Tampilkan postingan dengan label 3R. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3R. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Maret 2021

Monthly Meeting: Wise Waste Kids

3R

Bercocok tanam merupakan salah satu kegiatan yang sering dilihat anak-anak di rumah. Eits, jangan salah sangka dulu. Bukan mamanya yang senang bercocok tanam, melainkan si opa. Dari mulai bercocok tanam biasa, buat kompos, pakai kulit telur, (hoax atau bukan hoax), semua dicoba opa. Maklum, pandemic, jadi gak ada kerjaan.

Awal tahun ini, kami bersama-sama dengan komunitas kami membahas mengenai cara bijak mengelola sampah. Sampah adalah sisa dari suatu produk yang tidak digunakan kembali. Sampah ini dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup dan dapat terurai. Contohnya adalah sampah bekas makanan, sayur dan buah-buahan yang busuk, daun, dan sejenisnya. Sampah anorganik adalah sampah yang sulit dan bahkan tidak dapat diuraikan kembali. Contohnya adalah plastik, kaleng bekas, batu batre bekas, dan sejenisnya.

Sampah organik. Sumber foto: kedungpoh

Nah, sampah yang ada tentunya berdampak bagi bumi kita ini. Ada 3R yang dapat kita lakukan untuk membuat bumi ini tidak ‘keberatan’ dengan sampah kita. 3R ini bukan tentang ukuran foto ya. 3R itu adalah Reduce, Reuse, dan Recycle.

Reduce berarti mengurangi sampah dengan cara memaksimalkan penggunaan barang. Misalkan saat belanja, kita membawa kantong sendiri. Dengan demikian kantong yang kita bawa bisa digunakan kembali untuk pembelanjaan berikutnya.

Reuse berarti memanfaatkan barang bekas yang ada untuk digunakan kembali. Misalkan kotak susu yang dipotong dan dijadikan pot. Bisa juga kaleng yang digunakan sebagai tempat pensil.

Kamera, Salah satu hasil reuse yang dibuat anak-anak.

Recycle berarti mendaur ulang sampah yang ada. Daur ulang ini membutuhkan teknologi yang cukup tinggi. Tapi daur ulang dapat dilakukan juga dengan mengubah sampah-sampah anorganik ini menjadi kerajinan tangan, seperti yang ada di Bank Sampah.

Tidak menyangka kan ini dari kertas

Dari penjelasan-penjelasan para Auntie PIC bulan Januari, anak-anak diingatkan untuk menjadi bijak, seperti tema karakter bulan Januari. Anak-anak diingatkan untuk bijak dalam menggunakan barang, bijak dalam membeli barang. Mereka juga diingatkan untuk bijak dalam mengelola sampah yang ada.

5 Jenis sampah. Sumber foto: kadin lingkungan hidup

bersambung ke Menanam Benih


Eksperimen Science: Menanam Kacang Merah

Di akhir pertemuan monthly meeting kemarin, anak-anak diberi project untuk menanam benih. Anak-anak menyiapkan benih kacang merah untuk ditanam. Saat anak-anak masih kecil, kami memang pernah menanam dengan media kapas. Maklum, mamanya tidak suka main dengan tanah. Kali ini kami diminta untuk menanam dengan media tanah. 

Kami diminta menyiapkan:

- tanah

- pot atau wadah untuk menanam sebanyak 2 buah

- plastik

- benih untuk ditanam (kami menggunakan kacang merah)

Berhubung kami memang suka memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar kami, maka kami memilih menggunakan kotak susu UHT sebagai pot kami. Opa pun menyuruh kami membolongi bagian bawahnya.

Bahan-bahan yang akan kami gunakan

Ada dua wadah yang disiapkan. Wadah pertama diisi dengan tanah dan benih kacang. Wadah yang kedua diisi dengan tanah yang bercampur dengan sampah plastik dan benih kacang. Sampah plastik ini diletakkan di antara tanah juga. Setelah itu anak-anak diminta untuk mengamati kedua wadah tersebut. 

Day 0
Day 1

Apa hasil dari pengamatan anak-anak? Ternyata menanam di tanah tidak secepat saat kami menanam dengan media kapas. Kalau kata opa sih tanahnya terlalu padat. Maklum, anak-anak niat pakai banget untuk mengisi tanahnya.

Day 3
Day 7

Benih yang ditanam di tanah yang tidak ada sampahnya lebih cepat bertumbuh dibanding yang ditanam di tanah yang ada sampah plastiknya. Kami menghubungkan percobaan ini dengan kondisi hati kami. 

Tanah melambangkan hati kami. Jika hati kita masih menyimpan ‘sampah’, maka tindakan kita pun tidak akan bisa maksimal. Kalau istilah kami: ’nothing good comes from bitterness’. Oleh sebab itu, penting untuk menjaga hati kami, karena dari hati itulah terpancar kehidupan.