Tampilkan postingan dengan label teen homeschooler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teen homeschooler. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Oktober 2025

Our Love Story Part 2


Memiliki anak-anak yang sudah masuk masa pra remaja dan remaja merupakan hal yang gado-gado rasanya. Di satu sisi, mereka semakin dewasa dan mengerti banyak hal. Tetapi di satu sisi, banyak hal yang harus dipersiapkan bagi mereka. Salah satunya adalah tentang sex education.

Beberapa tahun yang lalu, kami sempat mengadakan kegiatan ini juga, bertepatan dengan momen Hari Kasih Sayang. Kali ini, kami mengadakan setelah tahun ajaran selesai, sebagai kegiatan bersama untuk memasuki tahun ajaran yang baru. Selain itu pesertanya pun dibuat dari anak-anak umur delapan tahun keatas, mengingat perubahan-perubahan saat ini.

Kegiatan kami dimulai dari ice breaker. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok. Permainan pun dimulai. Selesai bermain, maka kami memulai ibadah bersama. Setelah itu, anak-anak yang berusia dibawah 8 tahun diajak ke ruangan terpisah dan membuat aktivitas. Sementara anak yang berusia 8 tahun tetap di ruangan yang sama.

Ice Breaker by uncle kesayangan anak-anak.

Kali ini kami diminta untuk membagikan sharing mengenai kekudusan. Sebelum kami sharing di hari H, kami membagikan PR bagi orang tua. Orang tua diminta untuk melakukan sharing dengan anak. Di minggu pertama, orang tua diminta untuk berdiskusi tipis tentang perasaan anak-anak. Kenapa harus orang tua dulu? Tujuannya agar orang tua dan anak dapat mempunyai hubungan yang lebih akrab dan anak mendapatkan perspektif bahwa orang tua mereka hadir bersama dengan mereka.


Di minggu kedua, orang tua diminta untuk menceritakan pengalaman mereka berada dalam sirkulasi teman yang baik dan buruk. Tujuan dari kegiatan di minggu kedua adalah anak tahu pentingnya berada di sirkulasi yang tepat dan memilih teman yang tepat. Bad company corrupts good character.

Di minggu ketiga, orang tua mulai membagikan perubahan-perubahan fisik yang dialami saat mereka memasuki masa-masa puber. Tujuannya adalah agar anak mengetahui tubuh mereka akan berubah dan itu normal. Oleh sebab itu mereka tidak perlu minder dan tidak mengizinkan siapapun memegang bagian tubuh mereka, kecuali penting. 

Sharing by papa.

Di minggu keempat, orang tua diminta untuk sharing mengenai menjaga kekudusan. Orang tua pun diminta untuk menceritakan betapa sakralnya pernikahan itu. Tujuannya adalah agar anak mengetahui suatu kehormatan bagi mereka untuk menjaga diri mereka tetap kudus sampai Tuhan mempertemukan mereka dengan pasangan mereka. 

Umbrella authority untuk mengingatkan mereka berada di bawah orang tua mereka.

Bagian kami saat sharing adalah merangkum itu semua. Kami membagikan ilustrasi tentang korek api. Setiap korek api tradisional hanya dapat dinyalakan sekali.Korek api adalah kita dan permukaan kasar pada kotak korek merupakan hal-hal yang menguji kekudusan seperti kontak fisik dengan cara intim, melihat hal-hal yang tidak baik, melakukan tindakan yang bertentangan dengan kekudusan. 

Korek api zaman baheula.

Saat bermain-main dengan kekudusan, menguji kekudusan, bisa saja korek tersebut terpantik dan terbakar. Setelah padam, maka tidak dapat digunakan lagi untuk menyalakan api. Demikian juga dengan purity. Saat kita bermain-main dengan purity, merasa tidak masalah melakukan sentuhan fisik, coba-coba, maka tanpa disadari bisa membakar kita. 

Ilustrasi tentang korek api.


Setelah sharing selesai, maka anak-anak dibagikan kertas yang berisi purity pledge. Anak-anak bersama-sama mengikrarkan janji mereka. setelah itu orang tua memberikan gelang yang dapat dipakai mereka sebagai pengingat akan ikrar mereka mengenai kekudusan. 

Our Purity Pledge

Gelang sebagai pengingat mereka akan komitmen mereka.

Berbeda dengan konsep sex education yang ada di sekolah, bagi kami inti dari sex education bagi anak-anak ini adalah bagaimana mereka menjaga kekudusan sampai mereka masuk dalam pernikahan. Memang terkesan berat, tetapi kami meyakini hal yang penting ini harus dibicarakan sejak mereka masih kecil. 


A commitment to purity challenges you to safeguard your heart until it is the right time to ‘awaken’ love. This often feels lonely and even painful, but the pain of self-denial is far better that the pain of self-destruction. We praise God, we can walk through it together, as one community.

Us....



Rabu, 31 Mei 2023

Our Love Story

Bulan Februari itu katanya bulan cinta. Kenapa bulan cinta? Karena ada hari valentine aka hari kasih sayang. Zaman saya masih lebih muda, sekarang juga masih muda, banyak yang menggunakan moment valentine untuk ‘nembak’ cewek atau cowok yang dia suka. 

Let all that you do be done in love

Bahkan di beberapa negara, valentine menjadi moment ekstrim untuk seseorang melepas virginity, baik perempuan maupun laki-laki. Padahal hari kasih sayang itu sendiri awalnya bukan tentang pacar-pacaran ataupun hal yang berbau seks.

Atas dasar itulah, kami para orang tua merasa terpanggil untuk mengingatkan anak-anak ini akan pentingnya menjaga kekudusan. Maka di bulan Februari lalu, komunitas kami mengadakan acara berjudul Cerita Cinta.

Rundown kami yang disusun para PIC yang kece badai

Acara kali ini dimulai dari presentasi tarian berjudul I Am Who You Say I Am. Adik memilih lagu ini untuk menjadi presentasi karena lagu ini mengingatkan setiap anak-anak bahwa mereka berharga di mata Tuhan. Kita yang harusnya terhilang menjadi berharga karena Tuhan mengasihi kita. Karena itu, kita harus ingat identitas kita di mata Tuhan. Dengan identitas itu, kita harus berani berdiri diatas kebenaran Tuhan. Apapun yang terjadi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. 

Adik mengkoreo tarian dan si kecil ujug-ujug ikut menari =D

Selain presentasi tarian, ada games-games yang membangun keakraban antara ayah dengan anak. Ada juga renungan singkat yang dibawakan oleh Uncle EN dan Uncle YP. Renungan-renungan ini bertujuan mengingatkan kami para orang tua dan juga anak-anak bahwa Tuhan punya rencana yang indah dalam hidup mereka, dari sejak mereka di dalam kandungan. Untuk rencana yang indah itu, sayang sekali jika harus dinodai dengan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, dalam hal ini masalah kekudusan.

Games untuk father and daughter: mengepang rambut.
Papa menang... Akibat sering dikerjain adik untuk ikat dan kepang rambut adik.
Games untuk mom and son: memasang dasi dengan mata terikat.

Di akhir acara, kami berkumpul per keluarga untuk mendoakan anak-anak kami masing-masing. Kami memperkatakan berkat atas mereka dan berdoa agar mereka mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan sehingga apapun yang terjadi, mereka tetap melakukan apa yang Tuhan inginkan.

When parents pray for kids.
Pembacaan komitmen oleh kakak dan bestie-nya

Bagi kami pribadi, saat anak-anak memasuki usia remaja, kami mempunyai family culture dimana si  papa akan pergi berdua dengan si anak remaja ini. Ini adalah waktu papa kembali mengingatkan mereka akan betapa berharganya mereka di mata kami dan terlebih lagi di mata Tuhan. Kami menceritakan kisah kami, orang tua mereka. 

Our family picture

Kisah yang kami ceritakan termasuk juga kisah kami saat remaja dan memutuskan untuk berani hidup kudus sampai Tuhan mempertemukan kami dengan pasangan hidup kami. Kisah yang sering mereka dengar, tetapi saat mereka beranjak remaja, dengan keadaan yang berbeda, itu akan menjadi suatu tonggak bagi mereka. 

Papa dan anak remajanya

Usia remaja berarti pintu mereka untuk mulai melihat hal-hal baru dalam hidup mereka. Banyak hal yang dapat mereka lakukan untuk membangun diri daripada sekedar urusan pacaran. Penting bagi mereka untuk menjaga kekudusan mereka sampai mereka dipertemukan dengan pasangan hidup mereka nanti.

Papa dan anak pra-remajanya =D

Dengan adanya kegiatan bersama komunitas, anak-anak ini juga tahu bahwa mereka tidak sendiri. Ada teman-teman yang sevisi, senilai dengan mereka. Dunia boleh berkata itu kuno, tetapi selama mereka berani mengambil keputusan untuk memilih yang benar, dan ditambah adanya support system, selain keluarga, pasti akan lebih menguatkan mereka.

Para ayah yang berkomitmen untuk hadir bagi anak-anaknya
Para ibu yang berkomitmen untuk saling menopang

Biarlah cerita cinta kami menginspirasi anak-anak kami untuk hidup kudus di hadapan Sang Penciptanya. 

Kamis, 22 Maret 2018

Saat Homeschooler Beranjak Remaja


Saat anak-anak beranjak remaja, sama seperti kita saat remaja, mereka mulai memasuki masa mencari identitas diri. Dan tentunya masa-masa seperti ini teman (atau bahkan guru) terasa lebih benar daripada orang tua. Peer pressure atau tekanan dari teman akan menjadi nomor satu karena mereka ingin diterima oleh teman mereka. Homeschooler mungkin tidak begitu merasakan peer pressure tersebut. Tetapi pasti tetap ada masa-masa dimana para remaja ini mulai galau.

Disaat seperti inilah kita sebagai orang tua harus mulai lebih peka dan dapat memosisikan kita sebagai teman. Memang dulu saat masih bekerja, dunia remaja sudah menjadi bagian dalam kehidupan saya. Bagi saya mendengarkan uneg-uneg dan mimpi mereka dan dapat membagikan hidup dengan mereka merupakan hal yang menyenangkan. Sebagian dari mereka ingin agar orang tua mereka dapat memahami mereka dan tidak terlalu memaksakan kehendak pada mereka. 

Tahun lalu entah mengapa saya mendapatkan kesempatan untuk mendengar kisah-kisah tentang keluarga yang sudah selesai homeschool dan juga keluarga yang anak-anaknya sedang ABG atau remaja. Ada keluarga yang lebih cepat mengantar si bungsu untuk memasuki dunia perkuliahan karena sudah mulai jenuh belajar sendiri. Ada juga yang akhirnya mem-postpone materi pelajaran karena si anak lebih tertarik kepada hal-hal non akademis. Setelah berkali-kali mengobrol dan mengamati keluarga-keluarga homeschool yang anak-anaknya sudah remaja, saya mendapatkan beberapa kesimpulan yang menurut saya sangat berharga. Sengaja saya tuangkan ke artikel ini menjadi dokumentasi saya sebagai persiapan jika Duo Lynns sudah remaja. Tentunya posisi sebagai orang tua dan posisi sebagai teman curhat anak remaja akan berbeda nantinya.

1.Tujuan homeschool bagi anak remaja.
Jika saat anak-anak masih kecil, porsi kita dalam mendidik anak lebih besar. Kita meletakkan fondasi dalam diri mereka. Meletakkan fondasi bukan berarti kita mengendalikan mereka, tetapi kita lebih mengarahkan mereka kepada prinsip dan nilai yang seharusnya dimiliki mereka. Semakin besar berarti tujuan homeschool pun bukan lagi kepada meletakkan fondasi, tetapi lebih kepada mempersiapkan mereka untuk berkarya sesuai dengan panggilan dan tujuan yang Tuhan berikan bagi mereka. Jadi tidak berarti jika semua anak harus excellent di semua bidang pelajaran. Kita dapat melihat kemampuan anak dan mengarahkan mereka sesuai kapasitas mereka.

2. Toleransi terhadap hal-hal yang bukan prinsip.
Saat memasuki usia remaja, anak-anak akan lebih membantah dibanding saat masih kecil. Hal ini wajar karena memang fasenya mereka. Akan menjadi berat jika akhirnya hal yang kecil-kecil pun menjadi permasalahan antara si anak remaja dan orang tua. Di masa-masa inilah toleransi kita terhadap hal-hal yang bukan prinsip harus diperbesar. Namun saat berhubungan dengan hal-hal yang prinsip, kita tetap harus berani untuk mempertahankan value yang ada.

3. Fleksibitas dalam pelajaran.
Di masa-masa remaja bakat dan minat anak biasanya akan makin terlihat, bukan hanya yang berbau non akademis tetapi juga yang berbau akademis. Saya jadi teringat murid-murid saya yang lemah di mata pelajaran tertentu. Biasanya anak-anak ini akan berkata untuk apa belajar trigonometri (untuk pelajaran matematika) toh nanti kerja tidak akan terpakai karena mereka akan bekerja di bidang seni. Atau bagi yang tidak suka geografi akan berkata untuk apa batas wilayah dihapalkan. Atau bagi yang lemah dalam bidang olahraga, seperti saya, pasti akan berpikir tidak masalah tidak dapat bermain voli ataupun basket, yang penting dapat berenang dan lari kalau dikejar orang (self defense mode on). 
Walaupun benar saat mereka bekerja tidak akan terpakai, namun selama materi-materi ini menjadi syarat untuk ujian (kejar paket ataupun ujian lainnya), sebaiknya mereka tetap memelajarinya. Di titik ini kita harus lebih fleksibel. Alangkah tidak bijak jika kita tetap memaksa mereka untuk mendapatkan hasil tertinggi. Si anak tidak harus sampai nilai yang tinggi, namun selama dia dapat mengerjakan sampai standard yang diberikan, itu sudah cukup.

4. Tetap memberikan dasar bagi mereka walaupun mungkin bukan minat mereka. 
Saya jadi teringat pernyataan dari Lee Binz, seorang penulis dan juga pelaku Homeschool mengenai homeschooling bagi anak remaja. Beliau mengatakan bahwa andaikan si anak tidak berencana untuk kuliah, tetaplah berikan si anak dasar untuk mempersiapkan anak ke jenjang selanjutnya karena remaja sering berubah pikiran. Oleh sebab itu, saat menghadapi homeschooler yang sedang remaja ini, tetaplah persiapkan mereka untuk hal-hal yang berbau akademis dan non akademis. Tetapi landasan dari semuanya adalah kasih kepada mereka dan bukan memaksakan keinginan kita. 

Semakin saya mengingat relasi saya dengan murid-murid yang dulu pernah saya ajar dan curhat orang tua murid, semakin saya merasa memang menjadi orang tua tidaklah mudah. Dasar yang baik, disiplin yang sesuai, dan nilai moral yang tepat haruslah diberikan saat mereka masih kecil, bukan saat mereka sedang remaja. Bahkan walau sudah dibekali hal-hal tersebut pun anak remaja dapat bersikap yang antik. Sampai di titik inilah kita sebagai orang tua harus menyadari bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber kekuatan kita dan Tuhan yang sanggup menjagai anak-anak kita. :)