Tahun ini anak-anak berkesempatan
mengikuti retreat Journey to the Heart. Retreat JttH adalah retreat yang
menyediakan kesempatan untuk para remaja dan anak-anak muda untuk menjauh dari
kesibukan hidup, mencari Tuhan sambil menikmati ciptaan Tuhan yang indah, dan
mengalami realita akan pribadiNya. Retreat ini biasanya diadakan di US oleh
IBLP. Dan biasanya untuk mengikutinya, harus di US. Tetapi karena Gabriel
Cleator datang untuk mengisi FC 2024, maka dimintalah untuk mengadakan JttH.
Format JttH ini adalah retreat 10
hari. Tetapi karena waktu, maka dipangkas selama 5 hari, dari Selasa sampai
Sabtu. Jadi anak-anak hanya akan bersama Gabriel dan istri selama 5 hari. Kami
orang tua hanya mengantar dan menjemput saja. Karena itu peserta diinfo usia 13
tahun keatas.
 |
Indonesia - Singapore
|
Tetapi di hari terakhir FC
diumumkan jika ada saudara dari peserta JttH yang berumur 12 tahun mau ikut,
maka bisa interview terlebih dahulu. Di hari tersebut adik sudah bilang tidak
mau. Kami pun juga tidak memaksa karena kami merasa umurnya juga baru 12 tahun
dan saat itu sedang dalam pengobatan karena sakit.
Tetapi saat kami mau pulang ke
Airbnb setelah FC selesai (yang lain pesta duren dan kami sekeluarga tidak bisa
makan duren), salah satu kakak yang sempat mengikuti Alert Cadet Academy di US
bercerita bahwa JttH di Indonesia ini adalah kesempatan yang langka. Kakak ini
dan saudaranya juga akan mengikuti JttH. Si adik pun mulai galau.
Akhirnya kami pun berkata jika
memang mau, kami bisa bertanya ke PIC. Adik mulai berpikir takutnya bosan duduk
terus dan biayanya lumayan (karena kan yang ikut 2 anak). Tetapi ada bagian
dalam diri dia yang ingin ikut. Selain itu dia juga berpikir takutnya tidak ada
kesempatan ikut JttH lagi.
Kami pun memberi pengertian bahwa
memang betul biaya pasti besar jika dua anak yang ikut. Tetapi jika memang
kegiatan yang berguna dan bagus, tidak apa. Kami pun meminta dia berdoa dan
memberi jawaban besok. Dan keesokan harinya, saat kami akan kembali ke Jakarta,
adik bilang ingin ikut.
Di hari Selasa, kami pun jalan
pagi-pagi menuju Villa Genteng Bogor. Sesi pertama yang kami kira after
lunch ternyata di rundown diinfokan akan dimulai jam 10.00. Bahkan rencana
adik untuk ke dokter gigi dibatalkan, karena kami tidak mau telat. Namun karena
lebih banyak yang telat, akhirnya sesi dimulai setelah makan siang bersama
(bagian kami melatih karakter tepat waktu pada anak-anak dan bersukacita saat
situasi tidak menyenangkan).
Sebelum kami meninggalkan
anak-anak, kami pun berpesan agar mereka ‘tangkap’ sebanyak mungkin firman
Tuhan yang disampaikan, fokus ke tujuan awal, yaitu untuk lebih lagi mengerti
isi hati Tuhan dan melakukan personal retreat. Istilahnya mamak-mamak
sih, tangkap apinya, jangan sampai pulang tanpa mendapatkan apa-apa secara rohani.
Jangan ambil pusing dengan perlakuan siapapun, atau attitude orang yang
tidak sesuai dengan aturan yang semestinya. Yang penting anak-anak ini tahu
tujuan mereka datang ke retreat.
 |
Gaya sebelum jalan keliling villa.
|
Melalui buku yang dibagikan,
mamak sempat mengintip sedikit, JttH dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama
adalah lima fondasi kebenaran kehidupan Kristen yang harus mereka miliki. Yang
kedua adalah menguji beberapa kondisi hati negatif yang kita punya, dan meminta
Tuhan untuk mentransformasi menjadi kondisi hati yang positif saat kita mencari
wajahNya.
Selama JttH, kami para orang tua
membuat Menara Doa. Kami bergantian berdoa tiap jam. Menaikkan permohonan kami
agar selama retreat semua dalam keadaan aman, anak-anak dan pembicara sehat
(Namanya juga orang luar ke Indonesia, takutnya perut mereka jadi lucu), dan
terlebih lagi agar anak-anak ini menangkap setiap yang disampaikan.
 |
Night session
|
Yang menarik dari JttH adalah
lelaki dan perempuan dipisah hampir di setiap sesi. Diskusi dilakukan secara
terpisah. Kesatuan terpisah begitu deh. Duo Lynns tidak masalah dengan hal ini.
Kalau kata mereka:” Kan Journey to God’s heart, not others heart.” Tetapi
ada juga waktu saat mereka digabung bersama dalam diskusi besar.
 |
Diskusi young men.
|
Kegiatan outdoor pun
menjadi hal yang sangat penting. Anak-anak diizinkan mencari spot outdoor yang
mereka suka untuk melakukan personal devotion. Bagi Duo Lynns, personal
devotion sudah menjadi bagian mereka setiap hari. Tetapi melakukan personal
devotion sambil menikmati alam dan udara yang dingin merupakan kesempatan
yang jarang. Mereka pun ada tracking
dan olahraga bersama di sekeliling Villa. Kalau kata adik, ternyata fun
juga. Gak Cuma duduk manis di ruangan saja.
 |
Spot yang disukai kakak
|
 |
Motorik kasar ala adik.
|
 |
Batu favorit anak-anak
|
 |
Bridge mode on
|
Anak-anak pun mempunyai jam
malam. Tujuannya supaya mereka punya waktu istirahat dan kembali fresh
saat mengikuti sesi di esok hari. Mereka tidak diizinkan untuk menyeberang ke
‘negara’ lain (kamar lawan jenis) saat malam hari. Hal ini menjadi momen dimana
integritas dan ketaatan mereka diuji. Apakah mereka mau untuk taat dan jujur.
 |
Ternyata ada waktu untuk main di playground juga.
|
Ada satu hari dimana mereka
diminta berpuasa bersama. Dan ini menjadi momen yang seru karena puasanya
bareng-bareng. Dan ada satu waktu dimana anak-anak diminta menelpon orang tua
mereka untuk memberi tahu hidden sin mereka.
 |
Group makan satu
|
 |
Group makan dua
|
Lima hari pun tidak terasa karena
anak-anak cukup menikmati setiap sesi (walau mereka tidak mau dibuat langsung
selama 10 hari). Mereka mengakui ada masa-masa ngantuk juga. Adik juga sempat
merasa ada yang tidak begitu dia pahami. Tetapi overall, mereka menikmati
setiap momen mempelajari firman Tuhan lebih lagi.
 |
Saat penjemputan
|
Sebagai orang tua, salah satu doa
kami adalah melihat mereka bertumbuh menjadi anak yang mengasihi Tuhan dan
memiliki karakter Ilahi. Dan JttH menjadi salah satu sarana yang menurut kami
baik. Walau sesungguhnya the real journey dimulai saat mereka selesai
melakukan JttH. Berproses menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan.
 |
Fellowship after JttH
|
 |
Gabriel mengingatkan orang tua bahwa the journey starts now.
|