Tampilkan postingan dengan label CCC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CCC. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Oktober 2018

Math CCC 101: Cara Menggunakan Math CCC


Setelah membahas tentang Phonics CCC dan gambaran besar cara menggunakan CCC, pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya adalah bagaimana cara menggunakan Math CCC. Memang seperti yang pernah saya katakan, matematika merupakan momok bagi sebagian orang, mungkin karena saat kecil penyampaiannya tidak jelas atau kita memang tidak tektok dengan matematika. Padahal tanpa disadari matematika itu merupakan dasar dari semua ilmu.

Lebih dari sekedar menggunakan matematika untuk menyelesaikan soal-soal yang ada, ketekunan dalam mengerjakan dan memelajari matematika membentuk suatu karakter yang baik. Dari menyederhanakan suatu soal matematika dan kemudian mengerjakannya, anak-anak dibiasakan untuk tidak menunggu masalah besar baru diselesaikan. Dari kesalahan dalam mengerjakan suatu soal, mereka dibiasakan bahwa setiap kesalahan harus diperbaiki. Habit yang baik bukan?

Kembali ke Math CCC, penggunaan matematika ini dirancang berjalan bersamaan dengan penggunaan karakter. Setiap angka, dari 1 sampai 10, diceritakan melalui binatang dan karakter apa yang dapat kita pelajari. Jadi bukan akademis saja yang jalan, tetapi pembentukan karakter.

Saat menggunakan Math CCC, pastinya kita akan merasa bingung dan canggung melihat materi yang diberikan. Memang cara penyampaian matematika yang digunakan di Math CCC berbeda dengan cara yang diberikan saat kita kecil. Math CCC menekankan pentingnya nilai suatu angka (satuan, puluhan, dan ratusan). Selain itu Math CCC berusaha meminimalkan penggunaan jari saat belajar menghitung (kebalikan dari cara waktu kita diajari saat kecil bukan). Anak-anak pun diperkenalkan urutan bilangan sejak awal, bahkan mereka harus mengetahui ’tetangga’ sebelum dan sesudahnya. Dengan demikian anak dapat mengetahui bilangan mana yang lebih besar dan bilangan mana yang lebih kecil.

Yang menarik dari Math CCC adalah mereka memperkenalkan penjumlahan dengan menggunakan keluarga angka. Sebagai contoh, Mrs Two Deer mempunyai dua anak yaitu 2 + 0 dan 1 + 1, dengan nama keluarga 2, sehingga nama lengkap mereka adalan 2 + 0 = 2 dan 1 + 1 = 2. Secara tidak langsung mereka jadi belajar penjumlahan dalam bentuk yang menarik. Bukan untuk dihapalkan, tetapi namanya anak-anak pasti lebih tertarik jika pembelajaran dalam bentuk cerita. Untuk pembuktiannya, supaya nama-nama ini tidak menjadi hapalan, maka anak-anak juga akan diajak untuk membuktikannya dengan menggunakan tools atau alat bantu yang ada.

Lalu saat memperkenalkan pengurangan, anak-anak diperkenalkan bahwa pengurangan merupakan opposite atau lawan dari penjumlahan. Pendekatan seperti ini mempermudah kita nantinya saat mengajari perkalian dan pembagian. Sehingga akhirnya perkalian dan pembagian tidak menjadi hapalan (seperti saat kita masih belajar menghapalkan tabel perkalian), tetapi lebih cepat menangkap konsep.

Namun dalam materi yang kami beli, masih edisi lama, Math CCC dibagi menjadi dua bagian:
1. Math A: mencakup pengenalan angka dari 0 – 100, menghitung angka dua demi dua, menghitung angka lima demi lima, menghitung angka sepuluh demi sepuluh, penjumlahan dan pengurangan angka dari 1 – 10, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, place value mat, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil.
2. Math B: mencakup menulis angka hingga 999, angka tiga demi tiga, menghitung angka empat demi empat, penjumlahan dan pengurangan belasan, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, place value mat, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil, perkenalan tentang waktu, pecahan sederhana, dan uang.
Atas: pengenalan angka dari 1 - 100. Bawah: Place Value Mat
Penggunaan Math CCC untuk anak umur 3 tahun
Saat anak-anak baru berumur tiga tahun, penekanan kami saat menggunakan CCC adalah pada bagian cerita karakter yang ada. Titik berat kami ada pada karakter generosity (Mr. One Penguin), flexibility (Mrs. Two Deer), loyalty (Mrs. Three Bear), dan orderliness (Mr. Four Beaver). Cerita yang menarik mengenai keluarga hewan-hewan ini dengan karakter yang mendukung membuat anak-anak senang mendengarkan cerita tersebut. Saya menceritakan satu kisah selama seminggu, dengan harapan anak-anak menyerap dengan baik karakter tersebut. Setelah keempat karakter tersebut dimengerti dan dapat diaplikasikan dengan baik, kami pun beranjak ke karakter-karakter lainnya.

Selain kisah mengenai karakter tersebut, kami memperkenalkan angka dari 0 hingga 100 dalam bentuk lagu yang kami karang sendiri. Di umur ini juga anak-anak mulai tracing angka. Dan sebagai tambahan, saya memperkenalkan konsep perbandingan (kecil, lebih besar, terbesar) dan konsep logika sederhana melalui kejadian sehari-hari yang ada di rumah. Untuk kegiatan kami saat anak-anak berusia 3 tahun, silakan klik link berikut.
Buku-buku yang digunakan saat 4 tahun
Penggunaan Math CCC untuk anak umur 4 tahun
Saat anak-anak mulai umur 4 tahun, kami pun mulai menggunakan Math A. Di bagian atas buku lesson guide biasanya ada petunjuk berapa lama materi suatu materi harus diselesaikan. Misal materi addition 3+ diselesaikan dalam 5 hari dengan lembar soal sebanyak 10 lembar. Maka saya akan membagi lembar soal menjadi 5 bagian yang berarti satu hari si anak akan mengerjakan 2 lembar.

Penggunaan Math CCC untuk anak umur 5 tahun
Saat anak berusia lima tahun dan sudah menguasai Math A, maka anak dapat lanjut masuk ke Math B. Di Math B anak mulai berkenalan dengan teen atau belasan. Diawali dengan memelajari segala hal yang berhubungan dengan teen, setelah itu anak berkenalan dengan materi tambahan di dalam Math B seperti waktu, mengenal konsep pecahan sederhana, dan uang.
Penjumlahan teen 
Bagi anak yang pertama kali menggunakan CCC saat berumur lima, maka saya menyarankan untuk menggunakan Math A walaupun si anak sudah bisa menghitung sampai dengan 10. Menurut saya, pemaparan konsep di Math A untuk penjumlahan di bawah 10 sangat bagus dan terlebih lagi kita dapat memasukkan kisah karakter. Tentu saja waktu pembahasan suatu materi dapat dipersingkat dan lembar soal perharinya bisa lebih banyak.
Pola addition dan subtraction
Penggunaan Math CCC untuk anak umur 6 tahun
Saat anak berusia enam tahun, si anak dapat menyelesaikan Math B yang belum selesai. Jika si anak sudah menyelesaikan Math B, maka kita dapat memilih kurikulum lain untuk matematika.

Bagi anak yang pertama kali menggunakan CCC saat berumur enam, maka dapat langsung menggunakan Math B asalkan si anak sudah menguasai fakta 1 -1 0. Jika anak belum menguasai, saya menyarankan untuk mengulang dari awal sehingga anak mendapatkan konsep penjumlahan yang benar.

Place value mat
Salah satu sarana yang digunakan saat memelajari nilai suatu bilangan adalah place value mat. Anak diperkenalkan dengan tiga rumah, yaitu rumah satuan (ones), puluhan (tens), dan ratusan (hundreds). Kami menggunakan stick pensil untuk menjelaskan tentang rumah-rumah ini. Ada pensil satuan dengan huruf O sebagai lambang dari ones atau satuan dan pensil yang dikelompokkan per 10 dan diikat lalu ditulis T sebagai lambang dari tens atau puluhan. Kami membuat rumah untuk satuan dan puluhan. Rumah untuk satuan dibuat kecil dan hanya pas untuk 9 stick satuan. Sedangkan rumah puluhan dibuat hanya dapat menampung 9 ikat T atau puluhan. Tujuannya supaya anak-anak tahu bahwa di rumah satuan hanya dapat menampung maksimal 9. Lebih dari 9, berarti si stick ini harus pindah ke rumah yang lebih besar yaitu rumah puluhan. Tetapi untuk datang ke rumah puluhan, mereka harus dalam satu ikatan yang berisi 10 stick satuan atau 1 ten (puluhan).
Rumah untuk Tens dan Ones
Kiri stick  per 10. Kanan: stick satuan.
Daily drill
Seperti saat memelajari Phonics, dalam Math juga ada yang namanya daily drill. Daily drill berarti setiap harinya si anak harus memelajari ini dengan singkat, tidak lebih dari 15 menit. Kita cukup mengikuti instruksi yang ada, tanpa perlu membuat pengembangan sendiri.

Alat Bantu
Seperti istilah yang berkata the more the merrier, maka semakin banyak alat bantu dapat membuat anak-anak belajar dengan lebih semangat. Alat bantu yang dapat digunakan adalah cubes, stick, dan anak-anak dari suatu angka. Tujuan alat bantu ini digunakan adalah supaya anak-anak dapat memahami konsep melalui sesuatu yang terlihat langsung.
Atas: addition family. Bawah: number line
Saat anak belajar addition family dengan mengisi kamar dari rumah si angka, mereka akan tahu bahwa 2 + 0 dan 1 + 1 adalah 2. Ini akan menjadi hapalan semata jika mereka tidak tahu dari mana asalnya. Dengan alat bantu seperti cube atau stick, anak dapat mengerti bahwa jika kita punya 1 stick di tangan kanan dan 1 stick di tangan kiri maka saat digabungkan, keduanya menjadi 2.
Anak-anak Mrs. Two Deer
Selain itu dengan adanya alat bantu, anak-anak tidak mencongak atau menghitung dengan menggunakan jari. Kenapa sih tidak boleh pakai jari? Toh saat kita masih kecil juga ibu guru kita mengajar dengan menggunakan jari (bahkan sebagian anak ngotot menggunakan jari kaki juga). Sebetulnya alat bantu diberikan untuk memudahkan anak dalam membayangkan suatu persoalan. Sejalan dengan berjalannya waktu, saat si anak sudah mengerti, maka alat bantu sudah tidak perlu digunakan lagi. Namun kecenderungan beberapa anak, mereka akan nyaman dengan alat bantu dan akhirnya bergantung dengan alat bantu. Nah, karena jari mereka akan selalu ada bersama mereka, akibatnya mereka akan mencongak dengan menggunakan jari. Kalau dengan alat bantu lainnya, lambat laun anak akan belajar untuk tidak menggunakan alat bantu tersebut.
Kisah tentang loyalty
Rutin dalam pembelajaran
Pertanyaan yang sering diberikan kepada saya adalah bagaimana tentang rutin dalam penggunaan Math CCC. Sama seperti Phonics yang dimulai dengan penjelasan tentang Bible story suatu huruf, kami pun memulai dengan penjelasan cerita mengenai si angka atau karakter yang dipelajari. Setelah selesai bercerita, maka kami pun masuk ke daily drill kurang lebih 15 menit. Setelah selesai kami pun masuk ke konsep dan basic skill yang ada di buku.

Penggunaan Math CCC dalam Edisi Terbaru
Dalam CCC yang terbaru, pembelajaran matematika dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Math A: pengenalan karakter yang berhubungan dengan angka 1 – 10, konsep angka 0 – 10, pengenalan keluarga penjumlahan, pengenalan angka dalam garis bilangan (number line), urutan angka dari 1 – 10, membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil dan menghitung dari 1 hingga 100.
2. Math B: konsep bilangan 1 – 20, pengenalan angka sampai 100, menghitung angka dua demi dua, menghitung angka lima demi lima, menghitung angka sepuluh demi sepuluh, penjumlahan dan pengurangan angka dari 1 – 10, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil. Di Math B juga diperkenalkan waktu, pecahan sederhana, dan uang.
3. Math C: mencakup menulis angka hingga 999, angka tiga demi tiga, menghitung angka empat demi empat, penjumlahan dan pengurangan belasan, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, place value mat, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil.

Idealnya Math A akan digunakan saat anak berusia 4 tahun, Math B saat anak berusia 5 tahun, dan Math C saat anak berusia 6 tahun. Memang dirasa terbalik jika membandingkannya dengan kurikulum di Indonesia, karena anak saat TK A dikejar sudah dapat menghitung sampai 20, walaupun saat SD mungkin si anak baru dapat memahami waktu dan pecahan.

Kendala saat menggunakan Math CCC
Banyak yang berpikir bahwa kendala menggunakan Math CCC adalah karena dalam bahasa Inggris dan pelajaran Matematika yang kurang disenangi banyak orang. Tetapi ini bukan kendala bagi kami.

Kendala terbesar bagi kami adalah terkadang kita merasa cara yang ada rumit dan akhirnya kita merasa lebih nyaman dengan cara yang kita dapatkan saat kecil. Akibatnya si anak tidak mendapatkan materi dengan maksimal. Kata kunci dari menggunakan Math CCC adalah merelakan hati untuk memelajari materi yang ada. Saat kita dapat memahami, maka kita dapat mengerti konsep dengan baik.

Seringkali karena kita tidak mau mencoba memahami konsep yang ada, kita akan merasa konsep ini aneh dan lebih enak konsep yang kita gunakan saat kita belajar dulu. Akibatnya seluruh materi yang harus disampaikan tidak tersampaikan dengan baik. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk merelakan hati dan waktu kita demi memahami konsep yang akan diberikan.

Kendala berikutnya terkadang kita lupa bahwa setiap anak itu unik. Dan untuk keunikannya itu, kita harus dapat menjadi kreatif dalam menyampaikan konsep yang ada sesuai dengan cara si anak belajar. Saat kita sudah mencoba dan anak belum dapat memahami, kita harus mencari cara lain untuk menyampaikan pelajaran dan konsep tersebut. Misal saat belajar penjumlahan, saya membuat flashcard penjumlahan. Lalu saya minta kakak atau adik untuk mengantarkan anak-anak si angka ini untuk pulang ke rumah. Atau saat belajar menghitung two by two, saya mengajak si adik melompati dua kotak demi dua kotak. Jadi lebih menarik untuk si anak bukan.

Bagaimana jika si anak belum bisa juga? Sebetulnya dalam belajar matematika, begitu seseorang menangkap konsep, ia pasti dapat mengerjakan soal. Namun jika konsep tidak ditangkap juga, maka latihan soal akan membantu seseorang untuk mendapat konsepnya (cara ini digunakan oleh beberapa tempat les matematika yang terkenal). Jadi untuk membantu anak menangkap konsepnya, lakukan saja drilling latihan soal setiap hari sampai si anak menguasainya. Pasti akan ada keluhan dan terkadang ketakutan si anak karena belum dapat menyelesaikannya. Namun jika kita terus menyemangatinya, saat si anak berhasil mengerjakan soal, kita dapat berkata, ”Tuh kan, ternyata tidak susah kan. Kamu bisa juga kan buatnya.”
Drilling yang dapat digunakan.
Satu hal yang harus kita ingat, karena setiap anak berbeda, maka pembelajaran matematika bukanlah bertujuan untuk membuat anak ahli matematika. Untuk anak yang memang kemampuan akademisnya bagus, kita dapat menambahkan konsep-konsep baru. Tetapi untuk anak yang memang kemampuannya pas-pasan, tujuan pembelajaran adalah agar kemampuan dasar si anak terpenuhi. Kan tidak lucu si anak tidak dapat menjumlahkan angka sampai si anak besar.

Apakah memenuhi kemampuan dasar si anak tersebut visible (secara kita kan bukan guru dan anak kita belajar sama kita)? Tentu saja visible. Saat di sekolah, jika tidak mencapai nilai minimal, maka si anak akan mengikuti remedial. Namun jika anak masih belum dapat memahami juga, si anak mau tidak mau harus mengikuti flow yang ada. Pelajaran harus maju dan akibatnya si anak tidak akan dapat lanjut ke materi selanjutnya karena kemampuan dasar mereka masih kacau.

Karena homeschool, kita ada kebebasan untuk mengulang bahan yang ada. Jika kita belum merasa penjumlahan si anak mantab, maka kita dapat mengulang sampai mantab baru masuk pengurangan. Dan hal ini mungkin dibandingkan saat anak di sekolah. Memang lebih lama, tetapi fondasi si anak akan lebih kuat.

Sebagai penutup, Math CCC menitikberatkan pembelajaran sesuai dengan kebenaran firman Tuhan dan pengembangan karakter. Saat dunia menganggap bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan Firman Tuhan, Math CCC menunjukkan bahwa Tuhanlah sumber dari segala ilmu, termasuk matematika. Untuk menggunakannya, kita harus mau untuk merubah pola pikir kita dan mencoba memahami metode pembelajaran yang ditawarkan oleh Math CCC. Saat kita membuka hati dan pikiran kita, maka kita pun akan dengan mudah menjelaskannya kepada anak-anak (walau bukan berarti anak-anak akan dengan mudah menangkap apa yang kita jelaskan). Dan jadilah kreatif saat menyampaikan materi ini untuk memfasilitasi keunikan belajar anak yang berbeda-beda.


Semangat moms ;)

Selasa, 25 September 2018

Phonics CCC 101: Cara Menggunakan Phonics CCC

Masih melanjutkan kurikulum CCC, setelah membahas tentang penggunaan CCC, bahasan selanjutnya adalah mengenai cara penggunaan Phonics CCC. Pertama kali saya mendengar phonics, saya bertanya-tanya apa sih phonics? Hasil dari bertanya pada wikipedia, Phonics (dibaca foniks, bukan finiks) didefinisikan sebagai metode untuk mengajarkan membaca dan menulis bahasa Inggris dengan cara mengenali bunyinya. Cara kerja metode phonics adalah memecah kata-kata menjadi beberapa bagian kecil dan mengajarkan anak-anak bunyi dari setiap huruf atau campuran huruf tersebut.
Phonic CCC 
Dalam bahasa sederhana yang biasa saya gunakan saat ditanya orang, saya menjelaskan phonics itu adalah bunyi. Sama seperti kucing bunyinya meong, anjing bunyinya guk-guk, dan sebagainya, huruf pun mempunyai bunyi. Tentunya hal ini akan membingungkan saat diawal kita mengajar. Karena saat kita belajar bahasa Indonesia saja kita belajar b-u bu d-i di, budi. Dan saat belajar bahasa Inggris kita pastinya langsung belajar apel bahasa Inggrisnya adalah apple. Nah, saat kita mulai menggunakan kurikulum CCC, kita diminta mengenalkan bahasa melalui bunyinya.

Apa keuntungannya mengajarkan bunyi si huruf pada anak-anak? Keuntungannya adalah anak akan lebih cepat untuk merangkai huruf dan belajar membaca tanpa disadari. Setelah mereka memahami suara dari setiap huruf, mereka akan dengan cepat mengenali suara dari si huruf saat suata kata diucapkan. Dan efek timbal baliknya, anak dapat menulis berdasarkan suara yang mereka dengar. Namun hal ini akan lebih susah saat anak belajar vowel digraph dan vowel diphtong.

Kata kunci untuk menggunakan Phonic CCC adalah ikutilah instruksi yang diberikan. Kurikulum CCC cukup mempermudah proses pembelajaran dengan yang namanya drilling. Asalkan kita mengikuti setiap tahap yang diberikan, lama-lama anak-anak akan memahami dan mengerti bunyi-bunyian ajaib tersebut.

Huruf dalam bahasa Inggris sama dengan huruf dalam bahasa Indonesia, yaitu ada 26 huruf. Huruf konsonan dalam bahasa Inggris pun sama dengan dalam bahasa Indonesia. Yang unik adalah huruf vokal. Vokal atau vowel masih sama, yaitu a, e, i, o, dan u. Umumnya vokal mempunyai 2 bunyi, yaitu short vowel (yang sering digunakan seperti cat, hen, pig, dog, dan duck) dan long vowel (yang bunyinya seperti nama huruf itu sendiri). Sebelum mengajar, ada baiknya kita memahami bunyi-bunyi yang ada ini.

Dalam CCC, pembelajaran phonics dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1. Phonics Lesson for Card 1 – 31: mengenal consonant, long vowel, dan short vowel.
2. Phonics Lesson for Card 32 – 66: mengenal consonant digraph, consonant blend.
3. Phonics Lesson for Card 67 – 93: mengenal vowel digraph, vowel diphthong, dan modified vowel.
4. Phonics Lesson for Card 94 – 118: mengenal pengecualian-pengecualian dari ketentuan yang ada.

Pertanyaan yang sering diberikan kepada saya adalah mengenai workbook yang akan digunakan. Sama seperti artikel sebelumnya, berdasarkan chart yang diberikan, kita dapat mempermudah penggunaannya.
Chart penggunaan CCC 
Penggunaan Phonics CCC dari umur 3 Tahun
Saat anak-anak berumur 3 tahun, biasanya mereka hanya diajar untuk mengenal phonics card dari A sampai Z. Mereka tahu short vowel terlebih dahulu, baru mereka belajar long vowel dan konsonan. Untuk memudahkan pembelajaran, biasanya saya menggunakan lagu yang diberikan.
Pembelajaran short vowel melalui lagu Noah's Ark. 
Selain mengenal vowel dan consonants, pada umur tiga ini anak-anak mulai diperkenalkan dengan tracing huruf. Saran saya, saat anak melakukan tracing, pastikan mereka mengikuti arahan yang benar. Hal ini dapat mengurangi kesalahan saat mereka menulis huruf yang mirip seperti b dan d ataupun p dan q.

Penggunaan Phonics CCC dari umur 4 Tahun
Saat anak menginjak usia 4 tahun, kita dapat menggunakan Phonics Lesson for Card 1-31 bersamaan dengan workbook A1. Idealnya materi ini akan selesai dalam waktu 6 bulan. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook A2 selama 6 bulan. Bagaimana kalau belum selesai? Ya enaknya homeschool, kita tinggal ulang sesuai kebutuhan dan kemampuan si anak, dengan catatan kita harus konsisten.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 4 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook A1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook A2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 5 Tahun
Jika si anak baru mulai menggunakan CCC saat usianya lima tahun, maka kita harus memulai dengan materi Phonics Lesson for Card 1 – 31. Hanya saja workbook yang digunakan adalah workbook B1. Setelah anak menyelesaikan workbook B1, pelajaran dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook B2. Setelah selesai dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 67 – 93 dan workbook B3.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 5 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook B2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 6 Tahun
Jika si anak mulai menggunakan Phonics CCC saat anak berusia enam tahun dan belum mengetahui apapun tentang phonics, maka disarankan untuk mengajarkan dari awal dan dari workbook B. Secara singkat, perjalanan penggunaan Phonics CCC bagi anak yang memulai saat usia 6 tahun adalah seperti berikut:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook C1
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook C2
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Alphabetical Wall Card
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, alasan kami melakukan homeschool adalah agar anak-anak mempunyai dasar karakter dan kebenaran firman Tuhan sebelum mereka mendapatkan dasar pengetahuan. Salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan kurikulum ini adalah Alphabetical Wall Card. Wall card yang memperkenalkan huruf A hingga Z dengan menggunakan kata-kata yang ada di Alkitab ini membantu anak untuk memahami bunyi dari si huruf dan juga rima atau rhyme yang menjelaskan kebenaran firman Tuhan. Saya menempelkan Alphabetical Wall Card di dinding kamar anak-anak. Sehingga saat belajar pun anak-anak dapat langsung melihat dan saat tidak belajar pun mereka dapat membaca tentang tulisan-tulisan yang ada di atasnya.
Alphabetical wall card.

Daily Drill
Dalam pembelajaran Phonics, CCC cukup memudahkan saya sebagai pengajar awam dengan memberikan daily drill. Namanya juga daily, jadi saya mengulang setiap saat kami belajar Phonics. Berhubung ini bukan bahasa ibu saya, otomatis saya tidak begitu hapal aturan dari setiap phonics (bahkan yang bahasa ibunya Inggris pun belum tentu hapal). Dengan menggunakan daily drill dan melakukan pengulangan setiap harinya, harapannya adalah anak dapat memahami dan lama-lama mengingat dengan sendirinya aturan-aturan yang ada dalam phonics.

Selain vowel drill, ada juga yang namanya sight word atau kata-kata yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Sight words akan lebih mudah diingat anak-anak karena biasanya sederhana. 
Folder yang berisi vowel drill dan sight word. 
Rutin dalam Pembelajaran
Bagaimana dengan rutinnya? Biasanya saat belajar Phonics, saya memulai dengan renungan singkat tentang kata yang melambangkan huruf tersebut dan rhyme yang dapat mengingatkan anak akan bunyi huruf tersebut. Setelah selesai renungan singkat, maka saya akan masuk ke bagian daily drill. Daily drill idealnya tidak terlalu lama, maksimal 20 menit. Setelah itu masuk ke materi sesuai dengan petunjuk yang ada di buku.
Salah satu card mengenai aw
Penggunaan 1 Paket Phonics CCC
Pertanyaan yang sering muncul berikutnya adalah bagaimana jika saat membeli kurikulum CCC belinya sepaket (phonics lengkap dari A, B, dan C). Seperti kami yang membeli lengkap, setelah anak-anak menyelesaikan workbook A1 dan A2, maka sayang rasanya kalau buku-buku ini tidak dipakai (ogahrugi.com). Kami memberikan beberapa latihan di buku B1 dan B2 yang tidak ada di workbook A1 dan A2 (seperti tentang rhyming word). Karena sifatnya pengayaan atau tambahan, otomatis pembahasan buku B1 dan B2 tidaklah berlangsung lama. Setelah selesai materi tambahan ini, kami langsung masuk ke Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3. Setelah workbook B3 selesai, kami memberikan beberapa latihan di buku C1 dan C2 yang tidak ada di workbook sebelumnya. Setelah materi ini selesai, barulah kami masuk ke Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3. Nilai tambahnya adalah anak-anak seakan diingatkan kembali dengan materi sebelumnya. Dan mamanya merasa bahagia karena tidak sia-sia membeli sepaket (ups).
Workbook dan kunci jawabannya. 
Phonics Dril Reading
Buku lain yang biasanya juga ada saat membeli Phonics CCC adalah buku Phonics Drill Reading. Sejujurnya saat kakak belajar phonics, saya sempat berpikir buku ini akan dibahas nanti saat umur lima. Oleh sebab itu, penggunaan buku ini telat saat kakak belajar Phonics. Dan saat adik belajar pun, penggunaan buku ini baru digunakan saat adik berusia hampir 6. Namun ternyata memang buku ini dibuat secara khusus untuk anak yang memasuki usia SD. Tujuannya supaya kita dapat mengukur seberapa mampu si anak membaca kata-kata dalam bahasa Inggris. Dan bukan hanya itu, buku ini cukup membantu membetulkan pelafalan anak-anak dan saya juga saat menyebutkan suatu kata dalam bahasa Inggris.
Kata-kata dengan short sound e.
Kendala Saat Menggunakan Phonics CCC
Banyak yang berpikir kendala terbesarnya adalah ketidakmampuan kita berbahasa Inggris. Namun menurut saya ini bukan yang utama. Bagi saya yang mungkin lebih jago bahasa Jawa daripada bahasa Inggris, walaupun bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita, namun saat kita ada kemauan untuk belajar, pastilah bisa. Anggap saja belajar bersama dengan anak.

Menurut saya kendala paling besar adalah konsistensi kita sebagai pengajar. Sebagai homeschooler, anak kita akan dilihat seluruh dunia (lebay.com). Kalau mereka belum bisa baca, pasti akan ada kata-kata 'oh gak bisa baca...anak homeschool sih'. Kita pasti jadi kepengen mereka cepat baca. Nah biasanya, hal ini membuat kita ingin yang instan dengan cara mengajarkan membaca bahasa Indonesia. 

Ini tidak salah, saya pun juga ingin anak saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan menulis dengan baik. Dan saya cinta sekali dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena kurikulum yang kita ambil adalah kurikulum bahasa Inggris, maka akan lebih baik kalau dia lancar dulu dalam hal membaca dan menulis bahasa Inggris. Lain halnya jika kurikulum yang diambil bukan kurikulum luar, maka pastilah saya akan menyarankan untuk memfokuskan proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Anak-anak akan lebih cepat mempelajari bahasa Indonesia yang sederhana (tidak termasuk imbuhan) dibanding bahasa Inggris karena satu huruf dalam bahasa Inggris banyak bunyinya. Jadi saat sepertinya si anak lama menangkap, kita sebagai pengajar haruslah konsisten dan pantang menyerah. Yang sering saya lihat adalah seringkali orang tua ingin anaknya cepat bisa baca dan akhirnya mengajarkan membaca dan menulis bahasa Indonesia dulu. Saat anaknya bisa menulis dan membaca bahasa Indonesia, anaknya mulai ogah-ogahan belajar Bahasa Inggris dan akhirnya proses pembelajaran Phonics menjadi kegiatan yang membuat kita mau meledak.

Bagaimana dengan pengucapan kita yang lucu? Tidak apa-apa, selama kita mendengarkan CD Phonics dengan baik, dan mencoba untuk membetulkan, lama-lama pasti berkurang kok lucunya. Dan nanti anak-anak dapat membetulkan kalau kita salah kok :)

Satu hal yang menjadi pengingat saya saat mengajar Phonics kepada anak-anak adalah setiap anak istimewa. Cara pembelajaran antara satu anak dengan yang lain tentunya berbeda. Cara penyerapan setiap anak pun berbeda. Pendekatan yang dipakai pun dapat bermacam-macam. Dan mengutip salah satu bagian yang ada di buku pelajaran mereka, pendidikan Kristen seharusnya tidak mengabaikan setiap anak. Kita harus mencari cara untuk mengembangkan pendidikan Kristen ke suatu titik dimana semua anak-anak Tuhan dapat dituntun kepada kedewasaan Kristen di dalam lingkungan akademis yang sesuai dengan kebutuhan pribadi mereka, untuk mempersiapkan mereka menuju tingkatan selanjutnya dalam memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya.

Selasa, 24 Juli 2018

CCC 101: Cara Penggunaan Christ-Centered Curriculum (CCC)


Masih membahas kurikulum yang kami gunakan, yaitu CCC. Saat saya pertama kali membuat artikel tentang CCC, banyak orang yang menghubungi saya tentang kurikulum ini. Tidak menyangka juga bahwa artikel tentang CCC ini membuat saya berkenalan dengan banyak orang yang penasaran tentang kurikulum satu ini. 

Karena terlalu banyak yang bingung dengan bagaimana menggunakan kurikulum ini, maka artikel ini pun akhirnya muncul. Setelah hampir setengah tahun, akhirnya selesai juga artikel ini. Maklum, untuk menyediakan waktu membuat artikel rasanya lumayan susah. Banyaknya pekerjaan rumah dan teman-temannya membuat acara membuat artikel tentang penggunaan CCC menjadi cicil-mencicil. Akhirnya cicil-mencicil ini selesai juga.

Seperti di artikel sebelumnya, kami memilih CCC karena CCC merupakan kurikulum yang berpusatkan kepada Tuhan (God-centered), bukan kepada anak (child-centered). Pastinya CCC memiliki kekurangan di berbagai hal, misal packaging yang monoton, warna textbook yang hitam putih, dan hal-hal lainnya yang terkadang membuat orang malas menggunakan kurikulum ini. Tetapi bagi kami hal-hal yang esensi sudah terangkum saat menggunakan kurikulum ini.

Secara cakupan pelajaran, Christ-Centered Curriculum ini mencakup pelajaran hingga SD kelas satu atau dua di Negara asalnya. Memang saat saya mencari kurikulum untuk SD, materi SD kelas 1 di beberapa buku luar berada dibawah materi CCC ini. Jadi CCC dapat digunakan hingga SD kelas 2.

1. CARA PENYIMPANAN
Dalam satu paket CCC terdapat banyak sekali buku. Di paket yang kami miliki, kami mendapatkan Phonics A, Phonics B, Phonics C, Math A, Math B, dan alat-alat bantu yang disediakan dari pihak CCC. Melihat buku yang banyak tersebut, saya langsung berpikir bagaimana caranya merapihkan buku-buku tersebut sehingga tidak membuat saya kewalahan. Kan tidak mungkin semua buku tersebut di dalam kardus. Dan bersyukurnya pihak CCC menyertakan cara bagaimana mengorganisir buku-buku tersebut.

Secara garis besar, mereka menyarankan pengguna untuk menyediakan dua Jumbo Box Office dan heavy duty hanging-file folder sebanyak 25 buah. Lalu panduan mereka adalah agar kita memisahkan bahan untuk pengajar dengan bahan untuk murid.
Jumbo Box Office. Sumber foto: amazon.com
Hanging file folder. Sumber foto: Amazon.com 
Bahan untuk pengajar pun dipisahkan lagi menjadi 8 folder, dengan 5 folder untuk Phonics (dari Alphabetical Wall Card, Phonics Lesson 1 hingga 4 plus Phonics Flashcards dan bacaan yang berhubungan) dan 3 folder untuk Math (Math Flashcards, Math Lesson Guide A dan B beserta alat bantu yang berhubungan dengan pelajarannya).

Sedangkan bahan untuk murid dipisahkan menjadi 10 folder. Setiap folder berisi 8 folder untuk Phonics (setiap buku soal dan buku jawabannya) dan 2 folder untuk Math (Math A dan Math B)

2. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 3 TAHUN
Jika anak bersekolah di sekolah umum, biasanya umur tiga tahun mereka memasuki kelas taman bermain alias playgroup. Banyak mama-mama yang bingung bagaimana caranya menyusun kegiatan dari pagi sampai siang seperti di sekolah. Berbeda dengan fokus tujuan di sekolah untuk membuat anak bisa ini dan itu, tujuan kami saat anak-anak tiga tahun lebih untuk membuat anak tersebut mempunyai dasar iman, karakter, manner, dan pengetahuan dasar. Di CCC memang tidak ditulis dengan signifikan harus seperti ini harus seperti itu. Namun mereka menyarankan untuk memulai dengan cerita karakter mengenai Generosity, Flexibility, Loyalty, dan Orderliness. Selain itu ada banyak aktivitas yang dapat dikerjakan bersama anak dan memberikan ilustrasi tentang aplikasi secara rohani.
Cerita karakter yang dapat digunakan oleh anak-anak umur 3 tahun.
Untuk Phonics, kita dapat mengenalkan bunyi setiap huruf dengan menggunakan Phonics Flashcards 1 – 31. Sedangkan untuk Math, kita dapat mengenalkan konsep berhitung sederhana dengan aplikasi sehari-hari. Misalkan menghitung ada berapa banyak pensil warna yang mereka miliki, menghitung jumlah anak tangga, dan sebagainya. Di usia ini, jika anak telah siap, dapat juga diperkenalkan tracing dari buku Alphabeth and Numbers Tracins Masters.

3. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 4 TAHUN
Saat anak-anak memasuki usia 4 tahun, kita sudah dapat menggunakan kurikulum CCC secara menyeluruh. Perlu diingat bahwa namanya anak, hari ini ingat dan besok lupa adalah hal yang wajar. Dengan demikian, sebagai orang tua, kita harus sabar mengulangnya. Pembentukan karakter untuk kita dulu, bukan?

Untuk Phonics, mereka sudah dapat menggunakan buku Phonics Lesson mulai dari Phonis Lesson 1 (for cards 1 – 31) dengan workbook A1. Jika dihitung, materi ini akan selesai kurang dari setengah tahun ajaran. Maka jika sudah selesai, dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson 2 (for cards 31 – 66) dengan workbook A2.

Untuk Math, kita dapat memulai dengan menggunakan Math A.

4. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 5 TAHUN
Jika anak sudah selesai dengan Phonics Lesson 1 dan 2, maka kita dapat melanjutkan dengan masuk ke Phonics Lesson 3 (for cards 67 – 93) dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math A, maka dapat dilanjutkan dengan Math B.

Timbul pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya: ”Bagaimana jika saya baru mulai melakukan homeschool dengan kurikulum CCC saat anak berusia 5 tahun?” Jika memang demikian, maka akan lebih baik dimulai dari Phonics Lesson 1. Walaupun diulang dari Phonics Lesson 1, workbook yang dipakai adalah B1. Setelah itu lanjut ke Phonic Lesson 2 dengan workbook B2. Baru setelah itu masuk ke Phonics Lesson 3 dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, disarankan memulai dengan menggunakan Math A, karena banyak konsep dasar yang ada di Math A.
Petunjuk penggunaan buku Phonics dan Math. 
5. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 6 TAHUN
Memasuki usia 6 tahun, jika anak-anak dirasa sudah menguasai pelajaran sebelumnya, maka anak-anak dapat lanjut ke Phonics Lesson 4 (for cards 94 – 118) dengan workbook C3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math B, maka kita dapat menggunakan buku Math SD kelas 1. Jika belum, maka dapat mengulang buku Math B kembali.
Pegangan buku dan flashcard untuk guru 
Bagaimana jika CCC ini pertama kali digunakan saat anak berusia 6 tahun? Pihak CCC merekomendasikan penggunaan Phonics Lesson dimulai dari Phonics Lesson 2 dengan workbook C1, dilanjutkan ke Phonics Lesson 3 dengan workbook C2, dan Phonics Lesson 4 dengan workbook C3. Andaikan si anak memang betul-betul belum tahu apa-apa, saya sih menyarankan dimulai dari Phonics Lesson 1 dengan menggunakan workbook B1, baru dilanjutkan dengan rekomendasi CCC. Alasannya supaya dasar Phonics anak lebih mantap.
Buku workbook. 
Bagaimana dengan kami? Untuk penyimpanan, berhubung membeli dua Jumbo Box Office berarti semakin banyak barang di rusun kami yang mungil sekali, maka kami memanfaatkan lemari yang ada. Kami menyusun mengikuti petunjuk yang ada, lalu antar bagian diberikan sekat kertas buffalo. Intinya, memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah.

Pertama kali saya menerima paket CCC ini, saya cukup penasaran dengan buku-buku yang ada. Diakhir rasa penasaran, muncullah rasa was-was apakah saya sanggup menggunakan kurikulum ini dengan benar. Wong bahasanya Inggris semua (ya iyalah, masak ada bahasa Jawa di situ). Namun saya dan suami berpikir jika kami sudah memilih untuk menggunakan CCC, ya berarti kami harus merelakan hati untuk mempelajari cara penggunaannya.

Dan namanya setiap anak berbeda, maka penerimaan terhadap materi pelajaran pun berbeda. Kakak dapat menyelesaikan semua pelajaran saat berusia 5 tahun lebih. Sedangkan dengan si adik, penggunaan CCC sesuai dengan urutan yang diberikan. Jadi jangan kuatir kalau ’langkah’ si anak agak lambat, yang penting konsep dari pelajaran tersebut didapat.

PS: Untuk pembahasan mengenai Phonics dan Math akan dibahas di artikel berikutnya ya.

See also:
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 1
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 2
Homeschooling untuk anak 3 tahun
8 hal yang harus dilakukan saat memulai homeschooling
Math untuk preschool
Tips memilih kurikulum









Kamis, 18 Agustus 2016

Perlukah Anak-anak Belajar Cursive atau Huruf Tegak Bersambung?

Dimulai dari kakak yang Februari kemarin menggunakan materi CCC dan menggunakan workbook Phonics C3 yang ada latihan cursive atau menulis halus. Buntutnya tulisan biasa kakak yang termasuk rapi untuk anak seumurnya mulai agak miring-miring kalau habis latihan cursive. Menulis halus di CCC ternyata berbeda dengan menulis halus yang selama ini kita pelajari loh. Kalau kita kan mengenalnya huruf tegak bersambung, sedangkan cursive ini lebih berseni. Karena lebih berseni, untuk membacanya juga membutuhkan daya imajinasi yang tinggi. Si papa sampai heran saat melihat contoh cursive yang dibuat kakak dan yang ada di buku Fun Thinker. Sampai-sampai si papa berpikir apa diajari yang gampang saja ya. Hal ini membuat saya jadi berpikir, kalau kita saja sekarang tidak pernah menulis bersambung, kenapa waktu kecil kita harus belajar ya. Bahkan guru-guru kita dulu tidak menjelaskan kenapa sih kita perlu belajar ini (salah kaprah di bidang pendidikan yang terkadang tidak dapat menjelaskan alasan kenapa kita belajar ini dan itu).
Cursive yang dipelajari kakak. Sumber foto: rainbowresource.com
Saya ingat, waktu saya SD tulisan halus saya awalnya jauh dari bagus (saya termasuk anak malas dulu, jadi malas latihan menulis halus). Karena ada teman sebangku yang nulisnya bagus, jadinya terinspirasi untuk menulis yang bagus sampai akhirnya tulisan halus saya selalu mendapat nilai 100. Tetapi sekarang kan tidak pernah dipakai. Apa gunanya kalau begitu. Tetapi di satu sisi, saya yakin tidak mungkin dimasukkan ke dalam pelajaran jika tidak ada gunanya, apalagi orang luar kan modelnya tidak sembarangan memasukkan materi tanpa ada alasan. Akhirnya googling sana, googling sini, ternyata bukan hanya saya yang bingung kenapa anak-anak zaman sekarang harus belajar cursive. Bahkan di beberapa state di Amerika, cursive bukan hal yang harus dipelajari. Menarik juga jadinya. Namun saya mendapatkan beberapa alasan mengapa cursive atau tulisan bersambung ini penting untuk dipelajari.
Huruf Tegak bersambung. Sumber foto: slideshare.net
1. Signature atau tanda tangan membutuhkan tulisan sambung atau cursive.
Saat saya SD dan belajar tanda tangan, disarankan membuat tanda tangan itu harus jelas namanya bukan cuma asal coret-coret saja. Contohnya tanda tangan Bapak Soekarno dan Bapak Moh. Hatta di teks proklamasi. Jelas kan nama beliau. Itulah sebabnya tanda tangan kebanyakan dari cursive. Berdasarkan prinsip ini, maka waktu pelajaran membuat tanda tangan, nilai saya bagus (hanya karena ada cursive-nya). Intinya adalah cursive digunakan dalam membuat tanda tangan.

2. Hampir semua dokumen sejarah ditulis dalam tulisan sambung.
Karena orang-orang zaman dulu terbiasa menulis sambung, maka banyak dokumen zaman dulu yang ditulis dengan tulis sambung. Contohnya teks proklamasi bangsa kita. Kalau anak-anak bisa membacanya kan akan jauh lebih baik. Buat saya yang penggemar sejarah, tentu saja penting bagi anak-anak untuk mengetahui sejarah bangsanya dan juga sejarah bangsa lain. Kenapa? Karena saat kita dapat mengenal sejarah, kita akan lebih menghargai apa yang kita miliki sekarang dan berusaha untuk tidak jatuh ke dalam lubang yang sama (puitis kan). Selain itu, saat membawa anak-anak ke museum pun jadi menyenangkan karena anak-anak tahu apa yang ditulis di dokumen-dokumen bersejarah tersebut.

3.Cursive baik untuk melatih otak kita.
Suatu riset mengatakan bahwa menulis dengan huruf cetak dan menulis dengan mengaktivasi otak kita di bagian-bagian yang berbeda. Menulis cursive itu melatih kemampuan motorik halus anak-anak. Menulis dengan tulisan tangan secara umum membantu anak-anak menyimpan informasi lebih banyak dan membangkitkan ide-ide yang ada dalam anak tersebut. Bahkan hasil riset juga menunjukkan bahwa dibandingkan anak-anak yang tidak belajar menulis halus, anak-anak yang belajar menulis sambung mempunyai nilai lebih baik dalam test membaca dan mengeja. Mungkin hal ini terjadi karena menulis cursive memaksa penulis untuk berpikir bahwa kata-kata adalah satu bagian, bukan cuma bagian huruf tertentu.

4. Cursive dapat digunakan untuk terapi.
Beberapa orang yang terkena cedera otak kehilangan kemampuan mereka untuk menulis dan memahami tulisan, tetapi kemampuan mereka untuk memahami cursive tetap ada. Saya teringat (almh) tantenya suami ada yang terkena stroke. Dia lupa semuanya, saudaranya, dan kejadian apapun. Ngomong pun agak susah. Terapi yang dilakukan adalah menulis halus. Perlahan dia jadi ingat saudaranya, beberapa kejadian, dan ngomong jadi lebih jelas.

5. Cursive membantu anak-anak yang terkena learning disabilities.
Tidak banyak yang tahu bahwa ada anak-anak tertentu yang susah untuk membaca, bukan karena dia bodoh tetapi karena anak-anak tersebut mengalami ketidakmampuan belajar yang disebut diseleksia. Diseleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca tulis pada anak-anak. Anak-anak yang mengalami diseleksia seakan melihat huruf berputar dan berbentuk lain. Akibatnya anak-anak ini mengalami keterlambatan pada baca tulis. Dengan cursive, anak-anak ini menjadi lebih mudah dalam membentuk kata karena semua huruf dalam cursive dimulai pada garis dasar, dan pensil bergerak dengan halus dari kiri ke kanan.

6. Tulisan cursive lebih artistik dan menarik untuk dilihat.
Jika seseorang dapat menulis cursive dengan rapi, maka pastilah hal itu menarik untuk dilihat daripada tulisan biasa saja. Ada nilai seni dalam tulisan tersebut. Saya pribadi waktu kecil jadi tertarik untuk menulis halus atau tegak bersambung karena melihat tulisan teman saya yang indah.

Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka saya mengambil kesimpulan tidak ada salahnya anak-anak belajar menulis halus terlebih dahulu baru belajar menulis tegak bersambung. Lebih berseni memang. Walaupun ada anggapan toh nanti kerja tidak dipakai. Tetapi saya adalah penganut paham tidak ada ruginya mempelajari sesuatu. Mungkin tidak terlihat langsung saat dipakai, tapi suatu saat pasti berguna. Dan berhubung si kakak lagi hobi menulis segala sesuatu dalam cursive, maka mamanya juga harus mempelajari huruf-huruf cantik yang berbeda lagi.

Kamis, 12 Mei 2016

Apa sih CCC (Christ Centered Curriculum)?


Banyak yang bertanya kepada saya, kalau mau homeschooling saat TK baiknya pakai kurikulum apa ya. Saya selalu jawab tergantung budget dan preference masing-masing keluarga. Tetapi saya memilih Christ Center Curriculum atau CCC. Saya sudah jatuh cinta dengan CCC saat saya masih kuliah, saat melihat teman yang menggunakan bahan tersebut. Sehingga saat ditawari untuk membeli bahan CCC oleh teman yang saat itu baru mau homeschooling, ada yang mau bawain dari Singapore, maka saya pun mengiyakannya. Dengan pertimbangan, andaikan anak-anak tidak homeschooling, bahan tersebut dapat dipakai sebagai tambahan bahan yang mempunya pola pandang biblikal. 

Apakah CCC itu? 
CCC merupakan kurikulum dari Amerika, yang lebih mengedepankan pembelajaran materi berdasarkan Alkitab. Jadi semua pembahasan dilandasi dengan firman Tuhan. CCC awalnya dikenal sebagai program untuk early childhood dan digunakan pada tahun 1970-an di Rocky Bayou Christian School (RBCS).

Pada akhir tahun 1980-an Doreen Claggett, sebagai pendiri CCC, tergerak dengan kerinduan untuk membantu keluarga homeschool memberikan pendidikan kepada anak-anaknya di dalam kebenaran Tuhan, secara spiritual, moral, dan akademis.  
Hal-hal mendasar yang saya sukai dari CCC adalah:
1. Never too Early (tidak pernah terlalu cepat) untuk mengestafetkan iman kepada anak-anak. Bagaimana caranya? Ya melalui hidup orang tuanya. Anak-anak adalah pembaca ulung bahkan sebelum mereka dapat membaca. Nah, tentu saja mereka membaca kehidupan orang tuanya, karena setiap kita adalah suratan berjalan. Itulah sebabnya parenting merupakan hal yang berharga tetapi juga hak istimewa yang sangat serius.
2.Pendidikan kristen seharusnya merupakan proses pekerjaan Tuhan melalui guru-guru yang berkomitmen untuk menggunakan metode biblikal dan materi kurikulum yang benar untuk membawa setiap murid yang mempunyai biblical world view dan memiliki karakter ilahi dan kemampuan akademis yang cukup untuk memenuhi panggilan Tuhan dan hidup untuk kemuliaanNya. 
3. Bukan pengetahuan yang harus dikuasai dahulu, tetapi urutannya adalah iman, kebajikan, pengetahuan. Untuk anak-anak sajakah? Tentu tidak, pertama untuk mamanya, lalu untuk anak. Sehingga saat mengajar anak-anak, bukan saja anak-anak yang diperlengkapi, tetapi mamanya juga diingatkan dan dikuatkan kembali. Indah bukan?
Iman, kebajikan, pengetahuan
Umur berapa sajakah yang dapat menggunakan CCC? 
Di bahan yang diberikan ditulis dapat digunakan dari umur 3 tahun. Tetapi bukan berarti saat 3 tahun anaknya suruh belajar yang berat. Saya menggunakan kisah karakter dari CCC saat anak-anak 3 tahun. Saat kakak berumur 4 tahun, dan adik yang sebentar lagi 4 tahun, saya baru mulai menggunakan semua materi CCC yang ada sesuai dengan umurnya ditambah kreativitas yang saya cari sendiri.

Kalau menggunakan CCC-nya tidak dari awal, andaikan anak saya mulai homeschool saat dia umur 5 tahun, bisa atau tidak ya? 
Bisa saja. Enaknya pakai CCC, worksheet disesuaikan dengan umur si anak. Phonics 1 misalnya. Bagi anak yang umur 4 tahun, worksheet yang dikerjakan dimulai dari worksheet A1. Sedangkan bagi anak yang mulai di usia 5 tahun, dengan pelajaran yang sama, si anak mengerjakan worksheet B1. Materi sama, tetapi waktu tatap muka untuk menyelesaikan materi bagi si anak umur 5 tahun lebih pendek daripada si anak umur 4 tahun.

Terdiri dari apakah CCC itu? 
Buku-buku CCC terdiri dari Math dan Phonics, tetapi di dalam Math dimasukkan pelajaran mengenai karakter.

Character
Mau tidak mau, kita harus mengakui keadaan sekarang makin edan. Banyak kejadian mengerikan terjadi di lingkungan pendidikan, dan dilakukan oleh orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan. Dan saat ini anak-anak seakan dididik tetapi bukan dididik untuk mengenal Tuhan. Oleh sebab itu, tantangan yang akan dihadapi oleh anak-anak baik sekarang maupun di masa yang akan datang adalah sesuatu yang nyata. Mereka memerlukan biblical world view, karakter ilahi, dan pengetahuan untuk memenuhi panggilan Tuhan dalam hidup mereka. 
CCC memasukkan pelajaran karakter dalam pelajaran Math. Ada 10 cerita karakter (yang diadaptasi dari cerita Character Sketches karya Bill Gothard) dalam pelajaran Math dan juga tips untuk orang yang membantu orang tua mendorong anak-anak untuk mengaplikasikannya.  Jadi mendarat untuk anak-anak. Jika dijelaskan secara panjang, wah rasanya tidak cukup. Tetapi mungkin dapat saya ringkas sebagai berikut. Dalam menggunakan CCC, dan dengan anugerahNya, keluarga homeschool haruslah menunjukkan orderliness dengan melakukan segala sesuatu dengan sopan dan teratur. Akan sangat baik jika anak-anak belajar dalam suatu keadaan yang teratur (in order) yang dipenuhi dengan sukacita (joyfulness). Kemudian anak-anak belajar untuk taat, dan menunjukkan loyalty dengan mengikuti setiap instruksi seperti yang disampaikan oleh orang-orang yang mempunyai otoritas atasnya. Tujuannya adalah jika mereka tidak dapat taat kepada orang yang dapat dilihat, bagaimana mereka dapat taat kepada Tuhan yang tidak dapat mereka lihat secara langsung. Dan masih banyak karakter-karakter lain yang dipelajari oleh saya sebagai orang tuanya (dengan tips untuk orang tua) dan anak-anak, seperti generosity (berbagi dan berkorban), flexibility (mampu membedakan dan beradaptasi), courage (berani), decisiveness (Melakukan sesuai dengan caranya Tuhan), responsibility (setia terhadap perkara kecil), endurance (dapat bertahan), dan determination (menuju pada tujuan).

Cerita Karakter yang ada
Dan jujur saya merasa bahwa homeschooling lebih seperti pelatihan untuk orang tua daripada pelatihan untuk anak-anak. Sebagai orang tua, kita akan mempelajari dan anak-anak akan mempelajari melalui aktivitas kita sehari-hari.

Math
Math dalam CCC berbeda dengan pelajaran matematika biasa. Dalam CCC, setiap hal dilandasi dengan dasar firman yang kuat. Sehingga anak-anak mengerti bahwa firman Tuhan juga merupakan dasar dari ilmu pengetahuan (itu yang saya tangkap ya). Math dalam CCC dibagi dalam 2 bagian, yaitu Math Workbook A (konsep mengenai angka dan penjumlahan pengurangan sederhana) dan Math Workbook B (penjumlahan-pengurangan sampai 20, place value (nilai angka satuan, puluhan, ratusan), uang, waktu, dan pecahan sederhana). Yang saya suka adalah dengan CCC saya bisa mengajarkan matematika dalam bentuk cerita. Misal tentang angka 2. Anak-anak belajar bahwa di rumah Mrs.Deer (angka 2) ada 2 kamar untuk anaknya 2 + 0, dan 1 + 1. Jadi belajar matematika pun menjadi menyenangkan, apalagi ada Flashcard yang colorful.

Anak-anak dari Mrs. Two Deer

Dimulai dengan hand-on-activity lalu diikuti dengan mengerjakan soal dari workbook. Sehingga bagi anak-anak kecil, materi tidak terlalu berbau akademis tetapi lebih berorientasikan kepada aktivitas. Kemudian untuk mengajarkan suatu konsep, lebih sering menggunakan snap cube (base ten blocks), value stickvalue pocket chartnumber line, dan number line neighboorhood. Jadi bervariasi dan anak tidak terpacu untuk menghitung dengan jarinya. Belum lagi sistem pengulangan tentang suatu konsep (yang disajikan dalam cara bermacam-macam). Materi yang diberikan juga mencakup materi grade 1. 
Atas: addition family house, Bawah: Number line neighboorhood
Atas: Number Chart, Bawah: Place Value Mat
Phonics 
Phonics merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini saya belajar bahasa Inggris langsung ke katanya. Misal satu itu one, dua two, apel apple, dan sebagainya. Ternyata saat mendapatkan buku Phonics CCC saya terkaget-kaget. Sama seperti kucing bunyinya meong, anjing bunyinya guk-guk, huruf dalam bahasa Inggris pun punya bunyinya. Satu huruf bisa punya satu, dua, atau tiga bunyi (tidak kalah kan dengan nyanyi ada empat suara). 
Dengan CCC, pengenalan phonics dikolaborasikan dengan Firman Tuhan, cerita Alkitab, dan pengembangan karakter Kristen. CCC Phonics dapat mulai digunakan saat anak berumur 4 tahun. Bagi kita sebagai orang tua, disediakan juga lesson guide. Oya, ada Phonics Lesson Flashcard dan A to Z wall card juga loh. Wall card ini, yang saya lihat saat kuliah, yang membuat saya jatuh cinta pada CCC. Yang ini membantu kita sebagai orang tua saat mengajarkan phonics. 
Phonics Wall Card

Ada tiga level dalam CCC Phonics dan penggunaannya dapat disesuaikan dengan umur anak yang menggunakannya. Level A biasa digunakan oleh anak berusia 4 tahun dan lima tahun awal. Biasanya jika si anak pertama kali menggunakan CCC saat ia berusia 5 tahun (dan belum punya dasar phonics apapun), ia dapat menggunakan level B1 tanpa menggunakan level A sama sekali. Sedangkan jika si anak telah menyelesaikan level A, anak tersebut dapat langsung menggunakan level B2. Bagi anak yang telah menyelesaikan level B2 dapat  lanjut menggunakan level C. Materi pada level C ini setara materi untuk kelas 1 SD. Secara keseluruhan, dalam CCC Phonics anak-anak akan belajar aturan pengucapan dalam bahasa Inggris, grammar sederhana, pengembangan vocabulary, kemampuan mengenai kamus, dan latihan menulis. Cukup seru, karena bukan hanya anak yang belajar, tetapi juga kita mamanya yang belajar.
Bahan Phonics CCC, workbook A1 untuk anak 4th, workbook B1 untuk anak 5th
Apakah materi CCC ada juga untuk SD?
Seperti dijelaskan di atas, CCC merupakan pendidikan untuk early childhood. Yang berarti materi CCC hanya untuk anak TK dan kelas 1 SD. Jadi untuk SD nanti, kita berburu kurikulum lagi. Hehehe

Kalau di Indonesia, bagaimanakah mendapatkan CCC?
Menurut teman-teman homeschooling yang membeli bahan CCC di Indonesia, mereka membeli dari Vickery Christian Academy. VCA merupakan lembaga resmi yang ditunjuk oleh CCC untuk menggandakan bahan-bahan CCC di Indonesia dan kadang mereka mengadakan pelatihan bagi keluarga-keluarga yang menggunakan CCC. Keterangan lebih lanjut dapat dibuka di sini.

Kalau saya tidak jago bahasa Inggris, apakah saya dapat menggunakan CCC? 
Menurut saya: bisa banget, asal kita mau belajar juga. Anggap saja kita sama-sama baru belajar dengan anak-anak. Hanya saja kita belajar sehari lebih awal dari mereka. Seringkali kan salah kaprahnya adalah kita merasa bahasa Inggris kita pas-pasan, sehingga kita menyampaikan dengan bahasa Indonesia. Dengan pertimbangan nanti mereka bisa sendiri, yang penting nilai moralnya didapatkan. Tetapi yang saya amati proses pembelajaran menjadi lebih sulit bagi pengajar dan anak. Dan jangan meng-underestimate anak-anak loh. Mereka ternyata lebih cepat memahami bahasa Inggris dibanding kita (bahkan kadang si kakak yang membetulkan pronounciation saya). 
Sedikit pengalaman dari saya, saat anak-anak berumur 3 tahun, saya menceritakan kisah-kisah karakter dalam bahasa Inggris yang sederhana. Tetapi saat mereka berumur 4 tahun, saya membacakan sesuai dengan apa yang ditulis di situ. Karena mereka sudah pernah mendengar kisah tersebut sebelumnya, mereka jadi mengerti saat saya sampaikan kisah dalam bahasa yang lebih resmi.
Ada beberapa yang membuat proses belajar menjadi lebih susah (menurut Doreen Clagget pendiri CCC), antara lain:
1. ketidakkonsistenan selama proses mengajar, 
2. pelajaran tidak diajarkan seperti seharusnya, 
3. menganggap suatu bagian tidak penting sehingga mencoba memilih sendiri bagian yang lain, yang akibatnya malah membuat kita melewatkan bagian yang penting,
4. memilih level yang terlalu tinggi, atau bahkan terlalu rendah, dari yang seharusnya,
5. si pengajar sedang mengalami tekanan dalam keluarga, yang mungkin dirasa oleh anak, 
6.mungkin memang si anak memerlukan waktu lebih untuk memahaminya (kalau kata dosen saya dulu nanti ada waktunya kamu mengerti materi ini, sekarang pakai saja dulu rumusnya, dan ternyata betul di semester berikutnya saya jadi lebih mengerti)

Kalau ditanya susah atau tidak saat menggunakan CCC pasti jawabannya relatif. Tetapi satu hal yang harus diingat sebelum mengajar, berdoalah agar anak-anak diberikan kemampuan untuk memahami setiap hal yang disampaikan dan koreksilah hal yang harus dikoreksi. Jangan berpikir kan masih kecil, nanti juga mengerti sendiri. Hal-hal yang dasar tetap harus diperjelas dari awal. Dan kita sebagai pengajar, jadilah pengajar yang meng-encourage anak-anak dengan mengestafetkan perasaan sukacita kita saat proses pembelajaran. Memang praktek lebih susah daripada ngomong, saya pun terkadang mau gigit Duo Lynns kalau lagi berulah saat belajar, tetapi tetap harus semangat. Saya berusaha memandang kepada goal yang ingin saya capai saat saya dan suami memilih homeschool dan CCC: iman dan karakter yang melandasi pengetahuan. Sehingga saat rintangan menghadang, saya dikuatkan kembali untuk melalui setiap rintangan (bahasanya kok jadi puitis begini ya)