Tampilkan postingan dengan label phonics. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label phonics. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2018

Phonics CCC 101: Cara Menggunakan Phonics CCC

Masih melanjutkan kurikulum CCC, setelah membahas tentang penggunaan CCC, bahasan selanjutnya adalah mengenai cara penggunaan Phonics CCC. Pertama kali saya mendengar phonics, saya bertanya-tanya apa sih phonics? Hasil dari bertanya pada wikipedia, Phonics (dibaca foniks, bukan finiks) didefinisikan sebagai metode untuk mengajarkan membaca dan menulis bahasa Inggris dengan cara mengenali bunyinya. Cara kerja metode phonics adalah memecah kata-kata menjadi beberapa bagian kecil dan mengajarkan anak-anak bunyi dari setiap huruf atau campuran huruf tersebut.
Phonic CCC 
Dalam bahasa sederhana yang biasa saya gunakan saat ditanya orang, saya menjelaskan phonics itu adalah bunyi. Sama seperti kucing bunyinya meong, anjing bunyinya guk-guk, dan sebagainya, huruf pun mempunyai bunyi. Tentunya hal ini akan membingungkan saat diawal kita mengajar. Karena saat kita belajar bahasa Indonesia saja kita belajar b-u bu d-i di, budi. Dan saat belajar bahasa Inggris kita pastinya langsung belajar apel bahasa Inggrisnya adalah apple. Nah, saat kita mulai menggunakan kurikulum CCC, kita diminta mengenalkan bahasa melalui bunyinya.

Apa keuntungannya mengajarkan bunyi si huruf pada anak-anak? Keuntungannya adalah anak akan lebih cepat untuk merangkai huruf dan belajar membaca tanpa disadari. Setelah mereka memahami suara dari setiap huruf, mereka akan dengan cepat mengenali suara dari si huruf saat suata kata diucapkan. Dan efek timbal baliknya, anak dapat menulis berdasarkan suara yang mereka dengar. Namun hal ini akan lebih susah saat anak belajar vowel digraph dan vowel diphtong.

Kata kunci untuk menggunakan Phonic CCC adalah ikutilah instruksi yang diberikan. Kurikulum CCC cukup mempermudah proses pembelajaran dengan yang namanya drilling. Asalkan kita mengikuti setiap tahap yang diberikan, lama-lama anak-anak akan memahami dan mengerti bunyi-bunyian ajaib tersebut.

Huruf dalam bahasa Inggris sama dengan huruf dalam bahasa Indonesia, yaitu ada 26 huruf. Huruf konsonan dalam bahasa Inggris pun sama dengan dalam bahasa Indonesia. Yang unik adalah huruf vokal. Vokal atau vowel masih sama, yaitu a, e, i, o, dan u. Umumnya vokal mempunyai 2 bunyi, yaitu short vowel (yang sering digunakan seperti cat, hen, pig, dog, dan duck) dan long vowel (yang bunyinya seperti nama huruf itu sendiri). Sebelum mengajar, ada baiknya kita memahami bunyi-bunyi yang ada ini.

Dalam CCC, pembelajaran phonics dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1. Phonics Lesson for Card 1 – 31: mengenal consonant, long vowel, dan short vowel.
2. Phonics Lesson for Card 32 – 66: mengenal consonant digraph, consonant blend.
3. Phonics Lesson for Card 67 – 93: mengenal vowel digraph, vowel diphthong, dan modified vowel.
4. Phonics Lesson for Card 94 – 118: mengenal pengecualian-pengecualian dari ketentuan yang ada.

Pertanyaan yang sering diberikan kepada saya adalah mengenai workbook yang akan digunakan. Sama seperti artikel sebelumnya, berdasarkan chart yang diberikan, kita dapat mempermudah penggunaannya.
Chart penggunaan CCC 
Penggunaan Phonics CCC dari umur 3 Tahun
Saat anak-anak berumur 3 tahun, biasanya mereka hanya diajar untuk mengenal phonics card dari A sampai Z. Mereka tahu short vowel terlebih dahulu, baru mereka belajar long vowel dan konsonan. Untuk memudahkan pembelajaran, biasanya saya menggunakan lagu yang diberikan.
Pembelajaran short vowel melalui lagu Noah's Ark. 
Selain mengenal vowel dan consonants, pada umur tiga ini anak-anak mulai diperkenalkan dengan tracing huruf. Saran saya, saat anak melakukan tracing, pastikan mereka mengikuti arahan yang benar. Hal ini dapat mengurangi kesalahan saat mereka menulis huruf yang mirip seperti b dan d ataupun p dan q.

Penggunaan Phonics CCC dari umur 4 Tahun
Saat anak menginjak usia 4 tahun, kita dapat menggunakan Phonics Lesson for Card 1-31 bersamaan dengan workbook A1. Idealnya materi ini akan selesai dalam waktu 6 bulan. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook A2 selama 6 bulan. Bagaimana kalau belum selesai? Ya enaknya homeschool, kita tinggal ulang sesuai kebutuhan dan kemampuan si anak, dengan catatan kita harus konsisten.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 4 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook A1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook A2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 5 Tahun
Jika si anak baru mulai menggunakan CCC saat usianya lima tahun, maka kita harus memulai dengan materi Phonics Lesson for Card 1 – 31. Hanya saja workbook yang digunakan adalah workbook B1. Setelah anak menyelesaikan workbook B1, pelajaran dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook B2. Setelah selesai dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 67 – 93 dan workbook B3.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 5 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook B2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 6 Tahun
Jika si anak mulai menggunakan Phonics CCC saat anak berusia enam tahun dan belum mengetahui apapun tentang phonics, maka disarankan untuk mengajarkan dari awal dan dari workbook B. Secara singkat, perjalanan penggunaan Phonics CCC bagi anak yang memulai saat usia 6 tahun adalah seperti berikut:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook C1
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook C2
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Alphabetical Wall Card
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, alasan kami melakukan homeschool adalah agar anak-anak mempunyai dasar karakter dan kebenaran firman Tuhan sebelum mereka mendapatkan dasar pengetahuan. Salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan kurikulum ini adalah Alphabetical Wall Card. Wall card yang memperkenalkan huruf A hingga Z dengan menggunakan kata-kata yang ada di Alkitab ini membantu anak untuk memahami bunyi dari si huruf dan juga rima atau rhyme yang menjelaskan kebenaran firman Tuhan. Saya menempelkan Alphabetical Wall Card di dinding kamar anak-anak. Sehingga saat belajar pun anak-anak dapat langsung melihat dan saat tidak belajar pun mereka dapat membaca tentang tulisan-tulisan yang ada di atasnya.
Alphabetical wall card.

Daily Drill
Dalam pembelajaran Phonics, CCC cukup memudahkan saya sebagai pengajar awam dengan memberikan daily drill. Namanya juga daily, jadi saya mengulang setiap saat kami belajar Phonics. Berhubung ini bukan bahasa ibu saya, otomatis saya tidak begitu hapal aturan dari setiap phonics (bahkan yang bahasa ibunya Inggris pun belum tentu hapal). Dengan menggunakan daily drill dan melakukan pengulangan setiap harinya, harapannya adalah anak dapat memahami dan lama-lama mengingat dengan sendirinya aturan-aturan yang ada dalam phonics.

Selain vowel drill, ada juga yang namanya sight word atau kata-kata yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Sight words akan lebih mudah diingat anak-anak karena biasanya sederhana. 
Folder yang berisi vowel drill dan sight word. 
Rutin dalam Pembelajaran
Bagaimana dengan rutinnya? Biasanya saat belajar Phonics, saya memulai dengan renungan singkat tentang kata yang melambangkan huruf tersebut dan rhyme yang dapat mengingatkan anak akan bunyi huruf tersebut. Setelah selesai renungan singkat, maka saya akan masuk ke bagian daily drill. Daily drill idealnya tidak terlalu lama, maksimal 20 menit. Setelah itu masuk ke materi sesuai dengan petunjuk yang ada di buku.
Salah satu card mengenai aw
Penggunaan 1 Paket Phonics CCC
Pertanyaan yang sering muncul berikutnya adalah bagaimana jika saat membeli kurikulum CCC belinya sepaket (phonics lengkap dari A, B, dan C). Seperti kami yang membeli lengkap, setelah anak-anak menyelesaikan workbook A1 dan A2, maka sayang rasanya kalau buku-buku ini tidak dipakai (ogahrugi.com). Kami memberikan beberapa latihan di buku B1 dan B2 yang tidak ada di workbook A1 dan A2 (seperti tentang rhyming word). Karena sifatnya pengayaan atau tambahan, otomatis pembahasan buku B1 dan B2 tidaklah berlangsung lama. Setelah selesai materi tambahan ini, kami langsung masuk ke Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3. Setelah workbook B3 selesai, kami memberikan beberapa latihan di buku C1 dan C2 yang tidak ada di workbook sebelumnya. Setelah materi ini selesai, barulah kami masuk ke Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3. Nilai tambahnya adalah anak-anak seakan diingatkan kembali dengan materi sebelumnya. Dan mamanya merasa bahagia karena tidak sia-sia membeli sepaket (ups).
Workbook dan kunci jawabannya. 
Phonics Dril Reading
Buku lain yang biasanya juga ada saat membeli Phonics CCC adalah buku Phonics Drill Reading. Sejujurnya saat kakak belajar phonics, saya sempat berpikir buku ini akan dibahas nanti saat umur lima. Oleh sebab itu, penggunaan buku ini telat saat kakak belajar Phonics. Dan saat adik belajar pun, penggunaan buku ini baru digunakan saat adik berusia hampir 6. Namun ternyata memang buku ini dibuat secara khusus untuk anak yang memasuki usia SD. Tujuannya supaya kita dapat mengukur seberapa mampu si anak membaca kata-kata dalam bahasa Inggris. Dan bukan hanya itu, buku ini cukup membantu membetulkan pelafalan anak-anak dan saya juga saat menyebutkan suatu kata dalam bahasa Inggris.
Kata-kata dengan short sound e.
Kendala Saat Menggunakan Phonics CCC
Banyak yang berpikir kendala terbesarnya adalah ketidakmampuan kita berbahasa Inggris. Namun menurut saya ini bukan yang utama. Bagi saya yang mungkin lebih jago bahasa Jawa daripada bahasa Inggris, walaupun bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita, namun saat kita ada kemauan untuk belajar, pastilah bisa. Anggap saja belajar bersama dengan anak.

Menurut saya kendala paling besar adalah konsistensi kita sebagai pengajar. Sebagai homeschooler, anak kita akan dilihat seluruh dunia (lebay.com). Kalau mereka belum bisa baca, pasti akan ada kata-kata 'oh gak bisa baca...anak homeschool sih'. Kita pasti jadi kepengen mereka cepat baca. Nah biasanya, hal ini membuat kita ingin yang instan dengan cara mengajarkan membaca bahasa Indonesia. 

Ini tidak salah, saya pun juga ingin anak saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan menulis dengan baik. Dan saya cinta sekali dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena kurikulum yang kita ambil adalah kurikulum bahasa Inggris, maka akan lebih baik kalau dia lancar dulu dalam hal membaca dan menulis bahasa Inggris. Lain halnya jika kurikulum yang diambil bukan kurikulum luar, maka pastilah saya akan menyarankan untuk memfokuskan proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Anak-anak akan lebih cepat mempelajari bahasa Indonesia yang sederhana (tidak termasuk imbuhan) dibanding bahasa Inggris karena satu huruf dalam bahasa Inggris banyak bunyinya. Jadi saat sepertinya si anak lama menangkap, kita sebagai pengajar haruslah konsisten dan pantang menyerah. Yang sering saya lihat adalah seringkali orang tua ingin anaknya cepat bisa baca dan akhirnya mengajarkan membaca dan menulis bahasa Indonesia dulu. Saat anaknya bisa menulis dan membaca bahasa Indonesia, anaknya mulai ogah-ogahan belajar Bahasa Inggris dan akhirnya proses pembelajaran Phonics menjadi kegiatan yang membuat kita mau meledak.

Bagaimana dengan pengucapan kita yang lucu? Tidak apa-apa, selama kita mendengarkan CD Phonics dengan baik, dan mencoba untuk membetulkan, lama-lama pasti berkurang kok lucunya. Dan nanti anak-anak dapat membetulkan kalau kita salah kok :)

Satu hal yang menjadi pengingat saya saat mengajar Phonics kepada anak-anak adalah setiap anak istimewa. Cara pembelajaran antara satu anak dengan yang lain tentunya berbeda. Cara penyerapan setiap anak pun berbeda. Pendekatan yang dipakai pun dapat bermacam-macam. Dan mengutip salah satu bagian yang ada di buku pelajaran mereka, pendidikan Kristen seharusnya tidak mengabaikan setiap anak. Kita harus mencari cara untuk mengembangkan pendidikan Kristen ke suatu titik dimana semua anak-anak Tuhan dapat dituntun kepada kedewasaan Kristen di dalam lingkungan akademis yang sesuai dengan kebutuhan pribadi mereka, untuk mempersiapkan mereka menuju tingkatan selanjutnya dalam memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya.

Selasa, 24 Juli 2018

CCC 101: Cara Penggunaan Christ-Centered Curriculum (CCC)


Masih membahas kurikulum yang kami gunakan, yaitu CCC. Saat saya pertama kali membuat artikel tentang CCC, banyak orang yang menghubungi saya tentang kurikulum ini. Tidak menyangka juga bahwa artikel tentang CCC ini membuat saya berkenalan dengan banyak orang yang penasaran tentang kurikulum satu ini. 

Karena terlalu banyak yang bingung dengan bagaimana menggunakan kurikulum ini, maka artikel ini pun akhirnya muncul. Setelah hampir setengah tahun, akhirnya selesai juga artikel ini. Maklum, untuk menyediakan waktu membuat artikel rasanya lumayan susah. Banyaknya pekerjaan rumah dan teman-temannya membuat acara membuat artikel tentang penggunaan CCC menjadi cicil-mencicil. Akhirnya cicil-mencicil ini selesai juga.

Seperti di artikel sebelumnya, kami memilih CCC karena CCC merupakan kurikulum yang berpusatkan kepada Tuhan (God-centered), bukan kepada anak (child-centered). Pastinya CCC memiliki kekurangan di berbagai hal, misal packaging yang monoton, warna textbook yang hitam putih, dan hal-hal lainnya yang terkadang membuat orang malas menggunakan kurikulum ini. Tetapi bagi kami hal-hal yang esensi sudah terangkum saat menggunakan kurikulum ini.

Secara cakupan pelajaran, Christ-Centered Curriculum ini mencakup pelajaran hingga SD kelas satu atau dua di Negara asalnya. Memang saat saya mencari kurikulum untuk SD, materi SD kelas 1 di beberapa buku luar berada dibawah materi CCC ini. Jadi CCC dapat digunakan hingga SD kelas 2.

1. CARA PENYIMPANAN
Dalam satu paket CCC terdapat banyak sekali buku. Di paket yang kami miliki, kami mendapatkan Phonics A, Phonics B, Phonics C, Math A, Math B, dan alat-alat bantu yang disediakan dari pihak CCC. Melihat buku yang banyak tersebut, saya langsung berpikir bagaimana caranya merapihkan buku-buku tersebut sehingga tidak membuat saya kewalahan. Kan tidak mungkin semua buku tersebut di dalam kardus. Dan bersyukurnya pihak CCC menyertakan cara bagaimana mengorganisir buku-buku tersebut.

Secara garis besar, mereka menyarankan pengguna untuk menyediakan dua Jumbo Box Office dan heavy duty hanging-file folder sebanyak 25 buah. Lalu panduan mereka adalah agar kita memisahkan bahan untuk pengajar dengan bahan untuk murid.
Jumbo Box Office. Sumber foto: amazon.com
Hanging file folder. Sumber foto: Amazon.com 
Bahan untuk pengajar pun dipisahkan lagi menjadi 8 folder, dengan 5 folder untuk Phonics (dari Alphabetical Wall Card, Phonics Lesson 1 hingga 4 plus Phonics Flashcards dan bacaan yang berhubungan) dan 3 folder untuk Math (Math Flashcards, Math Lesson Guide A dan B beserta alat bantu yang berhubungan dengan pelajarannya).

Sedangkan bahan untuk murid dipisahkan menjadi 10 folder. Setiap folder berisi 8 folder untuk Phonics (setiap buku soal dan buku jawabannya) dan 2 folder untuk Math (Math A dan Math B)

2. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 3 TAHUN
Jika anak bersekolah di sekolah umum, biasanya umur tiga tahun mereka memasuki kelas taman bermain alias playgroup. Banyak mama-mama yang bingung bagaimana caranya menyusun kegiatan dari pagi sampai siang seperti di sekolah. Berbeda dengan fokus tujuan di sekolah untuk membuat anak bisa ini dan itu, tujuan kami saat anak-anak tiga tahun lebih untuk membuat anak tersebut mempunyai dasar iman, karakter, manner, dan pengetahuan dasar. Di CCC memang tidak ditulis dengan signifikan harus seperti ini harus seperti itu. Namun mereka menyarankan untuk memulai dengan cerita karakter mengenai Generosity, Flexibility, Loyalty, dan Orderliness. Selain itu ada banyak aktivitas yang dapat dikerjakan bersama anak dan memberikan ilustrasi tentang aplikasi secara rohani.
Cerita karakter yang dapat digunakan oleh anak-anak umur 3 tahun.
Untuk Phonics, kita dapat mengenalkan bunyi setiap huruf dengan menggunakan Phonics Flashcards 1 – 31. Sedangkan untuk Math, kita dapat mengenalkan konsep berhitung sederhana dengan aplikasi sehari-hari. Misalkan menghitung ada berapa banyak pensil warna yang mereka miliki, menghitung jumlah anak tangga, dan sebagainya. Di usia ini, jika anak telah siap, dapat juga diperkenalkan tracing dari buku Alphabeth and Numbers Tracins Masters.

3. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 4 TAHUN
Saat anak-anak memasuki usia 4 tahun, kita sudah dapat menggunakan kurikulum CCC secara menyeluruh. Perlu diingat bahwa namanya anak, hari ini ingat dan besok lupa adalah hal yang wajar. Dengan demikian, sebagai orang tua, kita harus sabar mengulangnya. Pembentukan karakter untuk kita dulu, bukan?

Untuk Phonics, mereka sudah dapat menggunakan buku Phonics Lesson mulai dari Phonis Lesson 1 (for cards 1 – 31) dengan workbook A1. Jika dihitung, materi ini akan selesai kurang dari setengah tahun ajaran. Maka jika sudah selesai, dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson 2 (for cards 31 – 66) dengan workbook A2.

Untuk Math, kita dapat memulai dengan menggunakan Math A.

4. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 5 TAHUN
Jika anak sudah selesai dengan Phonics Lesson 1 dan 2, maka kita dapat melanjutkan dengan masuk ke Phonics Lesson 3 (for cards 67 – 93) dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math A, maka dapat dilanjutkan dengan Math B.

Timbul pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya: ”Bagaimana jika saya baru mulai melakukan homeschool dengan kurikulum CCC saat anak berusia 5 tahun?” Jika memang demikian, maka akan lebih baik dimulai dari Phonics Lesson 1. Walaupun diulang dari Phonics Lesson 1, workbook yang dipakai adalah B1. Setelah itu lanjut ke Phonic Lesson 2 dengan workbook B2. Baru setelah itu masuk ke Phonics Lesson 3 dengan workbook B3. Sedangkan untuk Math, disarankan memulai dengan menggunakan Math A, karena banyak konsep dasar yang ada di Math A.
Petunjuk penggunaan buku Phonics dan Math. 
5. CARA PENGGUNAAN CCC SAAT ANAK BERUSIA 6 TAHUN
Memasuki usia 6 tahun, jika anak-anak dirasa sudah menguasai pelajaran sebelumnya, maka anak-anak dapat lanjut ke Phonics Lesson 4 (for cards 94 – 118) dengan workbook C3. Sedangkan untuk Math, jika anak sudah menguasai Math B, maka kita dapat menggunakan buku Math SD kelas 1. Jika belum, maka dapat mengulang buku Math B kembali.
Pegangan buku dan flashcard untuk guru 
Bagaimana jika CCC ini pertama kali digunakan saat anak berusia 6 tahun? Pihak CCC merekomendasikan penggunaan Phonics Lesson dimulai dari Phonics Lesson 2 dengan workbook C1, dilanjutkan ke Phonics Lesson 3 dengan workbook C2, dan Phonics Lesson 4 dengan workbook C3. Andaikan si anak memang betul-betul belum tahu apa-apa, saya sih menyarankan dimulai dari Phonics Lesson 1 dengan menggunakan workbook B1, baru dilanjutkan dengan rekomendasi CCC. Alasannya supaya dasar Phonics anak lebih mantap.
Buku workbook. 
Bagaimana dengan kami? Untuk penyimpanan, berhubung membeli dua Jumbo Box Office berarti semakin banyak barang di rusun kami yang mungil sekali, maka kami memanfaatkan lemari yang ada. Kami menyusun mengikuti petunjuk yang ada, lalu antar bagian diberikan sekat kertas buffalo. Intinya, memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah.

Pertama kali saya menerima paket CCC ini, saya cukup penasaran dengan buku-buku yang ada. Diakhir rasa penasaran, muncullah rasa was-was apakah saya sanggup menggunakan kurikulum ini dengan benar. Wong bahasanya Inggris semua (ya iyalah, masak ada bahasa Jawa di situ). Namun saya dan suami berpikir jika kami sudah memilih untuk menggunakan CCC, ya berarti kami harus merelakan hati untuk mempelajari cara penggunaannya.

Dan namanya setiap anak berbeda, maka penerimaan terhadap materi pelajaran pun berbeda. Kakak dapat menyelesaikan semua pelajaran saat berusia 5 tahun lebih. Sedangkan dengan si adik, penggunaan CCC sesuai dengan urutan yang diberikan. Jadi jangan kuatir kalau ’langkah’ si anak agak lambat, yang penting konsep dari pelajaran tersebut didapat.

PS: Untuk pembahasan mengenai Phonics dan Math akan dibahas di artikel berikutnya ya.

See also:
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 1
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 2
Homeschooling untuk anak 3 tahun
8 hal yang harus dilakukan saat memulai homeschooling
Math untuk preschool
Tips memilih kurikulum









Kamis, 27 Juli 2017

Review Climbing to Good English

Jika sebelumnya saya sudah me-review Pathway Readers, kali ini saya akan me-review partnernya Pathway Readers, Climbing to Good English. Sama seperti Pathway Readers yang awalnya ditulis bagi komunitas Amish, Climbing to Good English (C2GE) juga awalnya ditulis untuk komunitas Amish. Tetapi isi dari C2GE ini dapat digunakan bagi sekolah Kristen dan juga keluarga yang melakukan homeschool. Materi dalam C2GE mencakup grammar, phonics, kemampuan membuka kamus, kemampuan mendeskripsikan sesuatu, dan kemampuan menulis.

Mengapa kami memilih menggunakan C2GE? Selain karena kami sudah menggunakan Pathway Readers, ada beberapa hal yang menurut kami menjadi kelebihan dari C2GE dan membuat kami memutuskan memilih C2GE. Kelebihan-kelebihan tersebut antara lain:
1. Climbing to Good English sangat ekonomis, dalam artian harganya tidak mahal jika dibandingkan dengan kurikulum lainnya.
2. Instruksi dari setiap pelajaran sangat jelas. Bahkan hal yang penting pasti diberi kotak untuk memastikan kita mengerti kunci dari pelajaran tersebut.
3. Pelajaran menulisnya dirancang sesederhana mungkin saat di level awal. Jadi tanpa disadari anak-anak dilatih untuk membuat tulisan dengan benar dan menarik.
4. Climbing to Good English dapat digunakan secara independen atau mandiri. Karena berbentuk seperti worksheet atau lembar kerja yang dirancang sesuai dengan kemampuan anak, jadinya anak-anak dapat mengerjakan dengan hanya membaca instruksi saja. Memang terkadang akan ada kesalahan saat mereka mengerjakan, tetapi hal ini melatih anak-anak untuk berpikir dan memahami letak kesalahan mereka saat menjawab.
5. Ada buku pegangan buku yang berisi jawaban, yang membantu saya jika saya tidak tahu jawabannya.

Tetapi tentu saja ada beberapa kekurangan dari buku ini, walaupun mungkin bukan hal yang sangat penting. Kekurangan dari C2GE adalah:
1. Sama seperti Pathway Readers, font tulisan di C2GE sangat klasik dan hitam putih. Sedikit membosankan bagi beberapa orang.
2. Ada beberapa gambar yang tidak begitu jelas. Terkadang kakak dan saya harus sedikit 'berdebat' karena kami menafsirkan benda tersebut secara berbeda.
3. Tampilan dari buku pegangan untuk guru kurang meyakinkan dan membuat bingung. Yang menjadi pembeda antara buku ini adalah di sampul depan ada huruf T yang berarti teacher's. Tetapi hal ini bukan yang esensi kalau menurut saya.
Panduan guru dengan huruf T di sampul depan
Dalam penggunaan C2GE, disarankan grade 1 - 3 mengerjakan 5 pelajaran setiap minggunya. Grade 4 - 8 disarankan mengerjakan 3 pelajaran setiap minggunya. 1 pelajaran di buku sama dengan 1 halaman dari buku tersebut. Dengan kata lain, si anak diminta untuk mengerjakan 1 halaman per hari saat grade-nya masih kecil. Karena kakak langsung menggunakan Grade 2, maka kami hanya mengerjakan 4 halaman setiap minggunya. Dengan pertimbangan supaya tidak terlalu cepat majunya.

Di grade 2 ini anak-anak dikenalkan dengam kamus dan cara mengurutkannya. Dalam belajar Bahasa Inggris, tahu phonics berarti si anak tahu 85% mengenai bahasa dan cara membacanya. Untuk yang 15% lagi dapat diketahui saat mereka membuka kamus. Saat ini anak-anak terbiasa menggunakan kamus online. Dengan menggunakan C2GE, mereka belajar untuk mengenal penggunaan kamus secara langsung. Untuk kakak, bagian mengurutkan kata dalam alphabetical order merupakan hal yang paling menyenangkan.

Hal berikutnya yang menjadi kebingungan kami adalah kunci jawaban dual grade untuk grade 5/6 dan 7/8. Ternyata penerbit berusaha membantu orang tua yang mengajar dua grade yang berbeda dalam satu kelas. Dengan mengkombinasikan panduan guru untuk dua grade menjadi satu jilid, si guru menghemat waktu belajar yang ada. Kedua grade (5 dan 6 serta 7 dan 8) sama-sama mengajarkan konsep yang sama pada waktu yang bersamaan. Tetapi grade 6 dan 8 secara umum lebih susah daripada grade 5 dan 7. Hal ini sama seperti sistem spiral, makin tinggi tingkatannya, semakin dalam yang dipelajarinya. 

Bagaimana dengan mama-mama yang kurang jago dalam hal grammar, phonics, dan menulis? Jangan kuatir. Selama kita mau membuka pikiran kita dan selama kita mau belajar, kita pasti dapat memahami materi-materi tersebut. Bahkan bisa jadi kita juga jadi belajar bersama anak. Percaya deh, selesai mengajarkan hal-hal uni kepada anak, kita jadi piawai dalam materi ini :)

Buku ini dapat dicari secara online di http://www.joycenter.on.ca/cge1.htm