Selasa, 25 September 2018

Phonics CCC 101: Cara Menggunakan Phonics CCC

Masih melanjutkan kurikulum CCC, setelah membahas tentang penggunaan CCC, bahasan selanjutnya adalah mengenai cara penggunaan Phonics CCC. Pertama kali saya mendengar phonics, saya bertanya-tanya apa sih phonics? Hasil dari bertanya pada wikipedia, Phonics (dibaca foniks, bukan finiks) didefinisikan sebagai metode untuk mengajarkan membaca dan menulis bahasa Inggris dengan cara mengenali bunyinya. Cara kerja metode phonics adalah memecah kata-kata menjadi beberapa bagian kecil dan mengajarkan anak-anak bunyi dari setiap huruf atau campuran huruf tersebut.
Phonic CCC 
Dalam bahasa sederhana yang biasa saya gunakan saat ditanya orang, saya menjelaskan phonics itu adalah bunyi. Sama seperti kucing bunyinya meong, anjing bunyinya guk-guk, dan sebagainya, huruf pun mempunyai bunyi. Tentunya hal ini akan membingungkan saat diawal kita mengajar. Karena saat kita belajar bahasa Indonesia saja kita belajar b-u bu d-i di, budi. Dan saat belajar bahasa Inggris kita pastinya langsung belajar apel bahasa Inggrisnya adalah apple. Nah, saat kita mulai menggunakan kurikulum CCC, kita diminta mengenalkan bahasa melalui bunyinya.

Apa keuntungannya mengajarkan bunyi si huruf pada anak-anak? Keuntungannya adalah anak akan lebih cepat untuk merangkai huruf dan belajar membaca tanpa disadari. Setelah mereka memahami suara dari setiap huruf, mereka akan dengan cepat mengenali suara dari si huruf saat suata kata diucapkan. Dan efek timbal baliknya, anak dapat menulis berdasarkan suara yang mereka dengar. Namun hal ini akan lebih susah saat anak belajar vowel digraph dan vowel diphtong.

Kata kunci untuk menggunakan Phonic CCC adalah ikutilah instruksi yang diberikan. Kurikulum CCC cukup mempermudah proses pembelajaran dengan yang namanya drilling. Asalkan kita mengikuti setiap tahap yang diberikan, lama-lama anak-anak akan memahami dan mengerti bunyi-bunyian ajaib tersebut.

Huruf dalam bahasa Inggris sama dengan huruf dalam bahasa Indonesia, yaitu ada 26 huruf. Huruf konsonan dalam bahasa Inggris pun sama dengan dalam bahasa Indonesia. Yang unik adalah huruf vokal. Vokal atau vowel masih sama, yaitu a, e, i, o, dan u. Umumnya vokal mempunyai 2 bunyi, yaitu short vowel (yang sering digunakan seperti cat, hen, pig, dog, dan duck) dan long vowel (yang bunyinya seperti nama huruf itu sendiri). Sebelum mengajar, ada baiknya kita memahami bunyi-bunyi yang ada ini.

Dalam CCC, pembelajaran phonics dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1. Phonics Lesson for Card 1 – 31: mengenal consonant, long vowel, dan short vowel.
2. Phonics Lesson for Card 32 – 66: mengenal consonant digraph, consonant blend.
3. Phonics Lesson for Card 67 – 93: mengenal vowel digraph, vowel diphthong, dan modified vowel.
4. Phonics Lesson for Card 94 – 118: mengenal pengecualian-pengecualian dari ketentuan yang ada.

Pertanyaan yang sering diberikan kepada saya adalah mengenai workbook yang akan digunakan. Sama seperti artikel sebelumnya, berdasarkan chart yang diberikan, kita dapat mempermudah penggunaannya.
Chart penggunaan CCC 
Penggunaan Phonics CCC dari umur 3 Tahun
Saat anak-anak berumur 3 tahun, biasanya mereka hanya diajar untuk mengenal phonics card dari A sampai Z. Mereka tahu short vowel terlebih dahulu, baru mereka belajar long vowel dan konsonan. Untuk memudahkan pembelajaran, biasanya saya menggunakan lagu yang diberikan.
Pembelajaran short vowel melalui lagu Noah's Ark. 
Selain mengenal vowel dan consonants, pada umur tiga ini anak-anak mulai diperkenalkan dengan tracing huruf. Saran saya, saat anak melakukan tracing, pastikan mereka mengikuti arahan yang benar. Hal ini dapat mengurangi kesalahan saat mereka menulis huruf yang mirip seperti b dan d ataupun p dan q.

Penggunaan Phonics CCC dari umur 4 Tahun
Saat anak menginjak usia 4 tahun, kita dapat menggunakan Phonics Lesson for Card 1-31 bersamaan dengan workbook A1. Idealnya materi ini akan selesai dalam waktu 6 bulan. Setelah itu dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook A2 selama 6 bulan. Bagaimana kalau belum selesai? Ya enaknya homeschool, kita tinggal ulang sesuai kebutuhan dan kemampuan si anak, dengan catatan kita harus konsisten.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 4 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook A1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook A2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 5 Tahun
Jika si anak baru mulai menggunakan CCC saat usianya lima tahun, maka kita harus memulai dengan materi Phonics Lesson for Card 1 – 31. Hanya saja workbook yang digunakan adalah workbook B1. Setelah anak menyelesaikan workbook B1, pelajaran dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 32 – 66 bersamaan dengan workbook B2. Setelah selesai dapat dilanjutkan dengan Phonics Lesson for Card 67 – 93 dan workbook B3.

Secara ringkas, berikut urutan penggunaan buku dan workbook untuk anak yang menggunakan Phonics CCC sejak umur 5 tahun:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook B2
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Penggunaan Phonics CCC dari umur 6 Tahun
Jika si anak mulai menggunakan Phonics CCC saat anak berusia enam tahun dan belum mengetahui apapun tentang phonics, maka disarankan untuk mengajarkan dari awal dan dari workbook B. Secara singkat, perjalanan penggunaan Phonics CCC bagi anak yang memulai saat usia 6 tahun adalah seperti berikut:
- Phonics Lesson for Card 1 – 31 dengan workbook B1
- Phonics Lesson for Card 32 – 66 dengan workbook C1
- Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook C2
- Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3

Alphabetical Wall Card
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, alasan kami melakukan homeschool adalah agar anak-anak mempunyai dasar karakter dan kebenaran firman Tuhan sebelum mereka mendapatkan dasar pengetahuan. Salah satu yang membuat saya jatuh cinta dengan kurikulum ini adalah Alphabetical Wall Card. Wall card yang memperkenalkan huruf A hingga Z dengan menggunakan kata-kata yang ada di Alkitab ini membantu anak untuk memahami bunyi dari si huruf dan juga rima atau rhyme yang menjelaskan kebenaran firman Tuhan. Saya menempelkan Alphabetical Wall Card di dinding kamar anak-anak. Sehingga saat belajar pun anak-anak dapat langsung melihat dan saat tidak belajar pun mereka dapat membaca tentang tulisan-tulisan yang ada di atasnya.
Alphabetical wall card.

Daily Drill
Dalam pembelajaran Phonics, CCC cukup memudahkan saya sebagai pengajar awam dengan memberikan daily drill. Namanya juga daily, jadi saya mengulang setiap saat kami belajar Phonics. Berhubung ini bukan bahasa ibu saya, otomatis saya tidak begitu hapal aturan dari setiap phonics (bahkan yang bahasa ibunya Inggris pun belum tentu hapal). Dengan menggunakan daily drill dan melakukan pengulangan setiap harinya, harapannya adalah anak dapat memahami dan lama-lama mengingat dengan sendirinya aturan-aturan yang ada dalam phonics.

Selain vowel drill, ada juga yang namanya sight word atau kata-kata yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Sight words akan lebih mudah diingat anak-anak karena biasanya sederhana. 
Folder yang berisi vowel drill dan sight word. 
Rutin dalam Pembelajaran
Bagaimana dengan rutinnya? Biasanya saat belajar Phonics, saya memulai dengan renungan singkat tentang kata yang melambangkan huruf tersebut dan rhyme yang dapat mengingatkan anak akan bunyi huruf tersebut. Setelah selesai renungan singkat, maka saya akan masuk ke bagian daily drill. Daily drill idealnya tidak terlalu lama, maksimal 20 menit. Setelah itu masuk ke materi sesuai dengan petunjuk yang ada di buku.
Salah satu card mengenai aw
Penggunaan 1 Paket Phonics CCC
Pertanyaan yang sering muncul berikutnya adalah bagaimana jika saat membeli kurikulum CCC belinya sepaket (phonics lengkap dari A, B, dan C). Seperti kami yang membeli lengkap, setelah anak-anak menyelesaikan workbook A1 dan A2, maka sayang rasanya kalau buku-buku ini tidak dipakai (ogahrugi.com). Kami memberikan beberapa latihan di buku B1 dan B2 yang tidak ada di workbook A1 dan A2 (seperti tentang rhyming word). Karena sifatnya pengayaan atau tambahan, otomatis pembahasan buku B1 dan B2 tidaklah berlangsung lama. Setelah selesai materi tambahan ini, kami langsung masuk ke Phonics Lesson for Card 67 – 93 dengan workbook B3. Setelah workbook B3 selesai, kami memberikan beberapa latihan di buku C1 dan C2 yang tidak ada di workbook sebelumnya. Setelah materi ini selesai, barulah kami masuk ke Phonics Lesson for Card 94 – 118 dengan workbook C3. Nilai tambahnya adalah anak-anak seakan diingatkan kembali dengan materi sebelumnya. Dan mamanya merasa bahagia karena tidak sia-sia membeli sepaket (ups).
Workbook dan kunci jawabannya. 
Phonics Dril Reading
Buku lain yang biasanya juga ada saat membeli Phonics CCC adalah buku Phonics Drill Reading. Sejujurnya saat kakak belajar phonics, saya sempat berpikir buku ini akan dibahas nanti saat umur lima. Oleh sebab itu, penggunaan buku ini telat saat kakak belajar Phonics. Dan saat adik belajar pun, penggunaan buku ini baru digunakan saat adik berusia hampir 6. Namun ternyata memang buku ini dibuat secara khusus untuk anak yang memasuki usia SD. Tujuannya supaya kita dapat mengukur seberapa mampu si anak membaca kata-kata dalam bahasa Inggris. Dan bukan hanya itu, buku ini cukup membantu membetulkan pelafalan anak-anak dan saya juga saat menyebutkan suatu kata dalam bahasa Inggris.
Kata-kata dengan short sound e.
Kendala Saat Menggunakan Phonics CCC
Banyak yang berpikir kendala terbesarnya adalah ketidakmampuan kita berbahasa Inggris. Namun menurut saya ini bukan yang utama. Bagi saya yang mungkin lebih jago bahasa Jawa daripada bahasa Inggris, walaupun bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita, namun saat kita ada kemauan untuk belajar, pastilah bisa. Anggap saja belajar bersama dengan anak.

Menurut saya kendala paling besar adalah konsistensi kita sebagai pengajar. Sebagai homeschooler, anak kita akan dilihat seluruh dunia (lebay.com). Kalau mereka belum bisa baca, pasti akan ada kata-kata 'oh gak bisa baca...anak homeschool sih'. Kita pasti jadi kepengen mereka cepat baca. Nah biasanya, hal ini membuat kita ingin yang instan dengan cara mengajarkan membaca bahasa Indonesia. 

Ini tidak salah, saya pun juga ingin anak saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan menulis dengan baik. Dan saya cinta sekali dengan bahasa Indonesia. Tetapi karena kurikulum yang kita ambil adalah kurikulum bahasa Inggris, maka akan lebih baik kalau dia lancar dulu dalam hal membaca dan menulis bahasa Inggris. Lain halnya jika kurikulum yang diambil bukan kurikulum luar, maka pastilah saya akan menyarankan untuk memfokuskan proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Anak-anak akan lebih cepat mempelajari bahasa Indonesia yang sederhana (tidak termasuk imbuhan) dibanding bahasa Inggris karena satu huruf dalam bahasa Inggris banyak bunyinya. Jadi saat sepertinya si anak lama menangkap, kita sebagai pengajar haruslah konsisten dan pantang menyerah. Yang sering saya lihat adalah seringkali orang tua ingin anaknya cepat bisa baca dan akhirnya mengajarkan membaca dan menulis bahasa Indonesia dulu. Saat anaknya bisa menulis dan membaca bahasa Indonesia, anaknya mulai ogah-ogahan belajar Bahasa Inggris dan akhirnya proses pembelajaran Phonics menjadi kegiatan yang membuat kita mau meledak.

Bagaimana dengan pengucapan kita yang lucu? Tidak apa-apa, selama kita mendengarkan CD Phonics dengan baik, dan mencoba untuk membetulkan, lama-lama pasti berkurang kok lucunya. Dan nanti anak-anak dapat membetulkan kalau kita salah kok :)

Satu hal yang menjadi pengingat saya saat mengajar Phonics kepada anak-anak adalah setiap anak istimewa. Cara pembelajaran antara satu anak dengan yang lain tentunya berbeda. Cara penyerapan setiap anak pun berbeda. Pendekatan yang dipakai pun dapat bermacam-macam. Dan mengutip salah satu bagian yang ada di buku pelajaran mereka, pendidikan Kristen seharusnya tidak mengabaikan setiap anak. Kita harus mencari cara untuk mengembangkan pendidikan Kristen ke suatu titik dimana semua anak-anak Tuhan dapat dituntun kepada kedewasaan Kristen di dalam lingkungan akademis yang sesuai dengan kebutuhan pribadi mereka, untuk mempersiapkan mereka menuju tingkatan selanjutnya dalam memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya.

Jumat, 21 September 2018

Indonesia Berkarya di Festival Habibie 2018


Akhirnya datang juga….
Setelah merasakan keseruan di Habibie Festival 2016 dan Habibie Festival 2017, tahun ini pun kami menantikan info kapan akan diadakan festival teknologi ini lagi. Bahkan dari awal Agustus kemarin, kakak sibuk bertanya mengenai acara ini. Saya pun sering memantau instagram Habibie Festival dan rasanya mereka sedang seru mengadakan di kota-kota lainnya. Mungkin tahun ini memang tidak ada Habibie Festival di Jakarta. Namun di awal minggu ini, saya melihat postingan mengenai Habibie Festival.

Habibie Festival kali ini mengambil tema “Lihat, Sentuh, dan Rasakan Teknologi dan Inovasi Terbaru” yang bertujuan agar festival ini dapat mempererat hubungan teknologi dan inovasi dengan manusia. Memang perkembangan teknologi sangatlah cepat dan daripada menganggap teknologi sebagai bahaya, lebih baik teknologi digunakan sebaik mungkin, bukan.

Saat kami datang, antrian yang luar biasa panjangnya membuat kami berpikir pasti di dalam bakal ramai sekali. Namun puji Tuhan kami dapat masuk juga ke dalam. Di dalam hall D ini terbagi beberapa zona, diantaranya Bazaar Inovasi, Makerland, Fin Tech 2.0, A to B the Future of Transportation, Sport Land, Infusion dan Fund Fest. Hampir sebagian pameran, seperti kapal perang, senjata, sritex, flight simulator, VR dan AR terlihat sama seperti tahun sebelumnya. Tujuan kami adalah mengunjungi tempat-tempat yang tahun lalu belum ada dan lebih children friendly, berhubung di rombongan banyak anak kecil.
Antrian untuk masuk yang luar biasa banyaknya.
Alat pemadam api medium, hanya menggunakan tenaga yang dikeluarkan dari motor yang digas.
Bagian pertama yang menarik perhatian anak-anak adalah Sport Land. Mungkin karena euphoria Asian Games masih terasa, maka Sport Land dipenuhi oleh anak-anak yang sibuk mau main basket. Di Sport Land ini juga ada lapangan bulutangkis. Dan tentunya jika berbicara tentang bulutangkis, pastilah terbayang sosok Alan Budikusuma dan Susi Susanti dengan produk mereka Astec.
Kesukaan mama, Susi Susanti 
Alan Budikusuma
Lapangan basket yang ramai dengan anak-anak sekolah.
Di samping tempat tersebut terdapat booth fitscan. Di sini kita dapat mencoba untuk menganalisa bentuk dan tumpuan kaki kita dan sol apa yang dapat digunakan untuk membuat kaki kita lebih nyaman. Pada umumnya, tumpuan orang adalah tumit kaki. Namun banyak yang menjadikan bagian depan menjadi tumpuan. Akibatnya kakinya akan sering sakit. Penggunaan sol yang tepat akan dapat membantu orang yang tumpuan kakinya tidak tepat merasa nyaman.
Hasil scan kaki adik, tidak ada warna merah.
Tidak perlu sol tambahan dan tidak ada beban hidup sepertinya =D
Mencoba main olahraga bangsawan Inggris, cricket.
Zona berikutnya yang menarik perhatian anak-anak adalah zona Maker Land. Di zona ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan anak-anak. Salah satunya adalah memilin tali. Jangan dikira memilin tali dengan tangan loh. Acara memilin tali ini dilakukan dengan cepat dan memanfaatkan teknologi yang ada. Dengan drill dan kaitan, proses memilin tali pun jadi cepat.
Laba-laba untuk main perang bintang dengan tembakan laser di zona Maker Land.
Memilin tali dengan alat.
Tali yang dipilin anak-anak. Mbaknya sampai minta mereka untuk difoto dulu.
Print 3D dari hasil USG 3D bayi dalam kandungan. Hasil karya wong Suroboyo loh....
From coffe waste to coffee self care.
Sabun dari ampas kopi.
Salah satu booth yang ramai dikunjungi adalah booth Society Women of Engineering. SWE merupakan lembaga nonprofit yang beranggotakan wanita-wanita lulusan teknik dan penggemar teknik. SWE bekerja sama dengan rumah main STREAM untuk mengadakan aktivitas science untuk anak-anak. Di booth ini anak-anak diajak bermain dengan science secara menarik. Dari mengamati perputaran kertas saat dijatuhkan, membuat roket, dan juga mainan lainnya dari bahan yang sederhana.
Mainan di SWE.
Roket karya adik.
Ini semua menggunakan tenaga surya loh.
Sepeda dengan kerangka kayu.
Di ujung deretan booth ini, terdapat booth Da Vinci Kids. Booth ini selalu menjadi favorit anak-anak. Sayang sekali kali ini Cool Science tidak ikut dalam festival. Namun anak-anak masih semangat untuk membuat aktivitas bersama dengan Da Vinci. Mereka membuat hewan dengan modeling clay dan meletakkan hewan tersebut di latar yang disediakan. Dengan teknik sederhana, mereka diajak membuat story telling dan clay animation.
Kura-kura buatan kakak masuk TV
Di sini juga disediakan ruang untuk kuis. Awalnya staf Da Vinci dari Singapore mengira kakak tidak dapat berbahasa Indonesia, namun begitu dibilang kakak bisa, mereka memberi izin. Kakak pun mengikuti kuis dan menjawab beberapa pertanyaan yang ada. Saat ditanya tentang kesukaan Da Vinci, kakak dengan yakin menjawab penerbangan. Saya pribadi tidak tahu, tetapi kakak bilang ada cerita ini di buku yang dia baca. Dan memang jawabannya benar. Kakak mendapatkan hadiah yang boleh dibagi ke semua orang yang ada di komunitas kami kemarin. Moral story-nya adalah jangan meremehkan ingatan anak-anak. =D
Kuiz di Da Vinci Kids
Di zona bazaar banyak sekali produk yang ditawarkan untuk dijual. Dari mulai teh hijau fermentasi, aroma terapi, batik, kertas, dan sebagainya.
Fermentasi teh hijau.
Di saat anak-anak sibuk melihat aroma terapi dan bilang baunya kayak pepsodent (alias mint)
Ikan kecil kaya kalsium.
Tas imut dengan icon kota Jakarta.
Acara kami di sini diakhiri dengan naik ke pesawat yang tiap tahun dinaiki oleh mereka. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang lebih ke robotic, virtual reality dan augmented reality, Habibie Festival kali ini lebih children friendly dengan memadukan teknologi dan aplikasi yang nyata. Dan sebagai anak bangsa, saya bangga dengan kreasi bangsa Indonesia. Seperti produk Berkarya! Akademi yang diluncurkan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), mari kita berkarya untuk bangsa ini :)
Pilot-pilot cantik ini siap untuk terbang :)
Sekilas Informasi
Habibie Festival 2018
Jiexpo Kemayoran hall D
Tanggal 20 - 23 September 2018
Pukul 10.00 - 18.00
Photo booth di Habibie Festival.

Selasa, 18 September 2018

Outdoor Fun with Bottle Spray Art


Apa sih kekurangan anak-anak yang tinggal di ibukota ini? Kalau menurut saya, anak-anak zaman now ini kurang dengan yang namanya outdoor atau ruang terbuka. Selain karena permainan mereka kebanyakan permainan yang di dalam ruangan, mungkin karean lahan terbuka yang bersih susah dicari. Apalagi ditambah dengan cuaca yang tak menentu (baca: hujan mendadak).

Beberapa bulan lalu, karena masih summer musim kemarau, kami pun mengadakan aktivitas outdoor di playground salah satu condominium. Kegiatan ini diisi dengan bermain bersama di playground dan dilanjutkan dengan membuat aktivitas yang bernama bottle spray art. Kegiatan ini mirip dengan aktivitas yang kami lakukan saat membuat aktivitas tentang discretion.

Bahan-bahan yang diperlukan
1. Botol semprotan air yang berisi air berwarna
2. Kertas putih
3. Gambar yang kita inginkan menjadi siluet. 
4. Isolasi atau lem
Persiapan supaya tidak gambar tidak terbang. 
Setelah berdoa bersama, anak-anak diizinkan memilih gambar yang mereka inginkan. Setelah mereka memilih, maka mereka pun bergantian membuat bottle spray art. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Beri lem secara asal pada pinggiran atau isolasi di tengah gambar yang diinginkan dan tempelkan pada kertas putih. 
2. Semprotkan air berwarna secara acak diatas kertas putih tersebut.
3. Copotkan gambar yang ada dan tunggu semprotan di kertas putih mengering.
Cute Dino :)
Yang membuat proses ini lebih seru karena angin yang kencang membuat kertas yang ada terbang-terbang. Sambil menunggu kertas-kertas ini mengering, anak-anak kembali bermain di playground. Dan tidak perlu waktu lama untuk membuat kertas-kertas ini mengering. Angin dan cuaca yang panas membuat proses pengeringan berjalan dengan cepat. Dan mama-mamanya pun tidak mau ketinggalan untuk membuat siluet dengan bottle spray art yang seru ini.
Ariel pertama.
Ariel kedua.
Balerina :)
Karena cuaca yang semakin panas, dan membuat pusing kepala, maka kegiatan outdoor kami pun berakhir sudah. Kami pun beramai-ramai naik ke unit auntie T untuk makan bersama.
Snoopy.
Kumpul bocah...

Selasa, 11 September 2018

Wisata Alkitab di Museum Alkitab



Masih dalam rangka aktivitas homeschool untuk mengisi liburan kemarin, kali ini kami para homeschooler Jakarta Bekasi mengikuti kegiatan Paket Wisata Alkitab di Museum Alkitab Salemba. Awalnya kami hanya berencana mengunjungi museum yang berlokasi di gedung Lembaga Alkitab Indonesia. Namun saat menghubungi ke sana, ternyata kalau jumlah peserta minimal 15 orang, dewasa dan anak-anak, kami dapat mengikuti Paket Wisata Alkitab atau PWA. Di PWA ini, kami akan didampingi oleh pihak museum dan mendapatkan penjelasan dari pihak museum saat berkeliling museum. Setelah menyocokkan tanggal dan waktu dengan pihak museum, maka akhirnya kami pun mengikuti PWA ini.

Kegiatan PWA dimulai sejak kami berkumpul di lobi gedung. Ibu Costa dan tim menyambut kami dan memberikan sedikit penjelasan mengenai  gedung yang terdiri dari sepuluh lantai ini. Setelah itu kami diajak untuk menuju ke lantai dua.
Penjelasan singkat mengenai gedung LAI
Alkitab besaaaar banget
Penghargaan MURI untuk Alkitab edisi study terbesar. 
Di lantai ini, kami diberikan sedikit penjelasan mengenai sejarah lembaga Alkitab. Diawali dengan kisah Mary Jones yang lahir tahun 1784 di desa Pennant Wales Inggris Raya. Pada masa itu, Alkitab merupakan barang langka dan mahal. Oleh sebab itu, tidak semua orang dapat memiliki Alkitab dan tidak semua tempat menjual Alkitab. Mary kecil, yang saat itu berusia 7 tahun, bertekad untuk mengumpulkan duit dengan cara mengumpulkan kayu bakar dan memintal benang. Hingga akhirnya saat ia berumur 16 tahun, tabungannya sudah dirasa cukup untuk membeli Alkitab.
Ruangan khusus untuk presentasi.
Mary pun berjalan kaki sejauh 41 KM untuk menjumpai Pendeta Thomas Charles. Sayangnya saat ia tiba, Alkitab yang tersedia hanya satu dan itupun sudah dipesan oleh orang lain. Mary begitu sedih. Namun karena Pendeta Thomas Charles melihat Mary yang begitu bersusah payah demi Alkitab, akhirnya Alkitab yang tinggal satu itu diberikan kepada Mary.

Berbekal pengalamannya, Mary Jones pun bertekad agar banyak orang dapat membaca Alkitab. Maka ia pun mendirikan Lembaga Alkitab pertama di Inggris pada tahun 1804. Di tahun 1814 didirikan Lembaga Alkitab di Belanda. Di tahun 1816 didirikan Lembaga Alkitab di Amerika Serikat. Dan akhirnya di Indonesia pun berdiri Lembaga Alkitab Indonesia pada tanggal 9 Februari 1954.

Kami cukup terkaget-kaget saat diberi tahu di Indonesia terdapat 742 bahasa daerah. Di Indonesia sendiri Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa daerah agar memudahkan masyarakat setempat memahami Alkitab tersebut. Sedangkan proses penerjemahan Alkitab memakan waktu kurang lebih 10 hingga 15 tahun untuk Perjanjian Lama dan 5 hingga 10 tahun untuk Perjanjian Baru. Setelah itu dibutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan hingga 1 tahun untuk pra cetak. Dengan kata lain, dibutuhkan banyak tenaga, dana dan waktu agar Alkitab dapat sampai ke tangan kita.
Alkitab dengan berbagai bahasa
Setelah selesai presentasi mengenai Alkitab, kami diajak untuk berkeliling melihat-lihat sejarah perkembangan Alkitab, dari yang masih ditulis diatas kertas hingga sampai menjadi Alkitab yang kita lihat.
Suhu di dalam tempat Alkitab.
Alkitab kecil
Terpesona dengan replika bahtera Nuh.
Alkitab tulis tangan. Tebal sekali kan....
Keluar dari ruangan mengenai perkembangan Alkitab, kami diajak untuk melihat benda-benda yang ada di Alkitab. Ada beberapa macam baju yang dipakai pada masa Alkitab ditulis, alat-alat musik, loh batu, replika tabut perjanjian, kacang-kacangan, dan sebagainya.
12 batu yang melambangkan 12 suku.
Mahkota duri dan paku
Berbagai alat musik yang tertulis di Alkitab.
Buli-buli
Mata uang yang ada dalam Alkitab.
Dua loh batu dan replika tabut perjanjian.
Kaki dian dan slingshot yang dipakai Daud.
Kami juga diajak untuk mengunjungi perpustakaan yang ada di lantai 3. Perpustakaan ini berisi buku-buku literatur. Tetapi yang menarik adalah perpustakaan khusus anak-anak. Isinya pun menarik dan anak-anak bisa main membaca dengan nyaman di situ.
Perpustakaan anak, dijajah oleh kami :)
Pohon Ara yang ada di luar perpustakaan.
Pohon zaitun
Kami pun kembali ke lantai dua untuk mendengarkan sedikit presentasi tentang proses pembuatan Alkitab dan pengorbanan para misionaris untuk mengabarkan Injil. Hal ini menyadarkan anak-anak bahwa kalau kami masih dapat membaca Alkitab itu merupakan suatu anugerah, disaat banyak orang yang belum tentu dapat membaca Alkitab.
Biji sesawi 
Kacang-kacangan yang ada.
Setelah selesai presentasi, ada sedikit kuis yang diberikan oleh pihak LAI dan anak-anak yang berhasil menjawabnya mendapatkan hadiah. Di akhir PWA kami pun mengucapkan terima kasih kepada pihak LAI dan Museum Alkitab untuk waktu dan kesempatan bagi kami untuk melihat museum ini. Kegiatan ini diakhiri dengan pemberian persembahan kasih kepada pihak LAI dan doa oleh kami.
Anggur kana dan roti tidak beragi. 
Walaupun kegiatan sudah selesai, namun ada satu bagian yang dapat kami kunjungi, yaitu Book Store. Di sini dijual berbagai Alkitab dan buku-buku bacaan yang dapat dibeli. Untuk produk keluaran LAI yang kami beli, kami mendapatkan diskon 20% pada saat itu. Senang sekali bukan?
Disaat orang tua melihat buku, anak-anak pura-pura wefie dengan brosur yang ada=D
Kunjungan yang singkat ini membuka wawasan anak-anak mengenai sejarah mengenai Lembaga Alkitab dan proses pembuatan Alkitab yang ada. Banyak misionaris yang mengorbankan banyak hal dalam hal pekabaran Injil. Mereka pun menyadari perjuangan banyak orang agar Alkitab bisa sampai ke tangan mereka. Harapan kami adalah mereka semakin menghargai Alkitab cetak yang ada di tangan mereka.
"How beautiful are the feet of those who preach the gospel of peace, Who bring glad tidings of good things!" (Roman 10:14b)
Museum Alkitab
Alamat: Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta Pusat
No. Telepon: (021) 3142890
Jam Kunjungan: 08.00 – 16.00 (Senin – Jumat) dan 09.00 – 15.00 (Sabtu)
Harga Tiket Masuk: Rp 4.000,00 per orang