Tampilkan postingan dengan label biblical parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biblical parenting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Oktober 2025

Our Love Story Part 2


Memiliki anak-anak yang sudah masuk masa pra remaja dan remaja merupakan hal yang gado-gado rasanya. Di satu sisi, mereka semakin dewasa dan mengerti banyak hal. Tetapi di satu sisi, banyak hal yang harus dipersiapkan bagi mereka. Salah satunya adalah tentang sex education.

Beberapa tahun yang lalu, kami sempat mengadakan kegiatan ini juga, bertepatan dengan momen Hari Kasih Sayang. Kali ini, kami mengadakan setelah tahun ajaran selesai, sebagai kegiatan bersama untuk memasuki tahun ajaran yang baru. Selain itu pesertanya pun dibuat dari anak-anak umur delapan tahun keatas, mengingat perubahan-perubahan saat ini.

Kegiatan kami dimulai dari ice breaker. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok. Permainan pun dimulai. Selesai bermain, maka kami memulai ibadah bersama. Setelah itu, anak-anak yang berusia dibawah 8 tahun diajak ke ruangan terpisah dan membuat aktivitas. Sementara anak yang berusia 8 tahun tetap di ruangan yang sama.

Ice Breaker by uncle kesayangan anak-anak.

Kali ini kami diminta untuk membagikan sharing mengenai kekudusan. Sebelum kami sharing di hari H, kami membagikan PR bagi orang tua. Orang tua diminta untuk melakukan sharing dengan anak. Di minggu pertama, orang tua diminta untuk berdiskusi tipis tentang perasaan anak-anak. Kenapa harus orang tua dulu? Tujuannya agar orang tua dan anak dapat mempunyai hubungan yang lebih akrab dan anak mendapatkan perspektif bahwa orang tua mereka hadir bersama dengan mereka.


Di minggu kedua, orang tua diminta untuk menceritakan pengalaman mereka berada dalam sirkulasi teman yang baik dan buruk. Tujuan dari kegiatan di minggu kedua adalah anak tahu pentingnya berada di sirkulasi yang tepat dan memilih teman yang tepat. Bad company corrupts good character.

Di minggu ketiga, orang tua mulai membagikan perubahan-perubahan fisik yang dialami saat mereka memasuki masa-masa puber. Tujuannya adalah agar anak mengetahui tubuh mereka akan berubah dan itu normal. Oleh sebab itu mereka tidak perlu minder dan tidak mengizinkan siapapun memegang bagian tubuh mereka, kecuali penting. 

Sharing by papa.

Di minggu keempat, orang tua diminta untuk sharing mengenai menjaga kekudusan. Orang tua pun diminta untuk menceritakan betapa sakralnya pernikahan itu. Tujuannya adalah agar anak mengetahui suatu kehormatan bagi mereka untuk menjaga diri mereka tetap kudus sampai Tuhan mempertemukan mereka dengan pasangan mereka. 

Umbrella authority untuk mengingatkan mereka berada di bawah orang tua mereka.

Bagian kami saat sharing adalah merangkum itu semua. Kami membagikan ilustrasi tentang korek api. Setiap korek api tradisional hanya dapat dinyalakan sekali.Korek api adalah kita dan permukaan kasar pada kotak korek merupakan hal-hal yang menguji kekudusan seperti kontak fisik dengan cara intim, melihat hal-hal yang tidak baik, melakukan tindakan yang bertentangan dengan kekudusan. 

Korek api zaman baheula.

Saat bermain-main dengan kekudusan, menguji kekudusan, bisa saja korek tersebut terpantik dan terbakar. Setelah padam, maka tidak dapat digunakan lagi untuk menyalakan api. Demikian juga dengan purity. Saat kita bermain-main dengan purity, merasa tidak masalah melakukan sentuhan fisik, coba-coba, maka tanpa disadari bisa membakar kita. 

Ilustrasi tentang korek api.


Setelah sharing selesai, maka anak-anak dibagikan kertas yang berisi purity pledge. Anak-anak bersama-sama mengikrarkan janji mereka. setelah itu orang tua memberikan gelang yang dapat dipakai mereka sebagai pengingat akan ikrar mereka mengenai kekudusan. 

Our Purity Pledge

Gelang sebagai pengingat mereka akan komitmen mereka.

Berbeda dengan konsep sex education yang ada di sekolah, bagi kami inti dari sex education bagi anak-anak ini adalah bagaimana mereka menjaga kekudusan sampai mereka masuk dalam pernikahan. Memang terkesan berat, tetapi kami meyakini hal yang penting ini harus dibicarakan sejak mereka masih kecil. 


A commitment to purity challenges you to safeguard your heart until it is the right time to ‘awaken’ love. This often feels lonely and even painful, but the pain of self-denial is far better that the pain of self-destruction. We praise God, we can walk through it together, as one community.

Us....



Rabu, 31 Mei 2023

Our Love Story

Bulan Februari itu katanya bulan cinta. Kenapa bulan cinta? Karena ada hari valentine aka hari kasih sayang. Zaman saya masih lebih muda, sekarang juga masih muda, banyak yang menggunakan moment valentine untuk ‘nembak’ cewek atau cowok yang dia suka. 

Let all that you do be done in love

Bahkan di beberapa negara, valentine menjadi moment ekstrim untuk seseorang melepas virginity, baik perempuan maupun laki-laki. Padahal hari kasih sayang itu sendiri awalnya bukan tentang pacar-pacaran ataupun hal yang berbau seks.

Atas dasar itulah, kami para orang tua merasa terpanggil untuk mengingatkan anak-anak ini akan pentingnya menjaga kekudusan. Maka di bulan Februari lalu, komunitas kami mengadakan acara berjudul Cerita Cinta.

Rundown kami yang disusun para PIC yang kece badai

Acara kali ini dimulai dari presentasi tarian berjudul I Am Who You Say I Am. Adik memilih lagu ini untuk menjadi presentasi karena lagu ini mengingatkan setiap anak-anak bahwa mereka berharga di mata Tuhan. Kita yang harusnya terhilang menjadi berharga karena Tuhan mengasihi kita. Karena itu, kita harus ingat identitas kita di mata Tuhan. Dengan identitas itu, kita harus berani berdiri diatas kebenaran Tuhan. Apapun yang terjadi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. 

Adik mengkoreo tarian dan si kecil ujug-ujug ikut menari =D

Selain presentasi tarian, ada games-games yang membangun keakraban antara ayah dengan anak. Ada juga renungan singkat yang dibawakan oleh Uncle EN dan Uncle YP. Renungan-renungan ini bertujuan mengingatkan kami para orang tua dan juga anak-anak bahwa Tuhan punya rencana yang indah dalam hidup mereka, dari sejak mereka di dalam kandungan. Untuk rencana yang indah itu, sayang sekali jika harus dinodai dengan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, dalam hal ini masalah kekudusan.

Games untuk father and daughter: mengepang rambut.
Papa menang... Akibat sering dikerjain adik untuk ikat dan kepang rambut adik.
Games untuk mom and son: memasang dasi dengan mata terikat.

Di akhir acara, kami berkumpul per keluarga untuk mendoakan anak-anak kami masing-masing. Kami memperkatakan berkat atas mereka dan berdoa agar mereka mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan sehingga apapun yang terjadi, mereka tetap melakukan apa yang Tuhan inginkan.

When parents pray for kids.
Pembacaan komitmen oleh kakak dan bestie-nya

Bagi kami pribadi, saat anak-anak memasuki usia remaja, kami mempunyai family culture dimana si  papa akan pergi berdua dengan si anak remaja ini. Ini adalah waktu papa kembali mengingatkan mereka akan betapa berharganya mereka di mata kami dan terlebih lagi di mata Tuhan. Kami menceritakan kisah kami, orang tua mereka. 

Our family picture

Kisah yang kami ceritakan termasuk juga kisah kami saat remaja dan memutuskan untuk berani hidup kudus sampai Tuhan mempertemukan kami dengan pasangan hidup kami. Kisah yang sering mereka dengar, tetapi saat mereka beranjak remaja, dengan keadaan yang berbeda, itu akan menjadi suatu tonggak bagi mereka. 

Papa dan anak remajanya

Usia remaja berarti pintu mereka untuk mulai melihat hal-hal baru dalam hidup mereka. Banyak hal yang dapat mereka lakukan untuk membangun diri daripada sekedar urusan pacaran. Penting bagi mereka untuk menjaga kekudusan mereka sampai mereka dipertemukan dengan pasangan hidup mereka nanti.

Papa dan anak pra-remajanya =D

Dengan adanya kegiatan bersama komunitas, anak-anak ini juga tahu bahwa mereka tidak sendiri. Ada teman-teman yang sevisi, senilai dengan mereka. Dunia boleh berkata itu kuno, tetapi selama mereka berani mengambil keputusan untuk memilih yang benar, dan ditambah adanya support system, selain keluarga, pasti akan lebih menguatkan mereka.

Para ayah yang berkomitmen untuk hadir bagi anak-anaknya
Para ibu yang berkomitmen untuk saling menopang

Biarlah cerita cinta kami menginspirasi anak-anak kami untuk hidup kudus di hadapan Sang Penciptanya. 

Senin, 03 Agustus 2020

Parents Meeting: Peran Ayah dan Ibu Dalam Homeschool (Part 2)


Masih lanjutan dari artikel sebelumnya, kalau tadi yang dibahas adalah peran ayah, maka sekarang akan dibahas peran ibu.

PERAN IBU
Jika Ayah mempunyai peran penting dalam meletakkan fondasi dalam keluarga, maka Ibu mempunyai 5 fungsi dasar dalam keluarga.

1. The mother is the heart of the home
Jika ayah diibaratkan sebagai kepala dalam suatu rumah, maka ibu dapat diibaratkan sebagai jantung dalam suatu rumah. Seperti denyut jantung menentukan suatu kehidupan, maka ibu sebagai denyut jantung keluarga sangat menentukan suasana di rumah. Tetapi saat mengurus rumah, terkadang si ‘jantung’ ini bermasalah karena ‘satu dan lain hal’.

’Satu dan lain hal’ ini bisa jadi rasa kesal kepada suami karena suami tidak dapat memahami perasaan kita sebagai seorang istri ataupun pikiran kita (ada amin, para istri?) Untuk menghindari hal ini, maka istri perlu mengkomunikasikan pengamatan dan perasaannya kepada suami. Ingat, suami bukan cenayang atau ahli nujum yang dapat membaca pikiran dan perasaan wanita.

Bagaimana caranya untuk mengkomunikasikannya? Suami istri harus mempunyai waktu khusus untuk berdua dengan suami. Istri harus menjadwalkan pertemuan rutin dan berkala dengan suami guna mendiskusikan banyak hal penting, termasuk soal homelearning.

2. The mother is the light of learning
Saat suatu keluarga memutuskan untuk homeschool, ibu akan berada dengan anak dan berperan sebagai guru untuk anak. Guru ini mengajar untuk mempersiapkan anak saat harus terjun ke dunia nyata. Seorang ibu juga harus membekali anak bukan hanya dengan hal-hal yang berbau akademis, tetapi juga membekali anak dari sisi keterampilan (basic skill setidaknya), dan karakter juga.  Dengan melatih ‘hati yang mendengar’, ibu akan tahu tentang hal-hal yang dibutuhkan oleh anak, menyangkut karakter, sisi akademis, dan keterampilan yang perlu dikembangkan.

3. The mother is a learner-teacher
Banyak ibu kuatir tentang kemampuan mereka dalam menguasai suatu mata pelajaran dan kemampuan dalam mengajar. Ibu takut tidak dapat memberikan yang terbaik karena ibu tidak mengerti materi yang diajarkan. Alih-alih menguasai bahan secara menyeluruh, yang lebih diperlukan ibu adalah antusiasme sebagai pembelajar yang akan berkembang sama-sama dengan sang anak. Ibu dan anak, terutama saat anak masih usia TK dan SD, dapat belajar bersama.

Kerelaan ibu untuk sinau atau belajar bersama ini tentunya membuat anak semangat belajar. Apalagi saat anak-anak masih TK atau SD. Tidak ada alasan materi tersebut susah sehingga tidak mampu mengajar materi tersebut dan memanggil guru les untuk mengajar anak membaca ataupun berhitung.

4. The mother is a ‘creative recorder’
Sebagai seorang ibu yang setiap hari mengajar anaknya, tentunya ada banyak hal yang ingin didokumentasikan. Sebagai ‘creative recorder’, ibu harus mencari cara yang cocok dan memudahkan untuk mendokumentasikan hasil pembelajaran anak. Misalkan dengan menggunakan lapbook, atau menyimpan dalam media sosial (bukan dengan tujuan untuk show off tentunya).

5. The mother is a ‘coordinator’ of responsibilities
Anak-anak harus diperkenalkan dengan yang namanya tugas di rumah. Tugas ini bukan merupakan ajang ‘pemberdayaan’ anak, tetapi lebih untuk melatih kemandirian anak sedini mungkin. Jangan berikan tugas yang lebih berat dari umurnya ataupun pekerjaan yang berlebihan.
Mom and things to do =D
Kami pun mencoba untuk merefleksikan peran kami berdua dalam pendidikan di rumah kami. Untuk hal yang berbau akademis, si papa menyerahkan kepada saya sebagai guru anak-anak. Tetapi bukan berarti si papa lepas tangan. Ada saat-saat dimana saya pusing dan si papa pun ikut membantu.

Lalu, apa dong peran si papa? Papa lebih banyak memfokuskan kepada hal yang berbau kerohanian anak-anak. Dari sejak anak-anak masih dalam kandungan, setiap hari papa membacakan Alkitab. Saat anak-anak masih bayi pun papa senang membacakan Alkitab. Bahkan saat anak-anak masih belum bisa membaca, acara membaca Alkitab saat malam hari bisa panjang karena ada story telling dan play pretend.

Pembelajaran mengenai karakter pun kami lakukan bersama-sama. Bukan hanya anak-anak yang diingatkan, tetapi kami sebagai orang tua pun diingatkan dan dibentuk hari lepas hari. Seperti pedang bermata dua, kebenaran-kebenaran itu menemplak kami dan juga anak-anak.

Bagaimana dengan house chores? Anak-anak terbiasa mengerjakan house chores atau tugas rumah tangga dari kecil. Bukan karena kami menyuruh, tetapi mereka melihat kami melakukannya dan mereka ingin mengikutinya.

Proses kami sebagai homeschooler masih panjang. Tetapi dengan adanya Parents Meeting ini, kami diingatkan bahwa untuk mempunyai awal yang benar dalam homeschool adalah ayah dan ibu terlibat dalam pendidikan. Dan agar keterlibatan ayah dan ibu menjadi lebih smooth, maka hubungan ayah dan ibu harus dalam tahap yang benar juga.

Bu Rina pun berkata bahwa ibu yang bijak sadar bahwa ada musim berbeda-beda dalam kehidupan, dan investasi waktu dalam homeschooling akan memperoleh ganjaran yang sangat layak. Memang tidak mudah untuk mendidik anak-anak sendiri, ada banyak waktu yang harus diinvestasikan bagi mereka. Namun memang benar bahwa akan ada ganjaran yang sangat layak untuk itu.

Parents Meeting ini tentunya semakin memperlengkapi kami semua. Dan kami bersyukur karena Parents Meeting ini juga dapat diikuti oleh teman-teman kami yang berada di luar pulau. Blessing in disguise di saat covid ini tentunya. 






Parents Meeting: Peran Ayah dan Ibu Dalam Home Education (Part 1)


Berbicara tentang homeschool atau homelearning, tentunya tidak jauh-jauh dari orang tua. Mengapa? Lah wong namanya saja sekolah di rumah, berarti pengajar utamanya adalah orang tua. Dengan kata lain, ayah dan ibu berperan penting dalam pendidikan anak, bukan tetangga ataupun teman (kan gak mungkin tetangga yang berperan penting di dalam rumah kita).

Masalahnya, sering kali saat sudah terjun, para ibu merasa sendirian dalam mengarungi lautan pembelajaran yang lama-lama membuat para ibu merasa hanyut dan hampir tenggelam (beuh, bahasanya berat euy). Nah, supaya tidak jadi betul-betul tenggelam, mau tidak mau, kedua orang tua harus sama-sama berperan dalam dalam home learning. Kan namanya juga homeschool, ayah sebagai kepsek dan ibu sebagai guru.

Dan yang namanya orang tua, pasti tidak lepas dari yang namanya parenting skill. Parenting skill ini yang membantu orang tua menghadapi tingkah anak yang terkadang membuat kita mengelus dada. Apalagi yang namanya homeschool, orangtua, khususnya ibu, bertemu 24/7 dengan anak-anak.

Untuk itu, kami mengambil topik Parenting untuk pertemuan Parents Meeting kami di tahun ini. Topik parenting yang paling ditunggu-tunggu adalah tentang disiplin dan menghadapi tingkah si anak. Tetapiiiii....untuk sampai ke situ ada banyak tahap, dan tahap pertama adalah memulai awal yang benar, yaitu melihat peran kedua orang tua, Ayah dan Ibu, dalam homelearning.

Berhubung covid, maka Parents Meeting kali ini dilakukan secara online, melalui ZOOM dengan mentor kami, keluarga Badudu. Ada 5 hal yang dibagikan oleh beliau untuk para ayah dan para ibu.
Peran Ayah dan Ibu 
PERAN AYAH
Suatu negara lemah jika negara tersebut terdiri dari keluarga-keluarga yang lemah. Suatu keluarga lemah jika keluarga tersebut mempunyai ayah yang lemah. Seorang ayah dikatakan lemah jika dia gagal untuk memahami dan memenuhi tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan kata lain, ayah sangat penting untuk masa depan suatu bangsa.

Oleh sebab itu, peran ayah bukanlah sekedar mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan keluarga. Tetapi lebih dari itu. Ayah mempunyai peran penting dalam menentukan objektif dalam suatu keluarga. Pak Rizal pun membagikan lima peran ayah dalam keluarga.

1. To build perspective of eternity
Semua hal yang ada di dunia ini hanyalah sementara saja. tidak ada yang kekal di dunia ini. Karena itu, semua yang kita lakukan harus mengarah kepada kekekalan. Sebagai seorang imam, penting bagi seorang ayah untuk membimbing anak-anak dan menjelaskan kepada anak-anak apakah tujuan mereka ada di dunia itu. Selain itu penting bagi anak untuk mempunyai pola pandang yang Alkitabiah.

Berbicara tentang kekekalan, maka tidak akan lepas dari waktu. Ada tiga macam term yang sering digunakan untuk menjelaskan waktu, yaitu kronos, kairos, dan aion. Kronos berarti siklus waktu yang biasa, yang biasanya dinyatakan dalam jam. Kairos adalah waktu yang tidak dapat diulang. Sedangkan kata aion dipakai untuk menunjukkan tentang waktu yang lama sekali atau tidak ada batasnya atau kekekalan.
Kronos, Kairos, dan Aion
2. To grow in faith and in the power of prayer
Karena semua hal tidak ada yang kekal, maka setelah ayah membangun perspektif mengenai kekekalan, peran penting ayah yang berikutnya adalah membawa anggota keluarganya untuk bertumbuh dalam iman dan kuasa doa. Hal ini tidak lepas dengan kerohanian si ayah. Ayah haruslah setia dalam pembacaan dan penggalian Alkitab secara pribadi. Jika si ayah sudah terbangun kerohaniannya, maka ayah dapat dengan dominan memimpin pembacaan Alkitab dan doa bersama keluarga.

Jika ayah sudah konsisten dalam memimpin pembacaan Alkitab dan doa bersama keluarga, maka ayah akan lebih mudah untuk memengaruhi anak dengan terus mengalami kuasa doa dalam kehidupan. Contoh yang mudah adalah dengan melakukan doa bersama keluarga, pembacaan Alkitab sebelum tidur saat anak-anak masih kecil, story telling mengenai tokoh-tokoh yang dapat dijadikan panutan, dan sebagainya.

3. To seek wisdom and act with genuine love
Selain membawa anak untuk bertumbuh dalam imannya, ayah juga berperan untuk membawa anak-anak mencari hikmat dan bertindak dalam ketulusan. Tidak mudah memang, karena kita tidak mungkin mengawasi semua keputusan yang diambil oleh anak. Namun kita dapat memperlengkapi mereka dengan kemampuan untuk memilih dan memutuskan dengan baik. Untuk mencapai ini, ayahlah yang harus dibentuk terlebih dahulu. Ayah harus bijaksana dalam mengambil banyak keputusan dan pilihan.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengajarkan karakter-karakter yang dapat membangun anak-anak. Dan lebih dari sekedar mengajar, ayah harus menjadi teladan dalam menunjukkan karakter-karakter tersebut.

4. To find a life calling and fulfill it
Walaupun kita harus melihat kepada kekekalan, tetapi pasti ada alasan mengapa kita ada di dunia ini. Adalah tugas ayah untuk mengajarkan anak-anak untuk menemukan panggilan hidupnya dan memenuhi panggilan tersebut. Ayah harus mengajarkan bahwa profesi dan pekerjaan bukanlah tujuan utama dalam kehidupan yang akan menentukan kepuasan, identitas diri, dan pengakuan.

Ayah harus menekankan kepada anak bahwa tujuan kita adalah untuk memuliakan Tuhan dan melakukan Amanat Agung melalui apapun yang mereka pilih untuk lakukan.Mereka memuliakan Tuhan dengan melakukan apa yang Tuhan berikan dalam hidup mereka.

5. To develop skills and the character that supports
Tugas ayah yang kelima adalah untuk mengembangkan keterampilan dan karakter yang mendukung keterampilan tersebut. Anak-anak muda perlu dilatih dalam berbagai keterampilan. Dan tidak berhenti di situ. Saat keterampilan tidak didukung dengan karakter, maka akan timbul yang namanya kesombongan. Oleh sebab itu, selain mengembangkan keterampilan, maka ayah harus mendorong anak untuk mengembangkan karakter-karakter yang mendukungnya hal-hal itu.

lanjut ke Part 2
Husband as head and wife as heart of the home


Selasa, 26 Februari 2019

When Parenting for Early Childhood is Tough....


Topik parenting selalu menjadi topik yang sering ditanyakan kepada kami. Dari topik disiplin anak, mengatasi tantrum, cara mendidik anak, dan sebagainya. Bukan berarti karena kami ahli ya, wong kami saja masih berjuang. Namun setiap pertanyaan itu membuat kami berpikir dan menyadari memang parenting anak-anak kecil itu tidaklah mudah.

Menjadi orang tua merupakan suatu privilege bagi setiap pasangan suami istri. Betapa tidak, tidak semua pasangan suami istri dapat memiliki anak. Walaupun merupakan privilege, tetapi ada tanggung jawab yang harus dilakukan. Mempunyai anak bukan hanya urusan membesarkan anak dari bayi hingga dewasa, tetapi juga mendidik anak agar menjadi orang yang mandiri dan berkarakter.

Sebagai orang tua, kita senang melihat anak kita bahagia. Bahkan salah satu teman saya selalu berkata kita sebagai orang tua pasti ingin anak kita bahagia. Seringkali saya melihat banyak orang tua agar anaknya bahagia, mengizinkan anaknya berbuat apapun yang mereka sukai, dengan alasan mereka masih kecil, dan mereka belum mengerti. Karena alasan inilah, kita berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Dengan kata lain, orang tua terkadang tutup mata, asalkan anak kita senang dan tenang. 

Memang tangisan anak bisa menjadi sesuatu yang membuat kepala pusing. Dan seringkali orang tua menurunkan standard yang sudah ditetapkan dan tidak konsisten dengan prinsip-prinsip yang kita miliki, demi membuat anak bahagia. Hal ini dapat menyebabkan kita membuat anak kita seperti bayi besar. Kita terus menolong anak kita melakukan segala sesuatu sampai akhirnya mereka lupa untuk mengambil tanggung jawab mereka.

Gaya parenting seperti itu, tanpa konsistensi dan tanpa struktur, pada akhirnya akan menimbulkan masalah. Kita menciptakan anak-anak yang insecure. Kita mengikuti maunya si anak agar kita tidak merasa sebagai orang tua yang jahat dan karena si anak bahagia, maka kita merasa kita sudah melakukan yang terbaik sebagai orang tua. Apakah ini benar? Apakah cara seperti ini tepat? Menurut saya, cara tersebut kurang tepat. Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Hal yang menyedihkan, namun benar.
Yang harus kita ingat adalah: kita adalah orang tua. Kita bukanlah obyek dari anak-anak kita dan kita bukanlah teman dari anak-anak kita. Kita boleh menjadi sahabat bagi mereka, tetapi kita tetaplah orang tua mereka. Menjadi orang tua berarti kita yang mempunyai otoritas atas anak-anak kita. Saat kita mengijinkan anak-anak untuk mengatur kita, apalagi dalam masa early childhood, maka kita mengijinkan kekacauan, ketidaktaatan, dan ketidakamanan dalam hidup mereka. Jika kita tidak menghentikannya, kita akan mewariskan kebingungan, ketidakpercayaan, dan tidak menutup kemungkinan saat mereka dewasa mereka akan susah untuk menaati Tuhan.

Sebagai orang tua, kita harus ingat bahwa Tuhan adalah Tuhan menyukai hal yang teratur, tetapi bukan kekakuan. Tuhan kita dinamis dan kreatif, tetapi bukan semaunya. Penting bagi kita untuk tahu batasan dinamis dan teratur. Keteraturan di hidup anak-anak adalah baik. Jika kita mengijinkan anak untuk menetapkan batasan, mereka tidak akan pernah mencapai potensi yang Tuhan berikan. Jika kita berdiri dengan teguh melawan permintaan dan keluhan anak-anak kita, dan tidak menjadi kuatir, maka kita akan melihat anak-anak kita bertumbuh dalam standard yang kita tetapkan.

Mempunyai otoritas bukan berarti bahwa kita bersikap otoriter. Kita juga harus terbuka untuk menerima masukan dan kata-kata mereka. Dengan demikian keteraturan yang ada tidak bersifat kaku, tetapi juga dinamis. Ada batasan-batasan yang kita berikan, terutama untuk hal-hal yang bersifat prinsip. Tetapi tetap penyampaiannya haruslah dengan cara yang berkarakter dan tidak menyakiti hati mereka. 

Mendidik anak berarti kita menetapkan standard yang sesuai dengan kita dan keluarga kita berdasarkan firman Tuhan. Dan semakin kami mendidik anak, semakin kami menyadari usaha yang kami lakukan tidaklah mampu membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Hanya Tuhan saja yang memampukan anak-anak ini menjadi pribadi yang lebih baik. Bagian kita hanyalah taat untuk melakukan apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua. 

Mari kita berdiri dengan teguh, tidak tergoyahkan, dan memimpin anak-anak kita ke jalan yang tepat seperti yang Tuhan inginkan.
Sumber foto: pinterest.