Sabtu, 23 April 2016

Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum (Part 2)

Hai hai....balik lagi untuk lanjutin artikel sebelumnya ya....Kalau di artikel sebelumnya saya sudah membahas empat tipe atau metode pembelajaran yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam memilih kurikulum, maka ijinkan saya untuk melanjutkan kembali pembahasan mengenai metode-metode yang lainnya.

5. Metode Literature-Based (berdasarkan literatur)
Keluarga homeschooling yang memilih metode ini menggunakan literatur-literatur dengan kualitas tinggi sebagai tulang punggung dari kurikulum homeschooling mereka. Filosofinya adalah pentingnya penggunaan buku-buku sebagai bagian penting dalam pengalaman edukasi. Bahkan mereka yang sungguh merasakan manfaatnya mengambil tindakan lebih dalam lagi dan mencoba untuk menyelesaikan sebanyak mungkin mata pelajaran dengan outline dari cerita yang baik. Keluarga ini yakin bahwa semakin banyak literatur dalam bentuk cerita yang baik dibaca oleh si anak, maka literatur tersebut membantu si anak mengasimilasi setiap informasi dalam pikiran mereka.
Banyak penerbit yang membagi list bacaan berdasarkan tingkatan kelas dan umur. Berikut beberapa link yang dapat dibuka untuk menggali lebih jauh mengenai metode ini.
Sonlight Curriculum – sonlight.com
WinterPromise Curriculum – winterpromise.com
Educating the WholeHearted Child by Clay and Sally Clarkson - lvsm.pl/OWYlbA
sonlight.com
6. Metode Principle
Pada metode principle, Firman Tuhan menjadi pusat dari setiap hal. Prinsip-prinsip biblikal dieksplorasi di setiap mata pelajaran, dan cara pandang yang biblikal diajarkan. Riset, tujuan dan reasoning berperan sangat penting, dan anak-anak menangkap training individual ini dalam buku pegangan mereka. Banyak juga keluarga yang menggunakan metode ini dan mengkombinasikannya dengan metode lain. Contoh-contoh buku atau link yang dapat dipelajari adalah:
Advance Training Institute - http://ati.iblp.org


Saya pakai CCC untuk kurikulum TK
Wisdom Booklet dari ATI














7. Metode Workbox
Metode ini lebih mengedepankan hal-hal yang praktis dan sedikit teori. Banyak juga loh yang menggunakan metode ini dan banyak keluarga yang sepertinya berhasil dengan metode seperti ini. Metode ini menggunakan pengaturan untuk membantu anak lebih independen, membuat hari-hari belajar menjadi lebih menyenangkan, dan memampukan ayah atau ibu untuk mengurus murid-murid di rumah. Setiap anak mempunyai lemari, rak, file folder, atau kontainer sendiri. Orang tua mengisi setiap kontainer dengan pekerjaan yang harus dikerjakan anak sepanjang hari, setiap tugas dimasukkan ke dalam kontainer yang berbeda. Pada waktu mau memulai kelas, si anak akan memulai dengan lemari atau rak atau kontainer nomor 1 dan si anak menyelesaikan tugas tersebut. Lalu anak tersebut pindah ke kontainer nomor 2. Beberapa rak atau kontainer dapat berisikan tugas yang 'fun' bagi anak, seperti lembar mewarnai atau mainan edukasi. Jika si anak mempunyai pertanyaan, mereka dapat menempelkan lambang tanda tanya di rak yang bersangkutan dan melanjutkan mengerjakan yang lain sampai si Ibu siap membantu. Banyak keluarga menemukan metode ini membuat Ibu dapat mengerjakan banyak hal dan mengurangi konflik saat belajar. Tetapi bisa jadi si anak akan kurang dalam hal konsep jika si Ibu pun 'aji mumpung' melepas tanggung jawab mengajar atau anaknya tipe anak yang cuek dan menganggap dirinya bisa. Intinya, check n recheck sih.
Beberapa website yang dapat dipelajari lebih lanjut.
Sue Patrick’s Workbox System: A User’s Guide lvsm.pl/NE3Cof
Benefits of the Workbox System lvsm.pl/PBsLw5
Thinking Inside the Box: Using the Workbox System - lvsm.pl/NZt04f
Workbox System
8. Metode Pendidikan Kepemimpinan (Leadership Education)
Don’t settle for conveyor belt. Your children need an education to match their mission. Itulah salah satu slogan yang dimiliki dalam metode pendidikan kepemimpinan. Metode ini belakangan lebih populer dikenal sebagai filosofi homeschool. Sebagian orang menyebutnya Thomas Jefferson Education. Metode ini berpusat pada gagasan bahwa anak-anak berlajar secara berbeda pada setiap tahapan kehidupan. Ada tiga fase utama dari pembelajaran masa kecil yang didiskusikan dan diimplementasikan: Core, Love of Learning, dan Scholar. Karena metode ini lebih seperti filosofi ketimbang jadi metode aktual, maka sangatlah mudah untuk mengimplementasikan metode ini dalam kurikulum apapun yang mau kita gunakan. Pembacaan lebih lanjut dapat ditemukan di link berikut. 

Belajar melalui pemimpin-pemimpin dunia
taken from www.tjed.org
9. Metode Charlotte Mason
Metode ini agak jarang didengar di Indonesia. Charlotte Mason merupakan pionir dalam perubahan pendidikan di Great Britain. Hidup di akhir 1800, Beliau merevolusi sistem pendidikan pada saat itu -berjuang untuk membuktikan bahwa anak-anak dari kelas apapun mempunyai kapabilitas untuk belajar dan menikmati. Metode ini dapat dikatakan sebagai suatu kebangunan pada homeschooler di generasi ini, yaitu berpusat pada keluarga dan anak. Kunci dari filosofinya meliputi pembelajaran alam, pelajaran-pelajaran yang lebih pendek, narasi, buku-buku yang real living ketimbang buku pegangan atau textbook, dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Intinya adalah bagaimana si anak mengenal dunia di sekitarnya, menempatkan diri di tengah dunia, mengetahui siapa dia dihadapan Tuhan, dan hidup bukan hanya untuk berkompetisi (kebalikan dari dunia jaman sekarang yang kalau bisa anak dari kecil punya kemampuan untuk berkompetisi sebelum waktunya. Akibatnya si anak menjadi ambisius yang cenderung merugikan orang lain). Cukup sederhana bukan. 
Untuk pembacaan lebih lanjut, silakan dibuka beberapa link berikut.
Ambleside Online – amblesideonline.org
When Children Love to Learn by Elaine Cooper - lvsm.pl/Ojou13
A Charlotte Mason Companion by Karen Andreola - lvsm.pl/Q0xwNG
Charlotte Mason, dari wikipedia
10. Metode Electic
Metode electic mengijinkan para orang tua untuk menggunakan metode pembelajaran yang berbeda pada setiap mata pelajaran. Para orang tua dapat menggunakan metode A pada pelajaran bahasa, metode B pada pelajaran Science, mix n match setiap pelajaran sesuai dengan budget yang ada dan ini merupakan keuntungan besar dari homeschooling atau home education. 

Setelah membaca semuanya, biasanya kita akan bingung mau pakai yang mana. Apapun pilihannya, jangan takut untuk mencoba. Kita tidak perlu ikut-ikutan, tetapi jangan sampai karena mau gratisan semua, kita jadi tidak selektif. Sesuaikan dengan kondisi si pengajar, anak yang dididik, keluarga dan keuangan. Yuk...semangat menjadi lebih baik agar anak-anak kita mendapatkan yang terbaik dari kita sebagai pengajarnya. 

Note: Saya lebih memilih metode electic, mengingat budget dan cara belajar si anak. :)





See also:
Metode Pembelajaran dan Pemilihan Kurikulum part 1
Homeschooling untuk anak 3 tahun
8 hal yang harus dilakukan saat memulai homeschooling
Math untuk preschool
Apa sih CCC
Tips memilih kurikulum

 why we choose homeschool

Tidak ada komentar:

Posting Komentar