Tampilkan postingan dengan label abeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abeka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 April 2021

Review Health Abeka

Pelajaran Health? Pelajaran apakah itu? Pasti bingung kan saat mendengar tentang mata pelajaran Health atau Kesehatan. Kami pun dulu bingung saat mendengar mata pelajaran ini. Karena kan memang di pelajaran kita dulu tidak ada subject ini. 

Pelajaran Health ini membahas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan diri kita. Secara garis besar, pelajaran Health dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah Health, Safety and Manners untuk kelas 1 hingga 3. Di bagian ini, anak-anak diperkenalkan mengenai cara merawat tubuh, memakan makanan sehat. Selain itu mereka juga mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan safety habit dan tingkah laku yang baik, seperti tetap aman saat di dalam ataupun di luar rumah, menjadi pribadi yang baik dan respek kepada orang-orang disekitarnya. 

Di bagian kedua, anak-anak lebih mempelajari mengenai Good Health Series untuk kelas 4 hingga 6. Anak-anak akan belajar mengenai organ-organ tubuh, sistem pencernaan, sistem pernapasan, sistem peredaran darah, dan sejenisnya. Kalau kata saya mah anak-anak belajar Biologi. 

Health Chart, digunakan dari kelas 4 hingga 6.

Kami pribadi hanya membeli pelajaran kelas 4 hingga 6. Selain karena budgeting wise, bacaan-bacaan di rumah pun sudah banyak yang berhubungan dengan topik-topik yang dibahas di buku Health, Safety, and Manners. Jadi anak-anak baru mulai menggunakan buku Health saat mereka menginjak kelas 4. 

Yang menarik dari buku-buku ini, informasi dari buku panduan begitu banyak. Seingat saya, info-info ini saya dapatkan saat saya sudah SMP dan SMA. Mungkin memang karena kurikulum di sana seperti itu. Tetapi yang menjadi nilai tambah adalah topik yang ada dibahas berdasarkan perspektif Kristiani. Jadi anak-anak tidak hanya belajar tetapi juga semakin menyadari bahwa Tuhan menciptakan mereka begitu ajaib, bahkan urusan dalam tubuh mereka pun begitu luas. 

Skeletal system, rasanya dulu belajar ini saat SMP
Bagaimana cara penggunaan buku ini? Biasanya saya menggunakan setelah Science Abeka selesai. Dengan adanya buku panduan guru, saya tinggal mengikuti planning yang disediakan untuk pelajaran Health. Kalau menurut saya, panduan ini sangat sederhana, bahkan dapat diikuti langsung oleh si murid. Jadi, kita bisa melatih anak untuk belajar mandiri juga. 
 
Bagaimana cara mendapatkan buku ini? Dulu, saat kakak masih umur 4 tahun, saya mulai hunting kurikulum SD. Jadi sekalian mengunjungi si tante, kami sekalian membeli bukunya.  Jadi kalau ada keluarga di luar, dan memang ada rencana datang ke Indonesia, bisa dititip ke mereka. Lumayan, hemat ongkir dan pasti sampai.
 
Ada juga teman yang membeli langsung dari website Abeka.com. Hanya saja memang ditambah ongkir rasanya mahal. Beberapa teman menggunakan jastip alias jasa titip. Ini juga boleh dipertimbangkan, karena ongkirnya jauh lebih murah.

Secara keseluruhan, kami senang menggunakan buku Health ini. Anak-anak pun diajak untuk aware dengan diri mereka sedini mungkin.



Senin, 24 Juni 2019

Parents Meeting: Diskusi Kurikulum

Topik kurikulum selalu menjadi bahasan menarik bagi homeschooler. Demikian juga dalam komunitas kami. Setelah sebagian dari kami selesai dengan CCC, maka sebagian dari kami masih bingung ingin mengambil kurikulum apa. 

Dan pada Parents Meeting bulan Mei kemarin, kami pun berkunjung ke salah satu senior homeschool yang juga mempunyai learning center di daerah Jakarta Barat. Tujuannya? Tentu bertanya tentang kurikulum. Harusnya pertemuan ini dilakukan tahun lalu. Namun karena waktunya yang belum ketemu, akhirnya diundur sampai ke tahun ini.

Keluarga Widjanarko menyambut kami dan memberikan banyak informasi yang kami perlukan. Berikut ringkasan dari pertemuan kami kemarin, baik dari pertanyaan maupun dari yang langsung dibagikan oleh keluarga Widjanarko. 
1. Kurikulum bukanlah yang nomor satu, hanya alat bantu.
2. Yang kita kejar dalam homeschool adalah hati anak-anak menjadi melekat pada Tuhan.
3. Setiap keluarga unik, jadi kurikulum disesuaikan dengan keunikan keluarga.
4. Ayah terlibat dalam homeschool, terutama dalam bagian spiritual. 
5. Konsistensi dalam homeschool bukanlah masalah jika ayah terlibat dalam homeschool.
6. The art of homeschool adalah kurikulum sesuai keluarga, baik value, keunikan, dan budget masing-masing.
Perbandingan kurikulum.
7. Saat berjalan, take one step at the time. Depannya mungkin belum kelihatan, tapi mengandalkan kekuatan Tuhan.
8. Saat anak-anak masih kecil, pengulangan itu penting.
9. Untuk kurikulum yang klasik dan semi klasik, seperti BJU, Abeka (dan kurikulum yang kami pakai) tentunya membutuhkan waktu persiapan yang banyak, kurang lebih tiga sampai empat jam. Kurikulum seperti ini cocok untuk keluarga yang jumlah anaknya tidak banyak. 
BJU
10. Untuk yang anaknya banyak, PACES or Lifepac (Alpha Omega) akan sangat membantu. Ini dikarenakan kurikulum ini dirancang dengan konsep agar anak dapat membuat sendiri. Tetapi saat memakai kurikulum yang seperti ini, pastikan anak sudah menguasai dasar atau konsepnya. Dan dengan kurikulum ini harus ditambahkan literatur lainnya. 
11. Untuk literatur, Sonlight menyediakan banyak literatur. Sehingga dapat menjadi pertimbangan bagi keluarga yang senang dengan pendidikan berbasis literatur.
Literatur dari Sonlight.
12. Biasanya saat memilih kurikulum, orang tua akan galau dan takut orang tua tidak dapat mengajar saat high school. Tidak usah takut untuk kurikulum saat high school. Banyak kurikulum yang menyediakan DVD. 
12. Stick to one curriculum. Jangan setengah jalan ganti kurikulum. Dengan menggunakan satu kurikulum, kita tidak usah bolak-balik belajar dan tentunya ramah untuk kantong kita.
Abeka
13. Tidak ada kurikulum yang paling bagus. Kurikulum A cocok untuk si A, belum tentu cocok untuk si B. Jadi sesuaikan dengan keluarga masing - masing. 
14. Kejar Paket ABC bisa diambil sesuai kebutuhan. Tidak usah takut anak tidak bisa memahaminya. Anak pasti bisa mengikuti kejar paket dengan baik asal dipersiapkan.
15. Untuk online school, tidak disarankan untuk anak usia kecil. Jika mau ambil online school, lebih baik saat Grade 11 atau 12.
16. Saat anak sudah masuk SMP atau SMA, memang banyak tawaran untuk belajar dengan menggunakan komputer. Namun untuk materi seperti Math, Science dan English akan lebih baik jika paper based. Tetapi untuk materi lain, seperti sejarah, geografi, bisa computer-based (saat SMP or SMA).
17. Jangan takut dengan IPA. Banyak orang tua yang merasa dia lemah di IPA. Kata kuncinya adalah tetap perkenalkan sesuai kemampuan anak. Setidaknya anak tahu yang dasarnya. Jika memang anaknya berminat, pasti anak akan mencari tahu setelahnya.
18. Tidak ada aturan resmi bahwa 1 kurikulum harus selesai dalam 7 bulan, 10 bulan, atau 1 tahun. Sesuaikan dengan kemampuan si anak karena setiap anak berbeda.
19. Dengan homeschool, anak lebih bisa untuk mengejar minat dan bakat. Tetapi tetap anak harus mendapatkan dasarnya (tetap ada yang terstruktur).

Us and Widjanarko...
Setelah pertemuan, sebagian dari kami yang tadinya bingung mendapatkan pencerahan. Memang masih ada kebingungan lain, tetapi tentunya satu demi satu bisa hilang.
Ngobrol santai sambil membahas kurikulum.

Tambahan pribadi: 
Berdasarkan keputusan pemerintah saat ini, jarak untuk mengambil paket A dan B dan C adalah 3 tahun. Dengan kata lain, kalau memang mau mengambil paket A, mau tidak mau saat anak berusia seperti anak kelas 6. Karena kalau misalkan mengambil paket A saat anak usia kelas 8 (SMP kelas 2), maka baru bisa ambil paket B saat anak usia kelas 11 (SMA kelas 2), dan paket C saat anak usia 20. Jadi memang harus dipertimbangkan apakah anak akan ambil kejar paket atau tidak.

Jumat, 15 Maret 2019

Science: Plant Activity


Tahun lalu, pelajaran science kakak sudah memasuki pelajaran science kelas tiga. Berbeda dengan saat kelas 1 dan 2 yang hanya pengenalan terhadap science, di kelas tiga ini pelajaran science yang diberikan sedkit lebih serius. Kalau di kelas 1 dan 2 semua sebatas pengenalan, kali ini disetiap pembahasan akan ada yang lebih mendalam.

Selain pembahasan yang lebih mendalam, di setiap satu bahasan selalu disertakan pertanyaan untuk dijawab, baik lisan ataupun tertulis. Dan setelah membahas beberapa bahasan, akan diberikan kuis tentang materi-materi yang sudah dibahas. Untuk setiap tema yang selesai dipelajari, akan ada review dan ujian. Dengan kata lain, di kelas tiga ini anak-anak diberikan ulangan.

Tahun lalu, kami mulai mengeksplorasi dunia tumbuhan. Diawali mempelajari tentang benih dan bagian dari benih. Benih merupakan bagian dari tumbuhan yang akan tumbuh berkembang menjadi tumbuhan baru. Setiap benih terdiri dari kulit, bakal tumbuhan, dan juga cadangan makanan. Cara yang paling mudah untuk melihat bagian dari benih adalah dengan menggunakan kacang edamame. Sambil nyemil di sore hari, kami pun membuka kacang edamame tersebut dan melihat secara langsung setiap bagian dari kacang tersebut.
Edamame, snack kesukaan anak-anak.
Selain melalui edamame, anak-anak pun belajar mengenai benih saat membantu membersihkan toge. Memang anak-anak selalu semangat saat membersihkan toge. Apalagi saat mereka masih kecil, dan sekarang juga masih kecil, mereka pernah menanam toge. Kalau saat makan edamame mereka melihat benih saat belum tumbuh, saat membersihkan toge mereka melihat benih yang sudah menjadi tumbuhan baru. Kulit yang ada terpisah dari cadangan makanan, sedangkan bakal tumbuhan sudah menjadi tumbuhan toge. Menarik bukan?
Kiri: bakal tumbuhan dan cadangan makanan, kanan: kulit yang sudah terpisah.
Toge yang sudah dibersihkan.
Selanjutnya kami belajar tentang akar, batang, daun, dan bunga. Tugas akar adalah mengambil air dan mineral dari tanah. Sedangkan tugas dari batang adalah menyalurkan makanan dan air dari akar ke daun. Dan daun bertugas untuk membuat makanan untuk tumbuhan tersebut. Tugas dari bunga adalah membuat benih dengan cara polinasi.

Untuk membuat pelajaran ini menarik, dan adik juga dapat ambil bagian, maka kami pun membuat aktivitas yang berhubungan dengan tumbuhan.

Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Kertas kokoru
2. Kertas HVS
3. Spidol

Anak-anak diminta untuk menggunakan bahan-bahan yang disediakan agar menjadi gambaran tentang tumbuhan. Hasilnya cukup menarik. Kakak membuat bunga daisy lengkap dengan akarnya, sedang adik membuat carnation lengkap dengan akarnya.

Yellow Carnation.
Kami sendiri cukup kaget melihat anak-anak cukup antusias saat mempelajari tanaman. Memang untuk memperkenalkan suatu topik akan lebih menarik jika dengan melakukan aktivitas bukan?
Pink Daisy

Rabu, 07 Februari 2018

Science Activity: Akar dan Daun Bawang

Masih membahas tentang tumbuh-tumbuhan, setelah membahas tentang daun, kami kembali membahas tentang akar dari suatu tanaman. Akar biasanya berada di bawah tanah. Semakin kuat akarnya, semakin susah tanaman tersebut dicabut dari atas. 

Di tengah pembahasan, saya iseng bertanya kepada anak-anak, kalau akar tidak ditanam di tanah tetapi dengan media air saja, apakah bisa tanaman itu bertumbuh. Jawaban berubah dari bisa menjadi tidak bisa, dan dari tidak bisa menjadi bisa. Akhirnya kami melakukan suatu percobaan dengan bawang. 

Bahan-bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Botol aqua pendek yang tidak terpakai.
2. Bawang merah yang sudah ada sedikit daun dan bawang merah yang belum ada daunnya. Saya sengaja memilih yang agak kering.
3. Air.

Langkah-langkah yang dilakukan:
1. Botol aqua yang ada dipotong menjadi dua bagian. Bagian yang bawah diberi air, sedangkan bagian atas dari botol tersebut diletakkan secara terbalik. Air yang ada sebaiknya hanya sampai batas mulut botol aqua.
2. Letakkan bawang-bawang tersebut di atas botol aqua yang diletakkan terbalik. 
3. Amati pertumbuhan daun dan akarnya setiap hari.
Eksperimen bawang Day 0.
Kami melakukan pengamatan selama 4 x 24 jam. Apakah yang terjadi?

Akar Bawang
Setelah 1 x 24 jam, air yang ada berubah warna menjadi merah. Akar yang tadinya belum keluar mulai keluar sedikit. Karena airnya berwarna merah, maka kami pun mengganti dengan air yang baru. Hari demi hari akar yang ada semakin panjang dan semakin lebat.
Akar bawang day 1.
Akar bawang day 2
Akar bawang day 3.
Akar bawang day 4. 
Daun Bawang
Bagaimana dengan daunnya? Di bawang yang sudah ada sedikit daun, daunnya bertambah panjang. Sedangkan yang tadinya tidak ada daun, daunnya mulai keluar sedikit. Di hari kedua, daunnya pun semakin panjang dan semakin banyak. Di hari keempat, panjang daun tersebut sudah cukup panjang, dapat digunakan untuk membuat masakan =D
Daun bawang day 1.
Daun bawang day 2.
Daun bawang day 3.
Daun bawang day 4.
Apakah kesimpulan yang didapatkan anak-anak?
1. Media untuk menanam bukan hanya tanah, tetapi dapat juga digunakan media lain asalkan ada airnya.
2. Akar semakin bertumbuh ke bawah untuk mencari makanan atau air. Jadi tidak heran jika akar yang kuat di dalam tanah akan membuat pohon tersebut susah dicabut.
3. Walaupun bawangnya kering dan tidak punya daun, namun jika diberikan air dan perawatan yang tepat maka akan terus bertumbuh dan bisa bertumbuh dengan lebat.

Sama seperti percobaan kami di tahun lalu, kesimpulan yang kami dapatkan adalah bahwa tanaman yang sudah seakan kering pun akan bertumbuh dengan baik saat bertemu dengan air. Demikian juga jiwa kita, perlu 'air kehidupan' untuk dapat bertumbuh dengan baik.

Di akhir percobaan, kami pun menggunakan daun bawang yang ada untuk membuat omelet. Daun bawangnya ternyata wangi juga, walau tidak sewangi daun bawang yang besar yang dijual di pasar. Hmm....boleh juga nih kalau kepepet.

Jumat, 02 September 2016

Review Mengenai Science ABEKA

Discovering God's world.
Science atau ilmu pengetahuan alam merupakan materi yang saya sukai saat saya masih kecil. Yang saya ingat, pelajaran IPA baru mulai dipelajari saat saya menginjak kelas tiga SD. Ternyata sekarang IPA sudah didapatkan anak-anak dari kelas satu. Berhubung saya suka dengan IPA, maka saya berusaha mencari buku pelajaran IPA yang menarik untuk anak-anak. Dimulailah dengan searching membandingkan kurikulum satu dengan yang lainnya, dilanjutkan dengan pergi ke rumah teman yang anak-anaknya homeschool juga dan melihat buku-buku mereka. Akhirnya pilihan kami jatuh pada ABEKA. 

Buku Science ABEKA grade 1, Discovering God's world, merupakan buku pelajaran yang colorful yang dirancang untuk menstimulasi keingintahuan anak-anak terhadap science melalui pembelajaran ciptaan Tuhan yang luar biasa. Dengan demikian tujuan pembelajaran science di level ini bukanlah untuk mengajarkan istilah-istilah, tetapi untuk membuka pintu kepada hal baru. Pantas saja saat saya mengorder buku-buku, kuis atau essay hanya ada pada kelas tiga atau kelas empat keatas.  

Apa sih yang membuat saya jatuh hati dengan Science ABEKA?
1. Dimulai dengan perspektif bahwa segala ciptaan Tuhan itu begitu ajaib, anak-anak diajak untuk melihat satu persatu hal-hal yang berhubungan dengan ciptaan Tuhan. Di sini anak-anak diajak untuk memahami science sebagai pemahaman terhadap kebesaran alam yang ada yang membuat mereka menyadari semua ini diciptakan oleh Tuhan. Dalam beberapa bahasan dilengkapi dengan ayat Alkitab yang menunjang bahasan yang ada. 

2. Buku ini  begitu menarik untuk anak-anak sehingga anak-anak bisa belajar mandiri, setelah itu kita bisa mulai bertanya ini-itu yang berhubungan dengan bahasan yang mereka baca. Bagi saya ini membantu, karena si adik sudah mulai belajar. Jadi si kakak akan membaca terlebih dahulu, setelah selesai baru kami membahas bersama (adik juga ikut tentunya).

3. Dilengkapi dengan vocabulary yang dianggap agak susah untuk diucapkan oleh anak-anak kelas satu. Jadi anak-anak dapat melihat vocabulary-nya (bacakan terlebih dahulu jika memang susah) dan anak juga dapat diminta untuk menebak berapa syllable (suku kata) yang ada pada kata tersebut.

4. Adanya teacher guide yang membantu kita untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang ada di buku. Teacher guide ini dijual terpisah, dan jauh lebih mahal dari buku pelajarannya, dan berformat sama seperti buku pelajaran. Jadi lumayan memudahkan saat mengajar. Kita tinggal membuka halaman yang sama dengan si anak dan melihat petunjuk yang ada di bagian belakang.
Kiri: jawaban yang ada di teacher guide. Kanan: lengkap dengan ayat dan vocabulary.
5. Adanya hands-on-activity membantu anak belajar mengobservasi setiap percobaan dan juga aktivitas yang ada. Jadinya anak diajak untuk berpikir kritis dengan setiap percobaan yang ada. Selain aktivitas yang ada di buku anak-anak, ada juga aktivitas tambahan yang terdapat di buku teacher guide. Kita dapat memilih aktivitas yang sesuai dengan yang kita inginkan. 
Alat peraga yang dibuat saat anak-anak belajar mengenai suara dan telinga
Salah satu contoh yang dapat saya berikan adalah saat kami mempelajari angin sebagai udara yang bergerak. Salah satu tugasnya adalah membuat pinwheel atau kincir angin dari kertas. Angin dapat membuat pinwheel berputar. Semakin besar daya tiupnya, semakin cepat pinwheel berputar. Bahkan untuk membuktikan angin adalah udara yang bergerak, anak-anak mencoba membawa pinwheel saat mereka berjalan biasa. Dan memang ternyata pinwheel pun berputar karena adanya udara yang bergerak saat mereka berjalan. Jadi aktivitasnya pun diambil dari kegiatan kita sehari-hari dan bahan-bahan yang mudah dicari.
Pinwheel sederhana untuk belajar angin.
Bagaimana dengan kekurangan dari Science ABEKA? Ternyata kelebihan mereka juga dapat merupakan kekurangan mereka. Dengan adanya begitu banyak pilihan aktivitas tambahan, terkadang merupakan beban bagi beberapa orang tua. Selain itu sebelum mengajar, si pengajar harus melihat dulu materinya, sehingga dapat mempersiapkan bahan-bahan untuk aktivitas yang ada. Tentunya bagi orang tua yang maunya sebisa mungkin tidak usah repot saat mengajar anak, kalau bisa yang ada hanya bacaan saja, hal ini merupakan kekurangan dari Science ABEKA. Bahkan di negara aslinya sendiri, kurikulum ABEKA lumayan memberatkan orang tua (karena banyaknya aktivitas yang ada).

Tetapi bagi saya, hands-on-activity membuat pelajaran menjadi semakin menarik. Bahkan saat kakak belajar Science, adik juga mau ikut tahu. Mungkin karena semua masih berbentuk cerita dan aktivitasnya juga seru. Walau terkadang saya juga menyiasati dengan aktivitas lain, jika aktivitas yang ada terlihat tidak visible bagi kami.


Percobaan dengan telur.
Bagaimana dengan Science dari kurikulum lainnya? Apakah ABEKA adalah yang terbaik? Bagi kami, kurikulum itu hanyalah alat, jadi sebaiknya disesuaikan dengan keadaan pembelajaran masing-masing keluarga. Ya sejauh ini, kami cukup puas dengan bahan yang ada :)  

Jumat, 20 Mei 2016

Memilih Kurikulum Matematika untuk Homeschool

Mendengar kata matematika tentu biasa saja, tetapi kalau disuruh mengajar matematika, rasanya luar biasa. Mengapa? Menyampaikan suatu materi dalam matematika bagi anak-anak bisa jadi merupakan sesuatu yang cukup kompleks bagi beberapa orang karena kita harus bisa menyampaikannya dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh anak. Oleh sebab itu, memilih kurikulum matematika yang tepat dapat membuat penyampaian materi menjadi sederhana dan menyenangkan. Dan terkadang butuh waktu yang lama untuk memilih kurikulum yang kira-kira sesuai dengan anak.

Seperti yang selalu saya katakan kepada banyak orang, suka tidak suka, matematika sangat dibutuhkan dalam banyak hal. Anak-anak perlu mengetahui matematika karena dalam kehidupan sehari-hari matematika sangat diperlukan seperti saat berbelanja, membuat anggaran, bahkan dalam hal menabung. Saat anak-anak dewasa pun matematika dibutuhkan bagi anak-anak yang menyukai ilmu sains dan teknik. Pengalaman saya saat jadi asdos waktu kuliah membuat saya menyadari bahwa bahkan di fakultas ekonomi pun matematika masih dipakai. Banyak sekali yang harus mengulang matematika dasar (dan ngulangnya bisa 4 kali loh) karena mereka tidak menguasai hal yang sederhana yang harusnya dikuasai saat SD. Kasihan kan kalau anak jadi tidak dapat memilih jurusan yang diminati hanya karena saat kecil mereka tidak mendapatkan pembekalan yang cukup. 

Saya pun menghabiskan banyak waktu untuk memilih kurikulum. Bahkan artikel ini pun baru terwujud sekarang, padahal niat membuat artikel ini sudah dari awal waktu blog ini dibuat. Dalam mencari kurikulum untuk matematika, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan.

1. Pendekatan apakah yang ingin kita gunakan, spiral dan masteri. 
Pendekatan spiral memperkenalkan topik-topik yang bervariasi tanpa mengharapkan anak untuk memahami setiap topik secara keseluruhan. Kata kunci dari pendekatan ini adalah pengulangan yang terus menerus, sehingga anak-anak mempunyai banyak kesempatan untuk memahami dan akhirnya menguasai semua konsep yang diperlukan.  Dengan pendekatan spiral suatu konsep tidak diajarkan dari awal sampai selesai dalam sebuah selang waktu, tetapi diberikan dalam beberapa selang waktu yang terpisah-pisah. Di selang waktu pertama konsep itu dikenalkan secara sederhana, misalnya dengan cara intuitif melalui benda-benda konkret atau gambar-gambar sesuai dengan kemampuan murid. Setelah selang waktu itu selesai, maka pelajaran dilanjutkan dengan topik-topik lain. Di selang waktu yang terpisah-pisah selanjutnya, konsep tadi diajarkan lagi makin lama semakin abstrak. Notasi atau simbolnya pun berubah pula, hingga akhirnya menggunakan notasi yang umum dipakai dalam matematika.
Jadi, pendekatan spiral merupakan suatu prosedur pembahasan konsep yang dimulai dengan cara sederhana, dari konkret ke abstrak, dari eksplorasi ke penguasaan, dalam jangka waktu yang cukup lama dalam selang-selang waktu yang terpisah mulai dari tahap yang paling rendah hingga yang paling tinggi (semakin lama semakin dalam). Beberapa kurikulum yang menggunakan pendekatan spiral adalah Abeka, Saxon, Horizon, dan Teaching Textbook.

Pendekatan masteri menginginkan anak-anak untuk memahami konsep sepenuhnya sebelum berpindah ke konsep lainnya. Sebagai contoh, saat anak-anak belajar mengenai penjumlahan. Dalam masteri, si anak harus belajar penjumlahan sampai penjumlahan ribuan sebelum beranjak ke pengurangan. Karena pendekatan masteri mensyaratkan pemahaman seutuhnya terhadap suatu topik, maka anak tidak akan berpindah ke materi baru dengan cepat dan untuk pengulangan pun hanya sedikit. Suatu materi pelajaran, contohnya penjumlahan dapat dipecah menjadi beberapa bab, tetapi terkadang dipisahkan dalam beberapa worktext. Beberapa kurikulum yang menggunakan pendekatan masteri adalah Alpha Omega Lifepac,  Math Mammoth Light Blue Series, Bob Jones, dan Math U See.

Ada keluarga homeschool yang berhasil dengan menggunakan pendekatan spiral dan ada juga yang berhasil dengan menggunakan pendekatan masteri. Ada juga yang mengkombinasikan keduanya. Saat memilih di antara dua pendekatan ini, sebaiknya pilihlah yang sesuai dengan anak kita.
Atas: Saxon dengan pendekatan spiral, Bawah: Math Mammoth dengan masterinya

2. Apakah soal-soal untuk latihan dari kurikulum yang akan diambil cukup banyak?
Dalam mempelajari matematika, selain aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari, soal-soal latihan sangat membantu si anak untuk memahami konsep yang diberikan. Penguasaan soal-soal latihan yang dasar pun membantu anak saat mengerjakan materi yang kompleks. Sebagai contoh, kemampuan menyelesaikan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Seringkali saya menjumpai kesalahan konyol. Si anak menguasai materi x, tetapi salah menghitung saat mengerjakan. Akibatnya salahlah semuanya.
Soal-soal latihan ini dapat berbentuk lembar kerja ataupun flashcard. Yang terpenting adalah saat memberikan soal-soal latihan, jangan terlalu memberi tekanan kepada anak. Jika rasanya dia belum mampu,boleh diulang kok.

3. Apakah kurikulum yang dipakai membutuhkan alat bantu dalam mengajar?
Alat bantu mengajar membuat pelajaran menjadi menarik. Waktu saya kecil, alat bantu mengajar relatif sedikit. Tetapi kurikulum luar menggunakan banyak sekali alat bantu, seperti counting animals, stik kayu, snap cube, geoboard, dan sebagainya. Kita dapat menggunakan benda yang tersedia di rumah, seperti menghitung dengan menggunakan blocks, dengan tutup botol, dan sebagainya. Biasanya anak-anak dengan tingkatan lebih kecil menggunakan lebih banyak alat peraga. Seiring dengan bertambahnya usia, alat-alat peraga ini mulai berkurang penggunaannya dan digantikan dengan gambar dan ilustrasi.
Alat bantu atau alat peraga
4. Apakah Bentuk fisik dari buku yang kita inginkan?
Bagi beberapa orang, penampakan fisik dari kurikulum yang akan digunakan itu penting. Apakah mau buku atau file?Ada yang mau bukunya hitam putih saja, karena gambar dan warna dapat mengganggu kemampuan anak untuk fokus. Ada yang maunya berwarna supaya anaknya semangat belajar. Lalu yang menjadi pertimbangan juga, apakah mau workbook yang consumable atau yang dapat dipakai ke adik-adiknya lagi? Biasanya yang consumable itu berwarna, sehingga tidak mudah untuk difotokopi. Atau bisa juga membeli dalam bentuk file, seperti Math Mammoth, dan kita print sendiri. Jadi bisa dicetak sesuai kebutuhan kita.
Atas: Saxon yang hitam putih, Bawah: Abeka yang berwarna

Jika kita sudah mengetahui hal-hal yang harus dipertimbangkan, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan diingat kita sebagai pengajar.

1. Jangan memberi tekanan berlebih pada si anak saat menyelesaikan suatu materi. Kecenderungannya kita pasti mau suatu materi cepat selesai, saya juga kadang begitu. Tetapi saat memelajari matematika, penguasaan terhadap hal yang dasar itu perlu.

2. Saat menggunakan alat peraga, sesuaikan dengan kebutuhan anak kita. Jangan terlalu cepat menghilangkan alat peraga dalam penyampaian materi, tetapi jangan terus menerus menggunakan alat peraga. Tarik ulur istilahnya.

3. Jika kita merasa takut atau ragu saat mengajar matematika, jangan transferkan rasa takut ini kepada anak-anak. Saat kita ragu, si anak bisa jadi tambah bingung (apalagi kalau yang ngajar tipenya semakin ragu jadi semakin panik dan emosi). Buatlah anak tenang dan yakin kepada kita. Cobalah memelajari terlebih dahulu materi yang ada kalau memang si pengajar ragu. Tenangkanlah diri kita dengan menanamkan di pikiran kita bahwa kita sama-sama belajar dengan si anak, jadi kita pasti juga bisa. :D

4. Saat mengerjakan soal, dan si anak rasanya sudah mentok, coba jelaskan dan kerjakan bersama, sehingga anak tahu dimana salahnya. Jika suasana semakin panas, ambil waktu istirahat. Setelah istirahat, makan, tidur siang, cobalah bahas kembali. Biasanya jadi lebih nyambung loh.

5. Hal yang indah dari matematika adalah matematika itu progresif. Konsep yang satu didasari oleh konsep yang lain. Dengan kata lain, konsep yang satu membangun konsep yang lain, sampai menyentuh level tertinggi dan semuanya itu menggunakan konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Persoalan datang saat kita terlalu cepat berpindah, supaya cepat selesai, dari satu konsep ke konsep lain. Oleh sebab itu, sesuaikanlah dengan gaya belajar anak. Sebagai orang tuanya, kita lebih dapat mengetahui gaya belajar si anak. Jadi saat memilih kurikulum pun, pilihlah yang visible.

6. Jika kita sudah memilih pendekatan masteri dan anak kita dapat menangkap dengan cepat, tetapi bisa lupa kalau lama tidak dipakai, maka berikan soal-soal latihan secara berkala untuk membuat dia ingat kembali. Jadi seperti mencampur antara masteri dan spiral.

7. Apapun pilihan kurikulum yang sudah dipilih, jangan gonta-ganti dan tetaplah setia dengannya. Jujur pasti di tengah menggunakan kurikulum akan ada rasa kurikulum yang kita pilih kurang di bagian x, tetapi saat kita berganti yang lain, kita akan merasa ternyata kurikulum yang lain kurang dalam bagian y. Itu adalah hal yang wajar karena tidak ada cara untuk mengajar semuanya seperti mau kita. Yang dibutuhkan adalah konsistensi. Saat kita konsisten dengan apa yang sudah dipilih, jangan gonta-ganti, maka hal yang tadi dirasa kurang pasti akan dibahas di bab lainnya.

8. Tidak ada kurikulum yang terbaik. Kurikulum yang terkenal paling bagus pun bisa jadi tidak bagus jika si anak atau pengajar tidak dapat menerimanya. Oleh sebab itu, pilihlah yang sesuai dengan gaya belajar anak (dan kerelaan mamanya untuk belajar :D).

Saya pribadi mengalami kebingungan saat memilih kurikulum. Yang ini bagus, yang itu bagus. Nah, saat masa mencari sini situ, saya mendapatkan website yang membahas setiap kurikulum dan sangat membantu. Ingatlah moms, matematika adalah sesuatu yang menyenangkan. Jadi jangan takut sebelum berkenalan lebih jauh dengannya. Math is wonderful.