Tampilkan postingan dengan label children ministry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label children ministry. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2016

Disiplin Atau Hukuman?

Sumber foto: www.parenting.com

Masih seputar topik mendisiplin anak. Rasanya topik ini akan selalu menjadi bahan omongan dari zaman baheula sampai zaman yang akan datang. Hehehe. Saat membahas tentang disiplin, pasti kita akan ketemu dengan namanya konsekuensi atas disiplin itu. Nah, buntutnya pasti akan timbul pertanyaan sejauh manakah suatu konsekuensi yang ditanggung anak dikatakan hukuman dan sejauh manakah hal tersebut dikategorikan disiplin. Saya dan suami pun masih sering bingung dengan hal tersebut. Kami ingin membuat anak mengerti bahwa kami tidak mau menghukum mereka, tetapi kami mau mendisiplin mereka. Dan seringkali orang lain di rumah, karena latar belakang mereka saat kecil ataupun karena mereka dulunya menghukum anak-anak mereka, salah mengartikan apa yang kami lakukan. Akibatnya terkadang anak jadi punya persepsi yang salah.

Bagaimana dengan hukuman? Konsep dasar hukuman adalah membayar seseorang berdasarkan perbuatannya, dan biasanya selalu menyiratkan sesuatu yang bersifat fisik. Yang tidak bersifat fisik juga dapat dikategorikan sebagai hukuman (jika tidak ada kesepakatan dan dalam jangka waktu yang terlalu lama). Sering kali, tanpa disadari, kita menghukum anak atas perbuatannya. Misal, anak kita makannya lama. Lalu kita berkata kepada si anak: "Sekarang kamu berdiri dan pegang piring kamu sambil makan sambil makanan kamu habis." Atau bisa juga si anak makannya sambil jalan-jalan. Lalu si Ibu berkata, kalau kamu turun dari bangku, Ibu pukul pakai hanger. Atau ada lagi seorang Ibu yang dengan bangga bercerita pada saya kalau anaknya makannya cepat karena dulu kalau makan lebih dari 30 menit, makanan anaknya dibuang dan anak tidak akan dapat makanan sampai jam makan berikutnya. Di satu sisi contoh-contoh diatas terlihat sepertinya memberikan efek jera kepada si anak, dan si anak jadi makan cepat, tetapi sebetulnya ada suatu aktifitas yang bertujuan untuk menghukum anak, menurut saya ya.

Saya tahu sekali rasa sebal dan frustasi kalau punya anak yang makannya lama, si adik juga makannya tergantung mood, kadang cepat kadang lama. Rasanya seluruh waktu hanya tersita untuk si kecil ini. Tetapi mungkin karena saya waktu kecil lebih lama dari dia, jadi saya tidak pernah menghukum dia. Lebih tepatnya sedikit tricky dengan dia. Lalu, bagaimana caranya supaya makannya jauh lebih cepat? Saya juga bingung jawabnya. Dari saat anak-anak belajar makan, anak-anak biasa duduk di high chair dan makan sendiri. Saya menyuapi dia, dan di meja dia juga ada piring berisi makanan. Tetapi begitu besar, adik mulai berulah makannya. Biasanya sih adik akan duduk saat makan bersama. Makan sendiri, tapi ya gayanya dia. Tetapi begitu satu persatu selesai, dia akan mulai kabur juga. Ya mau tidak mau, akan ada panggilan untuk dia kembali duduk. Tetapi karena ada kesepakatan jika makan tidak habis, tidak dapat nonton film favorit mereka, ya kami hanya akan mengingatkan kesepakatan itu. Atau kalau dia kabur dari bangku, saya akan duduk bersama dia dan memegang dia sampai makannya habis. Kalau memang pas saya sedang sibuk banget, saya agak fleksibel, agak merem dulu kalau dia makannya lama dan sambil main. Entah ini disiplin atau tidak menurut orang lain, tetapi setidaknya bagi saya tidak ada bentuk hukuman fisik untuk si kecil.

Sebetulnya, apa sih perbedaan hukuman dan disiplin?
1. Hukuman bertujuan untuk menghukum si anak akibat suatu pelanggaran yang terjadi di masa lampau. Sedangkan disiplin bertujuan untuk mengkoreksi anak dan mendewasakannya sehingga di masa yang akan datang si anak tidak mengulanginya.
2. Hukuman muncul karena pelanggaran yang terjadi di masa yang lampau, biasanya setelah si anak berbuat, barulah si orang tua berkata kamu bla bla bla dan kemudian menghukumnya. Sedangkan karena disiplin bertujuan untuk mengkoreksi, maka dalam pendisiplinan ada yang namanya kesepakatan sebelum suatu pelanggaran terjadi. Jadi suatu tindakan pencegahan.
3. Dalam hukuman, seringkali rasa frustasi yang menjadi landasannya. Kita merasa frustasi kenapa anak kita tidak bisa dibilangi, dan terkadang, dalam bahasa yang agak lebay, kita merasa dikhianati oleh anak kita saat mereka melakukan pelanggaran. Sedangkan dalam disiplin, yang menjadi landasan adalah rasa sayang kita akan si anak sehingga kita concern akan sikapnya. Biasanya awalnya adalah rasa sayang dan concern kita akan sikap si anak, tapi setelah berbagai cara  kita lakukan, kita lama-lama frustasi. Saya juga kadang berpikir begitu kok, kalau sudah sampai titik ini, yang harus dilakukan adalah duduk manis, cari kopi, merenungkan kembali, dan berdoa supaya saya tidak lari dari landasan yang tepat. 
4. Karena terbentuk dari rasa frustasi dan hukumannya tidak pernah disepakati sebelumnya (atau disepakati tetapi terlalu bermain fisik), akibat dari hukuman adalah rasa insecure, dan takut. Karena takut, sebagian anak akan belajar untuk berbohong supaya tidak dihukum. Berbeda dengan disiplin, karena dasarnya adalah kasih dan sudah ada kesepakatan sebelumnya, jadi si anak tahu apa yang akan terjadi jika dia melakukan suatu pelanggaran, anak akan merasa aman. Walaupun saat mendisiplin akan ada drama sedikit, kan senjata utama anak kecil adalah air mata, tetapi karena mereka tahu konsekuensi dari apa yang mereka lakukan, maka jika mendapatkan konsekuensi dia tetap tahu orang tuanya sayang dia.

Pernah suatu kali seorang anak laki-laki berumur 5 tahun, katakanlah A, bermain dorong-dorongan dengan anak lain yang baru umur 3 tahun, katakanlah B, di depan saya dan ibu dari si B. Lalu mungkin dorongnya terlalu kuat, karena secara badan si B sama besarnya dengan si A, maka si A terjatuh. Lalu teman si A bilang si B memukul A sampai jatuh. B yang masih 3 tahun bingung saat ditanya oleh mamanya. Karena bingung, B berkata dia tidak memukul A. Si A ngotot berkata iya, dan berkata pasti B tidak mau bilang karena takut dimarahi mamanya. Akhirnya ibu dari si B bertanya lagi, dengan bahasa yang lain, dan si B baru mengakui kalau si B mendorong si A karena sedang bermain. Masalah terselesaikan dengan si B meminta maaaf dan memeluk si A. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah kata-kata si A yang mengatakan pasti tidak mau mengaku karena takut dimarahi. Bisa jadi di rumah seringkali si A dimarahi atau dihukum karena melakukan sesuatu. Bisa jadi juga dia tidak mengaku saat ditanya, atau mengaku tetapi membuat pembelaan diri yang sangat bagus. Jadi dengan pengalaman dia, dia berasumsi hal yang sama. Saat itu saya baru mengerti dengan baik hasil dari hukuman terhadap sisi emosi si anak.

Ada juga soal yang diberikan oleh teman saya yang ahli dalam hal ini kepada kami saat pelatihan guru sekolah minggu. Jika balita melakukan pelanggaran, kemudian orang tua tidak menghukum dengan memukul tetapi tidak mengijinkan si anak main gadget selama 6 bulan, apakah ini termasuk hukuman atau disiplin? Banyak yang menjawab disiplin, kan tidak memukul, dan membuat anak tidak tergantung gadget 6 bulan. Saya saat itu menjawab hukuman, namanya balita mana ngerti waktu enam bulan, tujuannya sudah kabur nanti. Ternyata jawabannya memang itu adalah hukuman. Jangka waktu yang terlalu lama tidak membuat anak menangkap esensi dari disiplin malah membuat anak merasa dihukum. Jika mau, berikan batasan waktu yang jelas.

Saya pernah membaca suatu artikel yang cukup membuat saya berpikir dan berpikir dan bertobat :D
Di artikel tersebut dikatakan bahwa dalam Alkitab, landasan hubungan kita dengan Tuhan adalah kasih karunia atau grace. Tuhan akan mengkoreksi kita, dan Tuhan bukanlah allah yang suka melihat kesalahan masa lampau. Oleh sebab itu, sangatlah tidak masuk akal jika hubungan kita dengan Tuhan berlandaskan kasih karunia dan hubungan kita dengan anak berdasarkan penghakiman.

Saat saya membacanya, saya berpikir bahwa tugas saya sebagai orang tua bukan untuk menghukumnya. Tugas saya adalah memberikan konsekuensi logis dan instruksi yang dapat menolong mereka mengerti bahwa apa yang mereka lakukan tidak menyukakan Tuhan dan juga orang tuanya. Selanjutnya mengajar mereka untuk mengerti apa yang Tuhan ingin mereka lakukan.

Indah sih pemahaman tersebut. Tetapi pelaksanaannya, jauh dari mudah. Dan namanya anak-anak, pasti akan mengulang lagi kekonyolan yang sama, yang bisa membuat kita meledak. Namanya juga manusia, bukan berarti kita tidak bisa marah, bukan? Dan bukan berarti karena kita tidak melakukan disiplin berdasarkan emosi maka kita tidak akan merasa marah. Nah, walau tujuan pendisiplinannya benar, tetapi saat kita menyampaikan ke anak dengan suara yang sudah naik dua oktaf, maka hal ini dapat membuat si anak bingung. Akibatnya yang ditangkap anak adalah emosinya.

Artikel tersebut juga menyarankan agar salah satu pihak menenangkan diri dengan cara masuk ke dalam kamar, atau si anak disuruh berpindah ke salah satu spot, untuk berpikir atau menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah tenang, baru orang tua mendisiplin si anak atau menjelaskan kenapa mereka didisiplin. Saya rasa masuk akal juga.

Jika ini terjadi pada saya, seringkali saya ajak anak ke kamar untuk berbicara, otomatis sambil berjalan saya mengambil waktu untuk menenangkan hati sambil berdoa supaya saya bisa menyampaikan segala sesuatunya dengan tenang. Terkadang saya juga mengatakan bahwa saya sungguh sedih atau marah atas apa yang diperbuatnya dan pastilah Tuhan lebih sedih karena Tuhan ingin kita untuk melakukan yang menyenangkan hatiNya. Dan saya akan mencoba menjelaskan apa yang dapat dia lakukan untuk tidak mengulanginya. Dan setelah itu saya akan bertanya lagi kepada dia kenapa saya mendisiplin dia. Tujuannya jelas, supaya dia mengerti kenapa saya mendisiplin dia. Namanya anak-anak, terkadang saat diajak ngomong suka mikirin yang lain. Kalau dia belum ngerti, kadang saya jelaskan lagi. Percayalah, terkadang saat saya menjelaskan ulang kepada anak-anak, saya pun menahan diri saya untuk tidak menaikkan suara.

Sebagai penutup, Amsal 22:15 mengatakan "kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya". Bagi saya, kata tongkat didikan berarti disiplin itu sendiri. Jadi memang tujuan pendisiplinan adalah untuk mendidik. Kalau mendidik, berarti kita mengharapkan hasilnya bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga di masa yang akan datang. Dengan demikian, disiplin berarti memberikan konsekuensi logis yang mendorong anak untuk membuat pilihan yang lebih baik di masa yang akan datang. Pertanyaan yang akan timbul bagi kita orang tua adalah apakah kita juga dapat untuk mengendalikan diri kita sehingga dalam proses pendisiplinan anak-anak kita bukannya emosi dan hukuman yang keluar dari tindakan kita, melainkan kasih? Kalau sendiri, pasti tidak bisa. Tapi bersama Tuhan, kita pasti bisa.


Rabu, 29 Juni 2016

Bagaimana Cara Mendisiplin Anak?

Sumber foto: focusonthefamily.com
Bahasan mendisiplin anak selalu menjadi topik yang dicari banyak orang tua. Displin bagi beberapa orang terdengar tidak enak karena berarti saat mendisiplin akan ada situasi yang tidak menyenangkan. Terkadang kita dihadapkan pada situasi yang berat antara mendisiplin dan rasa tidak tega untuk mendisiplin. Bahkan terkadang pula keengganan untuk mendisiplin muncul karena rasa cuek kita terhadap anak atau bahkan karena rasa bersalah kita karena kita jarang meluangkan waktu dengan anak-anak. Jadinya tidak enak hati untuk mendisiplin. Bahkan terkadang salah kaprahnya, beberapa orang tua merasa sekolah dan bahkan gereja bertanggung jawab mendisiplin anak dan juga menanamkan nilai-nilai yang baik.   

Mendisiplin anak merupakan salah satu bagian yang penting dalam parenting. Tuhan memberikan tanggungjawab pada setiap orang tua untuk membesarkan anaknya, yang berarti juga untuk mendisiplin dan mendidik anak-anaknya. Ada begitu banyak pendapat mengenai cara yang baik untuk mendisiplin. Saat saya menjadi 'orang tua' secara tidak langsung, saya dihadapkan kepada banyak pilihan untuk mendisiplin. Artikel satu dan yang lainnya seakan bagus tetapi belum tentu dapat diterapkan. Tetapi satu hal yang pasti buat saya, saat ingin mendisiplin, ikutilah firman Tuhan dan rancangan Tuhan untuk membentuk keluarga yang ilahi dan menanamkan nilai-nilai, karakter yang diinginkan.

Saya pernah membaca suatu artikel di focusonthefamily.com mengenai disiplin yang biblikal, yang diambil dari Ibrani 12: 4 - 11. Saya mencoba menuliskan lima karakteristik disiplin yang biblikal tersebut. Bagi yang ingin membaca lima karakteristik tersebut dalam versi aslinya dan dalam pemaparan yang lebih mendalam, silakan klik link di atas ya.

1. Kebutuhan disiplin: untuk mencegah kerusakan. 
Pernah mendengar ilustrasi tentang memberikan kunci mobil kepada si anak dan membiarkannya mengendarai sesuai maunya? Jika si anak mengambil rute yang salah dan kita tahu rute yang salah itu akan memimpin dia menuju jurang, apa yang akan kita lakukan? Pasti kita akan mengambil tindakan untuk mencegah si anak jatuh ke dalam jurang. (Tidak mungkin setelah jatuh, kita baru berkata: "Nak, jalan yang kamu ambil itu salah. Tetapi kami membiarkanmu memilih supaya kamu belajar") Awalnya si anak akan marah untuk sementara, tetapi setelah 10 tahun ke depan dia akan berterimakasih. Disiplin dapat diibaratkan seperti kisah diatas. Untuk mencegah bahaya, terkadang tindakan untuk mendisiplin anak harus dilakukan. Disiplin dapat dianggap sebagai cara kita melihat arah yang akan diambil oleh anak kita  Setiap disiplin menghasilkan reward di hari yang akan datang.

Banyak orang tua tidak mau mendisiplin atau menetapkan aturan tertentu karena takut untuk membuat anaknya marah. Atau dapat dikatakan tidak mau ada konflik dengan anak. Padahal, disiplin, bahkan disiplin yang menyakitkan, sesungguhnya merupakan ekspresi dari kasih. Displin selalu demi kebaikan si anak. Walau kita tidak ingin mengecewakan anak, tidak mau melihat anak menangis, tetapi tidak mengkompromikan disiplin dengan rasa takut tidak disayangi anak saat ini akan jauh lebih baik daripada menyesal dikemudian hari. 


2. Cara disiplin: Tindakan dan Kata-kata

Ada dua kata Ibrani yang digunakan saat menjelaskan tentang mendisiplin, yaitu yasar (disiplin), yang melibatkan tindakan Tuhan; dan yakach (teguran), yang mengacu pada firman Tuhan. Yasar mengacu pada tindakan pendisiplinan, dan yakach mengacu kepada kata-kata untuk mengkoreksi. Sebagai orang tua, seharusnya demikian cara kita mendisiplin anak. Kita membawa kata-kata dan tindakan, peringatan dan konsekuensi, ke dalam situasi anak kita dengan tujuan untuk menjaga mereka dalam track yang seharusnya. 

3. Motivasi saat mendisiplin: Untuk mengekspresikan kasih. 

Saat anak-anak yang dikategorikan sebagai anak bermasalah dan nakal ditanya mengenai perasaan orang tua mereka kepada mereka, sebagai bagian dari riset, hampir semuanya menjawab bahwa kurangnya disiplin dalam rumah mereka adalah tanda bahwa orang tua mereka tidak mengasihi mereka. Kita terkadang berpikir bahwa kita mengekspresikan kasih saat kita berulang kali mengatakan, "Saya berikan kamu kesempatan lagi." Tetapi sesungguhnya, apa yang kita lakukan itu dapat dikategorikan sebagai pengabaian. Kita mengabaikan untuk membuat batasan-batasan yang membuat anak-anak kita tahu bahwa mereka berada di safety zone (zona aman), dimana mereka dapat merasa secure atau aman. Salah satu cara menyatakan kasih sayang kita saat mendisiplin anak adalah dengan konsistensi. Anak akan merasa aman jika proses pendisiplinan kita kepada anak dilakukan secara konsisten. 

4. Tujuan disiplin: untuk mengajarkan ketaatan. 

Saat kita mengajarkan anak-anak kita mengenai penundukan diri, berarti kita sedang mengajarkan mereka untuk melakukan hal yang benar untuk alasan yang benar. Kita mau mereka untuk mengerti lebih dari sekedar berkata saya harus, mereka mengerti bahwa mereka taat karena mereka mengasihi dan percaya. Pada awalnya mungkin kedisiplinan mereka hanya secara eksternal (tampak luar), tapi sesungguhnya lama-kelamaan akan menjadi sesuatu yang internal- yang terintegrasi ke dalam kepribadian, menjadi disiplin pribadi, bukan sekedar disiplin yang jaim (jaga image). Cara anda mengatur bagaimana mereka berbicara dan bertingkah laku terhadap orang haruslah menjadi bagian dari diri mereka, sehingga saat regulasi atau aturan-aturan tersebut dihilangkan, tingkah laku yang sopan itu ada. Dengan kata lain, karakter mereka pun terbentuk. 

5. Hasil disiplin: Sakit jangka pendek dan keuntungan jangka panjang. 

Alasan mengapa kita tidak suka mendisiplin anak-anak kita adalah karena disiplin melibatkan sakit jangka pendek. Kita simpati terhadap perasaan mereka, dan kita tidak pernah suka untuk menyakiti perasaan mereka. Disiplin, dalam bentuk apapun itu, pasti menghasilkan ketidaknyamanan bagi anak yang harus didisiplin. Tetapi di masa yang akan datang, dengan landasan disiplin yang benar, akan mendatangkan keuntungan di masa yang akan datang. Seperti peribahasa: berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian; yang artinya bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Nah, berdasarkan lima karakteristik tersebut, saya mencoba untuk menuangkan apa yang berputar di otak saya mengenai disiplin dan bagaimana cara mendisiplin anak. 

1. Disiplin dimulai seawal mungkin.
Banyak yang berkata anak kecil yang terlalu sering dilarang dan mendengar kata jangan atau no akan menjadi anak yang tidak kreatif. Kalau menurut saya, kata-kata tersebut asal digunakan pada tempatnya tidak akan mengurangi kreatifitas anak dan tidak membuat anak menjadi berantakan. Justru harus dari kecil diberi tahu mana yang baik dan yang tidak baik, supaya mereka mengerti konsepnya dari sejak mereka kecil. Kesalahkaprahan akan terjadi saat orang tua (atau oma opa) berkata tidak apa-apa, kan masih kecil. Ini dapat diartikan bahwa disiplin dapat dimulai saat anak-anak sudah besar (teng tong). 

Disiplin harus dimulai sedini mungkin, dan tentu saja cara pendisiplinan disesuaikan dengan umurnya. Memulai disiplin saat anak sudah umur 10 tahun berarti membiarkan terbentuknya habit atau kebiasaan yang tidak baik. Bahkan bayi dapat dengan cepat menjadi manipulator hebat bagi orang tuanya, atau bahkan bagi oma opanya. Cara kita merespon manipulasi anak kita dari sejak dia bayi akan menentukan hasil di masa yang akan datang. Semakin lama kita mendisiplin anak, semakin besar rintangan yang akan ada. Anak-anak harus belajar menaati orang tuanya sedini mungkin. Menaati dan menghormati haruslah menjadi satu bagian. Penting bagi anak untuk menaati orang tua (melakukan apa yang orang tua katakan). Tetapi dasar mereka melakukannya adalah karena mereka menghormati dan mengasihi orang tua mereka. Hal ini yang harus ditanamkan sedini mungkin. Kami sendiri mengajarkan ini melalui lagu anak-anak yang liriknya berkata children obey your parents in the Lord...honor your father and mother... Jadi mereka belajar untuk mengingat kebenaran itu. Walau adik pernah salah bernyanyi menjadi: parents, obey your children in the Lord dan langsung dibetulkan oleh papa.Entah salah nyanyi atau memang ada maksud tersendiri =))  

2. Jadilah orang tua yang kreatif dalam mencari cara untuk mendisiplin anak.
Respon setiap anak terhadap disiplin bisa berbeda-beda. Kakak dan adik saja bisa berbeda dalam hal merespon setiap koreksi. Bahkan mood ataupun kondisi tubuh yang tidak fit saja dapat mempengaruhi respon si anak saat mendapatkan koreksi ataupun disiplin. Hal ini dapat dipahami karena Tuhan menciptakan setiap anak secara unik. Oleh sebab itu, kita pun harus menjadi orang tua yang kreatif dalam mencari cara untuk mendisiplin anak. Dan jika kita sudah berusaha untuk mendisiplin tetapi tidak berhasil, bukan berarti bahwa kita bisa mengabaikan mereka. Tetapi harusnya kita bekerja lebih keras mencari cara yang berbeda untuk mendisiplin anak.

3. Diperlukan konsistensi dan kesepakatan saat mendisiplin.
Konsistensi adalah hal yang penting saat mendisiplin anak. Anak-anak sangat mengerti dan jago dalam mengamati orangtuanya. Apalagi bagi anak-anak yang juga tinggal bersama oma opanya. Anak-anak tahu dengan pasti siapa yang harus mereka lirik saat mereka menangis, mau sesuatu atau saat mereka sedang dalam disiplin. Sekali kita tidak konsisten, maka anak akan mengingat dan akan menarik kesimpulan bahwa mereka bisa bargaining atau menawar di masa yang akan datang. Konsistensi juga membuat anak tahu apakah ekspektasi atau harapan dari orang tua mereka saat mereka didisiplin. 
Selain konsistensi, kesepakatan antara ayah dan ibu merupakan hal yang penting. Jika ayah dan ibu tidak sepakat, maka ini akan menjadi boomerang bagi orangtuanya saat mendisiplin. Jika ternyata orang tua mau memberikan keringanan saat mendisiplin, maka harus pihak yang memberikan disiplin yang menyampaikan ke si anak. Jadi anak tahu bahwa orang tua mereka satu suara. 

4. Terkadang diperlukan 'tongkat koreksi'.
Pola parenting anak masa kini cenderung meniadakan tindakan fisik kepada anak. hal ini tidak sepenuhnya salah, tapi sebetulnya boleh tidak sih pukulan atau tindakan fisik? Saya pribadi masih menganut paham 'tongkat koreksi' terkadang diperlukan saat mendisiplin anak. Tetapi hendaknya tongkat koreksi ini diaplikasikan dalam kondisi-kondisi yang memang diperlukan. Jika si anak sudah melakukan hal yang sangat berbahaya, atau bahkan membahayakan orang lain, dan sudah diperingatkan tiga kali (atau sesuai kesepakatan dalam keluarga) tetapi diabaikan, maka tongkat koreksi diperlukan. Dan pastikan saat menggunakannya tidak dilandasi amarah, supaya anak menangkap tujuan penggunaan tongkat koreksi. Tetapi jika orang tua tidak dapat mengendalikan diri sendiri dan bahkan memukul anak secara bertubi-tubi, maka orang tua tersebut harus mengerti bahwa ia kekurangan disiplin terhadap diri sendiri, belum dapat mengendalikan diri, dan sebaiknya ia sendiri berdoa supaya Tuhan mengubah orang tua ini sebelum ia menggunakan tongkat koreksi. Penggunaan tongkat koreksi pun harus secara konsisten. 

Saat saya mengurus keponakan saya, teman baik saya -yang sudah seperti kakak saya sendiri- mengatakan bahwa jika harus mendisiplin anak, sebaiknya menggunakan alat dan bukan tangan kita. Tujuannya agar anak tahu bahwa tangan yang biasa mengelus dia, yang menjadi alat untuk menunjukkan kasih dan kelembutan, bukanlah alat pemukul. Saat kakak lahir, kami mencoba menerapkan hal tersebut. Kami menggunakan sendok kayu khusus dan kami letakkan di tempat yang tepat. Saat kami terpaksa harus mendisiplin anak-anak dengan sendok kayu, kami tenangkan hati kami, supaya bukan emosi yang sampai kepada dia tetapi tujuan dan alasan pendisiplinan. Bahkan setelah tongkat koreksi diberikan, kami mencoba untuk berbicara lagi kepada mereka mengapa kami harus menggunakan sendok kayu. Tidak mudah juga loh terkadang.

Saya sendiri waktu kecil jarang kena disiplin secara fisik. Tetapi ibu saya pernah berkata kepada kakak saya yang waktu kecil sering dipukul (ulahnya sangat luar biasa dan bisa menjawab saat diomeli), bahwa di Alkitab ada ayat-ayat yang terdapat di kitab Amsal yang dapat menjelaskan mengenai tongkat koreksi. Bagi teman-teman yang mau mengetahui secara lebih dalam, silakan dibuka ayat-ayat berikut: Amsal 13:24, Amsal 22:15, Amsal 23: 13-14, Amsal 29:15, dan Ibrani 12:11.

5. Tetaplah tenang dan kendalikan diri kita saat mendisiplin
Saat anak-anak berulah, pastilah emosi kita sampai ke ubun-ubun, bahkan terkadang sampai keluar kepala. Rasanya pasti ingin meluapkan emosi, apalagi bagi para mama-mama pasti mau nyerocos dari A sampai Z. Pada saat seperti itu, ingatlah bahwa kita mempunyai otoritas atas anak-anak dan otoritas yang kita miliki adalah otoritas yang diberikan oleh Tuhan. Karena diberikan dan ditetapkan oleh Tuhan, maka kita tidak perlu hilang kendali atau bahkan berteriak. Saya terkadang berpikir sebetulnya saat kita berteriak atau menaikkan suara kita karena kita frustasi ngomong tidak didengar oleh si anak (atau suara si anak lebih besar dari kita). Dan setelah kita naik suara, pasti kita juga yang capek kan. Sebetulnya mungkin yang harus kita lakukan hanyalah tenang dan sadar posisi kita. Saat kita sadar posisi kita, sebagai pemegang otoritas atas anak kita, maka kita hanya perlu menerima tanggung jawab untuk mendisiplin anak kita dan secara yakin menetapkan konsekuensi (yang sesuai kebutuhan dan umur) dari tindakan ketidaktaatan anak kita. 

6. Fokus kepada tujuan pendisiplinan, yaitu karakter ilahi.
Masih berhubungan dengan poin 5, salah satu cara untuk membuat kita tetap tenang dan dapat mengendalikan diri adalah kita berfokus pada tujuan pendisiplinan. Bagi sebagian orang, saat mereka emosi, mereka bisa memukul sampai bertubi-tubi. Sebetulnya ini bentuk frustasi mereka karena mereka sudah bingung mau melakukan apa lagi terhadap si anak. Saya bisa memahami, tidak membenarkan loh ya, kenapa mereka melakukan hal seperti itu. Apalagi jika mereka mengorbankan banyak hal untuk mengurus anak mereka. Tetapi jika kita berfokus pada tujuan pendisiplinan, yaitu karakter ilahi, pasti kita dapat memilih cara yang lebih tepat untuk mendisiplin anak. 

Kami selalu menjelaskan kepada anak-anak bahwa apapun yang terjadi kami mengasihi mereka, dan saat kami  mendisiplin adalah karena mereka perlu didisiplin dan kami mengasihi mereka. Tentunya tidak mudah, kadang mau menangis rasanya. Tetapi ya kasih karunia Tuhan cukup bagi kami. 

7. Perlunya teknis dalam mendisiplin anak.
Harus diakui, terkadang adanya juklak (petunjuk pelaksanaan) atau teknis itu mempermudah hidup kita untuk mendisiplin anak-anak kita. Hal-hal seperti ini tentunya merupakan kesepakatan antara si ayah dan si ibu. Kami di rumah menerapkan sistem kesepakatan dengan anak. Misal, jika mereka tidak tidur siang, maka mereka tidak dapat menonton film X (karena otomatis mereka harus tidur lebih awal). Nah, saat mereka tidak tidur siang, mereka tahu konsekuensinya tidak akan menonton film X. Mau mereka nangis, ngelirik oma opa, mereka tahu tetap tidak akan menonton film X. Hal ini dipermudah karena kami sudah membuat kesepakatan di awal, bukannya konsekuensi diketahui oleh anak sesudah mereka melakukan 'pelanggaran'. Dengan kata lain, aturan main diketahui kedua belah pihak sebelum segala sesuatu, seperti saat kita main game kan. 


Saat saya menulis artikel ini, saya menunda cukup lama karena rasanya berat untuk menuliskannya, setiap hal menjadi pedang bermata dua bagi saya. Tetapi akhirnya saya menulis karena disiplin itu sangat penting. Jangan takut untuk mendisiplin anak. Mendisiplin anak tidak berarti kita mencari celah untuk memukul anak setiap saat. Mendisiplin juga tidak berarti membuat anak tidak dapat bereksplorasi karena dibatasi kata tidak dan jangan. Disiplin itu merupakan suatu hal yang harus dilakukan sedini mungkin dan bukanlah hal yang tampak menyenangkan, karenan memulai konflik dengan anak sendiri. Tetapi hasilnya akan lebih menyenangkan, yaitu karakter ilahi.

Kami pun masih berjuang untuk mendisiplin anak-anak dan seringkali kami mau meledak dan berteriak. Tetapi sama seperti proses bagi anak-anak untuk didisiplin, ini merupakan proses bagi kami juga untuk mengedalikan diri kami:) Yang membuat kami tetap berjuang untuk mendisiplin anak-anak adalah tujuan kami agar anak-anak mempunyai karakter ilahi sehingga saat di masa yang akan datang anak-anak menjadi pribadi yang berkarakter dan berintegritas, yang berarti tetap melakukan segala hal yang baik bukan untuk dilihat orang tetapi karena mereka mengasihi Tuhan. Ingatlah tindakan kita saat ini akan membantu anak-anak kita memelajari bagaimana cara mereka nanti untuk hidup benar bagi lingkungannya. Anak-anak dapat tumbuh dengan karakter ilahi jika kita meluangkan waktu kita untuk menanamkan setiap disiplin ke dalam hidup mereka saat ini. Only by His grace, we can do that. 

Rabu, 15 Juni 2016

Tips Menangani Tantrum Pada Balita

Temper Tantrum, Sumber foto: huffingtonpost.com
Bagi setiap kita yang berhadapan dengan anak-anak kecil, rasanya kata tantrum sudah tidak asing lagi. Tantrum dapat didefiniskan sebagai luapan emosi atau amarah. Mendengar kata tantrum, rasanya konotasinya negatif. Tantrum setiap anak pun berbeda-beda. Ada yang levelnya masih ringan, menangis misalnya. Ada juga yang levelnya lumayan tinggi, seperti melempar barang ataupun memukul orang. 

Banyak orang tua, yang tidak mau mempunyai konflik dengan anak, membebaskan anak melakukan apapun yang mereka suka, supaya tidak tantrum. Apalagi kalau diluar rumah. Hal ini mungkin jadi win-win solution. Si anak tidak meledak, orang tua tidak repot dan dapat melakukan yang dia inginkan dan terkesan menjadi orang tua yang baik. Tetapi jika berlanjut, si anak bisa menjadi anak yang semaunya. 

Bagi sebagian orang tua, yang tetap memberikan batasan walau diluar rumah, terkadang mereka harus berurusan dengan yang namanya tantrum ini. Dan saat dilihat oleh orang lain di sekitarnya, sering kali orang lain akan berpikir wah orang tua ini terlalu banyak aturan, makanya anaknya sering rewel. Padahal orang luar ini belum tentu mengerti apa yang sedang terjadi antara orang tua dengan anaknya. Tetapi ada juga anak yang jarang diberi batasan tetapi mudah sekali untuk meledakkan emosinya.


Dengan kata lain, tidak ada standard mengapa si anak bisa tantrum. Saya pun masih belajar menghadapi tantrum, baik saat mengurus anak sendiri maupun saat sedang melayani di pelayanan anak. Maklum, bukan anak sendiri, jadi masih hati-hati supaya tidak menyinggung yang empunya anak.

Beberapa waktu lalu, saya membaca artikel yang cukup bagus, dalam bahasa Inggris, 12 Strategies for Toddler Temper Tantrums. Saya mencoba untuk menerjemahkannya, supaya dapat dibaca oleh banyak orang. Dan penulisnya memang tidak keberatan jika artikel ini diperbanyak, karena tujuannya untuk memberkati banyak orang. Berikut terjemahan bebas (banget) yang saya buat.
              ------------------------------------------------------------------------------------
Tantrum adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindari jika kita menghabiskan waktu dengan batita dan balita. Walaupun tantrum biasanya memuncak saat anak berumur 2 atau 3 tahun, balita juga memanipulasi tantrum untuk mendapatkan kendali atau kekuasaan dan mendeklarasikan kemandirian mereka. Saat anak-anak yang lebih besar tidak memelajari cara untuk mengendalikan amarah, tantrum juga dapat terjadi.

Temper tantrum (ledakan amarah) biasanya muncul sebagai output dari seorang anak yang merasa frustasi atas perubahan pada fisik, emosi, kognitif, ataupun sosial. Anak yang berumur 15 bulan dapat mempunyai tantrum karena dia lapar atau haus dan belum mampu untuk mengkomunikasikan apa yang dia butuhkan. Anak yang berumur 2 tahun dapat juga mempunyai respon seperti itu karena rutinitas yang biasa dilakukan telah dikompromikan. Anak yang berumur tiga atau empat tahun dapat mengalami tantrum karena keinginan mereka untuk mandiri bertentangan dengan kemampuan mereka untuk menyelesaikan suatu tugas. Anak ini sangat ingin berhasil tetapi kurangnya kemampuan dan atau kendali orang tua menjadi kendalanya. 

Dalam menghadapi tantrum pada balita, saya selalu merasa empati kepada anak dan orang tua. Emosi yang tidak dapat dikendalikan dapat begitu menakutkan dan berlebihan pada anak-anak. Sedangkan untuk orang dewasa, anak yang tantrum di tengah-tengah ibadah ataupun saat berbelanja dapat menimbulkan rasa malu. Beberapa orang tua akan cepat memberi respon pada anak-anaknya, sebagai cerminan dari kemampuan parenting-nya. Terkadang anggota keluarga dan orang-orang yang melihat keadaan ini membuat keadaan bertambah buruk dengan nimbrung dan men-judge berdasarkan rasa simpati. Rasanya tidak ada yang menang dalam kasus ini.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan sebagai orang tua saat kita mempunyai anak yang secara konsisten tantrum. Apa yang dapat kita lakukan sebagai pelayan anak saat menghadapi tantrum? Bagaimana kita dapat mencegahnya?

Dalam artikel ini, saya menyertakan beberapa strategi praktis untuk merespon tantrum. Bagaimanapun juga, dalam usaha untuk menyediakan informasi yang menyeluruh, ketahuilah bahwa di rumah kami pun masih berjuang menghadapi tantrum, tetapi kami memiliki kemajuan yang cukup baik dengan melakukan strategi-strategi berikut.

Strategi Praktis untuk Mencegah Ledakan Amarah (Temper Tantrum)
1. Pastikan bahwa setiap kebutuhan fisik si anak terpenuhi. Yang terkadang menjadi pemicu adalah rasa lapar atau haus, kurang tidur, dan atau rasa tidak nyaman dengan baju, sepatu, dan sebagainya.
2. Cegah tantrum dengan konsistensi, keteraturan, dan struktur. Anak-anak bertumbuh dalam rutinitas.
3. Sediakan dorongan yang konstan dan atensi yang postif. Terkadang tantrum disebabkan oleh rasa frustasi anak karena anak merasa kurangnya waktu kebersamaan.
4. Selalu persiapkan anak-anak untuk transisi secara verbal atau dengan tanda non-verbal. Buatlah transisi menjadi menyenangkan dengan lagu, permainan, dan permainan drama.
5. Berikan anak-anak pilihan, tapi jangan terlalu banyak sampai membingungkan, sekitar dua atau tiga supaya mereka mengalami perasaan mandiri dan mempunyai kendali juga.
6. Ajarkan mekanisme coping atau cara yang sehat untuk mengendalikan kemarahan seperti: merobek kertas, meremas koran, membuat karya seni, gerakan fisik, berdoa, mengungkapkan emosi secara verbal (berkata: saya marah), dan sebagainya.

Strategi Praktis untuk Merespon Tantrum
1. Tetaplah tenang dan temukan spot yang sepi untuk anak memroses emosinya.
2. Posisikan diri kita pada level anak-anak, dengan berjongkok atau duduk, agar anak tidak mengira kita adalah ancaman baginya. Berbicaralah dengan tenang.
3. Doronglah anak untuk menggunakan kata-kata atau bahasa isyarat untuk mengkomunikasikan frustasinya secara spesifik.
4. Akuilah perasaan atau emosi si anak. Kita dapat mengatakan: "Sepertinya kamu marah karena____ mengambil mainan. Kamu pasti senang bermain dengan mainan itu." 
5. Perjelas dan bedakanlah antara marah dan respon yang tidak seharusnya. Kita dapat mengatakan: "Ya, tidak apa kamu kesal. Tapi tidak baik untuk memukul teman dan berteriak."
6. Tetapkan konsekuensi atas tindakan mereka, tetapi sesuai dengan umurnya. Pastikan anak mengerti bahwa konsekuensi dari tindakan mereka tersebut didasari anugerah dan rasa sayang kita. Berdoalah dengan anak tersebut.
Diatas segalanya, responlah dengan kasih yang tidak bersyarat yang telah dicontohkan Yesus dengan begitu indahnya. Kita tidak mempunyai contoh yang lebih besar selain Dia.
              ------------------------------------------------------------------------------------
Saat saya membaca artikel tersebut, saya merasa diingatkan kembali. Terkadang saat anak berulah dan menjadi tantrum, kita sering kali langsung menyalahkan si anak. Padahal bisa jadi tantrum tersebut terjadi karena faktor yang harusnya datang dari kita, seperti pada poin 1. Terkadang sebagai orang tua kita lalai untuk menyediakan kebutuhan anak-anak, dengan anggapan anak telah cukup mandiri, sehingga saat anak-anak tantrum kita langsung emosi. Jadi sebelum ikutan jadi emosi, mari kita check terlebih dahulu kebutuhan apa yang kurang.


Selain itu, berdasarkan pengalaman, anak-anak mudah sekali tantrum kalau sedang tidak enak badan. Biasanya kalau anak-anak sakit dan berulah, saya sering berkata mama tahu kamu merasa tidak nyaman, tapi itu bukan alasan untuk kamu jadi rewel. 

Satu hal lagi, silly but it works, saat anak-anak mulai rewel tidak jelas dan berulah, ajaklah anak-anak ke toilet. Saat Duo Lynns mulai rewel, biasanya diakhiri dengan meminta ke kamar mandi. Setelah ke toilet, suasana menjadi lebih kondusif. Saat saya melayani di kelas anak batita, kalau ada anak yang mulai rewel tidak karuan, lalu anak itu minta ke toilet, terkadang setelah dari toilet anak ini menjadi lebih tenang. Mungkin anak-anak menjadi rewel karena menahan pipis =))

Dan seperti dituliskan di atas, responlah dengan kasih dan bukan dengan emosi, sehingga yang ditangkap itu bukanlah emosi kita. Ingatlah bahwa dasar dari setiap hal yang kita lakukan adalah karena kita mengasihi anak-anak ini dan mengasihi Tuhan. It's easy to say but it's hard to do, but with His help we'll be able to do that. 

Jumat, 03 Juni 2016

Pelayanan Anak Batita

Pelayanan Anak Batita
Berurusan dengan balita atau bahkan batita memang bukan hal yang mudah. Apalagi kalau ngomongnya masih belum jelas. Dan seperti anak-anak pada umumnya, yang namanya mood itu memegang peranan dalam tingkah laku mereka. Belum lagi yang namanya belum bisa fokus, jadi diminta buat a yang dibuat b (bahkan bisa jadi z), hobi ngeyelnya, dan hal-hal lain yang dapat membuat kita pusing kepala.

Mengajar batita dan balita pun juga tidak mudah. Harus panjang sabar pula. Satu anak saja sudah menyita tenaga, apalagi banyak anak. Saya pun mengalaminya. Nah, bagaimana mengajar anak-anak ini, khususnya di sekolah minggu yang hanya bertemu maksimal 2 jam tetapi harus memberikan dampak yang membangun anak-anak ini? Berdasarkan pengalaman dan artikel yang saya baca, ada beberapa tips yang dapat digunakan saat berhubungan dengan anak-anak batita ini.

1.  Ciptakan atau adaptasikan lingkungan
Ruang kelas yang aman dan sesuai dengan umur yang dapat mendorong anak untuk mengeksplorasi dan belajar adalah suatu permulaan yang baik. Lingkungan batita harus melingkupi area central group (area yang nyaman untuk membaca buku), area motorik kasar (dengan matras dan ruang lingkup yang memadai untuk bermain mainan), area blocks (blocks dan truk yang aman untuk batita), area bermain peran, dan area sensori (alat musik, botol yang berisi beras, pasta, dsb). Pastikan setiap mainan sesuai dengan umur anak-anak yang berada di kelas tersebut dan tidak membahayakan anak-anak (tidak mudah ditelan) dan rotasi mainan secara berkala.

Sebagai tambahan, perhatikan juga furniture yang digunakan, termasuk kotak atau lemari penyimpanan barang anak-anak, meja dan kursi yang sesuai dengan tinggi si anak (meja dan kursi kecil), tempat penyimpanan snacks dan minuman, dan area display dan penyimpanan keperluan untuk craft. Jangan lupa untuk memeriksa perbandingan jumlah anak di dalam kelas dengan pengajar di kelas dan luas ruangan yang sepadan dengan jumlah orang yang akan berada di dalam kelas. Pastikan bahwa kita memiliki data dari setiap anak di kelas kita dan pastikan kita dapat mengontak orang tua anak-anak ini jika dibutuhkan. Lalu, pastikan juga ada perencanaan (check list) untuk menjaga kebersihan ruangan dan juga mainan (mencuci mainan secara berkala).

2.   Sediakan rencana pembelajaran yang sesuai dengan umur mereka
Tidak ada kata terlalu kecil untuk mengenal tentang Tuhan. Oleh sebab itu kita, sebagai pelayan anak yang ada di kelas, mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengenalkan firman Tuhan kepada anak-anak ini. Oleh sebab itu, saat membuat rencana pembelajaran untuk batita, temukan rutin kelas yang sesuai dengan kelas dan jangan diubah-ubah. Mengapa? Karena batita suka dalam hal yang berbau rutinitas. Walau kita sebagai kakak sudah bosan, tetapi anak-anak semakin menyenanginya karena mereka merasa mereka tahu step selanjutnya.  Sisipkanlah waktu untuk anak-anak bermain di dalam jadwal yang ada. Dampingi mereka saat bermain, amatilah anak-anak dan terlibatlah dalam bermain.
Saat bernyanyi, buatlah gaya untuk setiap lagu yang ada. Anak-anak suka sekali dengan yang namanya gerakan. Dan gerakan ini juga mempermudah mereka menghapal lagu yang ada. 

3. Berinteraksilah dengan batita pada level mereka.
Komunikasi dengan batita memang gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang). Bahkan sebagian batita belum dapat berbicara dengan jelas untuk mengutarakan maunya mereka. Saat berbicara dengan batita, usahakanlah untuk berbicara pada level mata mereka. Berbicaralah dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh anak-anak. Jangan terlalu puitis ataupun terlalu berat bahasanya. Bantulah mereka untuk membahasakan apa yang mereka lakukan, seakan kita sedang memberikan komentar terhadap aktivitas mereka atau memberikan narasi terhadap aktivitas mereka. Misal, si anak sedang bermain blocks. Kita bisa berkata, ini lagi buat rumah ya, oh ini pintunya, oh jendelanya yang mana. Ini membantu anak-anak untuk berlatih berkata-kata juga.
Karena anak batita terkadang belum jelas ngomongnya, maka mereka terkadang susah untuk mengutarakan isi hati mereka. Saya pernah memegang anak yang usianya hampir 4 tahun tetapi ngomongnya belum jelas. Akibatnya mereka terkadang jadi emosi, atau yang sering disebut tantrum, karena merasa susah untuk mengungkapkan kemauan mereka atau orang disekitarnya susah untuk menangkap keinginan mereka. Berusahalah untuk mengerti keinginan mereka. Jika kita tidak bisa mengerti apa yang dibicarakannya, dan si anak mengeluarkan emosinya, bersiaplah untuk merespon tantrum tersebut.
Anak-anak batita senang dengan rasa mandiri, maka berikanlah mereka kesempatan memilih, tetapi batasilah pilihan yang ada. Dan bagi batita yang sudah cukup besar, berikan sedikit rasa tanggung jawab dengan memberikan mereka kesempatan untuk menjadi asisten. Hal yang sederhana seperti diatas terkadang dapat membantu batita menjadi merasa aman, dan nyaman, berada di kelas.
Saat berbicara dengan kelompok batita, kita harus all-out. Jadilah ekspresif dalam menyampaikan sesuatu. Mereka senang loh kalau kita 'seru'  (walau kita merasa malu). Ajaklah mereka untuk berpartisipasi dalam hal-hal yang kita lakukan. Dan saat mengajar, gunakanlah berbagai macam metode yang dapat menarik dan memfasilitasi cara belajar mereka yang unik. Tidak perlu banyak alat, bisa juga dengan suara kita yang bervariasi, memakai kostum yang sesuai, berani terlihat konyol, tertawa bersama mereka, dan yang terutama ajarlah mereka dengan kasih. Nikmatilah saat bersama mereka, walau sangat menguras tenaga.

4.  Kenalilah orang tua mereka
Seperti peribahasa mengatakan tak kenal maka tak sayang, maka demikian juga saat kita berurusan dengan dunia anak. Sebagai orang tua, saya mengerti rasanya tenang jika ada orang yang saya kenal di kelas anak-anak. Bahkan sebagai kakak yang bertugas di kelas kecil, saya juga mengerti ketenangan orang tua saat menitipkan anak di kelas kami. Orang tua pasti langsung mengukur tingkat ketenangan mereka saat menaruh anak di kelas anak-anak. Jika mereka tidak yakin, mereka tidak akan menitipkan anak mereka di kelas. Oleh sebab itu, bangunlah hubungan dengan mereka. Tanyakan pertanyaan dan dengarkanlah orang tua ini. Saat mereka menjemput anak mereka, komunikasikan hal-hal yang dialami si anak selama berada di kelas. Dukunglah orang tua disetiap kesempatan. Jadilah kakak kelas yang tersedia dan rendah hati. Ijinkanlah mereka memberikan feedback atas pelayanan anak yang diberikan.
Walau tidak semua orang tua dapat bekerja sama dengan pelayanan anak, tetapi tetap bangun komunikasi dengan setiap orang tua, dan bahkan pengasuh si anak. Berbicara tentang pengasuh anak, terkadang mereka lebih mengerti anak-anak ini dibanding orang tuanya (mengenaskan juga sih). Oleh karena itu, komunikasi dengan pengasuh mereka pun harus terbentuk dengan baik, walau terkadang kita juga harus siap menjadi tempat curhatnya pengasuh-pengasuh ini :D

Tentunya lebih dari empat hal diatas, landasilah pelayanan kita dengan kasih, kebaikan, konsistensi, doa, dan kehadiran kita. Percayalah bahwa setiap yang kita lakukan dalam pelayanan anak tidak akan pernah sia-sia. Mereka tidak pernah terlalu muda untuk mengenal Tuhan. Tuhan memberkati.


Selasa, 17 Mei 2016

Mandiri atau Mengabaikan?

courtesy of family talk
Beberapa hari yang lalu, kami sekeluarga, bersama dengan opa, mengunjungi suatu mall di kawasan Jakarta Utara. Saat kami mau turun dari eskalator, ada dua anak perempuan (mungkin adik kakak) sedang bermain dibagian atas eskalator. Mereka sedang bermain dengan pegangan eskalator yang hitam, yang dapat berputar sendiri. Kami sudah melihat dari jauh, dan sambil jalan kami berkata kepada anak-anak bahwa main di situ dan tanpa pengawasan orang dewasa sangat berbahaya. Kami jalan sambil celingak-celinguk mau lihat dimana orang tuanya, kok membiarkan anak-anaknya main sendiri. Dan saat kami makin dekat eskalator, salah satu dari mereka seperti bingung dan tangannya tertarik oleh pegangan hitam tersebut. Dia terbawa eskalator ke bawah. Anak yang satunya lagi berusaha untuk menolongnya, tetapi tidak dapat menggapai dan akhirnya ikut turun. Anak yang pertama kali 'tertarik' pegangan eskalator berusaha secepat mungkin untuk berdiri tegak, mungkin karena badannya agak gemuk jadi tidak langsung terjatuh, dan berusaha untuk naik ke atas di eskalator yang berjalan turun. 

Saya akhirnya berkata kepada anak tersebut turun dulu sampai bawah, baru ke atas naik eskalator yang ke atas, dan jangan bermain di eskalator karena itu berbahaya. Anak itu naik lagi dengan eskalator. Saya sampai gemas dengan orang tua anak ini, yang dapat membiarkan anak kecil bermain sendiri di eskalator, sampai rasanya ingin nemuin orang tuanya dan memberi tahu mereka bahaya yang hampir dialami anak-anak mereka. 

Sambil melihat mereka, saya mulai berpikir banyak orang tua merasa anak mereka bisa dan sudah mandiri sehingga mereka membiarkan anak mereka melakukan apa saja, tanpa supervisi, dengan alasan mereka bisa kok. Tetapi permasalahannya bisa bukanlah jawaban saat anak masih kecil, tetapi boleh dan amankah hal tersebut. Mereka terkadang tidak tahu bahwa disaat mereka menganggap anak mereka mandiri, anak-anak tersebut sedang dalam keadaan yang cukup bahaya (atau membahayakan orang lain) dan ditolong oleh orang lain. Lebih parahnya lagi terkadang mereka berkata bahwa Tuhan pasti menjaga anak-anak mereka, dan memang Tuhan mengirimkan orang lain untuk menolong anak-anak tersebut namun bukan berarti mereka tidak perlu melakukan supervisi terhadap anak-anak mereka. Atau ada juga orang tua yang dapat berkata bahwa memang berarti jalannya anak itu, nasibnya anak itu, jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada anak mereka. Jika meniadakan supervisi dengan alasan melatih anak mandiri atau anak  sudah dianggap mandiri, maka bagi saya ini dikategorikan sebagai ignorance atau mengabaikan. Apa sih bedanya melatih mandiri dan ignorance?

Menurut kamus bahasa Indonesia, mandiri adalah dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak tergantung orang lain. Anak yang mandiri adalah anak yang dapat melakukan sesuatu sesuai umurnya. Misal anak umur 3 tahun dapat memakai pakaian sendiri, anak empat tahun dapat merapikan ranjang mereka sendiri, dan sebagainya. 


Seringkali orang tua salah kaprah dan menganggap anaknya sudah mandiri dan sudah dapat memilih mana yang berbahaya dan tidak berbahaya. Tetapi orang tua lupa bahwa anak-anak belum dapat berpikir sebab akibat yang terlalu jauh dan terkadang belum dapat mengontrol kekuatannya. Akibatnya banyak insiden yang terjadi karena anak tidak menganggap hal yang mereka lakukan berbahaya, padahal dalam kenyataannya hal tersebut berbahaya. 


Saat orang tua menganggap anaknya mandiri dan tidak melakukan supervisi terhadap si anak, maka tujuan melatih mandiri ini berpindah posisi menjadi mengabaikan anak. Faktor keamanan dalam melatih kemandirian anak merupakan hal yang penting. Jika faktor keamanan diabaikan, yang terjadi adalah insiden yang tidak diinginkan atau anaknya akan menjadi anak yang semaunya. Akibat sikap ignorance si orang tua, si anak yang merasa 'saya mampu walau saya masih kecil' dapat tumbuh menjadi anak yang terlalu bangga dengan dirinya dan bahkan bisa jadi menjadi anak yang arogan. 


Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi mandiri, percaya diri. Tetapi yang harus diingat adalah melatih mandiri bukan berarti mengabaikan atau ignorance. Melatih mandiri harus disertai dengan yang namanya safety atau keamanan. Sudahkah kita menyertakan hal tersebut saat melatih anak kita untuk mandiri? :)