Selasa, 23 Oktober 2018

Math CCC 101: Cara Menggunakan Math CCC


Setelah membahas tentang Phonics CCC dan gambaran besar cara menggunakan CCC, pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya adalah bagaimana cara menggunakan Math CCC. Memang seperti yang pernah saya katakan, matematika merupakan momok bagi sebagian orang, mungkin karena saat kecil penyampaiannya tidak jelas atau kita memang tidak tektok dengan matematika. Padahal tanpa disadari matematika itu merupakan dasar dari semua ilmu.

Lebih dari sekedar menggunakan matematika untuk menyelesaikan soal-soal yang ada, ketekunan dalam mengerjakan dan memelajari matematika membentuk suatu karakter yang baik. Dari menyederhanakan suatu soal matematika dan kemudian mengerjakannya, anak-anak dibiasakan untuk tidak menunggu masalah besar baru diselesaikan. Dari kesalahan dalam mengerjakan suatu soal, mereka dibiasakan bahwa setiap kesalahan harus diperbaiki. Habit yang baik bukan?

Kembali ke Math CCC, penggunaan matematika ini dirancang berjalan bersamaan dengan penggunaan karakter. Setiap angka, dari 1 sampai 10, diceritakan melalui binatang dan karakter apa yang dapat kita pelajari. Jadi bukan akademis saja yang jalan, tetapi pembentukan karakter.

Saat menggunakan Math CCC, pastinya kita akan merasa bingung dan canggung melihat materi yang diberikan. Memang cara penyampaian matematika yang digunakan di Math CCC berbeda dengan cara yang diberikan saat kita kecil. Math CCC menekankan pentingnya nilai suatu angka (satuan, puluhan, dan ratusan). Selain itu Math CCC berusaha meminimalkan penggunaan jari saat belajar menghitung (kebalikan dari cara waktu kita diajari saat kecil bukan). Anak-anak pun diperkenalkan urutan bilangan sejak awal, bahkan mereka harus mengetahui ’tetangga’ sebelum dan sesudahnya. Dengan demikian anak dapat mengetahui bilangan mana yang lebih besar dan bilangan mana yang lebih kecil.

Yang menarik dari Math CCC adalah mereka memperkenalkan penjumlahan dengan menggunakan keluarga angka. Sebagai contoh, Mrs Two Deer mempunyai dua anak yaitu 2 + 0 dan 1 + 1, dengan nama keluarga 2, sehingga nama lengkap mereka adalan 2 + 0 = 2 dan 1 + 1 = 2. Secara tidak langsung mereka jadi belajar penjumlahan dalam bentuk yang menarik. Bukan untuk dihapalkan, tetapi namanya anak-anak pasti lebih tertarik jika pembelajaran dalam bentuk cerita. Untuk pembuktiannya, supaya nama-nama ini tidak menjadi hapalan, maka anak-anak juga akan diajak untuk membuktikannya dengan menggunakan tools atau alat bantu yang ada.

Lalu saat memperkenalkan pengurangan, anak-anak diperkenalkan bahwa pengurangan merupakan opposite atau lawan dari penjumlahan. Pendekatan seperti ini mempermudah kita nantinya saat mengajari perkalian dan pembagian. Sehingga akhirnya perkalian dan pembagian tidak menjadi hapalan (seperti saat kita masih belajar menghapalkan tabel perkalian), tetapi lebih cepat menangkap konsep.

Namun dalam materi yang kami beli, masih edisi lama, Math CCC dibagi menjadi dua bagian:
1. Math A: mencakup pengenalan angka dari 0 – 100, menghitung angka dua demi dua, menghitung angka lima demi lima, menghitung angka sepuluh demi sepuluh, penjumlahan dan pengurangan angka dari 1 – 10, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, place value mat, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil.
2. Math B: mencakup menulis angka hingga 999, angka tiga demi tiga, menghitung angka empat demi empat, penjumlahan dan pengurangan belasan, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, place value mat, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil, perkenalan tentang waktu, pecahan sederhana, dan uang.
Atas: pengenalan angka dari 1 - 100. Bawah: Place Value Mat
Penggunaan Math CCC untuk anak umur 3 tahun
Saat anak-anak baru berumur tiga tahun, penekanan kami saat menggunakan CCC adalah pada bagian cerita karakter yang ada. Titik berat kami ada pada karakter generosity (Mr. One Penguin), flexibility (Mrs. Two Deer), loyalty (Mrs. Three Bear), dan orderliness (Mr. Four Beaver). Cerita yang menarik mengenai keluarga hewan-hewan ini dengan karakter yang mendukung membuat anak-anak senang mendengarkan cerita tersebut. Saya menceritakan satu kisah selama seminggu, dengan harapan anak-anak menyerap dengan baik karakter tersebut. Setelah keempat karakter tersebut dimengerti dan dapat diaplikasikan dengan baik, kami pun beranjak ke karakter-karakter lainnya.

Selain kisah mengenai karakter tersebut, kami memperkenalkan angka dari 0 hingga 100 dalam bentuk lagu yang kami karang sendiri. Di umur ini juga anak-anak mulai tracing angka. Dan sebagai tambahan, saya memperkenalkan konsep perbandingan (kecil, lebih besar, terbesar) dan konsep logika sederhana melalui kejadian sehari-hari yang ada di rumah. Untuk kegiatan kami saat anak-anak berusia 3 tahun, silakan klik link berikut.
Buku-buku yang digunakan saat 4 tahun
Penggunaan Math CCC untuk anak umur 4 tahun
Saat anak-anak mulai umur 4 tahun, kami pun mulai menggunakan Math A. Di bagian atas buku lesson guide biasanya ada petunjuk berapa lama materi suatu materi harus diselesaikan. Misal materi addition 3+ diselesaikan dalam 5 hari dengan lembar soal sebanyak 10 lembar. Maka saya akan membagi lembar soal menjadi 5 bagian yang berarti satu hari si anak akan mengerjakan 2 lembar.

Penggunaan Math CCC untuk anak umur 5 tahun
Saat anak berusia lima tahun dan sudah menguasai Math A, maka anak dapat lanjut masuk ke Math B. Di Math B anak mulai berkenalan dengan teen atau belasan. Diawali dengan memelajari segala hal yang berhubungan dengan teen, setelah itu anak berkenalan dengan materi tambahan di dalam Math B seperti waktu, mengenal konsep pecahan sederhana, dan uang.
Penjumlahan teen 
Bagi anak yang pertama kali menggunakan CCC saat berumur lima, maka saya menyarankan untuk menggunakan Math A walaupun si anak sudah bisa menghitung sampai dengan 10. Menurut saya, pemaparan konsep di Math A untuk penjumlahan di bawah 10 sangat bagus dan terlebih lagi kita dapat memasukkan kisah karakter. Tentu saja waktu pembahasan suatu materi dapat dipersingkat dan lembar soal perharinya bisa lebih banyak.
Pola addition dan subtraction
Penggunaan Math CCC untuk anak umur 6 tahun
Saat anak berusia enam tahun, si anak dapat menyelesaikan Math B yang belum selesai. Jika si anak sudah menyelesaikan Math B, maka kita dapat memilih kurikulum lain untuk matematika.

Bagi anak yang pertama kali menggunakan CCC saat berumur enam, maka dapat langsung menggunakan Math B asalkan si anak sudah menguasai fakta 1 -1 0. Jika anak belum menguasai, saya menyarankan untuk mengulang dari awal sehingga anak mendapatkan konsep penjumlahan yang benar.

Place value mat
Salah satu sarana yang digunakan saat memelajari nilai suatu bilangan adalah place value mat. Anak diperkenalkan dengan tiga rumah, yaitu rumah satuan (ones), puluhan (tens), dan ratusan (hundreds). Kami menggunakan stick pensil untuk menjelaskan tentang rumah-rumah ini. Ada pensil satuan dengan huruf O sebagai lambang dari ones atau satuan dan pensil yang dikelompokkan per 10 dan diikat lalu ditulis T sebagai lambang dari tens atau puluhan. Kami membuat rumah untuk satuan dan puluhan. Rumah untuk satuan dibuat kecil dan hanya pas untuk 9 stick satuan. Sedangkan rumah puluhan dibuat hanya dapat menampung 9 ikat T atau puluhan. Tujuannya supaya anak-anak tahu bahwa di rumah satuan hanya dapat menampung maksimal 9. Lebih dari 9, berarti si stick ini harus pindah ke rumah yang lebih besar yaitu rumah puluhan. Tetapi untuk datang ke rumah puluhan, mereka harus dalam satu ikatan yang berisi 10 stick satuan atau 1 ten (puluhan).
Rumah untuk Tens dan Ones
Kiri stick  per 10. Kanan: stick satuan.
Daily drill
Seperti saat memelajari Phonics, dalam Math juga ada yang namanya daily drill. Daily drill berarti setiap harinya si anak harus memelajari ini dengan singkat, tidak lebih dari 15 menit. Kita cukup mengikuti instruksi yang ada, tanpa perlu membuat pengembangan sendiri.

Alat Bantu
Seperti istilah yang berkata the more the merrier, maka semakin banyak alat bantu dapat membuat anak-anak belajar dengan lebih semangat. Alat bantu yang dapat digunakan adalah cubes, stick, dan anak-anak dari suatu angka. Tujuan alat bantu ini digunakan adalah supaya anak-anak dapat memahami konsep melalui sesuatu yang terlihat langsung.
Atas: addition family. Bawah: number line
Saat anak belajar addition family dengan mengisi kamar dari rumah si angka, mereka akan tahu bahwa 2 + 0 dan 1 + 1 adalah 2. Ini akan menjadi hapalan semata jika mereka tidak tahu dari mana asalnya. Dengan alat bantu seperti cube atau stick, anak dapat mengerti bahwa jika kita punya 1 stick di tangan kanan dan 1 stick di tangan kiri maka saat digabungkan, keduanya menjadi 2.
Anak-anak Mrs. Two Deer
Selain itu dengan adanya alat bantu, anak-anak tidak mencongak atau menghitung dengan menggunakan jari. Kenapa sih tidak boleh pakai jari? Toh saat kita masih kecil juga ibu guru kita mengajar dengan menggunakan jari (bahkan sebagian anak ngotot menggunakan jari kaki juga). Sebetulnya alat bantu diberikan untuk memudahkan anak dalam membayangkan suatu persoalan. Sejalan dengan berjalannya waktu, saat si anak sudah mengerti, maka alat bantu sudah tidak perlu digunakan lagi. Namun kecenderungan beberapa anak, mereka akan nyaman dengan alat bantu dan akhirnya bergantung dengan alat bantu. Nah, karena jari mereka akan selalu ada bersama mereka, akibatnya mereka akan mencongak dengan menggunakan jari. Kalau dengan alat bantu lainnya, lambat laun anak akan belajar untuk tidak menggunakan alat bantu tersebut.
Kisah tentang loyalty
Rutin dalam pembelajaran
Pertanyaan yang sering diberikan kepada saya adalah bagaimana tentang rutin dalam penggunaan Math CCC. Sama seperti Phonics yang dimulai dengan penjelasan tentang Bible story suatu huruf, kami pun memulai dengan penjelasan cerita mengenai si angka atau karakter yang dipelajari. Setelah selesai bercerita, maka kami pun masuk ke daily drill kurang lebih 15 menit. Setelah selesai kami pun masuk ke konsep dan basic skill yang ada di buku.

Penggunaan Math CCC dalam Edisi Terbaru
Dalam CCC yang terbaru, pembelajaran matematika dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Math A: pengenalan karakter yang berhubungan dengan angka 1 – 10, konsep angka 0 – 10, pengenalan keluarga penjumlahan, pengenalan angka dalam garis bilangan (number line), urutan angka dari 1 – 10, membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil dan menghitung dari 1 hingga 100.
2. Math B: konsep bilangan 1 – 20, pengenalan angka sampai 100, menghitung angka dua demi dua, menghitung angka lima demi lima, menghitung angka sepuluh demi sepuluh, penjumlahan dan pengurangan angka dari 1 – 10, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil. Di Math B juga diperkenalkan waktu, pecahan sederhana, dan uang.
3. Math C: mencakup menulis angka hingga 999, angka tiga demi tiga, menghitung angka empat demi empat, penjumlahan dan pengurangan belasan, menyelesaikan soal cerita sederhana dengan pemodelan, place value mat, mengetahui angka sesudah atau sebelum suatu angka, dan membandingkan angka mana yang lebih besar atau lebih kecil.

Idealnya Math A akan digunakan saat anak berusia 4 tahun, Math B saat anak berusia 5 tahun, dan Math C saat anak berusia 6 tahun. Memang dirasa terbalik jika membandingkannya dengan kurikulum di Indonesia, karena anak saat TK A dikejar sudah dapat menghitung sampai 20, walaupun saat SD mungkin si anak baru dapat memahami waktu dan pecahan.

Kendala saat menggunakan Math CCC
Banyak yang berpikir bahwa kendala menggunakan Math CCC adalah karena dalam bahasa Inggris dan pelajaran Matematika yang kurang disenangi banyak orang. Tetapi ini bukan kendala bagi kami.

Kendala terbesar bagi kami adalah terkadang kita merasa cara yang ada rumit dan akhirnya kita merasa lebih nyaman dengan cara yang kita dapatkan saat kecil. Akibatnya si anak tidak mendapatkan materi dengan maksimal. Kata kunci dari menggunakan Math CCC adalah merelakan hati untuk memelajari materi yang ada. Saat kita dapat memahami, maka kita dapat mengerti konsep dengan baik.

Seringkali karena kita tidak mau mencoba memahami konsep yang ada, kita akan merasa konsep ini aneh dan lebih enak konsep yang kita gunakan saat kita belajar dulu. Akibatnya seluruh materi yang harus disampaikan tidak tersampaikan dengan baik. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk merelakan hati dan waktu kita demi memahami konsep yang akan diberikan.

Kendala berikutnya terkadang kita lupa bahwa setiap anak itu unik. Dan untuk keunikannya itu, kita harus dapat menjadi kreatif dalam menyampaikan konsep yang ada sesuai dengan cara si anak belajar. Saat kita sudah mencoba dan anak belum dapat memahami, kita harus mencari cara lain untuk menyampaikan pelajaran dan konsep tersebut. Misal saat belajar penjumlahan, saya membuat flashcard penjumlahan. Lalu saya minta kakak atau adik untuk mengantarkan anak-anak si angka ini untuk pulang ke rumah. Atau saat belajar menghitung two by two, saya mengajak si adik melompati dua kotak demi dua kotak. Jadi lebih menarik untuk si anak bukan.

Bagaimana jika si anak belum bisa juga? Sebetulnya dalam belajar matematika, begitu seseorang menangkap konsep, ia pasti dapat mengerjakan soal. Namun jika konsep tidak ditangkap juga, maka latihan soal akan membantu seseorang untuk mendapat konsepnya (cara ini digunakan oleh beberapa tempat les matematika yang terkenal). Jadi untuk membantu anak menangkap konsepnya, lakukan saja drilling latihan soal setiap hari sampai si anak menguasainya. Pasti akan ada keluhan dan terkadang ketakutan si anak karena belum dapat menyelesaikannya. Namun jika kita terus menyemangatinya, saat si anak berhasil mengerjakan soal, kita dapat berkata, ”Tuh kan, ternyata tidak susah kan. Kamu bisa juga kan buatnya.”
Drilling yang dapat digunakan.
Satu hal yang harus kita ingat, karena setiap anak berbeda, maka pembelajaran matematika bukanlah bertujuan untuk membuat anak ahli matematika. Untuk anak yang memang kemampuan akademisnya bagus, kita dapat menambahkan konsep-konsep baru. Tetapi untuk anak yang memang kemampuannya pas-pasan, tujuan pembelajaran adalah agar kemampuan dasar si anak terpenuhi. Kan tidak lucu si anak tidak dapat menjumlahkan angka sampai si anak besar.

Apakah memenuhi kemampuan dasar si anak tersebut visible (secara kita kan bukan guru dan anak kita belajar sama kita)? Tentu saja visible. Saat di sekolah, jika tidak mencapai nilai minimal, maka si anak akan mengikuti remedial. Namun jika anak masih belum dapat memahami juga, si anak mau tidak mau harus mengikuti flow yang ada. Pelajaran harus maju dan akibatnya si anak tidak akan dapat lanjut ke materi selanjutnya karena kemampuan dasar mereka masih kacau.

Karena homeschool, kita ada kebebasan untuk mengulang bahan yang ada. Jika kita belum merasa penjumlahan si anak mantab, maka kita dapat mengulang sampai mantab baru masuk pengurangan. Dan hal ini mungkin dibandingkan saat anak di sekolah. Memang lebih lama, tetapi fondasi si anak akan lebih kuat.

Sebagai penutup, Math CCC menitikberatkan pembelajaran sesuai dengan kebenaran firman Tuhan dan pengembangan karakter. Saat dunia menganggap bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan Firman Tuhan, Math CCC menunjukkan bahwa Tuhanlah sumber dari segala ilmu, termasuk matematika. Untuk menggunakannya, kita harus mau untuk merubah pola pikir kita dan mencoba memahami metode pembelajaran yang ditawarkan oleh Math CCC. Saat kita membuka hati dan pikiran kita, maka kita pun akan dengan mudah menjelaskannya kepada anak-anak (walau bukan berarti anak-anak akan dengan mudah menangkap apa yang kita jelaskan). Dan jadilah kreatif saat menyampaikan materi ini untuk memfasilitasi keunikan belajar anak yang berbeda-beda.


Semangat moms ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar