Jumat, 29 September 2017

Lapbook dan Homeschooler

Layering book
Bingung membaca judulnya? Jangan kuatir, anda tidak sendirian kok. Hehehehe. Pertama kali saya mendengar nama ini, saya juga bingung. Waktu itu mama-mama di komunitas kami berkumpul dan salah satu senior memperkenalkan istilah Lapbook. Lalu kepada kami direferensikan nama senior lainnya, keluarga Pasaribu, yang sangat sering menggunakan lapbook dalam proses pembelajarannya. Akhirnya kami mengundang keluarga Pasaribu untuk membagikan mengenai Lapbook dan kegunaannya bagi kami sebagai homeschooler. Auntie M, demikian Duo Lynns biasa memanggilnya, menjadi bintang tamu kami awal bulan ini. Nah, apakah Lapbook ini?

Lapbook, yang juga disebut sebagai Lappack, adalah buku yang dibuat oleh murid atau pengajar yang berisi suatu materi tertentu sesuai topik yang sedang dibahas, yang bertujuan agar materi yang disampaikan menjadi lebih menyerap. Biasanya lapbook terdiri dari folder atau map yang ditempelkan dengan kertas-kertas yang dilipat. Didalam kertas-kertas ini ada informasi yang berhubungan dengan suatu materi baik dalam bentuk tulisan, diagram, ilustrasi, gambar, dan sebagainya. Kalau kata Auntie M, Lappack ini merupakan salah satu cara untuk mendokumentasikan hasil pembelajaran dengan cara yang kreatif. Jadi setelah lelah mengajar, yang terkadang membuat kita jadi lepek, Lappack atau Lapbook ini menjadi salah satu bentuk dokumentasi kita akan suatu materi. 

Salah satu buku yang direkomendasikan untuk membuat Lapbook ini adalah buku The Big Book of Books. Buku karangan Dinah Zike ini berisi kumpulan craft dengan kertas yang bertujuan untuk membuat buku dan memaksimalkan kegunaan buku tersebut. Isi didalamnya bukan hanya prakarya untuk membuat buku, tetapi juga ada prakarya dengan kertas, matchbook yang dapat digunakan untuk men-drilling suatu materi, menjelaskan suatu materi, dan lain sebagainya. Buku ini sudah susah dicari, kebanyakan menjual second-nya. Tetapi dengan kemajuan zaman, cukup bertanya pada mbah Google pun akan keluar banyak pilihan Lapbook.
Hasil googling lewat Pinterest.
Dari buku tersebut, ada beberapa hal pernah kami buat, diantaranya mini book, layering book, matchbook, dan pop up card. Apakah membuatnya harus sendiri? Tentu tergantung tingkat kesulitannya dan apa tujuannya. Akan lebih baik jika melibatkan anak-anak, sehingga mereka pun akan lebih mengerti. Yang paling sering kami gunakan adalah layering book dan yang paling sering dibuat oleh anak-anak dan dibagikan dengan teman-temannya adalah mini book. 
Minibook karya Duo Lynns
Word collection
Berprakarya seperti ini, tentu sangat menyenangkan. Namun ada beberapa hal yang penting, yang dibagikan Auntie M, yang harus diingat bagi kita para homeschooler, diantaranya:
1. Lapbook dapat digunakan sebagai salah satu alat peraga untuk menjelaskan konsep. Terkadang konsep merupakan hal yang abstrak bagi anak-anak. Dengan adanya lapbook, penjelasan yang rasanya ribet dapat menjadi sederhana. Penggunaannya pun dapat disesuaikan dengan gaya belajar si anak. Bahkan anak yang gaya belajarnya auditori pun dapat menikmati penggunaan lapbook. 
Layering book untuk penjelasan waktu.
2. Dengan Lapbook, kita dapat mendokumentasikan apa yang sudah dipelajari selama ini. Di akhir pembahasan suatu materi, kita dapat membuat rangkuman bersama anak. Secara tidak langsung kita bersama dengan anak mengulang bersama. Dan akan lebih seru jika si anak dapat ikut serta dalam pembuatan lapbook. Tentunya keterlibatan si anak disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan umur si anak.
Mini Matchbook tentang waktu
3. Lapbook dapat digunakan sebagai alat atau bahan presentasi. Setelah si ayah pulang, anak-anak dapat menggunakannya sebagai bahan presentasi kepada si ayah mengenai apa yang mereka pelajari. Selain kepada si ayah, anak-anak dapat menggunakannya lapbook sebagai alat presentasi saat ada pertemuan dengan anggota dalam komunitas. 

4. It takes time to make it, but as long as they understand, it's okay (with reasonable expectation). Dalam suatu kegiatan belajar mengajar (KBM), terkadang ada masanya KBM belajar sedikit melambat, atau lumayan melambat, dan ada masanya KBM berjalan cepat. Saat sedang melambat, rasanya pasti senewen karena semuanya tidak berjalan sesuai rencana kita. Tetapi sebetulnya bagi homeschooler hal ini seharusnya tidak membuat pusing kita karena waktu kita lebih fleksibel. Tidak masalah jika sedang melambat, selama mereka mampu mengikutinya. Daripada dikejar untuk maju namun si anak tidak kuat difondasinya, bukankah akan membuat kita mengulang materi ini dikemudian hari. 

5. Walau kita tidak kreatif, tapi banyak sumber-sumber yang dapat digunakan. Sekarang sudah banyak sumber informasi yang dapat digunakan bagi kita untuk berkreasi. Dari yang sederhana sampai yang rumit, dari yang low budget sampai yang wah. Jadi tidak kreatif bukanlah lagi alasan bagi kita untuk terpaku dengan textbook saja. Yang diperlukan adalah kerelaan kita untuk meluangkan waktu untuk membuat ini. 

6. Don't expect something that is higher than capacity. Yang artinya jangan membuat diri sendiri susah. Kalau kita mulai senewen dengan pelajaran yang ada, bisa jadi kita menaruh standar diatas kapasitas anak dan kita mengejar  yang Tuhan tidak ingin kita kejar. 

7. Pembelajaran yang ada hendaknya selaras dengan apa yang Tuhan inginkan dan jangan dipatok. Bagi anak-anak tertentu, pembelajaran apapun rasanya mudah. Tetapi ada anak-anak yang memang membutuhkan waktu untuk menyerap suatu materi. Bukan berarti anak yang terlalu aktif, seperti kata orang-orang zaman dulu, tetapi memang keahlian mereka bukan dalam bidang akademis. Jika kita mematok anak seperti ini harus bisa materi ini dalam waktu sekian, yang jelas-jelas tidak rasional, maka kita berusaha menjalankan maunya kita, bukan maunya Tuhan.

8. You can't nurture others unless you are nurtured. Ini point yang menurut saya penting. Jika kita tidak mendapatkan nutrisi yang baik, maka kita tidak akan mampu memberikan nutrisi kepada si anak. Seringkali kita berpikir yang penting anak-anak bisa secara akademis. Namun dibanding hal akademis, ada hal yang lain yang lebih penting. Dalam homeschool, kita mengisi hati dan bukan hanya mengisi pikiran mereka. Bagaimana kita dapat mengisi hati mereka jika kita tidak ternutrisi dulu secara spiritual. Oleh sebab itu, penting bagi homeschooler untuk ternutrisi dengan baik secara rohani. 

9. Bagi si ibu, Lapbook merupakan bukti dari suatu pembelajaran. Setelah seharian sibuk ngurus rumah dan anak, dari kejar-kejaran dengan waktu dan rutinitas sampai membuat lepek, seringkali mama-mama homeschooler, setidaknya saya, merasa kok hari berlalu dan kerjaan tidak ada habis-habisnya. Setelah lepek seharian, lappack atau lapbook menjadi bukti bahwa ada hasilnya setelah kita lepek seharian. 

Di akhir pertemuan, anak dari auntie M membagikan pengalaman dia selama ini dengan lapbook. Menurut J, lapbook itu berarti suatu buku yang dapat ditaruh di pangkuan si anak (book on the lap) dan saat dibuka si anak dapat memahami suatu pelajaran dengan lebih gamblang. Bagi J, setiap usaha yang dilakukan mamanya untuk membuat dia memahami materi melalui lapbook sungguh berharga. Sekarang terserah kepada kita sebagai orang tua, apakah mau banyak sedikit berkorban untuk anak dengan meluangkan waktu untuk menyiapkan perlengkapan yang ada. 

Setelah pertemuan kami selesai, kami diberi kesempatan untuk melihat-lihat beberapa lapbook yang mereka bawa. Ada yang sederhana dan ada yang rumit, tetapi bermakna dan penuh dengan kenangan tentunya. Selain keluarga Pasaribu, ada juga senior lain yaitu keluarga Hartono. Acara dilanjutkan dengan fellowship sambil makan siang. Acara ngobrol bersama senior-senior mengenai suka duka homeschool dan tips lainnya mengenai homeschool life ini semakin seru karena anak-anak mereka juga hadir dan menjadi saksi hidup dari segala kerumitan proses belajar mengajar dan merasakan hasilnya dalam hidup mereka. 

Selasa, 19 September 2017

Percobaan Toleransi: Floating Irritations

Floating Irritations
Bulan lalu, bertepatan dengan dirgahayu RI, kami membahas karakter tenggang rasa atau toleransi. Karakter ini merupakan hal yang penting bagi kita yang tinggal dalam masyarakat yang sangat majemuk. Bukan hanya untuk anak, untuk orang dewasa pun hal ini terkadang susah dilakukan. Namun hal ini merupakan hal yang penting, apalagi dalam suatu kelompok. Dibutuhkan adanya kerjasama dan penerimaan antara satu dengan yang lainnya.

Apakah definisi toleransi? Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, tenggang rasa adalah sikap atau sifat membolehkan pendirian orang lain yang berbeda dengan kita. Toleransi juga didefinisikan sebagai batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Dengan kata lain, asal masih berada dalam batasan kita, akan mudah bagi kita bersikap toleransi.

Berdasarkan karakter yang kami bahas toleransi adalah penerimaan terhadap orang lain sebagai ekspresi unik atas kualitas karakter tertentu dalam derajat kedewasaan yang bebeda. Dalam bahasa yang mudah dimengerti anak-anak, saya mengatakan dapat menerima orang lain yang berbeda dengan kita. Tentunya terkadang susah untuk menerima orang lain yang berbeda, apalagi jika yang berbedanya ini memaksakan kehendak kepada kita. Tetapi seperti Tuhan menerima kita apa adanya, maka dengan kasihNya yang ada pada kita, kita pun dapat menerima orang lain yang berbeda dengan kita. Saat kita bersedia untuk membagi kasih Tuhan kepada orang lain, maka Tuhan sendiri yang menumbuhkan sikap toleransi dalam hidup kita.

Untuk membuat pembahasan ini lebih mengena, maka kami melakukan suatu ilustrasi. Ilustrasi ini diberikan dengan tujuan agar kita mampu memahami bagaimana kita menjadi saluran kasih Tuhan saat kita menunjukkan sikap toleransi. Kalau biasanya kami memahami suatu karakter dengan membuat craft, kali ini kami melakukan eksperimen. 

Alat-alat yang diperlukan:
1. Botol atau gelas yang cukup tinggi dan transparan.
2. Uang logam, kami menggunakan Rp 1.000,00.
3. Es batu (agak banyak).
4. Gelas yang berisi air.

Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Masukkan uang logam ke dalam botol atau gelas. Katakan kepada anak-anak bahwa uang logam ini adalah kita.
2. Setelah itu masukkanlah es batu ke dalam botol tersebut. Katakan kepada anak-anak bahwa es batu ini adalah perasaan kesal kita akan sikap orang-orang disekeliling kita yang berbeda dengan kita dan lumayan menyebalkan. Saat memasukkan es batu, kita mengajak anak-anak untuk menyebutkan kita tidak suka jika teman kita berbuat ini atau itu. Misalkan kita tidak suka jika teman meminjam dan merusak barang kita, saudara yang suka nangis, teman tidak tepat waktu, teman tidak dapat dipercaya, teman senang menyuruh kita melakukan ini itu, teman berkata-kata tetapi tidak dapat melaksanakan kata-katanya, dan sebagainya.
3. Ajak anak mengamati apakah ada jarak antara uang logam dan es batu tersebut. (jawabannya tidak). Mengapa? Karena yang ada di dalam botol tersebut hanya kita dan pandangan kita akan sikap mereka yang berbeda dan terkadang menyebalkan. Otomatis gesekan yang ada semakin terasa.
Uang logam dan es batu yang saling bersinggungan.
4. Setelah itu kita ambil gelas yang berisi air. Air itu melambangkan kasih Tuhan yang kita nyatakan kepada orang-orang tersebut, misalkan dengan memaafkan, menolong mereka, tersenyum, mengajak mereka bermain, memberikan hadiah, mendoakan mereka, dan sebagainya. Kita tuangkan 1/4 air dari gelas tersebut. Untuk memudahkan, saya menggunakan measuring cup. Tanyakan kepada mereka apakah ada jarak antara es batu dan uang logam. Pasti mereka akan menjawab belum ada.
5. Tuangkan lagi 1/4 isi gelas tadi. Setelah itu saya mengatakan kepada mereka kita lebih lagi melakukan setiap hal yang baik diatas. Apa yang terjadi dengan uang logam dan es batu? Sekarang ada jarak antara uang logam dan es batu.
Dengan adanya air, jarak antara es batu dan uang logam semakin menjauh.
6. Tuangkan kembali 1/4 isi gelas, kemudian amati apa yang terjadi. Setelah itu tuangkan sisanya, dan lihat perbedaan yang ada.
Semakin banyak air, semakin jauh jarak antara uang logam dengan es batu.
Semakin banyak air yang ada di dalam gelas, semakin jauh jarak antara uang logam dan es batu. Dan saat seluruh air sudah dituang kedalam gelas atau botol, es batu sudah mengapung dipermukaan air tersebut. Saya mengatakan kepada anak-anak bahwa semakin banyak kasih yang kita berikan, semakin jauh jarak gesekan antara satu dengan yang lain. Bahkan kasih tersebut dapat membuat perasaan kesal kita menghilang.

Kita tidak menunjukkan kasih dengan tujuan untuk menghilangkan kekesalan kita, tetapi saat kita belajar mengasihi orang yang berbeda dengan kita, kasih akan orang ini membuat kita tidak mudah terganggu oleh ketidakdewasaannya. Point ini bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk kita sebagai orang tua. Sama seperti uang logam tersebut, sebanyak apapun air akan tetap tenggelam, maka saat kita dipenuhi oleh kasih Tuhan kita akan semakin dalam lagi mengenal Dia. Dan sama seperti es batu yang akan mengapung dan mencair jika bertemu dengan air, maka semua perasaan kesal kita pun akan lenyap saat kita tinggal didalam kasihNya =)

Di akhir percobaan, setelah urusan dengan toleransi selesai, saya iseng bertanya mengapa es batu tersebut bisa naik keatas atau mengapung sedangkan uang logam tetap tenggelam. Jawaban anak-anak begitu sederhana, karena es batu kalah berat dengan air, jadi dia mengapung. Wajar sih, karena mereka belum belajar berat jenis. Tetapi cara ini juga dapat digunakan saat kita akan mengajari anak-anak tentang konsep mengapung dan tenggelam. 

Jumat, 15 September 2017

Apakah Gaya Belajarmu?


Setiap orang diciptakan istimewa,dengan keunikan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Saudaran kandung juga memiliki perbedaan. Walau lahir dari rahim yang sama, pasti ada beberapa hal yang berbeda. Bahkan anak kembar identik saja pasti punya perbedaan. Mungkin bukan hanya fisik yang berbeda, bisa juga makanan kesukaan, hobi, gaya berpakaian, dan gaya belajar yang berbeda. 

Saat kami memulai homeschool, proses pembelajaran berjalan dengan baik pada kakak. Kakak tipe anak yang manis, yang dapat menangkap apa yang saya jelaskan dengan alat bantu yang sederhana dan bahkan tanpa alat bantu sekalipun. Mamanya tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra. Bahkan saat sekarang pun kalau kakak lagi 'error' atau saya yang lagi 'error' (maafkan mama, ya nak) dan nadanya mulai naik satu oktaf, kakak akan segera menyelesaikan pekerjaannya. 

Saat adik mulai belajar, proses pembelajaran berjalan dengan cara yang berbeda. Metode yang sama terkadang berhasil, terkadang tidak berhasil. Saya harus segila sekreatif mungkin supaya pembelajaran lebih cepat ditangkap oleh adik. Banyak alat bantu mengajar yang saya buat saat saya mengajar adik. Tidak terbayangkan jika saya keukeuh menggunakan cara yang sama dengan cara saya mengajar kakak, maka saya akan menjadi sangat frustasi dan adik pun bisa emosi jiwa karena tidak mengerti apa yang mamanya ajarkan.

Gaya belajar kakak dan adik memang berbeda. Dan bukan hanya kakak dan adik, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda. Kita tidak dapat berkata karena saya gaya belajarnya ini dan suami gaya belajarnya itu, maka anak saya akan memiliki gaya belajar ini atau itu. Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mengetahui apakah gaya belajar anak kita. Berdasarkan pengalaman saya saat mengajar anak-anak, dan juga anak sendiri, ada tiga macam gaya belajar. Sekarang mungkin sudah meluas, tetapi menurut saya itu hanya kembangan dari yang tiga ini. Dan beruntungnya kami, kurikulum CCC yang kami pakai menjelaskan hal yang sama juga. Oya, tulisan ini pasti jauh dari sempurna, apalagi sesempurna para pakar pendidikan, tetapi mungkin saja dapat membantu para mama (seperti saya) yang terkadang sakit kepala saat mengajar anak.

Visual

Tipe yang pertama adalah visual. Tipe ini merupakan tipe yang paling banyak dimiliki orang. Anak tipe ini belajar dengan melihat. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut. 
1. Mudah memvisualisasikan sesuatu di pikiran mereka.
2. Menyukai diagram, tabel, flash card, video, buku, dan segala hal yang detil.
3. Menyukai list atau daftar, bahkan sebelum mampu membaca.
4. Mudah terganggu dengan hal-hal yang berbau visual.
5. Suka tidak fokus saat bercakap-cakap karena matanya melirik sana sini.
6. Senang saat guru menjelaskan dengan menulis atau menggambar, intinya yang menggunakan alat tulis. 
7. Senang kepada penghargaan yang bersifat visual, seperti gambar bintang, sticker, dan sebagainya.

Auditori

Tipe yang kedua adalah auditori. Anak yang mempunyai tipe belajar seperti ini belajar melalui pendengaran. Karena melalui pendengaran, mereka cenderung senang berbicara saat belajar. Saat mereka berbicara dan mereka mendengar apa yang mereka ucapkan, otak mereka memrosesnya. Ciri-ciri tipe auditori adalah sebagai berikut:
1. Menyukai instruksi yang sangat jelas dan mengulangi kembali instruksi tersebut dalam bahasa mereka.
2. Senang membuat suara saat mengerjakan sesuatu.
3. Biasanya mempunyai kemampuan verbal yang baik.
4. Menyukai puisi, cerita, ilustrasi mengenai orang dan pengulangan secara oral.
5. Biasanya cenderung tidak suka membaca, tetapi saat mereka harus membaca, mereka akan membaca dengan bersuara.
6. Menyukai musik dan biasanya suka bernyanyi.
7. Menyukai pengulangan terhadap segala hal.
8. Lebih menyukai test secara oral daripada test tertulis.
9. Senang kepada penghargaan yang bersifat pujian, seperti kata-kata.

Kinestetik

Tipe yang ketiga adalah kinestetik. Anak yang mempunyai tipe belajar seperti ini belajar melalui tindakan. Karena melalui tindakan, anak yang kinestetik cenderung tidak bisa diam atau pecicilan. Ciri-ciri tipe kinestetik:
1. Senang dengan yang namanya alat bantu.
2. Tidak bisa diam dan hobi menyentuh segala hal. Senang bergerak, dan beberapa diantaranya dapat dikategorikan hiperaktif.
3, Sangat bagus dengan hal-hal yang berbau motorik, khususnya motorik kasar.
4. Susah untuk mendengarkan susah untuk diminta duduk manis, seakan ada paku di kursinya.
5. Menyukai project, eksperimen, dan juga bunyi-bunyian.
6. Suka untuk menyentuh suatu gambar dan memegang buku sendiri (melihat dengan tangan).
7. Tidak suka tugas menulis.
8. Senang kepada penghargaan yang bersifat sentuhan fisik, seperti dipeluk, ditepuk pundaknya, dan sebagainya.

Cara sederhana untuk mengetahui anak kita gaya belajarnya seperti apa adalah saat ia melihat barang yang dia suka. Anak yang visual akan cenderung mengamati benda tersebut baru menyentuh atau bertanya (melihat dengang mata). Anak yang auditori akan ngoceh dulu, bertanya mengenai barang tersebut dan berusaha menemukan suara atau bunyi-bunyian dari barang tersebut (melihat dengan telinga). Sedangkan anak kinestetik akan menyentuh barang tersebut sebelum betul-betul melihat dan mengetahui benda tersebut (melihat dengan tangan). Adik adalah tipe yang ketiga, sehingga kami harus senantiasa mengingatkan bahayanya jika langsung memegang barang sebelum mengamati.

Apakah setiap orang pasti hanya punya satu tipe gaya belajar? Sama seperti temperamen, ada satu tipe yang dominan, dan tipe yang lainnya mendukung. Misal si A adalah anak yang dominan kinestetik. Bisa jadi gaya pendukungnya adalah auditori atau visual. Kebanyakan orang kuat di satu tipe belajar, tetapi itu tidak berarti bahwa mereka tidak dapat belajar dengan dua cara yang lain. Saya sendiri memiliki gaya belajar yang dominan di visual, dan didukung oleh kinestetik dan auditori. Tetapi saya mudah menghapalkan sesuatu melalui lagu juga. Dengan kata lain, ketiga cara belajar ini bisa saling melengkapi asalkan digunakan pada tempatnya.

Setelah kita mengetahui gaya belajar anak kita, apakah ini dapat menjadi excuse saat anak kita berbuat sesuatu? Apakah kita harus pasrah jika misalkan si anak kinestetik tidak bisa diam dan kita membiarkannya semaunya saja? Kan memang anak kinestetik begitu. Atau memang nih si anak auditori senang berisik dan berkata-kata dengan suara yang besar. Menurut saya tidak. Anak yang kinestetik bukan berarti tidak dapat dilatih untuk duduk manis juga pada keadaan tertentu. Atau anak yang auditori bukan berarti bebas teriak-teriak dimana saja. Gaya belajar bukanlah alasan seorang anak tidak tahu sopan santun bukan? Sebagai orang tua, salah satu tugas kita adalah membiasakan anak bersikap pada tempatnya. Jika kita menganggap ya karena tipe belajarnya begitu, wajar kalau dia lari-larian atau teriak-teriak atau menonton seharian (walaupun tontonan edukasi), maka endingnya adalah kita mengabaikan si anak. Menurut saya loh ya = D

Apa sih manfaatnya jika kita tahu gaya belajar masing-masing anak? Sebagai orang tua, salah satu tugas kita adalah mengajar mereka. Menaruh anak ke sekolah bukan berarti tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk mendidik anaknya hilang. Di rumah pun kita dapat membantu si anak untuk memahami materi yang disampaikan di sekolah. Dengan mengetahui gaya belajar si anak, kita lebih mudah untuk menjelaskan sesuatu. Selain itu, kita tidak akan dengan gampang melabeli anak kita saat kita membandingkan dengan saudaranya. 

Tentang pelabelan, seringkali di sekolah terjadi pelabelan terhadap anak. Si A nakal ya tidak bisa diam. Si B anaknya tidak pintar, dijelaskan tetapi tidak mengerti juga. Jika guru tidak mengetahui tentang gaya belajar si anak, seringkali mereka akan melabeli si anak. Buntutnya, kita mengiyakan kata-kata mereka atau kita marah-marah sama guru tersebut karena meng-underestimate anak kita. Jika kita mengetahui tipe belajarnya, kita dapat memberikan 'pembukaan' kepada si guru mengenai gaya belajar anak kita dan berharap bahwa dengan proses penyampaian yang sesuai, bisa jadi proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Dengan demikian tidak ada lagi pelabelan terhadap anak.

Bagi homeschooler, dengan mengetahui gaya belajar si anak, kita tidak akan menaruh ekspektasi berlebih jika si anak belum mengerti materi yang kita ajarkan. Kita dapat mengajarkan dengan cara yang memang lebih mudah dimengerti oleh si anak. Dan untuk mamanya, hal ini membantu untuk mengurangi stres dan membuat kita berpikir kita memang tidak dapat mengajar.

Dengan mengetahui gaya belajar si anak, kita lebih bisa 'menikmati' proses belajar mengajar yang ada. Jika mereka tidak mengerti suatu pelajaran, saya berhenti di pelajaran tersebut dan berusaha menyesuaikan dengan gaya belajar mereka (atau bahkan dengan gaya belajar sekunder mereka). Seringkali, perubahan tersebut, walau sedikit, membantu mereka memahami pelajaran yang disampaikan. Dan percaya deh, rasanya senang (pakai banget) saat anak kita memahami suatu materi yang awalnya mereka bingung hanya karena kita mengubah cara penyampaian kita. Itu suatu kebahagiaan dan berkat yang luar biasa ;)

Sumber foto: tatasky.com dan traveldirectors.com

Kamis, 31 Agustus 2017

Monthly Meeting Dirgahayu RI ke 72


Bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak hanya bangsa Indonesia sih, ada beberapa bangsa yang merayakan hari kemerdekaannya di bulan ini, antara lain negara tetangga kita Singapore yang tanggal 9 Agustus merayakan ulang tahun ke 62 dan negeri ginseng Korea Selatan yang tanggal 15 Agustus merayakan ulang tahun ke 69. Dibandingkan mereka, negara tercinta kita ini lebih dulu merdeka. Tahun ini Indonesia merayakan hari ulang tahun yang ke 72.

Tidak mau ketinggalan untuk memeriahkan ulang tahun Indonesia, tema monthly meeting komunitas homeschool kami bulan ini juga mengenai hari kemerdekaan. Dengan bernuansakan merah putih, termasuk mama-mamanya juga, anak-anak ini diajak untuk mengenal beberapa hal yang menjadi ciri bangsa Indonesia. Kali ini yang datang lumayan banyak, kurang lebih ada 18 anak. Terbayang kan ramainya :)

Diawali dengan bernyanyi bersama dan bermain bersama yang dipimpin oleh om C. Selesai bernyanyi dan bermain bersama, pengenalan mengenai Indonesia pun dimulai. PIC hari ini, auntie L, mengenalkan Pancasila beserta dengan lambang-lambang setiap sila. Setelah itu, anak-anak diminta menempelkan lambang setiap sila ke kotak yang disediakan. 
Bermain dan bernyanyi bersama
Kegiatan kedua adalah memperkenalkan rumah adat di Indonesia. Negara Indonesia terkenal keanekaragamannya, salah satunya adalah rumah adat. Agar lebih menarik, acara mengenal rumah adat dilakukan dengan bermain puzzle. Setiap gambar rumah adat digunting menjadi 6 bagian, dan setelah itu anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta untuk merangkai puzzle tersebut menjadi satu gambar yang sama. Ada rumah tongkonan dari Toraja, rumah panggung dari Kalimantan, dan rumah adat lainnya. Adik dan kakak mendapatkan rumah panggung. Kalau kata adik, berarti di rumah itu tempatnya menari dan menyanyi =))
Atas: mengenal lambang setiap sila.
Bawah: Menyusun puzzle rumah adat
Kegiatan ketiga adalah mengenalkan makanan-makanan tradisional atau jajanan pasar kepada anak-anak ini. Setiap orang tua diminta untuk membawa satu jenis jajanan pasar. Berhubung pasar dekat rumah kami tidak menjual jajanan pasar, maka kami pun membuat sendiri bubur sumsum. Bubur sumsum adalah makanan khas dari pulau Jawa. Bubur dari tepung beras ini enak sekali jika dimakan dengan saos gula aren. Mama-mama yang lain ada yang membawa nagasari, putu mayang, klepon, wajik, ketan, kue lapis, centik manis, kue mangkok, dan sebagainya. Siapa yang paling senang saat kegiatan ini? Tentu saja mama-mamanya, karena setelah anak-anak memilih satu jenis jajanan pasar yang mereka ingin makan, mama-mamanya yang menikmati sisanya =D
Jajanan Pasar yang dinanti-nanti oleh mama-mama anak-anak
Acara kali ini diakhiri dengan mendoakan bangsa Indonesia. Saat ditanya siapa yang mau mendoakan bangsa ini, mereka bersemangat untuk mendoakan bangsa ini. Mereka mendoakan agar bangsa ini menjadi semakin lebih baik dan setiap anak di Indonesia dapat bertumbuh dengan baik. Apa yang dapat dipelajari anak-anak melalui monthly meeting kali ini? Melalui pertemuan kali ini, anak-anak menyadari bahwa Indonesia kaya akan segala hal baik budaya, makanan, dan adat. Dengan melihat ini semua, mereka memahami bahwa perbedaan yang ada merupakan suatu nilai tambah bagi bangsa ini. Keanekaragaman tersebut akan menjadi indah jika semua bisa saling menerima. Seperti karakter yang dipelajari oleh mereka bulan ini, perbedaan yang ada harus disikapi dengan toleransi. 

Rabu, 23 Agustus 2017

Craft: Contented Pocket Heart

Pocket Heart
Bulan lalu kami mempelajari karakter contentment. Dalam bahasa Indonesia contentment berarti rasa puas atau kecukupan. Tetapi sebetulnya terjemahan tersebut kurang begitu mengena dengan arti dari contentment itu sendiri. Definisi contentment yang kami dapatkan adalah menyadari bahwa Tuhan telah menyediakan semua yang diperlukan untuk kebahagiaan saat ini. 

Karakter contentment ini merupakan salah satu karakter yang paling sering kami bahas di rumah. Bagi kami, penting sekali untuk merasa puas atau content dengan apa yang kita miliki. Namanya juga manusia, rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput di rumah sendiri. Anak-anak juga terkadang ingin memiliki sesuatu yang temannya miliki. Namun kami mengajarkan mereka untuk selalu bersyukur dan merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Bersyukurnya kami salah satu cerita di buku pelajaran mereka juga selaras dengan apa yang kami ajarkan kepada mereka.  

Salah satu aktivitas yang disarankan untuk membuat anak mengerti mengenai karakter ini adalah dengan membuat heart pocket atau kantong hati dan mengisi kantong tersebut dengan setiap hal telah Tuhan berikan bagi mereka. Saat kita berfokus pada Tuhan dan bagaimana Tuhan memberkati dan memenuhi setiap kebutuhan kita, kita akan memiliki hati yang puas. 
Kertas warna-warni
Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Kertas warna-warni ukuran A4
2. Alat tulis 
3. Lem
4. Gunting

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Lipat kertas tersebut secara memanjang (hot dog shape).
Lipat memanjang (hot dog shape)
2. Guntinglah bagian atas kertas secara melengkung. Buka lipatan tersebut dan bekas guntingan tersebut akan berbentuk seperti bagian atas hati. 
3. Lipatlah bagian bawah hingga menyentuh ujung bagian yang melengkung. 
Langkah 2 dan langkah 3.
4. Lipat ujung kanan ke tengah dan lipat ujung kiri ke tengah sehingga membentuk V.  
Langkah 4
5. Di bagian atas V akan terdapat sisa kertas. Lipatlah kertas tersebut ke bawah dan lipat kedua ujungnya ke belakang bagian hati. 
Langkah 5.
6. Supaya tidak mudah copot, berikan lem di kedua ujungnya. Sekarang kita mendapatkan bentuk hati. 
7. Berikan anak-anak beberapa lembar kertas kecil. Di kertas tersebut, mintalah anak untuk menuliskan atau menggambar apa saja yang Tuhan berikan kepada mereka. 
8. Setelah selesai menulis, masukkan kertas-kertas kecil tersebut ke dalam kantong hati. 

Saat anak-anak menulis, saya mencoba mengingatkan mereka ternyata banyak sekali berkat yang Tuhan berikan bagi mereka sehingga mereka seharusnya tidak mengeluh. Dan dengan kepolosan mereka, daftar segala hal yang Tuhan berikan itu bisa panjang dan lebar =D
Contented heart by Adik
Lalu, apakah setelah membuat ini, anak-anak akan lebih dapat merasa puas dengan apa yang mereka miliki? Tentu saja tidak instan, tetapi setidaknya saat mereka mulai mengeluh dan ingin ini itu, kantong hati ini dapat membantu mereka mengingat setiap kebaikan Tuhan yang mereka miliki :)
Contented Heart by Kakak

Selasa, 15 Agustus 2017

Monthly Meeting: Senam Bersama Ayah di Monas


Jika mendengar kata Jakarta, pasti di benak kita terbayang tugu Monas yang menjulang tinggi. Monas atau Monumen Nasional berada di pusat kota Jakarta. Posisi Monas berada di arah selatan dari Istana Negara. Tugu Peringatan Nasional ini merupakan salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat melawan penjajah. Monumen yang dibangun dari tahun 1959 hingga 1960 ini dirancang oleh Friederich Silaban (arsitek Masjid Istiqlal) dan R.M. Soedarsono.

Kali ini Monthly Meeting kami diadakan di sini. Tema monthly meeting bulan lalu ada senam bersama ayah. Setelah sebelumnya selalu mama-mama yang bergantian untuk memimpin, kali ini giliran ayah yang memimpin. Mengapa? Rehat bagi mama-mama, dan dalam homeschool, peran mendidik anak bukan hanya tanggung jawab si ibu, tetapi juga si ayah. Sayangnya karena diadakan di hari kerja tidak semua ayah dapat ikut hadir, termasuk papa. Untungnya Duo Lynns tidak menjadi kecil hati walaupun papa tidak dapat ikut, karena papa termasuk ayah yang senang untuk terlibat dalam setiap kegiatan anak-anak. Lagipula mereka sering menggerakkan badan senam di rumah dengan papa.

Yang menjadi PR buat saya adalah bagaimana caranya masuk Monas. Jujur waktu saya kecil, Monas belum ditutup seperti sekarang ini. Setelah bertanya pada mbah Google, didapatkanlah info yang baru saya ketahui. Biasanya jika orang mau ke Monas, ada dua tempat yang dapat digunakan untuk parkir kendaraan. Yang pertama adalah stasiun Gambir. Yang kedua adalah IRTI, tempat parkir khusus untuk pengunjung Monas yang berada di depan balaikota. Sedangkan untuk masuk ke area Monas hanya ada dua pintu yang dapat digunakan. Yang pertama pintu Barat, yang berada di dekat istana. Yang kedua adalah pintu Selatan, yang dekat dengan patung kuda di depan gedung Indosat.

Manakah yang lebih enak? Banyak yang bilang, lebih adem masuk lewat pintu selatan. Tetapi kalau saya berpikir apa tujuan ke Monas. Kalau tujuannya mau naik ke tugu Monas, mungkin lewat pintu Barat lebih enak. Karena lebih dekat dengan Monas. Tetapi jika untuk berjalan-jalan dan senam seperti kami, lewat pintu Selatan akan lebih enak. Berdasarkan bekal informasi tersebut, kami pun pergi ke Monas dengan Grab.

Kami turun di IRTI dan iseng bertanya kepada petugas di pintu masuk IRTI apakah ada cara mudah untuk masuk ke area Monas. Petugas yang ada memberi tahu kami untuk masuk melalui Lenggang, food court di Monas, dan berjalan sampai ujung. Saat bertemu masjid, kami tinggal belok ke kanan dan mengikuti jalan yang ada untuk masuk ke area Monas. Kami pun mengikuti petunjuk petugas tersebut. Dan akhirnya masuk juga ke area Monas. Di dalam area Monas disediakan kendaraan yang dapat membawa kita menuju tugu Monas. Karena sudah tahu bahwa kendaraan ini hanya dapat berhenti di depan pintu tugu Monas dan untuk naik kembali dari depan pintu tugu Monas harus menunjukkan tiket masuk tugu Monas, dengan kata lain fasilitas ini hanya untuk yang naik ke tugu Monas, maka kami pun berjalan menuju meeting point kami.

Acara kami diawali dengan menghapal ayat hapalan mengenai karakter contentment. Kali ini dengan cara yang cukup unik. Anak-anak diminta mengikuti kata demi kota sambil mengoper bola. Ada yang dioper bola malah tutup muka, ada juga yang semangat melempar bola sejauh mungkin. Cukup seru untuk melemparkan bola sambil panas-panasan. Karena sinar matahari yang semakin panas, maka kami mencari tempat yang sedikit teduh untuk melakukan senam bersama.
Auntie M memimpin anak-anak saat ayat hapalan
Berpindah ke tempat yang lebih adem
Senam kali ini dipimpin oleh Uncle G. Apakah uncle G adalah instruktur senam? Tentu bukan, tetapi itu tidak menjadi hambatan. When there is a will, there is a way. Dengan dibantu bluetooth speaker dan handphone yang ada video tentang senam, maka uncle G menyontohkan setiap gerakan kepada anak-anak.
Saat ayah-ayah mencoba mengikuti gerakan senam
Saat ayah-ayah sudah menyerah  =))
Di akhir kegiatan, kami berdoa dan berfoto bersama. Kegiatan kali ini tidak lama, tetapi bagi anak-anak acara outing dan beraktivitas di bawah matahari cukup mengasyikan. Apalagi melihat ayah-ayah bergerak mengikuti anak-anaknya, dari yang awalnya bergerak dan diakhiri dengan sibuk mendokumentasikan anak-anaknya. Setidaknya mereka sudah berusaha ;)
Sudah pasti acara foto tidak boleh ketinggalan
Lenggang Jakarta, food court di area Monas

Selasa, 08 Agustus 2017

Mempelajari Teknologi di Habibie Festival 2017

Masih ingat kisah kami belajar di Habibie Festival tahun lalu? Kami sampai datang selama 3 hari, dari 4 hari pelaksanaan festival, ke Museum Nasional demi melihat science show dan mengikuti workshop-nya. Kali ini kami mendapatkan info bahwa Habibie Festival akan diadakan kembali. Tentu saja kami semangat sekali untuk melihatnya. 

Berbeda dengan Habibie Festival yang lalu, Habibie Festival 2017 ini diadakan selama 1 minggu dari tanggal 7 - 13 Agustus 2017 di Jiexpo tanpa biaya apapun alias gratis. Mungkin karena antusias yang besar dari masyarakat pada tahun lalu, maka diadakan selama seminggu. Tema festival kali ini adalah "Technology and Innovation for People". Katanya sih lebih dari 100 perusahaan akan berpartisipasi dalam seminar, workshop, forum diskusi, kompetisi dan pameran yang akan membuat masyarakat dapat merasakan pengalaman menggunakan dan bahkan menciptakan teknologi serta inovasi baru. It's sure sounds like fun, isn't it? 

Saya membuka website dan melihat jadwal setiap harinya. Ternyata Da Vinci Learning juga ada di festival kali ini. Tetapi jadwal Science Show dan workshop science untuk anak-anak hanya ada di Jumat, Sabtu, dan Minggu. Saya mencoba menghubungi pihak Cool Science dan mereka berkata bahwa memang science show dan workshop science untuk anak-anak hanya ada dari Jumat sampai Minggu. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Jiexpo hari Senin saat pembukaan untuk melihat-lihat pameran dulu. Apalagi salah satu partnernya adalah Batik Keris, Duo Lynns sangat suka membatik. Ekspektasi kami adalah kami dapat menikmati pameran teknologi dan inovasinya, termasuk inovasi membatik.

Senin kemarin, kelas di rumah berjalan setengah sesi saja, mamanya tidak rela kalau kemarin day off. Lalu kami pergi segera menuju Jiexpo. Saat kami sampai, kami langsung bermain di area Outdoor Exhibition. Di sini ada bagian depan pesawat N250 dan mobil tank, dan drone racing zone. Kali ini kami bertemu Li'l D yang juga homeschooler. Petualangan kami di Habibie Festival hari ini dilakukan bersama li'l D dan maminya. 
Atas: kokpit N250. Bawah: berpose di depan tank
Setelah puas duduk di kokpit dan berpose di depan tank, kami pun masuk ke indoor exhibition. Indoor Exhibition dilakukan di hall B1, B2 dan C1. Di hall B terdapat area konektivitas, mobile life, inovasi, dan maker land. Sedang di hall C1 lebih ke arah workshop yang berhubungan dengan teknologi dan STEAM. Di hall C1 ini juga terdapat mobile planetarium dan Da Vinci Learning. 

Peta Habibie Festival 2017.
Kami mengelilingi hall B1 dan mengenalkan pesawat, kapal selam, kapal tempur, robotik, yang semuanya karya anak bangsa. Setelah itu kami berjalan menuju C1 karena anak-anak mau melihat Da Vinci Learning dan mau masuk ke planetarium. Sayangnya saat kami sampai di depan planetarium, planetarium sedang penuh. Akhirnya kami mencoba bertanya kepada petugas Da Vinci mengenai jadwal workshop. Petugasnya langsung berkata sepertinya sering melihat saya. Maklum, tahun lalu kami setia menonton setiap science show dan mengikuti workshop mereka. Mereka mengizinkan kami untuk mendaftar workshop lebih awal. Jadwal workshop hanya ada di Jumat, Sabtu, Minggu pada pukul 11.00 dan 14.00. Setelah melihat sepertinya tidak ada harapan untuk masuk ke planetarium sekarang, kami kembali berkeliling mencari Batik Keris. 
Jadi astronot dulu karena tidak masuk ke planetarium
Ternyata Batik Keris ada di hall B1 dan kali ini tidak ada kegiatan membatik. Kali ini mereka hanya menyediakan photo booth dan jika fotonya terpilih, kami akan mendapatkan hadiah. Untuk mengobati kekecewaan Duo Lynns, maka kami pun berfoto di sana dan melihat sejarah Batik Keris. Setelah itu kami melihat sejarah Bank Mandiri beserta buku besar (akuntansi) zaman baheula yang masih ditulis dengan tulis sambung dan bahasa yang digunakan masih bahasa Belanda. Dan memang bukunya besar sekali. Di samping pameran ini juga ada pameran teknologi dalam pembuatan sepatu sports. Ada mesin pencetak bentuk kaki, mesin jahit untuk menjahit sepatu, dan jenis-jenis sol sepatu. Di sampingnya lagi merupakan pameran teknologi dari BPPT. Anak-anak baru mengetahui bahwa selain dengan uji beban, setiap jembatan diuji coba dengan terowongan angin. Tujuannya untuk mengetahui kekuatan jembatan terhadap angin. Jika rubuh saat terkena angin berarti jembatan belum siap untuk digunakan. Kakak mendengarkan dengan penuh perhatian. Dan bukan hanya jembatan yang diuji dalam terowongan angin, ada juga stasiun MRT, pesawat, dan payung masjid.

Kami melanjutkan kunjungan kami ke area mobile life. Ini pertama kalinya Duo Lynns melihat orang menggunakan alat di kepala dan bergerak-gerak sendiri. Tentu saja kami tidak menyuruh mereka untuk mencoba, karena belum umurnya. Tetapi nampaknya teknologi virtual reality dan augmented reality yang dipamerkan kali ini mempunyai daya tarik yang luar biasa. Virtual reality (VR) atau realitas maya adalah teknologi yang memungkinkan pengguna untuk dapat berinterkasi dengan suatu lingkungan berdimensi 3 yang disimulasikan oleh komputer terhadap suatu objek nyata atau imajinasi, sehingga membuat kita seakan-akan terlibat secara fisik pada lingkungan tersebut. Augmented reality (AR) atau realitas tertambah adalah teknologi yang menggabungkan benda-benda maya (baik 2D atau 3D) dan benda-benda nyata ke dalam sebuah lingkungan nyata berdimensi 3, lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata agar terintegrasi dan berjalan secara interaktif dalam dunia nyata. Jika gadget yang digunakan mempunyai aplikasinya, maka saat kamera di gadget tersebut diarahkan ke gambar, gambar tersebut menjadi nyata dalam bentuk 3D dan berinteraksi dengan perintah yang diberikan. Bahkan jika digunakan dengan tepat, dapat membantu proses pembelajaran seperti human body. Ada juga neuro car race yang menggunakan gelombang otak. Asalkan kita fokus, maka mobil tersebut dapat jalan dengan sendirinya menggunakan gelombang otak kita. Ada satu pameran yang bertema outer space, dengan menggunakan VR. sayangnya barangnya belum lengkap dan sedang dalam perjalanan dari Bandung, pakai nyasar pula. Anak-anak kepingin sekali melihat tetapi tidak mungkin hari ini. Next time deh. 
Cara sederhana belajar animasi 2D
Berhubung waktu sudah siang, maka kami mencari tempat untuk makan. Apakah di sana menjual makanan? Dibandingkan tahun lalu, pilihan makanan yang ada jauh lebih banyak. Ada kuliner Indonesia, ada fast food, dan lainnya. Bakmi GM pun ada. Karena kami sudah membawa makanan, maka kami piknik di bagian luar untuk makan bekal kami terlebih dahulu, walau nasi bakar di sana spertinya menggoda hati. Di luar sini juga banyak rombongan sekolah yang duduk dan makan siang.

Setelah kami makan, kami kembali masuk untuk berputar sekali, siapa tahu alat untuk outer space sudah jalan. Sayangnya alatnya masih dalam perjalanan. Kami pun mampir ke bagian sepatu. Staf yang ada di sana memberi tahu jika anak-anak ingin mewarnai sepatu, bisa datang 30 menit lagi. Kakak semangat, dia kira akan mewarnai sepatu betulan. Saya pun memastikan dan ternyata gambar sepatu yang nanti akan diwarnai. Namun rasanya tiga anak ini tidak keberatan dengan gambar sepatu. Maka kami pun berkeliling sebentar sambil menunggu waktu dan bertemu dengan homeschooler lainnya. Mereka habis dari planetarium dan katanya planetarium kosong. Kami pun segera menuju ke sana dan memang tidak ada antrian di sana. 

Di dalam mobile planetarium ini, sama seperti tahun lalu, ada penjelasan tentang aurora, nebula, bintang, stardust dan milkyway. Proyeksi 360 derajat membantu kami menikmati setiap alur cerita di sini. Saya cukup kaget juga saat anak-anak ini mengingat dengan jelas urutan-urutan dari cerita di sini. Saat selesai, kami mampir ke area coding game dan tempat perakitan laptop. Kami hampir saja mengikuti cara perakitan laptop, tapi karena pesertanya besar semua, betul-betul besar, maka anak-anak ini jadi membatalkannya.
Melihat bagian-bagian sepatu dan cara pembuatannya. Insert: mewarnai gambar sepatu
Sebelum kami pulang, kami melalui area senjata yang mulai sepi. Tadinya adik mau foto dengan senapan laras panjang. Namun karena terlalu berat untuk mereka, maka mereka pun berfoto dengan menggunakan pistol pendek. Dengan pose yang super cute tentunya. 
Pose di depan pohon harapan. Sekarang giliran kamu ya yang ke sini....
Apa saja sih yang dapat dilakukan setelah pameran? Duo Lynns dengan semangat tingkat tinggi mempersiapkan presentasi untuk menjelaskan apa yang dia dapat pada Papa. Tentunya diiringi dengan sedikit adegan ulang sat mereka di sana. Dan pastinya diiringi dengan kata-kata bahwa lain kali mau ke sana untuk melihat science show. 
Oleh-oleh dan bahan presentasi di rumah
Update Habibie Festival di hari Jumat, 11 Agustus 2017
Kami sengaja datang saat tanggal 11 Agustus karena Cool Science mengisi acara Science Show dan Workshop. Dibanding tahun lalu, peserta workshop tidak sebanyak tahun lalu. Mungkin karena pelaksanaan workshop dilakukan di tempat yang terbuka, sehingga pengunjung tidak begitu fokus. Walaupun demikian, Duo Lynns dan beberapa teman homeschool lainnya duduk manis mendengarkan, walau materi yang dibagikan bukan topik yang asing bagi mereka.

Selain workshop, pameran berbau seni sudah mulai banyak. Kali ini kami sempat mencoba merakit dan membongkar laptop di Axioo. Walau jadi anak bawang, peserta yang lainnya besar-besar, namun kakak-kakak di dalam sana dengan senang hati mengajari 4 anak kecil ini.

Bagaimana dengan Planetarium? Ternyata sejak hari Rabu kemarin, untuk memasuki mobile planetarium ini harus bayar Rp 15.000,00 =D  

HABIBIE FESTIVAL 2017
www.habibiefestival.com
Tanggal Pelaksanaan: 7 - 13 Agustus 2017, dari pukul 10.00 - 17.00
Biaya Masuk: gratis
Tempat:
JIExpo Kemayoran hall B1, B2, dan C1
Jl. Benyamin Suaeb no.1 Jakarta Pusat 14410