Sabtu, 21 April 2018

Monthly Meeting: Character 101


Memasuki tahun 2018, komunitas kami mengambil tema karakter sebagai tema bulanan. Untuk mempersiapkan kami memahami tentang karakter, maka pertemuan gabungan di bulan Januari dan Februari dikhususkan untuk membahas mengenai karakter dan serba-serbi mengenai karakter. Adapun pembicaranya adalah salah satu keluarga homeschooling yang memang berkecimpung dengan Character First Indonesia, keluarga Hartono.

Artikel ini dibuat sebagai ringkasan apa yang kami dapatkan saat seminar karakter dan isi pikiran kami yang ternyata masih berhubungan dengan seminar karakter tersebut. Dan karena banyak teman-teman yang tidak mengikuti seminar ini, namun datang di pertemuan selanjutnya, maka supaya ada sedikit gambaran. Tentunya akan jauh lebih enak mendengarkan langsung dari dan bertanya langsung kepada sumbernya.  

Dalam kehidupan sehari-hari, karakter seringkali disamakan dengan watak atau sifat ataupun kepribadian. Namun karakter sebetulnya lebih dari sekedar hal-hal tersebut. Karakter merupakan sesuatu yang penting, karena karakter menunjukkan siapa kita sebenarnya. Seringkali kita menjumpai orang-orang yang mempunyai banyak teori namun tindakan mereka berlawanan dengan teori mereka. Karakterlah yang menentukan sikap, perkataan, dan tindakan seseorang. Yang berarti setiap keputusan yang diambil ditentukan oleh karakter mereka. Hampir setiap masalah dan kesuksesan yang dicapai berakar pada karakter.

Bagaimana cara mengembangkan karakter pada anak-anak? Ada tiga hal yang berhubungan dengan pengembangan karakter, yaitu menekankan karakter, menuntut karakter, dan menghargai karakter. Menekankan karakter berarti membuat karakter tersebut dimengerti oleh si anak. Cara untuk membuat anak mengerti adalah dengan mendefinisikan setiap kualitas karakter sehingga dimengerti oleh anak tersebut. Dalam membuat anak mengerti, diperlukan adanya ilustrasi dan penerapan praktis.

Hal yang kedua adalah menuntut karakter. Menuntut di sini bukan berarti kita menuntut anak untuk bersikap baik, tetapi lebih kepada mengaplikasikan dari pengertian yang didapat. Kita, yang artinya anak dan orang tua, diharapkan menjadi teladan karakter dalam setiap tingkatan. Tentunya saat mengaplikasikannya, bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saat terjadi hal yang tidak sesuai, kita hendaknya mengkoreksi sikap yang salah. 

Hal yang ketiga adalah menghargai karakter. Setiap kualitas karakter yang ditunjukkan oleh si anak patut untuk mendapatkan pujian walau mungkin hasil dari pekerjaannya belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Saat kita menghargai karakter anak, kita memuji karakter lebih dari keberhasilan. Dan ada kalanya karakter yang baik dipuji secara publik, sebagai bentuk apresiasi kita kepada si anak. 

Saya jadi teringat saat kakak mendapat misi dari kelas Sunday School untuk membuat satu kebaikan setiap hari. Saat malam hari, kakak berkata, "Ma, hari ini kakak kan tadi cuci piring. Berarti kakak sudah melakukan satu kebaikan." Mungkin kakak di kelasnya memberikan contoh ini kepada mereka. Mencuci piring memang hal yang biasa dilakukan Duo Lynns, bahkan biasanya mereka rebutan untuk mencuci piring orang lain juga. Jadi memang mencuci piring bukanlah suatu hal yang luar biasa di rumah kami. Oleh karena itu, ayah yang mendengar dari ruang tamu langsung menjawab bahwa itu memang hal yang sudah biasa dia lakukan dan memang wajar dilakukan oleh kita semua. Padahal hal ini dapat dianggap sebagai suatu kebaikan yang dapat dilakukan oleh anak-anak.

Seringkali kita, termasuk saya, lebih mudah menangkap hal yang salah dibanding hal yang baik yang dilakukan anak. Kita lebih cepat bereaksi terhadap suatu kesalahan yang mereka lakukan. Dan jika mereka melakukan yang baik, kita merasa itu adalah suatu keharusan. Oleh sebab itu, memuji perbuatan baik yang dilakukan anak juga merupakan hal yang penting dalam mengembangkan karakter. Anak merasa usahanya dihargai. Jangan sampai kita bereaksi terhadap kesalahan, tetapi tidak memuji kebaikan yang mereka lakukan.

Selain mengenai pujian, kami juga mendapatkan beberapa hal mengenai koreksi. Karena pada dasarnya manusia lebih mudah menemukan kesalahan, apalagi kalau kerjaannya berhubungan dengan mencari bug atau kutu, maka jika anak berulah kita akan lebih mudah bereaksi. Sebetulnya sih wajar agar anak tidak mengulangi kesalahan yang ada. Yang menjadi tidak wajar adalah cara kita bereaksi terhadi kesalahan mereka dan juga cara kita mengkoreksi kesalahan mereka. Oleh sebab itu, cara kita mengkoreksi suatu karakter pun harus dilakukan dengan cara yang berkarakter.

Saat kita mengkoreksi, kata-kata yang negatif haruslah dieliminasi. Kita harus bersikap tegas. Tegas tidak sama dengan kasar dan tegas tidak sama dengan berteriak (walau kalau emosi biasanya nada akan naik satu oktaf dengan sendirinya). Kita harus mampu mengendalikan diri supaya tidak menjadi marah. Saat kita bertindak dengan kemarahan, anak akan bereaksi dan hal ini akan memperlama proses koreksi.

Sebelum melakukan pengkoreksian, kita sebagai orang tua wajib menggali informasi atas apa yang si anak lakukan. Karena bisa saja pelanggaran dilakukan secara tidak sengaja. Jika memang tidak disengaja, maka kita dapat mengingatkan si anak agar tidak mengulanginya lagi. Cara bertanya pun tidak sekedar bertanya. Lebih dari sekedar menanyakan apa yang terjadi, tanyakan kepada si anak apa yang ia lakukan dan mengapa ia melakukan hal tersebut. Dengan demikian si anak akan menyadari dan menilai sendiri apakah tindakan yang dilakukannya pantas atau tidak. Harapannya adalah si anak bukan hanya menyesal setelah melakukan pelanggaran tetapi melakukan perubahan hati.  

Salah satu tugas kita sebagai orang tua adalah memberi tahu si anak bahwa ada akibat untuk setiap perbuatan yang mereka lakukan, termasuk atas setiap pelanggaran yang mereka lakukan. Sehingga setelah si anak menyadari kesalahan, baik disengaja atau tidak disengaja, ajaklah si anak untuk meminta maaf. Bukan sekedar berkata "Maaf ya", tetapi ajaklah anak meminta maaf atas kesalahan mereka seperti berkata "Maafkan saya karena merusak mainan kamu". Dengan demikian, si anak menyadari bahwa tindakan yang mereka lakukan salah, bukan sekedar dipaksa meminta maaf. Saat mereka meminta maaf, mereka belajar untuk bertanggung jawab, merendahkan diri mereka dan memulihkan hubungan dengan orang lain. 

Selain itu, pengkoreksian hendaknya dilakukan pada hari kita mendengarnya dan dilakukan secara pribadi. Jika pelanggaran mereka tidak segera dikoreksi, apalagi sampai berhari-hari, anak akan menganggap pelanggarannya adalah hal yang wajar. Segeralah menangani pelanggaran tersebut, tetapi jangan melakukannya di depan umum. Jika sedang di tempat umum, sebaiknya ajak anak ke pojokan dan ajaklah anak berbicara. Walaupun mungkin kita belum tahu tindakan apa yang akan kita ambil, namun jangan menunda untuk mulai melakukan pengkoreksian.

Apakah tugas kita selesai di situ? Tidak. Sebagai orang tua kita harus memahami perilaku anak kita dan mengobservasi akar sikapnya mereka. Dengan mengobservasi, kita dapat menemukan kualitas karakter apa yang kurang dan membantu anak untuk memperbaiki kekurangan mereka. Dan terkadang kita pun harus melakukan pendisiplinan. Saat melakukan pendisiplinan, pastikan yang kita lakukan bertujuan untuk memperbaiki dan bukan untuk sekedar membuat anak merasa bersalah ataupun sekedar menyatakan kesalahan. 

Bagi kami, sebagai orang tua, apa yang kami lakukan terhadap anak-anak kami bukan bertujuan untuk mengendalikan mereka dan membuat mereka menjadi teratur. Tujuan kami adalah untuk menanamkan prinsip-prinsip kebenaran ke dalam hati mereka. Prinsip-prinsip tersebut yang nantinya akan memimpin seluruh hidup mereka, untuk membentuk karakter mereka menjadi serupa denganNya, dan menjadi wanita dan pria yang mempunyai prinsip, kuat dan cakap untuk menghadapi setiap permasalahan dan tugas yang ada dalam hidup mereka. Kami melatih mereka, bukan mengendalikan. Anak-anak pun memahami saat mereka berbuat baik, bukan untuk nama mereka, tetapi agar orang melihat perbuatan mereka dan memuliakan namaNya. Bukankah pertumbuhan karakter, bukan sekedar sikap baik, merupakan tujuan dari setiap pengajaran di rumah?

Next: Penerapan Karakter dalam Keluarga

Artikel yang berhubungan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar