Jumat, 12 Agustus 2016

Belajar di Festival Habibie


Ada mobil tank juga loh, dan boleh dinaiki
Dalam rangka merayakan 80 tahun dedikasi dan komitmen masa depan Indonesia, maka dari tanggal 11 - 14 Agustus 2016 Habibie center mengadakan Habibie Festival di Museum Nasional. Apa saja sih yang ada di pameran tersebut? Menurut info yang saya dapatkan, akan ada pameran teknologi dan inovasi, workshop, science park, talk show, dan masih banyak lagi. Festival ini juga bertujuan untuk mengangkat inovasi-inovasi yang dihasilkan dari komunitas STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics) di Indonesia.

Hmm... Terdengar begitu menarik, apalagi yang kayak begini jarang banget kan diadakan. Saya pun mencoba mencari info di website resmi  habibiefestival.com. Website ini memberikan informasi yang lengkap tentang jadwal yang ada. Plus, yang menjadi nilai tambahnya harga tiket masuknya Rp 2.000,00 untuk anak-anak dan Rp 5.000,00 untuk dewasa. To good to be true rasanya.

Akhirnya saya pun mengajukan proposal kepada kepala sekolah, si papa, untuk pergi ke sana. Proposal disetujui dan kami memilih untuk datang pada hari pembukaan, yaitu tanggal 11 Agustus 2016. Berhubung sudah lama tidak ke situ dan takut parkirnya susah, maka kami memutuskan naik Grab. Bagaimana dengan sekolah anak-anak? Hari ini sekolahnya di museum ya, nak. Mobile ceritanya.

Saat kami tiba, antrian untuk masuk ke area museum sudah mulai panjang. Ternyata sekarang museum nasional sudah memiliki parkiran bawah tanah. Wah, kemajuan rasanya. Dan museum pun sudah dibuat lebih keren, tapi tetap saja jangan datang malam-malam ya... Spooky kalau malam.
Tiket masuk Museum Nasional.
Kami memasuki area pameran batik dari Batik Keris. Salah satu panitia dengan logat Jawa yang kental menyapa saya dan berkata monggo kalau anak atau ibunya mau mencoba membatik. Kami pun mencoba membatik. Seperti yang pernah kami bahas, membatik berarti menulis titik-titik pada selembar kain, kali ini membatik dilakukan pada kayu yang sudah diukir. Sementara kakak mau mencoba membatik, adik lebih tertarik untuk mewarnai kayu dengan cat dan kuas. Maka setelah kakak membatik, adik pun mewarnai dengan kuas. Setelah itu gantian kakak pun mau mencoba. Beberapa panitia mengabadikan kegiatan mereka. Lucu mungkin ada anak kecil yang mau membatik. Tak lama kemudian mulai banyak anak yang mau mencoba juga. Kami pun beranjak mencari kids corner, yang menyediakan aktivitas untuk anak-anak.
Kakak semangat membatik.
Kiri: Malam dan canting untuk membatik, Kanan: hasil karya membatik. 
Adik dan hasil karyanya.
Kakak dan hasil lukisannya.
Saat berjalan mencari kids corner, kami menemukan anak-anak SD Penabur dan SDN Gunung Sahari (rasanya anaknya sudah kelas lima atau enam) sedang mengikuti science show yang diadakan di area Da Vinci Learning. Kami pun mencoba mengikuti apa yang sedang dipaparkan. Mereka sedang mencoba memaparkan cara pembuatan slime dengan percobaan menarik. Dan tentunya, setiap percobaan melibatkan peserta yang ada, plus hadiah buku atau bulpen dari panitia.
Percobaan di Da Vinci Learning.
Yang tidak disangka-sangka, kami bertemu salah satu keluarga homeschooling di komunitas kami. Akhirnya kakak dan temannya L, yang lebih tua satu tahun dari kakak, melihat eksperimen yang ada bersama-sama. Eksperimen selanjutnya adalah memasukkan telur matang ke dalam tabung reaksi yang lehernya kecil. Triknya adalah dengan menaruh kapas, yang sudah direndam di alkohol,yang dibakar dengan api di dalam tabung, lalu letakkanlah telur di atasnya. Saat api di kapasnya sudah mati, maka telurnya pun masuk. Anak-anak yang menonton pun bertepuk tangan.

Bagaimana cara mengeluarkan telurnya? Posisikan tabung reaksi dengan terbalik, lalu tiuplah dari bagian lehernya. Maka telurnya keluar. Bagi saya, hal ini membuat science jadi lebih menyenangkan. Kita bisa menjelaskan segi ilmiahnya dengan contoh yang menarik. Apalagi si kakak minggu lalu sedang mempelajari udara yang bergerak.

Sayangnya acara science show ini sudah selesai. Sang pembawa acara, Mr. Cool dan Ms. Cool, memberitahukan bahwa pukul 13.00 akan ada workshop di kids corner. Sambil menunggu, Duo Lynns dan temannya, L, mencoba menyelesaikan science challenges.

Science challenges terdiri dari empat tantangan yang harus diikuti oleh anak-anak. Untuk setiap tantangan yang ada, jika telah mengikutinya, maka si anak akan dapat cap. Jika sudah dapat empat, maka tunjukkan saja cap tersebut ke panitia dan panitia akan memberikan sertifikat. Tantangan pertama berhubungan dengan mikroskop. Anak-anak akan diberikan empat sampel yang dapat dilihat dengan mikroskop. Anak-anak ini harus mencocokkan dengan gambar yang ada. Duo Lynns dan L bergantian untuk menggunakan mikroskop. Selesai mencocokkan, anak-anak mendapatkan cap di tangan mereka.

Tantangan berikutnya adalah magic mud. Permainan ini berfungsi untuk membuat anak tahu perbedaan cair dan padat. Sangat disayangkan banyak anak SD yang tidak mengerti artinya antri. Panitia yang bertugas sampai berkali-kali mengingatkan anak-anak SD ini untuk tidak rebutan dan saling mendorong. Melihat situasi yang tidak kondusif, akhirnya kami mengajak anak-anak untuk pindah ke magician challenge. Di sini anak-anak akan bermain trik sulap. Anak-anak akan diberikan tiga kartu. Masing-masing kartu berisi gambar skrup dan baut warna merah, kuning, dan hijau. Anak-anak diminta untuk memilih salah satu kartu, tanpa memberitahukan Mr dan Ms. Cool yang bertugas di stand tersebut. Setelah itu, anak-anak akan diberikan tiga skrup dan tiga baut seperti pada gambar di kartu tersebut. Tugas anak-anak adalah memasangkan baut pada skrup tersebut. Setelah itu skrup tersebut dimasukkan ke  dalam botol dan diputar-putar. Salah satu baut akan copot dari skrup yang sesuai dengan pilihan si anak.

Tiba-tiba angin bertiup kencang dan speaker serta standing banner jatuh menimpa anak-anak ini. Salah satu peserta terkena speaker dan L juga terkena tiang banner. Permainan dihentikan sementara. Setelah suasana mulai tenang dan sebagian panitia membetulkan posisi speaker, maka permainan dilanjutkan. Setelah selesai, maka anak-anak mendapatkan penjelasan tentang trik yang ada.

Disetiap kartu diberikan tanda sehingga petugasnya tahu apa warna skrup yang dipilih si anak. Setelah itu, mereka akan mengendorkan baut dari skrup yang sesuai dengan kartu yang dipilih si anak, dan memasukkannya ke dalam botol. Nah, di sini kuncinya. Si botol akan diputar berlawanan arah jarum jam, sampai baut dari skrup yang diinginkan copot. Entah ini gaya gravitasi, sentrifugal atau sentripetal, ilmu mamanya sudah dikembalikan ke tim Yohanes Surya, tetapi si anak menjadi semangat mempelajari trik ini. Pintar juga ya tim dari cool science ini.

Kami beranjak ke permainan bola ajaib. Bola ajaib ini lebih seperti alat mengantarkan listrik statis. Anak-anak akan memegang bola yang mengantarkan listrik statis. Rambut mereka akan naik ke atas, dan jika teman di sampingnya berani memegang mereka, maka rambut temannya juga akan naik ke atas. Adik memegang tangan kakak dan setelah itu tidak berani mencoba memegang bola sendiri, sakit katanya. Oya, bagi yang menggunakan alat pacu jantung tidak boleh mendekati mainan ini ya.

Tantangan keempat yang harus diselesaikan oleh anak-anak adalah magic mud. Setiap anak diberi cup kecil. Cup kecil ini akan diisi dengan tepung maizena dan air dengan pewarna. Lalu anak-anak diminta untuk mengaduk sampai semua tercampur dengan rata. Hasilnya, dari luar campuran ini terlihat seperti cair. Tetapi saat kita memasukkan tangan kita, maka akan ada bagian yang padat dan berat untuk ditarik.

Lengkaplah sudah empat cap anak-anak. Mereka pun mendapatkan sertifikat. Selagi mereka sibuk memperhatikan magician's tricks, saya dan mami L bertanya tentang jadwal yang ada pada panitia. Panitia, dari cool science, merupakan mobile organizer untuk science, yang biasa akan datang ke sekolah-sekolah yang mengundang mereka. Panitia menjelaskan bahwa science challenges akan selalu sama setiap hari, tetapi workshop yang ada akan selalu berbeda. Kami berdua jadi tertarik untuk datang lagi besok.
Kiri atas: Magician  tricks, Kanan atas: Bola ajaib.
Kiri bawah: Magic mud. Kanan bawah: mikroskop.
Sambil menunggu waktu workshop, kami meninjau kids corner. Sungguh tidak disangka bahwa kids corner penuh dengan aktivitas menarik untuk anak-anak. Ada layar touch screen yang menampilkan alat musik dari berbagai daerah di Indonesia. Jadi saat disentuh, maka akan keluar suara sesuai dengan alat musiknya. Ada juga layar touch screen yang menampilkan rumah-rumah adat tiap daerah dan keterangannya. Selain itu ada alat musik khas Indonesia seperti kolintang, angklung, dan sasando.Selain alat musik, mereka menyediakan beberapa buku bacaan, puppet show, menghias kendi, dan mewarnai. Tiga anak ini sibuk berkeliaran sana sini. Karena sudah jam makan siang dan tadi kami sudah brunch, maka si papa membelikan cemilan untuk dimakan. Peraturan di sini adalah tidak boleh makan atau minum di dalam ruangan. Jadinya kami ke depan untuk mengisi perut supaya anak-anak tidak begitu kelaparan.
Kids corner dan hiburannya, ada congklak juga loh.
Serunya mereka....
Sasando
Saat kami ke depan, ada meja pendaftaran dan saya berpikir ini adalah tempat mendaftarkan anak-anak untuk workshop. Ternyata pendaftaran berada di atas. Maka si papa naik ke atas unutk mendaftarkan ketiga anak ini. Ternyata oh ternyata, kami masuk waiting list, karena sudah ada dua sekolah negeri yang mendaftarkan murid-muridnya. Berhubung kami cuma sedikit dan ruangannya besar, atau mungkin panitia kasihan melihat muka kami yang memelas, maka kami diberi ijin masuk oleh panitia. 

Workshop kali ini membahas mengenai bagaimana pesawat bisa bergerak. Hampir mirip dengan yang di air and space museum, tetapi yang dipaparkan hanya sedikit. Rasanya tiga anak ini merupakan peserta terkecil dan menyempil di bagian belakang. Tim dari cool science mengajak anak-anak membuat pesawat hoop plane yang terdiri dari sedotan dan kertas berbentuk lingkaran yang ditempelkan di kedua sisi. Pesawat ini tidak mempunyai sayap, tetapi masih bisa terbang. Kuncinya adalah dua lingkaran yang ditempelkan tersebut haruslah sejajar posisinya. Menarik juga :)
Anak-anak diminta untuk maju oleh tim Cool Science.
Workshop ini berlangsung selama tiga puluh menit. Setelah selesai, masih banyak workshop lainnya di Da Vinci Learning. Sayangnya kami harus segera pergi. Maka kami berjalan ke atas dan melihat salah satu ruangan museum yang berisi artefak-artefak. Sekalian sudah sampai di daerah pusat, maka kami berencana naik transjakarta menuju Sarinah untuk mengajak anak-anak makan di Mc Donalds. Biar anak-anak dapat pengalaman naik transjakarta :) 
Manusia purba yang ada di museum.

Museum Nasional, pawang dan gajahnya.
Atas: Monas yang kami lihat dari tempat menunggu transjakarta.
Bawah: Duo Lynns yang semangat menunggu burger.
Bagi yang mau datang, masih ada tiga hari lagi nih, ada beberapa tips yang mungkin berguna:
1. Bagi yang membawa backpack, backpack-nya harus dititipkan. Jadi sebaiknya si kecil membawa tas yang bisa berisi botol minum dan snacks. 
2. Di taman terdapat bazaar makanan, jadi kalau mau membeli makanan pun bisa. 
3. Bagi yang mau membawa bekal, diperbolehkan loh, sekalian piknik gitu. 
4. Untuk workshop, sebaiknya daftar dulu. Apalagi kalau ada sekolah-sekolah lain. Mungkin kalau perorangan masih bisa disempilin.
5. Selain melihat pameran, bisa juga melihat museumnya. Museumnya sudah bagus sekarang.
6. Bagi yang mau mengunjungi mobile planetarium, silakan daftar dulu karena antrinya panjang, padahal nontonnya cuma 15 menit.
7. Jangan datang di hari terakhir, karena membludak dan orang-orang yang datang lumayan semaunya.

Semoga pameran seperti ini diadakan lagi di tahun-tahun berikutnya :)

Sedikit update foto hari kedua....
Pameran di dalam exhibition hall
Makanan di Bazaar.
Di dalam ruang kokpit.

Festival Habibie 
Tanggal pameran: 11 - 14 Agustus 2016
Waktu operasional: 09.00 - 17.00
Tempat: Museum Nasional (museum gajah), dekat Monas. 
HTM: 
Anak-anak: Rp 2.000,00 
Dewasa: Rp 5.000,00 


Cool Science
Email:coolscienceindonesia@gmail.com
Ph: +62 21 7888 9985

3 komentar:

  1. trims sharenya ya tante peggy..

    BalasHapus
  2. Sama-sama Ari... Selamat mengajak krucil di rumah :)

    BalasHapus
  3. Sedikit update untuk hari terakhir. Kali ini iseng mengunjungi Festival Habibie di hari terakhir, walau sudah menduga pasti akan ramai tak terkendali. Tetapi tetap saja gemes saat melihat orang-orang buang sampah bekas makanan (gelas hop hop, bungkus snack, sampai bungkus susu bubuk), kertas-kertas, dan segala macam kotoran lainnya. Belum lagi area yang harusnya untuk science show dipenuhi oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang sibuk makan di situ, padahal sudah ada tempelan dilarang makan dan minum di situ. Sampai kasihan melihat muka si Jerman (orang pusat Da Vinci learning) yang tampangnya semrawut dan bisa berkata kepada kami untuk jalan-jalan dulu dan kembali ke sini saat science show akan dimulai. Belum lagi antri tiket yang saling dorong (seorang nenek sibuk mendorong kami), dan orang yang sibuk selfie dengan patung-patung sambil senderan (bahkan ada pengumuman di loud speaker berkali-kali agar patung jangan disenderi ataupun dinaiki).
    Saat turis-turis asing yang datang ke sini serius untuk mengenal sejarah, sampai mereka bingung melihat tingkah pengunjung, kok kita malah sibuk 'merusak' peninggalan yang ada. Ini merupakan cerminan yang memilukan...
    Untungnya anak-anak sudah puas di hari pertama dan kedua Festival ini. Memang kalau ada pameran lebih baik datang pas hari biasa, jangan datang pas weekend (opini pribadi)

    BalasHapus