Jumat, 09 Juni 2017

Your Legacy matters

Bulan lalu kami mengadakan homeschool meeting per 3 bulan atau triwulan. Berbeda dengan Mom n Kids Meeting yang diadakan setiap bulan, di pertemuan triwulan ini diharapkan ayah-ayah dapat datang dan orang tua diperlengkapi. Pada pertemuan triwulan kemarin, kami diperlengkapi oleh keluarga Badudu. Kami bersyukur untuk waktu yang disediakan bagi kami, di tengah kesibukan beliau-beliau ini. Tema yang diangkat kali ini adalah mengenai Father’s Legacy atau jika diterjemahkan menjadi Warisan Ayah. Berikut adalah sedikit ringkasan dari pertemuan kami saat itu. Tentu saja mendengar langsung dari yang bersangkutan akan lebih enak dan lengkap. Artikel ini dibuat supaya kami mudah untuk menyimpan catatan kami, dan juga gagasan yang muncul saat mendengarkan beliau, dalam bentuk elektronik dan dalam bahasa kami. 

Topik warisan memang selalu hangat dan sedang hangat-hangatnya dibicarakan dalam masyarakat kita. Di kamus bahasa Indonesia (kbbi.co.id), kata warisan berasal dari kata waris yang berarti orang yang berhak menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal. Warisan didefinisikan sebagai sesuatu yang diwariskan. Apa saja sih yang dapat diwariskan? 

Ada tiga bentuk warisan yang dapat diberikan pada generasi berikutnya, yaitu Inheritance, heritage, dan legacy. Inheritance disini berarti harta kekayaan, nama baik, bakat, sifat, keterampilan, dan sebagainya yang bersifat nampak. Sedangkan heritage lebih kepada tradisi keluarga, kebudayaan, dan nilai-nilai keluarga. Dua hal ini lebih cenderung kepada meninggalkan sesuatu untuk generasi selanjutnya. 

Sedangkan legacy lebih cenderung kepada meninggalkan sesuatu di dalam seseorang, seperti hidup dalam kebenaran, mengasihi firman Tuhan, mempunyai iman yang kuat, dan sebagainya. Sebagai orang tua, yang paling ingin dilihat saat anak-anak dewasa adalah mereka hidup dalam kebenaran, seperti dalam 3  Yoh 1:4. Sebab jika mereka hidup dalam kebenaran, maka akan ada hal-hal yang luar biasa yang Tuhan sediakan anak-anak kita. Untuk melihat mereka berhasil dan hidup dalam kebenaran, maka apakah yang harus dilakukan orang tua? Peran kita sebagai orang tua, khususnya Ayah, adalah menyampaikan kebenaran tersebut setiap saat dan dalam segala keadaan sehingga anak-anak kita mencintai Firman Tuhan (Ulangan 6:4-9, Mazmur 1:1-3). Jika kita sebagai keluarga hidup dalam kebenaran, maka segala hal, termasuk keberhasilan, akan diukur dengan prinsip Firman Tuhan.

Satu point penting yang beliau sampaikan adalah saat kita menarik anak dari sekolah dan memilih homeschooling bukan karena kita ingin menjadi pesaing bagi sekolah yang ada. Homeschooling pasti lebih melelahkan bagi orang tua, tetapi ada sukacita tersendiri saat kita melakukan panggilan kita dan kita dapat mewariskan kebenaran dalam hidup mereka. Melalui homeschooling kesempatan kita untuk menanamkan kebenaran akan lebih besar. Tentu kesempatan yang sangat berharga bukan. Jadi bagi setiap kita yang mendapatkan panggilan itu, jalankan saja panggilan tersebut dan setialah dengan panggilan itu, maka Tuhan akan memperlengkapi kita. Kami seakan deja vu, karena biasanya kami sering berkata seperti ini kepada siapapun yang bertanya kepada kami. Dengan kata lain, kata-kata beliau seakan memperteguh pemikiran-pemikiran kami. It's a calling and we don't need human's approval.

Apakah yang menjadi prioritas warisan Ayah kepada anak? Yang pertama adalah hubungan Ayah yang bersifat pribadi dengan Allah. Semakin dalam hubungan Ayah dengan Allah, semakin besar hal yang dapat diwariskan pada anak. Bukan berarti sang ayah sangat sempurna. Namanya juga manusia, terkadang dapat 'khilaf', tetapi anak dapat melihat perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik pada Ayah. Apakah dampaknya pada anak? Anak lebih mudah bertumbuh di dalam iman, anak lebih mudah terlibat dalam pelayanan, dan anak lebih besar kemungkinannya untuk berhasil sesuai dengan kriteria di Mazmur 1 diatas. 

Yang kedua adalah hubungan Ayah yang dekat dan saling mengasihi dengan Ibu. Jika anak melihat kasih antara Ayah dan Ibu begitu besar, maka anak lebih terbentuk menjadi pria atau wanita atau sesuai dengan kodratnya. Selain itu anak lebih fasih dalam pergaulan sosial dan lebih mudah memperlakukan lawan jenis sebagaimana mestinya. Jika ibu lebih dominan, biasanya si anak perempuan akan lebih dominan. Apapun temperamen yang dimiliki oleh sang Ibu, tetap seorang Ibu harus tunduk pada otoritas Ayah. 

Seringkali Ayah menyerahkan urusan pendidikan kepada sang Ibu, dengan asumsi yang penting Ayah menyediakan dananya. Peran Ayah tentu saja bukan hanya sebagai sumber ATM keluarga, tetapi Ayah juga harus mempunyai hubungan dengan anak. Beliau berkata seringkali beliau menjumpai keluarga yang Ayah dan Ibunya dari muda sibuk melayani bahkan sampai menikah pun masih melayani. Tetapi mereka sibuk melayani dan ayahnya menyerahkan urusan anak-anak hanya kepada Ibu. Dan akibatnya anak-anaknya berantakan. Bahkan saat anak-anaknya berkeluarga, keluarganya pun berantakan. Kami pun sering melihat hal seperti itu. Orang tua yang sibuk melayani dan anak-anak yang tidak terurus atau bahkan menyuruh orang untuk mengurus anak mereka. Menurut kami, kata kuncinya adalah walaupun kita melayani bukan berarti kita sibuk melayani dan membiarkan anak kita atau meminta anak kita diurus orang lain. Oleh sebab itu orang tua boleh melayani, hal ini dapat mendorong anak agar ingin melayani saat mereka besar, tetapi tetap tanggung jawab ada di Ayah dan Ibu. Peran orang tua harus jelas. 

Yang ketiga adalah hubungan Ayah yang dilandasi saling percaya dan saling membangun dengan anak. Semakin besar hubungan ayah dengan anak, maka anak akan berkembang maksimal sesuai dengan potensinya. Selain itu dengan adanya peran Ayah yang tepat, maka anak lebih mudah terbentuk menjadi percaya diri dan anak mudah percaya dan taat kepada Allah. 

Untuk dapat menyampaikan kebenaran dan legacy itu terhadap anak-anak, antara Ayah, Ibu dan anak-anak harus ada hubungan yang kuat dan dekat. Hubungan yang dekat ini mempermudah proses legacy kepada anak-anak kita. Dan ayah sangat berperan penting dalam hal ini. Salah seorang senior saya di pelayanan anak (yang juga berkecimpung dengan dunia pendidikan anak) pernah mengatakan akan mudah bagi seorang anak menyayangi ibunya, karena sudah ada koneksi yang dibangun sejak anak masih dalam kandungan. Jadi kalau ibu marah ke anak, anak tidak akan menyimpan lama. Tetapi akan berat bagi seorang ayah. Anak lebih mudah mengingat 'dosa' ayah. Itulah sebabnya penting bagi seorang ayah untuk membangun hubungan dengan anak. Dan saat kemarin, hal ini juga disampaikan lagi. 

Bapak Rizal dan Ibu Rina juga memberikan beberapa alternatif metode untuk membangun hubungan antara ayah dengan anak yang pernah mereka terapkan. Diantaranya:
1. Buku komunikasi dengan anak
Kecenderungan seorang ayah untuk ngomel saat anak berulah biasanya besar. Daripada meledak dan marah, dan membuat hubungan tambah kurang baik, maka alternatif buku komunikasi ini dapat menjadi solusi. Contoh yang beliau berikan, saat anaknya berulah, beliau memberikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan ulah anak tersebut dan anak tersebut menjawab. Secara tidak langsung si anak jadi cool down dan berpikir dengan tenang. Sedangkan si ayah tidak perlu emosi sekali dengan anak. 

2. Surat cinta untuk anak
Surat cinta disini tidaklah panjang seperti yang dibayangkan bapak-bapak. Cukup cari gambar, print dan berikan tulisan di dalamnya. Seperti encouragement, pujian, tanda sayang dan sebagainya. Jadi bagi bapak-bapak yang bahasa kasihnya bukan kata-kata atau yang tidak punya bakat menggombal, seperti si papa, tidak usah takut untuk membuatnya. 

3. Materi bacaan bersama 
Acara membaca bersama yang dilakukan secara rutin dapat membangun ikatan yang kuat. Kami pun melihat manfaat dari kegiatan membaca bersama dari saat mereka masih di dalam kandungan, dengan intonasi yang seru, sangat diminati Duo Lynns. 

4. Aktivitas one-on-one secara rutin
Bagi keluarga yang memiliki anak laki-laki, aktivitas ini dapat dilakukan dalam bentuk olahraga. Sedang bagi keluarga dengan anak perempuan, acara hang out bersama ayah dapat menjadi contoh aktivitas ini. Saat ayah dan anak perempuan melakukan acara hang out, yang sederhana seperti makan ice cream berdua, ayah dan anak dapat menggunakan waktu untuk mengobrol ini itu tanpa adanya omelan. Aktivitas one-on-one juga dapat dilakukan oleh kedua orang tua. Tentu saja setiap keluarga punya keunikan masing-masing. Kalau bagi kami, tidak harus keluar rumah, tetapi dapat dilakukan dengan meluangkan waktu bersama saat anak-anak sudah tidur. Kami dapat ngobrol sambil nyemil atau minum teh. 

5. Bermain bersama
Acara bermain bersama dewasa ini mulai agak langka. Bahkan ayah sibuk bermain gadget dan anak bermain gadget. Acara ini harus diset waktunya, karena jika tidak diset kecenderungannya akan tidak berjalan dan akhirnya kembali sibuk dengan gadget-nya. Selain yang diset waktunya, yang spontanitas juga boleh dilakukan. Dengan adanya permainan yang dapat dimainkan bersama, ikatan perasaan antara ayah dan anak terjalin dengan baik.

6. Banyak mengobrol dan bergaul dengan teman anak-anak
Seringkali orang tua tidak mengenal sahabat dari anak-anaknya. Tetapi jika orang tua mengenal teman-teman anak-anak mereka, anak-anak akan merasa bahwa orang tua mengenal mereka dan teman-temannya dan merasa  bahwa teman mereka juga penting bagi orang tua mereka.

Kami sendiri punya kecenderungan bercakap-cakap dengan setiap teman anak-anak, baik di gereja maupun di tempat les. Bagi kami, saat kami mengantar anak ke tempat les atau kelas di Sekolah Minggu, kami tidak langsung meninggalkan anak atau langsung menyuruh mereka masuk sendiri sementara kami menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan orang-orang dewasa lainnya. Kami menyediakan waktu 5 sampai 10 menit untuk berbincang-bincang dengan teman-teman mereka (baru setelah itu berbincang-bincang dengan orang dewasa lainnya), bahkan mereka dengan senang hati bercerita dari A sampai Z kepada kami. Jika mereka melihat kita menjadi temannya teman mereka, otomatis bahan pembicaran antara kita dengan anak-anak lebih banyak lagi. Bahkan kami dapat mendoakan teman-teman mereka, karena naturnya anak kecil senang mendoakan siapapun yang mereka temui. Kami dapat mengetahui karakter teman-teman mereka. Dan saat mereka ABG, masa dimana penuh rahasia dengan orang dewasa, teman-teman mereka pun nyaman bercakap-cakap dengan kita. 

7. Cari dan usahakan untuk lakukan hobi yang sama
Untuk yang satu ini sering kali ada unsur rekayasa. Usahakan ada minimal satu hobi yang sama atau kesukaan yang sama. Selain mempermudah urusan les, tentu saja ada bahan pembicaraan yang sama.

8. Bekerja bersama
Urusan rumah tangga dapat menjadi alat pengikat antara Ayah dengan anak. Adanya pembantu bukan berarti anak tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumah. Biasakan anak melakukan bersama, seperti memasang pohon natal atau membersihkan rumah. Dan biasanya saat anak melihat kita melakukan pekerjaan rumah, tanpa disuruh pun mereka ingin untuk terlibat dalam pekerjaan tersebut.

9. Melatih anak dalam beberapa keterampilan 
Keterampilan di sini bukanlah keterampilan yang rumit. Cukup sederhana saja tetapi dapat membuat ayah dan anak menghabiskan waktu bersama. 

10. Usahakan sebanyak mungkin hadir dalam aktivitas anak, terutama dalam acara yang spesial
Kehadiran Ayah dalam acara yang istimewa mempunyai arti penting bagi anak. Dengan adanya perencanaan dan jadwal yang ada, maka Ayah yang sibuk pun dapat hadir dalam acara yang spesial. 

11. Membaca Alkitab bersama 
Membaca Alkitab bersama akan menjadi ritual jika hubungan antara Ayah dan anak tidak pernah terbentuk. Dengan kata lain, untuk dapat melakukan ini, hal-hal diatas sudah harus terjalin sehingga hubungan antara Ayah dan anak sudah terbentuk. Acara membaca Alkitab bersama pun dapat dilakukan sejak anak-anak masih dalam kandungan. Saat mereka masih kecil pun acara membaca Alkitab dapat disesuaikan dengan kemampuan mereka membaca.

Di keluarga kami, kakak mempunyai renungan di pagi hari dengan menggunakan Kiddy, sementara adik menggunakan Alkitab bergambar. Dan di malam hari, kami bersama-sama membaca lagi yang dipimpin oleh papa. Dan biasanya saat membaca Alkitab secara bersama-sama, akan muncul pertanyaan-pertanyaan tidak terduga =D

12. Bertumbuh dan melayani bersama
Anak-anak tahu bahwa orang tua mereka bukanlah orang tua yang sempurna. Tetapi anak akan melihat bahwa ada perubahan-perubahan yang dapat dilihat dari orang tua. Ini berarti baik orang tua maupun anak bertumbuh bersama. Acara melayani bersama juga merupakan suatu kebahagiaan bagi anak-anak. Pemahaman bahwa kita melayani karena Tuhan baik bagi kita bukan karena kita mampu harus ditanamkan kepada anak-anak sehingga ke depannya anak-anak sadar melayani karena kasih pada Tuhan.

Kedua belas hal diatas tidak harus dilakukan sekaligus, tetapi bisa dipilih yang mana yang harus dilakukan terlebih dahulu. Kalau bagi kami, buku komunikasi dan surat cinta menjadi sesuatu yang baru bagi kami. Biasanya sih hanya mama yang suka membuat surat cinta bagi anak-anak. Tetapi ternyata jika Ayah yang membuat terasa berbeda sekali.

Semakin banyak hal yang dapat dilakukan bersama dengan anak, maka akan semakin mudah Ayah memberikan 'warisan' atau legacy tersebut. Lalu, apakah Ibu tidak berperan apa-apa? Tentu saja ada. Kita sebagai Ibu dapat menopang para Ayah dalam melaksanakan tugasnya :)  


sumber foto: focus on the family


2 komentar:

  1. Tulisan yang dalam dan begitu berisi mbak. Saya setuju dengan apa yang mbak tulis, hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you :)
      Sebagian merupakan materi yang disampaikan oleh senior kami, dan memang isinya sama dengan apa yang kami pikirkan :)

      Hapus