Tampilkan postingan dengan label museum Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label museum Alkitab. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Oktober 2026

Amazing Race Nusantara

Siapa yang pernah lihat Amazing Race? Rasanya semua orang suka menonton Amazing Race. Menjadi anggota dari suatu team yang bekerja bersama memecahkan clue yang diberikan dan berpindah dari sana ke sini pasti seru sekali.

Di semester ini, komunitas homeschool kami memiliki kegiatan fieldtrip. Kami para PIC pun berpikir ingin mengunjungi musium sambil melakukan Amazing Race. Maka terciptalah Amazing Race Nusantara. 

Museum Alkitab, sebelum memulai misi hari ini.

Sebelum hari H, kami mengunjungi tempat-tempat tersebut, untuk melihat apakah ada hal-hal yang dapat kami jadikan clue. Semakin dilihat, semakin banyak hal yang dapat dijadikan clue. Sayangnya traffic di Jakarta tidak memungkinkan anak-anak untuk menggunakan transportasi umum di setiap kegiatannya.

Penjelasan mengenai Mary Jones.

Kegiatan kami saat Amazing Race dimulai dari Museum Alkitab. Kami bersama-sama mendengarkan penjelasan Sejarah Lembaga Alkitab Indonesia. Setelah itu kami pun melihat benda-benda yang ada di Alkitab. 

Group anak-anak.
Mengenal tanaman-tanaman yang ada di Alkitab.

Penjelasan dari staff di sana

Setelah penjelasan selesai, anak-anak yang berusia 9 tahun ke atas dibagi menjadi 4 kelompok dan anak-anak yang berusia di bawah 9 tahun dikelompokkan menjadi satu. Group anak kecil diajak pergi terlebih dahulu ke tujuan selanjutnya, yaitu McDonalds Kramat Raya untuk makan siang terlebih dahulu. Sementara 4 kelompok yang lain harus menyelesaikan clue yang diberikan. 

Kelompok 1

Kelompok 2

Kelompok 3

Kelompok 4

Clue yang diberikan akan mengarahkan mereka untuk pergi ke Museum Sumpah Pemuda menggunakan Trans Jakarta dan makan terlebih dahulu di McDonalds sebelah museum. Tetapi tentunya tidak langsung terlihat secara eksplisit. Bagi sebagian anak, ini adalah pengalaman mereka naik TJ tanpa orang tua mereka. Tetapi ada kakak-kakak yang sudah besar yang bisa membantu untuk mengawasi. Selain itu di setiap kelompok ada salah satu orang tua yang menjadi bayangan.

Ada apa saja di Museum Sumpah Pemuda? Sebelum pandemi, kami sering sekali mengunjungi Sumpah Pemuda, saat ada pameran mengenai Dokter Moewardi, maupun saat pameran Emma Poeradiredja. Nampaknya pandemi membuat Sumpah Pemuda menjadi sedikit berbeda. Dan seperti saat kunjungan kami ke museum di Seoul, pandemi membuat tayangan digital lebih banyak terlihat.

Meja abu di entrance museum, menandakan pemilik rumah ini adalah seorang keturunan Tionghoa.
Tayangan video yang membuat anak-anak dapat merasakan suasana saat itu.
Keturunan Tionghoa pun turut serta dalam perjuangan kemerdekaan.
Halaman belakang Museum Sumpah Pemuda.

Di Museum Sumpah Pemuda, selain mereka melihat Sejarah perjuangan pemuda, anak-anak diminta mencari para bapak yang menjelma menjadi Jong Ambon, Batak, Celebes, dan Jawa. Para bapak ini membawa clue mengenai tempat tujuan berikutnya. Tetapi sebelum mereka mendapatkan clue, mereka harus bernyanyi Indonesia Raya terlebih dahulu.

Biola W.R.Soepratman
Teks Indonesia Raya
Aturan dalam menyanyikan Indonesia Raya
Our ex-house =D

Tujuan kami berikutnya adalah Monas. Kalau tadi anak-anak naik TJ, sekarang mereka bergabung dengan mobil-mobil yang ada. berhubung pintu masuk terdekat untuk berjalan menuju area cawan Monas terletak Seberang Pertamina, dan tidak ada parkiran, maka kami para PIC jalan terlebih dahulu dan berdiri di pinggir jalan supaya anak-anak bisa didrop sementara para bapak parkir di Museum Nasional. 

Pintu terdekat menuju Monas

Monas merupakan tugu peringatan yang menjadi icon utama symbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Monas sendiri dirancang oleh Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono. 

Ada beberapa keunikan dari tugu yang dibangun mulai 17 Agustus 1962. Yang pertama, tubuh dan cawan tugu terinspirasi dari konsep tradisional Lingga (alu/pestle) dan Yoni (lesung/mortar) yang melambangkan kesuburan serta kehidupan abadi. Yang kedua, lidah api emas yang berada di atas terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton yang dilapisi emas seberat 50 kg. Yang ketiga, unsur 17, 8, dan 45 dimasukkan dalam Pembangunan Monas.

Apa saja yang dilakukan anak-anak selama di Monas ini? Mereka bersama-sama melihat diorama penjelasan kemerdekaan Indonesia. Setelah ini mereka ke arah luar dan mengerjakan clue yang diberikan. Dari clue ini, mereka mendapatkan tugas untuk berfoto di Monas. Setelah itu mereka berpindah ke tujuan berikutnya, yaitu Museum Nasional.

Rombongan anak kecil.
Kelompok 3 yang sedang menyelesaikan clue.

Di setiap Rabu minggu kedua, Museum Nasional membuat program ARAMSA. ARAMSA, Akses Rabu Malam untuk Semua, merupakan program gratis tiket masuk bagi semua pengunjung museum. ARAMSA dimulai dari jam 16.00 hingga jam 20.00. Kami pun memanfaatkan program ini sebagai penutup dari kegiatan Amazing Race kami.

Ganesha
Tampilan yang berbeda dibanding saat kami ke sini dulu.

Di Museum ini, mereka akan menemukan 3 artefak. Sementara anak-anak dibawah usia 9 tahun bermain di area main anak-anak.

Hm...

Sejak pandemi usai, Museum Nasional mempunyai tampilan yang berbeda dibandingkan saat kami mengunjungi Museum ini dulu. Penataannya bagaikan museum-museum di luar negeri. Layar interaktif pun ada di hampir semua bagian. Salah satu yang baru adalah ruang imersif. 

Spot main bagi anak-anak kecil.

Ruang ini merupakan instalasi permanen dengan proyeksi video mapping ke setiap sisi dinding 360°, termasuk lantai, dengan tata suara yang dolby sound. Anak-anak akan diajak berpetualang dan berkelana berada di dalam ruangan ini selama 30 menit. Mereka akan melintas dari masa ke masa untuk mengenal alam, seni, budaya, dan nilai-nilai keindonesiaan. 

Jadwal Imersif
Mamak2 yang tidak masuk ke ruang imersif berpose bersama.

Apakah yang ingin kami para PIC capai dari kegiatan fieldtrip kali ini? Kami ingin agar anak-anak belajar menyelesaikan masalah bersama dalam satu team. Anak-anak yang lebih besar bertanggung jawab terhadap anak-anak yang lebih kecil. selain itu kunjungan-kunjungan ke setiap museum membuat mereka belajar untuk lebih mencintai Indonesia, siapapun yang memimpin bangsa ini.

Amazing Race Nusantara kami diakhiri dengan makan malam. Ruang kafetaria dapat kami pinjam untuk duduk dan makan. Anak-anak yang ditanya berkata ingin lagi mengikutI Amazing Race. Mereka merasa kegiatan ini seru walau lelah. Namun ada juga anak-anak yang merasa tidak ingin lagi berkeliling-keliling =D

Selasa, 11 September 2018

Wisata Alkitab di Museum Alkitab



Masih dalam rangka aktivitas homeschool untuk mengisi liburan kemarin, kali ini kami para homeschooler Jakarta Bekasi mengikuti kegiatan Paket Wisata Alkitab di Museum Alkitab Salemba. Awalnya kami hanya berencana mengunjungi museum yang berlokasi di gedung Lembaga Alkitab Indonesia. Namun saat menghubungi ke sana, ternyata kalau jumlah peserta minimal 15 orang, dewasa dan anak-anak, kami dapat mengikuti Paket Wisata Alkitab atau PWA. Di PWA ini, kami akan didampingi oleh pihak museum dan mendapatkan penjelasan dari pihak museum saat berkeliling museum. Setelah menyocokkan tanggal dan waktu dengan pihak museum, maka akhirnya kami pun mengikuti PWA ini.

Kegiatan PWA dimulai sejak kami berkumpul di lobi gedung. Ibu Costa dan tim menyambut kami dan memberikan sedikit penjelasan mengenai  gedung yang terdiri dari sepuluh lantai ini. Setelah itu kami diajak untuk menuju ke lantai dua.
Penjelasan singkat mengenai gedung LAI
Alkitab besaaaar banget
Penghargaan MURI untuk Alkitab edisi study terbesar. 
Di lantai ini, kami diberikan sedikit penjelasan mengenai sejarah lembaga Alkitab. Diawali dengan kisah Mary Jones yang lahir tahun 1784 di desa Pennant Wales Inggris Raya. Pada masa itu, Alkitab merupakan barang langka dan mahal. Oleh sebab itu, tidak semua orang dapat memiliki Alkitab dan tidak semua tempat menjual Alkitab. Mary kecil, yang saat itu berusia 7 tahun, bertekad untuk mengumpulkan duit dengan cara mengumpulkan kayu bakar dan memintal benang. Hingga akhirnya saat ia berumur 16 tahun, tabungannya sudah dirasa cukup untuk membeli Alkitab.
Ruangan khusus untuk presentasi.
Mary pun berjalan kaki sejauh 41 KM untuk menjumpai Pendeta Thomas Charles. Sayangnya saat ia tiba, Alkitab yang tersedia hanya satu dan itupun sudah dipesan oleh orang lain. Mary begitu sedih. Namun karena Pendeta Thomas Charles melihat Mary yang begitu bersusah payah demi Alkitab, akhirnya Alkitab yang tinggal satu itu diberikan kepada Mary.

Berbekal pengalamannya, Mary Jones pun bertekad agar banyak orang dapat membaca Alkitab. Maka ia pun mendirikan Lembaga Alkitab pertama di Inggris pada tahun 1804. Di tahun 1814 didirikan Lembaga Alkitab di Belanda. Di tahun 1816 didirikan Lembaga Alkitab di Amerika Serikat. Dan akhirnya di Indonesia pun berdiri Lembaga Alkitab Indonesia pada tanggal 9 Februari 1954.

Kami cukup terkaget-kaget saat diberi tahu di Indonesia terdapat 742 bahasa daerah. Di Indonesia sendiri Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa daerah agar memudahkan masyarakat setempat memahami Alkitab tersebut. Sedangkan proses penerjemahan Alkitab memakan waktu kurang lebih 10 hingga 15 tahun untuk Perjanjian Lama dan 5 hingga 10 tahun untuk Perjanjian Baru. Setelah itu dibutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan hingga 1 tahun untuk pra cetak. Dengan kata lain, dibutuhkan banyak tenaga, dana dan waktu agar Alkitab dapat sampai ke tangan kita.
Alkitab dengan berbagai bahasa
Setelah selesai presentasi mengenai Alkitab, kami diajak untuk berkeliling melihat-lihat sejarah perkembangan Alkitab, dari yang masih ditulis diatas kertas hingga sampai menjadi Alkitab yang kita lihat.
Suhu di dalam tempat Alkitab.
Alkitab kecil
Terpesona dengan replika bahtera Nuh.
Alkitab tulis tangan. Tebal sekali kan....
Keluar dari ruangan mengenai perkembangan Alkitab, kami diajak untuk melihat benda-benda yang ada di Alkitab. Ada beberapa macam baju yang dipakai pada masa Alkitab ditulis, alat-alat musik, loh batu, replika tabut perjanjian, kacang-kacangan, dan sebagainya.
12 batu yang melambangkan 12 suku.
Mahkota duri dan paku
Berbagai alat musik yang tertulis di Alkitab.
Buli-buli
Mata uang yang ada dalam Alkitab.
Dua loh batu dan replika tabut perjanjian.
Kaki dian dan slingshot yang dipakai Daud.
Kami juga diajak untuk mengunjungi perpustakaan yang ada di lantai 3. Perpustakaan ini berisi buku-buku literatur. Tetapi yang menarik adalah perpustakaan khusus anak-anak. Isinya pun menarik dan anak-anak bisa main membaca dengan nyaman di situ.
Perpustakaan anak, dijajah oleh kami :)
Pohon Ara yang ada di luar perpustakaan.
Pohon zaitun
Kami pun kembali ke lantai dua untuk mendengarkan sedikit presentasi tentang proses pembuatan Alkitab dan pengorbanan para misionaris untuk mengabarkan Injil. Hal ini menyadarkan anak-anak bahwa kalau kami masih dapat membaca Alkitab itu merupakan suatu anugerah, disaat banyak orang yang belum tentu dapat membaca Alkitab.
Biji sesawi 
Kacang-kacangan yang ada.
Setelah selesai presentasi, ada sedikit kuis yang diberikan oleh pihak LAI dan anak-anak yang berhasil menjawabnya mendapatkan hadiah. Di akhir PWA kami pun mengucapkan terima kasih kepada pihak LAI dan Museum Alkitab untuk waktu dan kesempatan bagi kami untuk melihat museum ini. Kegiatan ini diakhiri dengan pemberian persembahan kasih kepada pihak LAI dan doa oleh kami.
Anggur kana dan roti tidak beragi. 
Walaupun kegiatan sudah selesai, namun ada satu bagian yang dapat kami kunjungi, yaitu Book Store. Di sini dijual berbagai Alkitab dan buku-buku bacaan yang dapat dibeli. Untuk produk keluaran LAI yang kami beli, kami mendapatkan diskon 20% pada saat itu. Senang sekali bukan?
Disaat orang tua melihat buku, anak-anak pura-pura wefie dengan brosur yang ada=D
Kunjungan yang singkat ini membuka wawasan anak-anak mengenai sejarah mengenai Lembaga Alkitab dan proses pembuatan Alkitab yang ada. Banyak misionaris yang mengorbankan banyak hal dalam hal pekabaran Injil. Mereka pun menyadari perjuangan banyak orang agar Alkitab bisa sampai ke tangan mereka. Harapan kami adalah mereka semakin menghargai Alkitab cetak yang ada di tangan mereka.
"How beautiful are the feet of those who preach the gospel of peace, Who bring glad tidings of good things!" (Roman 10:14b)
Museum Alkitab
Alamat: Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta Pusat
No. Telepon: (021) 3142890
Jam Kunjungan: 08.00 – 16.00 (Senin – Jumat) dan 09.00 – 15.00 (Sabtu)
Harga Tiket Masuk: Rp 4.000,00 per orang