Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2026

Membuat Pangsit Rebus

Di semester ini, salah satu kegiatan yang kami lakukan bersama komunitas kami adalah aktivitas memasak mom and daughter. Pangsit rebus menjadi menu yang kami pilih. Alasannya karena rasanya enak tetapi masaknya sederhana. 

Saat memasak, kegiatan ini bukan sekedar mengolah makanan, tetapi juga merupakan proses pembelajaran karakter dan soft skills yang berharga. Oleh sebab itu, sebelum aktivitas dimulai, kami membahas karakter-karakter tersebut bersama-sama.

Karakter pertama yang kami pelajari saat memasak adalah kesabaran. Namanya memasak, kita harus sabar dalam melakukan setiap hal. Mulai dari menyiapkan bahan, memotongnya, mengolahnya, dan menyajikannya, semua membutuhkan kesabaran.

Karakter kedua yang kami pelajari adalah kreativitas. Bagaimana jika salah satu bahan tidak ada, dengan apakah kita menggantinya. Atau karena topik kami membuat pangsit, bisa juga membuat bentuk pangsit yang bermacam-macam. Trio Lynns sendiri sangat suka membentuk pangsit dalam berbagai macam bentuk.

Karakter ketiga adalah tanggung jawab. Memasak bukan sekedar mengolah makanan, tetapi bagaimana caranya menjaga tempat dan alat-alat yang kita gunakan tetap bersih setelah digunakan. Biasanya anak-anak yang ada asisten di rumah akan menyerahkan urusan bersih-bersih kepada asisten. Kemarin kami sama-sama belajar bahwa kebersihan menjadi tanggung jawab kita bersama.

Setelah membahas karakter-karakter bersama-sama, maka waktunya untuk membuat pangsit.

Bahan-bahan yang digunakan adalah:

- Daging cincang 500 gram

- Udang 200 gram, kupas dan cincang

- Daun bawang

- Kecap asin 2sdm

- Kecap ikan 2 sdt

- Minyak Wijen ½ sdt

-Telur kocok 2 sdm (supaya juicy)

- kulit pangsit

Cara membuatnya sangat sederhana. Kita hanya perlu mencampur semua bahan, kecuali kulit pangsit, menjadi satu. Setelah itu ambil kulit pangsit dan masukkan bahan isian secukupnya ke dalam kulit pangsit tersebut. 

Aneka bentuk

Tips dalam membuat pangsit rebus adalah menaburkan tepung terigu di piring yang akan diisi dengan pangsit yang belum direbus. Tujuannya supaya pangsit tersebut tidak lengket di piring. Sedangkan untuk merebus, setelah air mendidih, masukkan pangsit tersebut ke dalam air yang mendidih. Tunggu sampai pangsit mengapung sebagai tanda pangsit sudah matang. 

Tips yang lain dalam membuat pangsit adalah melakukan koreksi rasa. Karena tidak mungkin kita menyicipi daging mentah, jadi rebus dulu satu pangsit untuk mengetahui apakah rasanya sudah sesuai atau belum. Jika belum, bisa ditambahkan rasa yang diinginkan.

Dalam pembuatan pangsit kali ini, rasanya lebih cepat makannya daripada membuatnya. Apalagi saat fathers and sons kembali dari membuat tenda. 

Selasa, 09 Februari 2021

Science Experiment About Self Control

Sumberfoto:wideopeneats

Karakter pengendalian diri selalu menjadi topic yang menarik saat dibahas. Mengapa? Karena walau pembahasan karakter ini sudah dilakukan berulang-ulang, tetapi karakter ini masih susah untuk dilakukan. Jangankan oleh si anak, oleh kita sebagai orang yang lebih dewasa saja masih susah.

Karena itu, saat kami diminta untuk memimpin monthly meeting dengan tema karakter pengendalian diri, kami pun menyadari bahwa hal ini harus diajarkan berulang-ulang untuk anak, dan juga orang tua. Untuk membuat pembahasan karakter ini menjadi lebih mengena, maka kami mengadakan percobaan science.

Telur yang direndam cuka

1. Transparent Egg

Di Alkitab tertulis bahwa orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya seperti kota tanpa tembok. Apa yang terjadi jika kota tidak mempunyai tembok? Maka musuh dapat dengan mudah memasuki kota tersebut. Itulah sebabnya China membuat The Great Wall, untuk melindungi negara mereka dari serangan musuh.

Untuk membuat arti dari kota tanpa tembok ini jelas, anak-anak diminta mengerjakan percobaan dengan telur. Sebetulnya kami pribadi sudah dua kali membuat percobaan ini saat anak-anak masih lebih kecil dari umurnya sekarang, yaitu transparent egg dan colorful transparent egg. Walaupun demikian, mereka sudah lupa. Jadi tidak mengapa jika diulang lagi =D

Telur yang sudah tidak berkulit

Apa arti dari percobaan ini? Telur adalah kita. Cuka adalah masalah-masalah yang membuat kita tidak dapat mengendalikan diri. Jika kita reaktif dengan masalah-masalah yang ada, maka lama kelamaan 'tembok' kita (kulit telur) runtuh. Telur tanpa kulit pasti gampang sekali dipotong, spt kota tanpa tembok yang gampang diserang musuh.

Lava Lamp

2. Lava Lamp

Percobaan ini pernah kami lakukan bersama dengan percobaan lainnya. Walaupun demikian, bagi anak-anak, percobaan ini selalu menarik.

Bahan-bahan yang diperlukan:

- Wadah transparan.

- Minyak sayur.

- Air yang sudah diberi pewarna.

- Tablet effervescent.

Langkah-langkah yang dilakukan:

1. Tuangkan minyak ke dalam wadah.

2. Tuangkan air ke dalam wadah yang sudah ada minyaknya.

3. Ajak anak-anak mengamati apa yang terjadi. Minyak secara perlahan akan naik ke atas.

4. Ambil tablet effervescent, bagi menjadi beberapa bagian. Lalu masukkan ke dalam wadah tersebut.

5. Amati bersama dan minta anak untuk menggambarkan dengan kata-kata mereka apa saja yang mereka lihat.


Minyak mengambang diatas air karena minyak lebih rendah masa jenisnya daripada air. Saat tablet dimasukkan, tablet akan tenggelam dan mulai larut di air. Karena tablet yang larut dalam air tersebut mengandung gas karbon dioksida, maka saat tablet tersebut larut, terciptalah gelembung-gelembung udara. Gelembung-gelembung tersebut membawa air yang sudah berwarna tersebut ke permukaan. Saat udara keluar dari gelembung tersebut, yang muncul ke permukaan. Dan saat gelembung udara tersebut pop out, maka air berwarna tersebut menjadi berat lagi dan tenggelam.

Penjelasan spiritual

Aktivitas ini mengilustrasikan kepada kita bahwa kita tidak dapat mengendalikan diri kita sendiri jika tidak ada Tuhan dalam hidup kita. Air melambangkan kita dan minyak melambangkan Tuhan. Tablet effervescent melambangkan batu-batu kehidupan, hal-hal yang dapat membuat kita iritasi dan terkadang membuat kita tidak bisa mengendalikan diri. Saat Tuhan menjadi pelindung kita (karena posisi minyak diatas air), maka hal-hal yang membuat kita susah mengendalikan diri dpt diredam. Saat Tuhan ada dalam hidup kita, kita dapat mengendalikan diri dan tidak mudah meledak. Semakin sering kita membangun hubungan dengan Tuhan, semakin kita dapat mengendalikan diri kita. 

Marshmallow yang kami gunakan

3. Marshmallow

Jika dulu saat membahas karakter pengendalian diri ini anak-anak sudah membuat aktivitas marshmallow mouth, maka kali ini kami mengadakan percobaan dengan marshmallow.

Bahan-bahan yang diperlukan:

- 3 buah toples atau gelas atau botol selai transparan (atau sejenisnya)

- Marshmallow ukuran kecil

- air biasa

- air panas

- minyak sayur

Langkah-langkah:

1. Isi ketiga botol transparan tersebut masing-masing dengan air biasa, air panas, dan minyak sayur.

2. Masukkan marshmallow ke dalam masing-masing botol. Amati apa yang akan terjadi.

Marshmallow yang dimasukkan ke dalam air panas akan larut dengan cepat dibandingkan yang dimasukkan ke dalam air biasa dan minyak sayur. Mengapa bisa begitu? Karena marshmallow mengandung gula sebagai bahan utamanya. Dan gula gampang larut di air panas.

Pengendalian diri berhubungan dengan kemauan kita untuk membangun kebiasaan yang sehat. Untuk anak-anak, makanan yang manis merupakan makanan yang menarik perhatian mereka. Salah satunya adalah marshmallow. Dari kegiatan ini, karena sekarang mereka tahu bahwa marshmallow dibuat dari gula, maka mereka pun dapat mengendalikan diri untuk tidak setiap saat makan marshmallow.

Dari percobaan-percobaan ini, bukan hanya anak-anak yang mendapatkan pencerahan, tetapi juga kami para mama-mama yang mengikuti pertemuan bulanan. Memang tidak mudah bagi kami para orang tua yang mendidik anak-anak di rumah dalam urusan pengendalian diri. Kami selalu bersama anak-anak alias 24/7. Mengajar anak-anak terkadang menjadi salah satu tes pengendalian diri, apalagi kalau semua urusan di rumah dikerjakan sendiri. Namun kami tahu, kami bersama-sama belajar untuk mengendalikan diri kami. 
Peralatan yang digunakan salah satu teman kami.

Selasa, 02 Februari 2021

Science Experiment: Mengapa Kita Menangis Saat Mengupas Bawang Bombay?

Sumber foro: alodokter

Siapa yang suka ‘nangis’ saat ngupas bawang merah atau bawang bombay? Atau siapa yang suka ‘nangis’ kalau lagi memotong bawang merah atau bawang bombay? Saya sih suka ‘menangis’ kalau sedang berurusan dengan bawang-bawang tersebut dan juga daun bawang. Bahkan anak-anak yang sedang tidak memotong saja bilang matanya perih saat berada di dekat mamanya yang sedang berurusan dengan bawang. 

Kalau anak zaman dulu, cukup diceritakan kisah si bawang merah dan bawang putih saja. Si bawang merah nakal jadi kalau lagi memotong bawang merah kita jadi menangis. Tapi anak zaman sekarang pasti akan bertanya penyebabnya bukan? Kenapa harus perih matanya? Kenapa setelah matanya perih, kita jadi menangis?

Karena efek dari berurusan dengan bawang-bawang tersebut, maka kami pun melakukan eksperimen dengan bawang-bawang tersebut. Eksperimen tersebut sangat gampang.

Peralatan yang dibutuhkan adalah:

- Bawang bombay berukuran besar, bagi 2. Bagian pertama disimpan di dalam kulkas dan bagian kedua diletakkan di luar.

- Piring untuk wadah.

Kami meminta anak-anak untuk membuka lapisan-lapisan bawang bombay yang tidak diletakkan di kulkas. Mengupasnya pun dengan menggunakan tangan mereka. Awalnya mudah, namun lama kelamaan semakin susah untuk dipisahkan lapisannya. Sejalan dengan itu, anak-anak pun merasa matanya perih dan tidak lama kemudian keluar air mata dari mata mereka. 

Bawang bombay yang sudah dibuka lapisan-lapisannya.

Lalu mereka pun diminta untuk membuka lapisan-lapisan dari bawang bombay yang disimpan di kulkas. Ternyata efeknya tidak secepat bawang bombay yang tidak diletakkan di kulkas. Lalu kami pun meminta mereka untuk memotong lapisan-lapisan tersebut dengan menggunakan gunting. Tak lama kemudian mata mereka pun mengeluarkan air mata. Lalu mereka bertanya kenapa ya bisa begitu.

Bawang bombay dari kulkas yang dipotong-potong.

Ketika bawang bombay atau bawang merah diiris, sel-sel pada bawang akan pecah dan mengeluarkan enzim yang memproduksi gas yang disebut propanethial sulphoxide. Ketika gas tersebut mengenai mata, maka gas akan bereaksi dengan air mata dan memproduksi asam yang bernama sulphuric acid dalam kadar ringan. Mata kita terasa perih. Oleh syaraf yang ada, reaksi diatas disalurkan ke otak. Kemudian otak mengirimkan sinyal ke kelenjar air mata untuk menghasilkan lebih banyak cairan agar gas dan zat asam keluar dari mata. Mengapa? Karena gas tersebut dianggap benda asing. Dan mekanisme badan kita, jika ada benda asing masuk, pasti akan berusaha untuk mengeluarkannya.

Namun lebih dari sekedar penjelasan ilmiah, kegiatan ini merupakan ilustrasi dari suatu pertobatan. Setiap lapisan bawang bombay melambangkan lapisan luar dosa yang ada di hati kita. Saat mencoba membersihkan dosa di hati kita, awalnya memang terlihat mudah. Namun semakin banyak kita mencoba untuk menyelesaikan dosa kita, semakin nampak bahwa hal itu susah dan dapat membuat kita menangis. 

Untuk itulah kita memerlukan Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat membersihkan hati kita secara total. Saat kita mengakui kita tidak mampu, maka disitulah pertobatan yang sejati timbul, yaitu saat kita mengakui setiap ketidakberdayaan kita dan meminta Dia yang membersihkan hati kita.

Lalu bagaimana dengan bawang Bombay yang sudah dikulkas? Saat bawang bombay dimasukkan ke dalam kulkas, dingin dari kulkas membuat reaksi bombay saat dipotong menjadi lebih lama. Jadi, untuk ibu-ibu yang mau memotong bombay tapi tidak mau matanya perih, bisa memasukkan bawang bombay ke kulkas dulu. 

Kalau ingin menangis tetapi tidak ketahuan orang? Potong saja bawang bombay yang baru, biar seperti lagu ”I’ll do my crying when I cook” =D




 

Jumat, 29 Mei 2020

Mengajarkan Tanggung Jawab Pada Anak


Bagi kami, melatih anak-anak dengan urusan di rumah merupakan hal yang harus diperkenalkan sedini mungkin. Mengapa? Karena hal ini adalah keterampilan dasar yang harus mereka miliki. Anak-anak bukan hanya dapat mengerjakan urusan di rumah (sesuai dengan batasan umur dan kemampuan tentunya), tetapi mereka juga belajar untuk bertanggung jawab. Kata tanggung jawab bukanlah kata yang mudah untuk dimengerti oleh anak-anak. Jadi dengan tindakan dan membantu urusan di rumah dapat menjadi media bagi mereka mempelajari arti tanggung jawab.

Suatu hari, saat kakak masih berusia 1 tahun (saya pun sedang hamil anak kedua), kami bermain ke rumah senior kami. Memang biasanya kami mempunyai jadwal rutin main ke rumah mereka saat libur Lebaran, kecuali Lebaran kali ini tentunya. Si kakak diajak main oleh anak-anak di sana. Saat mereka akan main yang lain, kakak sibuk merapihkan mainan yang sebelumnya mereka mainkan. Mereka pun cukup kaget karena anak yang umurnya baru 1 tahun mengerti tentang merapikan barang.
Kakak saat ngotot mau ngepel walau gagang pel lebih tinggi dari dia.
Memang sejak anak-anak masih bayi, kami selalu mengajak mereka untuk merapihkan mainannya setiap kami selesai bermain. Kami pun membiasakan mereka untuk merapikan mainan yang mereka mainkan sebelum berganti mainan yang baru. Mungkin awalnya mereka belum mengerti, tetapi karena kami selalu melakukannya, kemudian kami bersama dengan mereka merapikannya, maka mereka pun lama kelamaan mengerti. Sampai akhirnya mereka dapat merapikan mainan mereka sendiri tanpa harus dibantu. Mereka tahu bahwa mainan harus dirapikan sebelum mereka berganti mainan yang lain.

Tanggung jawab mereka pun bertambah seiring dengan perkembangan umur mereka. Di usia kakak tiga tahun dan adik 1 tahun lebih, tanpa kami minta, mereka mau membantu kami untuk mencuci piring dan memasak nasi. Wah, kami pun kaget. Walau awalnya lebih banyak mainan air, lama kelamaan mereka pun bisa mengerjakannya.

Nah, bagaimana sih cara mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anak? Ada dua kunci yang harus diingat. Yang pertama adalah konsistensi. Ingat peribahasa Allah bisa karena biasa, bukan? Demikian juga habit atau kebiasaan. Jika kita selalu melakukannya dengan konsisten, maka anak-anak pun akan dapat melakukannya. Apalagi saat berurusan dengan anak kecil, baik dalam mengajar ataupun dalam hal mendisiplin, konsistensi merupakan kunci utama.
Saat mereka masih kecil dan ingin membantu menyerut labu.
Kunci kedua adalah teladan. Rumah adalah tempat pertama anak belajar. Kita orang tua adalah orang-orang pertama yang akan mereka tiru. Jadi kalau kita tidak pernah menunjukkan bahwa kita bertanggung jawab, bagaimana mereka akan belajar mengenai tanggung jawab? Bagaimana anak mau ambil minum sendiri jika kita selalu meminta tolong ART kita untuk mengambilkannya?

Anak-anak selalu melihat kami mengerjakan segala sesuatu sendiri. Mereka pun berusaha untuk mengikutinya. Sampai sekarang pun mereka terbiasa mengerjakan urusan rumah tangga lainnya seperti menyapu, mencuci piring, memasak, melipat baju, dan sebagainya. Dari yang awalnya mereka berusaha meniru kami saat melakukan semua itu, sekarang mereka sudah dapat melakukannya sesuai dengan kapasitas mereka. Memang action speaks louder than words.

Walau mereka senang membantu, tetapi terkadang hal ini menjadi tantangan bagi kami. Mereka bisa rebutan untuk mengerjakan urusan-urusan tersebut. Tak jarang diakhiri oleh tangisan dan rengekan yang membuat kami pusing. Untuk menyiasatinya, kami pernah membuat kotak tugas. Kotak tugas ini berisi kartu-kartu kecil dari tugas yang akan mereka kerjakan. Tugas-tugas itupun dirotasi supaya semua kedapatan.

Selain cara diatas, kami biasanya menulis di papan tulis tanggung jawab yang tidak boleh mereka lupakan. Ini bukan saja tanggung jawab dalam hal kerjaan, tetapi juga hal lain. Misal, untuk adik, salah satu tanggung jawab dia adalah minum air (karena dia suka lupa minum air).
Memasak untuk makan siang.
Beberapa waktu lalu, di salah satu buku Wisdom Booklet diperkenalkan yang namanya Responsibility Chart. Jadi dalam satu halaman dibagi tujuh kolom yang merepresentasikan tujuh hari dalam seminggu. Kertas tersebut dilaminating dan dapat ditulis tanggung jawab yang dapat mereka lakukan. Hal ini cukup efisien, karena hanya cukup menggunakan satu kertas saja.
Responsibility Chart
Nah, yang harus diingat oleh kita adalah mereka adalah anak-anak, yang masih punya tugas untuk belajar dan waktu untuk bermain dan mengembangkan diri. Oleh sebab itu, tugas-tugas yang diberikan harus disesuaikan dengan kemampuan dan umur mereka. Jangan sampai kita mempekerjakan anak di bawah umur dan kita jadi asyik-asyik menikmati 'me time' kita. Ingat, walau mereka bisa, bukan berarti mereka harus mengerjakannya. Kita melatih anak untuk bertanggung jawab, bukan melimpahkan semua tugas ke mereka.

Sebagai kesimpulan, mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab juga dapat melalui hal-hal sederhana seperti urusan rumah tangga. Tanggung jawab mereka bukan hanya belajar saja, tetapi juga pekerjaan rumah yang sederhana. Bukan berarti mereka diperdaya, tetapi mereka diperlengkapi dengan kemampuan dasar. Selamat mengajarkan tanggung jawab kepada anak. 

Sabtu, 28 Maret 2020

Character: Cautiousness Snake n Ladder


Bulan Maret ini Indonesia dikejutkan dengan berita adanya beberapa orang yang terkena virus corona. Dampak dari virus ini, pemerintah pun meminta kita untuk melakukan social distancing, yang artinya sebisa mungkin kita tetap berada di rumah tanpa harus keluar-keluar. Akibat dari kebijakan ini, maka monthly meeting yang harusnya diadakan di bulan ini diundur.

Walaupun demikian, setiap keluarga yang ada di komunitas kami diharapkan tetap melakukan pembahasan mengenai karakter bulan ini. Bulan ini kami membahas cautiousness. Cautiousness atau berhati-hati adalah mengetahui seberapa pentingnya waktu yang tepat dalam mencapai tindakan yang tepat. Atau dalam bahasa sederhananya adalah memberikan waktu untuk berpikir agar setiap keputusan atau setiap tindakan yang diambil adalah tepat. Lawan kata cautiousness adalah rashness. Rashness atau terburu-buru didefinisikan sebagai melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa dan kurang pertimbangan.

Karakter ini sangat penting, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk kita orang dewasa. Seringkali kita melihat orang melakukan sesuatu dengan tidak tepat, lalu orang lain akan berkata “kan maksud dan niatnya baik”. Memang segala sesuatu yang niatnya baik itu baik, namun jika dilakukan pada waktu yang tepat, maka hasilnya juga akan lebih baik.

Sebagai contoh, misalkan kakak kita sedang bermain  bola, lalu tiba-tiba bola tersebut jatuh. Membantu kakak mengambil bola merupakan tindakan yang baik, bukan? Namun jika kita mengambil bola tersebut tanpa melihat kiri kanan dan kita lari menabrak anak kecil, apakah itu baik? Oleh sebab itu, sebelum mengambil bola, kita harus melihat ke kiri dan ke kanan agar tidak membahayakan orang lain dan juga kita.

Saat membahas cautiousness, kami memperkecil pembahasan kepada lima hal yang dapat dilakukan anak-anak sebagai langkah nyata saat membahas cautiousness. Lima hal tersebut adalah:
1. Saya akan berpikir sebelum saya bertindak
2. Saya akan mempertimbangkan kata-kata saya sebelum saya berkata-kata.
3. Saya akan mengikuti peraturan yang ada (safety rules).
4. Saya akan meminta izin terlebih dahulu.
5. Saya akan waspada terhadap bahaya.

Agar kelima hal ini lebih mudah dipahami oleh anak-anak, maka kami pun menggunakan permainan Cautiousness Snake and Ladder. Tujuan dari permainan ini adalah membuat anak-anak menyadari keuntungan dari bersikap hati-hati dan konsekuensi dari bersikap terburu-buru. Sama seperti bermain ular tangga, jika bertemu tangga maka naik dan jika bertemu ular maka turun, maka saat anak-anak mendarat di tindakan yang menunjukkan sikap kehati-hatian, maka mereka akan naik tangga. Namun jika mereka mendarat di tindakan yang diambil dengan terburu-buru, maka mereka akan turun.

Dalam pembuatannya, kami menyediakan lima ’kasus’ yang berhati-hati dan lima ’kasus’ yang menunjukkan tindakan rashness atau terburu-buru. Kasus-kasus tersebut dapat dibuat sendiri, berdasarkan keadaan yang kita ingin anak-anak berhati-hati. Kami membuatnya sebagai berikut.

5 keadaan berhati-hati:
- A stranger offered to give you some food, you quickly went away. 
- You asked permission before you played with your friends. 
- You obeyed your parents to stay at home
- You used seatbelt when you were in the car. 
- You washed your hand before and after eating. 

5 keadaan tidak berhati-hati:
- You ran down the hallway with a sharp pencil. 
- You didn't asked permission from your parents before you went to your neighbors.
- You ran across the road without looking both ways. 
- You didn't wash your hands after going outside the house. 
- You didn't clean the floor after you spilled the water. 
                                                
Walaupun permainan ular tangga ini sepertinya jadul, ternyata bagi anak-anak akan lebih menarik. Apalagi dimainkan bersama-sama. Lumayan, menambah permainan yang dapat dimainkan selama harus di rumah saja.




Senin, 27 Mei 2019

Experiment: Sincerity Stone


Bulan ini kami mempelajari karakter Sincerity. Sedianya kami bertemu untuk monthly meeting. Namun karena kondisi Jakarta yang kurang kondusif, maka pertemuan monthly meeting bulan ini ditiadakan. 

Sincerity atau tulus didefinisikan sebagai selalu melakukan yang benar dengan motif yang transparan. Namanya transparan, berarti tidak ada yang tersembunyi. Lawan kata dari tulus adalah munafik. Orang yang munafik berarti melakukan sesuatu dengan hidden agenda atau agenda tersembunyi. Orang seperti ini akan terlihat baik tetapi motifnya bisa jadi salah. 

Ada tujuh hal yang dapat kita lakukan agar kita memiliki ketulusan dalam hati kita.  
1. Selalu menguji motif kita, apakah tujuan kita saat kita berbuat sesuatu.
2. Selalu berkata dengan integritas, yang berarti tidak asal berkata-kata (hari ini A, besok B, tetapi tidak mau mengakuinya) dan melakukan apa yang kita katakan. 
3. Sepenuhnya berdedikasi, yaitu dengan sepenuh hati melakukan hal yang benar. 
4. Menanggalkan topeng yang ada, yaitu menjadi transparan atau apa adanya.
5. Jadilah murni, yang berarti menjadi seperti yang Tuhan inginkan.
6. Bertanggungjawab untuk setiap tindakan kita, yang berarti saat kita tahu kita salah, kita berani mengakuinya dan memperbaiki kesalahan kita. 
7. Tidak mengambil keuntungan dari orang lain, atau tanpa pamrih.

Tentunya selama kita masih manusia, terkadang dalam diri kita bisa muncul motif-motif yang tidak transparan. Jika hanya mengandalkan diri kita sendiri, pastilah susah untuk kita mengendalikannya. Itulah sebabnya kita memerlukan Tuhan. Tuhan yang memampukan kita untuk tetap mempunyai ketulusan dalam setiap tindakan kita.

Salah satu aktivitas yang kami lakukan untuk membuat anak-anak memahami arti tulus dan kita tidak dapat melakukannya tanpa bantuan Tuhan adalah dengan melakukan eksperimen. Bahan-bahan yang kami gunakan adalah:
1. Wadah transparan.
2. Air 
3. Betadine
4. Tablet vitamin C
Bahan-bahan yang digunakan.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Kedalam wadah yang ada, tuangkan air. Kemudian berikan beberapa tetes betadine dan aduk hingga rata.
Air yang telah dicampur betadine.
2. Masukkan tablet vitamin C ke dalam wadah tersebut, kemudian aduk kembali. Bersama-sama kita amati apa yang akan terjadi.

Air berwarna coklat tersebut akan mulai menjadi jernih. Air melambangkan hati kita dan betadine melambangkan motif-motif tersembunyi. Saat motif-motif itu ada di hati kita, maka kita tidak lagi menjadi orang yang tulus. Tablet vitamin C melambangkan Tuhan dan firmanNya. Semakin kita melibatkan Tuhan untuk bekerja di hati kita, semakin kita mencari kehendakNya dan membaca firmanNya, maka Tuhan yang mampu membuat hati kita kembali tulus.
Air yang kembali berwarna putih.
Ujung dari semuanya, kita memerlukan Tuhan untuk memampukan kita menjadi pribadi yang lebih baik dan memancarkan terang Tuhan ;)

Sabtu, 20 April 2019

Snowflake of Forgiveness

Setelah sebelumnya kami membahas karakter decisiveness di pertemuan perdana kami di tahun ini, bulan Februari kemarin kami membahas karakter forgiveness. Forgiveness atau pengampunan didefiniskan sebagai menghapus semua catatan orang-orang yang bersalah kepada saya dan kembali mengasihi mereka. Dengan kata lain, memaafkan berarti mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain serta tidak menaruh dendam.
Forgiveness
Setelah berdoa, auntie I menjelaskan kepada anak-anak mengenai forgiveness. Saat kita mengampuni maka kita tidak akan melakukan pembalasan. Bagaimana caranya? Yang pertama adalah dengan melepaskan segala rasa pahit terhadap orang tersebut, sehingga kita dapat mengasihi mereka sepenuhnya. Yang kedua adalah percayalah bahwa Tuhan akan bertindak, sehingga kita tidak perlu bertindak sendiri. Untuk anak kecil, daripada membalas, lebih baik melaporkan kepada orang yang lebih dewasa, tetapi jangan melebih-lebihkan. Yang ketiga adalah mencoba untuk memahami dia dan mengerti apa kebutuhan dia. Ini juga berlaku untuk kita sebagai orang dewasa loh.
How?
Selanjutnya auntie T menjelaskan kisah di Alkitab tentang salah satu tokoh yang mengampuni. Tokoh yang diambil adalah tokoh Yusuf. Yusuf mengasihi saudara-saudaranya walaupun ia dibuang sampai ke Mesir. Bahkan setelah Yakub meninggal, Yusuf pun tetap mengasihi saudara-saudaranya. Mengapa? Karena ia mengampuni dan menghapus semua catatan kesalahan kakak-kakaknya.
Story about Joseph.
Untuk membuat karakter ini lebih dimengerti, anak-anak bersama-sama membuat snowflake. Di tengah-tengah pembuatan, auntie T berkata bahwa kita seperti kertas ini. Guntingan-guntingan kecil terhadap kertas ini menggambarkan kita yang seringkali disakiti. Tetapi saat kita bersedia memaafkan, maka Tuhan mampu membuat hal yang menyakiti kita menjadi sesuatu yang indah, sama seperti kertas pola snowflake yang dibuka. Andaikan kita mengeluh dan tidak mau mengampuni, maka kita hanya akan menjadi kertas yang penuh guntingan saja. 

Sebelum mengakhiri pertemuan kami, anak-anak bersama-sama menghapalkan ayat hapalan yang ada dengan menggunakan gerakan. Setelah itu dilanjutkan dengan acara fellowship.
Memory Verse kami.
Selain pembahasan di monthly meeting, pembahasan ini juga kami lakukan di rumah. Saya mengilustrasikan mengampuni dengan kegiatan yang sederhana, yaitu dengan menuliskan semua kesalahan yang mungkin dilakukan oleh orang kepada kita di papan tulis. Saat kita bilang kita mengampuninya, maka kita menghapus semua hal tersebut. Ilustrasi ini membuat anak-anak mengerti bahwa saat kita mengampuni, tidak ada rasa sakit di hati kita.
Snowflake yang dibuat Duo Lynns
Mengampuni memang terlihat gampang, tetapi agak berat untuk melakukannya. Saat menjelaskannya kepada adik, adik bilang dia takut untuk memaafkan orang lain. Memang saat orang bersalah kepada dia, jika dia merasa sangat sakit, dia akan menangis dan tidak mau menerima permintaan maaf. Hal ini karena dia sering merasa disakiti orang lain, dan takut disakiti kembali. Hal yang wajar, karena kita sebagai orang dewasa pun terkadang merasakan hal itu. Tetapi trauma seperti ini memang tidak boleh dibiarkan berlanjut.

Bersyukurnya kami pembahasan ini dilakukan secara penuh selama sebulan, dan masih berlangsung tentunya, sehingga adik belajar untuk menerima permintaan maaf orang lain tanpa harus menangis. Mengampuni memang berat, namun saat kita mengampuni, kita pun akan menjadi lebih enteng dan tidak pahit.

Senin, 01 April 2019

Character Learning: Decisiveness


Pembelajaran karakter merupakan hal yang penting bagi kami dalam mendidik anak-anak. Itulah sebabnya komunitas kami selalu mengedepankan pembelajaran karakter dalam setiap pertemuan bulanan yang diadakan. Di awal tahun ini, karakter perdana yang kami bahas adalah decisiveness

Diawali dengan doa, auntie Luc menerangkan sedikit tentang decisiveness. Decisiveness atau berketetapan adalah kemampuan untuk mengambil keputusan yang sukar berdasarkan kehendak dan caranya Tuhan. Dalam bahasa yang sederhana, decisiveness berarti doing things God's way atau melakukan segala hal dengan caranya Tuhan. Lawan dari decisiveness adalah double-mindedness, yang didefinisikan sebagai berpindah-pindah saat dihadapkan pada dua pilihan.

Melakukan sesuai maunya Tuhan bukanlah hal yang mudah, bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk orang tua. Seringkali kita jadi dilema karena pilihan yang dihadapkan pada kita. Bagaimana cara kita supaya tidak bingung? Namanya juga melakukan sesuai dengan maunya Tuhan, berarti kita harus melekat pada Tuhan. Untuk melekat dengan Tuhan, tidak ada cara lain selain membaca firmanNya dan mengenali pribadiNya.

Untuk membuat anak lebih mengerti, kepada setiap anak diberikan beberapa gambar dari setiap situasi. Mereka diminta untuk memilih manakah tindakan yang mencerminkan decisiveness dan manakah tindakan yang tidak mencerminkan decisiveness. Setiap anak diberikan sticker dan diminta untuk menempelkan sticker ke tindakan yang seharusnya mereka lakukan. Tentunya mereka semangat untuk melakukannya. 

Pertemuan perdana kami di bulan Januari tidaklah berlangsung dengan lama, namun anak-anak lebih banyak playdate, setelah sebulan lebih tidak bertemu.

Kamis, 17 Januari 2019

Monthly Meeting: Dependability

Setelah bulan Oktober kemarin monthly meeting ditiadakan, maka bulan November ini kami kembali mengadakan monthly meeting. Tema karakter bulan November ini adalah dapat diandalkan atau dependability. Karakter yang satu ini termasuk karakter yang menarik untuk dibahas bersama, karena dapat diandalkan merupakan sesuatu yang dapat dirasakan orang lain.
Uncle C siap dengan gitarnya.
Games dulu ah....
Dapat diandalkan didefinisikan sebagai melakukan yang disepakati walaupun harus berkorban. Kami menjabarkannya sebagai melakukan apa yang saya janjikan meskipun itu susah. Seringkali kita mudah membuat janji tetapi sulit untuk menepatinya. Dapat diandalkan berarti kita akan tepati janji kita. Orang yang dapat diandalkan berarti orang itu memegang perkataannya dan berani mengakui kesalahan. Dan tidak hanya mengakui kesalahan, orang yang dapat diandalkan akan memperbaiki kesalahan yang dibuatnya. Dengan kata lain, orang yang dapat diandalkan adalah orang yang konsisten.

Lawan kata dari dapat diandalkan adalah tidak konsisten. Orang yang tidak konsisten berarti orang tersebut tidak dapat dipegang perkataannya karena perkataannya berubah terus dan perbuatannya tidak sesuai dengan kata-katanya. Orang seperti ini biasanya sulit untuk mengakui kesalahan dan cenderung berjanji tanpa berpikir terlebih dahulu.

Agar karakter ini lebih mudah dimengerti, maka kali ini anak-anak dilakukan untuk melakukan suatu percobaan dengan jeruk. Bahan-bahan yang diperlukan adalah:
- Toples atau teko transparan yang cukup tinggi.
- Air
- Jeruk
- Spidol permanen
- Pisau

Uncle C pun mengajak anak-anak untuk menyebutkan tugas yang mereka lalukan dan orang-orang merasa mereka dapat diandalkan untuk mengerjakan hal tersebut. Ada yang menyebutkan mencuci piring, menjaga adik, membersihkan tempat tidur, dan sebagainya. Lalu setiap hal tersebut ditulis di kulit jeruk. Anak-anak diajak untuk berpikir apakah jeruk ini akan mengambang atau tenggelam. Semua menjawab mengambang.
Eksperimen dengan jeruk
Jeruk yang mengambang ini menggambarkan perasaan orang lain saat anak-anak dapat diandalkan saat mereka melakukan tugas dan tanggung jawab mereka. Lalu uncle C mulai menusuk jeruk tersebut dengan pisau sebagai lambang bahwa mereka melakukannya dengan setengah hati. Lalu jeruk tersebut dimasukkan ke air. Jeruk tersebut tetap mengambang tetapi bentuknya tidak lagi indah.

Demikian juga saat anak-anak tidak dapat diandalkan dan hanya mengerjakan setengah hati, maka hasilnya tidaklah sebaik yang seharusnya. Akibatnya orang akan kecewa dan tidak dapat mempercayai kita lagi. Hal ini bahkan dapat membuat orang lain dalam bahaya.

Selesai melakukan percobaan, anak-anak diajak untuk bermain bersama kembali. Kali ini mereka diminta untuk berpasangan berdua-berdua. Setiap pasangan ini akan diminta untuk mengambil boneka yang sudah diletakkan di depannya. Namun, salah seorang dari setiap pasangan akan ditutup matanya. Pasangannya inilah yang nantinya akan mengarahkan teman yang matanya ditutup. Ini juga menunjukkan pada anak-anak bahwa jika kita dapat diandalkan, maka kita akan mengarahkan teman kita ke tujuan yang tepat.

Setelah cukup bermain, auntie N mengajak anak-anak untuk menghapalkan ayat hapalan bersama-sama dan melakukan permainan menyusun ayat. Permainan yang satu ini adalah favorit anak-anak.
Puzzle ayat hapalan
Dari pembahasan karakter bulan ini, anak-anak pun menyadari walaupun mereka masih kecil, namun bukan berarti mereka tidak dapat diandalkan. Saat mereka menepati janji mereka, berarti mereka dapat diandalkan. Saat mereka tidak asal membuat janji, itu berarti mereka dapat diandalkan. Saat mereka berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya, itu berarti mereka dapat diandalkan.

Pertanyaannya, apakah kita juga dapat diandalkan? Jawabannya ada pada setiap kita :)








Kamis, 10 Januari 2019

Craft: Obedience Heart


Ketaatan atau Obedience menjadi topik yang cukup hangat dalam parenting, terutama bagi orang tua yang anaknya masih kecil. Kita pasti merindukan agar anak kita dapat melakukan 'first time obedience'. Akibatnya banyak cara dilakukan dengan tidak semestinya demi tujuan yang satu itu.

Memang ketaatan bukanlah hal yang mudah. Bagaimana tidak, kecenderungan manusia adalah tidak melakukan apa yang harus dilakukan. Bahkan dari saya kecil ada istilah 'peraturan dibuat untuk dilanggar'. Hal ini menunjukkan memang manusia itu pada dasarnya tidak suka untuk diatur.

Apakah ketaatan itu? Ketaatan didefinisikan sebagai dengan segera melakukan firmanNya daripada mengikuti kemauan saya. Bahasa yang sederhana untuk anak-anak adalah dengan segera dan senang hati melakukan perintah dari orang-orang yang bertanggung jawab atas saya.

Ada lima hal yang harus dilakukan saat kita berkata kita mau taat. Jika lima hal ini dapat dilakukan, maka anak-anak akan lebih mudah untuk melakukan 'first time obedience'. Lima hal tersebut adalah:
1. Cheerfully, yaitu taat dengan sikap yang baik dari hati, bukan terpaksa.
2. Immediately, yaitu segera taat dan tidak menunda.
3. Completely, yaitu melakukan semua yang harus diharapkan, jadi bukannya taat pada bagian yang ini dan tidak taat pada bagian yang lain. 
4. Generously, yaitu melakukan lebih dari yang diharapkan atau do the extra miles
5.Carefully, yaitu tidak menaati perintah yang salah. Dengan kata lain, bukan ketaatan yang membabi buta, tetapi tetap melihat juga perintah yang diberikan. 

Untuk mempermudah anak-anak mengingat akan hal ini, kami pun membuat craft tentang ketaatan. Namanya Obedience heart. Kenapa menggunakan hati? Karena ketaatan itu harus timbul dari hati sehingga tidak ada keterpaksaan. 

Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Kertas warna-warni
2. Template hati.
3. Template kunci
4. Pita
5. Spidol 
6. Isolasi atau lem. 
7. Pembolong kertas.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Cetak template hati dan kunci ke atas kertas.
2. Gunting hati dan kunci yang sudah dicetak tersebut.
Kunci yang sudah jadi.
3. Lipat hati yang telah digunting sehingga menjadi bentuk hati. 
4. Lubangi kunci dan hati tersebut di satu sisi. 
5. Di bagian dalam hati, tuliskan 5 hal yang menjadi komitmen anak saat berlaku taat. 
I will tulisan adik.
6. Di sisa kertas yang ada, buatlah gambar persegi dan lubang kunci di dalamnya. Setelah itu gunting gambar tersebut.
7. Tempelkan lubang kunci disalah satu sisi.
Obedience heart :)
8. Gantunglah kunci di hati yang ada dengan menggunakan pita. 

Tentu saja menulis ini semua akan lebih mudah daripada melakukannya. Dan memang susah untuk mengharapkan anak-anak dapat langsung taat. Tetapi harapan kami adalah saat mereka membuat ini, mereka jadi teringat dan melakukannya :)
I will si kakak.