Tampilkan postingan dengan label activity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label activity. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juli 2016

Cooking Time: Fish Bite

Fish Bite
Duo Lynns suka sekali yang namanya makan ikan. Kalau makan sama ikan, ups pakai ikan goreng, makannya bisa cepat sekali, apalagi kalau sayurnya pare. Rasanya bahagia sekali melihat anak-anak makan. Nah, dalam rangka mengurangi jumlah craft di rumah, tempat penyimpanan sudah penuh, Minggu lalu kami membuat salah satu makanan kesukaan kami. Kenapa memasak pun dijadikan aktivitas? Supaya mereka terbiasa dengan yang namanya dapur. Dan makanan yang dimasak di rumah pastinya lebih sehat daripada jajan di luar (plus lebih irit). Apalagi kalau anak-anak ikut serta dalam proses pembuatan makanan, pasti mereka jadi tambah semangat untuk makan.

Fish bite ini sangat mudah dibuat. Tentu saja bagian goreng menggoreng dilakukan oleh orang dewasa, bukan anak-anak. 
Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Ikan (bentuk fillet), biasanya saya pakai ikan dori. 
2. Telor
3. Tepung roti. Karena tepung roti sudah sedikit, jadi dicampur sedikit tepung beras supaya renyah.  Jika ingin lebih sehat, bisa juga dengan menggunakan oatmeal yang dihaluskan. Letakkan di wadah Lock n Lock atau plastik transparan atau ziplock yang besar. 
5. Minyak untuk menggoreng
6. Garam secukupnya.

Ikan dan tepung roti yang dicampur tepung beras
Langkah-langkahnya:
1. Potong fillet ikan sesuai dengan yang diinginkan. Idealnya sih potong dadu. Tapi kemarin saya memotongnya sedikit lebih besar.
2. Lumuri ikan dengan garam. Jika suka, boleh ditambah lada sedikit ataupun Italian seasoning (buat orang-orang yang senang ikannya ada wangi-wangi sedikit). Biarkan selama kurang lebih 15 menit. Lebih juga boleh.
3. Kocok telur di wadah terpisah, kemudian tuang ke atas ikan dan aduk pelan-pelan dengan tangan.
4. Masukkan ikan satu per satu ke wadah yang berisi tepung, jangan terlalu penuh.
5. Tutup wadah tersebut. Kemudian kocok wadah tersebut sampai seluruh ikan terbalut tepung. Ini adalah proses penepungan pertama
6. Keluarkan ikan yang sudah terbalut tepung, lalu baluri dengan telur lagi. Kemudian masukkan ke wadah berisi tepung dan tutup. Kemudian tutup wadah tersebut dan kocok lagi wadah tersebut. Ini adalah proses penepungan kedua.
7. Sesudah itu keluarkan ikan dari wadah, pindahkan ke piring atau nampan yang kering.
8. Ulangi langkah 4 sampai dengan 7 sampai semua ikan sudah terbalut tepung.
9. Goreng sampai kuning kecoklatan.

Bagian terserunya adalah saat anak-anak mengocok ikan yang sudah diletakkan dalam wadah. Biasanya kakak dan adik akan rebutan untuk mengocok, dan saat mengocok, anaknya sibuk lompat walau ikannya belum terbalut tepung. Dan karena anak-anak biasanya suka sentuh sana sentuh sini, saat melakukan aktivitas ini tangannya saya bungkus dengan sarung tangan. Jadi mamanya tidak senewen dengan tangan kecil yang terkena daging mentah ini. Hampir semua proses dilakukan oleh anak-anak, kecuali bagian menggoreng dan bagian memotong ikan.

Karena kemarin tepung roti cuma sedikit, maka sebagian diberi tepung sampai dua kali (gambar yang diatas), dan sebagian hanya ditepungi satu kali. Kalau punya seasoning lainnya, bisa juga diberikan di tepung roti, supaya lebih wangi. Saat makan, kalau ada saosnya pasti akan lebih enak. Kalau ada tartar sauce atau mayonaise atau lemon, boleh juga digunakan. Kalau tidak ada, ya bisa pakai saos sambal seperti Opa. Sedang untuk Duo Lynns, saos tomat adalah teman yang pas untuk fish bite ini :)  

Fish bite dengan satu kali proses penepungan.

Selasa, 21 Juni 2016

Activity: Membuat Pattern dari Kertas Kado


Pattern
Punya banyak kertas kado sisa? Lalu bingung mau dibuang tapi kok ya sayang. Jangan takut, saya juga begitu kok. Kertas kado sisa biasanya saya jadikan hiasan dari kado yang akan dikasi. Tetapi dua minggu lalu kami akhirnya menggunakannya untuk membuat craft yang menarik sekaligus mengajarkan pattern kepada adik. 

Caranya mudah sekali loh. Bahan yang diperlukan adalah:
1. Beberapa kertas kado bermotif (saya pakai tiga, karena cuma ada tiga di rumah) yang dipotong berbentuk persegi. Kurang lebih ukurannya 2 cm x 2 cm. Kalau saya males repot-repot mengukur, jadinya mengikuti lebar penggaris saja. Letakkan di wadah terpisah.
2. Kertas putih sebagai alasnya, bisa juga kertas berwarna. 
3. Lem kertas.

Bahan yang diperlukan
Caranya adalah sebagai berikut.
1. Letakkan salah satu kertas kado yang sudah dipotong di tengah-tengah. Katakanlah motif 1. 
2. Lalu disekitarnya, letakkan kertas kado motif 2 membentuk tanda tambah (seperti pada gambar).
3. Letakkan kertas kado motif 3 di sekeliling motif 2.
4. Letakkan kembali kertas kado motif 1. Ulangi sampai tidak ada tempat lagi di kertasnya atau motif tertentu sudah habis.

Atas: kertas kado motif 1 dan kertas kado motif 2. Bawah: kertas kado motif 3 dan selanjutnya.
Tujuannya apa sih buat ini? Pertama memang untuk hiasan, bisa juga dipakai untuk hiasan saat anak-anak membuat kartu ulang tahun. Kedua, anak belajar untuk mengenal pola dengan cara menyenangkan. Malah kalau kertasnya besar, bisa buat empat atau lima motif. Bahkan kakak kemarin bilang nanti mau buat lagi tetapi membentuk diamond. Boleh juga idenya :)


Senin, 06 Juni 2016

Popsicle Time


Apa sih popsicle? Popsicle itu seperti es loli. Saya pertama kali mendengar kata popsicle itu waktu hamil kakak dan baca buku What To Expect. Di situ tertulis popsicle adalah salah satu makanan yang disarankan untuk dimakan saat menunggu waktu melahirkan, karena manis dan menambah tenaga.

Suatu saat, saat komunitas homeschool kami kumpul pas natal, teman kami membuat popsicle untuk anak-anak. Duo Lynns, yang sudah belajar teori cara membuat popsicle dari Oso the Bear, tertarik dan senang makan popsicle-nya. Di rumah mereka minta untuk buat. Tetapi saya belum beli tempatnya.

Akhirnya pas liburan lebaran, bayangkanlah berapa lamanya itu, kami jalan-jalan ke IKEA Alam Sutra. Akhirnya kami membeli tempat untuk popsicle. Tapi setiap mau buat, mamanya males. Bukan apa-apa, saya males ngeluarin blender dan perabotan lainnya dan setelah itu mencucinya lagi. Akhirnya setelah beberapa lama, dan setelah si kakak mewawancarai teman saya mengenai cara membuat popsicle yang ada blueberry-nya, terwujudlah popsicle ini. Bahkan sempat dua kali membuat dalam jangka waktu 2 minggu.

Yang pertama adalah Popsicle yoghurt with papaya. Apa saja sih isinya?
1. Yoghurt, yang ada di rumah saat itu adalah yoghurt apricot.
2. Pepaya, potong agak kecil
3. Madu sedikit, sebagai tambahan supaya tidak terlalu asem. (Kakak asem mania, sedang adik tidak begitu doyan asem)

Cara membuatnya mudah kok.
- Blender semua jadi satu, kayak buat smoothies. (biasanya dulu membuat smoothies atau milk shake adalah aktivitas anak-anak saat masih lebih kecil).
- Setelah itu tuangkan ke dalam wadahnya.
- Isilah dibawah batas yang diberikan, supaya saat membeku, popsicle-nya tidak luber.

Setelah dituang, ternyata ada sisa (dan ini yang ditunggu-tunggu kakak). Jadi sisanya dimakan seperti smoothie. Hasil yang sudah dituang ke wadah adalah popsicle yang di sebelah kanan. Oya, untuk membuka popsicle dari wadahnya agak susah. Jadi kami menyiram bagian luarnya dengan sedikit air, supaya bagian dalamnya jadi tidak lengket dan bisa dibuka.

Dua minggu kemudian, kami membuat kembali popsicle versi mama males:D Kali ini yang kami buat adalah purplish popsicle. Bahannya adalah:
1. Buah naga merah sebanyak satu buah, potong agak kecil
2. Pisang yang sudah matang sebanyak dua buah, potong-potong
3. Jeruk manis sebanyak satu buah, peras dan ambil sarinya

Langkah-langkahnya:
1. Campurkan buah naga dan pisang yang sudah dipotong-potong ke dalam baskom atau wadah cekung, lalu hancurkan lumat buah-buah tersebut dengan penghancur kentang sampai halus.(kan saya sudah bilang versi males, supaya tidak repot cuci blender :D)
2. Masukkan sari jeruk, lalu aduk rata.
3. Tuang ke wadah sampai dibawah batas yang diberikan.
Sama seperti kemarin, sisanya dimakan begitu saja. Kakak sih senang-senang saja, adik malah minta pisang yang utuh dan buah naga yang utuh :P Hasil yang sudah beku adalah popsicle yang di sebelah kiri.
Atas: Tempat popsicle IKEA, Bawah: Potato Masher
Mudah sekali bukan? Pasti semua orang bisa dong buatnya? Ya iyalah. Tetapi dari urusan sesederhana ini, yang rasanya kok rada malu-maluin kalau diceritakan kepada banyak orang, bukan prestasi yang besar gituloh, banyak yang dapat dipelajari anak-anak. Yang pertama, mereka belajar mengoperasikan blender secara benar dan aman. Semua orang pasti bisa, tetapi mengoperasikan secara benar dan aman itu kan penting (buat saya).

Yang kedua, saat mereka menghaluskan buah-buahan, mereka belajar koordinasi antara tenaga dan tangan. Anak kecil biasanya akan semangat untuk urusan menghancurkan sesuatu, tetapi mereka harus mengendalikan tenaga mereka sehingga buah-buahan ini tidak muncrat kemana-mana.

Yang ketiga, saat mereka memeras jeruk, mereka melatih tangan dan jari mereka. Kalau jeruk peras yang kulitnya tipis kan memang mudah untuk diperas. Kalau yang kulit tebal, melatih emosi mereka juga loh karena susah diperas :D

Yang keempat, melatih kesabaran mereka. Namanya membuat sesuatu kan harus sabar. Dan jika si anak menumpahkan sesuatu, ini juga melatih kesabaran orang tuanya :P

Yang kelima, mereka belajar bahwa saat berurusan dengan makanan, tangan mereka harus dalam keadaan bersih. Dan setelah itu, mereka belajar untuk membersihkan kembali peralatan yang mereka gunakan (makanya saya tidak menggunakan blender lagi, kalau blender anak-anak belum diijinkan mencucinya) dan juga area yang mereka gunakan.

Bagaimana dengan rasa dari popsiclenya? Si kecil lebih suka yang purple, karena lebih manis walau tanpa madu. Kalau kakak? Dua-duanya enak :)




Senin, 30 Mei 2016

Activity: Skippy Clown Head

Skippy Clown Head
Banyak yang berkata janji yang belum dipenuhi adalah hutang. Dan saya sependapat. Apalagi janji pada anak kecil. Mereka akan selalu mengingat, dan pasti suatu saat akan menagih janji tersebut. Oleh sebab itu, sebelum mengiyakan atau menjanjikan sesuatu, pikirkan dahulu apakah kita mampu menyanggupinya.

Dua bulan yang lalu, saat kakak lagi buat roti untuk sarapannya, terjadilah percakapan antara saya dan kakak. 
Kakak: "Mama, peanut butter sudah mau habis. Nanti tutupnya jangan dibuang ya." 
Saya: "Kenapa jangan dibuang?" 
Kakak: "Tutupnya dicuci, lalu di-paint pake creme paint, kasi mata, hidung, mulut, rambut. Jadi muka." 
Saya: "Pakai apa? 
Kakak: Pake marker dong mama, rambutnya pakai kokoru." 
Saya: "Ok." (sambil ngebatin anak ini ada aja idenya)
Kakak: "Ingat ya, mama. Mama kan sudah berjanji." 

Setiap hari, selama sebulan, akan ada anak kecil,  seperti radio rusak, bertanya tentang skippy. Kan mama sudah berjanji (dengan logat wong londo), katanya. Akhirnya setelah mengumpulkan tutup botol Skippy, bulan lalu kami merealisasikan percakapan kami sebulan sebelumnya. 

Bahan-bahan yang kami pakai:
1. Tutup botol peanut butter Skippy. 
2. Sepasang mata, bisa dari kertas, bisa dari mata-mataan.
3. Pompom untuk hidung dan mulut. 
4. Cat warna creme (putih campur coklat juga boleh). 
5. Lem yang kuat, saya pakai lem fox. Lem merk rajawali juga boleh.
6. Kertas kokoru untuk rambut.
7. Spidol warna merah dan biru (hitam atau coklat juga boleh kok).

Bahan yang diperlukan
Sebetulnya bisa saja kertas kokoru diganti dengan pompom warna-warni untuk bagian rambutnya. Tetapi karena dulu sudah pernah membuat muka badut dengan pompom untuk rambutnya, maka kakak maunya pakai kokoru. 

Untuk membuatnya, saya membagi prosesnya menjadi dua hari. Hari pertama adalah mengecat tutup botolnya dan menunggunya kering. Keesokannya, barulah kami menempel mata, hidung, mulut, dan rambutnya. 
Clown face yang masih plontos, atas: kreasi kakak, bawah: kreasi adik. 
Setelah bangun tidur siang, supaya lemnya pasti sudah kering, Duo Lynns baru menggambar bulu mata dan blush di pipi. Biar lebih manis katanya. Dan jadilah muka badut yang manis. 
I keep my words, sweetheart :) 

Kamis, 28 April 2016

Kamera untuk si Kecil

Masih dalam rangka menggunakan barang-barang bekas, tutup botol yang dikumpulkan si opa untuk buat mobil, tiba-tiba saya kembali teringat aktivitas yang pernah dibuat kakak saat ia berumur 4 tahun. Berhubung sudah pernah dibuat oleh anak-anak dan cukup seru, maka jadi tertarik untuk menulis tentang craft yang dibuat anak-anak. 

Diawali saat anak-anak menonton Mr. Maker, kakak berkata kalau dia mau buat kamera. Pakai cup untuk kue mama, kata kakak. Akhirnya disepakati besok dapat membuat kamera jika kakak belajarnya cepat. Dan pastilah cepat, wong materi anak umur 4 tahun masih gampang banget. Mamanya memutar otak untuk mencari barang-barang yang dapat digunakan, yang ada di rumah. Maka dikumpulkanlah barang-barang berikut.
1. Kertas HVS putih
2. Kardus bekas (yang bentuknya seperti bentuk kamera)
3. Tutup botol
4. Cup aluminium untuk buat kue (berhubung nyari yang kecil susah, jadi pakai yang agak besar).
5. Lem (saya pakai lem fox, bisa juga lem rajawali)

Atas: perlengkapan yang diperlukan. Bawah: kamera

Esoknya, setelah belajar, anak-anak langsung ambil posisi untuk membuat aktivitas yang ada. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Warnai kertas HVS putih tersebut sesuka hati si anak. Mau digambar atau apapun juga boleh kok.
2. Setelah selesai, gunakan kertas tersebut untuk melapisi kardus bekas.
3. Tempel tutup botol di bagian kanan atas, seperti tombol kamera.
4. Tempel cup aluminium di bagian depan seperti lensa kamera.

Atas: kamera tampak depan. Bawah: kamera tampak samping

Dan jadilah kamera yang diinginkan mereka. Kakak pun mengajak adik untuk selfie. Memang anak jaman sekarang, tahu saja istilah selfie. Akibat tante-tante dan om-nya pastinya, secara orang tuanya tidak suka selfie.

Nah, mudah bukan? Siapa bilang kreativitas harus mahal dan susah? Yang penting dapat dikerjakan oleh anak seusia mereka. Selamat mencoba :)


Senin, 25 April 2016

Yuk, Membuat Mobil dari Barang Bekas

Diawali dari beberapa minggu yang lalu (tepatnya bulan lalu), saat mamanya sedang makan, anak-anak menuju meja makan dan mencari mamanya. 
Kakak: " Mama, I want to make car for our activity."
Adik: "Yes, Mama. Dede mau juga buat mobil."

Mamanya lagi malas mikir, akibat kekenyangan. Mau pake apa ya buatnya. Lalu si kakak bilang, kayak waktu buat puppet dari box bekas aja. Jadi pakai kardus bekas, lalu pakai tutup botol untuk rodanya. Hm...boleh juga idenya. Lalu kami mulai mengumpulkan tutup botol (tepatnya tutup susu Ultra yang 1L). Sang opa pun yang mendengar semangat si cucu pun semangat mengumpulkan tutup botol (dan dilakukan sampai sekarang).

Untuk mengumpulkan sih dapat terlaksana dengan cepat. Tetapi.....pelaksanaan untuk membuatnya itu yang tertunda. Karena tertunda, maka anak-anak dapat ide untuk membuat aktivitas lain dari barang-barang bekas. Ya...mungkin bagi beberapa orang sih ide anak-anak ini tidak dapat dikatakan cemerlang dan super sekali. Tetapi buat saya, ide mereka membuat saya bahagia. Mereka bisa kreatif menggunakan bahan apapun di sekitar mereka dan mengolahnya. Sampai dengan tulisan ini dibuat, saya masih hutang janji untuk menyelesaikan aktifitas-aktifitas lainnya yang mereka inginkan.

Akhirnya minggu lalu, kami berhasil mengeksekusi, ups maksudnya berhasil membuat mobil yang diinginkan oleh mereka. Apa sih perlengkapan yang diperlukan? Yang kami gunakan adalah:
- karton bekas (yang tidak terlalu besar). Saya menggunakan karton bekas keju.
- Tutup botol bekas minuman. Saya menggunakan tutup bekas susu Ultra ukuran 1L
- Kertas untuk melapisi karton. 
- Lem untuk menempel

Awalnya, saya mau mereka mengecat kartonnya. Berhubung mamanya lagi malas dengan urusan cat, jadi saya hanya melapisi dengan kertas polos warna pink.
Perlengkapan yang diperlukan
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Lapisi kardus dengan kertas.
2. Biarkan anak menggambar jendela dan pintu pada mobil. Warnai jika mau.
3. Tempelkan 4 tutup botol sebagai roda, dan 1 tutup botol dibagian depan. Jadi lampu gitu deh.
4. Jadilah mobil dari barang bekas, simple untuk anak balita.

Sebisa mungkin, semua aktifitas di atas dilakukan oleh anak. Lynn A membuat jendela dan gambar hati. dan dia mau membuat a lovely caravan. Lynn B membuat jendela dengan teralis. Saat ditanya kok kayak jendela rumah, jawabnya biar nggak jatuh. Tapi adik tidak mau kasi lampu di depan mobil. Okelah.... Nah berikut hasil jadinya. Mudah untuk dibuat, bukan? (Kalau sampai ribet, pasti ide mamanya. Hehehe) 
Atas: Tampak depan. Bawah: Tampak samping.
Inti dari aktifitas ini adalah, biarkan anak berkreasi dengan barang yang ada. Kreatifitas tidak selalu mahal. Manfaatkan barang-barang di rumah. Selain mengembangkan imajinasi mereka, mereka pun menjadi percaya diri karena ide mereka ternyata dapat direalisasikan.