Rabu, 20 Juli 2016

Fakta dan Mitos Seputar Homeschool

Sumber foto: mihomeschoolconnections.com
Beberapa bulan lalu, saya membaca berita beberapa artis mengambil kejar paket C. Katanya sih artis-artis itu homeschooler. Lalu teman-teman saya, yang tahu anak-anak di rumah homeschooling, mulai bertanya tentang homeschooling. Ternyata selama ini konsep homeschooling yang mereka tahu berbeda dengan homeschooling yang kami tahu. Yuks, kita cari tahu apa saja mitos dan fakta seputar homeschooling.

1. Mitos: Homeschooling hanya untuk artis-artis dan anak-anak yang sibuk.
Fakta: homeschooling bisa untuk siapa saja, kok. Mau anak tukang becak, anak presdir, anak ibu rumah tangga, siapapun dan apapun kerjaannya, pasti bisa kok. Homeschooling itu juga berdasarkan panggilan hati kita. Kebetulan yang diblow up itu biasanya artis A homeschool loh. Atau si B sibuk dengan latihan-latihan untuk kejuaraan international, jadi dia homeschool deh. Padahal banyak juga orang biasa yang homeschooling, dan banyak juga orang-orang ternama di masa lalu yang homeschooling. Salah satunya adalah Abraham Lincoln dan bapak K.H. Agus Salim.

2. Mitos: Biaya homeschool itu mahal.
Fakta: Nope. Tentunya kalau dibandingkan dengan sekolah negeri yang biasa-biasa dan dapat subsidi pemerintah, homeschooling bisa jadi mahal. Tetapi kalau dibandingkan dengan sekolah swasta, bisa jadi jauh lebih murah.
Soal biaya, tergantung kurikulum apa yang mau dipakai. Jika kita mengambil kurikulum yang lumayan mahal, ya jadi mahal. Tetapi kalau kita mengambil yang sesuai budget kita, ya jadinya tidak mahal. Bahkan ada situs-situs tertentu yang memberikan kurikulum secara gratis. Buat saya, enaknya homeschooling membuat saya mengalokasikan biaya pendidikan ke les-les untuk mengembangkan talenta anak-anak.

3. Mitos: Homeschooling berarti ada guru yang datang ke rumah untuk mengajar.
Fakta: Gurunya adalah orang tua si anak tersebut. Homeschooling sebetulnya lebih kepada orang tua yang mengajar anak-anak, terutama saat anak-anak masih kecil. Tujuannya untuk mengimpartasikan nilai-nilai dan karakter. Kalau memanggil guru dari luar, maka dapat dikatakan tutorial. Biasanya untuk di tingkat lanjut, jika orang tua sudah betul-betul tidak mampu untuk menguasai materinya, maka si anak dapat belajar mandiri (melihat video) atau les di tempat yang dapat dipercaya (bisa juga les dengan orang yang terpercaya).

4. Mitos: Homeschooling berarti tidak nasionalis
Fakta: Nasionalisme tidak diukur dari kita memilih menyekolahkan anak di sekolah umum atau memilih untuk mendidik sendiri anak-anak kita di rumah. Banyak yang menganggap orang-orang yang homeschool tidak nasionalis, apalagi bagi mereka yang mengambil materi dari luar jadinya ngajarnya pakai bahasa Inggris. Bagi saya, bahasa pengantar dalam mengajar disesuaikan dengan kurikulum yang diambil. Tetap di luar jam belajar dan di dalam pelajaran akan ada bahasa Indonesia (apalagi saat belajar Bahasa indonesia dan sejarah Indonesia). Memang biasanya anak yang sekolah di sekolah umum lebih hapal deskripsi setiap pulau di Indonesia, tetapi bisa jadi dia hapal hanya supaya lulus dari nilai standard. Sedang anak-anak homeschool mungkin akan belajar tetapi tidak diujiankan, tetapi untuk mengenal Indonesia itu sendiri. Sama-sama tahu, tetapi tujuannya berbeda. Dan orang yang bisa berbahasa Inggris bukan berarti tidak cinta negara, dan orang yang hanya bisa bahasa Indonesia belum tentu cinta negara dan mau membangun negara bukan.

5. Mitos: Waktu belajar harus sama sehari seperti di sekolah pada umumnya.
Fakta: Waktu belajar disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak dan keadaan keluarga. Kalau di sekolah pastilah ada patokan berapa lama anak harus belajar, kapan harus istirahat, dan kapan harus belajar kembali. Mengapa? Karena banyaknya anak yang harus dididik dengan latar belakang yang macam-macam. Jika tidak ada panduan, maka akan jadi kacau. Selain itu, karena anaknya banyak, maka waktu belajar bisa jadi lebih lama. Jika waktu belajar sudah selesai, diharapkan siswa mengerti sendiri (kalau guru kurang bertanggungjawab malah suruh muridnya les). Sedang homeschooling, karena kita gurunya dan anak-anak kita muridnya, lamanya waktu belajar bisa disesuaikan dengan kebutuhan si anak. Kapan kita belajar juga bisa diatur dengan aktifitas kita di rumah (apalagi untuk ibu-ibu yang harus mengatur rumah sendiri). Kalau bagi saya, yang terpenting adalah rutinnya. Dulu waktu kakak masih kecil, sekarang juga masih kecil sih, rutin yang dia tahu adalah dia akan segera belajar setelah makan pagi. Maka setelah makan pagi, dia akan masuk ke kamar untuk belajar. Dan kalau kami harus pergi-pergi, saya tinggal membawa materi yang akan dipelajari. Belajar kilat deh di mobil, tentunya materi yang mau diajarkan di mobil juga dipilih yang tidak berat.

6. Mitos: Homeschooling membuat anak tidak berkembang secara akademis.
Fakta: Anak-anak yang homeschooling tetap berprestasi secara akademis. Malah karena materi pelajaran dapat dipilih, anak dapat lebih memahami materi yang memang sesuai dengan talentanya. Bagi saya, jika hanya untuk mengejar akademis, anak cukup dileskan intensif selama beberapa bulan, pasti mereka bisa. Tetapi lebih dari itu, homeschooling membuat anak mempunyai hubungan yang baik dengan keluarga, si anak dapat bercakap-cakap dengan orang tua dan orang tua juga dapat mengimpartasikan nilai-nilai kepada anaknya. Kemampuan secara akademis hanyalah nilai tambah dari semuanya itu.

7. Mitos: Hanya orang tua yang mempunyai latar belakang di bidang pendidikanlah atau orang tua yang sabar saja yang dapat mengajar anak-anaknya.
Fakta: Semua orang dapat mengajar karena ada panduannya. Banyak orang yang berkata: "kamu homeschooling-in anak-anak karena kamu kan guru, pasti sabar, kalau aku kan gak pinter, bukan guru, dan gak sabar." Menurut saya, semua orang pasti dapat mengajar karena ada buku panduannya. Bahkan ada yang tinggal membaca. Yang jadi masalah adalah apakah kitanya mau belajar lagi bersama anak-anak atau tidak. Justru bagi guru, mengajar anak sendiri akan lebih berat karena ekspektasinya akan tinggi. Sedangkan untuk urusan sabar, kita akan menyadari bahwa kita tidak sesabar yang kita bayangkan saat kita mengajar anak sendiri. Yang membuat kami mampu untuk bersabar adalah karena kita memandang tujuan dan alasan kami memilih homeschooling.

8. Mitos: Anak yang homeschooling tidak dapat atau kurang bersosialisasi.
Fakta: Masalah sosialisasi bukan berdasarkan anak homeschool atau tidak, melainkan kebiasaan dalam keluarga. Terkadang dunia sering tidak adil. Anak yang sekolah dan pemalu bisa disebut oh anaknya pemalu, tipe introvert. Tetapi anak-anak yang homeschooling jika pemalu pasti dikatakan dia homeschool sih, kurang bersosialisasi. Banyak yang berkata kepada saya, apa tidak takut anaknya jadi kurang dapat bersosialisasi karena jarang ketemu orang  loh. Padahal pada kenyataannya, sosialisasi bukan berdasarkan sekolah, tetapi berdasarkan keluarga dan kepribadian juga. Semakin saya mengamati, anak-anak yang homeschool mampu bersosialisasi secara vertikal, dengan orang-orang yang umurnya berbeda dengan mereka. sedang yang secara horisontal, bisa didapatkan bukan hanya dari sekolah tetapi juga dari tempat les. Untuk urusan sosialisasi, bisa juga dari komunitas homeschool loh. Jadi homeschool bukan berarti menyendiri, menjauhi masyarakat yang ada, dan mengisolasi diri. Anak-anak masih dapat bersosialisasi dengan sekitarnya melalui komunitas yang ada, tempat les, gereja, lingkungan rumah dan sebagainya. Mungkin memang jumlah orang yang dia kenal tidak akan sebanyak jika dia masuk sekolah. Tetapi saat sekolah, belum tentu kualitas pertemanan yang mereka miliki sebanding dengan kuantitasnya. Jadi, bukan kuantitas yang dicari dalam suatu pertemanan, tetapi kualitas dari pertemanan itu sendiri.

9. Mitos: Anak-anak yang homeschooling tidak disiplin dan cenderung seenaknya karena terbiasa bebas.
Fakta: Disiplin tidak berdasarkan anak tersebut homeschool atau sekolah umum. Banyak yang berkata: "Anak saya tidak bisa dibilangin, apalagi sama orang tuanya. Lebih baik dia di sekolah, supaya lebih bisa mendengarkan instruksi." Atau ada juga yang berkata: "Si upik susah untuk disuruh oleh saya, mungkin nanti kalau sudah sekolah jadi bisa dibilangin." Dengan kata lain, tugas untuk mendisiplin dipindahkan dari orang tua ke guru sekolah. Karena pemikiran seperti inilah, saat mendengar kata homeschooling, yang terlintas di pikiran banyak orang adalah anak-anak yang homeschooling tidak disiplin dan seenaknya. Memang benar dengan homeschool kita dapat lebih fleksibel mengatur materi dan waktu belajar, karena kita yang empunya sekolah itu sendiri. Tetapi masalah disiplin itu terletak pada orang tuanya, bukan pada sekolah umum atau homeschooling. Anak yang homeschool pasti ada juga yang tidak disiplin dan semaunya, tetapi saya juga sering kali menjumpai anak-anak yang sekolah umum tetapi tidak disiplin dan semaunya sendiri. Sesama rekan guru pun biasa berkata: "Bagaimana sih orang tuanya, kok anaknya tidak dididik." Nah loh, tidak jaminan bukan anak yang sekolah umum akan menjadi anak yang disiplin.
Yang saya lihat, saat anak-anak homeschool, apalagi yang didasari character building, anak-anak ini menjadi anak yang tahu namanya tanggung jawab dari mereka kecil. Jadi bagi keluarga kami, homeschool membuat kami bebas mengatur pola pembelajaran, tetapi tidak berarti semaunya. Dan juga kami melatih anak untuk mandiri, tetapi tidak melakukan pembiaran. Jika ada yang seperti itu (tidak disiplin dan semaunya), ya balik lagi ke individunya.

10. Mitos: Anak-anak homeschooling tidak dapat bekerja dalam kelompok karena terbiasa belajar sendiri.
Fakta: Walau terbiasa belajar sendiri, tetapi anak-anak homeschooling tetap belajar berkerja sama. Memang betul anak-anak belajar sendiri, tetapi pasti akan ada aktifitas yang mengharuskan mereka bekerja sama dalam kelompok, setidaknya dengan saudara mereka. Saat bergabung dalam komunitas, mereka belajar bekerja sama dalam kelompok. Akan ada namanya presentasi ataupun project yang membuat mereka belajar memaparkan sesuatu dan berbicara mengungkapkan isi pikiran mereka. Bahkan jika mereka bergabung dalam komunitas yang mempunyai jaringan internasional, si anak lebih berkesempatan bekerja sama dengan banyak orang. Jadi, siapa bilang anak-anak homeschooling tidak dapat bekerja dalam kelompok.

11. Mitos: Anak-anak yang homeschooling susah untuk mempunyai ijazah.
Fakta: Anak-anak homeschooling dapat mengambil ujian persamaan ataupun ujian di luar. Mungkin kalau zaman dahulu, urusan ijazah menjadi hal yang memusingkan bagi para homeschooler. Tetapi pada masa kini, ada yang namanya kejar paket untuk ijazah di dalam negeri. Kemudian ada yang namanya umbrella program, di mana homeschooler bekerja sama dengan suatu sekolah untuk ujian dan mendapatkan ijazah.

12. Mitos: Anak-anak homeschooling susah untuk masuk universitas unggulan
Fakta: Selama si anak mempunyai ijazah, si anak dapat mengikuti test untuk masuk universitas unggulan. Perkara masuk atau tidak, biasanya tergantung kemampuan si anak dan pemilihan jurusan. Bahkan tidak semua anak yang sekolah umum pun dapat masuk universitas unggulan. Selain itu, menurut saya, saat memilih universitas sebaiknya berdasar minat juga, bukan hanya memilih universitas unggulan atau tidak.
Saya pernah membaca kisah Andri Rizki Putra yang memilih untuk meninggalkan SMA dan belajar sendiri sebagai bentuk protesnya atas kecurangan saat ujian sekolah di sekolahnya. Walau dia harus belajar sendiri, ambil kejar paket C, akhirnya ia berhasil masuk fakultas hukum Universitas Indonesia. Bahkan dia mendirikan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa, yang menyelenggarakan pendidikan kesetaran bagi orang yang putus sekolah dan juga para homeschooler.
Bagaimana dengan universitas di luar negeri? Selama si anak mampu melalui test, punya nilai TOEFL dan atau SAT yang memenuhi syarat, dan biaya tentunya, maka anak dari Indonesia bisa kuliah keluar negeri. Sedang para homeschooler di luar negeri banyak juga loh yang masuk universitas ternama.

13. Mitos: Anak-anak homeschooling susah untuk kuliah di bidang ilmu pasti, teknik, dan kedokteran.
Fakta: Semua bidang pasti mampu ditekuni jika memang si anak mempunyai panggilan dan minat di bidang tesebut. Awalnya saya pun berpikir homeschooler biasanya mengambil jurusan sosial. Tetapi semakin saya membaca, semakin saya menemui, banyak homeschooler di luar negeri yang mengambil mata kuliah dibidang ilmu pasti, dan bahkan mereka juga melakukan homeschool kepada anak-anak mereka dan anak-anak mereka menekuni bidang yang berhubungan dengan ilmu pasti juga. Jadi, kembali kepada panggilan si anak. Yang pasti kita sebagai orang tua yang harus cermat dalam memfasilitasi si anak. Teman kami pun ada yang mengambil arsitektur. Jadi mungkin saja bukan?

14. Mitos: Anak-anak homeschooling tidak mampu berkompetisi.
Fakta: Kemampuan berkompetisi kembali kepada kepribadian masing-masing anak. Saat saya mengajar, saya pernah mengajar adik kakak. Si kakak adalah tipe anak yang tidak mau kalah, hal kecil pun dapat dijadikan kompetisi. Sedangkan adiknya kebalikan kakaknya, tipe yang cuek bebek. Nilai jelek, ya remedial. Kalau masih jelek, ya sudah. Sangat cuek. Padahal mereka bersekolah di sekolah yang sama dan  dari keluarga yang sama. Ada juga keluarga homeschooling, yang kakaknya tidak boleh kalah terhadap apapun, harus jaim alias jaga image di depan umum, apapun yang dilakukan harus mendapatkan pujian. Adiknya bertolak belakang 100%, modelnya cuek, tidak perduli pandangan orang. Dua gambaran keluarga di atas, satu sekolah umum dan satu homeschooling, merupakan bukti bahwa kompetisi tidak dipengaruhi sekolahnya, tetapi kepribadian si anak. Memang betul kalau anak yang homeschool jarang berkompetisi dengan orang lain saat belajar, karena partner belajarnya biasanya kakak atau adiknya saja. Tetapi saya merasa justru ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengenalkan kompetisi yang sehat kepada anak-anak. 
Papanya Duo Lynns adalah tipe orang yang tidak suka berkompetisi, yang penting melakukan yang terbaik. Sedangkan saya, suka tidak suka, selalu dihadapkan pada ajang kompetisi, baik secara akademis maupun non akademis. Jadi saya mengamati dengan baik bahwa seringkali kompetisi di sekolah bukan kompetisi yang sehat.  Terkadang akibat kompetisi, anak yang biasa menang suka susah menerima kenyataan kalau ia kalah, dan kadang sekolah pun tidak bisa menangani hal tersebut. Kembali lagi ke cara orang tua mendidik anaknya di rumah. Kadang orang tua terlalu menuntut anak untuk jadi yang terbaik sampai si anak jadi tidak sehat dalam menghadapi persaingan yang ada. 
Di kurikulum yang kami pakai, CCC, pada pelajaran matematika akan ada bagian si anak mengerjakan soal tambah-tambahan dalam waktu maksimal 3 menit. Jadi mereka juga belajar untuk berpacu dalam melodi dengan waktu. Tetapi sebelum mereka memulainya, akan ada ayat yang berkata: "and whatsoever you do, do it heartily, as to the Lord and not unto men (Col 3:23)." Dengan kata lain, ini mengingatkan anak, dan orang tua juga, bahwa kalau kita melakukan yang terbaik, itu karena Tuhan, bukan untuk mengalahkan manusia ataupun bukan untuk kepuasan pribadi. Karena kalau mau jujur, dalam kompetisi lebih banyak karena mau mengalahkan orang lain. Jika si anak sudah mengerti hal ini, maka saat dia harus berkompetisi, dia dapat berkompetisi dengan sehat. 

15. Mitos: Anak homeschooling tidak perlu didampingi saat belajar.
Fakta: pendampingan anak saat belajar dipengaruhi oleh umur dan jenis kurikulum yang diambil. Kesalahpahaman ini biasanya muncul dari sisi homeschooler. Tentunya jenis pendampingan terhadap anak TK dan jenis pendampingan terhadap anak SMA pasti berbeda. Lalu jenis pelajaran yang akan diajarkan pasti juga memengaruhi apakah si anak harus sering didampingi atau bisa lebih sering belajar sendiri. Dan terlebih lagi jenis kurikulumnya. Ada kurikulum yang memerlukan pendampingan selama proses pembelajaran, tetapi ada juga yang lebih banyak melepas si anak. Jadi tidak dapat dipukul rata. Tetapi yang pasti, orang tua lah yang tahu kapan harus didampingi dan kapan harus dilepas. Jangan sampai anak dilepas sebelum waktunya, yang akhirnya terkadang orang tua harus mengulang kembali beberapa hal. Tetapi jangan sampai anaknya didampingi terus.  

Demikianlah beberapa mitos dan fakta yang sering ditanyakan orang-orang kepada saya. Tentu saja masih banyak lagi mitos yang mungkin beredar di masyarakat. Tetapi sebetulnya jika kita sudah melihat yang esensi dari homeschooling, maka hal-hal yang berbau katanya, mitos, pasti dapat dijawab dengan fakta-fakta yang ada. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar