Tampilkan postingan dengan label wisata edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata edukasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Oktober 2019

Berkenalan dengan Bank Sampah



Sampah merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Dari setiap kegiatan sederhana pun pasti akan muncul sampah. Tidak heran TPS pun bisa menjadi gunung sampah. Di negara-negara maju, hampir setiap sampah dipisah dan sebagian dapat didaur ulang. Bagaimana dengan negara kita?

Untuk mengetahui tentang sampah, di bulan Juni kemarin, kami bersama komunitas ATII mengunjungi RKBN Pulo Kambing. RKBN (Rumah Kreatif Bersatu Nusantara) Pulo Kambing merupakan salah satu tempat bank sampah di daerah Pulo Kambing. Walaupun demikian, kegiatan yang dapat dilakukan di sini bukan hanya tentang sampah saja, tetapi banyak hal lain, seperti koperasi simpan pinjam, daur ulang dari sampah menjadi karya yang cantik, sampai kepada tanaman hidroponik dan jamur.

Di hari yang sudah ditentukan, kami disambut oleh Ibu Dian dan tim. Setelah berkenalan dan melakukan pemanasan, Ibu Dian dan tim memperkenalkan kegiatan yang ada di RKBN Pulo Kambing. Berhubung jumlah peserta yang banyak, maka kami pun dibagi menjadi dua kelompok.
Perkenalan oleh Ibu Dian dan tim. 
Yang pertama, anak-anak mendapatkan penjelasan tentang koperasi. Sejak 8 Januari 2014, di RKBN Pulo Kambing terdapat koperasi syariah yang awalnya untuk masyarakat sekitar. Namun tidak menutup kemungkinan untuk masyarakat lainnya. Salah satu program yang ditawarkan adalah NyiMas atau nyimpan emas.
Penjelasan mengenai koperasi.
NyiMas adalah program pembelian emas batangan dengan sistem cicilan disertai fasilitas titipan dengan harga terjangkau. Cicilan emas ini dapat dibayarkan dengan uang fisik atau dengan sampah tertentu yang dikonversikan ke dalam rupiah. Manfaatnya tentu menarik. Selain rumah bersih dari sampah, nasabah dapat memiliki emas.

Setelah melihat penjelasan tentang NyiMas, dan melihat bentuk emasnya, maka kami pun berpindah tempat ke bagian Karya Kreasi. Karya Kreasi merupakan salah satu unit usaha di RKBN yang berfokus untuk mengelola dan mengubah sampah kering menjadi lebih bermanfaat. Sampah kering ini ada bermacam-macam, dari kertas koran, bungkus kopi, bungkus minuman, slopan bekas minuman gelas, plastik kresek, serbuk kayu bekas, dan lain-lain. Hasilnya cukup membuat kami terkejut.
Keranjang dari kertas basah.
Rumah-rumahan dari koran.
Monas dari kardus.
Tas dari bungkus kopi.
Tempat gelas dari slopan.
Piring dari slopan.
Tas dari slopan.
Tas dari kresek.
Setelah puas melihat benda-benda hasil kreasi dari sampah kering, kedua kelompok yang ada dipertemukan kembali di halaman depan. Kali ini anak-anak diajak untuk berlomba dalam memilah-milah sampah. Kali ini yang akan dipilah adalah sampah botol dan gelas bekas. Kenapa harus dipilah? Karena dengan memilah, maka setiap bagian dari botol menjadi bernilai tinggi. Kami pun baru tahu bahwa tutup botol dan badan botol mempunyai harga yang berbeda per kilogramnya.
Penjelasan untuk anak-anak kecil tentang memilah sampah.
Memilah sampah dimulai.
Tampang-tampang kepanasan tetapi senang karena berhasil memilah sampah. 
Ternyata kegiatan memilah sampah membuat kami semua kepanasan dan berkeringat. Maklum, cuaca di luar sangat panas. Kami pun kembali masuk ke ruang tengah untuk beristirahat sebentar. Kegiatan selanjutnya adalah menanam hidroponik. Apakah perbedaan tanaman hidroponik dengan organik? Tanaman organik masih menggunakan tanah sebagai media penanaman. Sedangkan tanaman hidroponik menggunakan air sebagai media penanaman. Untuk orang-orang yang tidak suka tangannya kotor kena tangan, maka hidroponik menjadi pilihan yang menarik.
Rak untuk sistem hidroponik.
Apa saja yang dapat ditanam dengan hidroponik? Kebanyakan adalah sayuran yang dapat dikonsumsi secara pribadi. Apa saja yang dibutuhkan? Ada rockwool, nutrisi atau vitamin, benih, dan sistem hidroponik. Rockwool digunakan sebagai pengganti tanah. Air yang sudah diberi nutrisi nantinya dapat disemprotkan ke rockwool ini. Untuk percobaan, anak-anak diajak untuk menanam sawi dan juga kangkung yang nantinya dapat dibawa pulang oleh mereka.
Rockwool yang sudah diberi benih.
Pelarutan nutrisi.
Hasil percobaan mereka, untuk dibawa pulang.
Kegiatan terakhir kami adalah membuat hiasan dari bubur kertas. Kegiatan ini cukup menantang bagi kakak yang tidak suka tangannya kotor. Kami pun orang tua membantu anak-anak membuat hiasan dengan cetakan yang ada. Ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran.
Pembuatan gantungan kunci dari bubur kertas.
Gantungan kunci yang sudah jadi.
Kegiatan kami di RKBN pun berakhir. Namun banyak hal yang dapat kami pelajari di sini. Kami semua diingatkan bahwa sampah pun berharga jika dapat diolah dengan tepat. Jika sampah saja dapat menjadi berharga jika dibentuk oleh orang yang tepat, apalagi kita di tangan Tuhan. Kita akan menjadi bejana yang indah jika kita rela dibentuk olehNya.
Biji sawi yang kecil tetapi sawinya besar, seperti perumpamaan.
Budidaya jamur.
RKBN Pulo Kambing
Jl. Swadaya PLN No.1 Jatinegaram Cakung, Jakarta
Jam operasional: 08.00 – 17.00

Selasa, 08 Mei 2018

Petulangan Krucils di Daerah Pasar Baru


Apa sih enaknya tinggal di Jakarta? Enaknya tinggal di Jakarta adalah banyak bangunan-bangunan dan kawasan-kawasan bersejarah yang dapat dikunjungi. Nah, kali ini kami homeschooler yang ada di daerah Jakarta dan Bekasi berencana mengunjungi daerah Pasar Baru.
Kartu pos Jakarta dengan tempat-tempat yang iconic.
Sebagian kita pasti mengenal Pasar Baru dikenal sebagai tempat belanja. Namun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, Pasar Baru merupakan salah satu pusat administratif. Tidak heran di kawasan ini terdapat banyak gedung-gedung bersejarah. Salah satunya adalah Kantor Pos. Setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk mengunjungi kantor pos, kantor filateli, bakmi Aboen Pasar Baru, dan menaiki Mpok Siti.

Tempat kunjungan pertama kami adalah Kantor Pos. Sebetulnya rencana untuk mengunjungi kantor pos sudah tercetus sejak lama. Awalnya dimulai dari kunjungan kami secara pribadi ke Kantor Pos bersama papa dan diakhiri dengan naik Mpok Siti. Tidak berapa lama kemudian, teman yang sudah pindah kota pun ternyata mengunjungi kantor pos. Maka komunitas kami pun berencana mengunjungi kantor pos tertua di Jakarta. Namun karena waktu yang susah, maka baru dieksekusi dikunjungan kami ini.
Prangko edisi Palang Merah Internasional.
Apa saja yang dikerjakan anak-anak di sana? Masih mirip seperti sebelumnya, anak-anak akan mengirim surat kepada keluarga atau teman-teman mereka. Surat yang sudah mereka buat di rumah, beserta menulis alamatnya, akan dibawa ke kantor pos. Sampai di kantor pos, mereka akan membeli prangko, menempelnya, dan memberikan sendiri surat mereka kepada petugas yang ada. 
Antri dulu ya :)
Karena waktu masih banyak, kami pun berpikir untuk membuat prangko dengan wajah sendiri alias prangko prisma. Walau beralamat yang sama dengan kantor Pos, ternyata gedungnya agak terpisah. Petugas yang ada menyarankan kami untuk menuju kantor filateli yang ada di sebelah Starbuck. Kami pun berjalan menuju Kantor Filateli Jakarta. Pas dengan tujuan kami berikutnya.

Mendengar kata filateli akan membuat kita berpikir bahwa ini adalah hobi mengoleksi prangko dan benda-benda pos lainnya dan orang yang melakukan ini disebut filatelis. Namun filateli sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu philos yang berarti teman dan ateleia yang berarti bebas bea. Filateli dapat diartikan secara bebas sebagai membebaskan teman dari bea pos. Kok bisa? Tentu bisa. Saat kita mengirimkan surat, prangko yang ada cap di sampul surat merupakan bukti bahwa kita telah membayarkan biaya pengiriman surat.

Saat kami masuk ke Kantor Filateli Jakarta, kami sedikit bingung. Gedung ini terlihat sepi dan sedang dalam tahap renovasi. Pekerja di sana memberi tahu agar kami menuju lantai dua. Saat kami memasuki lantai dua ada beberapa orang yang sedang melakukan jual beli prangko-prangko lama. Kata prangko sendiri berasal dari kata franco. Kata franco ini diambil dari nama seorang Italia bernama Franceso de Tassis. Jika kita berpikir bahwa Franceso ini adalah orang yang membuat prangko, maka kita salah. Franceso merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan pengantaran melalui pos di Eropa pada tanggal 18 Januari 1505. Hanya saja saat itu yang biasa berkirim surat adalah golongan bangsawan.
Prangko jadul.
Kami menemui petugas yang ada dan menyampaikan bahwa kami akan membuat prangko prisma. Saya sebetulnya kurang berminat membuat prangko dengan muka sendiri lalu menggunakannya untuk mengirim surat. Tetapi karena teman-teman berkata untuk koleksi pribadi saja, boleh juga deh. Selesai berfoto, kami pun mengajak anak-anak untuk melihat koleksi prangko dan uang yang ada dibagian depan.
Si kecil yang beraksi :)
Keberadaan filateli di Indonesia ini memang sudah ada dari tahun 1922 dan sejak 29 Maret 2006, tanggal 29 Maret diperingati sebagai hari filateli. Setiap ada peristiwa penting, Kantor Pos Indonesia membuat prangko yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Dan terkadang ada tema-tema yang menarik dalam pembuatannya, seperti flora, fauna, tempat wisata Indonesia, sea games, pekan olahraga nasional, dan sebagainya. Prangko-prangko inilah yang biasanya dikumpulkan dan mempunyai nilai jual lumayan tinggi. Penjual-penjual yang ada di sini kebanyakan mengoleksi prangko-prangko dan sekarang menjual koleksi mereka tersebut dengan harga yang cukup baik.
Uang tempo dulu... Ada Rp 500,00 gambar orang utan.
Prangko Prisma isi 8
Setelah prangko prisma kami selesai, kami pun berjalan menuju Bakmi Aboen Pasar Baru. Sebetulnya di daerah Pasar Baru ini banyak bakmi-bakmi legendaris yang wajib dicoba. Karena jadwal yang padat, kami memilih bakmi Aboen. Cukup seru membawa anak-anak berjalan dari Kantor Filateli Jakarta menuju Bakmi Aboen Pasar Baru. Untuk mengajarkan mereka agar mematuhi peraturan, kami mengajak mereka untuk menyeberang melalui jembatan penyeberangan dan berjalan di trotoar. Memang lebih memutar, namun peraturan harus dipatuhi, bukan?
Semangat 45 walau matahari begitu terik.
Bagi anak-anak, ini adalah pertama kalinya mereka bermain ke Pasar Baru. Jadi mereka memang agak norak. Namanya juga pasar, pasti banyak mainan dan barang-barang lucu yang menarik perhatian mereka. Mereka bisa tiba-tiba berhenti dan memperhatikan mainan. Kendaraan yang masih dapat memasuki area perbelanjaan ini membuat kami sebentar-sebentar mengingatkan anak-anak agar tidak berjalan ke tengah jalan. Kalau kata kakak, sama seperti di Myeongdong, banyak mainan dan kendaraan bisa lewat di tengah jalan. Uhm.... Korea rasa Jakarta ya nak.
Sesaat sebelum jalanan ini dipenuhi orang dan kendaraan.
Toko ini masih ada loh....
Bakmie Aboen terletak di gang Kelinci. Ini pertama kalinya kami, selain mami D, makan ke sini. Lokasinya cukup mudah dikenali, yaitu berada di gang kecil disamping bakmi Gang Kelinci. Menu yang menjadi andalan di sini adalah mie jamur (halal dan non halal) dan bakso gorengnya. Dan karena yang dimakan adalah mie, maka acara makan ini menjadi lebih cepat. Untuk rasa, memang bakmi yang mendapatkan predikat bintang lima oleh Tirta Lie ini sangat enak.
Dunia anak, dunia bermain, termasuk saat menunggu makanan.
Bakso goreng.
Bakmi non halal
Selesai makan, kami pun berpindah menuju depan Istiqlal. Tujuan kami adalah mengajak anak-anak ini keliling kota naik bus tingkat. Berbeda dengan kunjungan kami sebelumnya, kali ini acara menunggu bus lumayan menyita waktu. Akhirnya Mpok Siti pun tiba dan anak-anak dengan semangat menuju ke atas. Rute yang kami ambil adalah Jakarta Modern. Kali ini banyak sekali anak-anak TK yang ikut naik. Dan karena banyaknya penumpang di dalam bus ini, ditambah matahari sedang terik, AC yang tidak dingin pun tidak berasa dan kami semua kepanasan. Memang lebih enak naik Mpok Siti di pagi hari, saat matahari belum panas sekali.
Tetap berpose walau kepanasan.
Cepat-cepat ke atas untuk duduk di depan.
Sepanjang perjalanan, anak-anak ini senang melihat pemandangan dari bus tingkat. Tetapi namanya juga anak-anak, begitu bus terkena macet, mereka sudah mulai gelisah. Untungnya macet ini tidak begitu lama. Akhirnya kami pun tiba kembali di Istiqlal dengan hasil dua anak sudah tertidur =))

Petualangan krucils hari ini pun berakhir. Selain menikmati kebersamaan yang ada, mereka pun secara tidak langsung belajar untuk beradaptasi dalam keadaan dan masyarakat yang ada. Mereka belajar untuk tidak mengeluh walaupun harus mengantri dan menunggu bus sambil panas-panasan. Mereka pun belajar mengenai tenggang rasa dalam keberagaman yang ada. Well, the world is our classroom, isn't it? :)

Sekilas Informasi 
Kantor Pos Pasar Baru
Alamat: Jl. Pos no.2. Pasar Baru, Jakarta Pusat 10110
Jam operasional: 08.00 - 16.00

Kantor Filateli Jakarta
Alamat: Jl. Pos no. 2, Pasar Baru, Jakarta Pusat 10110
Jam operasional: 08.00 - 16.00 (hari Minggu tutup)

Bakmi Aboen
Gang Kelinci, Pasar Baru (di belakang Bakmi Gang Kelinci)
Jam operasional: 07.00 - 19.00

Rabu, 20 April 2016

Field Trip to Taman Safari

Ingat tentang komunitas homeschool yang pernah saya bicarakan di awal? Komunitas homeschool adalah sekelompok keluarga yang memilih homeschool sebagai cara mereka mendidik anak-anak mereka. Nah, bersama komunitas ini para homeschooler saling berbagi, belajar bersosialisasi, dan melakukan field trip. Field trip pertama yang kami lakukan adalah mengunjungi Taman Safari. Kegiatan ini dilakukan setahun yang lalu. Tetapi saya mendadak ingin menulis tentang tempat ini, karena menurut saya Taman Safari adalah tempat wisata edukasi yang children friendly. Sehingga pantas saja untuk diceritakan, walau sudah setahun yang lalu. 

Seharusnya ada empat keluarga yang akan pergi, tetapi karena ada dua keluarga yang berhalangan, maka hanya dua keluarga yang pergi dalam field trip ini. Untuk memanfaatkan waktu seefisien mungkin, karena rumah kami jauh-jauhan, maka meeting point yang dipilih adalah Cimory Riverside. Sambil menunggu keluarga yang lain, anak-anak  memanfaatkan waktu dengan bermain di playground. Perlu kami akui, playground di Cimory Riverside bagus loh. Ada sisi untuk climbing, balancing, lumayan untuk menghabiskan waktu. Setelah kumpul, maka kami berjalan beriringan menuju Taman Safari.

Jujur loh, sejak saya sekolah SD sampai sekarang punya buntut dua, saya belum pernah menginjakkan kaki ke Taman Safari. Dan seingat saya, sekolah tidak pernah mengadakan acara jalan-jalan ke sana. Kasihan ya saya....Jadi bukan hanya anak-anak yang pertama kali ke Taman Safari, tetapi si mbok-nya juga baru pertama kali ke sana. Berhubung baru pertama kali, saya sibuk searching, nyari info tentang Taman Safari. Biasa....kepo dikit penasaran boleh dong.

Taman Safari Bogor, dibangun pada tahun 1980, diatas lahan bekas perkebunan teh yang sudah tidak produktif. Karena bekas perkebunan teh, pastilah hawa di Taman Safari lumayan sejuk. Taman ini ditetapkan sebagai obyek wisata nasional oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi pada masa itu, Soesilo Soedarman. Pada tanggal 16 Maret 1990 diresmikan menjadi pusat penangkaran satwa langka di Indonesia oleh Menteri Kehutanan pada masa tersebut, Hasyrul Harahap. Awalnya Taman Safari hanya seluas 50 hektar, tetapi sekarang menjadi 168 hektar. Katanya, Taman Safari memiliki sekitar 2500 koleksi satwa dari hampir seluruh penjuru dunia termasuk satwa langka. 

Sepanjang jalan menuju Taman Safari banyak sekali buah-buahan dan sayur-sayuran yang dijual di pinggir jalan. Saya berpikir sayur-sayuran ini untuk dibeli sebagai oleh-oleh saat pulang dari Taman Safari. Tapi kok banyak yang beli di pagi hari. Suami saya (dia sudah kesekian kalinya ke Taman Safari) berkata itu buat orang kasi makanan ke hewan-hewan. Lalu saya ingat pernah baca cerita ada hewan yang memasukkan kepala ke mobil karena mau makanan dari yang bawa mobil. Dan ternyata memberi makanan kepada hewan-hewan tersebut tidaklah baik, selain berbahaya bagi yang memberi makanan, itu juga membuat mereka jadi 'pengemis' dari orang-orang yang lewat dan mengacaukan diet mereka. 

Saat kami sampai di gerbang Taman Safari, pertama yang harus dilakukan adalah membeli tiket. Seperti saat kita masuk Ancol, mobil juga harus bayar tiket masuk. Jangan lupa meminta peta saat masuk ya. Duo Lynns sibuk membuka peta. 
Peta Taman Safari
Aktivitas pertama adalah berkeliling melihat hewan-hewan secara dekat, jadi kita melalui tempat yang dibentuk seperti hutan dan menyerupai hutan tempat mereka tinggal. Yang dilalui pertama adalah hewan-hewan yang tidak buas seperti zebra, rusa, gajah, llama, dan hewan-hewan sejenisnya. Setiap hewan seperti menunggu mobil-mobil untuk membuka jendela dan memberikan makanan. Bahkan salah llama mendekati mobil kami dan menjilat jendela sisi si adik duduk. Adik langsung panik dan menangis, bukan karena takut dengan llama tersebut, tetapi karena dia tidak suka jendelanya ada bekas ludah llama :)) Memang llama adalah hewan dari Amerika Selatan yang terkenal suka meludah. 
Llama, yang membuat Lynn B panik karena ludahnya
Setelah melewati daerah ini, maka kita akan bertemu genangan air yang seperti kebanjiran, Memang dari pihak pengelola membuat seperti itu, mungkin juga pertanda kita akan memasuki daerah hewan-hewan yang main di air, seperti kuda nil, buaya, dan sebangsanya. Setelah itu kita akan bertemu gerbang untuk memasuki daerah hewan-hewan karnivora. Pastikan jendela dan pintu terkunci dan tertutup, walaupun di situ ada penjaganya juga. Kan ngeri juga kalau si raja hutan mau nebeng di mobil kita. Mobil di depan kami membuka jendelanya, dan sibuk melambaikan tangan keluar. Lagi nantangin singa, ya bang. Penjaga pun mengingatkan untuk menutup jendela mereka. Gerbangnya pun ada 2 lapis. Mungkin untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan hewan-hewan tersebut kabur. Di sini kita bisa bertemu dengan singa, harimau bengala, harimau putih, dan sebangsanya. Sayangnya saat kami datang, hewan-hewan ini lagi mengantuk. Jadi kami hanya bisa melihat dari jauh.
Lihat dari jauh saja ya....dan jangan lupa tutup jendela

Setelah berkeliling, kami berhenti di area dekat elephant show. Oya, jangan lupa dilihat jam-jam pertunjukkannya ya. Ada berbagai macam pertunjukkan yang menarik. 
Jadwal pertunjukkan binatang

Karena yang terdekat adalah pertunjukkan gajah, maka kami menonton pertunjukkan tersebut. Inti ceritanya adalah terusiknya gajah-gajah karena manusia-manusia yang mengganggu habitatnya. Akibatnya si gajah balas dendam menyerang kampung mereka. Suaranya sangat berisik, sampai beberapa anak-anak menonton sambil menutup kuping, termasuk Duo Lynns. Setelah pertunjukkan selesai, kami berfoto bersama gajah tersebut. 

Berhubung perut sudah meminta jatah untuk diisi, maka kami makan di restoran terdekat, Rainforest restaurant. Harga makanan tidak murah dan tidak mahal, seperti tempat wisata pada umumnya. Tetapi sayangnya, lalat-lalat banyak berkeliaran sekitar tempat makan tersebut. Teman kami meminta lilin untuk mengusir lalat tersebut. Suasananya seperti makan di dalam hutan, lembab sejuk, ada suara burung, dan ada lalat :D

Setelah perut terisi, kami beranjak menuju baby zoo. Namanya bawa anak-anak, dengar kata baby pasti senang banget kan. Untuk menuju tempat tersebut, ternyata melalui area burung-burung. Pertama masuk ke dalam goa terlebih dahulu. Keluar dari goa, anak-anak berteriak ada flamingo di bawah. Sekelompok flamingo sedang tiduran. Tampang flamingo tersebut kucel semua, kayak tidak terawat. Teman saya pun membandingkan dengan Bird Park di negara tetangga. Sayang sekali untuk urusan perawatan, tetap saja kita kalah dengan negara tetangga. Kami berjalan lagi dan bertemu hornbill, kakaktua, dan Mr. Toucan temannya Dora the Explorer.

Kemudian kami menuju baby zoo, sayangnya harimau yang ada sudah bukan bayi lagi, gak seru untuk difoto. Bahkan ada singa yang setiap mau difoto belakangnya dipukul supaya bangun, gak keras sih, dengan pentungan. Jadi gak tega untuk foto. Ada yang bilang hewan-hewan ini diberi obat tidur supaya teler terus. Jadi ingat cerita mama, menemani oma teman saya mengunjungi Taman Safari bersama lansia lainnya. Mama saya foto dengan singa, saat itu singanya itu melek dan segar gak kayak sekarang teler dan lemas. Minggu depannya ada berita singa tersebut memangsa pawangnya karena terlambat dikasi makan. Ihhh....seram. Akhirnya kami memutuskan melihat keluarga Roo yang ada di Winnie the Pooh. Walau terkesan lucu, tetapi kangguru ini petinju ulung dan kalau ditinju dia kita bisa pingsan. Kangguru punya saudara yang lebih mungil bernama wallaby. Lalu kami melihat orang utan juga.

Oya, di Taman Safari juga ada hewan yang dapat ditunggangi seperti onta dan kuda poni. Anak-anak tertarik menaiki kuda poni. Untuk naik kuda poni, kita harus membayar Rp 15.000,00. Melihat tampang mereka yang semangat, maka kami pun mengijinkan mereka naik kuda poni. Sementara teman mereka tidak berminat untuk naik kuda poni. Sambil menunggu anak-anak, kami dan keluarga lainnya early tea time, membeli roti di cafe terdekat.

Setelah Duo Lynns selesai bermain, dan minta jatah makan juga, kami menaiki kereta. Saya sempat baca blog orang lain kalau kereta ini kayak kereta untuk berpetualang. Tetapi anak-anak tidak tahu. Jadi biar kejutan buat mereka. Diawali dengan melihat fosil-fosil dinosaurus, lalu berjalan melewati taman burung yang tadi dilihat, lalu masuk ke dalam goa yang ada api yang tiba-tiba menyala dan panasnya terasa sampai ke kereta, dan akhirnya keluar dan melalui area baby zoo. Anak-anak cukup bahagia walau sempat kaget dengan api di dalam.

Saat kami naik kereta, cuaca mendadak hujan. Namanya juga Bogor, kota hujan. Setelah itu hujan sempat berhenti dan kami mencoba mencari show yang dapat kami lihat. Yang terdekat adalah Bird of Prey. Tetapi jika hujan, maka show tidak jadi diadakan karena show tersebut adalah outdoor show. Sambil menunggu, kami berjalan menuju area reptil. Ada buaya, dan ayam makanannya, ular, lalu komodo. Muka reptil memang tidak menarik. Dan heran juga ada orang yang menjadikan reptil sebagai peliharaan. Kami sih tidak seberani mereka yang menjadikan reptil sebagai hewan peliharaan. Setelah melihat reptil, kami kembali menuju area bird of prey.

Mereka mengatakan show akan tetap ada, tetapi mundur 15 menit. Akhirnya dimulai juga show dari burung-burung ini. Ada perasaan kagum saat melihat elang mengepakkan sayapnya dan terbang mengandalkan tekanan angin. Tidak heran rajawali sering dipakai sebagai ilustrasi dalam Alkitab. Dan semakin melihat hewan-hewan ini, semakin kami mengagumi Tuhan, pencipta hewan-hewan ini. Setelah selesai, kami beranjak menuju sea lion show. Karena hujan semakin semangat turun membasahi bumi (sok puitis ceritanya), maka kami memakai payung.

Mungkin sebagian orang berpikir sea lion atau singa laut bisa disebut seal. Ternyata salah, saudara-saudara. Sea lion atau singa laut mempunyai leher lebih panjang dari anjing laut atau seal. Sea lion mempunyai empat flipper panjang dan seakan ada dua tangan dan dua kaki. Bentuknya pun lebih pipih dan seperti sirip ikan. Sementara seal atau anjing laut mempunyai flipper yang lebih pendek, di bagian depan seperti tangan pendek berkuku dan flipper belakang lebih menyatu dan pendek, sehingga sering disangka buntut. Sea lion mempunyai telinga, dan seal tidak punya telinga. Nah, barulah kami tahu bedanya. Kakak pun bertanya, kalau walrus mama? Hm...langsung mamanya googling. Walrus ternyata suka disebut beruang laut. Lebih gede lagi dan masih sepupu mereka, ordenya pun sama. Setelah menonton sea lion, teman kami harus segera pulang karena ada acara malamnya. Maka kami memutuskan untuk melihat satu tempat lagi yaitu penguin. Mengapa? Karena yang terdekat adalah tempat penguin. Seperti bahasan kami dalam karakter generosity, maka anak-anak melihat langsung Mr. One Penguin (tapi kecil mama, ini baby penguin). Setelah itu kami berpencar. Si papa memutuskan untuk berkeliling dengan mobil dan mampir di area bermain.

Taman Safari Indonesia dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti di taman bermain. Kami mengijinkan main sebentar. Sistem di sini adalah hanya boleh menaiki wahana satu kali. Dan tidak semua wahana bisa untuk anak empat tahun dan dua tahun. Bahkan wahana yang dimauin oleh si kakak ada beberapa yang sedang rusak. Akhirnya anak-anak hanya menaiki beberapa wahana, tetapi cukup membuat mereka tersenyum. Setelah itu kami pulang. 

Melihat jalanan yang macet, padahal ini bukan weekend loh, kami jadi berpikir apalagi kalau pergi saat weekend, yang ada jam tutup buka. Tiba-tiba kami bersyukur kalau kami homeschooling. Jadi  bisa pergi kapan saja, tergantung papanya juga, dan bisa jalan-jalan saat weekdays. Kalau sekolah kan belum tentu bisa kelayapan pas weekdays. Well, selalu ada alasan untuk bersyukur kan :) 

Berhubung si kakak mulai merem melek, kami memutuskan untuk berhenti makan dulu di Cimory Mountainview. Seandainya mereka ketiduran pun, mereka tertidur dalam keadaan perut kenyang. Bagusnya pemandangan di Cimory ini saat malam. Lampu-lampu menambah indah pemandangan yang ada dan membuat makan pun terasa enak (kata lain dari kelaparan). Setelah makan, anak-anak dilap dengan tisyu basah (pengganti mandi). Cukup seru juga ngelap anak gelap-gelapan. Lalu mereka berganti baju bersih. Setelah mereka kembali duduk di booster seat mereka, kamipun meluncur ke Jakarta.

Tips:
1. Bawa selalu payung dan jaket, karena cuaca bisa mendadak sejuk menuju dingin dan hujan.
2. Bagi yang datang pas weekend, perhatikan jam tutup buka.
3. Kalau mau lebih menikmati suasana Bogor, bisa juga menginap di sekitar situ.
4. Siap sedia baju ganti, apalagi kalau mau main ke wahana airnya.
5. Ada juga night safari, keterangan lebih lengkap dapat dilihat di website.

TAMAN SAFARI INDONESIA BOGOR 
www.tamansafari.com
Jalan raya Puncak no 61 Cibeureum, Cisarua Bogor 16750
Telp: (+62251)8250000
Jam buka: 08.30 -  17.00 (weekdays), 08.00 -  17.00 (weekend)
Tiket:
Dewasa Rp 150.000,00
Anak     Rp.140.000,00
Mobil    Rp.  15.000,00
Bus       Rp.  20.000,00
Motor   Rp.    5.000,00

Info Buka dan tutup jalur  (one way) untuk Sabtu, Minggu, dan libur nasional
satu arah NAIK (Arah Puncak)       09.00 - 10.30 WIB
satu arah TURUN (Arah Jakarta)    15.00 - 18.00 WIB

Rabu, 13 April 2016

Bermain di Seoul Children Museum 서울상상나라

Kali ini saya mau cerita tentang liburan kami tahun lalu. By the grace of God, kami dapat kesempatan untuk jalan-jalan ke luar negeri. Dan karena kami homeschooling, kami bisa dapat tiket murah dan pergi jalan-jalan saat anak-anak lain masih sekolah atau sedang ujian tepatnya. Biasanya dalam setiap jalan-jalan kami, kami selalu mencari tempat wisata edukasi, khususnya musium. Mengapa? Karena musium di luar negeri itu bagus dan terawat. Bahkan ada yang gratis loh. Jadi, kami dengan semangat memasukkan musium ke dalam jadwal kami. 

Kali ini kami transit ke Seoul, negeri ginseng. Hanya dua hari sih, jadi dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat-tempat yang bagus. Dan karena keterbatasan waktu, saya searching dulu tempat-tempat yang menarik dan cara ke sananya. Kan kalau nyasar rada susah untuk bertanya, dan tidak mungkin juga ketemu si profesor alien alias Do Ming Jun oppa. Hasilnya adalah di hari pertama, kami akan mengunjungi Seoul Children Museum. Yang semangat ke sana adalah mamanya, secara anak-anak belum tahu kita mau kemana.

Seoul Children Museum (서울상상나라)  terletak di Children's Grand Park. Children's Grand Park merupakan taman yang besar dan semua ada di situ. Maksudnya? Dalam satu area ini, yang besar banget, ada taman bermain, kebun binatang, taman edukasi, dan musium. Dan bahagianya saudara-saudara, untuk masuk ke taman ini, tidak dipungut biaya alias gratis. Tetapi untuk menggunakan mainan-mainannya, ada beberapa mainan yang tidak gratis. Rasanya jika waktu memungkinkan, ingin rasanya mengunjungi semuanya. Tetapi karena keterbatasan waktu dan takut oma kelelahan, kami memutuskan hanya mengunjungi musiumnya.

Children's Grand Park

Untuk mencapai tempat ini, kami menggunakan metro subway. Metro subway di Seoul sangat kompleks tetapi begitu tahu triknya akan sangat user friendly, diluar tangga, tangga dan tangganya (kata teman saya, Korea dijuluki negeri 1000 tangga). Karena kami ingin langsung ke musium, kami naik metro menuju Children's Grand Park station (berdedikasi sekali orang-orang Korea akan fasilitas untuk anak, sampai nama stasiunnya pun ada, padahal dekat situ ada Sejong University) dan mengambil exit 1. Dengan kedinginan semangat kami berjalan ke musium tersebut, melewati kolam yang penuh dengan rontokan daun (mungkin akan indah saat musim semi). Dan sampailah kami di depan musium ini, dan disambut oleh pink dino. 
Berfoto dulu dengan pink dino di depan Seoul Children Museum
Dad and girls


Seoul Children Museum terdiri dari empat lantai, yaitu B1, 1F, 2F dan 3F. Saat kita masuk ke dalam musium ini, kita langsung berada di lantai 1. Berdasarkan hasil googling, kami baca bahwa di dalam musium ini hanya ada kafe kecil, untuk ngopi dan makan kue doang, dan kafe tersebut tidak menjual makanan. Mereka menyarankan agar anak-anak yang datang membawa bekal sendiri dan mereka menyediakan ruangan di lantai 3 yang dapat digunakan untuk makan siang. Maka kami pun berencana untuk membeli makanan dari CU (Family Mart di Indonesia) terdekat. Setelah kami membayar tiket masuk musium, kami mendapatkan cap yang tidak terlihat sama sekali, tetapi saat disenter oleh mereka, maka cap itu akan terlihat. Kakak dan adik senang sekali mendapat cap tersebut. Fungsi dari cap ini adalah asal kita punya cap tersebut, kita dapat keluar masuk dengan bebas.
Denah tiap lantai

Lantai B1 bertemakan full of experiences. Di sini terdapat beberapa bagian yang dapat dikunjungi, yaitu Beyond Sensory Play, Atelier, Cooking Workshop, Toddler workshop, dan Performance Workshop. Di Beyond sensory play, anak belajar tentang fungsi panca indra dan apa yang dirasakan jika salah satu panca indranya tidak berfungsi. Bagusnya dari bagian ini, anak akan belajar menghargai setiap bagian tubuhnya dan belajar menghargai orang-orang yang tidak lengkap atau cacat. Lalu ada berbagai workshop yang dapat dikunjungi. Sayangnya saat datang, sedang ada maintenance di lantai B1 sehingga kami tidak dapat melihat isi dari masing-masing workshop. Dan berdasarkan hasil review yang sudah dibaca, maka kami mulai dari lantai 3, dengan pertimbangan group sekolah yang datang pasti akan mulai dari lantai 1 terlebih dahulu.

Lantai 3 atau 3F bertemakan full of fun. Dan memang, di lantai ini paling seru. Area dibagi menjadi dua bagian, yaitu Science Play, Culture Play. Oya, ada juga ruangan-ruangan yang disediakan untuk makan. Science play merupakan bagian anak-anak belajar science dengan bermain. Ada yang memanfaatkan tekanan angin untuk membuat bola tidak jatuh ke bawah (float the balls). Lalu ada mainan yang berhubungan dengan air (disediakan rompi dengan berbagai ukuran juga kok moms). Ada juga mainan yang memasukkan bola dan bola akan jalan ke atas menuju saluran yang berliku-liku dan keluar lagi di dalam kotak untuk bola. Ada sepeda yang kalau digenjot akan membuat butir-butir sterofoam berterbangan. Semakin cepat genjotannya atau semakin sering anak-anak meloncat di mini trampolin, maka semakin banyak butir-butir sterofoam yang berterbangan. Si kakak dan adik sibuk bermain ini dan itu. Di area culture play, anak-anak belajar mengenal berbagai negara melalui kostum yang ada, mata uang, dan ciri khas negara-negara tertentu melalui permainan puzzle. Sayangnya anak-anak tidak tertarik untuk mencoba baju-baju berbagai negara, padahal mamanya kepengen banget melihat anak-anak pakai hanbok, kan lucu (tapi akhirnya kesampaian juga saat di tourist center). Di sini mereka belajar juga bagaimana membangun rumah, menggunakan crane untuk memindahkan bata-bata, dan melakukan permainan peran menjadi builder. Karena tiba-tiba lantai itu dipenuhi oleh group sekolah, maka otomatis mereka yang diprioritaskan untuk mengoperasikan crane tersebut. Demi efisiensi waktu, kami pindah ke lantai 2.

Lantai 2 atau 2F bertemakan full of stories. Dari kata-katanya sudah jelas bahwa lantai ini merupakan lantai di mana anak-anak mengeksplorasi cerita, baik lewat buku, maupun alat gerak. Ada bagian Story Play, Imagination Play, Toddler Playground, dan Book Lounge. Yang pertama kali kami kunjungi adalah imagination play. Di sini anak-anak anak-anak bereksplorasi dengan pesawat luar angkasa dan mencoba mengirim surat untuk alien. Jadi mereka diberikan kertas dan boleh menulis apa saja di kertas itu. Kemudian kertas tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kotak, dengan dorongan angin yang besar dari bawah. Setelah dimasukkan, kotak tersebut ditutup dan surat yang tadi ditulis oleh anak-anak akan naik ke atas dan melalui pipa transparan, anak-anak dapat melihat surat mereka bergerak dan berpindah ke dalam kotak surat. Kakak dengan cepat menulis surat untuk sahabatnya (Lynn A loves K) dan si adik membuat gambar-gambar. Saat ditanya, kan suratnya untuk alien, kok tulisnya itu. Kakak menjawab biar mereka tahu best friend-nya kakak. Uh...so sweet. Sementara adik menjawab biar mereka punya gambar yang lucu. Polosnya anak-anak.

Setelah itu kami beranjak ke bagian Story play, yang bercerita mengenai kelinci dan kura-kura. Anak-anak dapat menjadi kura-kura, atau kelinci dan bermain secara interaktif. Disediakan tempurung kura-kura (bohongan tapi) untuk dipakai. Kemudian ada playground yang didisain sesuai cerita tersebut. Anak-anak dengan senang masuk ke dalam playground tersebut. Saat itu, ada anak-anak sekolah lain yang juga berkunjung ke musium tersebut. Mereka bingung mendengar anak-anak berbicara dalam bahasa lain, tetapi namanya juga anak-anak, mereka bisa bermain bersama. Di dekat playground tersebut terdapat sofa untuk para pendamping (si oma langsung duduk) dan ada papan besar dengan tempelan huruf dalam bahasa korea (hangeul). Huruf tersebut bisa dipasang dan dicopot. Sambil menunggu anak-anak bermain, saya dan suami iseng menempel dan membuat nama dengan menggunakan hangeul (gaya dikit boleh dong).

Bagi yang membawa toddler atau batita, disediakan ruangan yang sesuai dengan anak dibawah umur 3 tahun. Tema toddler playground adalah taman yang besar. Sayangnya saya tidak sempat masuk. Lalu juga ada book lounge yang berisi buku-buku dan aktivitas yang menstimulasi kemampuan berpikir.

Dari situ, sambil menunggu suami membeli makanan di CU, kami pergi ke lantai 1. Lantai 1 atau 1F bertemakan full of imagination. Di sini anak-anak bisa menjelajahi Space Play, Art Play, Nature Play, dan Special Exhibits-Bouncy Round Ball. Di space play, anak-anak dapat mencoba menyusun bentuk-bentuk geometri transparan dan warna-warni seperti tabung, prisma, balok, kubus, dan menggunakan cahaya yang disediakan, mereka bisa melihat permainan cahaya dan bermain dengan bayangan. Si adik sibuk menyusun dan mencoba menutupi cahaya untuk melihat bayangan. Sementara si kakak sibuk menyusun bentuk-bentuk geometri seperti bermain lego. Kemudian mereka bermain dengan bayangan, dan mamanya juga ikutan :-D

Lalu kami beranjak ke area nature play, tempat dimana anak-anak dapat mengeksplorasi dan menemukan berbagai hal yang berhubungan dengan alam melalui aktivitas yang ada. Di Art play, anak-anak diarahkan untuk mencoba untuk mengekspresikan diri mereka melalui media yang ada. Ada ruangan yang penuh dengan perkusi sederhana, ada bagian menaruh CD kecil ke papan yang berbentuk ikan sehingga CD tersebut akan seperti sisiknya ikan. Ada juga designer room, anak-anak bebas menempel pada tempat yang tersedia. Ada area dengan alat tari seperti pita dan mereka boleh menari sesuka hati. Tidak ketinggalan pula ada panggung boneka dan anak-anak bisa bermain dengan boneka tangan. Seru sekali melihat anak-anak bermain ini itu, jadi kepingin main juga. Maklum, masa kecil kurang bahagia belum pernah main itu.

Sesudah itu, kami makan siang di lantai 3, bersama-sama dengan mama-mama korea. Serasa lagi nonton Kdrama. Hehehe. Oya, di sini disediakan air minum ya teman-teman. Kita cukup membawa botol. Setelah makan, sambil menunggu si adik makan, saya dan kakak kembali bermain di bagian Science Play. Lalu setelah si adik datang, kami bermain sebentar di bagian culture play. Sesudah itu kami melanjutkan perjalanan kami dengan tujuan melihat sejarah tulisan korea di underground museum the Story of Sejong di Gwanghwamun. 

Yang saya suka saat mengunjungi musium ini adalah anak dapat belajar banyak hal sambil bermain dan saya salut dengan pemerintahnya yang dapat membuat musium tetap terawat. Mungkin juga karena orang-orang di sana tahu bagaimana menghargai fasilitas yang diberikan. Dalam hati saya berharap semoga suatu hari di Indonesia juga ada musium untuk anak-anak dengan harga yang terjangkau dan bagus. Dan salutnya, mereka mengikuti peraturan yang ada. Salah satunya adalah anak dibawah 10 tahun harus ditemani pendamping. Kalau di sini kan mamanya sibuk sendiri. Kalau di sana, mereka mengawasi anak-anak mereka sambil menjelaskan setiap bagian. Dan hampir semua volunteer yang membantu di setiap bagian adalah oma opa loh. Mungkin supaya oma opa tetap aktif, merasa tetap berguna dan tidak mudah pikun (analisa pribadi ya). 

Jadi, bagi yang mau jalan-jalan ke Seoul, silakan mampir ke musium yang satu ini. (ini bukan pesan sponsor loh, tapi saran. Hehehe) 

Seoul Children Museum
Jam operasional: 10.00 -  18.00 (pendaftaran terakhir pukul 16.00)
Tutup setiap Senin dan hari besar
Admisi 4.000 won (kurang lebih 48.000) untuk 3th sampai 65 tahun
Gratis untuk anak dibawah 3 tahun dan senior diatas 65 tahun (bawa passport ya)



Menjadi kura-kura, bermain panggung boneka, science play, menjadi astronot, dan culture play