Sabtu, 17 September 2016

Mari Bermain dengan Telur dan Cuka

Eksperimen kali ini berhubungan dengan telur. Awalnya pelajaran kakak adalah tentang hewan yang berasal dari telur. Lalu kakak diminta untuk menetaskan telur. Tetapi resikonya adalah kami akan memiliki anak ayam. Berhubung mamanya tidak mau mempunyai anak ayam, maka mamanya mulai mencari aktivitas lain yang berhubungan dengan telur. Untuk proses dari telur menjadi ayam kan bisa didapatkan dari youtube (bersyukurnya saya dengan kemajuan zaman sekarang).
Akhirnya kami mencoba eksperimen antara telur dan cuka. Tujuannya adalah agar anak-anak belajar mengamati apa sih yang terjadi jika telur bertemu dengan cuka.

Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Telor ayam yang masih mentah, saya cari yang ukuran sedang. 
2. Cuka masak. 
3. Botol kaca, saya pakai botol bekas selai. 
Atas: Bahan-bahan yang dipakai. Bawah: Saat telur dimasukkan ke dalam larutan cuka.
Prosesnya gampang kok, mom. Tinggal masukan telur ke dalam botol kaca, lalu tuang cuka sampai telur terendam cuka.  Kalau kemarin saya menggunakan 1 botol cuka. Setelah itu, tutuplah botol tersebut. Hal yang dilakukan hanyalah mengamati telur tersebut dalam 2 x 24 jam (tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya telur itu baru saya keluarkan setelah 3 x 24 jam). Dan ternyata bukan cuma anak-anak yang semangat melihat telur, tetapi oma opanya juga =)) 
Apa saja sih hasil pengamatan anak-anak? 

Day 0:
Saat dimasukkan, muncul gelembung-gelembung di sekitar telur. Beberapa jam kemudian, di bagian permukaan timbul warna coklat. Dari manakah itu? Warna coklat itu timbul dari warna coklat pada telur. Kalau kata opa, ternyata warna coklat pada kulit telur bisa luntur. 
Kiri: Muncul gelembung-gelembung di sekitar telur. Kanan: warna cokelat muncul dari warna kulit telur.
Day 1: 
Setelah lewat 24 jam pertama, telur yang tadi dimasukkan  semakin membesar. Dan warnanya mulai pudar. Bagaimana dengan gelembungnya? Gelembung-gelembungnya masih ada di sekitar telur, tetapi tidak sebanyak kemarin. 
Kiri: hari ke 1. Kanan: Hari ke 3.
Day 2: 
Warna telur menjadi putih dan Gelembung-gelembungnya masih ada sedikit. Ukuran telur tetap besar, tidak berkurang. (lalu karena kami pergi seharian dan kami lupa mengeluarkan telur dari cuka). 
Kiri: saat pertama kali dimasukkan. Kanan: setelah 3 hari.
Day 3:
Di hari ketiga, tidak ada gelembung pada telur. Tetapi saat botolnya dibuka, Duo Lynns segera kabur. Bau cukanya sangat menyengat. Tugas mengeluarkan telur pun menjadi tugas mamanya. Apakah yang terjadi? 
Atas: sebelah kiri adalah telur yang direndam cuka (kulit telur menghilang), sebelah kanan adalah telur yang masih utuh.
Bawah: Telur yang direndam cuka kulitnya hilang dan tampak kenyal.
Kulit telur menjadi hilang, dan telur menjadi kenyal. Dan jika kita sorot dengan senter, akan terlihat kuning telurnya. Adik iseng memencet telur tersebut (diiringi dengan teriakan mamanya, takut pecah). Walau lembek, ternyata tidak gampang pecah loh. Menarik bukan? 

Si papa pun bertanya apa yang akan terjadi jika dibelah? Akankah menjadi telur busuk atau masih seperti telur biasa? Ternyata setelah dibelah, dalamnya adalah seperti berikut. 
Atas: Telurnya ternyata jadi matang ya. Bawah: Pose norak bahagia Duo Lynns.
Seperti telur setengah matang bukan? Sayangnya tidak mungkin dimakan, karena sudah bau cuka. Saya jadi berpikir mungkin kalau direndam lagi satu atau dua hari lagi, sudah jadi telur matang. 

Bagi anak-anak, aktivitas ini membuat mereka belajar beberapa hal. 
1. Jika kulit telur direndam dalam cuka, akan timbul gelembung. Tidak demikian saat direndam air. 
2. Kulit telur akan terkikis jika direndam dalam cuka dalam jangka waktu yang lama. 
3. Cuka membantu proses pematangan telur. 
4. Telur yang direndam cuka lama kelamaan akan membesar.
5. Saat disinari dengan senter, maka akan terlihat jelas isi di dalamnya (karena kulitnya sudah hilang), bahkan bisa tembus cahaya.

Bagaimana dengan penjelasan ilmiahnya? Untuk anak kecil, cukuplah dibuat supaya dia tertarik dengan science dan tidak norak dengan yang namanya percobaan (walau pasti kalau ada yang baru tetap norak:D), Sedangkan untuk orang tua, berikut saya lampirkan sedikit informasi tambahan untuk orang tuanya, dalam bahasa yang sederhana, dan tidak perlu dijelaskan kepada anak-anak, kecuali anaknya sudah belajar kimia, hehehe. 

1. Kenapa ada gelembung? Gelembung yang muncul di kulit telur saat masuk ke dalam larutan cuka adalah karbon dioksida (CO2). Cuka yang biasa dijual di pasaran biasanya campuran dari 4% asam asetat dan 96% air. Sedangkan kulit telur mengandung kalsium karbonat. Jika kalsium karbonat bereaksi dengan asam asetat, maka akan terbentuk kalsium asetat plus air plus karbon dioksida. Karbon dioksida-nya berbentuk gelembung disekitar kulit telur tersebut. 
2. Kenapa telur dapat tampak tembus cahaya saat disinari senter? Padahal jika kita sinari telur biasa tidak akan mungkin terjadi hal yang sama. Jawabannya adalah karena kulit telurnya sudah hilang, habis bereaksi dengan asam asetat atau cuka yang ada. Lapisan yang tersisa adalah membran semipermeable.
3. Kenapa telur jadi membesar? Saat kulit telurnya mulai terkikis, maka cuka masak (yang 96% adalah air tadi) akan masuk melalui membran telur dengan tujuan untuk menyamakan konsentrasi air di kedua sisi membran (di luar membran konsentrasinya lebih encer dan di dalam membran lebih pekat). Proses mengalirnya air melalui membran semipermeable disebut osmosis.
4. Kenapa telurnya jadi setengah matang? Ternyata cuka membantu mengentalkan protein di dalam putih telur. Inilah alasan kenapa orang-orang yang mau membuat poached egg meneteskan cuka dalam air. (note: poached egg adalah telur ceplok yang dimasak dengan sedikit air atau sebagian orang menyebutnya telur ceplok rebus).

Apakah setelah percobaan anak-anak langsung mengerti konsep kimianya? Belum tentu. Tetapi melihat telur dengan cara yang lain merupakan hal yang menyenangkan bagi mereka. Hmm....jadi kepingin mencoba kalau airnya berwarna. Apakah hasilnya akan sama seperti percobaan ini ya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar