Tampilkan postingan dengan label kurikulum matematika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kurikulum matematika. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 September 2019

Math Mammoth 101: How to Use Math Mammoth


Masih melanjutkan tentang MathMammoth, setelah tahu tentang bermacam-macam tipe Math Mammoth, maka pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah bagaimana cara menggunakan Math Mammoth. Tidak seperti buku lain yang ada teacher guide, Math Mammoth tidak memberikan buku panduan untuk guru. Tetapi walaupun tidak memberikan panduan untuk guru, Math Mammoth mudah untuk digunakan.
Penjelasan untuk sub bab geometri. 
Penggunaan Math Mammoth pada setiap tingkatan
Math Mammoth pada setiap grade terdiri dari dua workbook untuk murid (bagian A dan B), kunci jawaban, cumulative review, test, dan cutouts (tidak selalu ada,tergantung materi yang akan diajarkan). Cutouts merupakan alat bantu tambahan yang dapat digunakan untuk menerangkan salah satu pelajaran di bab yang ada. Didalam setiap workbook terdapat penjelasan singkat mengenai isi dari bab tersebut. Dalam setiap sub bab pun diberikan keterangan mengenai pelajaran yang akan diberikan. Dengan adanya bagian ini, kita sebagai guru dapat membaca dan menerangkan kepada anak-anak.
Penjelasan mengenai isi bab yang akan dikerjakan.
Kita dapat mengerjakan satu atau dua soal bersama dengan anak sehingga anak memahami cara mengerjakan soal tersebut. Setelah itu biarkan si anak untuk mengerjakannya. Untuk memeriksa isi jawaban, maka kita dapat menggunakan kunci jawaban yang diberikan.
Cutout untuk pecahan. 
Setelah anak-anak menyelesaikan semua materi dalam satu bab, maka lembar cumulative review dapat diberikan. Cumulative review ini berisi kumpulan soal-soal dari bab-bab sebelumnya. Harapannya dengan adanya materi-materi sebelumnya, anak-anak tidak akan lupa materi sebelum-sebelumnya.
Cumulative review setelah bab 6 selesai. 
Setelah anak-anak menyelesaikan cumulative review, maka kita dapat memberikan test kepada anak tersebut. Test ini bersifat opsional, boleh diberikan atau tidak. Saya pribadi lebih suka memberikan test ini untuk memeriksa seberapa besar si anak menguasai suatu materi.

Bagaimana caranya untuk tahu bahwa si anak menguasai materi atau belum? Salah satu cara untuk memeriksa apakah si anak menangkap suatu konsep adalah saat si anak mengerjakan soal cerita. Jika si anak dapat mengerjakan soal cerita tersebut, maka dapat dikatakan bahwa si anak memahami konsep dari suatu materi. Jika kita rasa anak belum menguasai materi tersebut, baik soal cerita ataupun soal konsep sederhana, maka kita dapat mengulang materi yang kita rasa belum dikuasai oleh si anak sampai anak mengerti. Biasanya saya akan mencetak ulang soal yang belum dikuasai, dan meminta anak untuk mengerjakan kembali.
Test yang diberikan setelah anak menyelesaikan pelajaran.
Cara menyelesaikan Math Mammoth dalam satu tahun ajaran.
Pertanyaan ini sering muncul dan dipertanyakan oleh teman-teman. Berapa banyak lembar soalkah yang harus diberikan kepada si anak setiap kali belajar. Ada beberapa cara yang dapat digunakan.

Yang pertama, dengan membagi lembar soal berdasarkan jumlah hari efektif. Bagilah materi dalam dua semester (berdasarkan bagian A dan bagian B), lalu hitunglah lembar soal yang ada dalam suatu bagian. Setelah itu hitung juga berapa banyak cumulative review dan test yang ada dalam satu bagian. Tentukan juga jumlah hari yang akan digunakan untuk belajar matematika dalam satu semester. Jumlah hari yang ada dalam 1 semester akan digunakan untuk mengerjakan soal dan juga cumulative review dan test. Idealnya jumlah hari yang akan digunakan untuk mengerjakan cumulative review dan test akan sama dengan jumlah cumulative review dan test yang ada.

Untuk mendapatkan jumlah hari yang dapat digunakan untuk mengerjakan soal, kurangi jumlah hari dalam 1 semester dengan jumlah cumulative review dan jumlah test. Untuk mendapatkan jumlah lembar per hari, kita tinggal membagi jumlah halaman lembar soal dengan jumlah hari untuk soal.  Maka akan didapatkan minimal lembar soal yang harus dikerjakan supaya materi ini selesai dalam 1 semester.

Misal, untuk grade 4A,
Halaman lembar soal = 181 halaman.
Jumlah cumulative review = 3 cumulative review
Jumlah test = 4 test

Jumlah hari dalam 1 semester = 100 hari
Jumlah hari untuk soal = jumlah hari – jumlah C. Review – jumlah test = 100 - 3 - 4 = 93 hari
Jumlah lembar soal/hari = jumlah halaman lembar soal : jumlah hari untuk soal = 181/93 = 1.94 (2 lembar per hari) 
  
Cara yang kedua adalah dengan mengerjakan berdasarkan sub bab. Ini adalah cara yang biasa saya gunakan. Dalam suatu bab, terdapat beberapa sub bab. Setiap sub bab memiliki 2 hingga 5 lembar soal. Dalam setiap pertemuan, kakak menyelesaikan satu sub bab. Setelah semua sub bab selesai, maka kami melanjutkan dengan menyelesaikan cumulative review dalam 1 pertemuan dan setelah itu test dalam 1 pertemuan.

Alasan mengapa saya memilih dengan cara yang kedua adalah untuk memudahkan saya membagi pelajaran. Sehingga saya punya waktu lebih sebagai waktu cadangan jika saya saya harus mengulang suatu materi. Jika semua berjalan lancar, maka saya dapat lanjut ke bab atau buku berikutnya.

Pada dasarnya tidak ada patokan bahwa suatu materi harus selesai dalam suatu waktu, karena kecepatan anak berbeda-beda. Dengan kata lain, kita dapat menyesuaikan penggunaan Math Mammoth sesuai kebutuhan kita dan kemampuan si anak. Seperti yang selalu saya katakan, kurikulum membantu kita untuk mengajar, bukan membuat kita menjadi stres karena dikejar-kejar kurikulum.

Selamat menggunakan Math Mammoth :)












Senin, 09 September 2019

Review Kurikulum Matematika: Math Mammoth

Mathmammoth.com
Berbicara tentang kurikulum Matematika memang selalu menjadi topik yang menarik, khususnya saat anak berusia diatas 6 tahun. Banyak yang bertanya kepada saya kurikulum Matematika apa yang dipakai oleh Duo Lynns selama usia SD ini. Kami memang memakai dua kurikulum, yaitu Professor B untuk aritmetika SD dan juga Math Mammoth saat Prof B sudah selesai digunakan.

Math Mammoth dikarang oleh Maria Miller. Maria Miller awalnya adalah guru matematika yang juga seorang homeschool mom. Sejak awal tahun 2000an, Maria Miller menjadi tutor anak-anak homeschool dan melihat bahwa buku-buku yang digunakan bukanlah buku khusus untuk homeschooler. Oleh sebab itu banyak ibu-ibu yang bergumul dalam dalam mengajarkannya. Sejak itu Maria Miller berusaha membuat buku matematika yang memang khusus untuk homeschooler dengan penjabaran konsep yang sederhana tetapi mudah dipahami oleh si ibu dan si anak .

Math Mammoth sendiri mempunyai banyak jenis buku-buku matematika. Berdasarkan jenisnya, maka ada dua jenis, yaitu Full Curriculum dan Supplemental Material. Full Curriculum menggunakan pendekatan masteri dan terdiri dari dua seri, yaitu:
1. Light Blue Series
Light Blue Series merupakan kurikulum matematika yang lengkap sesuai grade atau kelasnya berdasarkan kurikulum Amerika. Setiap tingkat kelas di Light Blue Series terdiri dari buku untuk siswa (A dan B), yang berisi penjelasan dan soal-soal untuk siswa. Selain itu terdapat juga kunci jawaban, soal-soal ujian, soal-soal cumulative review, dan beberapa alat peraga yang dapat dipotong dan digunakan oleh siswa.
2. Blue Series
Berbeda dengan Light Blue Series yang membagi pelajaran matematika berdasarkan jenjang kelasnya, Math Mammoth Blue Series merupakan worktexts berdasarkan topik-topik spesifik dalam matematika. Setiap buku terdiri dari penjelasan konsep dan soal-soal yang bervariasi.

Sedangkan Supplemental Material terdiri dari 5 seri, yaitu:
1. Math Mammoth Skills Review Workbooks
Math Mammoth Skills Review Workbooks dirancang sebagai pelengkap untuk Light Blue Series. Buku ini dirancang dengan pendekatan spiral (penjelasan mengenai metode spiral dan metode masteri dapat dilihat di link berikut) dan dapat digunakan bersamaan dengan kurikulum utama.
2. Math Mammoth Review Workbooks
Math Mammoth Review Workbooks dirancang untuk memberikan anak-anak review menyeluruh atas suatu tingkatan. Masih dengan pendekatan soal-soal campuran atas beberapa topik, workbook ini juga dilengkapi dengan test. Workbook ini idealnya digunakan saat anak-anak sedang liburan, jadi menjaga supaya jangan sampai anak-anak lupa dengan materi yang ada.
3. Make It Real Learning Workbooks
Make It Real Learning Workbooks berfokus untuk menjawab pertanyaan mengenai aplikasi dari setiap konsep matematika yang dipelajari. Workbook berisi aktivitas atau situasi yang diambil dari keadaan nyata dengan data data yang real.
4. Golden and Green Series
Untuk seri yang ini, akan lebih baik jika digunakan oleh tutor atau guru. Mammoth Golden Series merupakan kumpulan soal-soal untuk kelas 3 sampai 8, terdiri dari dua bagian A dan B untuk setiap tingkatnya Sedangkan Green Series merupakan kumpulan soal berdasarkan topik dalam matematika, seperti geometri, bilangan bulat, statistika, dan lain-lain. Soal-soal yang ada di Golden and Green Series ini merupakan soal-soal yang bervariasi baik dalam soal cerita maupun kesulitannya.
5. WTM Mathematics Foundation
Mathematic Foundations merupakan worktext yang custom-made. Worktext ini dirancang untuk anak-anak yang telah menyelesaikan pelajaran matematika di pendidikan dasar tetapi tidak mempunyai kemampuan matematika yang kuat
Tabel perbandingan setiap seri. Sumber: Mathmammoth.com
Untuk full curriculum, Math Mammoth menyediakan versi US dan versi internasional seperti Spanish, UK, South Africa, European, Canadian, dan New Zealand. Perbedaannya adalah di satuan mata uang, satuan metrik, dan bahasa yang digunakan. Kami tetap memilih versi US karena versi mata uang Indonesia tidak ada. Sedangkan untuk bahasanya, karena selama ini kurikulum menggunakan Inggris Amerika, maka versi yang lain takutnya akan membuat anak-anak tercampur antara penulisan kata dalam Inggris Amerika dan Inggris British (seperti center dan centre).

Bagaimana dengan kami? Kami mengambil Light Blue Series, untuk melengkapi pelajaran yang didapatkan anak-anak dari Prof B sesuai dengan jenjang kelasnya. Kami memilih menggunakan Math Mammoth karena:
1. Bisa di-download langsung.
Awalnya kami berencana mengambil Saxon karena pendekatan spiral dan soal-soalnya yang membuat anak-anak tidak lupa dengan materi-materi sebelumnya. Tetapi karena Saxon berbentuk buku dan lumayan tebal-tebal, maka kami kesulitan untuk pengiriman dan membawa ke Indonesia. Math Mammoth tersedia dalam 3 format, yaitu buku, CD atau softcopy yang dapat di-download langsung. Best seller-nya tentu yang ketiga. Sehingga untuk kita yang tidak berada di Amerika, tidak perlu repot-repot kirim dari luar negeri dan tidak takut bukunya tertahan di Bea Cukai.
Worktext yang ada di CD.
2. Biaya reasonable.
Dibanding dengan kurikulum matematika lainnya, Math Mammoth termasuk sangat murah dengan muatan materi yang berbobot. Terutama untuk yang dalam format CD dan softcopy. Jadi kita dapat mencetak sendiri, sesuai kebutuhan. Walaupun formatnya berwarna, namun kita dapat mencetaknya dalam bentuk hitam putih. Lumayan memangkas biaya yang ada, bukan?
3. Pendekatan masteri tetapi diakhir bab terdapat cumulative review bab-bab sebelumnya. 
Hampir semua topik di Math Mammoth ini diajarkan dengan menggunakan pendekatan masteri. Namun tetap ada pendekatan spiral yang digunakan di dalam buku-buku Math Mammoth. Terutama untuk soal-soalnya, akan ada review topik-topik di bab sebelumnya (atau dalam Prof B disebut mixed practice). Namun pendekatan spiral ini berbeda dengan pendekatan spiral yang digunakan oleh Saxon (topik diajarkan sedikit demi sedikit dan meningkat secara perlahan).  Tetapi bagi kami hal ini cukup untuk membuat anak mengingat kembali pelajaran sebelumnya.
Sumber-sumber tambahan yang ada di internet.
4. Menggabungkan metode Sing math yang terkenal dengan pemodelan dengan metode math yang umum.
Banyak orang yang menggunakan kurikulum luar berpendapat bahwa soal-soal luar biasanya kurang menggigit (karena soal kan tidak punya gigi). Memang untuk soal dan pendekatan, kurikulum Asia sudah terbukti lebih rumit dan mendetil. Tidak heran kurikulum matematika ala Singapore sangat digemari di Amerika. Math Mammoth menggabungkan metode pemodelan dan logika dalam Singapore Math dengan metode matematika yang umum digunakan. Dengan demikian proses pendekatan pembelajaran ke anak menjadi lebih menarik dan soal-soalnya pun menjadi lebih menantang.
Puzzle Corner.
5. Puzzle corner, challenge problem, dan new terms yang membuat anak-anak berpikir. 
Di setiap bab selalu tersedia beberapa puzzle corner dan soal-soal menantang untuk membuat anak-anak tidak menjadi bosan. Soal-soal ini menggabungkan logika dan konsep yang sedang diajarkan di bab tersebut. Hal ini bagi kami sangat menarik sehingga anak-anak belajar menganalisa dan berpikir. Untuk anak-anak yang ingin soal-soal tambahan, Math Mammoth juga menyediakan link-link tambahan di setiap bab. Jadi tidak perlu takut anak kekurangan soal-soal untuk dikerjakan.
New terms and symbols.
Diakhir setiap sub bab akan disediakan kotak new terms yang berisi istilah-istilah baru yang digunakan di sub bab tersebut. Dengan adanya kotak new terms ini, orang tua dan anak pun dengan mudah mengingat dan mengetahui konsep baru apa yang didapatkan di sub bab tersebut.
Self teaching system dengan penjelasan yang singkat, padat, dan jelas.
6. Self teaching system, tanpa buku pegangan guru.
Berbeda dengan beberapa buku untuk homeschooler yang dilengkapi dengan buku pegangan guru, Math Mammoth tidak menyediakan buku pegangan guru secara terpisah ataupun kalimat-kalimat untuk memandu orang tua dalam mengajar. Dengan self teaching system, setiap bab dilengkapi dengan keterangan mengenai konsep yang akan diajarkan. Dengan kata lain, anak-anak dapat dilatih untuk belajar mandiri dan kita sebagai orang tua cukup menjelaskan melalui keterangan yang diberikan di setiap bab.
7. Math Mammoth menyediakan Lesson Plan untuk memudahkan orang tua dalam menggunakan kurikulum yang ada.
Bagi banyak orang tua, membuat lesson plan atau rencana pembelajaran merupakan sesuatu yang memusingkan. Maka untuk memfasilitasi para orang tua, sekarang Math Mammoth menyediakan lesson plan bagi para orang tua. Lesson plan ini dijual terpisah dari paket kurikulum yang ada.

Secara keseluruhan, menurut kami Math Mammoth tidaklah susah untuk digunakan para homeschooler dan soal-soal yang ada cukup bervariasi. Jika dibandingkan dengan kurikulum nasional, soal-soal Math Mammoth cukup menantang dan membuat anak berpikir dengan logika. Selain itu, harganya yang ekonomis dan dapat di-download menjadikan Math Mammoth mudah untuk didapatkan.


Selasa, 23 Oktober 2018

Math CCC 101: Cara Menggunakan Math CCC


Setelah membahas tentang Phonics CCC dan gambaran besar cara menggunakan CCC, pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya adalah bagaimana cara menggunakan Math CCC. Memang seperti yang pernah saya katakan, matematika merupakan momok bagi sebagian orang, mungkin karena saat kecil penyampaiannya tidak jelas atau kita memang tidak tektok dengan matematika. Padahal tanpa disadari matematika itu merupakan dasar dari semua ilmu.

Lebih dari sekedar menggunakan matematika untuk menyelesaikan soal-soal yang ada, ketekunan dalam mengerjakan dan memelajari matematika membentuk suatu karakter yang baik. Dari menyederhanakan suatu soal matematika dan kemudian mengerjakannya, anak-anak dibiasakan untuk tidak menunggu masalah besar baru diselesaikan. Dari kesalahan dalam mengerjakan suatu soal, mereka dibiasakan bahwa setiap kesalahan harus diperbaiki. Habit yang baik bukan?

Kembali ke Math CCC, penggunaan matematika ini dirancang berjalan bersamaan dengan penggunaan karakter. Setiap angka, dari 1 sampai 10, diceritakan melalui binatang dan karakter apa yang dapat kita pelajari. Jadi bukan akademis saja yang jalan, tetapi pembentukan karakter.

Saat menggunakan Math CCC, pastinya kita akan merasa bingung dan canggung melihat materi yang diberikan. Memang cara penyampaian matematika yang digunakan di Math CCC berbeda dengan cara yang diberikan saat kita kecil. Math CCC menekankan pentingnya nilai suatu angka (satuan, puluhan, dan ratusan). Selain itu Math CCC berusaha meminimalkan penggunaan jari saat belajar menghitung (kebalikan dari cara waktu kita diajari saat kecil bukan). Anak-anak pun diperkenalkan urutan bilangan sejak awal, bahkan mereka harus mengetahui ’tetangga’ sebelum dan sesudahnya. Dengan demikian anak dapat mengetahui bilangan mana yang lebih besar dan bilangan mana yang lebih kecil.

Yang menarik dari Math CCC adalah mereka memperkenalkan penjumlahan dengan menggunakan keluarga angka. Sebagai contoh, Mrs Two Deer mempunyai dua anak yaitu 2 + 0 dan 1 + 1, dengan nama keluarga 2, sehingga nama lengkap mereka adalan 2 + 0 = 2 dan 1 + 1 = 2. Secara tidak langsung mereka jadi belajar penjumlahan dalam bentuk yang menarik. Bukan untuk dihapalkan, tetapi namanya anak-anak pasti lebih tertarik jika pembelajaran dalam bentuk cerita. Untuk pembuktiannya, supaya nama-nama ini tidak menjadi hapalan, maka anak-anak juga akan diajak untuk membuktikannya dengan menggunakan tools atau alat bantu yang ada.

Lalu saat memperkenalkan pengurangan, anak-anak diperkenalkan bahwa pengurangan merupakan opposite atau lawan dari penjumlahan. Pendekatan seperti ini mempermudah kita nantinya saat mengajari perkalian dan pembagian. Sehingga akhirnya perkalian dan pembagian tidak menjadi hapalan (seperti saat kita masih belajar menghapalkan tabel perkalian), tetapi lebih cepat menangkap konsep.

Namun dalam materi yang kami beli, masih edisi lama, Math CCC dibagi menjadi dua bagian:
1. Math A: mencakup pengenalan angka dari 0 – 100, menghitung angka dua demi dua, menghitung angka lima demi lima, menghitung angka sepuluh demi sepuluh, penjumlahan dan pengurangan angka dari 1 – 10, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, place value mat, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil.
2. Math B: mencakup menulis angka hingga 999, angka tiga demi tiga, menghitung angka empat demi empat, penjumlahan dan pengurangan belasan, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, place value mat, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil, perkenalan tentang waktu, pecahan sederhana, dan uang.
Atas: pengenalan angka dari 1 - 100. Bawah: Place Value Mat
Penggunaan Math CCC untuk anak umur 3 tahun
Saat anak-anak baru berumur tiga tahun, penekanan kami saat menggunakan CCC adalah pada bagian cerita karakter yang ada. Titik berat kami ada pada karakter generosity (Mr. One Penguin), flexibility (Mrs. Two Deer), loyalty (Mrs. Three Bear), dan orderliness (Mr. Four Beaver). Cerita yang menarik mengenai keluarga hewan-hewan ini dengan karakter yang mendukung membuat anak-anak senang mendengarkan cerita tersebut. Saya menceritakan satu kisah selama seminggu, dengan harapan anak-anak menyerap dengan baik karakter tersebut. Setelah keempat karakter tersebut dimengerti dan dapat diaplikasikan dengan baik, kami pun beranjak ke karakter-karakter lainnya.

Selain kisah mengenai karakter tersebut, kami memperkenalkan angka dari 0 hingga 100 dalam bentuk lagu yang kami karang sendiri. Di umur ini juga anak-anak mulai tracing angka. Dan sebagai tambahan, saya memperkenalkan konsep perbandingan (kecil, lebih besar, terbesar) dan konsep logika sederhana melalui kejadian sehari-hari yang ada di rumah. Untuk kegiatan kami saat anak-anak berusia 3 tahun, silakan klik link berikut.
Buku-buku yang digunakan saat 4 tahun
Penggunaan Math CCC untuk anak umur 4 tahun
Saat anak-anak mulai umur 4 tahun, kami pun mulai menggunakan Math A. Di bagian atas buku lesson guide biasanya ada petunjuk berapa lama materi suatu materi harus diselesaikan. Misal materi addition 3+ diselesaikan dalam 5 hari dengan lembar soal sebanyak 10 lembar. Maka saya akan membagi lembar soal menjadi 5 bagian yang berarti satu hari si anak akan mengerjakan 2 lembar.

Penggunaan Math CCC untuk anak umur 5 tahun
Saat anak berusia lima tahun dan sudah menguasai Math A, maka anak dapat lanjut masuk ke Math B. Di Math B anak mulai berkenalan dengan teen atau belasan. Diawali dengan memelajari segala hal yang berhubungan dengan teen, setelah itu anak berkenalan dengan materi tambahan di dalam Math B seperti waktu, mengenal konsep pecahan sederhana, dan uang.
Penjumlahan teen 
Bagi anak yang pertama kali menggunakan CCC saat berumur lima, maka saya menyarankan untuk menggunakan Math A walaupun si anak sudah bisa menghitung sampai dengan 10. Menurut saya, pemaparan konsep di Math A untuk penjumlahan di bawah 10 sangat bagus dan terlebih lagi kita dapat memasukkan kisah karakter. Tentu saja waktu pembahasan suatu materi dapat dipersingkat dan lembar soal perharinya bisa lebih banyak.
Pola addition dan subtraction
Penggunaan Math CCC untuk anak umur 6 tahun
Saat anak berusia enam tahun, si anak dapat menyelesaikan Math B yang belum selesai. Jika si anak sudah menyelesaikan Math B, maka kita dapat memilih kurikulum lain untuk matematika.

Bagi anak yang pertama kali menggunakan CCC saat berumur enam, maka dapat langsung menggunakan Math B asalkan si anak sudah menguasai fakta 1 -1 0. Jika anak belum menguasai, saya menyarankan untuk mengulang dari awal sehingga anak mendapatkan konsep penjumlahan yang benar.

Place value mat
Salah satu sarana yang digunakan saat memelajari nilai suatu bilangan adalah place value mat. Anak diperkenalkan dengan tiga rumah, yaitu rumah satuan (ones), puluhan (tens), dan ratusan (hundreds). Kami menggunakan stick pensil untuk menjelaskan tentang rumah-rumah ini. Ada pensil satuan dengan huruf O sebagai lambang dari ones atau satuan dan pensil yang dikelompokkan per 10 dan diikat lalu ditulis T sebagai lambang dari tens atau puluhan. Kami membuat rumah untuk satuan dan puluhan. Rumah untuk satuan dibuat kecil dan hanya pas untuk 9 stick satuan. Sedangkan rumah puluhan dibuat hanya dapat menampung 9 ikat T atau puluhan. Tujuannya supaya anak-anak tahu bahwa di rumah satuan hanya dapat menampung maksimal 9. Lebih dari 9, berarti si stick ini harus pindah ke rumah yang lebih besar yaitu rumah puluhan. Tetapi untuk datang ke rumah puluhan, mereka harus dalam satu ikatan yang berisi 10 stick satuan atau 1 ten (puluhan).
Rumah untuk Tens dan Ones
Kiri stick  per 10. Kanan: stick satuan.
Daily drill
Seperti saat memelajari Phonics, dalam Math juga ada yang namanya daily drill. Daily drill berarti setiap harinya si anak harus memelajari ini dengan singkat, tidak lebih dari 15 menit. Kita cukup mengikuti instruksi yang ada, tanpa perlu membuat pengembangan sendiri.

Alat Bantu
Seperti istilah yang berkata the more the merrier, maka semakin banyak alat bantu dapat membuat anak-anak belajar dengan lebih semangat. Alat bantu yang dapat digunakan adalah cubes, stick, dan anak-anak dari suatu angka. Tujuan alat bantu ini digunakan adalah supaya anak-anak dapat memahami konsep melalui sesuatu yang terlihat langsung.
Atas: addition family. Bawah: number line
Saat anak belajar addition family dengan mengisi kamar dari rumah si angka, mereka akan tahu bahwa 2 + 0 dan 1 + 1 adalah 2. Ini akan menjadi hapalan semata jika mereka tidak tahu dari mana asalnya. Dengan alat bantu seperti cube atau stick, anak dapat mengerti bahwa jika kita punya 1 stick di tangan kanan dan 1 stick di tangan kiri maka saat digabungkan, keduanya menjadi 2.
Anak-anak Mrs. Two Deer
Selain itu dengan adanya alat bantu, anak-anak tidak mencongak atau menghitung dengan menggunakan jari. Kenapa sih tidak boleh pakai jari? Toh saat kita masih kecil juga ibu guru kita mengajar dengan menggunakan jari (bahkan sebagian anak ngotot menggunakan jari kaki juga). Sebetulnya alat bantu diberikan untuk memudahkan anak dalam membayangkan suatu persoalan. Sejalan dengan berjalannya waktu, saat si anak sudah mengerti, maka alat bantu sudah tidak perlu digunakan lagi. Namun kecenderungan beberapa anak, mereka akan nyaman dengan alat bantu dan akhirnya bergantung dengan alat bantu. Nah, karena jari mereka akan selalu ada bersama mereka, akibatnya mereka akan mencongak dengan menggunakan jari. Kalau dengan alat bantu lainnya, lambat laun anak akan belajar untuk tidak menggunakan alat bantu tersebut.
Kisah tentang loyalty
Rutin dalam pembelajaran
Pertanyaan yang sering diberikan kepada saya adalah bagaimana tentang rutin dalam penggunaan Math CCC. Sama seperti Phonics yang dimulai dengan penjelasan tentang Bible story suatu huruf, kami pun memulai dengan penjelasan cerita mengenai si angka atau karakter yang dipelajari. Setelah selesai bercerita, maka kami pun masuk ke daily drill kurang lebih 15 menit. Setelah selesai kami pun masuk ke konsep dan basic skill yang ada di buku.

Penggunaan Math CCC dalam Edisi Terbaru
Dalam CCC yang terbaru, pembelajaran matematika dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Math A: pengenalan karakter yang berhubungan dengan angka 1 – 10, konsep angka 0 – 10, pengenalan keluarga penjumlahan, pengenalan angka dalam garis bilangan (number line), urutan angka dari 1 – 10, membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil dan menghitung dari 1 hingga 100.
2. Math B: konsep bilangan 1 – 20, pengenalan angka sampai 100, menghitung angka dua demi dua, menghitung angka lima demi lima, menghitung angka sepuluh demi sepuluh, penjumlahan dan pengurangan angka dari 1 – 10, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil. Di Math B juga diperkenalkan waktu, pecahan sederhana, dan uang.
3. Math C: mencakup menulis angka hingga 999, angka tiga demi tiga, menghitung angka empat demi empat, penjumlahan dan pengurangan belasan, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, place value mat, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil.

Idealnya Math A akan digunakan saat anak berusia 4 tahun, Math B saat anak berusia 5 tahun, dan Math C saat anak berusia 6 tahun. Memang dirasa terbalik jika membandingkannya dengan kurikulum di Indonesia, karena anak saat TK A dikejar sudah dapat menghitung sampai 20, walaupun saat SD mungkin si anak baru dapat memahami waktu dan pecahan.

Kendala saat menggunakan Math CCC
Banyak yang berpikir bahwa kendala menggunakan Math CCC adalah karena dalam bahasa Inggris dan pelajaran Matematika yang kurang disenangi banyak orang. Tetapi ini bukan kendala bagi kami.

Kendala terbesar bagi kami adalah terkadang kita merasa cara yang ada rumit dan akhirnya kita merasa lebih nyaman dengan cara yang kita dapatkan saat kecil. Akibatnya si anak tidak mendapatkan materi dengan maksimal. Kata kunci dari menggunakan Math CCC adalah merelakan hati untuk memelajari materi yang ada. Saat kita dapat memahami, maka kita dapat mengerti konsep dengan baik.

Seringkali karena kita tidak mau mencoba memahami konsep yang ada, kita akan merasa konsep ini aneh dan lebih enak konsep yang kita gunakan saat kita belajar dulu. Akibatnya seluruh materi yang harus disampaikan tidak tersampaikan dengan baik. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk merelakan hati dan waktu kita demi memahami konsep yang akan diberikan.

Kendala berikutnya terkadang kita lupa bahwa setiap anak itu unik. Dan untuk keunikannya itu, kita harus dapat menjadi kreatif dalam menyampaikan konsep yang ada sesuai dengan cara si anak belajar. Saat kita sudah mencoba dan anak belum dapat memahami, kita harus mencari cara lain untuk menyampaikan pelajaran dan konsep tersebut. Misal saat belajar penjumlahan, saya membuat flashcard penjumlahan. Lalu saya minta kakak atau adik untuk mengantarkan anak-anak si angka ini untuk pulang ke rumah. Atau saat belajar menghitung two by two, saya mengajak si adik melompati dua kotak demi dua kotak. Jadi lebih menarik untuk si anak bukan.

Bagaimana jika si anak belum bisa juga? Sebetulnya dalam belajar matematika, begitu seseorang menangkap konsep, ia pasti dapat mengerjakan soal. Namun jika konsep tidak ditangkap juga, maka latihan soal akan membantu seseorang untuk mendapat konsepnya (cara ini digunakan oleh beberapa tempat les matematika yang terkenal). Jadi untuk membantu anak menangkap konsepnya, lakukan saja drilling latihan soal setiap hari sampai si anak menguasainya. Pasti akan ada keluhan dan terkadang ketakutan si anak karena belum dapat menyelesaikannya. Namun jika kita terus menyemangatinya, saat si anak berhasil mengerjakan soal, kita dapat berkata, ”Tuh kan, ternyata tidak susah kan. Kamu bisa juga kan buatnya.”
Drilling yang dapat digunakan.
Satu hal yang harus kita ingat, karena setiap anak berbeda, maka pembelajaran matematika bukanlah bertujuan untuk membuat anak ahli matematika. Untuk anak yang memang kemampuan akademisnya bagus, kita dapat menambahkan konsep-konsep baru. Tetapi untuk anak yang memang kemampuannya pas-pasan, tujuan pembelajaran adalah agar kemampuan dasar si anak terpenuhi. Kan tidak lucu si anak tidak dapat menjumlahkan angka sampai si anak besar.

Apakah memenuhi kemampuan dasar si anak tersebut visible (secara kita kan bukan guru dan anak kita belajar sama kita)? Tentu saja visible. Saat di sekolah, jika tidak mencapai nilai minimal, maka si anak akan mengikuti remedial. Namun jika anak masih belum dapat memahami juga, si anak mau tidak mau harus mengikuti flow yang ada. Pelajaran harus maju dan akibatnya si anak tidak akan dapat lanjut ke materi selanjutnya karena kemampuan dasar mereka masih kacau.

Karena homeschool, kita ada kebebasan untuk mengulang bahan yang ada. Jika kita belum merasa penjumlahan si anak mantab, maka kita dapat mengulang sampai mantab baru masuk pengurangan. Dan hal ini mungkin dibandingkan saat anak di sekolah. Memang lebih lama, tetapi fondasi si anak akan lebih kuat.

Sebagai penutup, Math CCC menitikberatkan pembelajaran sesuai dengan kebenaran firman Tuhan dan pengembangan karakter. Saat dunia menganggap bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan Firman Tuhan, Math CCC menunjukkan bahwa Tuhanlah sumber dari segala ilmu, termasuk matematika. Untuk menggunakannya, kita harus mau untuk merubah pola pikir kita dan mencoba memahami metode pembelajaran yang ditawarkan oleh Math CCC. Saat kita membuka hati dan pikiran kita, maka kita pun akan dengan mudah menjelaskannya kepada anak-anak (walau bukan berarti anak-anak akan dengan mudah menangkap apa yang kita jelaskan). Dan jadilah kreatif saat menyampaikan materi ini untuk memfasilitasi keunikan belajar anak yang berbeda-beda.


Semangat moms ;)

Selasa, 10 Januari 2017

Review Professor B Math

Matematika merupakan materi yang menjadi momok bagi banyak orang. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, mengajarkan matematika merupakan hal yang luar biasa. Tentunya dengan memilih bahan yang tepat dan sesuai dengan kita, mengajar matematika pun mejadi lebih mudah. 

Saat pertama kali belajar matematika, kami menggunakan math dari CCC. Sedianya bahan math dari CCC ini mencakup materi kelas 1 SD. Kami pun berpikir, jika materi CCC sudah selesai, kurikulum matematika yang mana yang akan kami pakai. Setelah melihat dan membandingkan berbagai kurikulum dan materi, akhirnya kami memilih menggunakan Proffesor B Math. 

Prof B Math merupakan buku matematika yang lebih memfokuskan pada ilmu aritmetik atau ilmu hitung. Buku ini ditulis oleh Professor Everard Barrett. Menurut beliau, setiap anak diciptakan dengan dahsyat dan ajaib dengan mental computer yang kuat. Tuhan mendisain otak kita untuk menyerap setiap cerita. Dengan demikian, setiap konten aritmetik jika dipresentasikan seperti cerita yang berkesinambungan pasti dapat dipahami dengan baik oleh anak-anak. Jika cerita tersebut dimengerti dengan baik, dan ditambah latihan soal, anak-anak dapat menyelesaikan 9 tahun pembelajaran aritmetika dalam 3 tahun. 

Dari website-nya, Prof B menyediakan dua macam format. Yang pertama adalah Mathematics Power Learning for Children books 1, 2, dan 3 dengan buku-buku soalnya. Setiap buku mencakup materi 3 level pembelajaran tetapi untuk menyelesaikannya hanya membutuhkan waktu hampir 1 tahun.
Book 1 (K - grade 2)
- Addition/Subtraction facts
- Counting to one hundred
- Lower addition and subtraction
- Higher addition and subtraction
- Place value fractional parts and order

Book 2 (grade 3 - grade 5)
- Multiplication/division facts and problem solving
- Introduction to fractions
- Fractional equivalence
- Addition/subtraction fractions

Book 3 (grade 6 - grade 8)
-Multiplication/division of fractions
- Decimals
- Percents
Power Learning for Children book 1
Format yang kedua adalah Instant Master Teacher E-Learning yang dilengkapi dengan program buku soalnya. Levelnya masih sama dengan format yang sebelumnya, tetapi penyampaiannya dalam bentuk presentasi power point. Kalau dalam bentuk buku hanya aritmetika saja, dalam bentuk E-Learning ini ditambahkan juga pelajaran tentang waktu dan uang (secara hitungan dollar). 
E-learning level 1
Kelebihan dari menggunakan Prof B:
+ Prof B membuat pelajaran aritmetik terlihat berkesinambungan dan alur dari bukunya seperti suatu cerita. Hal ini membuat anak-anak merangkai informasi yang didapat dengan baik.
+ Konsep tell the truth dalam pembelajaran matematika membuat anak mengerti mengapa kita melakukan perhitungan terhadap suatu angka. Misal saat melakukan penambahan, anak-anak akan mengerti kenapa kita menyimpan ke angka di depannya. Dan saat melakukan pengurangan, anak-anak akan mengerti kenapa kita dapat meminjam dari ratusan.
+ Dengan melakukan penghitungan sesuai cara mereka, tanpa kita sadari anak-anak dapat menghitung angka yang besar dengan cepat. 
+ Konsep place value yang jelas dan membantu dalam mempelajari perhitungan.
+ Perhitungan yang melibatkan angka sampai triliun membuat anak cepat menguasai konsep.
+ Karena konsep pembelajaran tidak berdasarkan tingkat kelas, tetapi pada pengelompokan materi pembelajaran, anak-anak yang memerlukan pengulangan tidak akan merasa tertinggal atau mengerjakan soal-soal di level yang lebih rendah. 
+ Karena di buku tersebut ada tulisan apa yang harus kita katakan dan lakukan, maka orang tua yang tidak merasa yakin dengan kemampuan mereka dalam mengajar matematika dapat menggunakannya.
+ Pendekatan perhitungan yang berbeda dengan cara tradisional membantu anak-anak mengerti konsep dengan lebih baik.  

Kekurangannya:
- Tulisan yang hitam putih yang bagi sebagian orang bisa jadi membuat matematika tambah menyeramkan. 
- Angka yang digunakan dalam penghitungan langsung sampai triliun. Jadi tidak dimulai dari penjumlahan ratusan seperti yang kita pelajari saat masih SD. Tentunya akan membuat kita kaget. Dan banyak yang menyerah dengan sistem Prof B.
- Karena Prof B hanya mencakup aritmetika (hitung-hitungan), maka kita harus mencari buku tambahan yang lain untuk melengkapi standard kurikulum yang ada.
- Orang tua harus mau meluangkan waktu untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum mengajar sehingga mengerti flow dari materi yang mau dijelaskan. Tetapi begitu mengerti, orang tua akan mudah untuk mengajarinya karena sistem pengajarannya berpola.

Kenapa kami memilih Prof B?
Diawali dengan mengajar dengan menggunakan buku The Power of Algebra (lanjutan buku-buku diatas) saat hamil kakak, saya melihat pendekatan yang digunakan Prof B dalam hal yang aljabar cukup baik. Selama ini dipandangan saya, buku matematika dari Amerika biasanya tidak sesusah buku Asia. Tetapi melihat soal-soal yang ada, rasanya sama tingkat kesulitannya. Setelah itu saya jadi penasaran dengan buku yang untuk tingkat SD. Karena melihat pendekatannya dan quote dari Prof B: 
To Him who keep me from falling
ini membuat saya suka dengan buku ini. Mengapa? Karena saya berpikir berapa banyak scientist yang tidak percaya Tuhan karena merasa dia pintar dan menguasai banyak hal. Padahal bagi saya, semakin saya belajar matematika, banyak hal yang membuat bahwa tidak ada yang pasti selain Tuhan saja. Dengan demikian penting bagi kita untuk tetap meletakkan Tuhan sebagai dasar dari pembelajaran kita. 
Power Algebra
Selain itu, walau hanya mencakup ilmu aritmetik, bagi saya penting meletakkan dasar bagi ilmu ini. Banyak anak yang melakukan kesalahan saat menghitung. Jadi kalau dasar yang ini sudah kuat, tentu saja lebih mudah bagi si anak mempelajari yang lain. Walau tentu saja ketelitian masih menjadi kunci dalam mengerjakan matematika.

Bagaimana dengan kendala yang ada? Bagi saya, yang menjadi kendala kadang bukan anaknya tetapi orang tuanya. Orang tua harus rela mengikuti pola pembelajaran yang pendekatannya berbeda dengan cara kita belajar saat SD. Karena saya suka dengan angka, diberikan pendekatan seperti ini merupakan hal yang menarik bagi saya. Tetapi banyak orang tua yang bingung dan akhirnya berhenti menggunakan buku ini.

Untuk masalah hitam putih, karena sudah terbiasa dengan CCC yang hitam putih, anak-anak tidak ada masalah. Sedangkan untuk pelengkap materi lainnya, seperti waktu, uang, berat dan panjang, saya menggunakan LKS matematika dengan kurikulum nasional. Jadi kami habiskan buku 1, lalu menggunakan LKS yang ada sampai materi kelas 2. Setelah itu kami sempat mengulang materi buku 1, supaya tidak terlalu cepat masuk materi buku 2. Dan bulan lalu kami mulai menggunakan buku 2. Tentunya secara bertahap, bahkan satu latihan soal saya bagi menjadi dua, dengan tujuan tidak terlalu mengejutkan bagi kakak.

Bagaimana dengan tools? Walau buku Prof B tidak memerlukan banyak tools, kami tetap menggunakan beberapa alat bantu, sesuai dengan materi yang sedang diajarkan. Bagi kakak pun lebih seru dengan adanya alat bantu.

Dengan adanya dua pilihan dalam bentuk buku atau e-learning, kami memilih menggunakan materi dalam bentuk buku. Selain masalah budget, dengan memilih yang dalam bentuk buku, anak-anak tidak terpaku dengan komputer dan elektronik lainnya.

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai harga dan sebagainya, bisa langsung dibuka di website resmi mereka http://profb.com/. Selain itu dapat juga dilihat di website lain seperti http://www.joycenter.on.ca/profb2.htm.

Kesimpulannya adalah kami senang memakai Prof B. Tetapi memang kurikulum akan kembali lagi kepada pertimbangan masing-masing keluarga. Sama seperti homeschool, jangan memilih kurikulum karena komunitas kita memilih kurikulum tersebut tetapi jangan juga takut mencoba jika kita merasa kurikulum atau buku tersebut bagus.

sumber foto: profb.com