Bagi para homeschooler, pemilihan
mata pelajaran menjadi preferensi masing-masing keluarga. Memang ada mata pelajaran
yang wajib seperti bahasa, matematika, agama, dan science. Tetapi ada
juga yang menjadi pelajaran pilihan, dalam arti tidak selalu ada di setiap
semester.
Di rumah kami, yang menjadi pilihan
adalah Physical Education atau yang biasa dikenal olahraga. Berhubung
kami bukan keluarga yang suka sekali berolahraga berat, olahraga pilihan kami
tidak jauh dari berenang dan atletik. Di semester ini, kami membuat short
project di bidang Physical Education.
 |
| 101 Tennis |
Dimulai dari si kecil yang suka
jungkir balik, roll depan dan roll belakang dimana saja. Kami pun teringat,
waktu kakak-kakaknya masih umur dua, mereka diikutkan Gymb***e. Segala hal yang
berhubungan dengan motoric kasar dilatih di sini. Tujuannya sih supaya mereka
tahu cara rolling yang benar.
Tetapi karena si kecil bertumbuh
di masa apa-apa di rumah saja dan karena sudah tidak ada lagi Gymb***e
terdekat, maka si kecil tidak ikut kelas apa-apa. Yang dia lakukan adalah
mengimitasi kegiatan Lynn B yang sangat bagus motoric kasarnya. Akhirnya kami
pun mencoba mencari tempat yang bisa memfasilitasi hal ini.
Setelah searching dan trial,
kami pun bergabung dengan salah satu club. Menariknya, uang les bulanan anak
kedua dan ketiga hanya setengah harga dari anak pertama. Apalagi biaya
pendaftaran hanya goban. Dah setelah dikalkulasi, harga les per anak
hitungannya murah karena ada berbagai cabang olahraga yang bisa diikuti sebebas mereka. Mamak pun berdiskusi dengan
kepala sekolah dan kepala sekolah setuju dengan short term project ini.
Ini seperti oase di tengah padang
pasir untuk Lynn B. Dia yang selalu ribut mau belajar soccer pun bisa mencoba
di sini. Alhasil short-term project dilakukan dengan bahagia bagi si tengah ini. Olahraga yang diambil ada
futsal, tenis, basket, berenang, dan gymnastics.
Tujuan kami adalah agar anak-anak
bisa mengenal bermacam cabang olahraga dengan cara yang lebih menarik. Bukan
sekedar menghapalkan luas lapangan, tetapi mencoba melakukan olahraga dengan
tepat dan benar. Selain itu, mereka pun belajar teamwork dalam olahraga.
Banyak orang yang tidak menyangka
anak-anak merupakan homeschooler. Mereka berdua dengan cepat beradaptasi dan
mempunyai teman-teman. Dalam permainan beregu pun mereka bisa bekerjasama
dengan baik. Nah, siapa bilang homeschooler tidak dapat bersosialisasi kan?
Apa yang kami dapatkan di akhir
short term kami? Untuk si kakak yang sangat nyeni, olahraga bukanlah sesuatu
yang utama. Apalagi si kakak ini suka clumsy. Kena bola basket pun sudah
berkali-kali. Tetapi saat kami memutuskan mengikutkan dia di short-term
project ini, kami ingin dia dapat mengatasi ketakutan untuk rolling di bar
saat gymnastic.
Saat dia masih umur enam, kakak
ikut gymnastic, bahkan sempat disuruh ikut kompetisi internasional sebelum tangannya
retak. Yang awalnya dia tidak takut untuk rolling di bar, karena ketemu
pelatih yang tidak sabaran dan mendorong dia untuk cepat-cepat roll di bar,
kakak sempat tidak berani roll di bar. Bersyukurnya di short-term project
ini dia jadi belajar untuk mengatasi ketakutan dan akhirnya terbiasa lagi muter
di bar. Si kakak pun diajak untuk masuk kelas advance.
Untuk cabang olahraga yang lain,
kakak yang memang hobi mencoba, dengan senang hati mencoba parkour, basket dan tenis.
Kemampuan dia bermain basket dan tenis pun lumayan terlatih sekarang. Bahkan pelatihnya
pun berkata kakak mempunyai kemampuan dalam basket dan tenis.
Bagaimana dengan futsal? Kami
hanya meminta dia ikut tiga kali, supaya gak buta-buta amat dengan futsal. Di
pertemuan pertama, dia langsung menyatakan this isn’t her type. Tetapi
dia mencoba sampai yang ketiga.
Untuk si Tengah, Lynn B, semua
kerinduan dia akan gymnastics terpenuhi. Bukan hanya di kelas biasa, tetapi
adik ikut di kelas yang lebih advance. Parkour, futsal, basket, dan tenis juga diikuti
oleh adik. Dari ketiga kelas tersebut, futsal masih menjadi favoritnya.
 |
Futsal untuk si adik.
|
Salah satu yang menjadi
pergumulan adik adalah berenang. Adik selalu ketakutan tidak bisa bernafas di
air (yang selalu kami jawab ya pasti gak bisa, kamu kan manusia dan bukan
ikan). Tetapi setelah short-term ini ada kemajuan yang kami lihat.
Untuk si kecil, kami dapat
melihat bahwa memang dia mempunyai motoric kasar yang sangat bagus untuk anak
seusia dia. Dengan cepat dia menyerap segala yang diajarkan pelatih. Tapi tentu
saja, as the youngest, suka ada drama =D
Sebagai orang tua yang memilih
untuk mendidik anaknya di rumah, seringkali kita merasa dituntut untuk memenuhi
sisi akademis mereka. Tetapi faktanya, bagi sebagian anak yang tidak terlalu
baik dalam bidang akademis, kegiatan belajar menjadi beban. Di sini tantangan kita
untuk bisa melihat potensi mereka tanpa mengabaikan memberi asupan akademis
yang dibutuhkan.