Rabu, 21 Juli 2021

Bagaimana Cara Menyusun Academic Year Planning?

 


Tak terasa satu semester di tahun 2021 sudah berlalu. Kita sudah berada di bulan Juli. Kalau di sekolah mah, tahun ajaran baru namanya. Guru-guru akan sibuk rapat kerja alias raker, menyusun program, dan sebagainya. 

Nah, memasuki tahun ajaran baru, biasanya mama-mama homeschool sudah sibuk dengan yang namanya perencanaan tahun ajaran atau academic year planning. Ada yang semangat membuat perencanaan untuk tahun ajaran yang baru. Ada juga yang belum membuat, tetapi sudah bingung mau ngapain.

Hal ini sangatlah wajar (garisbawahi kata wajar ya, moms). Apalagi untuk yang pertama kali memulai homeschool. Namun sebetulnya sih tidak susah-susah amat. Apalagi bagi yang menggunakan kurikulum yang sudah membuatkan perencanaan seperti Sonlight dan Abeka. 

Lalu bagaimana yang kurikulumnya elektik seperti kami? Berarti harus dibuat sendiri? Ya, tentu saja harus dibuat sendiri. Bagaimana cara membuatnya? Berikut beberapa hal yang dulu biasa kami lakukan. 

1. Tetapkan terlebih dahulu tanggal-tanggal yang akan dibuat merah.

Bagi kami, liburan bersama keluarga merupakan hal yang penting juga. Apalagi salah satu kebahagiaan menjadi homeschooler adalah dapat liburan saat low season, yang berarti bisa liburan dengan biaya yang minim (kisah liburan penuh anugerah kami dapat dilihat di sini atau sana ya). Jadi kami selalu membuat plot hari libur keluarga, hari berkumpul bersama dengan komunitas, dan hari ulang tahun (ya, kalau ada yang ulang tahun, kami libur juga).

Perlu diperhatikan juga jumlah libur yang akan dilakukan dalam satu tahunnya. Sebagai patokan, berdasarkan hari libur nasional, dalam satu tahun akan ada 14 hari libur nasional dalam satu tahun (termasuk cuti bersama untuk libur Idul Fitri). Jika ditambah dengan libur-libur yang dibuat sendiri (libur semester 1, libur akhir tahun ajaran, dan sebagainya), kami biasa menghitung 8 minggu dalam satu tahun dianggap sebagai minggu tidak efektif.  

2. Buat perbandingan jumlah lesson dengan waktu pembelajaran.

Dengan mengetahui perbandingan jumlah lesson dalam 1 tahun ajaran dan waktu pembelajaran yang diinginkan atau direkomendasikan dalam satu minggu, kita akan mengetahui dalam berapa minggukah kita akan menyelesaikan suatu pelajaran dalam satu tahun ajaran. Dari sini kita akan tahu apakah kita dapat menyelesaikan pelajaran tersebut dalam waktu 1 tahun. Jika berdasarkan data di langkah sebelumnya, maka jumlah minggu efektif dalam 1 tahun ajaran akan ada 52 – 8 = 44 minggu. 

Sebagai contoh, pelajaran bahasa Inggris yang kami gunakan, Climbing to Good English (C2GE) mempunyai 108 lesson (termasuk ujian dan review) selama 1 tahun ajaran. Banyaknya waktu pembelajaran yang direkomendasikan oleh buku tersebut adalah 3 kali dalam seminggu. Maka jika saya bagi 108 : 3 = 36, saya mendapatkan bahwa saya membutuhkan 36 minggu untuk menyelesaikan pelajaran-pelajaran tersebut selama setahun. Jika dibandingkan dengan jumlah minggu efektif, berarti planning seperti ini aman.

Bagaimana dengan pelajaran yang tidak ada rekomendasi dari bukunya? Saya biasanya menyesuaikan dengan jumlah materi dan dengan pelajaran yang sudah ada rekomendasinya. Seperti Practice Sheet yang digunakan sebagai pelengkap C2GE. Practice Sheet ini saya buat menjadi 2 kali seminggu supaya bisa melengkapi C2GE.

Perbandingan jumlah lesson dengan waktu pembelajaran

3. Tetapkan jadwal pelajaran sesuai dengan hasil perbandingan diatas.

Setelah mendapatkan hasil diatas, saya dapat memperkirakan jumlah minggu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan semua pelajaran dalam waktu 1 tahun ajaran. Biasanya setelah itu saya akan membuat jadwal yang disesuaikan dengan jumlah minggu yang dibutuhkan. Selain itu biasanya di hari yang ada les atau kegiatan, akan dijadwalkan pelajaran yang tidak begitu ’berat’. 

Setelah itu saya akan mencoba memasukkan list materi yang ada dalam monthly planner. Di monthly planner ini saya masukkan apa saja yang harus dikerjakan oleh mereka setiap harinya selama sebulan.

Jadwal pelajaran adik, diluar mengerjakan setara daring

4. Sesuaikan ekspektasi dengan keadaan yang ada.

Setelah membuat jadwal, dan membuat list materi apa saja yang harus dikerjakan setiap harinya, biasanya saya lihat kembali monthly planner tersebut. Apakah topik yang diberikan dapat diselesaikan dalam 1 bulan? Apakah kegiatan di bulan tersebut memungkinkan anak-anak menyelesaikannya? Jika dirasa tidak mungkin, misal melihat banyaknya kegiatan ekskul anak di bulan tersebut, maka akan ada beberapa penyesuaian supaya load tidak berlebih (dan emosi tidak meningkat). 

Monthly Planner untuk satu semester. Dibuatnya per bulan

5. Sediakan spare waktu untuk mengulang materi yang dirasa kurang dikuasai anak.

Saat membuat academic year planning, saya menyediakan spare waktu untuk mengulang materi yang dirasa kurang dikuasai anak. Misal materi pelajaran A unit 1 belum dikuasai oleh si anak. Maka daripada saya maju bahan tapi anak gak ngerti, saya akan mengulangnya kembali. Karena kalau hanya ngejar target supaya materi selesai dan anak tidak mengerti, apa gunanya anak belajar kan?

Nah untuk itu, dibutuhkan spare waktu supaya tidak panik saat anak belum mengerti dan kita harus mengajar kembali namun tahun ajaran sudah habis. Seperti dalam contoh diatas, untuk menyelesaikan matematika dibutuhkan 29 minggu dalam 1 tahun ajaran. Masih ada spare 15 minggu (44 minggu efektif – 29 minggu) untuk mengulang materi ataupun memberikan pengayaan atau enrichment.

6. Sosialisasikan jadwal pelajaran kepada anak-anak.

Setelah jadwal dibuat, biasanya saya menginfokan kepada anak-anak jadwal mereka nantinya. Dengan mereka tahu diawal jadwal pelajaran tersebut, maka mereka tahu apa saja yang harus dipersiapkan dan tahu jadwal mereka. Mereka juga tahu tanggung jawab yang harus dikerjakan setiap harinya. Selain itu, andai saya lupa, anak-anak bisa mengingatkan saya juga.

7. Bersikap fleksibel dengan perubahan sewaktu-waktu.

Biasanya setelah membuat jadwal, perencanaan materi, mengetahui dalam berapa minggu materi bisa selesai, kita (saya maksudnya) langsung berharap semua itu berjalan sesuai yang ada. Tapi kan kenyataannya kadang tidak seindah yang diinginkan. Misal ada acara dadakan, atau ada yang sakit, tentu saja mempengaruhi situasi saat belajar. Jadi belajar fleksibel jika harus ada yang berubah.

Bagaimana sekarang, semenjak ada pandemi? Praktis acara jalan-jalan sudah tidak ada. Jadi mengisi kalender pendidikan di rumah kami pun menjadi lebih cepat. Lalu, apakah semua planning yang ada selalu berjalan? Jujur, ada kalanya planning tidak berjalan. Ada hari mendadak harus lebih slow karena harus belanja (sekarang kan belanja sudah kayak mau pergi ke medan perang). Ada kalanya harus off karena jadwal adik vaksin.

Jika dibandingkan dengan lesson plan, program tahunan, program semester, perencanaan ini itu saat mengajar, ini sih jaaauuuuh lebih sederhana. Mungkin untuk orang yang lulusan pendidikan akan menganggap ini tidak lengkap. Bahkan tidak ada skenario pembelajaran seperti saat saya mengajar. Tetapi bentuk seperti ini nampaknya lebih mudah dimengerti dan dijalankan oleh saya. Toh membuat ini untuk membantu saya tahu apa yang akan saya kerjakan selama tahun ajaran yang ada, bukan untuk kelengkapan administrasi untuk akreditasi sekolah =D

Contoh program semester saat dulu masih mengajar.

Pada dasarnya perencanaan itu baik dan membantu agar kita lebih terarah dan terukur. Dengan adanya perencanaan, kita akan lebih mudah mengatur pembelajaran. Namun seperti halnya dengan kurikulum, jangan sampai kita ’diperbudak’ oleh perencanaan yang ada. Kita adalah tuan atas perencanaan, jadi tetap decision maker adalah kita. Kalau ada hal yang tidak sesuai dengan jadwal, maka kita bisa mengedit jadwal sesuai kebutuhan.

Selamat menyambut tahun ajaran baru =D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar