Jumat, 02 Juni 2017

Tulang Tangan 101

Bulan lalu kegiatan science kami berhubungan dengan tulang. Kami tiba-tiba jadi belajar mengenai tulang karena kakak mengalami accident saat sedang berolahraga sehingga tulang di tangan kanannya retak dan bergeser. Akibatnya kakak harus dioperasi (tanpa pembedahan) dan menggunakan gips selama 15 hari. Bersyukurnya selama kakak di gips kakak termasuk anak yang tidak rewel. Makan pun ok, dan kakak cepat beradaptasi dengan gipsnya. Walaupun demikian, selama 3 minggu kegiatan belajar pun dimodifikasi menjadi kegiatan yang tidak menulis dan banyak membaca. Aktivitas pun dibuat yang mudah, yang dapat dikerjakan satu tangan, seperti bermain hydrogel ataupun membuat microphone.

Kami pun baru tahu bahwa jika gips dibuka bukan berarti tangan langsung dapat digunakan seperti biasa. Namanya juga otot yang kaku setelah diposisikan dalam posisi tertentu. Karena sakit dan traumanya itu, kakak sampai minta supaya pakai gips lagi. Dan sejujurnya masa-masa melatih tangan setelah gips dibuka lebih melelahkan dibanding saat tangan masih digips. Trauma akan rasa sakit dan sakitnya menggerakkan tangan yang sudah tidak digerakkan selama 2 minggu lebih mengiringi masa-masa ini. Untuk mengalihkan perhatian kakak akan sakitnya, saya mengeluarkan buku tentang tulang dan kakak pun membaca buku ini dengan rasa penasaran, apalagi berhubungan dengan keadaannya. 
Tulang tangan. Sumber foto: ilmusehatnya.blogspot.com
Dari buku tersebut kami mengetahui bahwa terdapat 27 tulang si setiap tangan manusia. Ibu jari kita memiliki 3 tulang dan jari-jari yang lain memiliki 4 tulang. Dengan kata lain, dari 27 tulang yang ada, 19 tulang adalah tulang jari-jari dan 8 yang lainnya adalah tulang pergelangan tangan. 

Dibagian lengan atas terdapat humerus yang menghubungkan bahu kita dengan siku. Dari siku hingga pergelangan tangan ada dua tulang yang menghubungkannya, yaitu radius atau tulang hasta dan ulna atau tulang pengumpil. Radius lebih tebal dari ulna. Radius mengarah pada ibu jari sedangkan ulna mengarah pada jari kelingking.

Rasa penasaran kami tidaklah berhenti sampai di situ. Kami sibuk menebak bagian mana yang retak. Maka saat kontrol lagi ke dokter, kakak bertanya kepada dokter tulang bagian manakah yang kemarin retak dan bergeser. Kebetulan saat itu kami membawa buku tentang tulang ini. Dokter dan suster cukup terkejut melihat anak umur enam bertanya tentang tulang. Akhirnya dokternya menunjukkan bagian yang retak adalah bagian tulang yang tipis di dekat funny bone.
Funny bone yang tidak lucu jika cedera.
Apakah funny bone? Funny bone atau tulang lucu merupakan titik sensitif di siku kita yang berisi syaraf-syaraf yang berujung pada ulna. Jadi sebetulnya funny bone bukanlah tulang. Ini adalah bagian yang menonjol di siku kita. Jika funny bone ini terkena benturan, terkadang kita merasakan perasaan yang agak geli dan sakit seperti ada rasa kesetrum. Kami baru saja tahu (pelajaran biologi yang saya dapatkan waktu SMA sudah ada yang terlupakan) setelah kami mengalami insiden ini. 

Di dekat funny bone terdapat tulang yang pipih yang berbentuk agak melengkung yang rawan terkena benturan. Jika terkena benturan yang cukup keras, tulang ini dapat retak seperti pada kasus kakak. Dari buku yang kakak baca, kakak menemukan bahwa tulang yang kuat dan bahkan sehat dapat patah atau retak jika jatuh atau terjadi kecelakaan. Apalagi saat jatuh terkena pada bagian tulang yang pipih dan mungkin hentakannya cukup keras. Jika terjadi keretakan berarti tetap ada yang patah tetapi hanya bagian luar tulang yang patah. Walaupun tidak sampai ke bagian dalam, tetapi serpihan-serpihan yang ada dapat berbahaya bagi syaraf dan aliran darah disekitarnya. Itulah sebabnya saat anak terjatuh atau mengalami kecelakaan jangan langsung dipijat dan sebaiknya di rontgen terlebih dahulu. 
Contoh mesin x-ray
Saat dirontgen atau di x-ray pun timbul lagi pertanyaan Duo Lynns. Kenapa tulang dapat terlihat saat di x-ray.  Lalu kenapa adik tidak boleh masuk untuk melihat. Maklum, Duo Lynns tidak takut dengan namanya dokter. Jadi saat dilarang masuk, adik malah galau. Dari buku ini juga kami menemukan jawaban dari pertanyaan kakak. Bagaimana cara kerja mesin x-ray? Mesin x-ray menembakkan elektron-elektronnya melalui tubuh kita. X-ray bergerak melalui daging tetapi sinar tersebut terhenti saat bertemu dengan tulang. Bagian tulang akan terlihat dengan warna putih dan bagian yang lain dengan warna hitam. Pada bagian yang retak, pada hasil rontgen akan muncul warna hitam yang membentuk garis tipis di tengah-tengah tulang yang putih. Karena radiasi dari elektron-elektron yang ada, maka adik tidak diizinkan masuk. Jawaban ini lumayan mendiamkan adik dan membuat adik mempunyai konklusi lain untuk meminta papa mencari film tentang mesin x-ray
Contoh foto x-ray dengan pen di dalam. 
Pertanyaan berikutnya muncul saat kakak digips. Tujuan dari gips adalah untuk menyusun kembali tulang yang retak atau patah sehingga tulang ini dapat bertumbuh kembali. Gips yang digunakan pun tergantung kadar patahnya. Terkadang dokter memberikan hard cast yang terbuat dari semen (plester of paris) dan terkadang soft cast yang terbuat dari fiber. Jika hard cast, tentu saja gips-nya dapat didekorasi. Sedangkan pada kasus kakak yang diberikan adalah yang soft cast. Mungkin karena retak dan tidak sampai patah yang parah.

Berapa lamakah gips dipasang? Rata-rata gips dipasang selama 2 - 8 minggu, tergantung dari jenis patahnya dan tergantung timbulnya tulang baru yang disebut callus. Callus ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kedua bagian tulang  yang patah dan diasumsikan sebagai lem tulang. Callus ini mulai timbul pada anak-anak dalam waktu 10 hingga 14 hari. Timbulnya callus merupakan penanda bahwa bagian yang retak atau patah sudah mulai mau sembuh.

Selain mengenal tulang tangan, kami juga seakan mendapatkan suatu ilustrasi. Penggunaan gips memang akan lebih nyaman bagi kakak, karena hanya sebentar dibanding orang lain yang harus menggunakan gips hingga 1 bulan. Apalagi saat digips memang pasti berkurang rasa sakitnya. Tetapi tidak mungkin selamanya tangan akan digips. Selain tangan tidak berfungsi sebagaimana harusnya, akan timbul masalah lain yaitu iritasi kulit, gatal-gatal, bengkak pada jari dan sebagainya. Memang saat pertama kali gips dibuka akan ada rasa sakit pada tangan. Tetapi jika kita mau untuk melatih sedikit demi sedikit dan bertahan melawan rasa sakitnya, maka tangan yang tadinya sakit akan pulih seperti semula. Begitu juga dengan kita. Saat kita dibelenggu oleh kebiasaan buruk kita, pastinya susah untuk melepaskan diri dari kebiasaan tersebut. Bisa jadi ada rasa sakit dan tidak nyaman. Tetapi jika kita tetap bertahan dan meminta bantuanNya untuk menghadapi segalanya, maka kita akan keluar sebagai pemenang. Puitis sekali bukan?

Hasil observasi kami mengenai tulang tangan dan tulang retak selesai saat tangan kakak dapat digerakkan seperti biasa. Tidak mudah memang melatih kakak untuk menggerakkan tangannya hingga lurus kembali. Tetapi kami mengingatkan kakak bahwa jika tidak dilatih maka tangannya tidak akan berfungsi dengan baik, sama seperti biasanya. Tepat saat kami memulai liburan kami, yang sudah disiapkan setahun sebelumnya, tangan kakak sudah lurus kembali. Praise the Lord

Tidak ada komentar:

Posting Komentar