Tampilkan postingan dengan label kurikulum homeschool. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kurikulum homeschool. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 September 2019

Math Mammoth 101: How to Use Math Mammoth


Masih melanjutkan tentang MathMammoth, setelah tahu tentang bermacam-macam tipe Math Mammoth, maka pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah bagaimana cara menggunakan Math Mammoth. Tidak seperti buku lain yang ada teacher guide, Math Mammoth tidak memberikan buku panduan untuk guru. Tetapi walaupun tidak memberikan panduan untuk guru, Math Mammoth mudah untuk digunakan.
Penjelasan untuk sub bab geometri. 
Penggunaan Math Mammoth pada setiap tingkatan
Math Mammoth pada setiap grade terdiri dari dua workbook untuk murid (bagian A dan B), kunci jawaban, cumulative review, test, dan cutouts (tidak selalu ada,tergantung materi yang akan diajarkan). Cutouts merupakan alat bantu tambahan yang dapat digunakan untuk menerangkan salah satu pelajaran di bab yang ada. Didalam setiap workbook terdapat penjelasan singkat mengenai isi dari bab tersebut. Dalam setiap sub bab pun diberikan keterangan mengenai pelajaran yang akan diberikan. Dengan adanya bagian ini, kita sebagai guru dapat membaca dan menerangkan kepada anak-anak.
Penjelasan mengenai isi bab yang akan dikerjakan.
Kita dapat mengerjakan satu atau dua soal bersama dengan anak sehingga anak memahami cara mengerjakan soal tersebut. Setelah itu biarkan si anak untuk mengerjakannya. Untuk memeriksa isi jawaban, maka kita dapat menggunakan kunci jawaban yang diberikan.
Cutout untuk pecahan. 
Setelah anak-anak menyelesaikan semua materi dalam satu bab, maka lembar cumulative review dapat diberikan. Cumulative review ini berisi kumpulan soal-soal dari bab-bab sebelumnya. Harapannya dengan adanya materi-materi sebelumnya, anak-anak tidak akan lupa materi sebelum-sebelumnya.
Cumulative review setelah bab 6 selesai. 
Setelah anak-anak menyelesaikan cumulative review, maka kita dapat memberikan test kepada anak tersebut. Test ini bersifat opsional, boleh diberikan atau tidak. Saya pribadi lebih suka memberikan test ini untuk memeriksa seberapa besar si anak menguasai suatu materi.

Bagaimana caranya untuk tahu bahwa si anak menguasai materi atau belum? Salah satu cara untuk memeriksa apakah si anak menangkap suatu konsep adalah saat si anak mengerjakan soal cerita. Jika si anak dapat mengerjakan soal cerita tersebut, maka dapat dikatakan bahwa si anak memahami konsep dari suatu materi. Jika kita rasa anak belum menguasai materi tersebut, baik soal cerita ataupun soal konsep sederhana, maka kita dapat mengulang materi yang kita rasa belum dikuasai oleh si anak sampai anak mengerti. Biasanya saya akan mencetak ulang soal yang belum dikuasai, dan meminta anak untuk mengerjakan kembali.
Test yang diberikan setelah anak menyelesaikan pelajaran.
Cara menyelesaikan Math Mammoth dalam satu tahun ajaran.
Pertanyaan ini sering muncul dan dipertanyakan oleh teman-teman. Berapa banyak lembar soalkah yang harus diberikan kepada si anak setiap kali belajar. Ada beberapa cara yang dapat digunakan.

Yang pertama, dengan membagi lembar soal berdasarkan jumlah hari efektif. Bagilah materi dalam dua semester (berdasarkan bagian A dan bagian B), lalu hitunglah lembar soal yang ada dalam suatu bagian. Setelah itu hitung juga berapa banyak cumulative review dan test yang ada dalam satu bagian. Tentukan juga jumlah hari yang akan digunakan untuk belajar matematika dalam satu semester. Jumlah hari yang ada dalam 1 semester akan digunakan untuk mengerjakan soal dan juga cumulative review dan test. Idealnya jumlah hari yang akan digunakan untuk mengerjakan cumulative review dan test akan sama dengan jumlah cumulative review dan test yang ada.

Untuk mendapatkan jumlah hari yang dapat digunakan untuk mengerjakan soal, kurangi jumlah hari dalam 1 semester dengan jumlah cumulative review dan jumlah test. Untuk mendapatkan jumlah lembar per hari, kita tinggal membagi jumlah halaman lembar soal dengan jumlah hari untuk soal.  Maka akan didapatkan minimal lembar soal yang harus dikerjakan supaya materi ini selesai dalam 1 semester.

Misal, untuk grade 4A,
Halaman lembar soal = 181 halaman.
Jumlah cumulative review = 3 cumulative review
Jumlah test = 4 test

Jumlah hari dalam 1 semester = 100 hari
Jumlah hari untuk soal = jumlah hari – jumlah C. Review – jumlah test = 100 - 3 - 4 = 93 hari
Jumlah lembar soal/hari = jumlah halaman lembar soal : jumlah hari untuk soal = 181/93 = 1.94 (2 lembar per hari) 
  
Cara yang kedua adalah dengan mengerjakan berdasarkan sub bab. Ini adalah cara yang biasa saya gunakan. Dalam suatu bab, terdapat beberapa sub bab. Setiap sub bab memiliki 2 hingga 5 lembar soal. Dalam setiap pertemuan, kakak menyelesaikan satu sub bab. Setelah semua sub bab selesai, maka kami melanjutkan dengan menyelesaikan cumulative review dalam 1 pertemuan dan setelah itu test dalam 1 pertemuan.

Alasan mengapa saya memilih dengan cara yang kedua adalah untuk memudahkan saya membagi pelajaran. Sehingga saya punya waktu lebih sebagai waktu cadangan jika saya saya harus mengulang suatu materi. Jika semua berjalan lancar, maka saya dapat lanjut ke bab atau buku berikutnya.

Pada dasarnya tidak ada patokan bahwa suatu materi harus selesai dalam suatu waktu, karena kecepatan anak berbeda-beda. Dengan kata lain, kita dapat menyesuaikan penggunaan Math Mammoth sesuai kebutuhan kita dan kemampuan si anak. Seperti yang selalu saya katakan, kurikulum membantu kita untuk mengajar, bukan membuat kita menjadi stres karena dikejar-kejar kurikulum.

Selamat menggunakan Math Mammoth :)












Senin, 09 September 2019

Review Kurikulum Matematika: Math Mammoth

Mathmammoth.com
Berbicara tentang kurikulum Matematika memang selalu menjadi topik yang menarik, khususnya saat anak berusia diatas 6 tahun. Banyak yang bertanya kepada saya kurikulum Matematika apa yang dipakai oleh Duo Lynns selama usia SD ini. Kami memang memakai dua kurikulum, yaitu Professor B untuk aritmetika SD dan juga Math Mammoth saat Prof B sudah selesai digunakan.

Math Mammoth dikarang oleh Maria Miller. Maria Miller awalnya adalah guru matematika yang juga seorang homeschool mom. Sejak awal tahun 2000an, Maria Miller menjadi tutor anak-anak homeschool dan melihat bahwa buku-buku yang digunakan bukanlah buku khusus untuk homeschooler. Oleh sebab itu banyak ibu-ibu yang bergumul dalam dalam mengajarkannya. Sejak itu Maria Miller berusaha membuat buku matematika yang memang khusus untuk homeschooler dengan penjabaran konsep yang sederhana tetapi mudah dipahami oleh si ibu dan si anak .

Math Mammoth sendiri mempunyai banyak jenis buku-buku matematika. Berdasarkan jenisnya, maka ada dua jenis, yaitu Full Curriculum dan Supplemental Material. Full Curriculum menggunakan pendekatan masteri dan terdiri dari dua seri, yaitu:
1. Light Blue Series
Light Blue Series merupakan kurikulum matematika yang lengkap sesuai grade atau kelasnya berdasarkan kurikulum Amerika. Setiap tingkat kelas di Light Blue Series terdiri dari buku untuk siswa (A dan B), yang berisi penjelasan dan soal-soal untuk siswa. Selain itu terdapat juga kunci jawaban, soal-soal ujian, soal-soal cumulative review, dan beberapa alat peraga yang dapat dipotong dan digunakan oleh siswa.
2. Blue Series
Berbeda dengan Light Blue Series yang membagi pelajaran matematika berdasarkan jenjang kelasnya, Math Mammoth Blue Series merupakan worktexts berdasarkan topik-topik spesifik dalam matematika. Setiap buku terdiri dari penjelasan konsep dan soal-soal yang bervariasi.

Sedangkan Supplemental Material terdiri dari 5 seri, yaitu:
1. Math Mammoth Skills Review Workbooks
Math Mammoth Skills Review Workbooks dirancang sebagai pelengkap untuk Light Blue Series. Buku ini dirancang dengan pendekatan spiral (penjelasan mengenai metode spiral dan metode masteri dapat dilihat di link berikut) dan dapat digunakan bersamaan dengan kurikulum utama.
2. Math Mammoth Review Workbooks
Math Mammoth Review Workbooks dirancang untuk memberikan anak-anak review menyeluruh atas suatu tingkatan. Masih dengan pendekatan soal-soal campuran atas beberapa topik, workbook ini juga dilengkapi dengan test. Workbook ini idealnya digunakan saat anak-anak sedang liburan, jadi menjaga supaya jangan sampai anak-anak lupa dengan materi yang ada.
3. Make It Real Learning Workbooks
Make It Real Learning Workbooks berfokus untuk menjawab pertanyaan mengenai aplikasi dari setiap konsep matematika yang dipelajari. Workbook berisi aktivitas atau situasi yang diambil dari keadaan nyata dengan data data yang real.
4. Golden and Green Series
Untuk seri yang ini, akan lebih baik jika digunakan oleh tutor atau guru. Mammoth Golden Series merupakan kumpulan soal-soal untuk kelas 3 sampai 8, terdiri dari dua bagian A dan B untuk setiap tingkatnya Sedangkan Green Series merupakan kumpulan soal berdasarkan topik dalam matematika, seperti geometri, bilangan bulat, statistika, dan lain-lain. Soal-soal yang ada di Golden and Green Series ini merupakan soal-soal yang bervariasi baik dalam soal cerita maupun kesulitannya.
5. WTM Mathematics Foundation
Mathematic Foundations merupakan worktext yang custom-made. Worktext ini dirancang untuk anak-anak yang telah menyelesaikan pelajaran matematika di pendidikan dasar tetapi tidak mempunyai kemampuan matematika yang kuat
Tabel perbandingan setiap seri. Sumber: Mathmammoth.com
Untuk full curriculum, Math Mammoth menyediakan versi US dan versi internasional seperti Spanish, UK, South Africa, European, Canadian, dan New Zealand. Perbedaannya adalah di satuan mata uang, satuan metrik, dan bahasa yang digunakan. Kami tetap memilih versi US karena versi mata uang Indonesia tidak ada. Sedangkan untuk bahasanya, karena selama ini kurikulum menggunakan Inggris Amerika, maka versi yang lain takutnya akan membuat anak-anak tercampur antara penulisan kata dalam Inggris Amerika dan Inggris British (seperti center dan centre).

Bagaimana dengan kami? Kami mengambil Light Blue Series, untuk melengkapi pelajaran yang didapatkan anak-anak dari Prof B sesuai dengan jenjang kelasnya. Kami memilih menggunakan Math Mammoth karena:
1. Bisa di-download langsung.
Awalnya kami berencana mengambil Saxon karena pendekatan spiral dan soal-soalnya yang membuat anak-anak tidak lupa dengan materi-materi sebelumnya. Tetapi karena Saxon berbentuk buku dan lumayan tebal-tebal, maka kami kesulitan untuk pengiriman dan membawa ke Indonesia. Math Mammoth tersedia dalam 3 format, yaitu buku, CD atau softcopy yang dapat di-download langsung. Best seller-nya tentu yang ketiga. Sehingga untuk kita yang tidak berada di Amerika, tidak perlu repot-repot kirim dari luar negeri dan tidak takut bukunya tertahan di Bea Cukai.
Worktext yang ada di CD.
2. Biaya reasonable.
Dibanding dengan kurikulum matematika lainnya, Math Mammoth termasuk sangat murah dengan muatan materi yang berbobot. Terutama untuk yang dalam format CD dan softcopy. Jadi kita dapat mencetak sendiri, sesuai kebutuhan. Walaupun formatnya berwarna, namun kita dapat mencetaknya dalam bentuk hitam putih. Lumayan memangkas biaya yang ada, bukan?
3. Pendekatan masteri tetapi diakhir bab terdapat cumulative review bab-bab sebelumnya. 
Hampir semua topik di Math Mammoth ini diajarkan dengan menggunakan pendekatan masteri. Namun tetap ada pendekatan spiral yang digunakan di dalam buku-buku Math Mammoth. Terutama untuk soal-soalnya, akan ada review topik-topik di bab sebelumnya (atau dalam Prof B disebut mixed practice). Namun pendekatan spiral ini berbeda dengan pendekatan spiral yang digunakan oleh Saxon (topik diajarkan sedikit demi sedikit dan meningkat secara perlahan).  Tetapi bagi kami hal ini cukup untuk membuat anak mengingat kembali pelajaran sebelumnya.
Sumber-sumber tambahan yang ada di internet.
4. Menggabungkan metode Sing math yang terkenal dengan pemodelan dengan metode math yang umum.
Banyak orang yang menggunakan kurikulum luar berpendapat bahwa soal-soal luar biasanya kurang menggigit (karena soal kan tidak punya gigi). Memang untuk soal dan pendekatan, kurikulum Asia sudah terbukti lebih rumit dan mendetil. Tidak heran kurikulum matematika ala Singapore sangat digemari di Amerika. Math Mammoth menggabungkan metode pemodelan dan logika dalam Singapore Math dengan metode matematika yang umum digunakan. Dengan demikian proses pendekatan pembelajaran ke anak menjadi lebih menarik dan soal-soalnya pun menjadi lebih menantang.
Puzzle Corner.
5. Puzzle corner, challenge problem, dan new terms yang membuat anak-anak berpikir. 
Di setiap bab selalu tersedia beberapa puzzle corner dan soal-soal menantang untuk membuat anak-anak tidak menjadi bosan. Soal-soal ini menggabungkan logika dan konsep yang sedang diajarkan di bab tersebut. Hal ini bagi kami sangat menarik sehingga anak-anak belajar menganalisa dan berpikir. Untuk anak-anak yang ingin soal-soal tambahan, Math Mammoth juga menyediakan link-link tambahan di setiap bab. Jadi tidak perlu takut anak kekurangan soal-soal untuk dikerjakan.
New terms and symbols.
Diakhir setiap sub bab akan disediakan kotak new terms yang berisi istilah-istilah baru yang digunakan di sub bab tersebut. Dengan adanya kotak new terms ini, orang tua dan anak pun dengan mudah mengingat dan mengetahui konsep baru apa yang didapatkan di sub bab tersebut.
Self teaching system dengan penjelasan yang singkat, padat, dan jelas.
6. Self teaching system, tanpa buku pegangan guru.
Berbeda dengan beberapa buku untuk homeschooler yang dilengkapi dengan buku pegangan guru, Math Mammoth tidak menyediakan buku pegangan guru secara terpisah ataupun kalimat-kalimat untuk memandu orang tua dalam mengajar. Dengan self teaching system, setiap bab dilengkapi dengan keterangan mengenai konsep yang akan diajarkan. Dengan kata lain, anak-anak dapat dilatih untuk belajar mandiri dan kita sebagai orang tua cukup menjelaskan melalui keterangan yang diberikan di setiap bab.
7. Math Mammoth menyediakan Lesson Plan untuk memudahkan orang tua dalam menggunakan kurikulum yang ada.
Bagi banyak orang tua, membuat lesson plan atau rencana pembelajaran merupakan sesuatu yang memusingkan. Maka untuk memfasilitasi para orang tua, sekarang Math Mammoth menyediakan lesson plan bagi para orang tua. Lesson plan ini dijual terpisah dari paket kurikulum yang ada.

Secara keseluruhan, menurut kami Math Mammoth tidaklah susah untuk digunakan para homeschooler dan soal-soal yang ada cukup bervariasi. Jika dibandingkan dengan kurikulum nasional, soal-soal Math Mammoth cukup menantang dan membuat anak berpikir dengan logika. Selain itu, harganya yang ekonomis dan dapat di-download menjadikan Math Mammoth mudah untuk didapatkan.


Senin, 24 Juni 2019

Parents Meeting: Diskusi Kurikulum

Topik kurikulum selalu menjadi bahasan menarik bagi homeschooler. Demikian juga dalam komunitas kami. Setelah sebagian dari kami selesai dengan CCC, maka sebagian dari kami masih bingung ingin mengambil kurikulum apa. 

Dan pada Parents Meeting bulan Mei kemarin, kami pun berkunjung ke salah satu senior homeschool yang juga mempunyai learning center di daerah Jakarta Barat. Tujuannya? Tentu bertanya tentang kurikulum. Harusnya pertemuan ini dilakukan tahun lalu. Namun karena waktunya yang belum ketemu, akhirnya diundur sampai ke tahun ini.

Keluarga Widjanarko menyambut kami dan memberikan banyak informasi yang kami perlukan. Berikut ringkasan dari pertemuan kami kemarin, baik dari pertanyaan maupun dari yang langsung dibagikan oleh keluarga Widjanarko. 
1. Kurikulum bukanlah yang nomor satu, hanya alat bantu.
2. Yang kita kejar dalam homeschool adalah hati anak-anak menjadi melekat pada Tuhan.
3. Setiap keluarga unik, jadi kurikulum disesuaikan dengan keunikan keluarga.
4. Ayah terlibat dalam homeschool, terutama dalam bagian spiritual. 
5. Konsistensi dalam homeschool bukanlah masalah jika ayah terlibat dalam homeschool.
6. The art of homeschool adalah kurikulum sesuai keluarga, baik value, keunikan, dan budget masing-masing.
Perbandingan kurikulum.
7. Saat berjalan, take one step at the time. Depannya mungkin belum kelihatan, tapi mengandalkan kekuatan Tuhan.
8. Saat anak-anak masih kecil, pengulangan itu penting.
9. Untuk kurikulum yang klasik dan semi klasik, seperti BJU, Abeka (dan kurikulum yang kami pakai) tentunya membutuhkan waktu persiapan yang banyak, kurang lebih tiga sampai empat jam. Kurikulum seperti ini cocok untuk keluarga yang jumlah anaknya tidak banyak. 
BJU
10. Untuk yang anaknya banyak, PACES or Lifepac (Alpha Omega) akan sangat membantu. Ini dikarenakan kurikulum ini dirancang dengan konsep agar anak dapat membuat sendiri. Tetapi saat memakai kurikulum yang seperti ini, pastikan anak sudah menguasai dasar atau konsepnya. Dan dengan kurikulum ini harus ditambahkan literatur lainnya. 
11. Untuk literatur, Sonlight menyediakan banyak literatur. Sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi keluarga yang senang dengan pendidikan berbasis literatur.
Literatur dari Sonlight.
12. Biasanya saat memilih kurikulum, orang tua akan galau dan takut orang tua tidak dapat mengajar saat high school. Tidak usah takut untuk kurikulum saat high school. Banyak kurikulum yang menyediakan DVD. 
12. Stick to one curriculum. Jangan setengah jalan ganti kurikulum. Dengan menggunakan satu kurikulum, kita tidak usah bolak-balik belajar dan tentunya ramah untuk kantong kita.
Abeka
13. Tidak ada kurikulum yang paling bagus. Kurikulum A cocok untuk si A, belum tentu cocok untuk si B. Jadi sesuaikan dengan keluarga masing - masing. 
14. Kejar Paket ABC bisa diambil sesuai kebutuhan. Tidak usah takut anak tidak bisa memahaminya. Anak pasti bisa mengikuti kejar paket dengan baik asal dipersiapkan.
15. Untuk online school, tidak disarankan untuk anak usia kecil. Jika mau ambil online school, lebih baik saat Grade 11 atau 12.
16. Saat anak sudah masuk SMP atau SMA, memang banyak tawaran untuk belajar dengan menggunakan komputer. Namun untuk materi seperti Math, Science dan English akan lebih baik jika paper based. Tetapi untuk materi lain, seperti sejarah, geografi, bisa computer-based (saat SMP or SMA).
17. Jangan takut dengan IPA. Banyak orang tua yang merasa dia lemah di IPA. Kata kuncinya adalah tetap perkenalkan sesuai kemampuan anak. Setidaknya anak tahu yang dasarnya. Jika memang anaknya berminat, pasti anak akan mencari tahu setelahnya.
18. Tidak ada aturan resmi bahwa 1 kurikulum harus selesai dalam 7 bulan, 10 bulan, atau 1 tahun. Sesuaikan dengan kemampuan si anak karena setiap anak berbeda.
19. Dengan homeschool, anak lebih bisa untuk mengejar minat dan bakat. Tetapi tetap anak harus mendapatkan dasarnya (tetap ada yang terstruktur).

Us and Widjanarko...
Setelah pertemuan, sebagian dari kami yang tadinya bingung mendapatkan pencerahan. Memang masih ada kebingungan lain, tetapi tentunya satu demi satu bisa hilang.
Ngobrol santai sambil membahas kurikulum.

Tambahan pribadi: 
Berdasarkan keputusan pemerintah saat ini, jarak untuk mengambil paket A dan B dan C adalah 3 tahun. Dengan kata lain, kalau memang mau mengambil paket A, mau tidak mau saat anak berusia seperti anak kelas 6. Karena kalau misalkan mengambil paket A saat anak usia kelas 8 (SMP kelas 2), maka baru bisa ambil paket B saat anak usia kelas 11 (SMA kelas 2), dan paket C saat anak usia 20. Jadi memang harus dipertimbangkan apakah anak akan ambil kejar paket atau tidak.

Wisdom Booklet dalam Rumah Kami


Sebagai tindak lanjut dari FamilyConference  yang kami ikuti November kemarin, maka kami pun sekarang mempunyai kurikulum tambahan Wisdom Booklet untuk bahasan yang bahan pembelajaran sekeluarga. Walau berjudul wisdom atau hikmat, bahan pembelajaran Wisdom Booklet ini bukanlah membahas kitab Amsal.

Wisdom Booklet ini menitikberatkan pada khotbah di bukit dan dari 3 pasal yang ada di Matius (Mat 5 – 7). Hanya Yesus yang dapat mengajar kita tentang hikmat. Amsal tidak menjadikan kita menjadi bijak, tetapi Kristuslah yang menjadikan kita bijak. Dari khotbah Yesus di atas bukit ini ternyata dapat menjadi dasar dari banyak disiplin ilmu.

Wisdome booklet sendiri terbagi menjadi beberapa bagian. Yang pertama adalah pendalaman dalam hal spiritual dan karakter. Bagian ini terdiri dari Wisdom Quiz, Character Quality, Scripture, dan Theme Song.  

Wisdom Quiz berisi 10 pertanyaan yang bertujuan agar seluruh anggota keluarga bersama-sama menggali lebih lagi tentang kebenaran yang fundamental. Setiap pertanyaan yang diberikan hanya mempunyai jawaban yang benar atau salah, tetapi untuk menjawabnya dibutuhkan penggalian yang mendalam.

Selain wisdom Quiz, ada juga Wisdom Search. Dengan Wisdom Search, seluruh anggota keluarga bersama-sama mencari hikmat dari firmanNya. Wisdom Search ini dilakukan setiap hari, seperti renungan harian.
Compassion heart like Jesus.
Character Quality membahas salah satu karakter dan penerapannya dalam keluarga. Tujuan dari pembahasan ini bukanlah sekedar anak memahami definisi, tetapi satu keluarga dapat menerapkannya. Sedangkan Scripture membahas ayat tema dari booklet yang sedang dibahas secara menyeluruh dan gambaran lengkap dari ayat tersebut.
Discerning Spirit vs Judgmental Spirit.
Bagian yang tidak kalah menarik dari bagian pertama adalah Theme Song. Anak-anak diperkenalkan kepada lagu himne dan diajak untuk memahami isi dari lagu itu dan hubungannya dengan tema yang sedang dibahas. Walaupun lagu himne, yang berarti lagu klasik, anak-anak menyukainya.
Lagu yang ada di booklet pertama.
Bagian kedua adalah bagian yang berhubungan dengan disiplin ilmu. Adapun disiplin ilmu yang dibahas di sini adalah linguistic, history, science, math, law dan medicine. Dalam setiap pembahasan disiplin ilmu diberikan penjabaran yang begitu panjang dan berat. Tetapi bersyukurnya ada Little People Text yang membantu kami menjabarkan hal yang begitu panjang dan berat itu menjadi sederhana dan dapat dimengerti oleh anak-anak.
World map saat membahas akar bahasa yang ada di dunia.
Salah satu bagian yang menarik bagi kami adalah saat pembahasan science dihubungkan dengan kerohanian. Seperti di buku kesatu ini, anak-anak diajak untuk memelajari kelainan-kelainan pada mata dan korelasinya dengan kerohanian kita. Bukan hanya anak-anak saja yang dibukakan, namun kami orang tua juga dibukakan.
Book of Eyes, insert book yang menjadi project kami.
Di setiap disiplin ilmu ada pilihan project yang dapat dikerjakan oleh anak-anak. Project yang ada pun bervariasi, dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan usia anak. Untuk keluarga dengan anak-anak yang usianya berbeda-beda, maka si anak dapat melakukan project yang berbeda. Namun untuk anak yang rentang usianya tidak berbeda, mereka dapat melakukan project yang sama. Tentunya ini menjadi bagian yang dinanti-nanti oleh anak-anak.
Balancing scale.
Di akhir pembelajaran, kami sekeluarga diajak untuk menarik hubungan dari yang apa kami pelajari dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini cukup membuat kami berpikir, agar tujuan pembelajaran menjadi bermakna bagi anak-anak.
Life Classroom, saat pembahasan diimplementasikan dalam kehidupan.
Di buku panduan untuk orang tua yang pertama diberikan jawaban di setiap soal yang ada. Namun untuk buku-buku setelahnya, kami orang tua diminta untuk berpikir bersama anak. Serunya ini menjadi diskusi satu keluarga. Tidak serunya, tanpa jawaban yang ada, diskusi bisa menjadi panjang =D

Sebagai kesimpulan, materi di Wisdom Booklet memang tidak mudah, terutama bagi adik yang baru 6 tahun saat memulainya. Kami pun masih jauh dari kata selesai dan masih dalam proses. Tetapi saat kami menggunakannya bersama sebagai satu keluarga, maka kami melihat banyak hal yang disingkapkan bagi orang tua dan anak. 

Selasa, 25 September 2018

Phonics CCC 101: Cara Menggunakan Phonics CCC

Masih melanjutkan kurikulum CCC, setelah membahas tentang penggunaan CCC, bahasan selanjutnya adalah mengenai cara penggunaan Phonics CCC. Pertama kali saya mendengar phonics, saya bertanya-tanya apa sih phonics? Hasil dari bertanya pada wikipedia, Phonics (dibaca foniks, bukan finiks) didefinisikan sebagai metode untuk mengajarkan membaca dan menulis bahasa Inggris dengan cara mengenali bunyinya. Cara kerja metode phonics adalah memecah kata-kata menjadi beberapa bagian kecil dan mengajarkan anak-anak bunyi dari setiap huruf atau campuran huruf tersebut.
Phonic CCC 
Dalam bahasa sederhana yang biasa saya gunakan saat ditanya orang, saya menjelaskan phonics itu adalah bunyi. Sama seperti kucing bunyinya meong, anjing bunyinya guk-guk, dan sebagainya, huruf pun mempunyai bunyi. Tentunya hal ini akan membingungkan saat diawal kita mengajar. Karena saat kita belajar bahasa Indonesia saja kita belajar b-u bu d-i di, budi. Dan saat belajar bahasa Inggris kita pastinya langsung belajar apel bahasa Inggrisnya adalah apple. Nah, saat kita mulai menggunakan kurikulum CCC, kita diminta mengenalkan bahasa melalui bunyinya.

Apa keuntungannya mengajarkan bunyi si huruf pada anak-anak? Keuntungannya adalah anak akan lebih cepat untuk merangkai huruf dan belajar membaca tanpa disadari. Setelah mereka memahami suara dari setiap huruf, mereka akan dengan cepat mengenali suara dari si huruf saat suata kata diucapkan. Dan efek timbal baliknya, anak dapat menulis berdasarkan suara yang mereka dengar. Namun hal ini akan lebih susah saat anak belajar vowel digraph dan vowel diphtong.

Kata kunci untuk menggunakan Phonic CCC adalah ikutilah instruksi yang diberikan. Kurikulum CCC cukup mempermudah proses pembelajaran dengan yang namanya drilling. Asalkan kita mengikuti setiap tahap yang diberikan, lama-lama anak-anak akan memahami dan mengerti bunyi-bunyian ajaib tersebut.

Huruf dalam bahasa Inggris sama dengan huruf dalam bahasa Indonesia, yaitu ada 26 huruf. Huruf konsonan dalam bahasa Inggris pun sama dengan dalam bahasa Indonesia. Yang unik adalah huruf vokal. Vokal atau vowel masih sama, yaitu a, e, i, o, dan u. Umumnya vokal mempunyai 2 bunyi, yaitu short vowel (yang sering digunakan seperti cat, hen, pig, dog, dan duck) dan long vowel (yang bunyinya seperti nama huruf itu sendiri). Sebelum mengajar, ada baiknya kita memahami bunyi-bunyi yang ada ini.

Dalam CCC, pembelajaran phonics dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1. Phonics Lesson for Card 1 – 31: mengenal consonant, long vowel, dan short vowel.
2. Phonics Lesson for Card 32 – 66: mengenal consonant digraph, consonant blend.
3. Phonics Lesson for Card 67 – 93: mengenal vowel digraph, vowel diphthong, dan modified vowel.
4. Phonics Lesson for Card 94 – 118: mengenal pengecualian-pengecualian dari ketentuan yang ada.

Pertanyaan yang sering diberikan kepada saya adalah mengenai workbook yang akan digunakan. Sama seperti artikel sebelumnya, berdasarkan chart yang diberikan, kita dapat mempermudah penggunaannya.
Chart penggunaan CCC 
Penggunaan Phonics CCC dari umur 3 Tahun
Saat anak-anak berumur 3 tahun, biasanya mereka hanya diajar untuk mengenal phonics card dari A sampai Z. Mereka tahu short vowel terlebih dahulu, baru mereka belajar long vowel dan konsonan. Untuk memudahkan pembelajaran, biasanya saya menggunakan lagu yang diberikan.
Pembelajaran short vowel melalui lagu Noah's Ark. 
Selain mengenal vowel dan consonants, pada umur tiga ini anak-anak mulai diperkenalkan dengan tracing huruf. Saran saya, saat anak melakukan tracing, pastikan mereka mengikuti arahan yang benar. Hal ini dapat mengurangi kesalahan saat mereka menulis huruf yang mirip seperti b dan d ataupun p dan q.

Penggunaan Phonics CCC dari umur 4 Tahun
Saat anak menginjak usia 4 tahun, kita dapat menggunakan Phonics Lesson for Card 1-31 bersamaan dengan workbook A1. Idealnya materi ini akan selesai dalam waktu 6 bulan. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook A2 selama 6 bulan. Bagaimana kalau belum selesai? Ya enaknya homeschool, kita tinggal ulang sesuai kebutuhan dan kemampuan si anak, dengan catatan kita harus konsisten.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 4 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook A1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook A2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 5 Tahun
Jika si anak baru mulai menggunakan CCC saat usianya lima tahun, maka kita harus memulai dengan materi Phonics Lesson for Card 1 – 31. Hanya saja workbook yang digunakan adalah workbook B1. Setelah anak menyelesaikan workbook B1, pelajaran dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook B2. Setelah selesai dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 67 – 93 dan workbook B3.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 5 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook B2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 6 Tahun
Jika si anak mulai menggunakan Phonics CCC saat anak berusia enam tahun dan belum mengetahui apapun tentang phonics, maka disarankan untuk mengajarkan dari awal dan dari workbook B. Secara singkat, perjalanan penggunaan Phonics CCC bagi anak yang memulai saat usia 6 tahun adalah seperti berikut:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook C1
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook C2
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Alphabetical Wall Card
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, alasan kami melakukan homeschool adalah agar anak-anak mempunyai dasar karakter dan kebenaran firman Tuhan sebelum mereka mendapatkan dasar pengetahuan. Salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan kurikulum ini adalah Alphabetical Wall Card. Wall card yang memperkenalkan huruf A hingga Z dengan menggunakan kata-kata yang ada di Alkitab ini membantu anak untuk memahami bunyi dari si huruf dan juga rima atau rhyme yang menjelaskan kebenaran firman Tuhan. Saya menempelkan Alphabetical Wall Card di dinding kamar anak-anak. Sehingga saat belajar pun anak-anak dapat langsung melihat dan saat tidak belajar pun mereka dapat membaca tentang tulisan-tulisan yang ada di atasnya.
Alphabetical wall card.

Daily Drill
Dalam pembelajaran Phonics, CCC cukup memudahkan saya sebagai pengajar awam dengan memberikan daily drill. Namanya juga daily, jadi saya mengulang setiap saat kami belajar Phonics. Berhubung ini bukan bahasa ibu saya, otomatis saya tidak begitu hapal aturan dari setiap phonics (bahkan yang bahasa ibunya Inggris pun belum tentu hapal). Dengan menggunakan daily drill dan melakukan pengulangan setiap harinya, harapannya adalah anak dapat memahami dan lama-lama mengingat dengan sendirinya aturan-aturan yang ada dalam phonics.

Selain vowel drill, ada juga yang namanya sight word atau kata-kata yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Sight words akan lebih mudah diingat anak-anak karena biasanya sederhana. 
Folder yang berisi vowel drill dan sight word. 
Rutin dalam Pembelajaran
Bagaimana dengan rutinnya? Biasanya saat belajar Phonics, saya memulai dengan renungan singkat tentang kata yang melambangkan huruf tersebut dan rhyme yang dapat mengingatkan anak akan bunyi huruf tersebut. Setelah selesai renungan singkat, maka saya akan masuk ke bagian daily drill. Daily drill idealnya tidak terlalu lama, maksimal 20 menit. Setelah itu masuk ke materi sesuai dengan petunjuk yang ada di buku.
Salah satu card mengenai aw
Penggunaan 1 Paket Phonics CCC
Pertanyaan yang sering muncul berikutnya adalah bagaimana jika saat membeli kurikulum CCC belinya sepaket (phonics lengkap dari A, B, dan C). Seperti kami yang membeli lengkap, setelah anak-anak menyelesaikan workbook A1 dan A2, maka sayang rasanya kalau buku-buku ini tidak dipakai (ogahrugi.com). Kami memberikan beberapa latihan di buku B1 dan B2 yang tidak ada di workbook A1 dan A2 (seperti tentang rhyming word). Karena sifatnya pengayaan atau tambahan, otomatis pembahasan buku B1 dan B2 tidaklah berlangsung lama. Setelah selesai materi tambahan ini, kami langsung masuk ke Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3. Setelah workbook B3 selesai, kami memberikan beberapa latihan di buku C1 dan C2 yang tidak ada di workbook sebelumnya. Setelah materi ini selesai, barulah kami masuk ke Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3. Nilai tambahnya adalah anak-anak seakan diingatkan kembali dengan materi sebelumnya. Dan mamanya merasa bahagia karena tidak sia-sia membeli sepaket (ups).
Workbook dan kunci jawabannya. 
Phonics Dril Reading
Buku lain yang biasanya juga ada saat membeli Phonics CCC adalah buku Phonics Drill Reading. Sejujurnya saat kakak belajar phonics, saya sempat berpikir buku ini akan dibahas nanti saat umur lima. Oleh sebab itu, penggunaan buku ini telat saat kakak belajar Phonics. Dan saat adik belajar pun, penggunaan buku ini baru digunakan saat adik berusia hampir 6. Namun ternyata memang buku ini dibuat secara khusus untuk anak yang memasuki usia SD. Tujuannya supaya kita dapat mengukur seberapa mampu si anak membaca kata-kata dalam bahasa Inggris. Dan bukan hanya itu, buku ini cukup membantu membetulkan pelafalan anak-anak dan saya juga saat menyebutkan suatu kata dalam bahasa Inggris.
Kata-kata dengan short sound e.
Kendala Saat Menggunakan Phonics CCC
Banyak yang berpikir kendala terbesarnya adalah ketidakmampuan kita berbahasa Inggris. Namun menurut saya ini bukan yang utama. Bagi saya yang mungkin lebih jago bahasa Jawa daripada bahasa Inggris, walaupun bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita, namun saat kita ada kemauan untuk belajar, pastilah bisa. Anggap saja belajar bersama dengan anak.

Menurut saya kendala paling besar adalah konsistensi kita sebagai pengajar. Sebagai homeschooler, anak kita akan dilihat seluruh dunia (lebay.com). Kalau mereka belum bisa baca, pasti akan ada kata-kata 'oh gak bisa baca...anak homeschool sih'. Kita pasti jadi kepengen mereka cepat baca. Nah biasanya, hal ini membuat kita ingin yang instan dengan cara mengajarkan membaca bahasa Indonesia. 

Ini tidak salah, saya pun juga ingin anak saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan menulis dengan baik. Dan saya cinta sekali dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena kurikulum yang kita ambil adalah kurikulum bahasa Inggris, maka akan lebih baik kalau dia lancar dulu dalam hal membaca dan menulis bahasa Inggris. Lain halnya jika kurikulum yang diambil bukan kurikulum luar, maka pastilah saya akan menyarankan untuk memfokuskan proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Anak-anak akan lebih cepat mempelajari bahasa Indonesia yang sederhana (tidak termasuk imbuhan) dibanding bahasa Inggris karena satu huruf dalam bahasa Inggris banyak bunyinya. Jadi saat sepertinya si anak lama menangkap, kita sebagai pengajar haruslah konsisten dan pantang menyerah. Yang sering saya lihat adalah seringkali orang tua ingin anaknya cepat bisa baca dan akhirnya mengajarkan membaca dan menulis bahasa Indonesia dulu. Saat anaknya bisa menulis dan membaca bahasa Indonesia, anaknya mulai ogah-ogahan belajar Bahasa Inggris dan akhirnya proses pembelajaran Phonics menjadi kegiatan yang membuat kita mau meledak.

Bagaimana dengan pengucapan kita yang lucu? Tidak apa-apa, selama kita mendengarkan CD Phonics dengan baik, dan mencoba untuk membetulkan, lama-lama pasti berkurang kok lucunya. Dan nanti anak-anak dapat membetulkan kalau kita salah kok :)

Satu hal yang menjadi pengingat saya saat mengajar Phonics kepada anak-anak adalah setiap anak istimewa. Cara pembelajaran antara satu anak dengan yang lain tentunya berbeda. Cara penyerapan setiap anak pun berbeda. Pendekatan yang dipakai pun dapat bermacam-macam. Dan mengutip salah satu bagian yang ada di buku pelajaran mereka, pendidikan Kristen seharusnya tidak mengabaikan setiap anak. Kita harus mencari cara untuk mengembangkan pendidikan Kristen ke suatu titik dimana semua anak-anak Tuhan dapat dituntun kepada kedewasaan Kristen di dalam lingkungan akademis yang sesuai dengan kebutuhan pribadi mereka, untuk mempersiapkan mereka menuju tingkatan selanjutnya dalam memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya.

Selasa, 24 Juli 2018

CCC 101: Cara Penggunaan Christ-Centered Curriculum (CCC)


Masih membahas kurikulum yang kami gunakan, yaitu CCC. Saat saya pertama kali membuat artikel tentang CCC, banyak orang yang menghubungi saya tentang kurikulum ini. Tidak menyangka juga bahwa artikel tentang CCC ini membuat saya berkenalan dengan banyak orang yang penasaran tentang kurikulum satu ini. 

Karena terlalu banyak yang bingung dengan bagaimana menggunakan kurikulum ini, maka artikel ini pun akhirnya muncul. Setelah hampir setengah tahun, akhirnya selesai juga artikel ini. Maklum, untuk menyediakan waktu membuat artikel rasanya lumayan susah. Banyaknya pekerjaan rumah dan teman-temannya membuat acara membuat artikel tentang penggunaan CCC menjadi cicil-mencicil. Akhirnya cicil-mencicil ini selesai juga.

Seperti di artikel sebelumnya, kami memilih CCC karena CCC merupakan kurikulum yang berpusatkan kepada Tuhan (God-centered), bukan kepada anak (child-centered). Pastinya CCC memiliki kekurangan di berbagai hal, misal packaging yang monoton, warna textbook yang hitam putih, dan hal-hal lainnya yang terkadang membuat orang malas menggunakan kurikulum ini. Tetapi bagi kami hal-hal yang esensi sudah terangkum saat menggunakan kurikulum ini.

Secara cakupan pelajaran, Christ-Centered Curriculum ini mencakup pelajaran hingga SD kelas satu atau dua di Negara asalnya. Memang saat saya mencari kurikulum untuk SD, materi SD kelas 1 di beberapa buku luar berada dibawah materi CCC ini. Jadi CCC dapat digunakan hingga SD kelas 2.

1. CARA PENYIMPANAN
Dalam satu paket CCC terdapat banyak sekali buku. Di paket yang kami miliki, kami mendapatkan Phonics A, Phonics B, Phonics C, Math A, Math B, dan alat-alat bantu yang disediakan dari pihak CCC. Melihat buku yang banyak tersebut, saya langsung berpikir bagaimana caranya merapihkan buku-buku tersebut sehingga tidak membuat saya kewalahan. Kan tidak mungkin semua buku tersebut di dalam kardus. Dan bersyukurnya pihak CCC menyertakan cara bagaimana mengorganisir buku-buku tersebut.

Secara garis besar, mereka menyarankan pengguna untuk menyediakan dua Jumbo Box Office dan heavy duty hanging-file folder sebanyak 25 buah. Lalu panduan mereka adalah agar kita memisahkan bahan untuk pengajar dengan bahan untuk murid.
Jumbo Box Office. Sumber foto: amazon.com
Hanging file folder. Sumber foto: Amazon.com 
Bahan untuk pengajar pun dipisahkan lagi menjadi 8 folder, dengan 5 folder untuk Phonics (dari Alphabetical Wall Card, Phonics Lesson 1 hingga 4 plus Phonics Flashcards dan bacaan yang berhubungan) dan 3 folder untuk Math (Math Flashcards, Math Lesson Guide A dan B beserta alat bantu yang berhubungan dengan pelajarannya).

Sedangkan bahan untuk murid dipisahkan menjadi 10 folder. Setiap folder berisi 8 folder untuk Phonics (setiap buku soal dan buku jawabannya) dan 2 folder untuk Math (Math A dan Math B)

2. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 3 TAHUN
Jika anak bersekolah di sekolah umum, biasanya umur tiga tahun mereka memasuki kelas taman bermain alias playgroup. Banyak mama-mama yang bingung bagaimana caranya menyusun kegiatan dari pagi sampai siang seperti di sekolah. Berbeda dengan fokus tujuan di sekolah untuk membuat anak bisa ini dan itu, tujuan kami saat anak-anak tiga tahun lebih untuk membuat anak tersebut mempunyai dasar iman, karakter, manner, dan pengetahuan dasar. Di CCC memang tidak ditulis dengan signifikan harus seperti ini harus seperti itu. Namun mereka menyarankan untuk memulai dengan cerita karakter mengenai Generosity, Flexibility, Loyalty, dan Orderliness. Selain itu ada banyak aktivitas yang dapat dikerjakan bersama anak dan memberikan ilustrasi tentang aplikasi secara rohani.
Cerita karakter yang dapat digunakan oleh anak-anak umur 3 tahun.
Untuk Phonics, kita dapat mengenalkan bunyi setiap huruf dengan menggunakan Phonics Flashcards 1 – 31. Sedangkan untuk Math, kita dapat mengenalkan konsep berhitung sederhana dengan aplikasi sehari-hari. Misalkan menghitung ada berapa banyak pensil warna yang mereka miliki, menghitung jumlah anak tangga, dan sebagainya. Di usia ini, jika anak telah siap, dapat juga diperkenalkan tracing dari buku Alphabeth and Numbers Tracins Masters.

3. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 4 TAHUN
Saat anak-anak memasuki usia 4 tahun, kita sudah dapat menggunakan kurikulum CCC secara menyeluruh. Perlu diingat bahwa namanya anak, hari ini ingat dan besok lupa adalah hal yang wajar. Dengan demikian, sebagai orang tua, kita harus sabar mengulangnya. Pembentukan karakter untuk kita dulu, bukan?

Untuk Phonics, mereka sudah dapat menggunakan buku Phonics Lesson mulai dari Phonis Lesson 1 (for cards 1 – 31) dengan workbook A1. Jika dihitung, materi ini akan selesai kurang dari setengah tahun ajaran. Maka jika sudah selesai, dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson 2 (for cards 31 – 66) dengan workbook A2.

Untuk Math, kita dapat memulai dengan menggunakan Math A.

4. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 5 TAHUN
Jika anak sudah selesai dengan Phonics Lesson 1 dan 2, maka kita dapat melanjutkan dengan masuk ke Phonics Lesson 3 (for cards 67 – 93) dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math A, maka dapat dilanjutkan dengan Math B.

Timbul pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya: ”Bagaimana jika saya baru mulai melakukan homeschool dengan kurikulum CCC saat anak berusia 5 tahun?” Jika memang demikian, maka akan lebih baik dimulai dari Phonics Lesson 1. Walaupun diulang dari Phonics Lesson 1, workbook yang dipakai adalah B1. Setelah itu lanjut ke Phonic Lesson 2 dengan workbook B2. Baru setelah itu masuk ke Phonics Lesson 3 dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, disarankan memulai dengan menggunakan Math A, karena banyak konsep dasar yang ada di Math A.
Petunjuk penggunaan buku Phonics dan Math. 
5. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 6 TAHUN
Memasuki usia 6 tahun, jika anak-anak dirasa sudah menguasai pelajaran sebelumnya, maka anak-anak dapat lanjut ke Phonics Lesson 4 (for cards 94 – 118) dengan workbook C3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math B, maka kita dapat menggunakan buku Math SD kelas 1. Jika belum, maka dapat mengulang buku Math B kembali.
Pegangan buku dan flashcard untuk guru 
Bagaimana jika CCC ini pertama kali digunakan saat anak berusia 6 tahun? Pihak CCC merekomendasikan penggunaan Phonics Lesson dimulai dari Phonics Lesson 2 dengan workbook C1, dilanjutkan ke Phonics Lesson 3 dengan workbook C2, dan Phonics Lesson 4 dengan workbook C3. Andaikan si anak memang betul-betul belum tahu apa-apa, saya sih menyarankan dimulai dari Phonics Lesson 1 dengan menggunakan workbook B1, baru dilanjutkan dengan rekomendasi CCC. Alasannya supaya dasar Phonics anak lebih mantap.
Buku workbook. 
Bagaimana dengan kami? Untuk penyimpanan, berhubung membeli dua Jumbo Box Office berarti semakin banyak barang di rusun kami yang mungil sekali, maka kami memanfaatkan lemari yang ada. Kami menyusun mengikuti petunjuk yang ada, lalu antar bagian diberikan sekat kertas buffalo. Intinya, memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah.

Pertama kali saya menerima paket CCC ini, saya cukup penasaran dengan buku-buku yang ada. Diakhir rasa penasaran, muncullah rasa was-was apakah saya sanggup menggunakan kurikulum ini dengan benar. Wong bahasanya Inggris semua (ya iyalah, masak ada bahasa Jawa di situ). Namun saya dan suami berpikir jika kami sudah memilih untuk menggunakan CCC, ya berarti kami harus merelakan hati untuk mempelajari cara penggunaannya.

Dan namanya setiap anak berbeda, maka penerimaan terhadap materi pelajaran pun berbeda. Kakak dapat menyelesaikan semua pelajaran saat berusia 5 tahun lebih. Sedangkan dengan si adik, penggunaan CCC sesuai dengan urutan yang diberikan. Jadi jangan kuatir kalau ’langkah’ si anak agak lambat, yang penting konsep dari pelajaran tersebut didapat.

PS: Untuk pembahasan mengenai Phonics dan Math akan dibahas di artikel berikutnya ya.

See also:
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 1
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 2
Homeschooling untuk anak 3 tahun
8 hal yang harus dilakukan saat memulai homeschooling
Math untuk preschool
Tips memilih kurikulum