Minggu, 26 April 2020

When Everything Must Be from Home


Sudah hampir dua bulan ini masyarakat di Jakarta dipaksa menikmati yang namanya ‘Home Sweet Home’. Ya, dengan adanya pandemi covid-19, hampir semua kegiatan dilakukan di rumah, termasuk juga yang namanya belajar di rumah. Anak-anak yang biasanya pagi-pagi sudah diantar ke sekolah dan baru pulang hampir sore, atau bahkan malam karena banyak kegiatan setelah sekolah, sekarang dari pagi sampai malam ada di rumah.

Sebagian teman berkata kepada kami tentu kami sudah biasa saja dengan situasi semua ada di rumah. Memang karena anak-anak homeschooling, lalu papa bekerja di rumah, kami terbiasa semua ada di rumah. Tetapi tentu saja kondisi seperti ini sangat tidak nyaman bagi kami. Kami pun memaklumi uneg-uneg teman-teman yang ada.

Beberapa teman pun bercerita bahwa mereka sudah mau meledak setiap hari karena dipusingkan dengan tugas-tugas yang diberikan guru kepada anaknya. Istilahnya dipaksa homeschooling dengan tuntutan yang banyak. Belum lagi harus online untuk meet up dengan guru dan teman-temannya. Bukan hanya kuota, tetapi orang tua harus jago untuk set up dengan berbagai macam platform meeting. Tentunya hal ini bukan hal yang mudah.

Bagaimana dengan mama papa yang biasanya kerja, lalu sekarang harus kerja di rumah? Mereka pun pusing untuk membagi waktu karena ada di rumah dan juga harus rapat secara online dengan klien. Belum lagi kalau anaknya masih kecil-kecil, yang menyangka hari ini papa libur sehingga bisa bermain dengan si kecil.

Memang waktu-waktu ini bukanlah waktu yang mudah bagi siapapun. Dari segi finansial, banyak hal yang harus diketatkan. Dari segi hubungan dalam keluarga, karena setiap hari 4L (lu lagi lu lagi), malah gesekan jadi lebih sering dan akibatnya gesekan dan tuntutan setiap orang terhadap anggota keluarga yang lain menjadi meningkat. Tidak heran miskomunikasi lebih sering terjadi saat pandemi ini.

Kalau boleh dimisalkan, situasi yang tidak menentu ini dapat diibaratkan seperti kita sedang berlari marathon. Kita butuh persiapan dan stamina yang lebih karena kita belum tahu kapan akan selesai, apalagi jika melihat sebagian masyarakat seakan menyepelekan peraturan-peraturan yang diberikan pemerintah. Jadi kalau diawal saja bawaannya sudah stress, lelah, dan senewen, bisa-bisa kita sakit bukan karena covid, tetapi karena berada di dalam rumah terus.

Bagaimana cara menyiasati situasi yang mengharuskan semua di rumah dan semua dari rumah ini? Bagaimana caranya agar rumah betul-betul terasa sweet saat kita manis-manis di dalam rumah? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan supaya kita tidak burn out dengan situasi yang ada.

1. Komunikasikan segala hal dengan semua anggota keluarga.
Komunikasi adalah kunci dari segala hal. Seringkali kita, terutama mamak-mamak, merasa pasangan kita harusnya tahu maunya kita. Tapi kita lupa, kita menikah dengan pria, yang lebih sering menggunakan logika daripada perasaan. Oleh sebab itu, komunikasikan dengan pasangan mengenai kesulitan-kesulitan yang ada. Buat kesepakatan bersama dan setelah itu komunikasikan dengan anak-anak dan anggota keluarga lainnya.

2. Libatkan anak-anak, termasuk urusan rumah tangga.
Sebagai orang tua, terkadang kita merasa anak-anak tidak perlu tahu banyak hal. Akibatnya kita dapat merasa burn out dengan keadaan yang ada. Apalagi kalau yang tidak ada asisten rumah tangga, si mama akan merasa lelah dengan semua kerjaan rumah tangga. Ada baiknya anak-anak pun diberikan tanggung jawab dan juga dilibatkan dalam urusan rumah tangga. Dan jika orang tua bekerja, maka anak-anak pun dapat diberi pengertian bahwa sama seperti mereka punya worksheet atau pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, papa atau mama juga mempunyai worksheet yang harus diselesaikan.

3. Sesuaikan ekspektasi dengan kenyataan.
Rasa lelah yang dirasakan kita lebih sering karena poin ketiga ini. Sama seperti yang sering saya katakan mengenai ekspektasi saat homeschool, saat semua orang di rumah pun kita harus menyesuaikan ekspektasi dengan kenyataan. Hal ini memang berat bagi orang-orang yang perfeksionis, seperti saya misalnya. Tetapi kalau kita tidak melakukannya, maka kita akan lelah duluan. Jadi, alih-alih membuat ekspektasi yang agak gak menapak, lebih baik membuat target sesuai dengan kenyataan yang ada.

4. Berikan ruang untuk menerima hal yang tidak sesuai dengan rencana yang ada.
Bagi si pemikir dan si perencana, hal yang tidak sesuai dengan perencanaan adalah hal yang tidak menyenangkan. Bahkan saat kita sudah menyesuaikan ekspektasi dengan kenyataan, seringkali ada hal yang tidak sesuai dengan rencana yang sudah ada. Saat-saat seperti inilah dibutuhkan kebesaran hati untuk menerima keadaan yang ada dan belajar fleksibel dengan hal tersebut. Bagi kami, hal ini penting. Apalagi dengan adanya bayi. Walaupun kami terbiasa menerapkan rutin dalam pengasuhan anak sejak bayi, namun karena satu dan lain hal, rencana yang sudah disiapkan bisa berubah karena si bayi. Saya sendiri butuh waktu untuk menerima dan belajar fleksibel dan segera menyesuaikan dengan keadaan yang ada.

5. Selesaikan konflik atau sengketa yang ada sesegera mungkin.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya semua orang di rumah, gesekan akan lebih sering terjadi, baik antara ayah dengan ibu, ayah dengan anak, ibu dengan anak, ataupun anak dengan anak. Kami memilih untuk segera menyelesaikan konflik yang ada sesegera mungkin agar suasana menjadi lebih kondusif. Mengapa? Karena akan canggung jika ada perang dingin dalam satu rumah, terutama dalam jangka waktu yang lama. Bagaimana jika konfliknya karena si anak yang berulah atau kalau dalam bahasa Jawa dibilang ngerengkel? Kami biasanya mencoba memberikan pengertian. Untuk ini pun kadang harus gantian dengan pasangan, supaya kita tidak keburu meledak karena emosi dengan anak.
Well, sometimes it's true 
6. Sediakan waktu untuk memberi reward pada diri sendiri dan keluarga.
Setelah sibuk seharian dengan urusan rumah, sekolah, pekerjaan, dan teman-temannya, adalah hal yang wajar bagi kita untuk mendapatkan reward. Karena ibu merupakan barometer dalam rumah tangga, maka kewarasan itu sangat penting. Jadi boleh kok mencolong-colong waktu untuk menikmati kopi (dalgona juga boleh), makan mie instan (mie instan mentah dikremes juga boleh), chatting sebentar, baca berita, dan apapun juga yang membuat kita merasa relaks. Tapi jangan kebanyakan memberi reward pada diri sendiri ya, nanti kerjaan tidak selesai-selesai.

Selain itu, karena pandemi ini membuat kita tidak dapat keluar rumah, mungkin kita sebagai orang tua dapat mengadakan kegiatan bersama untuk membuat anak merasa senang ada di rumah. Tidak harus yang wah, misalkan membuat kue bersama, nonton bersama sambil makan popcorn, tidur bersama di hari-hari tertentu, dan sebagainya.
Aktivitas anak-anak 
7. Berdoa dan mengucap syukur untuk keadaan yang ada.
Walaupun berada di urutan ketujuh, tetapi ini yang harus dan wajib ada. Dalam menghadapi keadaan yang tidak menentu ini, hanya Tuhan yang dapat menjadi jawaban atas setiap persoalan kita. Doa dan ucapan syukur yang dinaikkan bersama-sama akan membuat kita sebagai keluarga dikuatkan kembali. Ingat bahwa Ia yang tidak terbatas mampu melakukan hal-hal yang terbatas bagi manusia.

Bagaimana dengan kami? Untuk urusan rumah tangga, kami tidak begitu pusing, karena kami terbiasa membagi tugas. Hanya saja, kami seringkali dikejar-kejar oleh Duo Lynns karena mereka mau mengepel lantai, masak, membuat kue, dan urusan rumah lainnya. Satu hal kami bersyukur mereka cukup senang membantu, tetapi terkadang pusing juga karena sudah seperti radio rusak yang ngoceh terus.

Dengan adanya bayi dan senior, kami jadi lebih ‘clean freak’. Apalagi karena kebanyakan beli online, maka dalam sehari si papa bisa mandi tiga kali. Belum lagi tiba-tiba banyak barang di rumah yang mendadak rusak. Kalau sedang tidak ada pandemi ini, kami pasti sudah memanggil teknisi untuk membetulkannya. Namun karena ada pandemi ini, urusan memanggil teknisi menjadi tidak semudah dulu.

Jadi, sambil menunggu masa-masa ini berlalu, mari kita manis-manis di rumah sambil bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dan diri kita. Dan supaya jiwa kita tetap sehat, kita juga harus menjaga kewarasan dan keharmonisan dalam rumah kita.

This too shall pass....

Sabtu, 28 Maret 2020

Character: Cautiousness Snake n Ladder


Bulan Maret ini Indonesia dikejutkan dengan berita adanya beberapa orang yang terkena virus corona. Dampak dari virus ini, pemerintah pun meminta kita untuk melakukan social distancing, yang artinya sebisa mungkin kita tetap berada di rumah tanpa harus keluar-keluar. Akibat dari kebijakan ini, maka monthly meeting yang harusnya diadakan di bulan ini diundur.

Walaupun demikian, setiap keluarga yang ada di komunitas kami diharapkan tetap melakukan pembahasan mengenai karakter bulan ini. Bulan ini kami membahas cautiousness. Cautiousness atau berhati-hati adalah mengetahui seberapa pentingnya waktu yang tepat dalam mencapai tindakan yang tepat. Atau dalam bahasa sederhananya adalah memberikan waktu untuk berpikir agar setiap keputusan atau setiap tindakan yang diambil adalah tepat. Lawan kata cautiousness adalah rashness. Rashness atau terburu-buru didefinisikan sebagai melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa dan kurang pertimbangan.

Karakter ini sangat penting, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk kita orang dewasa. Seringkali kita melihat orang melakukan sesuatu dengan tidak tepat, lalu orang lain akan berkata “kan maksud dan niatnya baik”. Memang segala sesuatu yang niatnya baik itu baik, namun jika dilakukan pada waktu yang tepat, maka hasilnya juga akan lebih baik.

Sebagai contoh, misalkan kakak kita sedang bermain  bola, lalu tiba-tiba bola tersebut jatuh. Membantu kakak mengambil bola merupakan tindakan yang baik, bukan? Namun jika kita mengambil bola tersebut tanpa melihat kiri kanan dan kita lari menabrak anak kecil, apakah itu baik? Oleh sebab itu, sebelum mengambil bola, kita harus melihat ke kiri dan ke kanan agar tidak membahayakan orang lain dan juga kita.

Saat membahas cautiousness, kami memperkecil pembahasan kepada lima hal yang dapat dilakukan anak-anak sebagai langkah nyata saat membahas cautiousness. Lima hal tersebut adalah:
1. Saya akan berpikir sebelum saya bertindak
2. Saya akan mempertimbangkan kata-kata saya sebelum saya berkata-kata.
3. Saya akan mengikuti peraturan yang ada (safety rules).
4. Saya akan meminta izin terlebih dahulu.
5. Saya akan waspada terhadap bahaya.

Agar kelima hal ini lebih mudah dipahami oleh anak-anak, maka kami pun menggunakan permainan Cautiousness Snake and Ladder. Tujuan dari permainan ini adalah membuat anak-anak menyadari keuntungan dari bersikap hati-hati dan konsekuensi dari bersikap terburu-buru. Sama seperti bermain ular tangga, jika bertemu tangga maka naik dan jika bertemu ular maka turun, maka saat anak-anak mendarat di tindakan yang menunjukkan sikap kehati-hatian, maka mereka akan naik tangga. Namun jika mereka mendarat di tindakan yang diambil dengan terburu-buru, maka mereka akan turun.

Dalam pembuatannya, kami menyediakan lima ’kasus’ yang berhati-hati dan lima ’kasus’ yang menunjukkan tindakan rashness atau terburu-buru. Kasus-kasus tersebut dapat dibuat sendiri, berdasarkan keadaan yang kita ingin anak-anak berhati-hati. Kami membuatnya sebagai berikut.

5 keadaan berhati-hati:
- A stranger offered to give you some food, you quickly went away. 
- You asked permission before you played with your friends. 
- You obeyed your parents to stay at home
- You used seatbelt when you were in the car. 
- You washed your hand before and after eating. 

5 keadaan tidak berhati-hati:
- You ran down the hallway with a sharp pencil. 
- You didn't asked permission from your parents before you went to your neighbors.
- You ran across the road without looking both ways. 
- You didn't wash your hands after going outside the house. 
- You didn't clean the floor after you spilled the water. 
                                                
Walaupun permainan ular tangga ini sepertinya jadul, ternyata bagi anak-anak akan lebih menarik. Apalagi dimainkan bersama-sama. Lumayan, menambah permainan yang dapat dimainkan selama harus di rumah saja.




Rabu, 18 Maret 2020

Cooking: Menghias Kue dengan Fondant

 
Beberapa bulan yang lalu, kami membahas tentang pertemuan menghias kue dengan menggunakan fondant di pertemuan bulanan Mom and Daughter. Tentunya topik ini sangat disukai oleh kami sekeluarga. Selama ini kami selalu membuat kue saat salah satu dari kami ulang tahun. Tetapi kami tidak pernah menghias dengan menggunakan fondant.

Kegiatan Mom and Daughter kali ini dimulai dengan sedikit cerita singkat tentang karakter kerajinan dan juga tokoh wanita yang menunjukkan karakter ini. Setelah cerita selesai, auntie L dan kedua anak perempuannya mencontohkan cara menghias kue dengan menggunakan fondant. Kue dengan menggunakan fondant ini memang biasanya mahal. Apabila kita dapat membuatnya sendiri, maka kita dapat menghemat biaya kue.
Drama singkat oleh kelompok yang bertugas.
Our teacher and their cake. 
Untuk menghias dengan menggunakan fondant, ada beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan, seperti:
1. kue bertekstur padat seperti bownies atau buttercake.
2. Fondant putih, dapat dibeli di toko bahan kue
3. Pewarna makanan sesuai yang diinginkan.
4. Buttercream
5. Rolling pin
6. Lazy susan atau cake tray
7. Pizza cutter
8. Pisau kue atau spatula
9. Fondant smoother alias setrikaan kue.
10. Alas plastik untuk mengolah fondant (jika tidak ada dapat menggunakan plastik)
Atas: spatula dan scrapper. Tengah: rolling pin, pizza cutter, fondant smoother.
Bawah: Lazy susan, alas plastik 
Mengapa kue yang digunakan haruslah kue bertekstur padat? Mengapa tidak bisa menggunakan kue seperti sponge cake? Karena fondant itu berat (bukan hanya menahan rindu saja yang berat), jadi kue yang dipilih harus yang cukup padat supaya dapat menahan beban hidup fondant. Jadi bukan hanya Dilan saja yang sanggup menahan yang berat-berat, tetapi juga brownies ataupun buttercake =D
Under The Sea  
Fondant yang digunakan biasanya dapat dibeli di toko kue. Untuk menghemat biaya, lebih baik pilih warna putih, kemudian diberi pewarna dan dimix sendiri. Cara mencampurnya tidak susah, tetapi harus dengan sepenuh hati agar warna tercampur dengan baik.

Langkah-langkah pembuatan adalah sebagai berikut:
1. Kue yang ada dapat dibagi dua mendatar. Atau jika ingin lebih mudah, kami lebih suka memanggang dua kue lalu digabungkan menjadi satu.
2. Oleskan buttercream (atau chocolate ganache) diantara kedua kue tersebut. Selain untuk menempelkan kedua kue, lapisan ini dapat menambah tinggi kue yang akan dibuat.
3. Lapisi bagian atas kue dan bagian sampingnya dengan buttercream. Gunakan pisau kue atau spatula atau scrapper untuk meratakannya.
4. setelah semuanya rata, ditempat berbeda, bentangkan plastik atau alas untuk mengolah fondant. Fondant yang ada digulung dengan menggunakan rolling pin hingga melebar sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
5. Setelah semuanya rata, maka angkat fondant tersebut dengan cara menggulung dengan menggunakan rolling pin, lalu buka gulungannya secara perlahan di bagian tepi kue hingga ke bagian atas kue. Ratakan seluruh bagian dan juga sampingnya dengan tangan kemudian dihaluskan dengan menggunakan fondant smoother alias setrikaan kue.
6. Potong bagian bawah fondant yang tidak terpakai dengan menggunakan pizza cutter.
7. Hias fondant sesuai dengan tema yang diinginkan.
Kue yang sedang dihias.
Setelah melihat demo cara menghias kue dengan menggunakan fondant, kami pun dibagi menjadi empat kelompok untuk moms dan teens, dan satu kelompok besar untuk anak-anak yang masih kecil. Kami para moms membantu teens yang berkreasi dengan kue dan fondant.
Our creation 
Sedangkan untuk anak-anak yang kecil, mereka akan diberikan aktifitas untuk membuat hiasan dengan menggunakan fondant. Mereka boleh menggunakan imajinasi mereka untuk membuat apa saja yang mereka inginkan. Tentunya hal ini menyenangkan bagi mereka karena seakan bermain dengan playdough.
Anak-anak yang sibuk membuat hiasan.
Sooo cute
Hasil karya Duo Lynns 
Kegiatan kali ini tentunya sangat berkesan bagi Duo Lynns. Dan bukan hanya untuk Duo Lynns, tetapi juga mama-mama yang lain. Di akhir kegiatan, kami pun membagi kue yang sudah dibuat dan mengadakan fellowship bersama dengan Fathers and Sons yang baru saja selesai bermain kasti. 
Mama-mama yang mau eksis juga :)

Rabu, 11 Maret 2020

DIY Hand Sanitizer

DIY Hand Sanitizer
Tahun 2020 ini banyak hal mengejutkan, bukan hanya di Jakarta, bahkan sampai di berbagai negara. Virus corona yang awalnya ramai di China tiba-tiba mencoba peruntungannya di negara-negara lain. Yang awalnya di negara-negara subtropis, sekarang pun si virus ini merambah negara-negara di Asia Tenggara. 

Setelah Indonesia bertahan dengan rekor tidak terkena keluarga virus corona ini (Indonesia aman saat SARS dan MERS melanda dunia), kali ini Indonesia tidak dapat menolak kedatangan virus ini. Akibat virus ini, kepanikan terjadi. Bahkan sebelum diberitakan ada yang positif terkena virus ini pun masker mengalami pelonjakan harga hingga sepuluh kali lipat, dan setelah itupun langka. Bukan hanya masker, hand sanitizer pun menjadi berkali lipat harganya dan langka juga.

Karena kelangkaan ini, papa pun jadi penasaran ingin mencari tahu cara membuat hand sanitizer. Setelah mencari-cari, akhirnya kami pun menemukan perpaduan untuk membuat hand sanitizer. Bahan-bahan yang diperlukan:
1. 75ml Alkohol 70%
2. 25ml aloe vera gel
3. Wadah yang akan digunakan, idealnya botol. 
4. Essential oil(jika ada).

Sebetulnya alkohol saja sudah cukup mampu membunuh bakteri-bakteri yang ada. Namun alkohol dapat membuat kulit kita menjadi kering. Oleh sebab itu dibutuhkan gel lidah buaya atau aloe vera untuk menjaga kelembaban tangan. Tetapi penggunaan aloe vera juga jangan terlalu banyak agar mampu membunuh bakteri. Perbandingan alkohol dengan aloe vera bisa dibuat 3 : 1 atau 4 : 1. Semakin banyak aloe vera, maka semakin kental hasilnya. Semakin sedikit aloe vera gel, semakin encer hasilnya. 

Gel lidah buaya ini bisa didapatkan dimana-mana. Atau jika ingin lebih yakin, bisa juga dengan membuat langsung dari tanaman lidah buaya yang dikerok dan dimasak hingga mengental.
Aloe vera gel.
Bagaimana dengan alkohol 70%? Alkohol 70% berarti berisi 70% alkohol murni dan 30% pelarut yaitu air. Virus atau bakteri dapat mati dengan kadar alkohol diatas 50%. Bahkan merk terkenal, De*t*l hanya mengandung 60% alkohol. 
Berbagai macam alkohol 70%, bisa didapat di toko kimia dan apotek.
Lalu akan muncul pertanyaan, kenapa tidak pakai alkohol 96%? Kan kadar alkoholnya lebih tinggi. Analogi sederhananya adalah kalau kita cuci tangan pakai sabun tanpa menggunakan air (atau air hanya 1 tetes) pasti tidak akan sebersih mencuci tangan dengan air yang cukup. 

Dengan alkohol dan aloe vera saja sebetulnya sudah cukup. Tetapi jika kita ingin menutupi bau alkohol, biar tidak seperti berada di rumah sakit, maka bisa ditambahkan bau yang lain. Idealnya sih essential oil yang anti bakteri, seperti lavender, lemon, tea tree, dan sejenisnya. Berhubung kami mendapatkan hadiah dari teman, maka kami menambahkan 1 tetes essential oil lavender ke dalam hand sanitizer buatan kami.

Cara pembuatan:
1. Masukkan alkohol ke dalam wadah yang akan digunakan.
2. Masukkan aloe vera gel sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata. 
3. Setelah semuanya tercampur dengan baik, teteskan 1 atau 2 tetes essential oil ke dalam larutan. Aduk hingga rata. 

Hasil dari eksperimen ini kami gunakan di rumah. Sekarang tidak usah bingung lagi kalau hand sanitizer susah didapatkan di supermarket. 

Selamat mencoba :). 

Jumat, 10 Januari 2020

New Year, New Season, and New Family Member...


Happy New Year everyone...
Setelah absen lama tidak menulis, akhirnya di awal tahun ini ada juga artikel yang bisa dipublikasikan. Padahal ada buanyak cerita yang ingin didokumentasikan di blog ini. Tapi apa daya si mama tak ada waktu menulis. 

Kenapa bisa begitu? Karena di akhir Oktober kemarin keluarga kami kedatangan tamu kecil yang menambah keceriaan keluarga kami. Ya, ada Baby Lynns yang membuat keluarga kami semakin ramai. 

Banyak yang tidak menyangka kami akan mempunyai bayi lagi karena perbedaan usia dengan si kakak lebih dari enam tahun. Hampir semua bertanya kepada kami memang kebobolan atau direncanakan? Namanya juga KB alias Keluarga Berencana. Jadi ya tentu saja direncanakan. Bahkan banyak yang bertanya kapan hamilnya kok tahu-tahu sudah lahir (padahal perut saya pun membesar bapak ibu). Ya hamilnya 40 minggu sebelumnya =D

Bagaimana dengan kegiatan homeschool kami? Kan kehadiran bayi menambah kesibukan. Betul, dengan adanya bayi, otomatis rutin yang sudah ada sedikit berubah. Kami pun berpikir asal sudah diatur, pasti bisa jalan. 

Sejak hamil, kami menyiasati dengan mengejar materi-materi pelajaran supaya saat lahiran, anak-anak bisa mengerjakan latihan soal dari workbook yang dibeli di BBW. Sementara saya pastinya fokus dengan bayi dan manajemen asi (karena saya selalu over supply). Setiap hal sudah direncanakan dan didoakan tentunya. 

Namun saat Baby Lynns sudah lahir, banyak hal yang diluar prediksi kami. Kedua kakak sangat senang dengan kehadiran adik baru. Karena over excited, mereka sampai lupa semua hal. Mereka ingin main, dan saat si bayi tidur, adik mulai merajuk mau ini mau itu sehingga mama pun mulai sakit kepala. 
Akibat over excited sampai ketiduran saat di rumkit. 
Ditambah lagi masalah manajemen asi. Ternyata mengurus rumah, anak-anak dan urusan kerjaan membuat mamanya lelah. Karena kelelahan dan si bayi sudah sleep through the night alias tidak minta susu tengah malam, saya sering ketiduran sehingga jam memerah asi pun mundur. Akibatnya sempat meriang gembira karena over laktasi. 

Semua hal yang campur aduk ini membuat saya pun mudah emosi. Saya pun sadar tidak baik begini terus. Lalu bagaimana cara menyiasatinya? Setelah berdiskusi dengan papa sebagai kepala sekolah, kami pun mengambil keputusan yang cukup mencengangkan banyak orang, yaitu kelas kembali dimulai =D

Kelas dimulai dengan sedikit modifikasi. Saat si bayi tidak tidur, kedua kakak boleh menjadi asisten mama untuk membantu ini itu (yang terkadang membuat jadi lebih repot). Tetapi saat si bayi tidur, mereka harus kembali berkutat dengan worksheet dan bacaan mereka. Walaupun kelas berjalan dengan pelan, saya pun mencuri waktu mengajar setelah urusan rumah dan bayi, tetapi titik terang mulai terlihat. Karena ada kerjaan, kakak dan adik ada kesibukan lain selain main dengan si bayi. Dan saya pun harus belajar untuk lebih fleksibel dengan setiap jadwal pelajaran yang saya buat. 
The real Baby Alive =D
Kami pun berusaha melibatkan mereka agar mereka tidak merasa diabaikan setelah si bayi lahir. Terkadang mereka pergi bertiga dengan papa untuk Dad n Daughters Day. Bersyukurnya saya karena papa pun selalu dengan senang hati membantu urusan rumah dan mengurus si bayi. 
Papa, juru kamera kesayangan Duo Lynns
Oya, ada satu cerita unik tentang kehadiran bayi ini. Saat di perut, si bayi ini suka akrobat, berputar sana dan berputar sini. Bahkan di minggu ke-34 pun dia masih sungsang walaupun mamanya sudah melakukan knee chest alias bersujud dr sejak 6 bulan. Puji Tuhan di minggu ke-36 posisi sudah sempurna sehingga memungkinkan untuk lahir secara spontan (walaupun harus dengan induksi yang buanyak). 

Setiap hari si bayi kami bacakan Alkitab. Mendekati kelahiran, kami infokan bahwa posisinya harus menghadap ke belakang (anterior), jangan main dengan tali pusat (karena sudah kelilit tali pusat di badan dan di leher berkali-kali). Tapi karena saya takut tali pusatnya keluar duluan yang dapat mengakibatkan bayi tidak ada oksigen saat lahir, saya pun berpesan tali pusatnya boleh dipegang tapi jangan terlalu kencang.

Saat lahir, Baby Lynns keluar dengan menghadap ke belakang dan tanpa lilitan tali pusat di leher. Dan di tangan kanannya dia memegang tali pusat. Dokter yang membantu persalinan pun sampai berkata bahwa baru pertama kali ada bayi yang saat lahir berputarnya cepat sekali dan sambil memegang tali pusat. Seperti sang juara yang mengangkat piala namun ini tali pusat. Dengan kata lain, Baby Lynns mendengar perkataan kami saat ia masih di dalam kandungan. Jadi para orang tua dan calon orang tua, bayi pun mendengar sejak dari kandungan. Perkatakanlah hal yang baik bagi si bayi karena mereka dapat mendengarkan perkataan kita. 

Kami percaya setiap anak adalah masterpiece-nya Tuhan. Dan suatu kehormatan jika kita dipercaya untuk menghadirkan masterpiece itu ke dunia. Oleh sebab itu adalah tanggung jawab kita untuk memuridkan mereka. Bagi kami, salah satunya lewat homeschool ini (walau kadang kami sering konslet juga). 

Perjalanan homeschool kami akan semakin seru dengan hadirnya si kecil. Namun kami yakin semua akan berjalan baik. Bukan karena kami orang tua yang hebat, tetapi karena Tuhan yang memanggil kami, maka Ia yang akan memampukan kami. Jadi untuk para orang tua yang sedang bergumul dengan bayi dan rutin homeschool, jangan takut. Selalu ada kasih karunia tersendiri untuk kita. 

Kalau ditanya berarti setelah ini bakal ada bayi lagi, kan belum ada anak laki-laki, jawaban kami tiga anak sudah cukup. Kami tidak mengejar anak laki-laki. Kan nanti dapat anak laki-laki saat mantu =D

Our new family picture.
And yes, our daughters are so precious.





Selasa, 22 Oktober 2019

Field Trip: Cimory Dairy Tour


Field trip merupakan salah satu kegiatan yang disukai oleh anak-anak dan juga orang tua. Kapan lagi bisa jalan-jalan sambil belajar sesuatu. Seperti kegiatan field trip kami mengikuti Cimory Dairy Tour.
Eksis dulu ah...
Sebetulnya sudah sejak lama kami mengetahui ada kegiatan ini di Cimory, tepatnya saat kami pertama kali field trip ke Taman Safari. Sayangnya kesibukan yang ada membuat kami lupa mem-follow up Cimory Dairy Tour. Akhirnya bulan September yang lalu kami mengikuti Cimory Dairy Tour.
Foto sambil menunggu teman yang lain.
Di hari yang ditentukan, kami pun berkumpul di Cimory Riverside. Setelah hampir semua peserta berkumpul, kami pun memulai kegiatan yang ada. Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam Cimory Dairy Tour? Kegiatan ini diawali dengan perkenalan dan welcome drink oleh pihak Cimory. Namanya juga Cimory, welcome drink-nya tentu saja susu. Duo Lynns dengan bahagia meminum susu (mereka memang susu mania).
Berfoto sebelum memulai tour hari ini.
Welcome drink yang tentunya enak.
Setelah itu anak-anak akan diajak untuk menuju Cimory Dairy Land. Di sini anak-anak diperkenalkan dengan sapi-sapi yang ada. Sapi-sapi yang terlihat begitu gemuk dan sehat ini merupakan sapi import dari Belanda, yaitu Frisian Holsteiner. Staf yang ada menjelaskan dengan begitu sederhana dan membuat anak-anak menjadi tidak takut dengan sapi. Katanya, karena sapi makan rumput hijau, dan tidak makan daging, jadi kita tidak usah takut dengan sapi. Hmm...betul juga ya.
Jembatan menuju Forest Walk.
Peta Forest Walk
Anak-anak mulai kebauan =D
Kegiatan memerah sapi. Gampang-gampang susah ternyata.
Sapi Frisian Holsteiner yang bisa menghasilkan 26.000 Liter susu seumur hidupnya. 
Memberi makan sapi.
Anak sapi yang baru 5 bulan, tetapi besar sekali.
Setelah puas memerah sapi dan memberi makan sapi, anak-anak pun diajak untuk melihat binatang-binatang yang lain. Binatang-binatang yang ada cukup banyak dan terlihat begitu sehat. Ada kelinci, ayam, burung, rusa, ular piton albino, hamster, dan ikan. Di sini kita juga dapat memberi makan hewan-hewan tersebut, berfoto, menangkap ikan, dan menaiki kuda dengan membayar Rp 10.000 – Rp 25.000.
Merpati 
Hamster feeding.
Burung kakaktua yang cantik.
Rusa yang sedang minta makan.
Ular piton yang katanya jinak.
Kegiatan selanjutnya adalah mengunjungi Monster Aquarium. Di dalam Monster Aquarium ini terdapat beberapa ikan yang dapat dilihat. Ikan yang ada pun unik-unik, seperti alligator gar, bawal pacu, parrot cichlid, dan piranha. Selain ikan ,di sini juga ada bintang laut. Uniknya, bintang laut (yang bukan termasuk ikan) tidak memiliki otak dan darah. Bintang laut bergerak dengan menggunakan kaki di belakang badannya.
Piranha yang selalu berkoloni.
Parrot Cichlid, ikan yang kebal terhadap jamur dan lendir.
Ikan nilem.
Alligator gar, ikan air tawar terbesar di Amerika Utara dengan panjang 3 meter.
Setelah berpanas-panas melihat-lihat binatang yang ada, maka anak-anak diberikan waktu bebas sambil pihak Cimory menyiapkan makan siang. Makan siang sudah termasuk dalam paket yang ada. Kami memilih Mini Cordon Bleu untuk anak-anak.
Pilihan menu yang ada.
Menu pesanan papa.
Saat semua anak sudah siap untuk makan, kami cukup kaget karena tiba-tiba ada kejutan ulang tahun, yang ternyata untuk papa. Memang papa berulang tahun kemarin. Namun kami tidak menyangka akan ada kejutan untuk papa.
Birthday surprise for Papa. 
Thank you friends... :)
Setelah selesai makan siang, anak-anak diajak untuk menonton Dairy Educational Movie di lantai atas. Tentunya butuh perjuangan untuk orang tuanya karena saat perut kenyang, maka mata mulai mengantuk. Film yang diputar merupakan asal-usul Cimory.
Foto ditepi sungai.
Cimory berasal dari Cisarua Mountain Dairy yang didirikan oleh Bambang Sutantio di tahun 2006. Tujuan awalnya adalah untuk membantu para peternak sapi untuk menaikkan harga susu yang sangat rendah. Jadi susu sapi yang ada dibeli dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasaran yang ada. Dari hanya menjual susu, lama kelamaan berkembang membuat olahan susu, seperti yoghurt, kue, dan juga coklat.
Sungai yang tampak surut karena kemarau.
Kegiatan selanjutnya adalah mengunjungi Chocomory Shop dan Cimory Dairy Shop. Anak-anak ditanya bagaimana cara membuat white chocolate, dark chocolate, milk chocolate, dan green tea chocolate. Ternyata untuk membuat white chocolate tidak menggunakan susu. Anak-anak pun diajak menyicipi masing-masing coklat yang ada.
Angsa yang sedang berteduh.
Di Dairy Shop, anak-anak diajak juga menyicipi moomooroll. Moomooroll merupakan bolu gulung susu yang motifnya seperti sapi. Lucu bentuknya. Moomooroll ini dijual dan dapat dijadikan oleh-oleh juga loh.

Kegiatan terakhir adalah demo pembuatan milkshake. Staf yang ada meminta dua orang anak untuk membantu. Kakak dan Ben temannya diminta untuk membantu. Apa saja sih yang diperlukan untuk membuat chocolate milkshake?

Yang diperlukan adalah:
- Susu coklat 750ml
- Coklat bubuk 1sdt
- Gula cair secukupnya
- Ice cream coklat 3 scoop
- Es serut secukupnya.

Semua bahan yang ada dimasukkan ke dalam blender dan dicampur menjadi satu. Rasanya? Manis tentunya =D
Milkshake ala Cimory.
Setelah anak-anak dengan manis minum milkshake yang sudah dibuat, anak-anak diminta berbaris untuk menerima goodie bag yang berisi yoghurt Cimory dan juga chocobar dari Cimory. Setelah mereka mendapatkan goodie bag, maka berakhir sudah kegiatan Field Trip kami di Cimory. Sebagian dari kami melanjutkan untuk berfoto di 3D Museum di lantai 2. Sementara sebagian lagi bergegas pulang untuk menghindari macet. Dan ada juga yang sekalian berlibur di daerah Puncak. Mumpung sudah sampai sini.  
Goodie bag yang dibawa pulang anak-anak.
Bagaimana dengan kami? Kami termasuk yang segera pulang untuk menghindari macet. Dan memang, jalanan sudah mulai padat merayap. Untungnya ada minuman dari Cimory dan cemilan yang menemani :)

Sekilas Info
Cimory Riverside
Jl. Raya Puncak, Cisarua, Bogor
Jam operasional: 08.00 – 22.00
HTM Cimory Dairy Land dan Monster Aquarium: Rp 30.000,00
Eksis lagi di tengah hutan.