Tampilkan postingan dengan label ATII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ATII. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Oktober 2025

Kolaborasi Kemerdekaan

Zaman kami masih sekolah, setiap hari Senin kami wajib ikut upacara. Dengan topi, dasi, baju putih-putih, kami suka tidak suka harus berdiri dan berbaris dengan rapi. Karena selalu ada, maka tidak heran beberapa teman pun dulu kabur dari upacara dengan berbagai alasan. 

Sebagai homeschooler, anak-anak kami pun memang tidak mengikuti upacara di setiap hari Senin (dan sekarang sepertinya tidak semua sekolah melaksanakan upacara setiap hari Senin). Bahkan terkadang beberapa orang memberikan nada sumbang dan berkata bahwa anak-anak mana tahu tentang upacara. Walaupun faktanya anak-anak kami sudah beberapa kali menjadi petugas upacara baik di gereja maupun di komunitas.

Di komunitas kami pun, upacara memperingati hari kemerdekaan selalu diadakan. Setiap anak-anak pun diminta untuk mengikuti upacara. Dan momen setahun sekali ini selalu ditunggu oleh anak-anak.

Di tahun ini kedua komunitas kami melakukan kolaborasi tujuh-belasan, yang kami sebut Kongsi Kemerdekaan. Sebetulnya ini sudah kedua kalinya kedua komunitas kami merayakan kemerdekaan bersama-sama di tempat yang sama. Serunya pun tetap terasa. apalagi dekorasi dari tujuhbelasan cluster masih dipasang. 

Acara tujuhbelasan kali ini terasa begitu menantang. Dimulai dari hujan yang turun tepat saat upacara akan dimulai. Kami memilih berteduh di bawah tenda dan pendopo. Melihat hujan yang sepertinya masih akan terus turun, kami pun memutuskan upacara.

Pemandangan dari tempat operator.
Saat hujan, payung ojek pun beraksi demi upacara ini tetap berlangsung. 

Untuk kali ini, kami melibatkan anak-anak yang mulai beranjak remaja. Walau waktu Latihan hanya sebentar, tetapi anak-anak ini bersemangat (dan kami mantan pengibar dan penurun bendera ini harus menurunkan ekspektasi kami). 

Pengibaran bendera.

Pasukan yang bertugas hari ini.

Setelah upacara selesai, maka waktunya untuk merayakan tujuh belasan dengan berbagai lomba. Lomba yang selalu ada dan dinanti-nanti setiap anak adalah lomba makan kerupuk. Kali ini pertama kalinya si kecil ikutan lomba makan kerupuk.

Barisan anak kecil yang ikutan lomba makan kerupuk. 
Dan setelah itu sebagian anak kecil lebih tertarik mancing di kolam.

Selain lomba makan kerupuk, ada juga lomba balap karung dan tarik tambang. Walau tempat lomba agak becek, tetapi hal ini tidak menyurutkan niat mereka untuk memenangkan lomba. 

Tarik tambang antara moms, dads, boys, and girls.
Dads setelah tarik tambang.

Acara Kongsi Kemerdekaan kami ditutup dengan fellowship diantara kami. Hujan yang kembali turun pun menambah keakraban diantara kami. 

The kids
Moms

Bagi kami para homeschooler, memaknai kemerdekaan lebih dari sekedar berdiri dengan manis dan mengikuti upacara. Kami memberikan kesadaran bagi setiap anak bahwa kemerdekaan yang didapatkan ini tidaklah mudah. Mereka dapat mengisi dengan menjadi pribadi yang terbaik sesuai yang Tuhan ingin mereka lakukan.


Rabu, 23 Oktober 2024

Journey to the Heart

Tahun ini anak-anak berkesempatan mengikuti retreat Journey to the Heart. Retreat JttH adalah retreat yang menyediakan kesempatan untuk para remaja dan anak-anak muda untuk menjauh dari kesibukan hidup, mencari Tuhan sambil menikmati ciptaan Tuhan yang indah, dan mengalami realita akan pribadiNya. Retreat ini biasanya diadakan di US oleh IBLP. Dan biasanya untuk mengikutinya, harus di US. Tetapi karena Gabriel Cleator datang untuk mengisi FC 2024, maka dimintalah untuk mengadakan JttH.

Format JttH ini adalah retreat 10 hari. Tetapi karena waktu, maka dipangkas selama 5 hari, dari Selasa sampai Sabtu. Jadi anak-anak hanya akan bersama Gabriel dan istri selama 5 hari. Kami orang tua hanya mengantar dan menjemput saja. Karena itu peserta diinfo usia 13 tahun keatas. 

Indonesia - Singapore

Tetapi di hari terakhir FC diumumkan jika ada saudara dari peserta JttH yang berumur 12 tahun mau ikut, maka bisa interview terlebih dahulu. Di hari tersebut adik sudah bilang tidak mau. Kami pun juga tidak memaksa karena kami merasa umurnya juga baru 12 tahun dan saat itu sedang dalam pengobatan karena sakit.

Tetapi saat kami mau pulang ke Airbnb setelah FC selesai (yang lain pesta duren dan kami sekeluarga tidak bisa makan duren), salah satu kakak yang sempat mengikuti Alert Cadet Academy di US bercerita bahwa JttH di Indonesia ini adalah kesempatan yang langka. Kakak ini dan saudaranya juga akan mengikuti JttH. Si adik pun mulai galau.

Akhirnya kami pun berkata jika memang mau, kami bisa bertanya ke PIC. Adik mulai berpikir takutnya bosan duduk terus dan biayanya lumayan (karena kan yang ikut 2 anak). Tetapi ada bagian dalam diri dia yang ingin ikut. Selain itu dia juga berpikir takutnya tidak ada kesempatan ikut JttH lagi.

Kami pun memberi pengertian bahwa memang betul biaya pasti besar jika dua anak yang ikut. Tetapi jika memang kegiatan yang berguna dan bagus, tidak apa. Kami pun meminta dia berdoa dan memberi jawaban besok. Dan keesokan harinya, saat kami akan kembali ke Jakarta, adik bilang ingin ikut. 


Di hari Selasa, kami pun jalan pagi-pagi menuju Villa Genteng Bogor. Sesi pertama yang kami kira after lunch ternyata di rundown diinfokan akan dimulai jam 10.00. Bahkan rencana adik untuk ke dokter gigi dibatalkan, karena kami tidak mau telat. Namun karena lebih banyak yang telat, akhirnya sesi dimulai setelah makan siang bersama (bagian kami melatih karakter tepat waktu pada anak-anak dan bersukacita saat situasi tidak menyenangkan).

Sebelum kami meninggalkan anak-anak, kami pun berpesan agar mereka ‘tangkap’ sebanyak mungkin firman Tuhan yang disampaikan, fokus ke tujuan awal, yaitu untuk lebih lagi mengerti isi hati Tuhan dan melakukan personal retreat. Istilahnya mamak-mamak sih, tangkap apinya, jangan sampai pulang tanpa mendapatkan apa-apa secara rohani. Jangan ambil pusing dengan perlakuan siapapun, atau attitude orang yang tidak sesuai dengan aturan yang semestinya. Yang penting anak-anak ini tahu tujuan mereka datang ke retreat.

Gaya sebelum jalan keliling villa.

Melalui buku yang dibagikan, mamak sempat mengintip sedikit, JttH dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah lima fondasi kebenaran kehidupan Kristen yang harus mereka miliki. Yang kedua adalah menguji beberapa kondisi hati negatif yang kita punya, dan meminta Tuhan untuk mentransformasi menjadi kondisi hati yang positif saat kita mencari wajahNya. 


Selama JttH, kami para orang tua membuat Menara Doa. Kami bergantian berdoa tiap jam. Menaikkan permohonan kami agar selama retreat semua dalam keadaan aman, anak-anak dan pembicara sehat (Namanya juga orang luar ke Indonesia, takutnya perut mereka jadi lucu), dan terlebih lagi agar anak-anak ini menangkap setiap yang disampaikan.

Night session

Yang menarik dari JttH adalah lelaki dan perempuan dipisah hampir di setiap sesi. Diskusi dilakukan secara terpisah. Kesatuan terpisah begitu deh. Duo Lynns tidak masalah dengan hal ini. Kalau kata mereka:” Kan Journey to God’s heart, not others heart.” Tetapi ada juga waktu saat mereka digabung bersama dalam diskusi besar. 

Diskusi young men.

Kegiatan outdoor pun menjadi hal yang sangat penting. Anak-anak diizinkan mencari spot outdoor yang mereka suka untuk melakukan personal devotion. Bagi Duo Lynns, personal devotion sudah menjadi bagian mereka setiap hari. Tetapi melakukan personal devotion sambil menikmati alam dan udara yang dingin merupakan kesempatan yang jarang.  Mereka pun ada tracking dan olahraga bersama di sekeliling Villa. Kalau kata adik, ternyata fun juga. Gak Cuma duduk manis di ruangan saja. 

Spot yang disukai kakak
Motorik kasar ala adik.

Batu favorit anak-anak
Bridge mode on

Anak-anak pun mempunyai jam malam. Tujuannya supaya mereka punya waktu istirahat dan kembali fresh saat mengikuti sesi di esok hari. Mereka tidak diizinkan untuk menyeberang ke ‘negara’ lain (kamar lawan jenis) saat malam hari. Hal ini menjadi momen dimana integritas dan ketaatan mereka diuji. Apakah mereka mau untuk taat dan jujur. 

Ternyata ada waktu untuk main di playground juga.

Ada satu hari dimana mereka diminta berpuasa bersama. Dan ini menjadi momen yang seru karena puasanya bareng-bareng. Dan ada satu waktu dimana anak-anak diminta menelpon orang tua mereka untuk memberi tahu hidden sin mereka. 

Group makan satu
Group makan dua

Lima hari pun tidak terasa karena anak-anak cukup menikmati setiap sesi (walau mereka tidak mau dibuat langsung selama 10 hari). Mereka mengakui ada masa-masa ngantuk juga. Adik juga sempat merasa ada yang tidak begitu dia pahami. Tetapi overall, mereka menikmati setiap momen mempelajari firman Tuhan lebih lagi. 

Saat penjemputan

Sebagai orang tua, salah satu doa kami adalah melihat mereka bertumbuh menjadi anak yang mengasihi Tuhan dan memiliki karakter Ilahi. Dan JttH menjadi salah satu sarana yang menurut kami baik. Walau sesungguhnya the real journey dimulai saat mereka selesai melakukan JttH. Berproses menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan.

Fellowship after JttH
Gabriel mengingatkan orang tua bahwa the journey starts now.

Rabu, 31 Januari 2024

Bazaar Kami....


Berdasarkan pengalaman saat kami sekolah dulu, di sekolah sering sekali diadakan bazaar. Biasanya bazaar yang ada bertujuan untuk melatih si anak berjualan ataupun bisa juga untuk menggalang dana saat akan dilakukan suatu kegiatan. Namun bagi para homeschooler, apakah itu mungkin?

Ternyata mungkin loh, guys (mamak mulai tertular si kecil suka ngomong guys saat v-log). Akhir tahun lalu kami dua kali mengikuti kegiatan bazaar dari dua komunitas homeschool yang kami ikuti. Tentunya ada keseruan di setiap bazaar tersebut.

Kegiatan bazaar yang pertama bertemakan resourcefulness. Resourcefulness didefinisikan sebagai bijak dalam menggunakan sesuatu yang biasanya tidak dianggap atau akan dibuang. Dari tema besar ini anak-anak diminta untuk menyiapkan sesuatu yang Go Green and Healthy, berdasarkan apa yang bisa dilakukan oleh setiap keluarga. Hasil yang didapat akan dikumpulkan untuk kegiatan ke panti rencananya.

Suasana bazaar... sayang dokumentasi hanya sedikit. hehehe

Anak-anak pun memberi ide untuk membuat healthy granola bar. Tentunya untuk membuat ini, anak-anak pastinya bekerja sama dengan si papa. Untuk rasa sih jangan ditanya, saya yang biasa tidak suka granola bar yang dijual (Cuma menang manis aja soalnya kan) jadi suka makanan buatan papa dan anak-anak (yang tentunya lebih sehat dan penuh cinta).

Kegiatan bazaar yang kedua adalah saat kumpul akhir tahun. Tujuannya adalah melatih anak-anak untuk berjualan, menyiapkan bahan jualan sendiri, dan mulai mengkalkulasi modal dan untung. Bahkan panitia memberikan hadiah bagi booth yang paling keren.

Kami pun meminta anak-anak untuk menyiapkan semua sendiri. Kalau bazaar pertama per keluarga, bazaar kali ini beberapa anak dijadikan satu kelompok. Jadi mereka yang merencanakan mau menjual apa, mau mendekor booth mereka dengan apa, dan sebagainya.

Kelompok anak-anak yang bernama Merry Sweets ini berencana menjual paket yang berisi homemade Christmas decorations, bookmarks, roti srikaya, dan homemade gummies. Kami cukup salut dengan empat anak ini karena mereka betul-betul berusaha membuat dan menjual semuanya tanpa bantuan orang tua.

Kurang cici K yang sedang sakit, digantikan li'l K =D

Lalu apa yang dipelajari dari kegiatan bazaar ini? Mereka semakin belajar bahwa setiap rupiah yang didapatkan pastinya bukan untuk digunakan semau mereka. Dari uang yang mereka dapat, sepersepuluh menjadi bagian Tuhan,  setengah ditabung dan sisanya dibelikan barang yang mereka suka.

Pemenang dekor terkeren

Booth lain yang tidak kalah keren

Selasa, 15 Agustus 2023

Family Conference 2023: Everything by Prayer

Family Conference 2023

Masih ingat cerita kami tentang Family Conference di Bali tahun lalu? FC pertama setelah dua kali kami online begitu membekas dihati. Maka di tahun ini, semua keluarga sepakat FC kembali diadakan. Namun karena hotel di Bali semakin mihil, maka mulailah hunting tempat dilakukan kembali.

Ada beberapa tempat di Indonesia yang masuk dalam list tempat untuk FC. Setelah mengingat-ingat, kami menyadari bahwa FC ini menjadi lebih bermakna karena biasanya sebelum pandemi FC selalu diadakan di Malaka dan bersama-sama dengan teman-teman homeschooler dari Malaysia dan Singapore. Maka setelah dilakukan koordinasi dengan team South East Asia, diputuskanlah FC tahun ini di Malaka di awal Agustus.

Persiapan untuk FC

Selama FC ini, kami para orang tua kembali di recharged dengan banyak hal. Selain live speaker, zoom bersama team dari US, ada juga video-video yang diputar dan ditonton bersama. Dan supaya apa yang diikuti tidak lewat begitu saja, ada diskusi-diskusi yang dilakukan setiap harinya. 

Kesaksian dari keluarga Ong
Oyster philosophy

Sesi tentang fungsi dari rumah
Moms' Session, sayang Dads' Session tidak ada fotonya.

Tahun ini tema yang diberikan adalah Everything by Prayer. Tema ini dilandasi ayat dari kitab Filipi 4 : 6. Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan sebagai berikut: “Be anxious for nothing, but in everything by prayer and supplication, with thanksgiving, let your requests be made known to God.” Kata anxious atau kuatir ini nampaknya menjadi suatu hal yang banyak muncul. Dengan keadaan dunia yang semakin tidak menentu, kekuatiran menjadi bagian yang selalu ada dalam setiap orang.

Sesi video
Zoom session dengan team dari US

Namun firman Tuhan juga memberikan jawaban untuk mengatasi kekuatiran tersebut. Naikkan semuanya dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Kekuatiran kita tidak dapat mengubah apapun. Tetapi kuasa doa itu pasti ada. Tinggal kita mau menjadikan doa tersebut sebagai sesuatu yang utama atau sebagai cadangan. 

Anak-anak muda membawakan hasil diskusi mereka.
Presentasi hasil diskusi memperkaya setiap keluarga yang ada.

Karena peserta di FC bukan hanya orang tua tetapi juga ada young adult, maka di hari ketiga ada sesi khusus by zoom dengan tema Freedom from Bitterness. Tema yang penting, karena seringkali anak-anak muda menyimpan kepahitan untuk hal-hal yang terkadang memang karena kesalahan mereka juga. Dalam menghadapi masalah, untuk menjadi bitter atau better merupakan pilihan setiap orang, kan? 

The energetic young adult.

Bagian favorit dari setiap FC adalah saat presentasi. Presentasi ini bukanlah ajang unjuk kebolehan loh. Tetapi lebih kepada ucapan syukur kami untuk kasih Tuhan. Melalui presentasi ini, setiap keluarga dibentuk dan bekerjasama dengan keluarga-keluarga lain. 

Memory verse and song presentation from Commit.
Presentation from Alert Cadet
Testimony from one of the boys.

Presentasi dari Indonesia.

Untuk pertama kalinya, ada Student Orchestra and Choir di FC ini. Project yang digagas oleh keluarga Ong dari Perth ini melibatkan anak-anak yang tersebar di 4 negara peserta. Latihannya dilakukan masing-masing, berdasarkan partitur lagu yang diberikan. Ada keraguan di awal-awal karena latihan dengan partitur tidaklah mudah. Tapi puji Tuhan semua berjalan lancar.

Thanks to David who initiated Student Orchestra and Choir
Presentasi ayat dari keluarga Singapore

The Secret Place by this faithful family.
Presentasi dari Malaysia, lagunya buatan mereka sendiri.

Di FC tahun ini, kegiatan anak-anak perempuan dan laki-laki dipisah di hari pertama dan ketiga. Anak-anak laki-laki kembali mengikuti Alert Cadet Challenge. Anak-anak perempuan mengikuti Commit, kegiatan indoor. Tentunya si kakak senang karena banyak aktivitas indoor yang berhubungan dengan kreativitas. Hanya di hari kedua mereka melakukan outdoor bersama-sama (bagian kesukaan adik). 

Tema Alert Cadet kali ini.
Masih Day 2, gabungan boys and girls.

Day 3, latihan CPR setelah presentasi.

Bagian yang tidak kalah penting dalam FC adalah fellowship alias kulineran. Setelah sekian lama tidak ke Malaka, secara pertama kali adalah saat tahun 2018 dan setelah itu tidak datang, maka kemarin kami pun puas untuk hunting makanan, terutama coconut shake

Kenyang dan senang
Kids and teens
Another happy faces to eat together.

Tidak terasa tiga hari berlalu cepat. FC yang saat diawal dirasa mustahil untuk dilakukan, semua terlihat serba tak menentu, ternyata akhirnya berjalan dengan baik. Sesuai dengan tema, Everything by Prayer, kami betul-betul memulai semua dengan doa. Puji Tuhan, FC berjalan dengan baik, anak-anak dan orang tua dapat mengikuti setiap kegiatan yang ada. Dan yang paling kami rasakan adalah kehangatan yang terjalin antara keluarga-keluarga dari setiap negara. Dan kami sungguh bersyukur untuk setiap keluarga yang mau terlibat dalam kepanitiaan di tengah kesibukan yang ada. 

Fellowship lain yang tidak kalah penting dari kulineran.

We’re looking forward to next Family Conference. 

Parents in action