Jumat, 17 Februari 2017

Playdate di Kidzoona MAG



Ingat postingan saya yang lalu tentang milikilah komunitas? Nah, kali ini kami anggota komunitas yang tinggal di area Kelapa Gading dan sekitarnya berkumpul dan mengadakan playdate. Dapat dikatakan ini adalah playdate pertama kami, karena jadwal kami sibuk sekali. Setelah janjian untuk playdate, yang direncanakan jauh-jauh hari, akhirnya kami dapat berkumpul. 

Apa sih playdate? Playdate, biasanya orang luar yang menggunakan istilah ini, berarti kegiatan bermain bersama yang dilakukan oleh anak-anak kecil. Kalau bahasa kita namanya main bareng. Mungkin bagi kita yang lahir sebelum tahun 2000, kesannya kita seperti orang prasejarah nih, kegiatan main bersama teman adalah hal yang biasa. Tetapi bagi anak zaman sekarang, main bareng itu merupakan kegiatan yang sangat berharga. Mengapa? Anak sekarang sekolahnya sampai siang atau bahkan sore, ditambah lagi jadwal les ini itu, jangankan mau main bersama teman-temannya, ketemu orang tua saja hanya beberapa jam dalam sehari. Apalagi di era serba gadget ini, terkadang playdate mereka hanya diisi kegiatan berkumpul dimana tiap-tiap anak sibuk dengan gadget masing-masing. Kebayang dong betapa berharganya playdate bagi anak-anak.

Menurut saya, playdate sangat bermanfaat bagi anak-anak. Dengan bermain bersama teman, mereka belajar untuk berinteraksi dengan yang lainnya. Di saat berinteraksi ini, si kecil dapat mengembangkan imajinasi mereka bersama-sama, belajar berbagi dan mendengarkan temannya, melakukan aktivitas yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan bersama dengan teman mereka, dan sebagainya. Terlebih lagi untuk homeschooler, playdate merupakan hal yang penting. Selain anak dapat bersosialisasi, mama-mamanya dapat saling sharing tentang apa yang mereka alami saat mengajar anak-anak, dapat saling menguatkan juga. 
Bermain peran bersama teman tentunya lebih seru:)
Playdate bisa saja dilakukan di dalam ruangan, di luar ruangan, di rumah salah satu teman, atau di tempat lain. Intinya, asalkan tempatnya menyenangkan dan waktunya pas, playdate dapat dilakukan di mana saja. Nah, kali ini kami memutuskan untuk playdate ke Kidzoona MAG. Sebelumnya kami pernah dua kali main di Kidzoona. Yang pertama kami bermain di Kidzoona Aeon Mall bersama sahabat papa dan keluarganya, dari Surabaya, yang sedang berlibur di Jakarta. Yang kedua, kami bermain di Kidzoona Puri bersama komunitas homeschool kami.

Kidzoona, tempat bermain indoor pertama yang dibuat oleh PT Aeon Fantasy Indonesia, dibuka pertama kali pada April 2015 di Pluit Village. Karena PT Aeon Fantasy merupakan Japan-based company, maka secara kualitas mainan dan kebersihan tempat ini sangat bagus. Tetapi lokasi Kidzoona terlalu jauh dari kami. Saat kami mengetahui Kidzoona akan dibuka di Mall Artha Gading, kami semangat sekali untuk playdate dengan keluarga homeschool di daerah Kelapa Gading dan Sekitarnya. Saat Kidzoona MAG dibuka November yang lalu, kami mencoba mencari waktu yang pas untuk mengunjungi tempat ini.

Akhirnya setelah ditimbang-timbang, seperti wakil rakyat gitu loh, diputuskan untuk melakukan playdate di akhir bulan Desember kemarin. Tetapi mohon maaf liputannya baru jadi sekarang, berhubung jadwal anak-anak dan kerjaan mamanya yang makin padat, agak susah untuk mencuri meluangkan waktu untuk mengetik. Kami janjian bertemu di depan Kidzoona. Karena masih musim liburan anak-anak, tentu saja tempat ini ramai. Cuma untungnya karena kami datang pagi, keadaan tidak terlalu crowded

Secara luas tempat, Kidzoona di Puri merupakan yang terluas dari tiga tempat yang pernah kami kunjungi. Tetapi mainannya tetap lengkap kok. Sama seperti di Kidzoona yang lain, di Kidzoona MAG ini juga dibagi beberapa bagian. Ada bagian bermain peran seperti menjadi kasir, sushi cafe, flower shop, pemadam, polisi, postman, dan sebagainya. 
Berbagai macam corner di play pretend
Ada juga bagian seperti playground, lengkap dengan perosotan dan bola-bolanya,. Perosotannya memang tidak setinggi di Puri, tetapi cukup seru. Di sini ada terowongan bola-bola yang dapat mereka lalui, yang seingat saya tidak ada di tempat lainnya. Di sini juga ada lintasan untuk melatih motorik kasar seperti lintasan untuk melompat, bermain roda besar dan menggelinding di dalamnya, dan sebagainya. 
Playground dan ball pool.
Ball pool, thanks to D's dad for taking the picture.
Di Kidzoona juga ada blocks besar dari bahan yang empuk, saya lupa namanya, yang dapat digunakan untuk membangun suatu benda, permainan asah otak, permainan untuk motorik halus, dan juga pasir kinetik.  
Permainan asah otak
Di jam-jam tertentu akan ada aktivitas yang dipandu oleh petugas di sana. Di Kidzoona MAG disediakan bagian untuk bermain gadget. Mereka menyediakan tab atau ipad untuk anak-anak bermain. Seingat saya, saya tidak menjumpai area gadget di Kidzoona Puri dan Aeon. Bagi saya, yang kurang di sini adalah pencahayaannya. Mungkin karena masih pagi, jadi lampu di bagian ball pool belum dinyalakan semuanya.

Senangnya kami karena melihat Duo Lynns dan teman-temannya yang berusia dari 6 tahun sampai 2 tahun seru bermain bersama. Bukan hanya dengan orang yang mereka kenal, ada beberapa teman yang ternyata juga sedang mengisi hari liburnya di Kidzoona ini, tetapi juga dengan anak-anak yang tidak mereka kenal sama sekali. 

Cuma, namanya juga orang bermacam-macam sifatnya, terkadang peraturan yang ada dengan sengaja mereka langgar. Bisa ada nenek, atau sus, atau ibu yang sibuk menyuapi anak saat bermain di area main. Padahal sudah ditekankan agar makan di area yang disediakan. Sampai ditegur oleh petugas pun mereka merasa cuek. Sepertinya orang-orang tersebut merupakan tipe orang yang berpikir asal mereka sudah membeli tiket masuk, mereka bebas melakukan yang mereka mau. Kami sampai kasihan melihat mbak-mbaknya yang sibuk membersihkan bekas susu tumpah, makanan tumpah,dan sebagainya. 

Karena kami membeli tiket untuk satu hari, maka kami boleh keluar untuk makan siang, dan nanti masuk lagi. Tangan kami diberi cap sebagai tanda kami keluar. Pilihan kami adalah lamian, mie tentunya favorit anak-anak dan harapannya makannya jadi cepat. Acara makan siang menjadi lebih seru karena makannya ramai-ramai. Adik sudah bersemangat untuk membagi cookies yang mereka buat kepada teman-temannya. Setelah makan siang kami boleh masuk kembali ke Kidzoona. Saat kami masuk kembali, suasana jauh lebih crowded. Buat kami sebagai orang tua, rasanya sudah males main lagi. Tetapi tidak demikian dengan anak-anak. Mereka masih tetap bersemangat untuk bermain. Walau mungkin sebetulnya mereka sudah mulai teler, tetapi mereka tetap ngotot untuk main. Efek sampingnya tentu ada. Si kakak sempat beberapa kali bete karena saat sedang bermain ada suster yang sibuk duduk main HP di bagian mainan sushi dan tidak mau beranjak. Ternyata oh ternyata dia sedang menunggu anak asuhnya main di mainan yang lain. Lagi reserved ya sus? =D 
charging sebentar sebelum bermain lagi ah....
Bukan hanya itu, kakak mulai sebal lagi karena saat sedang bermain jadi apoteker bersama anak lain, ada satu orang ibu yang mendadak masuk ke bagian kakak dan duduk di kursi tempat kakak sedang main. Yah...terkadang status sosial dan pendidikan tidak menjamin orang tersebut punya karakter dan tingkah laku yang baik, benar begitu saudara-saudara? Tetapi hal ini menjadi diskusi kami para mama. Kami semakin menyadari bahwa karakter itu sangat penting. Well, ini salah satu alasan kami melakukan homeschool bukan? :D 

Kesimpulan kami setelah melakukan playdate di Kidzoona:
1. Jika memang akan bermain lebih dari 1 jam, saya menyarankan untuk membeli tiket 1 hari. Lebih puas dan lebih murah (prinsip emak-emak).
2. Di Kidzoona wajib menggunakan kaos kaki, baik anak-anak maupun pendampingnya. Dengan demikian, bawalah kaos kaki. Jika tidak membawa atau lupa, bisa juga sih beli di Kidzoona. 
3. Bermain ke Kidzoona akan lebih menarik dengan teman. Jadi bisa juga playdate bersama teman-teman yang lain.
4. Siapkan baju ganti, jaga-jaga kalau si kecil keringetan.
5. Jangan lupa bawa air minum, mencegah dehidrasi.
6. Kalau sudah waktunya pulang, tetapi si kecil masih belum mau, dan rasanya tidak mau pulang, saran saya bilang pada si anak boleh main sampai mbak petugasnya memanggil namanya. Kemudian 5 menit kemudian kita meminta ke petugas yang ada untuk memanggil nama si anak dan memberitahu bahwa waktu bermain sudah selesai. Agak tricky sih, tetapi melihat adegan nangis dan teriakan anak-anak orang lain yang tidak rela pulang, mungkin cara ini bisa sedikit mengurangi tangisan (mungkin ya). Kalau saya, dari di rumah sudah diberi tahu kalau papa datang, berarti waktunya pulang. Jadinya tidak ada drama berlebih saat harus pulang.=D
tiduran setelah lelah bermain
Setelah kami pulang, Duo Lynns menanyakan kembali kapan bisa bermain kembali dengan teman-temannya. Hmm....tunggu mama-mamanya sempat membuat jadwal untuk playdate lagi ya nak =D

Kidzoona MAG
Mall Artha Gading lantai 3
Website: www.aeonfantasy.co.id
Harga tiket: 
Weekday: Rp 60.000,00 (1 jam) dan Rp 90.000,00 (satu hari)
Weekend: Rp 90.000,00 (1 jam) dan Rp 150.000,00 (satu hari).
Gratis 1 pendamping per 1 anak.

Sabtu, 11 Februari 2017

Bermain dengan Kertas Krep


Siapa sih yang tidak tahu kertas krep? Rasanya kita semua tahu kertas krep. Apa lagi saat kita SD, kertas ini jadi alat utama untuk menghias kelas saat acara 17an, lomba menghias kelas, acara ulang tahun teman, dan sebagainya. Warnanya yang beraneka ragam membuat kita semangat untuk menggunakannya. Tetapi saat saya masih SD, saya paling tidak suka kalau secara tidak sengaja tangan saya terkena air dan memegang kertas krep. Warnanya akan menempel di tangan saya dan saya geli melihat tangan yang ada warnanya. Memang sih bisa hilang setelah cuci tangan berkali-kali. 

Siapa sangka warna pada kertas krep ini dapat digunakan untuk menghias kertas? Ide ini datang dari Duo Lynns setelah menonton Mr. Maker. Waktu itu saya bilang, nanti ya buatnya. Lalu mereka bilang kita sudah ada perjanjian ya ma. Namanya juga anak kecil, semua harus ada perjanjian =D.  Hampir setiap saat mereka menagih kapan kita buat mama. Masalahnya mamanya belum sempat beli kertas krep. Setelah sempat membeli kertas krep, mereka menagih, kan mama sudah berjanji (dengan logat bule). Sekarang waktunya yang tidak ada. Tetapi janji adalah janji, harus ditepati. Dan kami pun mencoba membuatnya.

Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Karton manila, sebaiknya berwarna putih.
2. Kertas krep aneka warna
3. Spons cuci piring
4. Wadah berisi air
Bahan yang diperlukan: kertas krep, karton, spons, air.

Saya pikir saya punya karton putih, ternyata yang ada karton merah muda dan kuning muda. Terpaksa kami menggunakan karton kuning. 

Langkah-langkahnya:
1. Gunting kertas krep yang ada sesuai maunya kita, lalu remas-remas kertasnya. 
2. Basahi spons dengan air, peras sedikit supaya tidak terlalu 'banjir' airnya. 
3. Basahi semua bagian kertas karton dengan spons tadi, seperti sedang mencuci piring. 
4. Letakkan kertas krep yang sudah diremas tadi secara sembarangan. 
5. Celupkan spons ke wadah air lalu peras airnya sedikit. Kemudian peras spon tadi diatas kertas krep yang sudah disusun diatas karton. Pastikan semua kertas krep basah dan menempel pada karton. 
6. Biarkan hingga kering. Kami membiarkan karton tersebut semalaman.


Saat melakukan aktivitas kemarin, saya alasi karton tersebut dengan koran, karena namanya anak-anak, bisa terjadi kebasahan sana sini. Jadinya mengurangi 'kecelakaan' saat beraktivitas. Bagaimana hasilnya setelah kering?
Motif abstrak dengan kertas krep.
Mungkin karena kartonnya kuning dan warna kertas krep pilihan anak-anak kurang gelap, hasilnya tidak sebagus ekspektasi kami. Tetapi cukup untuk membuat warna campur-campur pada karton tersebut. Nah, karton yang sudah warna-warni itu dapat digunakan atau tidak? Tentu saja dapat digunakan untuk membuat kartu, membuat bentuk-bentuk yang lucu dengan warna campur-campur, atau dibingkai karena motifnya yang abstrak, dan sebagainya.

Akhirnya janji saya sebagai orang tua dapat saya tepati. Intinya adalah jangan membuat janji yang tidak mungkin ditepati dan setelah berjanji jangan lupa menepatinya. Untung aktivitas dengan kertas krep ini mudah dilakukan dan tidak mengawang :)

Aktivitas yang simple ini dapat juga dilakukan bersama dengan anak balita ataupun preschool. Saat malam hari, kakak berkata kepada saya bahwa ia ingin menggunakan sisa kertas krep yang ada untuk membuat fish tank. Adik pun bersemangat membuat kura-kura. Hmmm.....Boleh, kok nak, tapi nanti dulu ya :)

Kamis, 02 Februari 2017

Saat Homeschool Tidak Berjalan Seperti yang Diharapkan


"Rasanya kok homeschool tidak seperti yang kubayangkan ya."

"Kok bahan pelajaran kami tidak habis-habis ya, anak-anak seperti tidak belajar apapun."

"Aduh, waktu belajar yang enak bagaimana sih. Susah nih ngatur waktu anak-anak."

"Kok saya merasa bimbang ya, betul tidak ya pilihan saya untuk mengajar anak saya sendiri."

"Kenapa setelah liburan anak-anak lupa semua yang sudah mereka pelajari ya?"

Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas pernah menjadi bagian dari pertanyaan kita saat memulai homeschool atau bahkan sekarang saat kita menjalankan homeschool. Apalagi saat melihat teman sesama homeschool yang anaknya sudah besar, kita mungkin ngebatin kok mereka bisa bertahan dalam menjalani homeschool.

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan yang wajar bagi setiap homeschooler. Saat orang tua melihat perkembangan anaknya, terkadang ada ketakutan, keraguan dan kebimbangan. Apalagi saat teman-teman yang anaknya sekolah di sekolah umum selangkah lebih maju dibanding anak-anak kita. Ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu untuk mengatasi kebingungan-kebingungan saat menjalani homeschool.

1. Saat keadaan tidak seperti yang diinginkan, ingatkan diri kita sendiri bahwa saat kita memilih melakukan homeschool kita tahu bahwa ini adalah panggilan kita. 
Seperti kata-kata yang kami gunakan saat kami memulai homeschool, homeschool adalah panggilan. Kami melakukan homeschool bukan untuk membuktikan kepada sekeliling kami, tetapi kami memilih homeschool sebagai cara kami mendidik anak-anak kami karena kami tahu ini adalah panggilan bagi kami. Ada masa-masa homeschooler merasa ingin kabur, terutama kalau yang lagi diajar lagi tidak mau bekerja sama, situasi rumah yang tidak kondusif, dan sebagainya. Tetapi saat kita mengingat panggilan kita dan visi kita saat memilih homeschool, maka perasaan tidak aman (insecure), kebimbangan, dan keraguan yang muncul dapat kita hadapi. Kita akan tetap dapat berdiri jika kita tahu dengan pasti kita melakukan panggilan kita. Dengan kata lain, fokus pada tujuan dan panggilan kita.
Salah satu quote favorit saya :)
2. Berani bersikap tegas pada anak agar anak-anak tahu otoritas dalam keluarga ada pada orang tuanya. 
Anak-anak ingin memegang kendali dalam segala hal, termasuk dalam hal belajar. Ada kalanya mereka lagi tidak mood belajar, lalu seribu satu alasan akan keluar untuk tidak belajar. Bagi kami, bersikap tegas adalah kunci menghadapi hal seperti ini. Seperti di salah satu ayat hapalan mereka: obey them that have the rule over you and submit yourself, maka anak-anak belajar untuk tahu siapakah otoritas di atas mereka saat mereka di rumah, di sekolah, di tempat bermain, di tempat les, dan sebagainya. Sehingga saat mereka sedang 'kambuh', kami hanya mengingatkan bahwa saat belajar mereka harus taat pada kami sebagai guru dan orang tua mereka. Dengan demikian, keluhan saat belajar dapat dikurangi. Kami pun berusaha untuk membuat proses belajar mengajar semenarik mungkin dan akhirnya walau dimulai dengan cemberut, di tengah-tengah mereka dapat tersenyum dan diakhir pelajaran kami memuji ketaatan mereka dan menunjukkan saat mereka taaat dan tidak grumpy, semua berjalan dengan baik.

3. Temukan ritme homeschool yang tepat untuk keluarga kita. 
Kita boleh bertanya kepada siapa saja mengenai rutin mereka saat melakukan homeschool. Tetapi yang harus kita ingat adalah setiap keluarga unik sehingga ritme yang sesuai dengan keluarga A belum tentu sesuai dengan keluarga kita. Atau bisa juga rutin keluarga A membantu kita menemukan ritme yang tepat bagi kita. Menemukan ritme yang tepat tentu saja tidak instan. Bisa jadi kita menemukan dalam 1 bulan, atau 1 semester, atau bahkan 1 tahun. Tetapi hal itu wajar. 
Sama seperti orang kerja, biasanya ada yang namanya masa penyesuaian. Akan aneh rasanya jika baru mencoba kerja selama 1 minggu tetapi sudah berhenti bekerja karena merasa tidak dapat melakukan. Demikian juga dengan masa penyesuaian kita dalam menemukan ritme yang tepat. Jangan menyerah dengan cepat dan merasa tidak mampu. 

4. Jangan menduplikat sistem di sekolah. 
Sering kali teman-teman bercerita kepada saya sistem di sekolah yang sedemikian kompleks dan terkadang tidak masuk akal membuat mereka ingin menarik anak dari sekolah. Tetapi mereka berkata mereka tidak mampu untuk mengajar anak mereka di rumah. Nah ironisnya, terkadang homeschooler berusaha membuat proses belajar di rumah sama seperti di sekolah dengan PR, kuis, dan jam yang padat. Hal ini wajar karena kita terbiasa dengan sistem seperti ini. Hal ini pun tidak salah karena pasti ada hal-hal yang menarik yang dapat kita terapkan di rumah. Tetapi jangan sampai kita hanya berpaku pada duplikasi sistem sekolah dan lupa bahwa salah satu keistimewaan homeschool adalah kita bebas (tetapi tidak semaunya) membuat sistem yang dapat membuat anak mengerti materi yang ingin diajarkan dan mempersiapkan anak menghadapi dunia nyata dengan karakter dan pengetahuan. Jika kita akhirnya menduplikat sistem di sekolah, pastilah kita stres karena fasilitas di rumah kita tidak sama seperti di sekolah.

5. Fleksibel dengan jam yang ada. 
Sebagai orang yang perfeksionis, saya adalah tipe orang yang senang membuat jadwal. Dengan adanya jadwal, list keperluan, dan segala macam yang berbau sistematis (termasuk saat jalan-jalan), saya akan merasa lebih tenang. Tetapi terkadang jadwal yang ada bisa jadi tidak dapat terpenuhi karena satu dan lain hal. Saat hal ini terjadi, diperlukan fleksibilitas menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Bersyukurnya sebagai homeschooler, kita punya waktu 24 jam untuk bersama anak-anak. Yang artinya kita bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan maksimal, walaupun terkadang 24 jam ini juga berarti kepusingan yang tiada henti. Jadi jika jadwal sedikit tidak seperti yang seharusnya, kita dapat sesekali mengatur dan merubah jadwal yang ada dan menyesuaikannya dengan kebutuhan. 

6. Ambil waktu untuk beristirahat sejenak. 
Saya akui saat proses belajar mengajar pasti akan ada yang namanya senewen, apalagi bagi para mama-mama yang terkadang berurusan dengan namanya hormon. Anak-anak pun ada yang namanya mood. Terkadang kita sudah sampai sakit kepala menjelaskan sesuatu dan si anak tidak mengerti. Atau kita tahu bahwa si anak dapat mengerjakan tugasnya tetapi karena pikiran si anak sedang melanglang buana dan memikirkan hal lain, dia membuatnya salah-salah. Jika kita sudah sampai ke titik seperti ini, mungkin kita perlu untuk beristirahat sejenak (ditambah dengan minum dan pergi ke kamar mandi). Atau jika kita sudah mulai mau meledak, mungkin bisa juga menutup materi pelajaran hari itu dan menggantinya dengan buku mengenai karakter. Biasanya setelah rehat sejenak, baik kita maupun si anak sudah lebih tenang dan semua dapat berjalan lebih lancar. In conclusion, It's okay to take a break if you or they need it.

7. Temukan kekuatan dan kelemahan si anak. 
Biasanya jika kita menganalisa kekuatan dan kelemahan seseorang, kita akan berfokus pada kelemahannya saja. Ada juga sih yang sebaliknya, kekuatannya diperhatikan, kelemahannya dibiarkan. Saat saya mengajar pun banyak sekali anak-anak yang kuat di satu bidang, tetapi lemah di bidang lain. Bagi saya, penting bagi kita mengetahui kekuatan dan kelemahan anak. Kekuatan atau kelebihan anak dapat dipertajam, tetapi kelemahan atau kekurangannya diperkuat. Saat memperkuat kekurangannya, karena kita tahu itu adalah kelemahannya, tentunya kita tidak perlu menggunakan emosi :)

8. Temukan mentor atau komunitas untuk berbagi. 
Kami bersyukur kami mengenal homeschooling dari teman-teman, yang sudah seperti kakak kami sendiri. Kami melihat dari mulai anak-anaknya masih kecil hingga saat si anak sudah kuliah dan bahkan bekerja. Melihat perjuangan mereka untuk tetap konsisten dalam mendidik anak-anak mereka (anak-anaknya homeschool dari TK sampai SMA), walaupun dengan tangisan dan kegalauan di tengah-tengahnya, membuat kami bersyukur mempunyai mentor yang baik. Bukan hanya karena kami melihat kami mempunyai nilai-nilai dan prinsip yang sama, tetapi kami melihat prinsip-prinsip itu bukan hanya teori tetapi juga dipraktekan dengan tepat (bukan dipraktekkan dengan cara yang berlawanan). Kami boleh melihat anak-anak mereka tumbuh dewasa dengan karakter yang baik dari sejak mereka kecil.
Dan tentunya berjalan seorang diri tentu tidak menyenangkan. Kita tidak dapat menjalani ini sendiri dan memang kita tidak harus melakukan ini sendiri. Dengan adanya komunitas, kita mempunyai teman untuk berbagi, teman untuk mengingatkan kita, teman untuk menangis dan tertawa bersama, teman yang dapat ditanya ini itu dan dicontoh, mentor yang dapat diteladani, mentor yang dapat memberi nasihat, dan sebagainya. Selain itu, komunitas ini dapat menjadi media bagi anak-anak kita bersosialisasi, baik secara vertikal dan horisontal.

Sebagai penutup artikel ini, sebagai homeschooler terkadang kita kuatir akan banyak hal. Kita kuatir apakah anak-anak kita mampu bertahan di dunia nyata. Kita kuatir kita tidak memberikan yang terbaik bagi mereka. Kita kuatir penilaian orang di luar akan anak-anak kita. Kita kuatir mereka tidak menikmati ini dan itu. Dan sejuta kekuatiran dalam pikiran kita. Itu wajar, karena setiap orang tua ingin memberi yang terbaik untuk anak-anaknya. Tetapi satu hal yang paling harus dimiliki dalam homeschool adalah kita sebagai orang tua content dengan apa yang ada dan fokus dengan panggilan kita. Saat kita content, kita dapat melakukan segala hal dengan lebih tenang dan menikmati setiap proses yang ada, walau kadang ada tangisan di tengah-tengah proses tersebut. Dan untuk menjadi content ini, tidak ada cara lain selain mencari Sumber yang bisa membuat kita menjadi content :)

Kamis, 26 Januari 2017

Cooking: Membuat Cookies, Review tentang Chesa

Masih dalam rangka mengisi liburan akhir tahun kemarin, Duo Lynns sudah memasukkan membuat cookies ke dalam agenda mereka. Apalagi kakak mendapatkan hadiah cookies cutter waktu kakak ulang tahun. Mereka kepingin sekali menggunakan cetakannya. Ditambah lagi oma, adik opa, memberikan tepung premiks cepat saji untuk cookies. Hal ini membuat Duo Lynns tambah bersemangat. 
Cookies cutter yang unyu-unyu
Saya dan si papa sebetulnya kurang suka membuat kue dengan menggunakan tepung premiks. Kami lebih suka menyiapkan sendiri karena dapat mengurangi penggunaan gula. Kalau premiks kan kita tidak dapat mengurangi bahannya. Tetapi berhubung sudah ada, maka kami menggunakan tepung ini. Sekalian uji coba, karena saya baru kali ini dengar tepung premiks Chesa. Mungkin saya yang kurang gaul dengan premiks instan ini. Yang terlintas di pikiran saya, Bogasari kan terkenal sebagai produsen bahan makanan. Harusnya sih ok.

Namanya juga premiks, maka penggunaannya pun gampang. Kami tinggal mengikuti petunjuk yang ada untuk membentuk adonan. Setelah adonan terbentuk, kami membagi menjadi dua dan papa meratakannya sehingga menjadi lempengan. Setelah itu kami memasukkan ke dalam freezer untuk sementara. Tujuannya supaya lebih mudah saat dicetak. 
Chesa cookies
Setelah beberapa saat, kami keluarkan adonan dari freezer. Dimulailah acara pencetakan dengan berbagai bentuk cetakan. Lalu kami mulai memanggangnya. 
Cookies hasil cetakan Duo Lynns
Bagaimana hasilnya? Ternyata rasanya tidak terlalu manis. Tentu saja choco chips-nya manis, tetapi bahan cookies-nya tidak terlalu manis. Pas deh kalau dimakan. Duo Lynns langsung bilang mau simpan sebagian untuk dibagi dengan teman-teman homeschool-nya besok, rencananya besok kami mau playdate.

Apakah kesimpulan aktivitas ini? Untuk mama-mama yang tidak begitu suka membuat kue, tepung premiks cepat saji boleh menjadi alternatif untuk membuat kue. Selain tidak usah repot untuk menyiapkannya, pembuatannya pun cepat. Apalagi membuat kue bersama anak dapat menambah bonding antara anak dan orang tua, walau kadang disertai kepanikan. Bagaimana dengan kami? Kami masih lebih suka membuat sendiri, tetapi rasa chesa boleh juga :) 

Senin, 16 Januari 2017

Banana Cupcake


Masih dalam rangka mengisi liburan kami. List berikut yang harus dikerjakan adalah menghias cupcake? Padahal kalau boleh jujur, saya paling tidak suka makan cup cake. Buat saya, cupcake, apalagi yang pakai fondant, merupakan makanan yang bagus untuk dilihat tetapi creamnya biasanya kemanisan dan cake-nya belum tentu enak untuk dimakan. Berhubung ada anak kecil yang kemarin menghias cupcake, akhirnya kami membuat cupcake di tengah liburan kami.

Bahan untuk cupcake:
2 buah pisang yang matang, haluskan
3 telur
1 sendok teh vanilla extract
2/3 cup (145 gram) butter
1/2 cup (125 gram) gula
1 1/4 cup tepung
1 sendok teh baking powder

Bahan untuk buttercream:
1 cup (225 gram) unsalted butter
300 gram gula halus
1/2 sendok teh vanilla extract
1 sendok teh selai strawberry
Pewarna makanan berwarna merah muda

Bahan untuk dekorasi:
choco ball
coco crunch
jelly warna-warni
Hiasan kue (kebetulan kami punya hiasan kue balerina)

Cara membuat cupcake:
1. Panaskan oven pada suhu 180 Celcius. Lalu tempatkan kertas cupcake diatas loyang muffin. (saya menggunakan loyang muffin isi 6, karena cuma ada ini di rumah, seharusnya isi 12).
2. Masukkan telur, vanilla, butter, dan gula ke dalam wadah dan aduk dengan mixer hingga rata dan mengembang.
3. Setelah itu masukkan pisang yang tadi sudah dihaluskan, kemudia aduk kembali hingga semua tercampur dengan sempurna.
4. Masukkan tepung sedikit demi sedikit, aduk dengan perlahan hingga semuanya tercampur.
5. Letakkan adonan tersebut ke dalam kertas cupcake. Panggang selama 20 -25 menit hingga berwarna kuning keemasan. Setelah itu keluarkan dari oven, dinginkan selama 5 menit, kemudian keluarkan dari loyangnya.

Cara membuat buttercream:
1. Letakkan butter ke dalam wadah, kemudian aduk hingga halus.
2. Masukkan gula halus sedikit demi sedikit, aduk hingga rata.
3. Masukkan vanilla dan selai strawberry, kemudian aduk kembali.

Waktu kemarin, saya membagi waktu pembuatannya. Di siang hari membuat cupcake dan di sore hari kami menghias cupcake tersebut. Dan berhubung tidak ada spuit, maka kami hanya memasukkan buttercream ke dalam plastik dan sedikit membolongi plastik tersebut diujungnya. Tentunya aktivitas menghias cupcake ini disenangi Duo Lynns. Walau masih amatir, tetapi mamanya mereka bersemangat.

Bagaimana rasa cupcakenya? Ternyata resep yang ini enak juga. Cupcakenya tidak terlalu manis, buttercream-nya pun bisa dimakan. Boleh juga nih kapan-kapan membuat ini lagi ;)

Selasa, 10 Januari 2017

Review Professor B Math

Matematika merupakan materi yang menjadi momok bagi banyak orang. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, mengajarkan matematika merupakan hal yang luar biasa. Tentunya dengan memilih bahan yang tepat dan sesuai dengan kita, mengajar matematika pun mejadi lebih mudah. 

Saat pertama kali belajar matematika, kami menggunakan math dari CCC. Sedianya bahan math dari CCC ini mencakup materi kelas 1 SD. Kami pun berpikir, jika materi CCC sudah selesai, kurikulum matematika yang mana yang akan kami pakai. Setelah melihat dan membandingkan berbagai kurikulum dan materi, akhirnya kami memilih menggunakan Proffesor B Math. 

Prof B Math merupakan buku matematika yang lebih memfokuskan pada ilmu aritmetik atau ilmu hitung. Buku ini ditulis oleh Professor Everard Barrett. Menurut beliau, setiap anak diciptakan dengan dahsyat dan ajaib dengan mental computer yang kuat. Tuhan mendisain otak kita untuk menyerap setiap cerita. Dengan demikian, setiap konten aritmetik jika dipresentasikan seperti cerita yang berkesinambungan pasti dapat dipahami dengan baik oleh anak-anak. Jika cerita tersebut dimengerti dengan baik, dan ditambah latihan soal, anak-anak dapat menyelesaikan 9 tahun pembelajaran aritmetika dalam 3 tahun. 

Dari website-nya, Prof B menyediakan dua macam format. Yang pertama adalah Mathematics Power Learning for Children books 1, 2, dan 3 dengan buku-buku soalnya. Setiap buku mencakup materi 3 level pembelajaran tetapi untuk menyelesaikannya hanya membutuhkan waktu hampir 1 tahun.
Book 1 (K - grade 2)
- Addition/Subtraction facts
- Counting to one hundred
- Lower addition and subtraction
- Higher addition and subtraction
- Place value fractional parts and order

Book 2 (grade 3 - grade 5)
- Multiplication/division facts and problem solving
- Introduction to fractions
- Fractional equivalence
- Addition/subtraction fractions

Book 3 (grade 6 - grade 8)
-Multiplication/division of fractions
- Decimals
- Percents
Power Learning for Children book 1
Format yang kedua adalah Instant Master Teacher E-Learning yang dilengkapi dengan program buku soalnya. Levelnya masih sama dengan format yang sebelumnya, tetapi penyampaiannya dalam bentuk presentasi power point. Kalau dalam bentuk buku hanya aritmetika saja, dalam bentuk E-Learning ini ditambahkan juga pelajaran tentang waktu dan uang (secara hitungan dollar). 
E-learning level 1
Kelebihan dari menggunakan Prof B:
+ Prof B membuat pelajaran aritmetik terlihat berkesinambungan dan alur dari bukunya seperti suatu cerita. Hal ini membuat anak-anak merangkai informasi yang didapat dengan baik.
+ Konsep tell the truth dalam pembelajaran matematika membuat anak mengerti mengapa kita melakukan perhitungan terhadap suatu angka. Misal saat melakukan penambahan, anak-anak akan mengerti kenapa kita menyimpan ke angka di depannya. Dan saat melakukan pengurangan, anak-anak akan mengerti kenapa kita dapat meminjam dari ratusan.
+ Dengan melakukan penghitungan sesuai cara mereka, tanpa kita sadari anak-anak dapat menghitung angka yang besar dengan cepat. 
+ Konsep place value yang jelas dan membantu dalam mempelajari perhitungan.
+ Perhitungan yang melibatkan angka sampai triliun membuat anak cepat menguasai konsep.
+ Karena konsep pembelajaran tidak berdasarkan tingkat kelas, tetapi pada pengelompokan materi pembelajaran, anak-anak yang memerlukan pengulangan tidak akan merasa tertinggal atau mengerjakan soal-soal di level yang lebih rendah. 
+ Karena di buku tersebut ada tulisan apa yang harus kita katakan dan lakukan, maka orang tua yang tidak merasa yakin dengan kemampuan mereka dalam mengajar matematika dapat menggunakannya.
+ Pendekatan perhitungan yang berbeda dengan cara tradisional membantu anak-anak mengerti konsep dengan lebih baik.  

Kekurangannya:
- Tulisan yang hitam putih yang bagi sebagian orang bisa jadi membuat matematika tambah menyeramkan. 
- Angka yang digunakan dalam penghitungan langsung sampai triliun. Jadi tidak dimulai dari penjumlahan ratusan seperti yang kita pelajari saat masih SD. Tentunya akan membuat kita kaget. Dan banyak yang menyerah dengan sistem Prof B.
- Karena Prof B hanya mencakup aritmetika (hitung-hitungan), maka kita harus mencari buku tambahan yang lain untuk melengkapi standard kurikulum yang ada.
- Orang tua harus mau meluangkan waktu untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum mengajar sehingga mengerti flow dari materi yang mau dijelaskan. Tetapi begitu mengerti, orang tua akan mudah untuk mengajarinya karena sistem pengajarannya berpola.

Kenapa kami memilih Prof B?
Diawali dengan mengajar dengan menggunakan buku The Power of Algebra (lanjutan buku-buku diatas) saat hamil kakak, saya melihat pendekatan yang digunakan Prof B dalam hal yang aljabar cukup baik. Selama ini dipandangan saya, buku matematika dari Amerika biasanya tidak sesusah buku Asia. Tetapi melihat soal-soal yang ada, rasanya sama tingkat kesulitannya. Setelah itu saya jadi penasaran dengan buku yang untuk tingkat SD. Karena melihat pendekatannya dan quote dari Prof B: 
To Him who keep me from falling
ini membuat saya suka dengan buku ini. Mengapa? Karena saya berpikir berapa banyak scientist yang tidak percaya Tuhan karena merasa dia pintar dan menguasai banyak hal. Padahal bagi saya, semakin saya belajar matematika, banyak hal yang membuat bahwa tidak ada yang pasti selain Tuhan saja. Dengan demikian penting bagi kita untuk tetap meletakkan Tuhan sebagai dasar dari pembelajaran kita. 
Power Algebra
Selain itu, walau hanya mencakup ilmu aritmetik, bagi saya penting meletakkan dasar bagi ilmu ini. Banyak anak yang melakukan kesalahan saat menghitung. Jadi kalau dasar yang ini sudah kuat, tentu saja lebih mudah bagi si anak mempelajari yang lain. Walau tentu saja ketelitian masih menjadi kunci dalam mengerjakan matematika.

Bagaimana dengan kendala yang ada? Bagi saya, yang menjadi kendala kadang bukan anaknya tetapi orang tuanya. Orang tua harus rela mengikuti pola pembelajaran yang pendekatannya berbeda dengan cara kita belajar saat SD. Karena saya suka dengan angka, diberikan pendekatan seperti ini merupakan hal yang menarik bagi saya. Tetapi banyak orang tua yang bingung dan akhirnya berhenti menggunakan buku ini.

Untuk masalah hitam putih, karena sudah terbiasa dengan CCC yang hitam putih, anak-anak tidak ada masalah. Sedangkan untuk pelengkap materi lainnya, seperti waktu, uang, berat dan panjang, saya menggunakan LKS matematika dengan kurikulum nasional. Jadi kami habiskan buku 1, lalu menggunakan LKS yang ada sampai materi kelas 2. Setelah itu kami sempat mengulang materi buku 1, supaya tidak terlalu cepat masuk materi buku 2. Dan bulan lalu kami mulai menggunakan buku 2. Tentunya secara bertahap, bahkan satu latihan soal saya bagi menjadi dua, dengan tujuan tidak terlalu mengejutkan bagi kakak.

Bagaimana dengan tools? Walau buku Prof B tidak memerlukan banyak tools, kami tetap menggunakan beberapa alat bantu, sesuai dengan materi yang sedang diajarkan. Bagi kakak pun lebih seru dengan adanya alat bantu.

Dengan adanya dua pilihan dalam bentuk buku atau e-learning, kami memilih menggunakan materi dalam bentuk buku. Selain masalah budget, dengan memilih yang dalam bentuk buku, anak-anak tidak terpaku dengan komputer dan elektronik lainnya.

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai harga dan sebagainya, bisa langsung dibuka di website resmi mereka http://profb.com/. Selain itu dapat juga dilihat di website lain seperti http://www.joycenter.on.ca/profb2.htm.

Kesimpulannya adalah kami senang memakai Prof B. Tetapi memang kurikulum akan kembali lagi kepada pertimbangan masing-masing keluarga. Sama seperti homeschool, jangan memilih kurikulum karena komunitas kita memilih kurikulum tersebut tetapi jangan juga takut mencoba jika kita merasa kurikulum atau buku tersebut bagus.

sumber foto: profb.com

Selasa, 03 Januari 2017

Aktivitas Liburan: Menghias Topi dan Kolase dengan Biji-Bijian

Masih dalam rangka memasuki tahun baru, kali ini kakak berinisiatif meminta liburan. Kalau dulu dia tidak mengerti arti liburan, sekarang dia sudah mengerti dengan baik apa arti liburan. Karena papa tidak dapat liburan, maka liburan akhir tahun kali ini diisi dengan sejuta aktivitas di rumah (lebay dikit boleh dong). Kakak dan adik membuat list things to do. Argumen mereka adalah this is holiday and we can make a lot of things. Well, anak-anak liburan tetapi mamanya dikerjain.

List pertama mereka adalah menghias party hat. Sebetulnya ini adalah aktivitas mereka di sekolah minggu mereka. Karena satu dan lain hal, mereka hanya dapat bahannya dan tidak sempat membuat di gereja. Jadinya dibawa pulanglah aktivitas ini. Bahan apa saja yang diperlukan?
1. Kertas bermotif
2. Kertas krep
3. Pom-pom
4. Lem atau double tape.
5. Karet atau tali
6. Pembolong kertas

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut/
1. Guntinglah kertas berpola dalam bentuk seperempat lingkaran.
2. Lipat mengelilingi kepala sehingga berbentuk topi pesta dan tempel dengan menggunakan double tape.
3. Hiaslah topi dengan menggunakan pom-pom yang ada dan kertas krep.
4. Bolongi topi di bagian bawah dengan pembolong kertas.
5. Masukkan tali dari bagian yang bolong tersebut dan ikat sehingga saat dipakai topi tidak mudah copot.
Party Hat Duo Lynns
List kedua mereka adalah membuat kolase dengan biji-bijian. Apa sih kolase? Kolase adalah kegiatan membuat gambar suatu benda dengan menggunakan media seperti kertas, kain perca, biji-bijian, dan sebagainya. Seingat saya, waktu saya SD kelas 3 saya pernah mendapat tugas membuat kolase dengan menggunakan kulit kacang. Butuh kesabaran tingkat tinggi memang =D

Apa saja sih manfaat melakukan kolase? Menurut kami, kolase bermanfaat untuk melatih motorik halus anak, meningkatkan kreativitas, melatih konsentrasi, melatih ketekunan dan kesabaran, serta mengasah kecerdasan spasial. Tentunya kegiatan ini akan sangat menantang untuk si adik. Berbeda dengan kakak yang senang main puzzle yang membutuhkan kesabaran, adik kurang sabar dalam membuat sesuatu.

Bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat kolase?
1. Media alas, dapat menggunakan kertas tebal ataupun kardus ataupun triplek. Intinya media tersebut cukup kuat menahan bahan kolase yang ada.
2. Biji-bijian seperti kacang hijau, jagung, kacang merah, kacang tanah, dan sebagainya. Bisa juga dengan menggunakan kertas berwarna, logam, kulit kerang, monte, dan sebagainya.
3. Lem yang kuat untuk menempelkan biji-bijian ke kertas. Kemarin kami menggunakan lem fox.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.
1. Mintalah anak menggambar sesuatu diatas media alas.
2. Tempelkanlah biji-bijian tersebut diatas media alas dengan menggunakan lem.
3. Tunggu hingga kering.

Bagaimana dengan kolase kami? Kakak dan adik membuat gambar yang mereka inginkan. Setelah selesai membuat gambar, mereka memilih sendiri apa saja yang akan mereka tempel. Kali ini saya menyediakan kacang hijau, jagung, dan kacang merah untuk mereka gunakan. Temanya adalah membuat topi, terserah bentuk topinya seperti apa =P

Di awal pembuatan, Duo Lynns masih menempel satu persatu dengan sabar. Kagum juga saya melihat adik dapat mengerjakan dengan sabar. Setelah jadi, mereka ingin menambahkan bentuk hati di samping topi-topi tersebut. Dan, setelah beberapa saat, jadilah aktivitas kedua kami.
Cowboy hat versi kakak, lengkap dengan hati-hatiannya

Picnic Hat versi adik, juga lengkap dengan hati. 
Dengan kata lain, tema aktivitas kami kali ini adalah topi. Bagaimana tema aktivitas liburan teman-teman?