli kurikulum CCC belinya sepaket (phonics lengkap dari A, B, dan C). Seperti kami yang membeli lengkap, setelah anak-anak menyelesaikan workbook A1 dan A2, maka sayang rasanya kalau buku-buku ini tidak dipakai (ogahrugi.com). Kami memberikan beberapa latihan di buku B1 dan B2 yang tidak ada di workbook A1 dan A2 (seperti tentang rhyming word). Karena sifatnya pengayaan atau tambahan, otomatis pembahasan buku B1 dan B2 tidaklah berlangsung lama. Setelah selesai materi tambahan ini, kami langsung masuk ke Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3. Setelah workbook B3 selesai, kami memberikan beberapa latihan di buku C1 dan C2 yang tidak ada di workbook sebelumnya. Setelah materi ini selesai, barulah kami masuk ke Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3. Nilai tambahnya adalah anak-anak seakan diingatkan kembali dengan materi sebelumnya. Dan mamanya merasa bahagia karena tidak sia-sia membeli sepaket (ups).
Workbook dan kunci jawabannya. 
Phonics Dril Reading
Buku lain yang biasanya juga ada saat membeli Phonics CCC adalah buku Phonics Drill Reading. Sejujurnya saat kakak belajar phonics, saya sempat berpikir buku ini akan dibahas nanti saat umur lima. Oleh sebab itu, penggunaan buku ini telat saat kakak belajar Phonics. Dan saat adik belajar pun, penggunaan buku ini baru digunakan saat adik berusia hampir 6. Namun ternyata memang buku ini dibuat secara khusus untuk anak yang memasuki usia SD. Tujuannya supaya kita dapat mengukur seberapa mampu si anak membaca kata-kata dalam bahasa Inggris. Dan bukan hanya itu, buku ini cukup membantu membetulkan pelafalan anak-anak dan saya juga saat menyebutkan suatu kata dalam bahasa Inggris.
Kata-kata dengan short sound e.
Kendala Saat Menggunakan Phonics CCC
Banyak yang berpikir kendala terbesarnya adalah ketidakmampuan kita berbahasa Inggris. Namun menurut saya ini bukan yang utama. Bagi saya yang mungkin lebih jago bahasa Jawa daripada bahasa Inggris, walaupun bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita, namun saat kita ada kemauan untuk belajar, pastilah bisa. Anggap saja belajar bersama dengan anak.

Menurut saya kendala paling besar adalah konsistensi kita sebagai pengajar. Sebagai homeschooler, anak kita akan dilihat seluruh dunia (lebay.com). Kalau mereka belum bisa baca, pasti akan ada kata-kata 'oh gak bisa baca...anak homeschool sih'. Kita pasti jadi kepengen mereka cepat baca. Nah biasanya, hal ini membuat kita ingin yang instan dengan cara mengajarkan membaca bahasa Indonesia. 

Ini tidak salah, saya pun juga ingin anak saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan menulis dengan baik. Dan saya cinta sekali dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena kurikulum yang kita ambil adalah kurikulum bahasa Inggris, maka akan lebih baik kalau dia lancar dulu dalam hal membaca dan menulis bahasa Inggris. Lain halnya jika kurikulum yang diambil bukan kurikulum luar, maka pastilah saya akan menyarankan untuk memfokuskan proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Anak-anak akan lebih cepat mempelajari bahasa Indonesia yang sederhana (tidak termasuk imbuhan) dibanding bahasa Inggris karena satu huruf dalam bahasa Inggris banyak bunyinya. Jadi saat sepertinya si anak lama menangkap, kita sebagai pengajar haruslah konsisten dan pantang menyerah. Yang sering saya lihat adalah seringkali orang tua ingin anaknya cepat bisa baca dan akhirnya mengajarkan membaca dan menulis bahasa Indonesia dulu. Saat anaknya bisa menulis dan membaca bahasa Indonesia, anaknya mulai ogah-ogahan belajar Bahasa Inggris dan akhirnya proses pembelajaran Phonics menjadi kegiatan yang membuat kita mau meledak.

Bagaimana dengan pengucapan kita yang lucu? Tidak apa-apa, selama kita mendengarkan CD Phonics dengan baik, dan mencoba untuk membetulkan, lama-lama pasti berkurang kok lucunya. Dan nanti anak-anak dapat membetulkan kalau kita salah kok :)

Satu hal yang menjadi pengingat saya saat mengajar Phonics kepada anak-anak adalah setiap anak istimewa. Cara pembelajaran antara satu anak dengan yang lain tentunya berbeda. Cara penyerapan setiap anak pun berbeda. Pendekatan yang dipakai pun dapat bermacam-macam. Dan mengutip salah satu bagian yang ada di buku pelajaran mereka, pendidikan Kristen seharusnya tidak mengabaikan setiap anak. Kita harus mencari cara untuk mengembangkan pendidikan Kristen ke suatu titik dimana semua anak-anak Tuhan dapat dituntun kepada kedewasaan Kristen di dalam lingkungan akademis yang sesuai dengan kebutuhan pribadi mereka, untuk mempersiapkan mereka menuju tingkatan selanjutnya dalam memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya.

Selasa, 24 Juli 2018

CCC 101: Cara Penggunaan Christ-Centered Curriculum (CCC)


Masih membahas kurikulum yang kami gunakan, yaitu CCC. Saat saya pertama kali membuat artikel tentang CCC, banyak orang yang menghubungi saya tentang kurikulum ini. Tidak menyangka juga bahwa artikel tentang CCC ini membuat saya berkenalan dengan banyak orang yang penasaran tentang kurikulum satu ini. 

Karena terlalu banyak yang bingung dengan bagaimana menggunakan kurikulum ini, maka artikel ini pun akhirnya muncul. Setelah hampir setengah tahun, akhirnya selesai juga artikel ini. Maklum, untuk menyediakan waktu membuat artikel rasanya lumayan susah. Banyaknya pekerjaan rumah dan teman-temannya membuat acara membuat artikel tentang penggunaan CCC menjadi cicil-mencicil. Akhirnya cicil-mencicil ini selesai juga.

Seperti di artikel sebelumnya, kami memilih CCC karena CCC merupakan kurikulum yang berpusatkan kepada Tuhan (God-centered), bukan kepada anak (child-centered). Pastinya CCC memiliki kekurangan di berbagai hal, misal packaging yang monoton, warna textbook yang hitam putih, dan hal-hal lainnya yang terkadang membuat orang malas menggunakan kurikulum ini. Tetapi bagi kami hal-hal yang esensi sudah terangkum saat menggunakan kurikulum ini.

Secara cakupan pelajaran, Christ-Centered Curriculum ini mencakup pelajaran hingga SD kelas satu atau dua di Negara asalnya. Memang saat saya mencari kurikulum untuk SD, materi SD kelas 1 di beberapa buku luar berada dibawah materi CCC ini. Jadi CCC dapat digunakan hingga SD kelas 2.

1. CARA PENYIMPANAN
Dalam satu paket CCC terdapat banyak sekali buku. Di paket yang kami miliki, kami mendapatkan Phonics A, Phonics B, Phonics C, Math A, Math B, dan alat-alat bantu yang disediakan dari pihak CCC. Melihat buku yang banyak tersebut, saya langsung berpikir bagaimana caranya merapihkan buku-buku tersebut sehingga tidak membuat saya kewalahan. Kan tidak mungkin semua buku tersebut di dalam kardus. Dan bersyukurnya pihak CCC menyertakan cara bagaimana mengorganisir buku-buku tersebut.

Secara garis besar, mereka menyarankan pengguna untuk menyediakan dua Jumbo Box Office dan heavy duty hanging-file folder sebanyak 25 buah. Lalu panduan mereka adalah agar kita memisahkan bahan untuk pengajar dengan bahan untuk murid.
Jumbo Box Office. Sumber foto: amazon.com
Hanging file folder. Sumber foto: Amazon.com 
Bahan untuk pengajar pun dipisahkan lagi menjadi 8 folder, dengan 5 folder untuk Phonics (dari Alphabetical Wall Card, Phonics Lesson 1 hingga 4 plus Phonics Flashcards dan bacaan yang berhubungan) dan 3 folder untuk Math (Math Flashcards, Math Lesson Guide A dan B beserta alat bantu yang berhubungan dengan pelajarannya).

Sedangkan bahan untuk murid dipisahkan menjadi 10 folder. Setiap folder berisi 8 folder untuk Phonics (setiap buku soal dan buku jawabannya) dan 2 folder untuk Math (Math A dan Math B)

2. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 3 TAHUN
Jika anak bersekolah di sekolah umum, biasanya umur tiga tahun mereka memasuki kelas taman bermain alias playgroup. Banyak mama-mama yang bingung bagaimana caranya menyusun kegiatan dari pagi sampai siang seperti di sekolah. Berbeda dengan fokus tujuan di sekolah untuk membuat anak bisa ini dan itu, tujuan kami saat anak-anak tiga tahun lebih untuk membuat anak tersebut mempunyai dasar iman, karakter, manner, dan pengetahuan dasar. Di CCC memang tidak ditulis dengan signifikan harus seperti ini harus seperti itu. Namun mereka menyarankan untuk memulai dengan cerita karakter mengenai Generosity, Flexibility, Loyalty, dan Orderliness. Selain itu ada banyak aktivitas yang dapat dikerjakan bersama anak dan memberikan ilustrasi tentang aplikasi secara rohani.
Cerita karakter yang dapat digunakan oleh anak-anak umur 3 tahun.
Untuk Phonics, kita dapat mengenalkan bunyi setiap huruf dengan menggunakan Phonics Flashcards 1 – 31. Sedangkan untuk Math, kita dapat mengenalkan konsep berhitung sederhana dengan aplikasi sehari-hari. Misalkan menghitung ada berapa banyak pensil warna yang mereka miliki, menghitung jumlah anak tangga, dan sebagainya. Di usia ini, jika anak telah siap, dapat juga diperkenalkan tracing dari buku Alphabeth and Numbers Tracins Masters.

3. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 4 TAHUN
Saat anak-anak memasuki usia 4 tahun, kita sudah dapat menggunakan kurikulum CCC secara menyeluruh. Perlu diingat bahwa namanya anak, hari ini ingat dan besok lupa adalah hal yang wajar. Dengan demikian, sebagai orang tua, kita harus sabar mengulangnya. Pembentukan karakter untuk kita dulu, bukan?

Untuk Phonics, mereka sudah dapat menggunakan buku Phonics Lesson mulai dari Phonis Lesson 1 (for cards 1 – 31) dengan workbook A1. Jika dihitung, materi ini akan selesai kurang dari setengah tahun ajaran. Maka jika sudah selesai, dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson 2 (for cards 31 – 66) dengan workbook A2.

Untuk Math, kita dapat memulai dengan menggunakan Math A.

4. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 5 TAHUN
Jika anak sudah selesai dengan Phonics Lesson 1 dan 2, maka kita dapat melanjutkan dengan masuk ke Phonics Lesson 3 (for cards 67 – 93) dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math A, maka dapat dilanjutkan dengan Math B.

Timbul pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya: ”Bagaimana jika saya baru mulai melakukan homeschool dengan kurikulum CCC saat anak berusia 5 tahun?” Jika memang demikian, maka akan lebih baik dimulai dari Phonics Lesson 1. Walaupun diulang dari Phonics Lesson 1, workbook yang dipakai adalah B1. Setelah itu lanjut ke Phonic Lesson 2 dengan workbook B2. Baru setelah itu masuk ke Phonics Lesson 3 dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, disarankan memulai dengan menggunakan Math A, karena banyak konsep dasar yang ada di Math A.
Petunjuk penggunaan buku Phonics dan Math. 
5. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 6 TAHUN
Memasuki usia 6 tahun, jika anak-anak dirasa sudah menguasai pelajaran sebelumnya, maka anak-anak dapat lanjut ke Phonics Lesson 4 (for cards 94 – 118) dengan workbook C3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math B, maka kita dapat menggunakan buku Math SD kelas 1. Jika belum, maka dapat mengulang buku Math B kembali.
Pegangan buku dan flashcard untuk guru 
Bagaimana jika CCC ini pertama kali digunakan saat anak berusia 6 tahun? Pihak CCC merekomendasikan penggunaan Phonics Lesson dimulai dari Phonics Lesson 2 dengan workbook C1, dilanjutkan ke Phonics Lesson 3 dengan workbook C2, dan Phonics Lesson 4 dengan workbook C3. Andaikan si anak memang betul-betul belum tahu apa-apa, saya sih menyarankan dimulai dari Phonics Lesson 1 dengan menggunakan workbook B1, baru dilanjutkan dengan rekomendasi CCC. Alasannya supaya dasar Phonics anak lebih mantap.
Buku workbook. 
Bagaimana dengan kami? Untuk penyimpanan, berhubung membeli dua Jumbo Box Office berarti semakin banyak barang di rusun kami yang mungil sekali, maka kami memanfaatkan lemari yang ada. Kami menyusun mengikuti petunjuk yang ada, lalu antar bagian diberikan sekat kertas buffalo. Intinya, memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah.

Pertama kali saya menerima paket CCC ini, saya cukup penasaran dengan buku-buku yang ada. Diakhir rasa penasaran, muncullah rasa was-was apakah saya sanggup menggunakan kurikulum ini dengan benar. Wong bahasanya Inggris semua (ya iyalah, masak ada bahasa Jawa di situ). Namun saya dan suami berpikir jika kami sudah memilih untuk menggunakan CCC, ya berarti kami harus merelakan hati untuk mempelajari cara penggunaannya.

Dan namanya setiap anak berbeda, maka penerimaan terhadap materi pelajaran pun berbeda. Kakak dapat menyelesaikan semua pelajaran saat berusia 5 tahun lebih. Sedangkan dengan si adik, penggunaan CCC sesuai dengan urutan yang diberikan. Jadi jangan kuatir kalau ’langkah’ si anak agak lambat, yang penting konsep dari pelajaran tersebut didapat.

PS: Untuk pembahasan mengenai Phonics dan Math akan dibahas di artikel berikutnya ya.

See also:
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 1
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 2
Homeschooling untuk anak 3 tahun
8 hal yang harus dilakukan saat memulai homeschooling
Math untuk preschool
Tips memilih kurikulum









Kamis, 07 April 2016

Homeschooling untuk Anak 3 tahun

Banyak yang bertanya kepada saya apa sih yang dapat dilakukan saat memulai homeschooling untuk anak yang berumur 3 tahun. Bahkan ada beberapa orang tua yang mengajarkan anaknya membaca pada umur tersebut. Lalu, sebaiknya apa sih yang dilakukan untuk anak umur 3 tahun?

Menurut saya, masa-masa balita adalah masa anak-anak ini menikmati waktu untuk bermain. Lalu apa hanya bermain saja? Tentu tidak. Pasti ada banyak yang dapat diajarkan saat anak berumur 3 tahun. Tetapi proses pengajaran seperti apakah yang sesuai?
Saat si kakak berumur 3 tahun, saya mulai memperkenalkan materi tentang karakter. Mengapa? Bagi saya dan suami, sedini mungkin anak dikenalkan nilai-nilai yang harus dimiliki, bahkan sebelum 3 tahun pun sudah diperkenalkan. Bagi kami, urutan yang harus dimiliki adalah iman, kebajikan, dan pengetahuan. Dengan kata  lain, pengenalan akan Tuhan adalah yang utama. Setelah itu karakter mengikuti. Baru setelahnya pengetahuan. Tidak ada gunanya jika seorang anak berpengetahuan atau berkemampuan, tetapi tidak mempunyai dasar iman dan tidak mempunyai karakter dan manner yang baik. Logikanya, jika seseorang berkarakter yang baik, maka ia akan mempunyai manner yang baik. (Ada amin saudara-saudara?)

1. Character story
Berdasarkan prinsip diatas, saya mengenalkan character story dari Christ Centered Curriculum. Ada 10 cerita karakter yang disampaikan di sini, tetapi selama 4 bulan saya hanya menceritakan 4 cerita karakter yaitu generosity (murah hati), flexibility (fleksibel), loyalty (loyalitas), dan orderliness (teratur). Satu cerita diceritakan selama satu minggu full (toh anaknya gak bosan).
Setelah itu saya mix dengan cerita karakter lainnya. Salah satu sumbernya adalah buku 12 sikap dasar batita. Buku ini bilingual, sehingga bisa digunakan untuk si anak nantinya belajar membaca bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 

Character Story CCC

12 Sikap Baik Batita

2. Bahasa
Berbeda dengan bahasa Indonesia, saat belajar bahasa Inggris, pembelajaran dimulai dari yang namanya phonics. Kalau hewan kan punya suara masing, seperti anjing suaranya guk guk, kucing meong, dan sebagainya. Nah, setiap huruf juga punya suara masing-masing dan huruf-huruf tertentu mempunyai lebih dari satu suara. Awalnya bingung juga, wong dulu pas belajar bahasa Inggris di sekolah langsung belajar baca one two three. Sekarang belajar suaranya dulu. Mungkin ada yang berpikir kok gaya-gayaan pakai kurikulum bule. Sejujurnya kalau ada kurikulum di Indonesia yang bisa memfasilitasi homeschooling sih kami mau, tetapi setelah melihat sana sini, kurikulum yang sesuai dengan maunya kami, kurikulum berbasis agama, maka kami memilih bahan ini. Jadinya bukan cuma anak yang belajar, tetapi mamanya juga belajar. Tetapi tetap anak-anak akan belajar bahasa Indonesia (maunya mamanya juga belajar bahasa Jawa), karena kami cinta bahasa Indonesia. Untuk permulaan memang belajar bahasa Inggris dulu, dengan pertimbangan aturan dalam belajar bahasa Inggris lebih banyak. Asal anak-anak mengerti yang Inggris, maka pembelajaran bahasa Indonesia akan lebih cepat (wong bahasa ibunya bahasa Indonesia). Dan memang terbukti, saat si kakak lancar membaca bahasa Inggris, tanpa diajari pun bisa membaca bahasa Indonesia (walau ada beberapa yang harus dibetulkan dan logatnya rada bule). Oya, pembelajaran phonics ini dilakukan dalam bentuk lagu, anaknya happy mamanya juga happy.

3. Math
Untuk angka, si kakak diminta untuk bernyanyi dari nol sampai seratus. Ini juga dilakukan dengan lagu, dan yang menciptakan lagu tersebut adalah si kakak sendiri. Saya membuat flash card angka 1- 20, tulisan angka tersebut, dan dot. Tugas si kakak adalah mencocokan antara ketiganya. Lalu si kakak belajar pola/pattern (dari pola 2, pola 3, dan pola 4) dan perbandingan (besar kecil). Semuanya dilakukan dengan bermain dan aktivitas menempel. Setelah si kakak menguasai materi ini, barulah masuk ke tracing angka 0 sampai 100 dan menulis angka tersebut sendiri.

4. Pengetahuan dasar
Dibanding memaksa anak untuk membaca diusia 3 tahun, saya lebih senang untuk membacakan cerita atau memperkenalkan berbagai hal pada anak-anak. Apalagi saat mulai belajar, si adik baru 15 bulan. Dan karena saya tidak mau memberikan gadget untuk membuat si adik diam saat kakak belajar, maka saya sebisa mungkin membuat aktivitas atau pembelajaran yang bisa diikuti oleh adik. Saya menggunakan Times Giant Books of 4000 words untuk pengenalan akan banyak hal. Dan bersyukurnya, teman saya, yang sudah seperti kakak saya dan juga homeschooler, tanpa angin tanpa hujan (apalagi geledek) meminjamkan satu set buku cerita Poldy yang dapat digunakan untuk bahan pembelajaran pre-school. Efek dari sering dibacakan cerita ataupun membuka buku bergambar adalah si kakak bisa membaca tanpa harus diajar. Dia jadi penasaran untuk membaca dan mengingat kata dalam bahasa Inggris. Selain itu membuka wawasan si anak.
Times giants book of 4000 words
Poldy set
 5. Motorik 
Motorik terbagi dua, yaitu kasar dan halus. Untuk melatih motorik kasar, seminggu sekali kami melakukan permainan yang bersifat fisik. Sekaligus olahraga gitu loh. Anak-anak akan berjalan di alur yang sudah disediakan, berjalan zig zag, berjalan melompati beberapa kotak, berjalan dengan satu kaki, meloncat, melompat, balancing, jalan jongkok, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk bahasan motorik halus dan cara menstimulasinya akan dijelaskan secara terpisah.  

6. Tema bulanan
Saya senang membuat tema tiap bulan, sebagai selingan yang menarik untuk anak. Temanya pun sangat sederhana, dan dicari yang tidak menyusahkan mamanya, seperti keluarga, kehidupan bawah laut, panca indera, in the jungle, music instruments, dan lain-lain. Dengan adanya tema bulanan ini, saya pun lebih mudah mencari aktivitas yang sesuai.

7. Seni dan permainan
Ada dua hari yang kami khususkan untuk berkenalan dengan seni dan berhubungan dengan komputer. Saat hari seni, anak-anak belajar mengenal ketukan, bergerak mengikuti lagu, dan sebagainya. Sebetulnya ini adalah kegiatan yang setiap saat mereka lakukan (dari bayi, mereka terbiasa dengan musik dan langsung kayak cacing kena garam bergerak mengikuti irama. Tetapi saya sengaja memasukkan ke dalam bagian pelajaran, supaya lebih fun dan membuat mamanya bernapas di tengah rutinitas rumah dan homeschool. 
Hari permainan dengan komputer, tepatnya laptop, biasanya hari Sabtu. Saya akan membuka situs edukasi tertentu, yang free tentunya. Waktunya juga tidak lama, maksimal 1 jam (kalau kelamaan kuota internet bisa habis :-D) 

Lalu banyak yang bertanya, sekali belajar itu berapa lama? Saat anak-anak berusia 3 tahun, mereka hanya belajar sekitar 10 sampai 30 menit. Kan kerjaannya cuma cerita, nyanyi dan bermain tok. Plus satu hari cuma pengetahuan dasar dan satu materi pilihan. Misal Senin itu hari untuk prakarya, Selasa hari untuk bermain dengan matematika sederhana,  Rabu hari untuk Olahraga, Kamis hari untuk  prakarya, Jumat hari untuk seni dan bermain, Sabtu hari untuk komputer. Sebentar kan? Jadi siapa bilang homeschooling buat sakit kepala :-D

Kesimpulannya, goal saya untuk anak 3 tahun adalah membuat anak tersebut mempunyai dasar iman, karakter, manner, pengetahuan dasar (huruf, angka, posisi, pola, perbandingan, dan sebagainya) dan melatih motorik anak, baik kasar maupun halus. Anak tidak diajarkan membaca terlebih dahulu, tetapi anak belajar mengenal pola kata secara otodidak. Hal ini mengembangkan rasa keingintahuan dan mengembangkan pola pikir si anak. Dan tentunya setiap anak tidaklah sama. Kita sebagai orang tuanya tentu lebih tahu apa yang sesuai dengan anak kita. Seperti si kakak yang lebih menikmati melatih motorik halus dan si adik yang lebih cepat dalam hal yang berhubungan dengan motorik kasar. Bukan berarti yang satu kurang dari yang lain, tetapi masing-masing ada kelebihannya masing-masing. 




See also: