Tampilkan postingan dengan label children. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label children. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Desember 2016

Karena Kami Memang Berbeda :)


Entah muka saya ini begitu teduh ataukah muka saya cocok untuk menjadi teman curhat, saya seringkali menjadi tempat orang curhat. Saat saya masih sekolah, sering teman saya curhat akan kekesalan hatinya yang selalu dibandingkan dengan saudaranya, temannya, dan juga tetangganya. Saat saya masih mengajar dulu, seringkali anak-anak murid saya bercerita bahwa orang tuanya memaksa dia les ini itu supaya dia tidak ketinggalan dengan teman-temannya. Jadi yang saya lihat anak ini dari kecil sudah les ini itu dan tidak boleh kalah dengan temannya. Saat itu saya masih belum menikah, jadi empati saya terhadap mereka lebih besar, karena saya sendiri tidak pernah dipaksa untuk mengalahkan teman oleh orang tua saya, walau saya selalu dibanding-bandingkan dengan saudara saya yang memang luar biasa hebat (ups curcol).

Saat saya menjadi ibu, saya melihat kecenderungan ini sangat sering dimiliki oleh ibu-ibu muda. Diawali oleh ketakutan anaknya tidak dapat bersaing di dunia nyata, bahkan dari saat mereka masih bayi, maka banyak ibu muda yang memasukkan anaknya ke les ini itu dari bayi. Tidak heran banyak les-les yang isinya anak baru lahir, dan terkadang les-les yang berjudul mom and me jadi berisi nanny and me, walau mamanya si anak tidak bekerja.

Salah tidak sih? Menurut saya sih tidak salah, tergantung cara pandang, kesepakatan dan budget masing-masing keluarga. Tetapi jika alasannya adalah habis si ini sudah bisa itu sedangkan anak saya belum bisa, atau dulu kakaknya bisa ini masak adiknya tidak bisa, atau kalau alasannya dulu papanya umur segitu sudah jago baca masak anaknya tidak bisa; tentu saja tidak baik.

Setiap anak diciptakan unik, tidak ada yang sama loh. Bahkan anak kembar identik pun dapat memiliki sifat yang berbeda. Oleh sebab itu kasihan sekali kalau anak-anak ini harus menjadi seperti si ini atau si itu. Apalagi bagi anak-anak, masa kecil mereka tidak dapat terulang. Akan sangat kasihan jika mereka harus sibuk berlomba demi orang tua mereka.

Duo Lynns, walaupun sama-sama perempuan, mempunyai sifat yang berbeda. Seperti selayaknya anak pertama dan anak kedua, akan ada tantangan tersendiri saat mengurus. Terkadang saya mau meledak juga menghadapi tingkah mereka. Kalau misalkan si kakak mudah sekali diberi tahu, maka si adik terkadang memerlukan teriakan tambahan untuk membuat dia menghentikan aktifitas yang berbahaya. Cara belajarnya pun berbeda, kami tidak mungkin melakukan pola yang sama kepada si adik. Tetapi kami berusaha untuk tidak membandingkan adik dengan kakak karena bagi kami mereka sama-sama istimewa. Membandingkan pun dilakukan untuk menemukan cara pendekatan yang sesuai dengan masing-masing anak dan tidak di depan anak.

Satu hal yang saya lihat adalah setiap anak akan dapat mencapai atau melakukan sesuatu, hanya saja waktunya yang berbeda. Contoh yang gampang adalah seperti ini. Ada anak yang umur 2,5 bulan sudah tengkurap, ada anak yang umur 3 bulan baru tengkurap, dan ada anak yang umur 5 bulan baru tengkurap. Pada dasarnya semua anak itu bisa tengkurap, hanya saja waktunya yang berbeda-beda. Dengan kata lain, masalah kesiapan setiap anak berbeda dan itu memang tahapan yang harus dilalui dalam perjalanan hidupnya. Jadi, tidak perlu dipaksa.

Beda lagi dengan bakat. Setiap orang mempunyai bakat yang berbeda dan rasanya si anak akan menderita jika dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai bakatnya ataupun minatnya. Oleh sebab itu, daripada menyuruh anak ikut ini itu karena si anu bisa ini itu, lebih baik memasukkan anak-anak sesuai bakat dan minatnya. Memang kalau anak masih kecil terkadang kita harus memasukkan mereka ke berbagai les keterampilan untuk melihat minat, tetapi sebaiknya jangan sampai membuat mereka stres.  

Jadi, mari kita ingat bahwa setiap anak istimewa dan masa kecil mereka tidak akan terulang. Mari kita isi memori masa kecil mereka dengan hal yang indah dan bukan dengan perlombaan terhadap saudara, teman, atau bahkan diri kita sendiri. Saya jadi teringat lagu berikut.

I am very special
There's no one just like me
God has made me special
There's no one just like me

Selasa, 17 Mei 2016

Mandiri atau Mengabaikan?

courtesy of family talk
Beberapa hari yang lalu, kami sekeluarga, bersama dengan opa, mengunjungi suatu mall di kawasan Jakarta Utara. Saat kami mau turun dari eskalator, ada dua anak perempuan (mungkin adik kakak) sedang bermain dibagian atas eskalator. Mereka sedang bermain dengan pegangan eskalator yang hitam, yang dapat berputar sendiri. Kami sudah melihat dari jauh, dan sambil jalan kami berkata kepada anak-anak bahwa main di situ dan tanpa pengawasan orang dewasa sangat berbahaya. Kami jalan sambil celingak-celinguk mau lihat dimana orang tuanya, kok membiarkan anak-anaknya main sendiri. Dan saat kami makin dekat eskalator, salah satu dari mereka seperti bingung dan tangannya tertarik oleh pegangan hitam tersebut. Dia terbawa eskalator ke bawah. Anak yang satunya lagi berusaha untuk menolongnya, tetapi tidak dapat menggapai dan akhirnya ikut turun. Anak yang pertama kali 'tertarik' pegangan eskalator berusaha secepat mungkin untuk berdiri tegak, mungkin karena badannya agak gemuk jadi tidak langsung terjatuh, dan berusaha untuk naik ke atas di eskalator yang berjalan turun. 

Saya akhirnya berkata kepada anak tersebut turun dulu sampai bawah, baru ke atas naik eskalator yang ke atas, dan jangan bermain di eskalator karena itu berbahaya. Anak itu naik lagi dengan eskalator. Saya sampai gemas dengan orang tua anak ini, yang dapat membiarkan anak kecil bermain sendiri di eskalator, sampai rasanya ingin nemuin orang tuanya dan memberi tahu mereka bahaya yang hampir dialami anak-anak mereka. 

Sambil melihat mereka, saya mulai berpikir banyak orang tua merasa anak mereka bisa dan sudah mandiri sehingga mereka membiarkan anak mereka melakukan apa saja, tanpa supervisi, dengan alasan mereka bisa kok. Tetapi permasalahannya bisa bukanlah jawaban saat anak masih kecil, tetapi boleh dan amankah hal tersebut. Mereka terkadang tidak tahu bahwa disaat mereka menganggap anak mereka mandiri, anak-anak tersebut sedang dalam keadaan yang cukup bahaya (atau membahayakan orang lain) dan ditolong oleh orang lain. Lebih parahnya lagi terkadang mereka berkata bahwa Tuhan pasti menjaga anak-anak mereka, dan memang Tuhan mengirimkan orang lain untuk menolong anak-anak tersebut namun bukan berarti mereka tidak perlu melakukan supervisi terhadap anak-anak mereka. Atau ada juga orang tua yang dapat berkata bahwa memang berarti jalannya anak itu, nasibnya anak itu, jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada anak mereka. Jika meniadakan supervisi dengan alasan melatih anak mandiri atau anak  sudah dianggap mandiri, maka bagi saya ini dikategorikan sebagai ignorance atau mengabaikan. Apa sih bedanya melatih mandiri dan ignorance?

Menurut kamus bahasa Indonesia, mandiri adalah dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak tergantung orang lain. Anak yang mandiri adalah anak yang dapat melakukan sesuatu sesuai umurnya. Misal anak umur 3 tahun dapat memakai pakaian sendiri, anak empat tahun dapat merapikan ranjang mereka sendiri, dan sebagainya. 


Seringkali orang tua salah kaprah dan menganggap anaknya sudah mandiri dan sudah dapat memilih mana yang berbahaya dan tidak berbahaya. Tetapi orang tua lupa bahwa anak-anak belum dapat berpikir sebab akibat yang terlalu jauh dan terkadang belum dapat mengontrol kekuatannya. Akibatnya banyak insiden yang terjadi karena anak tidak menganggap hal yang mereka lakukan berbahaya, padahal dalam kenyataannya hal tersebut berbahaya. 


Saat orang tua menganggap anaknya mandiri dan tidak melakukan supervisi terhadap si anak, maka tujuan melatih mandiri ini berpindah posisi menjadi mengabaikan anak. Faktor keamanan dalam melatih kemandirian anak merupakan hal yang penting. Jika faktor keamanan diabaikan, yang terjadi adalah insiden yang tidak diinginkan atau anaknya akan menjadi anak yang semaunya. Akibat sikap ignorance si orang tua, si anak yang merasa 'saya mampu walau saya masih kecil' dapat tumbuh menjadi anak yang terlalu bangga dengan dirinya dan bahkan bisa jadi menjadi anak yang arogan. 


Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi mandiri, percaya diri. Tetapi yang harus diingat adalah melatih mandiri bukan berarti mengabaikan atau ignorance. Melatih mandiri harus disertai dengan yang namanya safety atau keamanan. Sudahkah kita menyertakan hal tersebut saat melatih anak kita untuk mandiri? :)


Sabtu, 14 Mei 2016

Maria yang Me-Martha-kan Orang Lain

courtesy of sermon4kids.com
Pernah dengar kisah tentang Maria dan Martha? Pasti dari zaman masih ikut sekolah minggu sudah sering sekali mendengar kisah ini. Dan pasti kakak di sekolah minggu selalu bilang jadilah seperti Maria, yang duduk manis untuk mendengarkan firman Tuhan, jangan seperti Martha yang terlalu sibuk mengurus ini-itu dan melewatkan bagian yang terbaik. Saya dan beberapa orang yang terlibat dalam pelayanan mahasiswa pernah membahas bahwa sekiranya Martha mengerjakan ini-itu tanpa mengeluh, mungkin ia juga tidak akan melewatkan bagian yang terbaik.

Tetapi saat ini yang saya lihat banyak sekali pemikiran orang tua yang berusaha menjadi Maria dengan cara me-Martha-kan orang lain. Maksudnya apa sih? Banyak orang yang mau menikmati 'me time' dan menuntut orang lain menjadi Martha. Mereka menuntut orang untuk mengurus hal ini dan hal itu, agar mereka menikmati waktu mereka. Tetapi mereka lupa bahwa orang-orang yang mereka jadikan 'Martha' juga ingin berkesempatan menikmati waktu menjadi 'Maria'. 

Dan parahnya, sikap ini dibawa juga ke dalam pelayanan anak. Beberapa orang tua ingin menikmati waktu ibadah mereka. Malah kalau perlu disetiap kegiatan, mereka kepengen juga ada 'daycare' supaya mereka bisa mengikuti kegiatan tersebut. Oleh sebab itu mereka menuntut pelayan anak untuk mengurus segala hal tentang anaknya, dan menuntut pelayan anak harus mampu membuat anak mereka betah di kelas mereka. Bahkan ada beberapa orang tua yang berpikir jika anak saya tidak suka di kelas tersebut, pasti karena kakaknya kurang kompeten dan tidak dapat meng-handle anak-anak mereka. Lalu orang tua tersebut mencoba ikut mengatur supaya pelayanan anak tersebut sesuai dengan maunya mereka, dan orang tua-orang tua ini berkelompoklah dengan orang tua lain yang sejenis yang juga merasa seperti itu.

Padahal anak-anak adalah tanggung jawab orang tua. Orang tua, yang selalu berkata saya tahu anak saya seperti apa, terkadang tidak tahu lupa dengan yang namanya waktu untuk beradaptasi, sehingga saat anak tidak mau masuk kelas mereka berpikir pasti ada kakak yang membuat anak mereka trauma. Terkadang mereka juga lupa bisa jadi sikap anak mereka di kelas bisa jadi tidak sepolos yang mereka pikirkan, atau malah anak mereka provokator penggagas setiap hal 'unik' di kelas. Terkadang mereka lupa bahwa anak-anak yang ada di kelas itu mempunyai berbagai macam latar belakang yang di luar kendali kakak-kakaknya, sehingga jika anak mereka meniru anak-anak yang lain (atau bahkan 'disentuh' atau 'tersentuh' oleh anak-anak tersebut secara tiba-tiba), bukan berarti itu salah kakak-kakaknya. Terkadang mereka lupa jika anak mereka 'berkeliaran' sana-sini, pasti karena anak-anak ini sudah terbiasa dibiarkan 'berkeliaran' oleh orang tua mereka. Dan...terkadang mereka lupa bahwa kakak-kakak juga mau duduk diam seperti Maria.  

Sambil menulis, saya berpikir saya tidak mau menjadi orang tua yang membuat orang lain menjadi Martha. Saya juga mau bisa menikmati ibadah ataupun kegiatan yang ada, tetapi saya tidak mau membuat susah orang lain. Saya mau anak-anak saya mandiri tapi tidak semaunya. What should I do then? Yang terlintas adalah kalimat berikut:
Train up your child in the way he should go, and when he is old he will not depart from it (Prov 22:6)
Dengan kata lain, adalah tanggung jawab saya dan suami untuk mendidik anak-anak kami supaya gak 'neko-neko'. Tanggung jawab kami sebagai orang tua untuk mengajarkan anak-anak menjadi teratur dan sopan. Tanggung jawab kami sebagai orang tua (only by His grace) untuk mengenalkan Tuhan kepada anak-anak sehingga anak-anak menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan dan sesama. Tanggung jawab saya juga sebagai orang tua untuk memahami bahwa orang lain ingin juga menjadi Maria, duduk manis juga. 

Bagaimana dengan pelayan anak? Pelayan anak pun harus mau untuk membekali diri mereka dengan pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai anak-anak. Kakak-kakak harus mau untuk mengenal setiap anak di kelas mereka, baik yang lucu atau tidak, karena pelayanan mereka bukan hanya karena mereka mengasihi anak-anak tetapi karena mereka mengasihi Tuhan. Kakak-kakak ini juga harus menyadari bahwa mereka bukan petugas daycare, tetapi mereka mendapatkan privilege, hak istimewa, untuk mengenalkan Tuhan kepada setiap anak yang ada di kelas. Walau rasanya tiap hari Minggu terkesan sama, namun sebetulnya setiap hari Minggu merupakan hari istimewa bagi anak-anak yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. 

Walah, tidak mudah ya menjadi orang tua. Memang tidak, menjadi orang tua merupakan proses pembelajaran seumur hidup. Dan tidak mudah juga menjadi pelayan anak. Perlu proses belajar juga, dan mengikuti perkembangan yang ada, karena pelayan anak berhubungan dengan anak-anak yang dinamis. 

Semoga artikel singkat ini membuat saya dan juga orang tua lain tidak menjadi Maria yang me-Martha-kan orang lain.


PS: pencerahan ini didapatkan sejak sebelum kami terlibat menjadi pelayan anak, bukan karena kami menjadi pelayan anak.

Kamis, 07 April 2016

9 Trik Manajemen Kelas

Berurusan dengan anak-anak merupakan tugas terbesar di dunia, dan juga menguras tenaga. Saat anda bersama dengan anak, kekacauan dapat terjadi kapan saja. Oleh karena itu, tidak ada solusi yang ajaib bagi keadaan tersebut. Tetapi ada beberapa trik yang dapat membantuk kita untuk mengendalikan keadaan di kelas.

1. Persiapan yang sangat matang.
Semakin siap anda, semakin besar kendali yang anda miliki. Kuasai pelajaran anda, luar-dalam, sehingga wajah anda tidak berada di balik buku. Miliki semua keperluan anda. Jika anda harus berhenti di tengah-tengah saat anda mengajar, misal mencari krayon, maka anak-anak anda akan meninggalkan anda. Saat anda mempersiapkan pelajaran anda sebaik mungkin, anda akan mempunyai ruang yang lebih di otak anda untuk menjaga anak-anak sesuai pada tempatnya.

2. Berkelilinglah saat anda mengajar dan gantilah cara bicara anda. 
Anda akan kehilangan perhatian anak-anak dengan cepat jika anda duduk di kursi anda dan berbicara pada mereka dengan intonasi yang monoton. Berkelilinglah dan berbicaralah dengan semangat akan apa yang anda ajarkan.

3. Buatlah pelajaran-pelajaran yang ada menjadi interaktif. 
Buatlah anak-anak bergerak. Jika anda mengharapkan anak-anak untuk duduk di kursi selama satu jam, anda menaruh ekspektasi atau harapan anda terlalu tinggi. Rancanglah pelajaran anda sedemikian mungkin sehingga anak-anak dapat berpindah, berbicara, tertawa, dan belajar saat mereka belajar. Anak-anak akan menemukan cara untuk bersenang-senang. Ciptakanlah pelajaran-pelajaran yang membuat mereka bersenang-senang dengan cara anda.

4. Mengajarlah dengan gaya pembelajaran yang bermacam-macam.
Anak-anak belajar dengan cara yang bermacam-macam. Sedangkan kita cenderung untuk mengajar sesuai dengan cara kita belajar atau cara kita dulu diajar. Kenalilah bahwa beberapa anak belajar dengan cara bekerja sama dengan temannya. Beberapa anak belajar dengan menjadi kreatif. Beberapa anak belajar dengan aktivitas yang tenang. Beberapa anak belajar dengan permainan aktif. Semakin banyak variasi-variasi aktivitas yang dapat anda gabungkan, semakin besar kemungkinan anda menyentuh gaya belajar anak-anak tersebut.

5. Jadilah penyebut nama
Saat saya mengajar dan Sammy menginterupsi, dengan lembut saya akan menyisipkan nama Sammy dalam kata-kata saya selanjutnya. Saya tidak akan berhenti dan mengalihkan yang lainnya, tetapi saya akan berkata, "Dan, Sammy, apakah kamu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?"

6. Mendekatlah ke anak-anak yang menyebabkan gangguan. 
Lagi, tanpa menginterupsi jalannya pelajaran anda, berjalanlah mendekati anak-anak yang kesulitan memberi perhatian. Letakkan tangan pada pundak mereka. Biasanya kedekatan anda akan membantu mendapatkan kembali perhatian mereka. 


7. Biarkan pelajaran berlanjut.
Kualitas pelajaran anda sangat penting. Biarkan aktivitas tetap berjalan. Daripada menunggu anak-anak menemukan cara untuk menghibur diri mereka sendiri, lebih baik anda mengakhiri suatu aktivitas sebelum semuanya bosan dengan aktivitas tersebut. Buatlah transisi-transisi diantara aktivitas berlangsung dengan cepat dan mulus. Selang waktu yang terlalu lama dapat menjadi musuh utama dalam mengatur tingkah laku.

8. Hindari konflik kekuasaan. 
Ingatlah bahwa anda adalah seorang yang sudah dewasa. Berdebat dengan seorang anak umur 8 tahun adalah hal yang konyol. Tetapi terkadang kita menjadi terganggu saat anak tersebut tidak menghargai kita atau bertingkah laku yang tidak seharusnya sehingga kita memilih untuk membuktikan poin kita dan membuktikan otoritas kita. Dan biasanya akhir dari itu semua tidak ada gunanya. Pilihlah pertarungan anda dan selesaikan konflik tersebut dengan cepat.  Ingatlah, anda adalah orang dewasa.

9. Pilihlah tingkah laku apakah yang akan kita abaikan dan tingkah laku apa yang harus kita hentikan. 
Terkadang kita tambah mengacaukan kelas dengan memberi perhatian lebih kepada tingkah laku yang sesungguhnya bukan masalah. Beberapa anak menginginkan perhatian, bahkan jika itu negatif. Abaikan tingkah laku-tingkah laku yang dapat anda abaikan, tetapi jangan ragu-ragu untuk menghentikan tingkah laku-tingkah laku yang membuat yang lainnya tidak dapat belajar.

Trik-trik tersebut hanyalah poin permulaan dan bahkan guru yang ahli akan belajar dari pengalaman.