Minggu, 23 Mei 2021

Bolehkah Memperkenalkan Dua Bahasa Dari Kecil?


”Bahasa Inggrisnya bagus ya. Waktu anak-anak bayi, diperkenalkan bahasa apa dulu?”

”Ih, memang boleh langsung dua bahasa sekaligus saat anak-anak masih kecil?” 

”Bahasa ibunya dulu yang diajarin dong, baru bahasa lain. Nanti anaknya gak bisa ngomong loh.”

”Anaknya diajak ngomong bahasa Inggris, memang dia sudah ngerti?” 

”Apa sih ketentuan memperkenalkan bahasa ke bayi?” 

”Bagi dong tips supaya anak-anak bisa bilingual dari kecil?”


Pertanyaan-pertanyaan diatas sering sekali ditanyakan oleh keluarga-keluarga lain kepada kami. Tentunya ada yang bertanya dengan rasa penasaran (terutama saat anak-anak sudah besar). Ada yang bertanya dengan sedikit ngenyek (terutama saat anak-anak masih kecil). Ya, dimaklumi memang. Di negara 62 ini segala pertanyaan mungkin bukan? =D

Sejak anak-anak masih di dalam kandungan, saya dan suami memang berniat untuk memperkenalkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sedini mungkin. Alasannya adalah karena keluarga kami ada yang tinggal di luar negeri. Jadi supaya anak-anak dapat berkomunikasi dengan sepupu-sepupunya yang diluar, alangkah lebih baik jika mereka juga bisa mengerti percakapan dalam Bahasa Inggris. Jadi bukan untuk gaya-gayaan, supaya anaknya sok londo ya.

Lalu, apakah hasil dari memperkenalkan dua bahasa sedini mungkin? Anak-anak, sejak bayi mengerti setiap kata-kata yang kami katakan kepada mereka, baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Dan uniknya, mereka memilih sendiri bahasa apa yang akan mereka gunakan. Kakak lebih lancar Bahasa Inggris dulu, sedangkan adik lebih lancar Bahasa Indonesia.  Tetapi mereka dapat berbicara dalam dua bahasa tersebut.

Tetapi untuk mendapatkan hasil seperti itu, tentunya tidak sim salabim langsung jadi. Ada beberapa hal kami lakukan dan dapat menjadi tips bagi orang tua yang ingin mencobanya. 

1. Selalu berkata-kata dengan pelafalan yang benar

Cucu yang sering berarti susu
 
Biasanya orang senang berbicara dengan bayi dengan mencadelkan pelafalannya. Contohnya lebih suka bilang cucu daripada susu, pelafalan l menjadi y, pelafalan r menjadi l. Kami lebih suka berkata sesuai dengan kata-kata yang seharusnya. Tujuannya adalah supaya si anak bisa berbicara dengan baik. Itulah sebabnya, saat anak-anak lain cadel huruf s, anak-anak di rumah tidak ada yang cadel huruf s.

2. Ayah dan Ibu konsisten berbicara dengan dua bahasa yang berbeda

Waktu kecil, saya punya teman yang mamanya orang Spanyol dan papanya orang Indonesia. Sejak kecil, dia bisa berbicara dua bahasa secara lancar. Kemudian saya amati, orang-orang yang dapat pasangan berbeda negara (tepatnya beda bahasa), anak-anaknya bisa lancar bicara dengan bahasa berbeda. Dari situ, saya berpikir bahwa kalau mau anaknya bisa dua bahasa, maka kami harus konsisten mengajak bicara dengan bahasa yang berbeda. 

Saya pun mencoba mencari tahu. Dan ternyata memang riset membuktikan kalau kedua orang konsisten berbicara dalam dua bahasa berbeda sejak si anak masih bayi, maka anak akan memahami bahwa dengan si A dia harus berbicara bahasa si A dan dengan si B dia harus berbicara bahasa si B.Kami pun menerapkan hal ini sejak anak-anak masih dalam kandungan (setiap hari anak-anak memang sudah diajak bicara dan dibacakan Firman Tuhan sejak dalam kandungan).

Yang menjadi permasalahan adalah kadang si A berbicara dengan bahasa A dan B bersamaan. Ini yang membuat anak lama untuk memproses bahasa apa yang harus dikeluarkan. Jadi konsistensi, karena anak belajar by pattern, adalah hal yang penting. 

3. Rajin membacakan anak cerita dan mengajak bernyanyi

Alkitab Kecil, bacaan pertama yang dibaca anak-anak

Stimulasi sangat diperlukan oleh otak manusia. Demikian juga halnya dengan memperkenalkan bahasa. Semakin sering diperkenalkan, maka semakin mudah si anak memahami bahasa tersebut. Cara yang mudah untuk menstimulasi anak adalah dengan cerita dan lagu. Saat anak-anak masih bayi, kami biasanya membacakan sedikitnya satu cerita Alkitab sebelum tidur. Sedangkan lagu, hampir setiap saat ada lagu yang didengar mereka, terutama saat makan dan saat berada dalam mobil (kami tidak membiasakan anak menonton saat makan dan saat berkendaraan). 

Salah satu koleksi yang dibeli sejak kakak masih dalam kandungan

Saat  anak-anak sudah berusia diatas 1 tahun, bacaan mereka pun menjadi lebih bervariasi. Selain cerita Alkitab, tugas malam untuk papa adalah membacakan cerita anak-anak. Gaya berceritanya pun seru sekali, seperti didongengkan begitu. Lagu-lagu pun menjadi lebih variatif. Dari bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, bahkan Korea. Lalu apa anak jadi bingung? Tidak sih, mereka tetap tahu harus berbicara bahasa apa dengan siapa. 

Salah satu dongeng anak-anak

4. Harus berani bawel

Namanya ngajar anak ngomong, ya kita harus berani bawel. Memang dia mengerti kalau kita ngomong terus? Eits, jangan salah. Tuhan menciptakan manusia dengan begitu luar biasa. Saat kita berbicara dengan mereka, mereka pun dapat memahami maksud dari yang kita utarakan loh. Dan memang komunikasi dua arah akan membantu si anak untuk lebih cepat dapat berkata-kata.

”Tapi saya maunya anak saya bisa bahasa Indonesia dulu, kan kita tinggal di Indonesia. Jangan sok bule.” 

Pernyataan tersebut sering kami dengar. Mungkin perlu digarisbawahi bahwa masalah memperkenalkan bahasa juga merupakan preferensi masing-masing keluarga. Ya kalau mau satu bahasa dulu, baru bahasa yang lain menyusul juga monggo. Itu semua sesuai kebutuhan masing-masing keluarga juga.

Contohnya pada saya sendiri (biar gak repot cari contoh). Saya juga waktu kecil ngomongnya bahasa Indonesia dulu. Padahal almarhum papa saya jago bahasa (Inggris, Mandarin, Madura, Jawa, Sunda, Padang) dan mama saya juga biasanya berbicara dalam bahasa Jawa dengan keluarganya. Tetapi mama saya mengajari anak-anaknya bicara dalam bahasa Indonesia dulu. Alasannya sederhana, supaya logat atau dialek daerah tidak keluar saat berbicara bahasa Indonesia. Jadi kalau harus berpindah tempat (kami dulu sering berpindah tempat mengikuti pekerjaan papa), kami bisa berbicara bahasa Indonesia dengan benar. See...sesuai kebutuhan. 

Apakah tidak takut anaknya jadi mengalami keterlambatan dalam berbicara? Menurut kami, selama anaknya memang tidak memiliki gangguan tumbuh kembang, maka tidak masalah jika langsung memperkenalkan dua bahasa sejak dia masih bayi, asalkan konsisten. Keponakan kami ada yang dari lahir langsung mendengar tiga bahasa (ada nenek buyutnya yang hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa daerah). Memang saat anak seusianya sudah ngomong, dia belum. Tapi beberapa bulan kemudian (masih dalam range umur untuk berbicara), dia bisa keluar tiga bahasa tersebut. 

Namun jika memang terdeteksi ada masalah tumbuh kembang pada si anak, maka sebaiknya fokus ke satu bahasa saja. Jadi bukan dibalik ya. Banyaknya bahasa yang diperkenalkan bukan menyebabkan si anak mengalami speech delay.

Sekarang pun kami memperlakukan hal yang sama ke si bayi. Outputnya apa? Masih belum ketahuan. Walau rasanya di umur yang sama kakaknya sudah banyak kosakata yang keluar dibanding dia, namun terlihat bahwa dia bawel sekali dengan bahasa bayi dan sign language dia =D
Sumber foto: Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar