Kamis, 31 Maret 2016

Why we choose homeschool?

Kenapa kok milih homeschool? Apa gak takut nanti anaknya gak bisa bersosialisasi? Nanti ujiannya gimana? Ijazah dari mana? Dan 1001 macam pertanyaan saat mendengar kami memilih homeschool buat anak-anak kami. Bahkan beberapa mungkin berpikir orang tuanya kepahitan dengan sekolah reguler.

Sebelumnya, ijinkan saya dengan segala hormat menekankan bahwa apapun pilihan kita terhadap pendidikan anak-anak kita pastinya didasari karena kita menyayangi anak-anak kita dan menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kita. Jadi ini tidak perlu diperdebatkan ya... Bagi saya dan suami, homeschooling is a better way for us.

Saya dan suami adalah produk sekolah umum. Suami saya dulu sekolahnya sekolah swasta dan saya sekolah negeri (unggulan bahkan). Suka gak dulu waktu sekolah? Saya mah suka, secara saya senang dengan banyak kegiatan. Dari kegiatan kerohanian, Pramuka (hidup Pramuka!), teater dan segudang kegiatan yang bisa membuat saya kabur keluar dari kelas 

Bahkan saya sempat mengajar di sebuah sekolah swasta. Dan secara biaya, pasti akan ada potongan biaya untuk anak dari karyawan yang bekerja di lembaga pendidikan. Setuju Bapak Ibu guru?

Nah, kalau saya dan suami adalah produk sekolah biasa, kenapa sekarang memilih untuk melakukan pendidikan di rumah? Well, lain dulu lain sekarang. Hehehe

Pemikiran mengenai pendidikan anak dimulai dari si kakak, Lynn A, berumur 9 bulan. Saat itu saya sudah menjadi ibu rumah tangga full time (pake buanget) dan tidak bekerja. Otomatis sumber lumbung hanyalah suami. Saya mulai melihat-lihat sekolah untuk si kecil yang bisa masuk dengan penghasilan suami. Iseng-iseng googling, searching sekolah-sekolah yang bisa masuk budget dan letaknya tidak jauh (ini penting banget, kan kasihan kalau anak kecil harus jalan jam 5 pagi untuk pergi ke sekolah demi menghindari macet). Sekolah yang saya suka dan sekolah tempat saya mengajar dulu, saya termasuk penggemar sekolah nasional dengan kurikulum berbasis agama, harga uang pangkal dan bulanannya saat itu sudah mahal bingits. Apalagi kalau si kakak umur 3 tahun. Sekolah-sekolah di sekitar tempat kami tinggal ada sih yang masuk budget, tetapi secara mutu kurang. Sayang asanya memasukkan anak ke sana kalau akhirnya saya juga harus membenarkan konsep-konsep yang salah yang diajarkan di sekolah.

Tiba-tiba suami, yang anti pol dengan homeschooling, berkata bagaimana kalau kita homeschool. Sayalah yang bereaksi, berpikir dulu. Kan lucu, masak mamanya dulu guru, eh anaknya homeschool.
Kami mulai berpikir apa tujuan kami mendidik anak kami. Kami menginginkan anak kami bertumbuh menjadi anak yang mengasihi Tuhan, mempunyai karakter yang baik (karena kalau ia berkarakter, pastilah ia punya manner yang baik), dan berpengetahuan sehingga bisa memberkati orang di sekitarnya nanti. Pasti dong, kita gak mau anak kita pintar tapi tidak berkarakter dan tidak punya manner atau pintar tetapi tidak mempunyai landasan iman yang kuat. Ternyata, tujuan pendidikan dalam homeschooling juga sama dengan apa yang kami pikirkan, berkarakter dahulu baru berpengetahuan. Sedangkan pendidikan di sekolah-sekolah yang saya lihat lebih menekankan ilmu dan ilmu dan ilmu, tetapi tidak bisa memantau secara kerohanian. Hal itu memang wajar karena ini adalah tanggung jawab orang tua, tetapi kebanyakan waktu anak kita dihabiskan di sekolah. Otomatis influence dari sekolah juga penting.
Kemudian tentang kurikulum di Indonesia yang bisa berganti tiba-tiba. Pengalaman saya, pernah dalam tahun yang sama, terjadi pergantian 2 kurikulum. Kadang ganti menteri juga ganti kurikulum. Kalau gurunya saja mabok, bagaimana murid-muridnya. 
Lalu kami mulai melihat dari segi biaya. Berbeda dengan sekolah umum yang harus tiap tahun beli buku, dan terkadang buku si kakak tidak dapat digunakan oleh si adik, dengan homeschool buku si kakak bisa dipakai adik dan adik dan adiknya lagi (tergantung jumlah anaknya ya temans). It sounds so good. Jadi kan biaya untuk ini bisa dialokasikan untuk si anak mengikuti les sesuai minat dan bakatnya, atau ditabung untuk mengajak anak jalan-jalan, ups eksplorasi kota-kota lain maksudnya.
Akhirnya kami berdoa. Karena tetap otoritas tertinggi atas anak kita adalah Tuhan, wong anak kan titipan Tuhan. Singkat cerita, kami memutuskan untuk mendidik anak kami di rumah, dengan saya sebagai pengajarnya. Tidak mudah memang, tetapi dengan visi yang ingin saya dan suami capai dan only by His grace, pasti bisa dijalani.

Homeschool yang kami lakukan di sini bukanlah memindahkan sekolah ke rumah dan memanggil guru untuk datang ke rumah. Homeschool yang kami lakukan adalah kami mendidik anak-anak kami karena sebagai orang tua yang dipercayakan untuk mendidik anak-anak kami, kami ingin anak-anak melihat kami sebagai contoh dan mendapat value dari kami.

Bagaimana dengan Anda, temans?



4 komentar:

  1. Balasan
    1. Thank you Ima... Masih belajar nih... Hehehe

      Hapus
  2. Yeay! So happy membaca ini :D
    Pergumulan banget ya ternyata untuk sampai pada keputusan homeschooling. And.. I am so proud of you Mom Peggy (and Dad, too). Terus bagikan pengalaman kalian ya...Siapa tau ada penerusnya nanti alias ada orang yg terinspirasi untuk homeschooling juga *me, maybe..hihihi*
    Pasti ada banyak kejadian seru dan mengejutkan di awal.. dan ada banyak temuan lain sepanjang perjalanan. Keep writing ya, dear.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you so much Da....Lagi mencoba konsisten menulis nih....Soalnya waktunya nyuri-nyuri pas anak-anak tidur.
      I'll be happy to share it, hoping that you will get inspired (yang artinya kalau terinspirasi kan berarti doa si tante terjawab sudah).hehehe...thanks dear :)

      Hapus