Tampilkan postingan dengan label tips homeschool. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips homeschool. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juli 2021

Homeschool Blues?


Homeschool blues? Siapanya baby blues sih itu? Untuk mama-mama yang punya bayi, pasti sudah tidak asing lagi dengan yang namanya baby blues. Baby blues merupakan kondisi suasana hati yang dialami oleh ibu-ibu yang baru saja melahirkan. Nah, homeschool blues agak mirip-mirip. Bedanya homeschool blues tidak berhubungan dengan bayi.

Saat kita menikah dan mempunyai anak, menjadi orang tua merupakan suatu privilege. Tetapi berbicara tentang parenting, dapat mendidik anak kita sendiri merupakan berkat dan panggilan khusus bagi kita. Tidak semua orang mempunyai panggilan untuk melakukan homeschool. Challenging? So pasti, karena seperti minimarket yang buka 24/7, kita juga bertemu anak 24/7.Tentu mengajar anak yang berpadu dengan ulah anak pun akan menjadi tantangan tersendiri. Apalagi untuk mamak-mamak yang tidak ada helper 

Homeschool blues merupakan masa-masa dimana kita merasa galau dan terkadang rasanya tidak waras lagi. Penyebab galau itu bisa banyak hal. Kadang sebagai mama kita merasa kurang menjadi mama yang baik. Atau bisa juga kita tidak merasa mumpuni untuk mendidik anak-anak kita. Kita merasa kurang kreatif. Akibatnya kita memiliki guilty feeling atau perasaan bersalah kepada anak-anak. 

Saat homeschool tidak berjalan seperti yang kita inginkan pun dapat  menyebabkan kita merasa tidak waras. Keadaan rumah yang tidak kondusif, saat anak-anak gelut ataupun adu mulut juga dapat membuat kita merasa tidak waras. Lagi perang dingin dengan kepala sekolah di rumah (baca: pak suami) juga bisa membuat kita tidak waras. Intinya ada banyak hal yang dapat membuat kita galau dan tidak waras dalam menjalankan homeschool.

Lalu bagaimana untuk mengatasinya? Kan tidak mungkin kita galau terus. Bagaimana kita dapat mengajar dengan baik jika kita terus menerus galau? Bagaimana kita dapat mendidik dengan baik jika kita sendiri tidak waras?

Apakah saya pernah merasa tidak waras dan merasa blue? Tentu saja pernah, namanya juga masih manusia. Adanya anggota baru, pandemi yang datang tanpa diundang dan malah bermutasi ini membuat kami harus melakukan berbagai perubahan dalam rumah. Apalagi kami dipercayakan untuk menjaga orang tua kami (yang berarti tanggungjawab yang lebih berat daripada mengurus anak). Belum lagi pengetatan budget disana sini membuat saya merasa tidak menjadi mama yang cukup baik untuk anak-anak.

Tetapi saya tidak membiarkan rasa galau itu menguasai saya. Seperti baby blues yang harus dibenahi, maka homeschool blues pun harus dibenahi. Ada beberapa hal yang saya lakukan untuk membuat saya tidak galau dan menjaga kewarasan saya dalam mendidik anak-anak. 

Sumber foto: pinterest

1. Tetap terkoneksi dengan Tuhan.

Untuk yang satu ini, sudah pasti no other option. Meluangkan waktu untuk memberi makan jiwa dan roh kita merupakan hal yang penting. Hanya Dia sumber kekuatan dan sukacita kita. Kalau Tuhan yang memberikan panggilan untuk mendidik anak-anak, maka Tuhan juga yang akan memperlengkapi. 

Sumber foto: europeanceo.

2. Berbagi dengan suami.

Selain sebagai kepala keluarga dan kepala sekolah, suami adalah support system dan advisor pertama kita. Oleh sebab itu, sama seperti baby blues, suami menjadi support system pertama, maka saat mengalami homeschool blues, berbagilah dengan suami. Ini mengapa pentingnya kata sepakat antara suami dan istri saat memulai homeschool. Walaupun suami sibuk, namun karena pendidikan adalah komitmen bersama, maka pasti suami mau menjadi tempat berbagi keluh kesah kita.

Saat corona belum berkunjung

3. Milikilah support system, yaitu komunitas yang sevisi.

Homeschool, yang orang tuanya terlibat mengajar dan mendidik sendiri, merupakan perjalanan yang panjang dan berproses di orang tua terlebih dahulu. Jadi yang pasti capek ya orang tuanya dulu. Makanya banyak yang merasa paling merana, paling susah dalam mengajar anak-anak. Inilah gunanya komunitas yang sevisi. Komunitas membuat kita bisa curhat dan mendapatkan support dalam menjalani homeschool ini. Dalam komunitas yang sevisi ini, kita tetap akan berjalan bersama dalam visi yang sama, untuk menggenapi panggilan yang Tuhan berikan. 

Monthly planner untuk semester ini

4. Buatlah perencanaan yang realistis dan belajar fleksibel.

Buat saya, perencanaan itu penting. Sejak zaman sekolah dulu, saya paling suka membuat jadwal harian, list yang harus dikerjakan, monthly planner, dan weekly planner. Mengapa? Saya butuh sesuatu yang feasible dan dapat diukur. Banyaknya kegiatan di sekolah (saya paling suka ekskul), kegiatan gereja, jadwal mengajar les, membuat saya merasakan manfaat adanya perencanaan-perencanaan. Saya dapat mengukur seberapa banyak yang dapat saya kerjakan, apa yang nyatanya tidak realistis, dan apa yang harus saya kerjakan. Walau terkadang ada yang tidak dapat dikerjakan, setidaknya saya dapat mengetahui apa yang harus dilakukan. Disinilah karakter fleksibel dilatih, agar kita dapat beradaptasi dengan keadaan yang ada. Untuk mengetahui cara membuat academic year planning, silakan klik link ini ya.

5. Ciptakan atmosfer yang nyaman.

Atmosfer yang nyaman bagi setiap orang berbeda. Ada yang nyaman kalau mencium bau aroma terapi. Ada yang nyaman kalau memulai hari dengan minum susu. Kalau saya, kesukaan saya dari zaman baheula adalah mendengarkan musik saat bangun tidur. Kebiasaan ini terbawa hingga sekarang. Dengan adanya musik sepanjang hari, membuat suasana hati sedikit lebih tenang. Dan berhubung sehari-hari ada anak-anak yang ikut mendengarkan, maka musik yang didengarkan tentunya yang dapat membangun semangat.

A cup of coffee for relax time

6. Tetap melakukan sesuatu yang menjadi kesukaan kita.

Memilih menjadi ibu memang berarti bersedia untuk memberikan waktu, harapan, tenaga kita untuk mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan tugas seorang ibu. Tetapi ada waktunya juga kita melakukan sesuatu yang menjadi kesukaan kita. Bukan berarti kita egois, tapi bijak dalam menggunakan waktu. Sebagian orang bilangnya sih ‘me time’, yang buat saya dari awal terkesan egois (dan ternyata ada senior kami yang sependapat dengan opini saya ini) dan menuntut (teringat salah seorang teman yang sering menitipkan anak ke keluarga dan berkata dia butuh me time, tanpa memikirkan perkembangan anaknya). 

Saya lebih suka menyebutnya relax time, waktu dimana saya dapat melakukan hal yang sukai. Biasanya saat si bayi tidur dan si kakak sedang ada les. Saya sering menggunakannya untuk membaca, menulis, atau duduk manis minum kopi atau teh sambil mengerjakan urusan pekerjaan (ya ,saya nyambi bantuin si papa kerja) atau sambil periksa worksheet anak-anak (yang penting bisa ngopi atau ngeteh). Di waktu-waktu inilah saya merasa lebih relax.

For me, homeschool is a long journey. It shapes us as a family. Oleh sebab itu, butuh hal-hal yang saya suka sebut 5K. 5K itu adalah Kasih Karunia, Kekuatan, Keuangan, Komunitas, dan Kewarasan. Kasih karunia berarti kita membutuhkan anugerah Tuhan untuk menjalani ini. Kekuatan buat saya pasangan yang saling menopang saat mendidik anak-anak, mentransfer virtue lebih dari pengetahuan. Keuangan yang berarti walau anak tidak sekolah, tetapi tetap saja membutuhkan biaya dalam perjalanannya. Itu sebabnya, menabung itu penting (macam program pemerintah zaman kita kecil). Komunitas sebagai support system, sehingga dalam perjalanannya, kita tidak merasa sendiri. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kewarasan. Tanpa adanya kewarasan, lama-lama kita akan merasa terkuras habis tanpa diisi kembali.

Dengan adanya 5K tersebut, kita dapat mengubah blues tersebut menjadi bless =D

So, no more homeschool blues kan?

 

PS: kalau mulai feeling blue lagi, ulang langkah diatas ya (talk to myself first) =D 


Selasa, 25 September 2018

Phonics CCC 101: Cara Menggunakan Phonics CCC

Masih melanjutkan kurikulum CCC, setelah membahas tentang penggunaan CCC, bahasan selanjutnya adalah mengenai cara penggunaan Phonics CCC. Pertama kali saya mendengar phonics, saya bertanya-tanya apa sih phonics? Hasil dari bertanya pada wikipedia, Phonics (dibaca foniks, bukan finiks) didefinisikan sebagai metode untuk mengajarkan membaca dan menulis bahasa Inggris dengan cara mengenali bunyinya. Cara kerja metode phonics adalah memecah kata-kata menjadi beberapa bagian kecil dan mengajarkan anak-anak bunyi dari setiap huruf atau campuran huruf tersebut.
Phonic CCC 
Dalam bahasa sederhana yang biasa saya gunakan saat ditanya orang, saya menjelaskan phonics itu adalah bunyi. Sama seperti kucing bunyinya meong, anjing bunyinya guk-guk, dan sebagainya, huruf pun mempunyai bunyi. Tentunya hal ini akan membingungkan saat diawal kita mengajar. Karena saat kita belajar bahasa Indonesia saja kita belajar b-u bu d-i di, budi. Dan saat belajar bahasa Inggris kita pastinya langsung belajar apel bahasa Inggrisnya adalah apple. Nah, saat kita mulai menggunakan kurikulum CCC, kita diminta mengenalkan bahasa melalui bunyinya.

Apa keuntungannya mengajarkan bunyi si huruf pada anak-anak? Keuntungannya adalah anak akan lebih cepat untuk merangkai huruf dan belajar membaca tanpa disadari. Setelah mereka memahami suara dari setiap huruf, mereka akan dengan cepat mengenali suara dari si huruf saat suata kata diucapkan. Dan efek timbal baliknya, anak dapat menulis berdasarkan suara yang mereka dengar. Namun hal ini akan lebih susah saat anak belajar vowel digraph dan vowel diphtong.

Kata kunci untuk menggunakan Phonic CCC adalah ikutilah instruksi yang diberikan. Kurikulum CCC cukup mempermudah proses pembelajaran dengan yang namanya drilling. Asalkan kita mengikuti setiap tahap yang diberikan, lama-lama anak-anak akan memahami dan mengerti bunyi-bunyian ajaib tersebut.

Huruf dalam bahasa Inggris sama dengan huruf dalam bahasa Indonesia, yaitu ada 26 huruf. Huruf konsonan dalam bahasa Inggris pun sama dengan dalam bahasa Indonesia. Yang unik adalah huruf vokal. Vokal atau vowel masih sama, yaitu a, e, i, o, dan u. Umumnya vokal mempunyai 2 bunyi, yaitu short vowel (yang sering digunakan seperti cat, hen, pig, dog, dan duck) dan long vowel (yang bunyinya seperti nama huruf itu sendiri). Sebelum mengajar, ada baiknya kita memahami bunyi-bunyi yang ada ini.

Dalam CCC, pembelajaran phonics dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1. Phonics Lesson for Card 1 – 31: mengenal consonant, long vowel, dan short vowel.
2. Phonics Lesson for Card 32 – 66: mengenal consonant digraph, consonant blend.
3. Phonics Lesson for Card 67 – 93: mengenal vowel digraph, vowel diphthong, dan modified vowel.
4. Phonics Lesson for Card 94 – 118: mengenal pengecualian-pengecualian dari ketentuan yang ada.

Pertanyaan yang sering diberikan kepada saya adalah mengenai workbook yang akan digunakan. Sama seperti artikel sebelumnya, berdasarkan chart yang diberikan, kita dapat mempermudah penggunaannya.
Chart penggunaan CCC 
Penggunaan Phonics CCC dari umur 3 Tahun
Saat anak-anak berumur 3 tahun, biasanya mereka hanya diajar untuk mengenal phonics card dari A sampai Z. Mereka tahu short vowel terlebih dahulu, baru mereka belajar long vowel dan konsonan. Untuk memudahkan pembelajaran, biasanya saya menggunakan lagu yang diberikan.
Pembelajaran short vowel melalui lagu Noah's Ark. 
Selain mengenal vowel dan consonants, pada umur tiga ini anak-anak mulai diperkenalkan dengan tracing huruf. Saran saya, saat anak melakukan tracing, pastikan mereka mengikuti arahan yang benar. Hal ini dapat mengurangi kesalahan saat mereka menulis huruf yang mirip seperti b dan d ataupun p dan q.

Penggunaan Phonics CCC dari umur 4 Tahun
Saat anak menginjak usia 4 tahun, kita dapat menggunakan Phonics Lesson for Card 1-31 bersamaan dengan workbook A1. Idealnya materi ini akan selesai dalam waktu 6 bulan. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook A2 selama 6 bulan. Bagaimana kalau belum selesai? Ya enaknya homeschool, kita tinggal ulang sesuai kebutuhan dan kemampuan si anak, dengan catatan kita harus konsisten.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 4 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook A1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook A2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 5 Tahun
Jika si anak baru mulai menggunakan CCC saat usianya lima tahun, maka kita harus memulai dengan materi Phonics Lesson for Card 1 – 31. Hanya saja workbook yang digunakan adalah workbook B1. Setelah anak menyelesaikan workbook B1, pelajaran dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook B2. Setelah selesai dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 67 – 93 dan workbook B3.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 5 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook B2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 6 Tahun
Jika si anak mulai menggunakan Phonics CCC saat anak berusia enam tahun dan belum mengetahui apapun tentang phonics, maka disarankan untuk mengajarkan dari awal dan dari workbook B. Secara singkat, perjalanan penggunaan Phonics CCC bagi anak yang memulai saat usia 6 tahun adalah seperti berikut:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook C1
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook C2
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Alphabetical Wall Card
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, alasan kami melakukan homeschool adalah agar anak-anak mempunyai dasar karakter dan kebenaran firman Tuhan sebelum mereka mendapatkan dasar pengetahuan. Salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan kurikulum ini adalah Alphabetical Wall Card. Wall card yang memperkenalkan huruf A hingga Z dengan menggunakan kata-kata yang ada di Alkitab ini membantu anak untuk memahami bunyi dari si huruf dan juga rima atau rhyme yang menjelaskan kebenaran firman Tuhan. Saya menempelkan Alphabetical Wall Card di dinding kamar anak-anak. Sehingga saat belajar pun anak-anak dapat langsung melihat dan saat tidak belajar pun mereka dapat membaca tentang tulisan-tulisan yang ada di atasnya.
Alphabetical wall card.

Daily Drill
Dalam pembelajaran Phonics, CCC cukup memudahkan saya sebagai pengajar awam dengan memberikan daily drill. Namanya juga daily, jadi saya mengulang setiap saat kami belajar Phonics. Berhubung ini bukan bahasa ibu saya, otomatis saya tidak begitu hapal aturan dari setiap phonics (bahkan yang bahasa ibunya Inggris pun belum tentu hapal). Dengan menggunakan daily drill dan melakukan pengulangan setiap harinya, harapannya adalah anak dapat memahami dan lama-lama mengingat dengan sendirinya aturan-aturan yang ada dalam phonics.

Selain vowel drill, ada juga yang namanya sight word atau kata-kata yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Sight words akan lebih mudah diingat anak-anak karena biasanya sederhana. 
Folder yang berisi vowel drill dan sight word. 
Rutin dalam Pembelajaran
Bagaimana dengan rutinnya? Biasanya saat belajar Phonics, saya memulai dengan renungan singkat tentang kata yang melambangkan huruf tersebut dan rhyme yang dapat mengingatkan anak akan bunyi huruf tersebut. Setelah selesai renungan singkat, maka saya akan masuk ke bagian daily drill. Daily drill idealnya tidak terlalu lama, maksimal 20 menit. Setelah itu masuk ke materi sesuai dengan petunjuk yang ada di buku.
Salah satu card mengenai aw
Penggunaan 1 Paket Phonics CCC
Pertanyaan yang sering muncul berikutnya adalah bagaimana jika saat membeli kurikulum CCC belinya sepaket (phonics lengkap dari A, B, dan C). Seperti kami yang membeli lengkap, setelah anak-anak menyelesaikan workbook A1 dan A2, maka sayang rasanya kalau buku-buku ini tidak dipakai (ogahrugi.com). Kami memberikan beberapa latihan di buku B1 dan B2 yang tidak ada di workbook A1 dan A2 (seperti tentang rhyming word). Karena sifatnya pengayaan atau tambahan, otomatis pembahasan buku B1 dan B2 tidaklah berlangsung lama. Setelah selesai materi tambahan ini, kami langsung masuk ke Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3. Setelah workbook B3 selesai, kami memberikan beberapa latihan di buku C1 dan C2 yang tidak ada di workbook sebelumnya. Setelah materi ini selesai, barulah kami masuk ke Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3. Nilai tambahnya adalah anak-anak seakan diingatkan kembali dengan materi sebelumnya. Dan mamanya merasa bahagia karena tidak sia-sia membeli sepaket (ups).
Workbook dan kunci jawabannya. 
Phonics Dril Reading
Buku lain yang biasanya juga ada saat membeli Phonics CCC adalah buku Phonics Drill Reading. Sejujurnya saat kakak belajar phonics, saya sempat berpikir buku ini akan dibahas nanti saat umur lima. Oleh sebab itu, penggunaan buku ini telat saat kakak belajar Phonics. Dan saat adik belajar pun, penggunaan buku ini baru digunakan saat adik berusia hampir 6. Namun ternyata memang buku ini dibuat secara khusus untuk anak yang memasuki usia SD. Tujuannya supaya kita dapat mengukur seberapa mampu si anak membaca kata-kata dalam bahasa Inggris. Dan bukan hanya itu, buku ini cukup membantu membetulkan pelafalan anak-anak dan saya juga saat menyebutkan suatu kata dalam bahasa Inggris.
Kata-kata dengan short sound e.
Kendala Saat Menggunakan Phonics CCC
Banyak yang berpikir kendala terbesarnya adalah ketidakmampuan kita berbahasa Inggris. Namun menurut saya ini bukan yang utama. Bagi saya yang mungkin lebih jago bahasa Jawa daripada bahasa Inggris, walaupun bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita, namun saat kita ada kemauan untuk belajar, pastilah bisa. Anggap saja belajar bersama dengan anak.

Menurut saya kendala paling besar adalah konsistensi kita sebagai pengajar. Sebagai homeschooler, anak kita akan dilihat seluruh dunia (lebay.com). Kalau mereka belum bisa baca, pasti akan ada kata-kata 'oh gak bisa baca...anak homeschool sih'. Kita pasti jadi kepengen mereka cepat baca. Nah biasanya, hal ini membuat kita ingin yang instan dengan cara mengajarkan membaca bahasa Indonesia. 

Ini tidak salah, saya pun juga ingin anak saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan menulis dengan baik. Dan saya cinta sekali dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena kurikulum yang kita ambil adalah kurikulum bahasa Inggris, maka akan lebih baik kalau dia lancar dulu dalam hal membaca dan menulis bahasa Inggris. Lain halnya jika kurikulum yang diambil bukan kurikulum luar, maka pastilah saya akan menyarankan untuk memfokuskan proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Anak-anak akan lebih cepat mempelajari bahasa Indonesia yang sederhana (tidak termasuk imbuhan) dibanding bahasa Inggris karena satu huruf dalam bahasa Inggris banyak bunyinya. Jadi saat sepertinya si anak lama menangkap, kita sebagai pengajar haruslah konsisten dan pantang menyerah. Yang sering saya lihat adalah seringkali orang tua ingin anaknya cepat bisa baca dan akhirnya mengajarkan membaca dan menulis bahasa Indonesia dulu. Saat anaknya bisa menulis dan membaca bahasa Indonesia, anaknya mulai ogah-ogahan belajar Bahasa Inggris dan akhirnya proses pembelajaran Phonics menjadi kegiatan yang membuat kita mau meledak.

Bagaimana dengan pengucapan kita yang lucu? Tidak apa-apa, selama kita mendengarkan CD Phonics dengan baik, dan mencoba untuk membetulkan, lama-lama pasti berkurang kok lucunya. Dan nanti anak-anak dapat membetulkan kalau kita salah kok :)

Satu hal yang menjadi pengingat saya saat mengajar Phonics kepada anak-anak adalah setiap anak istimewa. Cara pembelajaran antara satu anak dengan yang lain tentunya berbeda. Cara penyerapan setiap anak pun berbeda. Pendekatan yang dipakai pun dapat bermacam-macam. Dan mengutip salah satu bagian yang ada di buku pelajaran mereka, pendidikan Kristen seharusnya tidak mengabaikan setiap anak. Kita harus mencari cara untuk mengembangkan pendidikan Kristen ke suatu titik dimana semua anak-anak Tuhan dapat dituntun kepada kedewasaan Kristen di dalam lingkungan akademis yang sesuai dengan kebutuhan pribadi mereka, untuk mempersiapkan mereka menuju tingkatan selanjutnya dalam memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya.

Selasa, 24 Juli 2018

CCC 101: Cara Penggunaan Christ-Centered Curriculum (CCC)


Masih membahas kurikulum yang kami gunakan, yaitu CCC. Saat saya pertama kali membuat artikel tentang CCC, banyak orang yang menghubungi saya tentang kurikulum ini. Tidak menyangka juga bahwa artikel tentang CCC ini membuat saya berkenalan dengan banyak orang yang penasaran tentang kurikulum satu ini. 

Karena terlalu banyak yang bingung dengan bagaimana menggunakan kurikulum ini, maka artikel ini pun akhirnya muncul. Setelah hampir setengah tahun, akhirnya selesai juga artikel ini. Maklum, untuk menyediakan waktu membuat artikel rasanya lumayan susah. Banyaknya pekerjaan rumah dan teman-temannya membuat acara membuat artikel tentang penggunaan CCC menjadi cicil-mencicil. Akhirnya cicil-mencicil ini selesai juga.

Seperti di artikel sebelumnya, kami memilih CCC karena CCC merupakan kurikulum yang berpusatkan kepada Tuhan (God-centered), bukan kepada anak (child-centered). Pastinya CCC memiliki kekurangan di berbagai hal, misal packaging yang monoton, warna textbook yang hitam putih, dan hal-hal lainnya yang terkadang membuat orang malas menggunakan kurikulum ini. Tetapi bagi kami hal-hal yang esensi sudah terangkum saat menggunakan kurikulum ini.

Secara cakupan pelajaran, Christ-Centered Curriculum ini mencakup pelajaran hingga SD kelas satu atau dua di Negara asalnya. Memang saat saya mencari kurikulum untuk SD, materi SD kelas 1 di beberapa buku luar berada dibawah materi CCC ini. Jadi CCC dapat digunakan hingga SD kelas 2.

1. CARA PENYIMPANAN
Dalam satu paket CCC terdapat banyak sekali buku. Di paket yang kami miliki, kami mendapatkan Phonics A, Phonics B, Phonics C, Math A, Math B, dan alat-alat bantu yang disediakan dari pihak CCC. Melihat buku yang banyak tersebut, saya langsung berpikir bagaimana caranya merapihkan buku-buku tersebut sehingga tidak membuat saya kewalahan. Kan tidak mungkin semua buku tersebut di dalam kardus. Dan bersyukurnya pihak CCC menyertakan cara bagaimana mengorganisir buku-buku tersebut.

Secara garis besar, mereka menyarankan pengguna untuk menyediakan dua Jumbo Box Office dan heavy duty hanging-file folder sebanyak 25 buah. Lalu panduan mereka adalah agar kita memisahkan bahan untuk pengajar dengan bahan untuk murid.
Jumbo Box Office. Sumber foto: amazon.com
Hanging file folder. Sumber foto: Amazon.com 
Bahan untuk pengajar pun dipisahkan lagi menjadi 8 folder, dengan 5 folder untuk Phonics (dari Alphabetical Wall Card, Phonics Lesson 1 hingga 4 plus Phonics Flashcards dan bacaan yang berhubungan) dan 3 folder untuk Math (Math Flashcards, Math Lesson Guide A dan B beserta alat bantu yang berhubungan dengan pelajarannya).

Sedangkan bahan untuk murid dipisahkan menjadi 10 folder. Setiap folder berisi 8 folder untuk Phonics (setiap buku soal dan buku jawabannya) dan 2 folder untuk Math (Math A dan Math B)

2. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 3 TAHUN
Jika anak bersekolah di sekolah umum, biasanya umur tiga tahun mereka memasuki kelas taman bermain alias playgroup. Banyak mama-mama yang bingung bagaimana caranya menyusun kegiatan dari pagi sampai siang seperti di sekolah. Berbeda dengan fokus tujuan di sekolah untuk membuat anak bisa ini dan itu, tujuan kami saat anak-anak tiga tahun lebih untuk membuat anak tersebut mempunyai dasar iman, karakter, manner, dan pengetahuan dasar. Di CCC memang tidak ditulis dengan signifikan harus seperti ini harus seperti itu. Namun mereka menyarankan untuk memulai dengan cerita karakter mengenai Generosity, Flexibility, Loyalty, dan Orderliness. Selain itu ada banyak aktivitas yang dapat dikerjakan bersama anak dan memberikan ilustrasi tentang aplikasi secara rohani.
Cerita karakter yang dapat digunakan oleh anak-anak umur 3 tahun.
Untuk Phonics, kita dapat mengenalkan bunyi setiap huruf dengan menggunakan Phonics Flashcards 1 – 31. Sedangkan untuk Math, kita dapat mengenalkan konsep berhitung sederhana dengan aplikasi sehari-hari. Misalkan menghitung ada berapa banyak pensil warna yang mereka miliki, menghitung jumlah anak tangga, dan sebagainya. Di usia ini, jika anak telah siap, dapat juga diperkenalkan tracing dari buku Alphabeth and Numbers Tracins Masters.

3. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 4 TAHUN
Saat anak-anak memasuki usia 4 tahun, kita sudah dapat menggunakan kurikulum CCC secara menyeluruh. Perlu diingat bahwa namanya anak, hari ini ingat dan besok lupa adalah hal yang wajar. Dengan demikian, sebagai orang tua, kita harus sabar mengulangnya. Pembentukan karakter untuk kita dulu, bukan?

Untuk Phonics, mereka sudah dapat menggunakan buku Phonics Lesson mulai dari Phonis Lesson 1 (for cards 1 – 31) dengan workbook A1. Jika dihitung, materi ini akan selesai kurang dari setengah tahun ajaran. Maka jika sudah selesai, dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson 2 (for cards 31 – 66) dengan workbook A2.

Untuk Math, kita dapat memulai dengan menggunakan Math A.

4. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 5 TAHUN
Jika anak sudah selesai dengan Phonics Lesson 1 dan 2, maka kita dapat melanjutkan dengan masuk ke Phonics Lesson 3 (for cards 67 – 93) dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math A, maka dapat dilanjutkan dengan Math B.

Timbul pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya: ”Bagaimana jika saya baru mulai melakukan homeschool dengan kurikulum CCC saat anak berusia 5 tahun?” Jika memang demikian, maka akan lebih baik dimulai dari Phonics Lesson 1. Walaupun diulang dari Phonics Lesson 1, workbook yang dipakai adalah B1. Setelah itu lanjut ke Phonic Lesson 2 dengan workbook B2. Baru setelah itu masuk ke Phonics Lesson 3 dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, disarankan memulai dengan menggunakan Math A, karena banyak konsep dasar yang ada di Math A.
Petunjuk penggunaan buku Phonics dan Math. 
5. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 6 TAHUN
Memasuki usia 6 tahun, jika anak-anak dirasa sudah menguasai pelajaran sebelumnya, maka anak-anak dapat lanjut ke Phonics Lesson 4 (for cards 94 – 118) dengan workbook C3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math B, maka kita dapat menggunakan buku Math SD kelas 1. Jika belum, maka dapat mengulang buku Math B kembali.
Pegangan buku dan flashcard untuk guru 
Bagaimana jika CCC ini pertama kali digunakan saat anak berusia 6 tahun? Pihak CCC merekomendasikan penggunaan Phonics Lesson dimulai dari Phonics Lesson 2 dengan workbook C1, dilanjutkan ke Phonics Lesson 3 dengan workbook C2, dan Phonics Lesson 4 dengan workbook C3. Andaikan si anak memang betul-betul belum tahu apa-apa, saya sih menyarankan dimulai dari Phonics Lesson 1 dengan menggunakan workbook B1, baru dilanjutkan dengan rekomendasi CCC. Alasannya supaya dasar Phonics anak lebih mantap.
Buku workbook. 
Bagaimana dengan kami? Untuk penyimpanan, berhubung membeli dua Jumbo Box Office berarti semakin banyak barang di rusun kami yang mungil sekali, maka kami memanfaatkan lemari yang ada. Kami menyusun mengikuti petunjuk yang ada, lalu antar bagian diberikan sekat kertas buffalo. Intinya, memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah.

Pertama kali saya menerima paket CCC ini, saya cukup penasaran dengan buku-buku yang ada. Diakhir rasa penasaran, muncullah rasa was-was apakah saya sanggup menggunakan kurikulum ini dengan benar. Wong bahasanya Inggris semua (ya iyalah, masak ada bahasa Jawa di situ). Namun saya dan suami berpikir jika kami sudah memilih untuk menggunakan CCC, ya berarti kami harus merelakan hati untuk mempelajari cara penggunaannya.

Dan namanya setiap anak berbeda, maka penerimaan terhadap materi pelajaran pun berbeda. Kakak dapat menyelesaikan semua pelajaran saat berusia 5 tahun lebih. Sedangkan dengan si adik, penggunaan CCC sesuai dengan urutan yang diberikan. Jadi jangan kuatir kalau ’langkah’ si anak agak lambat, yang penting konsep dari pelajaran tersebut didapat.

PS: Untuk pembahasan mengenai Phonics dan Math akan dibahas di artikel berikutnya ya.

See also:
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 1
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 2
Homeschooling untuk anak 3 tahun
8 hal yang harus dilakukan saat memulai homeschooling
Math untuk preschool
Tips memilih kurikulum