Jumat, 20 Mei 2016

Memilih Kurikulum Matematika untuk Homeschool

Mendengar kata matematika tentu biasa saja, tetapi kalau disuruh mengajar matematika, rasanya luar biasa. Mengapa? Menyampaikan suatu materi dalam matematika bagi anak-anak bisa jadi merupakan sesuatu yang cukup kompleks bagi beberapa orang karena kita harus bisa menyampaikannya dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh anak. Oleh sebab itu, memilih kurikulum matematika yang tepat dapat membuat penyampaian materi menjadi sederhana dan menyenangkan. Dan terkadang butuh waktu yang lama untuk memilih kurikulum yang kira-kira sesuai dengan anak.

Seperti yang selalu saya katakan kepada banyak orang, suka tidak suka, matematika sangat dibutuhkan dalam banyak hal. Anak-anak perlu mengetahui matematika karena dalam kehidupan sehari-hari matematika sangat diperlukan seperti saat berbelanja, membuat anggaran, bahkan dalam hal menabung. Saat anak-anak dewasa pun matematika dibutuhkan bagi anak-anak yang menyukai ilmu sains dan teknik. Pengalaman saya saat jadi asdos waktu kuliah membuat saya menyadari bahwa bahkan di fakultas ekonomi pun matematika masih dipakai. Banyak sekali yang harus mengulang matematika dasar (dan ngulangnya bisa 4 kali loh) karena mereka tidak menguasai hal yang sederhana yang harusnya dikuasai saat SD. Kasihan kan kalau anak jadi tidak dapat memilih jurusan yang diminati hanya karena saat kecil mereka tidak mendapatkan pembekalan yang cukup. 

Saya pun menghabiskan banyak waktu untuk memilih kurikulum. Bahkan artikel ini pun baru terwujud sekarang, padahal niat membuat artikel ini sudah dari awal waktu blog ini dibuat. Dalam mencari kurikulum untuk matematika, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan.

1. Pendekatan apakah yang ingin kita gunakan, spiral dan masteri. 
Pendekatan spiral memperkenalkan topik-topik yang bervariasi tanpa mengharapkan anak untuk memahami setiap topik secara keseluruhan. Kata kunci dari pendekatan ini adalah pengulangan yang terus menerus, sehingga anak-anak mempunyai banyak kesempatan untuk memahami dan akhirnya menguasai semua konsep yang diperlukan.  Dengan pendekatan spiral suatu konsep tidak diajarkan dari awal sampai selesai dalam sebuah selang waktu, tetapi diberikan dalam beberapa selang waktu yang terpisah-pisah. Di selang waktu pertama konsep itu dikenalkan secara sederhana, misalnya dengan cara intuitif melalui benda-benda konkret atau gambar-gambar sesuai dengan kemampuan murid. Setelah selang waktu itu selesai, maka pelajaran dilanjutkan dengan topik-topik lain. Di selang waktu yang terpisah-pisah selanjutnya, konsep tadi diajarkan lagi makin lama semakin abstrak. Notasi atau simbolnya pun berubah pula, hingga akhirnya menggunakan notasi yang umum dipakai dalam matematika.
Jadi, pendekatan spiral merupakan suatu prosedur pembahasan konsep yang dimulai dengan cara sederhana, dari konkret ke abstrak, dari eksplorasi ke penguasaan, dalam jangka waktu yang cukup lama dalam selang-selang waktu yang terpisah mulai dari tahap yang paling rendah hingga yang paling tinggi (semakin lama semakin dalam). Beberapa kurikulum yang menggunakan pendekatan spiral adalah Abeka, Saxon, Horizon, dan Teaching Textbook.

Pendekatan masteri menginginkan anak-anak untuk memahami konsep sepenuhnya sebelum berpindah ke konsep lainnya. Sebagai contoh, saat anak-anak belajar mengenai penjumlahan. Dalam masteri, si anak harus belajar penjumlahan sampai penjumlahan ribuan sebelum beranjak ke pengurangan. Karena pendekatan masteri mensyaratkan pemahaman seutuhnya terhadap suatu topik, maka anak tidak akan berpindah ke materi baru dengan cepat dan untuk pengulangan pun hanya sedikit. Suatu materi pelajaran, contohnya penjumlahan dapat dipecah menjadi beberapa bab, tetapi terkadang dipisahkan dalam beberapa worktext. Beberapa kurikulum yang menggunakan pendekatan masteri adalah Alpha Omega Lifepac,  Math Mammoth Blue Series, Bob Jones, dan Math U See.

Ada keluarga homeschool yang berhasil dengan menggunakan pendekatan spiral dan ada juga yang berhasil dengan menggunakan pendekatan masteri. Ada juga yang mengkombinasikan keduanya. Saat memilih di antara dua pendekatan ini, sebaiknya pilihlah yang sesuai dengan anak kita.
Atas: Saxon dengan pendekatan spiral, Bawah: Math Mammoth dengan masterinya

2. Apakah soal-soal untuk latihan dari kurikulum yang akan diambil cukup banyak?
Dalam mempelajari matematika, selain aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari, soal-soal latihan sangat membantu si anak untuk memahami konsep yang diberikan. Penguasaan soal-soal latihan yang dasar pun membantu anak saat mengerjakan materi yang kompleks. Sebagai contoh, kemampuan menyelesaikan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Seringkali saya menjumpai kesalahan konyol. Si anak menguasai materi x, tetapi salah menghitung saat mengerjakan. Akibatnya salahlah semuanya.
Soal-soal latihan ini dapat berbentuk lembar kerja ataupun flashcard. Yang terpenting adalah saat memberikan soal-soal latihan, jangan terlalu memberi tekanan kepada anak. Jika rasanya dia belum mampu,boleh diulang kok.

3. Apakah kurikulum yang dipakai membutuhkan alat bantu dalam mengajar?
Alat bantu mengajar membuat pelajaran menjadi menarik. Waktu saya kecil, alat bantu mengajar relatif sedikit. Tetapi kurikulum luar menggunakan banyak sekali alat bantu, seperti counting animals, stik kayu, snap cube, geoboard, dan sebagainya. Kita dapat menggunakan benda yang tersedia di rumah, seperti menghitung dengan menggunakan blocks, dengan tutup botol, dan sebagainya. Biasanya anak-anak dengan tingkatan lebih kecil menggunakan lebih banyak alat peraga. Seiring dengan bertambahnya usia, alat-alat peraga ini mulai berkurang penggunaannya dan digantikan dengan gambar dan ilustrasi.
Alat bantu atau alat peraga
4. Apakah Bentuk fisik dari buku yang kita inginkan?
Bagi beberapa orang, penampakan fisik dari kurikulum yang akan digunakan itu penting. Apakah mau buku atau file?Ada yang mau bukunya hitam putih saja, karena gambar dan warna dapat mengganggu kemampuan anak untuk fokus. Ada yang maunya berwarna supaya anaknya semangat belajar. Lalu yang menjadi pertimbangan juga, apakah mau workbook yang consumable atau yang dapat dipakai ke adik-adiknya lagi? Biasanya yang consumable itu berwarna, sehingga tidak mudah untuk difotokopi. Atau bisa juga membeli dalam bentuk file, seperti Math Mammoth, dan kita print sendiri. Jadi bisa dicetak sesuai kebutuhan kita.
Atas: Saxon yang hitam putih, Bawah: Abeka yang berwarna

Jika kita sudah mengetahui hal-hal yang harus dipertimbangkan, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan diingat kita sebagai pengajar.

1. Jangan memberi tekanan berlebih pada si anak saat menyelesaikan suatu materi. Kecenderungannya kita pasti mau suatu materi cepat selesai, saya juga kadang begitu. Tetapi saat memelajari matematika, penguasaan terhadap hal yang dasar itu perlu.

2. Saat menggunakan alat peraga, sesuaikan dengan kebutuhan anak kita. Jangan terlalu cepat menghilangkan alat peraga dalam penyampaian materi, tetapi jangan terus menerus menggunakan alat peraga. Tarik ulur istilahnya.

3. Jika kita merasa takut atau ragu saat mengajar matematika, jangan transferkan rasa takut ini kepada anak-anak. Saat kita ragu, si anak bisa jadi tambah bingung (apalagi kalau yang ngajar tipenya semakin ragu jadi semakin panik dan emosi). Buatlah anak tenang dan yakin kepada kita. Cobalah memelajari terlebih dahulu materi yang ada kalau memang si pengajar ragu. Tenangkanlah diri kita dengan menanamkan di pikiran kita bahwa kita sama-sama belajar dengan si anak, jadi kita pasti juga bisa. :D

4. Saat mengerjakan soal, dan si anak rasanya sudah mentok, coba jelaskan dan kerjakan bersama, sehingga anak tahu dimana salahnya. Jika suasana semakin panas, ambil waktu istirahat. Setelah istirahat, makan, tidur siang, cobalah bahas kembali. Biasanya jadi lebih nyambung loh.

5. Hal yang indah dari matematika adalah matematika itu progresif. Konsep yang satu didasari oleh konsep yang lain. Dengan kata lain, konsep yang satu membangun konsep yang lain, sampai menyentuh level tertinggi dan semuanya itu menggunakan konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Persoalan datang saat kita terlalu cepat berpindah, supaya cepat selesai, dari satu konsep ke konsep lain. Oleh sebab itu, sesuaikanlah dengan gaya belajar anak. Sebagai orang tuanya, kita lebih dapat mengetahui gaya belajar si anak. Jadi saat memilih kurikulum pun, pilihlah yang visible.

6. Jika kita sudah memilih pendekatan masteri dan anak kita dapat menangkap dengan cepat, tetapi bisa lupa kalau lama tidak dipakai, maka berikan soal-soal latihan secara berkala untuk membuat dia ingat kembali. Jadi seperti mencampur antara masteri dan spiral.

7. Apapun pilihan kurikulum yang sudah dipilih, jangan gonta-ganti dan tetaplah setia dengannya. Jujur pasti di tengah menggunakan kurikulum akan ada rasa kurikulum yang kita pilih kurang di bagian x, tetapi saat kita berganti yang lain, kita akan merasa ternyata kurikulum yang lain kurang dalam bagian y. Itu adalah hal yang wajar karena tidak ada cara untuk mengajar semuanya seperti mau kita. Yang dibutuhkan adalah konsistensi. Saat kita konsisten dengan apa yang sudah dipilih, jangan gonta-ganti, maka hal yang tadi dirasa kurang pasti akan dibahas di bab lainnya.

8. Tidak ada kurikulum yang terbaik. Kurikulum yang terkenal paling bagus pun bisa jadi tidak bagus jika si anak atau pengajar tidak dapat menerimanya. Oleh sebab itu, pilihlah yang sesuai dengan gaya belajar anak (dan kerelaan mamanya untuk belajar :D).

Saya pribadi mengalami kebingungan saat memilih kurikulum. Yang ini bagus, yang itu bagus. Nah, saat masa mencari sini situ, saya mendapatkan website yang membahas setiap kurikulum dan sangat membantu. Ingatlah moms, matematika adalah sesuatu yang menyenangkan. Jadi jangan takut sebelum berkenalan lebih jauh dengannya. Math is wonderful.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar